- Genggaman yang terputus -

1787 Kata

Setelah malam mencekam itu, aku benar-benar berusaha sendiri. Pikirku, sikap Ibu bisa jadi lebih baik. Ternyata tidak juga. Kami bahkan seperti memukul genderang perang secara terang-terangan. Pedahal aku tidak pernah memandangnya sebagai lawan. Aku selalu bernegosiasi, memintanya kembali menjadi sekutu. Tapi nihil. Aku harus benar-benar kuat sendiri. "Neng, kamu tau kan. Saya serius." Pak Marcel bersandar pada kursi mobil dengan kedua lengan saling berpangku dan terlipat di belakang leher. Kami tengah berduaan di dalam mobil. Hampir setiap hari sabtu, ia menjemputku di depan kampus. Di hari tersebut jam kantor memang hanya setengah hari. Dan aku tidak pernah bisa melarikan diri. Satu hal yang patut kusyukuri di antara banyaknya sikap Ayah angkat yang menyebalkan juga memancing emosi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN