PERKATAAN Max membuat kedua orang lainnya menundukkan kepala mereka, mereka menyamarkan ekspresi wajah mereka dengan meminum teh yang disediakan. Selina melirik kearah sisi kirinya sekilas lalu kembali menatap Max. Orang yang dimaksud dari perkataan Max itu tetap memasang ekspresi tenang, seolah-olah tidak mendengar apapun.
"Lalu mengapa kamu mau menikahinya? Menurut oma, ia tidak terlalu baik bagimu. Oma rasa kamu juga tidak terlalu mengenalnya, ia terkenal memiliki sifat membosankan dan biasa saja. Tidak cantik, tidak pintar, tidak memiliki bakat lain. Tidak ada kelebihan yang membuat dirinya menonjol."
Max mengelus gagang cangkir di hadapannya. "Aku telah memilihnya dan itu bukan urusan oma bagaimana aku bisa mengenalnya maupun ingin menikahinya. Yang perlu oma tahu, aku tidak melakukan kesalahan, ia memiliki background keluarga yang cukup baik, dan kami memutuskan untuk menikah."
Selina tampak kehabisan kata-kata. Ia berdeham singkat kemudian meminum tehnya sesaat, "Kamu tahu 'kan kalau kamu bisa mendapatkan yang lebih baik? Banyak nona muda dari keluarga politisi yang dapat membantu memuluskan bisnis keluarga Dexter, keluarga tentara yang memberikan backing kepada keluarga Dexter, maupun keluarga pengusaha yang lebih besar dari perusahaan keluarga gadis itu untuk membantu bisnis keluarga Dexter."
Ekspresi wajah Max tetap tidak berubah. Senyumnya justru semakin melebar tetapi hanya segelintir orang yang menyadari bahwa senyuman itu adalah senyuman dingin dan mencemooh. "Dia sudah lebih dari cukup bagiku."
Selina menghela nafas panjang. Cucunya ini memang mirip dengan putra sulungnya yang keras kepala, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menampakkan wajah simpati, "Oma hanya berharap pernikahanmu ini sudah kamu pikirkan dengan baik dan langgeng. Kamu sudah melihat sepupumu itu—Odi—yang pernikahannya gagal dan akhirnya bercerai. Kamu tahu 'kan bagaimana dulu oma menanyainya berulang kali dan ia bersikukuh bahwa hatinya telah mantap untuk menikahi keluarga Widjaya tetapi... malah berujung pada perceraian."
Wajah Ann membeku seketika begitu mendengar Selina membawa-bawa nama putrinya. Ia ingin membalas tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Bagaimana pun juga, wanita di hadapannya ini adalah ibu yang melahirkan dan membesarkannya dengan keras. Ia sendiri tidak pintar bersilat lidah dengan ibunya sendiri.
Max dapat melihat perubahan di wajah tantenya, ia hanya bisa berempati di dalam hatinya. "Tidak ada yang tahu rencana Tuhan. Tentu saja aku berharap pernikahanku ini akan langgeng, aku pun yakin Odi juga berharap begitu tetapi kalau Tuhan memiliki rencana lain, kita yang hanya manusia biasa dapat berbuat apa?"
Penghujung bibir Ann sedikit terangkat mendengar balasan Max, ia mengangkat wajahnya dan menatap Selina dengan tenang. "Benar kata Max, ma. Kita sebagai manusia biasa tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Umur dan jodoh kita tidak ada yang tahu selain Tuhan. Saat ini kita masih sehat walafiat dan bisa bercengkrama bersama disini, tetapi siapa tahu besok salah satu dari kita sudah tiada?"
Selina menatap anak bungsunya dengan tatapan tajam, ia rasa didikannya terhadap anak perempuannya ini kurang keras sehingga ia berani melawan perkataannya. Ann sendiri tidak peduli, bagaimana pun juga Odi adalah anak semata wayangnya, ia akan melindungi Odi dari siapapun yang hendak berbuat jahat kepadanya, termasuk neneknya sendiri.
Melihat situasi yang menjadi tegang, Rudolf mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Apa benar pernikahanmu akan diadakan tiga bulan lagi Max?"
"Iya."
"Cepat sekali, mengapa tidak tahun depan saja? Kita juga akan memilihkan tanggal pernikahan yang baik bagimu, benar 'kan ma?" Rudolf menatap Selina yang segera mengangguk.
"Benar Max. Apa tidak terlalu cepat? Bagaimana tahun depan di bulan April?" saran Selina.
"Tidak perlu. Aku sudah memilih tanggal pernikahan yang baik. Kalian semua tenang saja, aku sudah besar dan bisa mengatur segalanya sendiri. Kalian hanya perlu duduk manis dan kartu undangan pernikahanku akan sampai di tangan kalian," tegas Max.
Melihat keempat orang tua di hadapannya terdiam, Max bertanya dengan lembut, "Apa ada yang perlu dibahas lagi?"
Keempatnya terdiam. Merasa tidak ada yang perlu dibahas lagi, Max segera bangkit berdiri. "Kalau begitu aku akan pulang terlebih dahulu."
"Max." Letta yang sedaritadi berdiam diri turut berdiri, tersenyum lembut kearah Max. "Bagaimana kalau malam ini kamu menginap disini? Sudah lama kamu tidak pulang. Apa kamu tidak ingin menemani Oma?"
"Maaf Mom, aku masih memiliki banyak pekerjaan," Max memberi jeda sejenak, "semenjak aku menjadi seorang CEO, pekerjaanku semakin menumpuk. Maafkan aku karena menjadi anak dan cucu yang durhaka, aku melakukan ini semua demi kepentingan keluarga Dexter."
Max meraih jas miliknya yang dibawakan oleh pelayan dan memakainya dengan cekatan. "Di kemudian hari, aku akan sesekali mengunjungi kalian setelah menyelesaikan pekerjaanku. Permisi."
Setelah Max pergi, Selina menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit. "Ma, mama tidak pa-pa?" Rudolf segera mendekat kearah Selina, tetapi Selina mengangkat tangannya, memerintah Rudolf untuk tetap di tempatnya.
"Lihatlah anak penurut itu menjadi berubah menjadi pembangkang seiring berjalannya waktu," Selina mengeluarkan kapsul obat dari tabung bening miliknya, "aiyo, bagaimana anakku bisa beristirahat dengan tenang disana melihat kelakuan putranya seperti ini?"
Baik Ann, Letta, dan Rudolf tidak menjawab. Selina menghela nafas pasrah, ia melirik kearah Letta, "Tidak perlu merasa bersalah. Kamu tidak mengasuh Max, jadi aku tidak menyalahkanmu atas sikap anak itu."
Letta tersenyum kecil. "Letta tahu."
Kini Selina menatap Ann. "Kamu harus bisa mendidik anakmu lebih baik lagi. Meskipun anakmu tidak menyandang nama Dexter, ia tetap memiliki darahmu yang seorang Dexter." Selina menyimpan kembali tabung obatnya. "Walaupun Max memiliki sifat yang kurang baik, setidaknya ia tidak melakukan kesalahan seperti apa yang dilakukan anakmu. Anakmu sudah mencoreng nama baik keluarga Dexter di hadapan publik, kalau ke depannya hubungan bisnis antara keluarga Dexter dan Widjaya tidak berjalan dengan baik, apa kamu bisa menerima konsekuensinya?"
Ann memaksakan seulas senyuman di wajahnya. "Tenang saja, aku bisa menjamin kalau perceraian Odi dan Stefan tidak memengaruhi kerja sama antar dua perusahaan besar ini. Aku mengenal Stefan dengan baik dan mengetahui tempramennya, mama tenang saja."
"Kalau begitu jaga cicitku dengan baik. Ia tetap seorang Widjaya dan memiliki hak untuk menjadi ahli waris takhta Widjaya. Selama Stefan tidak menikah lagi, maka tidak ada yang mampu menggoyahkan posisi cucumu itu. Kalau mereka berdua rujuk kembali, hal ini akan menjadi prospek yang baik bagi keluarga kita dan keluarga Widjaya untuk menjalin kerja sama dan menjadi perusahaan paling kuat di negeri ini."
Melihat Ann yang memilih tidak menjawab, Selina menghabiskan sisa tehnya kemudian menatap Rudolf yang masih menundukkan wajahnya. "Dan kamu..." Selina kembali menghela nafas panjang. "Sudahlah, apa yang bisa kuharapkan darimu?"
Seorang pelayan mendekat dan membantu Selina untuk bangkit berdiri. "Kalian bisa pulang setelah menghabiskan teh kalian. Aku akan ke kamar terlebih dahulu." Setelah berjalan beberapa langkah, langkah Selina terhenti. "Ah, dan Letta sebelum kamu kembali ke kamarmu jangan lupa untuk memberi makan Chicco. Ia pasti sudah kelaparan sekarang."
Selina pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Letta. Ketiganya terjebak dalam keheningan beberapa saat sampai akhirnya Rudolf bangkit berdiri, "Kalau begitu aku pulang dulu dik, kakak ipar. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Ann turut bangkit berdiri begitu melihat Rudolf berdiri. "Ah kebetulan sekali, aku juga hendak pulang. Kakak ipar, kami pamit pulang terlebih dahulu."
"Baiklah, kalian berdua hati-hati di jalan. Aku juga masih memiliki urusan yang harus kuselesaikan," balas Letta.
Keduanya beranjak pergi bersama-sama meninggalkan Letta seorang diri, setelah punggung keduanya menghilang dari pandangan Letta barulah wajah tenang wanita itu berubah menjadi sedingin es.