KRAAK!
Pintu ruang keluarga terbuka dengan kasar saat Dian menarik Clara keluar dengan gerakan kasar. Kirana bisa melihat dari balik pintu kaca bagaimana ekspresi wajah sang CEO yang biasanya dingin itu sekarang berubah total - alisnya meruncing, rahangnya mengeras, dan urat lehernya menegang.
"Waduh... baru pertama kali gue liat si Raja Dingin sampe segini emosinya," batin Kirana sambil pura-pura serius ngubek-ngubek album foto.
Nyonya Wira menghela napas. "Sudah kuduga Clara akan datang."
"Siapa sih tadi?" Kirana pura-pura tidak tahu, padahal matanya berbinar-binar penasaran.
"Mantan pacar Dian. Lebih tepatnya, masih pacaran diam-diam," jawab Tuan Wira blak-blakangan sambil menyesap tehnya.
"LOH?! JADI GUE YANG JADI PELAKU?!" Batin Kirana nyaris tersedak.
Dari balik jendela, Kirana bisa melihat Dian berbicara dengan intens pada Clara. Gadis cantik itu awalnya terlihat marah, tapi perlahan ekspresinya berubah menjadi... pengertian?
"Aneh banget sih doi bisa langsung nurunin tensi gitu?"
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka kembali. Dian masuk dengan wajah sudah kembali ke mode "CEO cool"-nya, diikuti Clara yang sekarang tersenyum manis.
"Maaf tadi ada kesalahpahaman," ujar Clara dengan suara merdu. "Aku cuma kaget aja dengar kabar pernikahan teman kerjaku ini."
"TEMAN KERJA?!" Kirana nyaris melotot. "Dasar aktingnya cepet banget switch-nya!"
Dian dengan cepat berada di samping Kirana, tangannya mencengkeram bahu gadis itu dengan erat - kode jelas untuk "diam dan ikuti permainanku".
"Clara adalah partner kami dari perusahaan konsultan," jelas Dian dengan nada datar.
Clara mendekat dan menyodorkan tangan pada Kirana. "Selamat ya! Dian orang yang baik kok, meski keliatannya galak."
"Ini beneran Clara yang tadi mau nangis-nangis?" Kirana bingung, tapi tetap menjabat tangannya. "Eh, iya... makasih..."
"Dia baik? Mungkin versi lain di alam semesta paralel kali ya?" batin Kirana sambil nyengir kuda.
Tuan Wira yang mengamati semuanya dengan cerdas tiba-tiba berdiri. "Kalau begitu, Clara. Kamu ikut makan malam saja sekalian."
"Hah?!" Kirana dan Dian berseru hampir bersamaan.
Clara tersenyum manis. "Wah, boleh juga! Aku kan emang suka sama masakan koki kalian."
Dian menggigit bibir bawahnya. "Ini akan menjadi makan malam paling menyiksa dalam hidupku."
---
Susunan tempat duduk sekarang berubah. Kirana terjepit di antara Dian di sebelah kanan dan Clara di sebelah kiri - sebuah formasi yang rasanya lebih menegangkan dari medan perang.
Clara dengan lancar memulai percakapan. "Jadi gimana kalian jatuh cinta? Pasti seru ya?"
Dian langsung batuk-batuk minumannya.
"Wah, itu cerita lucu banget!" Kirana langsung mengambil alih dengan semangat. "Jadi waktu itu, Dian lagi marah-marah di meeting gara-gara laporan keuangan salah..."
Dian menendang kaki Kirana di bawah meja.
"Aw aw aw! Dasar sadis!"
"...eh maksud saya, waktu itu kita ketemu di acara amal anak yatim," Kirana cepat memperbaiki. "Dian sedang menyuapi anak kecil es krim, terus tumpah ke bajunya. Lucu banget!"
Clara tersenyum. "Memang Dian selalu lembut sama anak kecil."
"Wait... doi tahu sisi lain Dian yang gue aja nggak tahu?"
Perasaan aneh tiba-tiba menyelinap di d**a Kirana. "Ini cuma kontrak kok, ngapain gue iri?"
Makan malam berlanjut dengan Clara yang dengan lihai memimpin percakapan, menceritakan berbagai proyek yang pernah dikerjakan bersama Dian.
"Waktu itu kita harus kerja sampe jam 3 pagi di Bali," cerita Clara sambil tertawa. "Dian sampai ketiduran di sofa kantor."
"Dian tidur di kantor? Gue kira doi robot yang nggak butuh istirahat!"
Nyonya Wira tersenyum. "Kalian memang cocok ya bekerjasama."
"Terlalu cocok kayaknya," batin Kirana tak nyaman.
Tiba-tiba, Clara mencondongkan badan ke arah Kirana. "Aku seneng banget Dian akhirnya nemukan seseorang yang bikin dia nggak terlalu workaholic," bisiknya. "Jaga baik-baik ya."
Ekspresi tulus di wajah Clara bikin Kirana bingung. "Ini beneran ikhlas atau akting tingkat tinggi sih?"
---
"Kalian harus sering-sering datang ke sini," ujar Nyonya Wira sambil memeluk Kirana. "Aku suka cara bicaramu yang ceplas-ceplos."
Tuan Wira mengangguk. "Setidaknya kamu bisa membuat keluarga kita lebih hidup."
Di belakang mereka, Dian dan Clara sedang berbicara sesuatu dengan serius di dekat mobil.
"Jangan khawatir," bisik Nyonya Wira pada Kirana. "Clara itu gadis baik. Dia pasti mengerti."
"Kok malah ibunya yang ngasih semangat gini?" Kirana semakin bingung.
---
Mobil berjalan dalam keheningan. Kirana yang tidak tahan akhirnya membuka mulut.
"Jadi... Clara itu beneran nggak marah?"
Dian menatap jalan lurus ke depan. "Dia mengerti ini hanya kontrak."
"Tapi—"
"Cukup," potong Dian. "Kamu sudah melakukan cukup banyak kejutan hari ini."
Kirana mengerutkan kening. "Dasar moodswing! Tadi di rumah baik-baik aja, sekarang balik lagi jadi si Raja Dingin."
Tapi sesuatu tentang cara Dian menghindari pembicaraan tentang Clara membuat Kirana penasaran. "Jangan-jangan masih ada perasaan di sana?"
Perasaan tidak nyaman yang tadi muncul lagi di dadanya. "Ah, ngapain juga gue mikirin? Ini kan cuma kontrak!"
Tapi kenapa semakin diingatkan itu, semakin sakit rasanya?
Mobil Rolls-Royce yang mewah itu meluncur pelan di tengah kemacetan Jakarta. Suara mesin yang halus sama sekali tidak mencerminkan suasana di dalam kabin—tegang, kaku, dan dipenuhi rasa tidak nyaman yang nyaris bisa diraba.
Kirana duduk di kursi belakang, memandang keluar jendela dengan pandangan kosong. Tapi dari pantulan kaca, matanya terus mengamati Dian dan Clara yang duduk di barisan depan.
"Dasar matre! Cuma modal cantik dan sok manis aja bisa dapet apa aja dari si Raja Dingin ini," batin Kirana dengan rasa jijik yang menggelora di dadanya.
Clara sedang memainkan jarinya di atas layar smartphone terbaru. "Dian, lihat deh tas limited edition ini lucu banget ya? Cuma 500 juta lho~"
Dian tanpa ekspresi mengangguk. "Beli saja. Nanti aku yang transfer."
"BUSET! Langsung iyain aja?!" Kirana nyaris menjerit dalam hati. "Gue aja harus kerja mati-matian bikin laporan semalaman cuma buat dapet gaji sebulan nggak sampe segitu!"
Clara tersenyum manis, lalu tanpa malu mencium pipi Dian. "Makasih sayang! Kamu memang yang terbaik."
"EW! EW! EW!" Kirana menggeliat dalam hati sambil memegang erat tasnya seolah ingin meremukkannya. "Dasar cewek mata duitan! Dian aja bisa jadi orang baik kalo ada yang mau dibayarin. Dasar sama-sama toxic!"
Tiba-tiba, telepon Dian berdering. "Ya? Apa?" Suaranya kembali ke mode CEO galak. "Tidak! Itu laporan harus selesai hari ini! Kalau tidak, seluruh divisi harus lembur!"
"Nah, ini dia Dian yang gue kenal," Kirana menyeringai dalam hati. "Baru juga lima menit jadi manusia normal, balik lagi jadi monster kantor."
Clara yang melihat Kirana mengernyit di kaca spion tersenyum sinis. "Dian, nanti malam kita makan di Plaza Indonesia ya? Ada resto Jepang baru."
"Tidak bisa. Aku ada meeting sampai malam," jawab Dian singkat.
"Tapi kan kamu janji~" Clara merajuk.
Dian menghela napas. "Baik, aku akan batalkan meetingnya."
"HAH?! BUSEEET!" Kirana nyaris melompat dari kursinya. "Meeting penting dibatalkan cuma buat nemenin doi makan?! Karyawan aja kalo minta dispensasi dikit aja dimarahin setengah mati!"
Perutnya mual melihat pemandangan itu. "Gue nggak tahan lagi. Harus kabur dari mobil ini sebelum gue muntah!"
Saat mobil berhenti di lampu merah dekat sebuah halte bus, Kirana tiba-tiba berseru: "Stop di sini! Saya mau turun!"
Dian menoleh, alisnya berkerut. "Apa?"
"Saya ada urusan di sekitar sini," Kirana buru-buru membuka kunci pintu. "Nanti saya pulang sendiri."
Clara tersenyum palsu. "Wah, jangan begitu dong. Kan bahaya~"
"Diam lo cewek sinting! Lu aja yang bahaya buat mental gue!" batin Kirana sambil memaksakan senyum. "Nggak apa-apa kok. Ini kan masih siang."
Dian memandangnya tajam. "Kamu yakin?"
"Iya, yakin banget!" Kirana sudah setengah keluar dari mobil. "Lebih baik gue naik bus umum yang sumpek daripada terus-terusan liat kalian berdua!"
Sebelum Dian sempat protes, Kirana sudah melompat keluar dan membanting pintu mobil.
"KIRANA!"
Tapi gadis itu sudah bergegas menyebrang ke halte bus, tanpa menoleh sedikit pun. Jantungnya berdebar kencang, entah karena lari atau karena emosi yang berkecamuk.
"Bodo amat! Kontrak atau nggak, gue nggak sanggup jadi penonton hubungan toxic mereka!"
Dari kejauhan, klakson Rolls-Royce berbunyi beberapa kali, tapi Kirana pura-pura tidak dengar.
---
Kirana duduk di bangku halte, menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat mencoba membuka aplikasi ojek online di hp-nya.
"Gue harus mikir jernih. Ini kan cuma kontrak. Nggak ada hubungannya sama perasaan atau apalah," dia mencoba meyakinkan diri sendiri.
Tapi kenapa dadanya sesak melihat Dian dan Clara tadi?
"Ah, mungkin karena gue benci aja liat orang dimanfaatin. Iya, pasti itu!"
HP-nya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dian:
[Transfer Rp 50.000.000 telah berhasil]
[Pesan: Untuk transportasi pulang. Jangan naik angkot.]
Kirana memandangi notifikasi itu dengan mulut menganga. "Lima puluh juta cuma buat pulang?! Ini orang gila harta apa gimana?!"
Tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah pesan berikutnya:
[Besok kita perlu bicara. Tentang kontrak kita.]
Perasaan campur aduk menyergap Kirana. "Apa dia mau batalkan kontrak gara-gara kelakuan gue tadi? Atau..."
Dia memandang langit Jakarta yang sudah mulai senja. "Atau jangan-jangan gue yang mulai nggak bisa bedain mana yang kontrak, mana yang beneran?"