"Terus gue bilang ke doi, 'Muka lo aja kagak laku, mau nawarin diri jadi selingkuhan?!'"
Kirana melemparkan kacang ke mulutnya sambil tertawa ngakak bersama Siska di kantin lantai dasar. Suara riuh rendah obrolan karyawan lain menutupi suara mereka yang sedang asyik bergosip ria.
"Eh, tapi beneran tuh si Marketing baru deketin Bos?" Siska menyipitkan mata penuh konspirasi.
"Ah, yang bener aja!" Kirana menggerakkan tangannya dramatis. "Dian tuh lebih mungkin jatuh cinta sama printer rusak di lantai 20 daripada sama—"
BRRRIIINNNGGG!!!
Suara bel darurat kantin tiba-tiba memekakkan telinga. Seluruh aktivitas berhenti seketika.
"Apaan tuh? Kebakaran? Ada bom?" Kirana melirik ke sekeliling dengan panik.
Tapi yang terjadi justru lebih mengejutkan.
Kerumunan karyawan tiba-tiba membelah seperti Laut Merah. Dan di tengah-tengah jalan yang terbuka itu, berdiri sosok yang sama sekali tidak pantas berada di kantin kumuh lantai dasar:
Daryandra Zaynar Wira Pradipta.
Dengan jas Armani yang harganya setara gaji setahun karyawan biasa, sang CEO berdiri gagah dengan wajah lebih dingin dari es krim yang meleleh di meja Kirana.
"Oh. My. God."
Kirana nyaris tersedak nasi padangnya. "Dia ngapain di sini?!"
Siska menjambak lengan Kirana. "Dia ngeliatin lo! LO NGAPAIN SAMPE BOS DATENG SENDIRI?!"
"Gue juga pengen tau!" Kirana bergumam panik.
Tiba-tiba, ingatannya melesat ke pesan Dian semalam: [Besok kita perlu bicara. Tentang kontrak kita.]
"Ah sial! Gue kira dia cuma ngomong doang!"
Dian tidak bergerak. Tidak perlu. Tatapan matanya yang tajam seperti laser sudah cukup membuat Kirana terpaku, lalu berdiri, dan mulai berjalan mendekat dengan langkah gontai seperti tawanan perang.
"Ini malu banget! Semua orang pada ngeliatin!"
"P-Pak Dian... ada apa—"
"Ikut saya." Kalimat pendek itu diucapkan dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Sebelum Kirana sempat protes, Dian sudah berbalik dan berjalan menuju lift eksekutif. Dengan wajah memerah dan puluhan pasang mata yang membelalak memandanginya, Kirana terpaksa mengikuti seperti anak anjing yang ketakutan.
---
Lift yang biasanya cepat terasa seperti neraka yang bergerak lambat. Udara antara mereka berdua begitu tegang sampai Kirana bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Apa dia bakal marahin gue karena kabur kemarin? Atau karena gosip tadi? Atau—"
Pintu lift terbuka, dan dengan langkah cepat, Dian berjalan menuju ruang meeting kecil di ujung koridor. Begitu pintu tertutup, dia melemparkan setumpuk dokumen ke meja.
"Duduk."
Kirana patuh, tapi mulut sialannya tidak bisa diam. "Kalau mau ngobrol bisa WA kan? Ngapain bikin drama di kantin—"
"TUTUP MULUT ANDA!"
Suara Dian menggelegar membuat Kirana nyaris terjatuh dari kursinya.
Dengan napas berat, Dian melepas jasnya dan menggulung lengan bajunya—tanda klasik bahwa badai besar akan datang.
"Anda pikir ini main-main?" Dia menyodorkan dokumen tebal ke depan Kirana. "Ini perjanjian pernikahan yang harus Anda baca dan tanda tangani SEBELUM besok!"
Kirana membuka dokumen itu dengan gemetar. "Pasal 12: Tidak diperkenankan meninggalkan rumah tanpa izin tertulis..."
"Apa ini? Penjara atau pernikahan?!"
"Dan ini," Dian melempar dokumen lain, "adalah laporan investigasi tentang Anda."
Kirana membuka halaman pertama dan langsung pucat. Foto ayahnya yang sedang berjudi di sebuah klub malam. Catatan utang yang menumpuk. Bahkan foto preman yang mengancamnya kemarin.
"Dia... dia investigasi gue?!"
"Saya TAHU SEMUA tentang Anda," desis Dian, matanya berapi-api. "Dan itulah mengapa Anda HARUS mengikuti aturan saya dengan TEPAT!"
Kirana bangkit dari kursinya. "Jadi saya cuma boneka buat kamu?!"
"YA!" Dian tidak menyangkal. "Ini BISNIS! Saya butuh istri untuk menenangkan orang tua saya, dan Anda butuh uang untuk menyelamatkan nyawa Anda!"
Ruangan kembali sunyi. Kirana menggigit bibirnya sampai hampir berdarah.
"Dia benar. Gue memang terjebak."
Tapi sesuatu di dalam dirinya memberontak. "Dan Clara? Apa dia juga bagian dari 'bisnis' kamu?"
Dian terkesiap. "Itu tidak ada hubungannya dengan—"
"Ada!" Kirana menatapnya tajam. "Saya nggak mau jadi pelakor! Kamu mau bohongi orang tua kamu, silakan! Tapi jangan libatin saya dalam hubungan toxic kamu!"
Dian mendekat dengan langkah mengancam. "Anda tidak mengerti apa-apa tentang Clara dan saya."
"Yang saya ngerti, kamu bayarin dia tas 500 juta cuma supaya dia mau minggir!" Kirana menyeringai. "Klasik banget!"
Tiba-tiba, Dian menampar meja dengan keras. "CUKUP! Ini bukan tentang perasaan! Ini KONTRAK!"
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
"Besok kita tanda tangan kontrak nikah. Minggu depan upacara kecil dengan keluarga. Anda dapat uang, saya dapat kedamaian dari orang tua. TIDAK ADA yang lebih dari itu!"
Kirana memandanginya lama. Ada sesuatu yang patah di dalam d**a.
"Kenapa ya, mendengar dia bilang 'tidak ada perasaan' kok sakit banget?"
Tapi yang keluar dari mulutnya justru: "Oke. Deal. Tapi saya mau tambahan 1M di depan."
Dian mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Untuk bayar utang ayah saya dan modal usaha," jawab Kirana tegas. "Saya nggak mau terus-terusan jadi beban kamu."
Mereka saling menatap dalam diam. Akhirnya, Dian mengangguk.
"Baik. Tapi mulai sekarang, Anda ikuti SEMUA aturan saya. Tidak ada kabur lagi. Tidak ada drama. Dan yang paling penting—" dia menekankan, "TIDAK ADA PERASAAN."
Kirana tersenyum getir. "Jangan khawatir. Siapa juga yang mau jatuh cinta sama monster kaya kamu?"
Tapi saat berbalik untuk pergi, ada tetes air mata yang menggelinding di pipinya.
"Dasar diri gue... udah tau cuma kontrak, ngapain juga berharap lebih?"
---
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu kos-kosannya yang reyot membuat Kirana kaget. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan dia sedang sibuk merapikan dokumen pernikahan kontrak yang harus ditandatanganinya besok.
"Siapa ya jam segini?"
Dengan hati-hati, Kirana mengintip dari celah jendela—dan langsung merasa darahnya membeku.
Bray. Si preman yang kemarin.
Bersama dua anak buahnya, pria berbadan kekar dengan tato naga di leher itu berdiri di depan pintu dengan senyum mengerikan. Salah satu tangannya memegang golok kecil yang dibalut koran, tapi bentuknya masih jelas terlihat.
"Dasar ayah! Ini semua gara-gara lo!"
"Buka pintu, sayang! Kita mau ngobrol santai," suara Bray menggema, diikuti ketukan yang semakin keras.
Tangan Kirana gemetar saat membuka kunci. "Tenang, Kirana. Lo udah punya uang buat bayar. Mereka nggak bakal ngapa-ngapain lo."
Begitu pintu terbuka, bau rokok dan alkohol langsung menyerbu masuk. Bray melirik ke dalam kamar kos yang sempit dengan mata penuh nafsu.
"Sendirian ya? Bagus."
Kirana menahan mual. "Ini uangnya. 800 juta, lunas." Dengan cepat ia menyodorkan amplop tebal yang berisi uang tunai dari Dian.
Bray menerimanya dengan acuh, bahkan tidak menghitung. Matanya justru menjelajahi tubuh Kirana dari atas ke bawah. "Dapet duit dari mana, sayang? Jual diri kah?"
"b*****t!"
"Urusan gue," jawab Kirana singkat sambil mencoba menutup pintu.
Tapi kaki Bray sudah menghalangi. "Jangan buru-buru. Ayah lo kan pemain judi. Besok-besok bisa hutang lagi."
Anak buahnya tertawa kasar.
"Nih, buat jaga-jaga." Bray menyodorkan secarik kertas berisi nomor telepon. "Kalau lo nggak bisa bayar next time... lo bisa bayar pake cara lain."
Dia mengedipkan mata m***m, membuat Kirana ingin muntah.
"Gue nggak akan butuh itu," Kirana membanting kertas itu ke lantai. "Sekarang pergi dari sini sebelum gue panggil satpam!"
Bray tertawa keras. "Satpam kosan lo aja udah lari ketakutan ngeliat kita."
Dia mendekat, napasnya bau tembakau dan alkohol murahan. "Lo cantik, tau. Sayang aja kalau cuma buat bayar hutang bokap."
Tangannya yang kotor menyentuh pipi Kirana—
SLAP!
Tamparan keras menghentikan gerakan Bray.
"JANGAN SENTUH GUE!" teriak Kirana, meski hatinya berdebar kencang.
Ekspresi Bray berubah gelap. "Nona kecil berani ya?"
Dia mengangkat tangan, bersiap menghajar—
"BERANI APA?"
Suara menggelegar tiba-tiba mengguncang koridor kos-kosan.
Semua orang menoleh.
Di ujung lorong, berdiri Dian dengan wajah lebih menyeramkan dari iblis sekalipun. Di belakangnya, lima orang bodyguard berseragam hitam sudah siap siaga.
"D-Dian?! Apa yang dia lakukan di sini?!"
Bray mencibir. "Siapa lo?
Dian tidak menjawab. Dengan langkah tenang tapi mematikan, dia mendekat. Bodyguard-nya langsung mengurung ketiga preman itu.
"Kamu Bray, ya? Penagih utang yang suka mengancam perempuan?" Suara Dian dingin seperti es.
"Urusan gue sama si Nona. Jangan ikut campur," Bray mencoba bersikap keras, tapi suaranya sudah gemetar.
Dian tersenyum—senyum paling menyeramkan yang pernah Kirana lihat.
"Sayang sekali. Sekarang ini sudah jadi urusan saya."
Dia memberi isyarat halus. Dalam sekejap, bodyguard-nya sudah menyergap Bray dan kawan-kawan.
"Bawa mereka ke mobil. Saya akan urus sendiri nanti," perintah Dian.
"Urus sendiri? Maksudnya gimana?!" Kirana mulai panik.
Begitu para preman itu dibawa pergi, Dian baru menatap Kirana. "Kenapa tidak menelepon saya?"
"Sa.. saya bisa urus sendiri," jawab Kirana, meski lututnya masih gemetar.
Dian menghela napas. "Anda bagian dari tanggung jawab saya sekarang. Itu termasuk keamanan Anda."
Dia melirik kamar kos yang berantakan. "Pack barang-barang penting saja. Anda tidak bisa tinggal di sini lagi."
"Apa? Tapi—"
"Besok kita menikah. Mulai malam ini, Anda tinggal di penthouse saya."
Kirana membelalak. "Tapi kontraknya belum—"
"SUDAH!" Dian membentak, membuat Kirana terkejut. "Anda tidak aman di sini! Apa Anda tidak mengerti?!"
Untuk pertama kalinya, Kirana melihat emosi nyata di wajah Dian—bukan kemarahan biasa, tapi sesuatu yang lebih dalam.
"Apakah dia... benar-benar khawatir?"
Tapi ekspresi itu cepat hilang, digantikan wajah dingin biasa. "Lima menit. Saya tunggu di bawah."
Begitu Dian pergi, Kirana baru menyadari betapa gemetarnya tangannya.
"Dia datang untuk gue. Tapi kenapa? Karena kontrak? Atau..."
Dia menggigit bibirnya, mencoba menenangkan detak jantung yang tak karuan.
"Jangan bodoh, Kirana. Dia cuma mau melindungi investasinya saja."
Tapi saat melihat melalui jendela, di mana Dian berdiri di bawah lampu jalan dengan postur tegang, Kirana tidak bisa menipu dirinya sendiri.
Ada sesuatu yang berubah malam ini.
Dan itu membuatnya semakin takut.