Pelarian dalam Sunyi

1646 Kata
"Aduh, celana dalem gue yang motif strawberry kemana sih?!" Kirana membongkar lemari kos-kosannya yang berantakan dengan gerakan kasar. Tangan yang masih gemetar akibat kejadian tadi membuatnya kesulitan melipat baju dengan rapi. Sebuah bra terjatuh dan nyangkut di kakinya. "Dasar hidup! Baru juga mau nikah kontrak, udah kaya mau kabur dari kejaran polisi aja!" Dari jendela, suara bodyguard Dian yang berdiri di bawah sudah mulai tidak sabar. "Nona, lima menit sudah lewat!" "Tinggal dikit lagi!" Kirana membalas sambil menyumpal tas backpack-nya dengan paksa sampai resletingnya nyaris meledak. Dia melirik sekeliling kamar kos yang sudah menjadi rumahnya selama tiga tahun terakhir. Dinding yang catnya mengelupas, kasur lipat yang selalu bikin pegal, wastafel kecil yang sering mampet—semua akan menjadi kenangan. "Gue bakal kangen sama tempat sengsara ini," batinnya ironis. Tanpa sempat beremosi lebih jauh, Kirana menyambar tas dan melompat keluar kamar. Di tangga, tetangga kosnya yang penasaran mengintip dari balik pintu. "Loh Kirana, mau pindah?" "Nikah, Bu!" jawab Kirana sambil tergopoh-gopoh turun tangga. "Wah, sama siapa?" "Sama setan!" "Beneran juga," batinnya sambil membanting pintu kosan. --- Begitu Kirana menceburkan diri ke kursi belakang, bau leather seat yang mahal langsung memenuhi hidungnya. Dian sudah duduk di seberang dengan pose sempurna, tangan terlipat di atas lutut, wajah masih setajam pisau. "Buset, AC-nya dingin banget! Gue aja sampai merinding!" Suasana dalam mobil tegang seperti ruang interogasi. Kirana sengaja memilih duduk di sudut paling jauh, sibuk memainkan resleting jaketnya yang sudah reyok. "Harusnya gue bilang makasih ya? Tapi dia juga yang bikin gue harus pindah dadakan. Jadi seimbang!" Dari jendela, Kirana melihat lampu-lampu Jakarta yang mulai sepi. Mobil meluncur mulus melewati gang-gang sempit menuju jalan utama. Tiba-tiba, Dian membuka suara. "Mereka tidak akan mengganggumu lagi." Suaranya datar, tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat Kirana menoleh. "Kamu ngapain ke mereka?" Dian tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap Kirana dalam gelap. "Itu bukan urusanmu." "Dih, sok misterius aja!" Tapi Kirana tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Saya berhak tau. Soalnya mereka bisa balik lagi—" "TIDAK." Potong Dian dengan suara yang tiba-tiba keras. "Mereka tidak akan pernah mendekatimu lagi. Titik." "..." "Ngeri banget sih dia ngomong gitu?" Kirana menggeser duduknya. "Ya udah deh. Tapi saya tetep nggak ngerti kenapa kamu repot-repot nyari saya malem-malem gini." Dian menghela napas panjang, seperti sedang menahan ledakan amarah. "Karena besok kita menandatangani kontrak pernikahan. Aku tidak mau calon istriku ditemukan tewas di kosan kumuh!" "Calon istri? Baru kali ini dia nyebut gue begitu." Perut Kirana tiba-tiba berdegup aneh. "Ini cuma urusan kontrak, bodo amat!" "Saya bisa jaga diri sendiri kok," bales Kirana sambil menatap luar jendela. "Jelas-jelas tidak!" Dian tiba-tiba membentak. "Kamu bahkan tidak punya basic self-defense! Kamu membiarkan preman itu menyentuhmu! Kamu—" Dia tiba-tiba berhenti, mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. "Wait... dia marah karena Bray nyentuh gue?" Suasana kembali tegang. Kirana bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba kencang. "Kamu emang kenapa sih?" tanya Kirana akhirnya, suaranya kecil. "Ini kan cuma kontrak. Saya mati atau nggak harusnya nggak pengaruh ke kamu." Dian memutar tubuhnya sepenuh menghadap Kirana. Di balik cahaya lampu jalan yang sesekali menerangi mobil, matanya berkilau aneh. "Kamu salah." Dua kata itu menggantung di udara. "Salah apa?" Tapi Dian sudah kembali ke mode dinginnya. "Kamu bagian dari reputasiku sekarang. Segala sesuatu