"Ini... rumah?!"
Kirana menekan wajahnya ke jendela mobil, matanya berbinar-binar melihat gerbang besi hitam berukir yang perlahan terbuka. Di baliknya, terbentang jalan setapak sepanjang mungkin dihiasi lampu taman kristal, mengarah ke bangunan megah bergaya Eropa yang lebih mirip istana kecil.
"Dasar orang kaya! Ini mah bukan rumah, ini hotel bintang tujuh kali!"
Dian di sebelahnya menghela napas panjang. "Jangan terlihat seperti turis yang baru pertama kali lihat gedung tinggi," bisiknya sambil mencolek jidat Kirana.
"Aduh!" Kirana mengusap jidatnya. "Dasar sadis! Jidat saya bukan tombol elevator!"
"Ingat," Dian melanjutkan dengan suara rendah, "Anda Kirana Anastasia Wijaya, lulusan London School of Economics. Bicaralah dengan aksen sedikit British jika perlu."
Kirana mengernyit. "British? Saya aja English aja belepotan!"
Tapi sebelum sempat protes, mobil sudah berhenti di depan tangga marmer megah. Seorang butler sepuh dengan jas lengkap sudah menunggu dengan senyum kaku.
"Selamat siang, Tuan Muda. Keluarga sudah menunggu di ruang tamu utama."
"Tuan Muda? Dih, kayak di sinetron India aja!"
Kirana langsung membuka pintu mobil sendiri—dan langsung mendapat cengkraman kencang di pinggang.
"Tunggu saya yang bukakan pintu," desis Dian di telinganya, membuat bulu kuduk Kirana merinding. "Anda ini calon istri saya, bukan supir."
"Duh, ribet amat sih!"
Tapi Kirana hanya bisa mengangguk, wajahnya memerah karena pegangan Dian yang tiba-tiba itu. "Ini beneran cuma kontrak kan? Kok rasanya... aneh ya?"
Dian turun lebih dulu dengan elegan, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Kirana. Saat kakinya menyentuh tanah, Kirana nyaris terpeleset—sandal hak tingginya yang baru pertama kali dipakai itu licin!
"Aduh—!"
Tapi sebelum jatuh, Dian sudah menariknya dekat, tangan kuatnya melingkari pinggang Kirana lagi. "Jangan berjalan seperti bebek," bisiknya kasar. "Langkah kecil, anggun."
"Dasar dictator! Gue kan baru pertama kali pake hak tinggi!"
Dengan muka merah padam, Kirana mencoba berjalan seanggun mungkin mengikuti Dian. Tapi saat melangkah, tiba-tiba—
KRETT!
Suara kain robek.
"..."
"..."
Dian memicingkan mata. "Apa itu?"
Kirana perlahan mengangkat sedikit gaunnya—bagian belakang tersangkut di pegangan tangga dan sobek sedikit.
"Gue mau mati aja deh..."
"Berdiri tegak," gerutu Dian sambil cepat-cepat melepas jasnya dan mengalungkannya di bahu Kirana untuk menutupi sobekan itu. "Jangan menoleh ke belakang."
---
Begitu pintu kayu berukir terbuka, Kirana langsung disambut pemandangan yang membuatnya nyaris melotot.
Ruangan seluas lapangan bola itu dipenuhi furnitur antik berlapis emas. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit setinggi lima meter. Di ujung ruangan, dua sosok duduk tegap di sofa velvet merah—seorang pria tua bermuka sangar dengan kumis tebal dan wanita elegan berparas cantik meski sudah berusia 60-an.
"Orang tua Dian? Kok ibunya cantik banget? Genetiknya mana nih ke anaknya?"
"Akhirnya datang juga," sapa Nyonya Wira dengan senyum manis tapi matanya tajam seperti elang.
Dian memegang punggung Kirana, mendorongnya maju. "Ibu, Ayah, ini Kirana Anastasia Wijaya, tunangan saya."
"TUNANGAN. Duh, kedengaran aneh banget..."
Kirana mencoba membungkuk hormat seperti yang diajarkan Dian di mobil. "S-Selamat siang, Pak... Bu..."
"Aduh, suara gue kenapa jadi fals gini sih?!"
Tuan Wira mengamatinya dari atas ke bawah. "Dari Wijaya Surabaya? Kenalkan saya dengan ayahmu."
"Hah?!"
Kirana berkeringat dingin. "Mana gue tau nama pengusaha properti Surabaya!"
"Ayah saya... sedang di Singapura, Pak," jawabnya sambil ngibulin.
Nyonya Wira menyeringai. "Oh? Kebetulan suami saya punya teman dekat dari Wijaya Surabaya. Namanya siapa? Wong atau Lie?"
"SHI—!"
Kirana melihat ke Dian dengan panik. Sang CEO cepat menyelamatkan. "Kirana dari cabang Wijaya di Menteng, bukan Surabaya."
"Ah, licik juga si Raja Dingin ini!"
Tapi Nyonya Wira belum selesai. "Kamu kuliah di LSE ya? Tahun berapa? Kebetulan keponakan saya juga lulusan sana."
Kirana menggigit bibir. "Ini ujian apa sidang skripsi sih?!"
"Saya... lulus 2018, Bu," jawabnya sambil mengingat-ingat materi yang diajarkan Dian.
"Jurusan?"
"E... ekonomi?"
Nyonya Wira mengangkat alis. "Ekonomi? LSE tidak ada jurusan ekonomi umum, hanya spesialisasi tertentu."
"GUE DIBOHONGIN DIAN NIH!"
Dian lagi-lagi menyelamatkan. "Financial Economics, Bu. Kirana sering menyederhanakan saja."
Tuan Wira tiba-tiba menepuk lututnya. "Cukup interogasinya. Kamu bilang ini tunanganmu, tapi kenapa baru sekarang kami ketemu?"
Dian menarik napas. "Kami ingin hubungan kami matang dulu sebelum—"
"Dia malu!" sela Kirana tiba-tiba.
Semua mata tertuju padanya.
"Nah, sekarang gue yang bicara."
"Dian kan perfeksionis. Dia mau pastikan saya benar-benar cocok dengan keluarganya dulu," lanjut Kirana dengan lebih percaya diri. "Makanya dua tahun kami sembunyi-sembunyi."
Nyonya Wira tersenyum tipis. "Oh? Jadi kamu bisa bicara lancar juga?"
"Woy, jangan diremehin gitu dong!"
Kirana tanpa sadar sudah nyaman. "Iya dong, Bu. Cuma tadi nervous aja. Siapa sih yang gak gemeteran ketemu calon mertua secantik Ibu?"
Dian di sebelahnya nyengah. "Apa-apaan ini?!"
Tapi efeknya ajaib. Nyonya Wira tersipu. "Dasar anak ini... pinter ngomong."
Tuan Wira masih sangar. "Kamu tahu tidak, anak saya ini punya—"
"MAKAN SIANG SUDAH SIAP!"
Butler tua itu muncul lagi, menyelamatkan situasi yang hampir runyam.
Saat berdiri, Dian menarik Kirana ke belakang. "Anda gila?!" desisnya.
Kirana cengengesan. "Tuh kan, ibumu senyum-senyum."
"Tapi Anda hampir membuat kita ketahuan!"
"Santai aja, Sayang," Kirana sengaja memanggilnya dengan sebutan mesra sambil mencubit pipi Dian. "Nih, balas dendam buat jitak jidat tadi!"
Dian terbelalak. "ANDA—!"
Tapi mereka sudah sampai di ruang makan, di mana meja sepanjang 10 meter penuh dengan hidangan mewah.
"Gila... porsinya buat satu RT kali!"
Nyonya Wira mempersilakan mereka duduk. "Kirana, kamu duduk di sebelah saya ya. Biar kita lebih kenal."
"Haduh, babak kedua dimulai..."
Kirana mengambil napas dalam-dalam. "Siap tempur!"
---
Kirana menyendok sup krim truffle di depannya dengan santai sekarang. Setelah 30 menit berbincang dengan Nyonya Wira, ketegangan di pundaknya perlahan mencair. Ibu Dian ini ternyata punya selera humor yang cukup menyenangkan, dan yang lebih mengejutkan—sangat doyan gosip!
"Jadi waktu Dian kecil, dia pernah kabur dari rumah karena tidak mau potong rambut," bisik Nyonya Wira sambil tertawa. "Ditemukan tiga jam kemudian di taman, sedang mengumpulkan kucing liar!"
"Dian kecil kolektor kucing liar?!" Kirana nyaris menyemburkan jus anggurnya. "Nggak nyambung banget sama yang sekarang!"
"Ibu," Dian mengingatkan dengan suara datar dari seberang meja.
"Ah, anakku ini tidak suka dibocorkan masa lalunya," Nyonya Wira berbisik pada Kirana. "Tapi kamu boleh lihat foto-fotonya nanti."
"Duh, saya mau banget!" Kirana menyipratkan senyum nakal ke arah Dian yang langsung merespon dengan tatapan "Awas kau".
Tuan Wira yang selama ini diam sambil memotong steak dengan presisi militer tiba-tiba menyela. "Kirana, kamu bisa memasak?"
"Hah? Masak?"
Kirana menggeliat di kursi. "Gue mah paling bisa indomie telor kornet..."
"Dia ahli masakan Barat," Dian menyelamatkan dengan cepat.
"Oh? Bisa buat beef wellington?" tanya Tuan Wira penuh harap.
"Beef weli-weli apa tuh?"
"Tentu saja!" Kirana ngeloyor. "Tapi special resep keluarga, jadi... rahasia dong!"
Nyonya Wira tertawa. "Wah, harus sering-sering main ke sini masak untuk kita!"
"Haduh, gue harus kursus kilat nih!"
Dian di seberang meja menghela napas sambil menatap Kirana dengan pandangan "Kau akan membayar ini nanti".
---
"Jadi bagaimana kalian bertemu?" tanya Nyonya Wira tiba-tiba.
Kirana yang sedang asyik menyerang dessert chocolate soufflé nya langsung tersedak. "Ini dia pertanyaan jebakan!"
"Saat magang di perusahaan," jawab Dian dengan lancar.
"Tapi kan katanya kamu tidak pernah mau pacaran dengan karyawan?" Nyonya Wira menyipitkan mata.
Kirana tanpa berpikir langsung nyerocos. "Karena saya yang nembak dia duluan, Bu!"
Semua sendok di meja berhenti bergerak.
"Waktu itu saya bilang, 'Pak Dian, saya suka sama Bapak. Kalau Bapak nggak mau, saya resign saja!'" Kirana melanjutkan dengan semangat, bahkan berdiri dan menirukan adegan tersebut.
Dian memegangi dahinya. "Ini sudah menjadi mimpi buruk."
Tapi efeknya di luar dugaan. Nyonya Wira tertawa terbahak-bahak. "Wah, berani sekali kamu!"
"Lalu apa jawaban Dian?" tanya Tuan Wira penasaran.
"Uh-oh, gue belum nyiapin bagian ini!"
Kirana melihat Dian yang wajahnya sudah pucat. Dengan senyum paling manis, dia berkata:
"Dian bilang... 'Kalau kamu berani resign, berarti kamu tidak cukup cinta untuk bertahan.' Jadi saya memilih bertahan."
"..."
"..."
Nyonya Wira menyeka sudut matanya. "Itu... sangat romantis, Nak."
Dian yang sedang minum anggur nyaris tersedak. "Apa-apaan ini?"
---
Setelah makan siang, mereka pindah ke ruang keluarga yang lebih santai. Kirana sekarang sudah benar-benar nyaman, bahkan kakinya disilangkan di sofa seperti di rumah sendiri.
"Nyokap Dian emang asik sih. Kalo doi nggak sering ngasih tatapan mau bunuh, mungkin gue bakal betah jadi menantunya beneran."
Dian yang duduk di sampingnya terus mengirim sinyal darurat lewat tatapan.
"Ayo kita lihat album foto Dian kecil!" ajak Nyonya Wira bersemangat.
"Tidak perlu, Ibu," sanggah Dian cepat.
"Ah, dasar pemalu!" Kirana menyahut. "Ayo dong, Bu! Saya penasaran banget!"
"Gue bisa pake ini buat bahan bully-an tiap meeting nanti!"
---
"OMG! Imut banget sih! Pipinya chubby!" Kirana tertawa. "Sekarang mana kucing-kucingnya, Bu?"
"Dia tidak boleh pelihara kucing lagi sejak—"
"IBU!" Dian berdiri tiba-tiba.
Tapi terlambat. Nyonya Wira sudah membalik halaman, memperlihatkan foto Dian usia 10 tahun dengan mata sembap menangis sambil memegang poster "SAY NO TO CAT EVICTION".
"DIA NANGISIN POSTER PROTES?! GUE PENGEN COCOS PIPINYA!"
"Wah, Dian dulu suka nangis ya?" goda Kirana.
Dian mendekat dengan cepat, memegang bahu Kirana dari belakang. "Sayang, kita harus segera kembali. Masih ada meeting penting."
Cengkeramannya di bahu Kirana seperti capit kepiting.
"Aw aw aw! Nanti gue bakal dibunuh nih!"
Tapi sebelum sempat pamit, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Seorang wanita cantik berambut panjang dengan gaun mewah berdiri di sana, wajahnya pucat.
"Clara?" Dian terkejut.
"Aku tidak percaya ternyata benar," kata wanita itu dengan suara bergetar. "Kamu benar-benar akan menikahi... siapa ini?"
"Hah?!"
Ruangan menjadi sunyi. Nyonya Wira menghela napas. Tuan Wira mengernyit. Dian berwajah pucat.
Dan Kirana—
"WOW! DRAMA! INI BARU SERU!"