"Hey, ini masih di kawasan sekolah! Jangan memeluk!" ucap Binar berusaha melepaskan pelukan gadis itu.
"Jadi, kalau di rumah boleh peluk Pak Binar? Kalau gitu ayo pulang, Pak!"
Jawaban tidak masuk akal justru diberikan gadis tersebut. Sungguh di luar dugaan. Binar geleng- geleng dengan kelakuan Ailee yang kian hari kian menjadi.
Binar segera menyentil kening Ailee supaya gadis itu segera sadar dan tak ngelantur lagi. Dia pun kembali memakai helmnya dan naik ke motor. Sementara Ailee masih cengar cengir sendiri dibuatnya. Teringat jelas bagaimana dirinya tadi memeluk erat Binar— orang yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta.
Tin... tin...
Tukang ojek yang Ailee pesan akhirnya datang juga. Ternyata tukang ojek itu tadinya mengalami kecelakaan kecil di tengah jalan, dia menabrak katak dan harus mengurus pemakamannya terlebih dahulu. Ha- ha- ha. Memilukan sekali.
Tidak disangka jika ada orang yang sangat bertanggungjawab meskipun tidak sesama jenis. Bagaimanapun juga tanggungjawab memang harus ditegakkan sebagaimana mestinya. Akan tetapi, tindakan tersebut justru akan menimbulkan perspektif bermacam-macam bagi orang lain.
Beberapa orang akan berpikiran bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan tidak lazim untuk dilakukan. Sementara itu, bagi sebagian orang lainnya akan menganggap itu hal biasa saja dan ada pula yang akan menganggapnya luar biasa. Tergantung pandangan pribadi masing-masing. Sementara Ailee menganggapnya itu hal yang luar biasa, sedangkan Binar sebaliknya.
"Maaf, ya, Mbak, jadi telat. Ada kecelakaan di jalan." Tukang ojek itu berulang kali meminta maaf pada Ailee karena keterlambatannya.
"Kataknya kasihan banget, Pak," lirih Ailee. Entah kenapa dia mendadak sendu. Ailee memang kurang normal.
"Iya, Mbak. Saya jadi kepikiran kalau katak itu dicari keluarganya di rumah. Saya takut kalau dipenjara, Mbak," ucap Tukang Ojek sembari mengusap air mata yang hampir keluar. Terlalu terbawa perasaan dan terlihat jelas bahwa Tukang Ojek itu baik sekali hatinya sampai dengan katak pun tidak tega.
"Harusnya bapak tadi bikin pengumuman dulu, supaya keluarganya nggak bingung nyariin dia. Huuuuu, sedih banget...."
Binar belum beranjak dari sana. Dia duduk di motornya dan sedari tadi mendengar obrolan dari dua orang yang sebenarnya tidak waras. Awalnya dia larut dengan kesedihan Tukang Ojek, tapi setelah dipikir lagi itu tidak masuk akal. Binar tidak akan larut dengan ketidakwarasan dua orang itu.
"Kasihan banget pokoknya, Mbak. Sampai organ di dalam tubuh katak itu keluar semua...."
"Ya ampun... Kasihan sekali...."
"Percakapan macam apa ini!" celetuk Binar. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Ailee dan tukang ojek itu yang terus saja membicarakan katak. Dia pun segera melajukan motornya meninggalkan dua orang yang tak waras itu, takut ketularan somplak juga. Cukup mereka saja yang somplak di dunia ini, dirinya jangan sampai.
"Aduhh! Kok malah pergi sih, Pak Binar."
Ailee langsung naik ke motor tukang ojek, dia menyuruhnya untuk melajukan motor mengikuti Binar. Gadis itu tersenyum kemenangan karena akhirnya dirinya berhasil mengikuti Binar.
Binar yang tak mau kalah pun semakin melajukan motornya dengan cepat. Jadilah mereka itu balapan tapi tidak liar. He he garing :")
"Heh, kamu ngapain ngikutin saya?" seru Binar. Kesal sekali melihat Ailee bersampingan dengan dirinya.
"Siapa yang ngikutin? Orang aku mau ke panti dulu kok," jawab Ailee berteriak kencang.
"Tapi mbak, ini arahnya nggak sama kaya di aplikasi," timpal tukang ojek.
"Tuh dengerin, balik aja sana. Jangan ngikutin saya!"
Binar pun tertawa lepas mendengarnya. Dan Ailee tak mau kalah, dia tetap menyuruh tukang ojek mengikuti Binar dengan dalih akan membayar lebih. Tukang ojek pun menurutinya karena dia juga menginginkan uang tambahan.
Hingga akhirnya, Ailee sampai di rumah bersamaan dengan Binar. Dia segera turun dan tak lupa memberikan uang lebih untuk tukang ojek. Senang sekali Tukang Ojek tersebut menerimanya.
"Ini uangnya, Pak! Oh ya, jangan lupa kabari keluarga katak yang bapak tabrak tadi ya," ucap Ailee saat menyodorkan uang. "Semoga si katak husnul khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," tambahnya.
"Aamiin," sahut Tukang ojek sembari mengusap kedua tangan di wajahnya.
"Claaaarrrrriiiiissssaaaa, I will hug you..." teriak Ailee sembari berlari mencari keberadaan anak Binar.
"Hey, hey, hey!"
Binar pun kelabakan, dia segera mengikuti Ailee takut anaknya dijadikan sasaran kegemasan gadis itu. Jika Ailee sudah bersama Clarissa, maka bayi itu akan terusik karena Ailee akan terus mengecupinya tiada ampun. Sangat berbahaya. Binar tidak akan membiarkannya, dia harus melindungi Clarissa dari jangkauan anak itu.
"Mbaaaakkkk, tunggu!" teriak tukang ojek yang juga ikut berlari mengikuti Ailee ketika ada sesuatu yang dia lupakan. Jadilah, rumah Binar itu sangat ramai membuat heboh saja.
"Ailee berhenti!"
"Clarissa!"
"Heyy!"
"Mbak! Tunggu saya!"
"Ishh, ngapain sih, Pak? Kok ikut-ikutan ngejar?" Ailee terhenti menyadari bahwa Tukang Ojek tadi juga berlari mengejar dirinya. Dia heran sekali.
"Helm saya masih dipakai Mbaknya!" ucap tukang ojek seraya mengatur napasnya karena terengah-engah karena berlarian mengejar Ailee yang masih memakai helm penumpangnya.
Ailee pun menengok ke atas. Ah, iya, ternyata helm hijau khas tukang ojek itu masih melekat di kepalanya. Malu sekali dibuatnya. Sementara Binar justru tersenyum kemenangan, akhirnya dia yang pertama kali menggendong Clarissa, bukannya si Ailee yang menyebalkan itu.
Setelah ritual bersih-bersih, seperti mencuci tangan dan tak lupa memakai hand sanitizer, Ailee pun akhirnya diperbolehkan menggendong Clarissa. Seperti biasanya, kecupan bertubi-tubi mendarat di wajah bayi gembul itu. Binar tidak berhenti mengawasinya, takut jika ada bagian tubuh anaknya yang berkurang karena kegemasan Ailee.
"Anak Mama tambah gede, ya? Pasti pinter banget minum susunya," ucap Ailee kepada anak Binar yang kala itu tengah memakai baju merah muda.
"Ehh, ada Nak Ailee..." sapa Bu Melati, Ailee lalu mengecup tangannya serta tak lupa mengucap salam, dia memang selalu menghormati siapa pun yang lebih tua darinya.
"Biar Ailee saja yang meminumkannya, Bu," seru Ailee mengambil alih s**u yang berada di botol bayi.
"Terima kasih ya, Nak. Ibu mau lanjut masak dulu," pamit Bu Melati dan dia pun langsung menuju ke dapur. Kegiatannya sempat terhenti karena kegaduhan dari Ailee beserta Tukang Ojek tadi.
Ailee duduk di sofa ruang tamu sembari memberikan s**u yang berada di botol kepada Clarissa. Anak itu kuat sekali menyusunya. Dan yang membuat Ailee sedih adalah saat Clarissa meminum s**u formula. Bayi itu seharusnya masih mendapatkan ASI dari sang Mama, tapi karena suatu keadaan dia harus meminum s**u formula sebagai penggantinya.
Kasihan sekali. Tapi akan jauh kasihan jika tidak diberi apa pun. Ailee selalu bersyukur dengan kondisinya sendiri yang ternyata jauh lebih beruntung karena masih diberikan orang tua yang lengkap sampai saat ini.
"Kenapa?" tanya Binar, lelaki itu telah berganti baju dan menghampiri Ailee yang tengah menggendong anaknya, tapi gadis itu terlihat sendu. Pasti ada sesuatu yang membuat wajah gadis yang selalu ceria itu berubah seketika.
"Clarissa kasihan ya, Pak...."
Dan di sini, Binar mulai mengerti. Ailee pasti kasihan dengan Clarissa karena seumurannya sudah ditinggal sang Mama. Binar sendiri juga sedih jika mengingat itu, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya tak ada yang bisa dipertahankan.
Mama Clarissa memang terlampau jahat dan tidak pantas untuk dipertahankan. Lagi pula wanita itu tidak peduli dengan Clarissa semenjak belum berpisah dengan Binar. Mamanya Clarissa terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan Clarissa juga sering tidak diberi ASI murni. Sungguh mengenaskan.
"Binar, Ailee, ayo makan siang dulu, Nak," teriak Bu Melati.
Binar dan Ailee pun menuju ke meja makan. Ikan asin, sambal cabe ijo, telur balado, serta tempe goreng tersaji di meja. Makanan yang menggugah selera dan cocok sekali dijadikan santap siang. Sederhana namun tetap harus disyukuri dengan baik.
Ailee menatapnya lekat. Makanan yang sangat jauh berbeda dengan makanan yang tersaji di meja makan rumahnya. Tapi dia tahu bahwa rasa makanan yang ada di hadapannya saat ini sangatlah nikmat tiada tara.
"Maaf ya, makanannya pasti nggak kaya di rumah kamu," ucap Bu Melati seraya menyodorkan piring ke hadapan Ailee berharap dia mau menikmati santap siang yang telah dia masak.
"Dia paling nggak suka dan nggak mau makan, Mah," celah Binar. Lelaki itu sudah mulai mengisi piringnya dengan nasi dan berbagai lauk. Tidak lupa menuangkan air putih di gelasnya jikalau nanti kepedasan.
"Siapa bilang? Aku malah suka. Aku sering makan seperti ini sama Mang Dudung dan Bi Mina, ya meskipun harus sembunyi- sembunyi biar nggak ketahuan. Rasanya... Ah, mantab!!!" sahut Ailee, tanpa malu-malu dia pun segera mengambil satu centong nasi ke piringnya.
"Kalau begitu makan yang banyak, sini ibu ambilkan lauknya." Bu Melati lalu mengambilkan ikan asin, telur balado, serta tempe goreng. Dia sangat antusias melayani Ailee.
"Ehm, enak banget masakannya!" seru Ailee usai berhasil menelan satu suap makanan dari piringnya.
Secuil ikan asin dipadukan dengan sambal cabai hijau, ditambah dengan telur balado dan tempe goreng memang sangatlah nikmat apalagi saat nasinya panas dan makan dengan tangan langsung. Lumayan sulit, karena terbiasa makan dengan bantuan sendok dan garpu.
Perpaduan semua itu mengalahkan makanan cepat saji yang kerap kali dia makan. Jauh lebih nikmat jika suasana keluarga juga mendukung. Sebenarnya tidak masalah mau makan apa, yang terpenting adalah kebersamaannya. Dan hal itulah yang menambah kenikmatan dari makanan yang dikaruniakan Tuhan.
"Aku mau makan ini setiap hari!" ucap Ailee dengan mulut penuh. Tidak peduli dengan orang sekitarnya lagi jika sudah mendapatkan makanan enak.
"Kalau begitu datanglah ke sini sepulang sekolah, ibu akan memasakannya untukmu," sahut Bu Melati. Dia senang sekali, anak sultan seperti Ailee ternyata malah menyukai masakan kampung buatannya. Ailee memang beda dengan orang kaya lainnya, dia tetap mau berbaur dengan kaum bawah. Tak heran jika Ailee disukai banyak orang.
"Kalau enak, nasinya tambah lagi, nih..." ucap Binar, dia kembali mengambilkan dua centong nasi ke piring Ailee, dan tak lupa lauknya lagi.
Yang dia pikir Ailee akan marah karena jika makan banyak akan membuatnya gendut, tapi malah gadis itu senang sekali dan mengangguk antusias, dia akan menghabiskannya, serunya dengan semangat. Tidak peduli jika berat badannya nanti naik berkilo- kilo.
"Aku mau sambalnya lagi, Pak!"
Binar menggelengkan kepalanya, Ailee sudah seperti tak makan seharian saja. Ailee yang seperti itu membuat semuanya ikutan lahap makan juga. Maklum, Ailee menyukai masakan sederhana seperti yang kini dia makan.
"Jangan lupa nanti bayar ya, udah berapa porsi tuh yang kamu makan," goda Binar membuat Bu Melati tertawa.
"Tenang saja, nanti aku akan membayarnya."
"Nggak usah dihiraukan ucapan Binar, dia itu bercanda."
Beragam makanan kampung yang tersaji di atas meja makan tersebut perlahan habis dan menyisakan piringnya saja. Air putih di dalam teko pun hampir habis pula karena untuk menghilangkan rasa pedas dari sambal cabai hijau yang cocok sekali dengan ikan asin.
Ketiga orang itu lalu menghabiskan makanan dengan sedikit obrolan yang diselipkan. Bagi Ailee, ini adalah hal yang menyenangkan. Berbaur dengan kaum di bawahnya ternyata tak buruk. Banyak hal baru yang jadi teladan dan membuatnya jauh lebih bersyukur lagi atas apa yang telah dimilikinya.
Lagi pula, kaum atas maupun bawah itu sebenarnya sama saja. Selalu ada kebahagiaan dan kesedihan sendiri. Tidak ada yang perlu disombongkan dan tidak perlu iri dengki dengan sesama. Semua yang kita miliki juga hanya titipan yang suatu saat nanti akan kembali kepada Sang Pencipta lagi.
Ailee hari itu benar-benar mendapat pengalaman baru yang luar biasa. Kehidupan yang sederhana ternyata mampu menciptakan kebahagiaan yang tidak terduga. Asalkan semuanya pandai bersyukur, maka kehidupan pun terasa ringan meskipun beban tak henti-hentinya menyapa.