yang terjadi padamu akan mempengaruhi citra perusahaan." "Ah, of course. Citra perusahaan lagi." Kirana menghela napas. "Oke deh, Mr. CEO. Saya ngerti sekarang. Jadi kamu nyelametin saya karena takut saham Wira Group turun ya?" Dian tidak menjawab. Tapi Kirana melihat sesuatu—sekilas ekspresi terluka—yang muncul dan hilang dalam sekejap. "Hah? Apa tadi dia—" Mobil tiba-tiba berbelok masuk ke area kompleks supermewah. Gerbang besi terbuka otomatis, menyambut mereka ke dalam dunia yang sama sekali asing bagi Kirana. "Kita sampai," ucap Dian singkat. Kirana menatap gedung tinggi dengan lobby berlapis emas di depannya. "Ini dia penjara baruku." --- Lift kaca supercepat membawa mereka ke lantai paling atas. Kirana yang tidak terbiasa merasa sedikit pusing. "Gila, liftnya cepet banget! Gue sampe mual!" Begitu pintu lift terbuka, pemandangan yang luar biasa menyambut mereka. Seluruh Jakarta terbentang di bawah melalui dinding kaca dari lantai sampai langit-langit. "Astaga... ini viewnya beneran nyata?" "Ini kamarmu," kata Dian sambil menunjuk ke sebuah pintu di sebelah kiri. "Semua kebutuhan dasar sudah disiapkan. Besok pagi, stylist akan datang untuk mempersiapkan penampilanmu untuk penandatanganan kontrak." Kirana mengangguk, tiba-tiba merasa sangat kecil di tengah kemewahan ini. "Dan Dian..." Sang CEO yang sudah berbalik hendak pergi menoleh. "Makasih. Untuk semuanya." Ada keheningan yang aneh. Lalu Dian mengangguk singkat. "Tidurlah. Besok hari penting." Begitu pintu kamar Kirana tertutup, dia langsung menceburkan diri ke kasur king size yang lembut. "Gue di mana sih? Ini beneran terjadi?" Tapi yang lebih membuatnya bingung adalah sikap Dian tadi. "Dia marah karena gue hampir celaka. Tapi dia juga bilang ini cuma kontrak. Jadi mana yang bener?" Kirana memandang langit-langit tinggi kamarnya yang mewah. "Atau jangan-jangan... dia sama bingungnya kayak gue?" --- Keesokan harinya seperti biasa kirana terlambat bangun lagi. "Mmm... Dian, jangan di situ... itu geli..." Kirana mengigau dalam tidurnya, wajahnya menyungging senyum manis. Dalam mimpinya yang absurd, dia dan Dian sedang berjalan-jalan di taman bunga, dan si CEO galak itu tiba-tiba tersenyum manis sambil menyuapkan es krim ke mulutnya. "Kamu manis sekali saat tidak membenciku," bisik mimpi Dian sambil mengusap pipi Kirana. "Dasar mimpi konyol!" batin setengah sadar Kirana, meski tubuhnya tetap betah bermalas-malasan di kasur mewah seluas kamar kosnya dulu itu. BAM! BAM! BAM! Suara gedoran keras di pintu kamarnya membuat Kirana terlempar dari kasur. "NYEEEGH—!" Muka Kirana nyemplung ke karpet bulu domba yang superlembut. "Siapa sih jam segini—" "KIRANA! BANGUN!" Suara itu—dalam, berat, dan penuh amarah—langsung membuat jantung Kirana berdetak kencang. "Oh. My. God. It's HIM." Sebelum sempat bangun, pintu kamarnya sudah terbanting terbuka. Daryandra Zaynar Wira Pradipta berdiri di sana dengan wajah lebih merah dari tomat. Jas hitamnya sudah rapi, rambutnya tersisir sempurna, tapi matanya—matanya menyala seperti neraka yang baru dibuka. "JAM SETENGAH SEBELAS! KITA HARUSNYA SUDAH DI NOTARIS SEJAM YANG LALU!" "Hah? Jam berapa?!" Kirana melirik jam dinding. 10:37 AM "SHI—!" Dengan gerakan cepat, Kirana mencoba menyelamatkan diri dengan melompat ke balik kasur. Tapi malang—kaki kanannya tersangkut selimut sutra, membuatnya terjungkal lagi. PLAK! "g****k!" Dian menghela napas panjang, seperti sedang menahan diri untuk tidak mencekik bantal. "Anda benar-benar—" "Saya tau, saya tau! Saya telat lagi!" Kirana menginterupsi sambil merangkak mengambil handuk. "Dasar hidup! Kenapa gue selalu berantakan di depan doi?!" Tiba-tiba— WHOOSH! Bantal besar berhamburan ke wajah Dian dengan kecepatan tinggi. "..." "..." Kirana membeku. "Oh tidak. Oh tidak tidak tidak." Dian perlahan menurunkan bantal dari wajahnya. Ekspresinya—tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Seperti campuran antara ingin membunuh dan... terhibur? "Anda... melempar saya... dengan bantal?" Setiap kata diucapkan dengan jeda mengerikan. "Ini saat yang tepat untuk pura-pura pingsan," batin Kirana. "Ehehe... salah sasaran?" Kirana mencoba senyum manis, menunjukkan semua giginya. Dian melemparkan bantal itu ke samping dengan gerakan dramatis. "LIMA MENIT. Jika Anda tidak siap, saya akan memandikan Anda sendiri!" "Dia mau MANDIIN gue?!" Gambarannya langsung membuat darah Kirana mendidih. "Dasar—" Tapi Dian sudah menghilang dari pintu, meninggalkan ancaman yang menggantung di udara. --- "Sabun mata! Shampoo masuk hidung! Handuk jatuh lagi!" Kirana bergumam sendiri sambil berusaha mandi dalam waktu singkat. Air shower yang begitu mewah dengan tekanan sempurna justru membuatnya kewalahan. "Gila, shower-nya kayak pijat spa! Gue malah betah!" Dari luar, suara Dian berteriak. "TIGA MENIT LAGI!" "DASAR BUZZER!" Dengan gerakan cepat, Kirana menyambar handuk dan langsung melompat ke walk-in closet yang sudah dipenuhi pilihan baju. "Buset! Ini beneran lemari pakaian atau butik?!" Dia memilih dress biru muda sederhana—yang ternyata harganya cukup untuk membeli kosannya yang lama selama setahun. "Gue pake ini aja deh, nggak mau ribet." Makeup? Cukup bedak dan lipstik. Rambut? Diikat cepat dengan karet rambut yang entah dari mana asalnya. "Done! Gue jenius!" Begitu Kirana melompat keluar kamar, Dian yang sedang menatap jam tangannya langsung mengangkat alis. "Lima menit tepat. Saya terkejut." Kirana tersenyum bangga. "Saya kan bisa kalau mau—" "Tapi Anda lupa pakai bra." "..." "..." Kirana perlahan menunduk—dan benar saja. Dress tipis itu dengan jelas menunjukkan bahwa dia memang lupa mengenakan pakaian dalam atas. "GUE MAU MATI AJA!" Wajah Kirana memerah dari leher sampai ubun-ubun. Dian dengan cepat memalingkan wajah, tapi Kirana bisa melihat telinganya yang memerah. "S-Saya tunggu di mobil," ucap Dian dengan suara aneh sebelum cepat-cepat pergi. "Dia... malu? Dian Zaynar Wira Pradipta MALU?!" Kirana berdiri beku di tempat, tangan menutupi dadanya. "Ini mimpi ya? Atau mungkin gue kena stroke?" Tapi detak jantungnya yang kencang dan wajah panasnya mengatakan ini sangat nyata. --- Suasana antara mereka berdua tegang tapi... aneh. Dian terus menatap lurus ke depan, sementara Kirana sibuk mengamati pemandangan luar sambil sesekali melirik sosok di seberangnya. "Dia tadi benar-benar malu? Atau cuma kesel aja?" Tiba-tiba, Dian membuka mulut. "Tadi pagi... Anda mengigau." Kirana tersedak ludah. "NGGAK MUNGKIN!" "A-Apa yang saya bilang?" Dian menoleh, matanya berbinar aneh. "Anda memanggil nama saya. Dan... tersenyum." "OH. MY. GOD. GUE NGOMONG APA AJA WAKTU TIDUR?!" Kirana berkeringat dingin. "Ehehe... pasti lagi mimpi dimarahin kamu di kantor." Dian tidak terlihat percaya, tapi dia juga tidak mengejar lebih jauh. "Hari ini penting. Setelah tanda tangan kontrak, kita langsung ke catatan sipil." "Hari ini juga? Cepet banget?" "Semakin cepat semakin baik," jawab Dian singkat. Tiba-tiba, teleponnya berdering. Dari layar, Kirana bisa melihat nama "Clara" muncul. "Lagi-lagi Clara!" Dian mematikan teleponnya. "Tidak penting." "Hah? Biasanya langsung diangkat tuh." Kirana ingin bertanya lebih banyak, tapi mobil sudah berhenti di depan gedung megah. "Kita sampai," ucap Dian, wajahnya kembali ke mode CEO serius. "Siap?" Kirana menarik napas dalam-dalam. "Ini titik tidak kembali." "Siap atau tidak, yaudah jalan aja!" Dian tersenyum kecil—sangat kecil—sebelum membuka pintu mobil. "Wait... dia tersenyum tadi? Atau gue ngehayal?" Tapi tidak ada waktu untuk berpikir. Hari terbesar dalam hubungan palsu mereka akan segera dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN