empat belas

1131 Kata
BEBERAPA hari kemudian, seorang wanita datang mengunjungi kediaman Radha. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai bawahan Max dan menunjukan kartu identitas dirinya—sepertinya ia mengetahui kalau Radha cukup parno dan hati-hati karena takut kalau ia membohonginya. "Anda bisa memanggil saya Sylvia," terang wanita tersebut. "Ah, baiklah." Sylvia tersenyum sopan dan mengajak Radha untuk pergi bersamanya. Wanita itu datang menggunakan mobil Mercedes-Benz tipe AMG S65 bersama dengan seorang supir yang menyambut Radha dengan sopan. Awalnya Sylvia ingin duduk di samping kursi pengemudi tetapi Radha memaksanya untuk duduk disamping Radha, akhirnya Sylvia pun mengalah dan duduk di samping Radha. "Jadi hari ini anda mau membawa saya kemana?" Tanya Radha hati-hati. "Hari ini anda akan memilih desain gaun pengantin di butik kepercayaan Pak Max, setelah itu anda akan mempelajari dasar-dasar tentang bisnis bersama saya di rumah Pak Max. Pukul 6 sore nanti, saya akan mengantar anda kembali ke rumah anda," jelas Sylvia. Radha menganggukkan kepalanya. "Memangnya untuk tanggal pernikahan dan venuenya sudah disiapkan?" Sylvia tersenyum sopan. "Untuk tanggal pernikahan sudah ditetapkan, mengenai venue anda tidak perlu khawatir karena pihak kami akan mendapatkan tempat sesuai dengan keinginan Pak Max." Radha mengerti arti lain dibalik perkataan Sylvia, artinya apa yang diinginkan Max pasti akan didapatkan pria itu. Diam-diam Radha menelan ludahnya dengan susah payah, calon suaminya ini benar-benar orang yang mengerikan. Begitu sampai di butik yang dituju, Radha disambut oleh lima pramuniaga yang segera melakukan tugas mereka. Radha diberikannya buku koleksi mengenai desain yang ada di butik tersebut, bahkan Radha diwajibkan untuk meng-custom gaun pernikahannya nanti atas perintah Max. Radha tidak bisa menahan keterkejutannya begitu dihadapkan dengan lebih dari 1000 desain gaun pengantin di hadapannya. Tidak hanya dari desain, Radha juga harus memilih bahan dari kain yang akan ia gunakan, kombinasi warna, batu permata yang akan menghiasi gaunnya, dan sebagainya. Karena pernikahan ini akan diadakan dalam tiga bulan lagi, Radha tidak bisa menunda terlalu lama. Radha ingin semuanya serba simple dan meminta Sylvia untuk memilihkan baginya, tapi Sylvia selalu menolak dan hanya memberikan beberapa saran seperti selera Max maupun beberapa hal yang tidak Max sukai. Setelah selesai memilih desain gaunnya, Sylvia membawa Radha ke rumah Max yang terletak di kawasan Paradise Residence, Perumahan ini milik Soedjono Group, perusahaan yang bergerak di bidang property. Perumahan ini banyak dihuni oleh orang-orang kaya se-Indonesia dimana nilai property rumah mereka mencapai nilai yang bombastis. Adam dan Eva hendak membeli rumah di kawasan ini karena selain prestise diantara kalangan kaum borjuis, perumahan ini memiliki tingkat pengamanan yang tinggi, satpam yang selalu berjaga 24 jam, lahan yang luas dan cukup jauh antara satu rumah dengan rumah lain, di daerah pinggiran kota Jakarta yang memiliki akses khusus dengan banyak tol, dan dekat laut. Tetapi Radha tidak menginginkan keluarganya pindah saat itu, terlebih ia juga sudah nyaman dengan rumah lamanya yang lebih dekat menuju SMA-nya jadi orang tuanya pun tidak jadi pindah rumah ke perumahan disana. Radha mengakui bahwa segala rumor mengenai Paradise Residence ini benar setelah ia mengunjungi rumah Max. Di pintu gerbang perumahan, terdapat delapan satpam yang menjaga gerbang tersebut. Mereka mengidentifikasi nomor plat mobil serta seisi mobil. Selain itu Sylvia juga menyerahkan suatu kartu khusus dan memberikan alat dimana Sylvia menempelkan ibu jarinya. Alat itu mengescan sidik jari Sylvia kemudian mengeluarkan warna hijau, barulah mereka diperbolehkan masuk. Sylvia menangkap wajah Radha yang tampak tidak nyaman dengan pemeriksaan seperti itu dan tersenyum menenangkan. "Anda tidak perlu khawatir, setelah anda menikah dengan Pak Max, tentu saja anda tidak perlu melewati serangkaian pemeriksaan ini." Radha terdiam menyimak penjelasan Sylvia. "Para pekerja di perumahan ini diwajibkan menghafal wajah pemilik rumah serta anggota keluarganya, termasuk para pekerja di rumah tersebut. Selain itu wajah anda akan masuk dalam system pengamanan perumahan ini, jadi anda tidak akan melewati hal seperti ini lagi. Saya rasa Pak Max sudah mendaftarkan wajah anda ke dalam system pengenal perumahan ini dan besok Ibu tidak perlu melewati ini semua lagi." 'Woah benar-benar beda level sekali aku ini dengan Max...' batin Radha sangsi. Radha mengangguk dan Sylvia kembali menatap layar tabnya. Keduanya sampai di pintu gerbang rumah Max, di bagian depan terdapat tulisan 'Dexter's' dan para satpam tersebut segera membuka portal. Mobil yang Radha naiki melaju menuju bangunan megah yang membuat Radha menelan ludahnya; berdecak kagum melihat eksterior rumah yang berwarna abu-abu dan didominasi oleh kaca-kaca besar yang memperlihatkan bagian dalam rumah itu. "Mari, bu." Radha tidak bisa berhenti berdecak kagum, ia masuk ke dalam rumah—yang lebih layak disebut istana—Max dengan linglung; apakah ini masih di Indonesia? Ini benar-benar mengagumkan. Eksterior rumah ini sudah memukau Radha dan interiornya semakin membuat Radha berdecak kagum; modern, minimalis, dan elegan. Bahkan di rumah ini, ada lift pula! "Memangnya rumah ini berapa lantai...?" Tanya Radha ragu-ragu. "Kok ini ada lift segala," tambah Radha canggung. Sylvia tampak menahan tawanya. "Tenang saja, hanya ada 2 lantai. Pak Max membuat lift ini ditujukan bagi orang tua yang mengunjungi rumahnya maupun ia gunakan ketika ia lelah pulang dari kantor." Radha menganggukkan kepalanya paham. Begitu sampai di ruang tamu rumah Max, tingkat kekaguman Radha meningkat 1000%. Melihat segala keindahan rumah Max membuat Radha salut, inilah yang dinamakan rumahku, istanaku. Ruang tamu Max berseberangan dengan kolam ikan yang berada di tengah-tengah taman sementara di sisi kiri kolam ikan tersebut ada kolam renang outdoor. Di dekat ruang keluarga terdapat pula kolam renang indoor, Jacuzzi, serta bar yang terhubung dengan ruang gym. Folding door yang mengelilingi ruangan tersebut ditutup, membiarkan rumah Max disinari dengan sinar matahari dan hembusan angin yang termasuk dalam upaya menghemat energi. Sylvia melangkahkan kakinya menuju tangga yang berada di sisi timur laut ruang tamu. Radha mengikuti Sylvia dengan hati-hati, tangga kaca itu tampak rapuh tetapi sebenarnya sangat kokoh dan tampak indah di mata Radha. "Rumah ini luasnya berapa meter?" Tanya Radha. "Dimulai dari gerbang rumah ini hingga halaman belakang, totalnya 2000 meter persegi," jawab Sylvia. "2000?!" Radha membelalakan matanya tak percaya. Sylvia mengangguk. "Benar. Rumah ini memiliki enam kamar tidur dan satu wisma di seberang rumah ini untuk tempat tinggal para pelayan, satpam, serta tukang kebun yang bekerja di rumah Pak Max. Tetapi dari enam kamar tidur itu, empat lainnya kosong karena Pak Max pikir beliau belum membutuhkan itu. Ia telah menyiapkan empat kamar lain itu bagi anak-anaknya nanti." Radha mendengar penjelasan Sylvia dengan seksama. Pria ini benar-benar penuh perencanaan. "Selain itu rumah ini juga memiliki home theater, perpustakaan, ruang kerja dan ruang billiard." Sylvia membukakan pintu bagi Radha. "Anda akan menggunakan perpustakaan ini sebagai ruang belajar anda selama tiga bulan ke depan bersama saya. Saya juga sudah menyiapkan ruangan kamar anda apabila anda hendak menggunakannya." Radha menghela nafas panjang dan memaksakan seulas senyuman. Bagaimana bisa Radha tinggal bersama pria yang baru ia kenal di dalam rumah sebesar 2000 meter persegi ini hanya berdua?! Bahkan Radha kira, ia bisa tersesat di dalam rumah sebesar ini! Radha tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau menangisi nasibnya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN