Sekolah berjalan seperti biasanya. Para siswa siswi berhamburan ke luar kelas saat bel istirahat berbunyi nyaring. Ada yang menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mengerjakan tugas atau sekadar membaca guna menambah pengetahuan. Ada yang langsung ke kantin dan berebut antrian untuk memesan makanan. Ada pula yang memilih untuk berolahraga seperti basket, atau bulu tangkis di lapangan sekolah.
Saat istirahat, sekolah semakin ramai dengan siswa siswi yang sedang bercerita dengan teman dekatnya dan bersuka ria. Banyak pula yang asyik dengan dirinya sendiri.
Lima sekawan itu telah berkumpul seperti biasanya. Di meja pojokan kantin. Berbagai makanan untuk mengisi perut mereka telah tersaji usai mengantri panjang. Mulut pun mulai melaksanakan tugasnya, mengunyah satu persatu makanan yang ada di hadapan. Membuatnya lebih halus sebelum ditelan menyapa organ-organ di perut.
Tidak ada waktu untuk bersantai atau lambat saat memakannya karena waktu istirahat terbilang sebentar saja. Meski demikian, para siswa siswi tetap berhati-hati saat makan supaya hal yang tidak diinginkan seperti tersedak, tidak terjadi.
Makanan di kantin memang sangat menggoda dan nikmat, para siswa siswi pun antusias menyantapnya. Tak jarang jika mereka bisa berulangkali membelinya dan hal itu membuat para pedagang di kantin mendapat keuntungan besar pula. Sama-sama menguntungkan dan menyenangkan.
"Hey, ngapain sih dari tadi celingukan gitu?" tanya Bryan menyikut tangan Ailee. Gadis itu seperti mencari seseorang.
"Lagi nyariin si Perfect Teacher!" jawab Ailee singkat, dia kembali memasukkan bakso tanpa kuah ke dalam mulutnya dan matanya tetap berpencar mencari sesosok yang ingin dia jumpai. Hasilnya nihil, dia belum ketemu orang tersebut. Ailee sangat penasaran dengan lelaki yang dia sebut Perfect Teacher.
"Ailee ini lama-lama makin gesrek, deh! Mending kamu berhenti ngejar Pak Binar, jelas-jelas Pak Binar itu nggak suka sama kamu. Tapi masih dikejar aja!" ujar Kimmy yang diangguki Aiden, Sora, dan juga Bryan.
"Kita udah kelas tiga loh, bentar lagi lulus. Harusnya fokus dengan ujian dan semacamnya, jangan memikirkan cinta dulu," timpal Sora.
"Lagian apa sih yang kamu suka dari Pak Binar? Jelas-jelas lebih ganteng aku," ucap Bryan kepedean.
"Gantengan juga aku kali," tukas Aiden, semuanya lantas terkekeh.
Bakso, gorengan, keripik, dan lain sebagainya telah habis. Mereka berlima pun kekenyangan. Bel masuk tak kunjung berbunyi, mereka masih asyik bercerita di kantin itu. Terlebih lagi masih ada kesempatan bagi Ailee yang berharap bertemu Binar di kantin tersebut. Ailee harus bertemu dengan Binar tiap harinya, dan hari ini dia belum bertemu jua.
"Oh ya, kalian berdua jadi tampil di festival besok?" tanya Kimmy kepada Aiden dan Sora.
"Tergantung sama Aiden sih, tahu sendiri kan kalau dia nggak pernah dibolehin manggung- manggung gitu sama Om Aksa," jawab Sora.
"Anak Pak Presdir nggak boleh kemana- mana ya, dia harus di rumah. Belajar...belajar...dan belajar..." ledek Bryan. Aiden pun langsung mencubitnya dengan keras. Selalu kesal dengan Bryan yang meledeknya seperti tadi.
"Ah, iya aku lupa," celetuk Kimmy diselingi tawa meledek Aiden juga.
"Husttt... hussst... kalian tenang saja, aku sudah punya cara untuk meyakinkan Papa. Dan mulai sekarang aku akan bebas pergi ke sana ke mari," ujar Aiden. Dia merangkul saudara kembarnya meminta persetujuan, "Bukankah begitu adikku sayang?"
"Iyaaaaaa---" Jawab Ailee.
Ya, mereka memang sudah sepakat untuk itu. Aiden tak akan mengatakan kepada sang Papa jika Ailee itu menyukai Binar dan dia juga akan membantu adiknya itu untuk menaklukkan hati Binar.
Sedangkan Ailee, dia harus meyakinkan sang Papa dan membantu Aiden mencari alasan ketika ada festival atau harus bernyanyi di cafe bersama Sora. Gadis itu juga bertugas untuk membantu Aiden menaklukkan hati Sora.
Aiden suka sekali dengan musik, dia sangatlah berbakat. Seringkali dia diminta untuk tampil di sebuah acara bersama Sora. Musik baginya adalah hal yang menyenangkan, tapi sang Papa tak pernah mendukungnya. Bagi sang Papa, musik hanya akan menghambat masa depannya, maka dari itu harus dihindari.
Siang itu Aiden dan Sora akan berlatih untuk tampil besok. Seperti biasa, mereka akan berlatih di rumah Sora. Dan jika sudah seperti itu, Ailee diacuhkan. Tapi tak masalah, yang terpenting Aiden dan Sora bisa bersama.
"Mau ikut atau pulang sendiri?" tanya Aiden kepada Ailee sebelum dirinya pergi bersama Sora.
"Ikut aja yuk, Mamaku tadi bikin pudding mangga kesukaanmu. Pasti kamu suka," ucap Sora. Dia selalu begitu, tapi Ailee juga selalu menolak ajakannya. Ailee hanya membiarkan Aiden memiliki waktu berdua bersama Sora sampai puas.
"Males, ah! Aku pasti dikacangin. Aku pulang sendiri aja deh. Selamat berpacaran ya kalian..." ucap Ailee menggoda.
"Apaan sih!" sahut Aiden dan Sora bersamaan. Sesungguhnya Aiden senang dengan perkataan Ailee, namun dia hanya berpura- pura saja.
Aiden dan Sora segera masuk ke mobil, sementara Ailee masih berada di parkiran dengan tangan yang melambai kepada Aiden dan Sora.
"Jangan lupa bawa pulang pudding mangganya ya," seru Ailee ketika Sora dan Kakaknya beranjak meninggalkan sekolahan.
Ailee segera mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia buka aplikasi berwarna hijau, segeralah dia memesan ojek online. Supaya tukang ojek tak kesusahan mencarinya, dirinya pun memilih menunggu di depan gerbang.
Lima menit lebih dirinya menunggu, tapi ojek yang dia pesan pun belum juga datang. Sekolah mulai sepi, siswa dan siswinya telah kembali ke rumah masing- masing. Tinggal dirinya sendiri di sana. Tapi tidak tahu juga jika di dalam masih ada siswa atau siswi yang tinggal.
"Ehem..." dehem lelaki dengan rambut sebahu berwarna pirang. Jaket jeans berwarna biru tanpa lengan dengan model sobek- sobek melekat di tubuhnya. Telinga dan hidung ditindik. Penampilannya sangat kacau. Tidak sesuai dengan lingkungan sekolah elit tersebut.
"Sendirian aja, Neng? Temennya mana, nih? Udah pulang semua?" tanya lelaki itu sembari melirik ke dalam sekolah.
Ailee tak menjawabnya, dia menggeser tubuhnya menjauhi lelaki yang cukup menyeramkan itu. Lelaki itu bukannya pergi tapi malah semakin mendekati Ailee. Gadis itu berusaha untuk tidak takut dan tetap berdoa supaya tukang ojek yang dia pesan segera datang.
"Cantik banget sih, neng! Imut- imut kaya boneka!" goda lelaki itu.
"Jangan ganggu!" gertak Ailee dan masih menghindari lelaki tersebut.
"Nggak ganggu, kok."
"Tolong!" teriak Ailee, ia lalu berlari hendak kembali masuk ke sekolah. Tapi sayang, lelaki tadi dengan cepat mencengkram lengannya kuat- kuat hingga dirinya tak bisa kabur lagi.
"Mau ke mana? Di sini saja temenin saya."
"Om, lepasin aku! Aku mau pulang...."
"Kencan dulu yuk sebelum pulang."
"Ayooo...." Lelaki itu menarik paksa tubuh Ailee. Menyeretnya dengan kuat meskipun si pemilik tubuh berusaha kuat pula untuk tidak ikut dengannya. Ailee sangat jijik dengan lelaki yang berpenampilan mengerikan dan terlihat tidak berpendidikan itu.
Ailee berteriak sekencang mungkin, berharap masih ada orang yang berada di sekolahan itu. Satpam yang biasanya berada di pos depan gerbang pun entah di mana keberadaannya. Depan sekolah saat itu sepi sekali, padahal biasanya ada yang jualan siomay, tapi kali ini tidak ada.
Tidak ada kendaraan yang berlalu lalang pula. Lingkungan sekolah itu benar-benar sudah sepi seolah tidak ada kehidupan lagi. Tapi tidak tahu jika masih ada beberapa orang di dalam sekolah. Yang jelas, Ailee bergidik ngeri karena tidak ada yang diminta pertolongan lagi.
"Tolooooongggg...." seru Ailee.
"Jangan berisik!"
Kali ini mulut Ailee dibekap tangan lelaki itu. Dia menggigitnya hingga si pemilik mengaduh, saat itu juga dia menendang alat vital lelaki itu hingga mengaduh kesakitan sembari memegangnya dan akhirnya melepas genggamannya pada Ailee. Gadis itu hendak memberi pelajaran lebih, tapi setelah dipertimbangkan lawannya itu cukup kuat dan dirinya sudah pasti kalah saing. Ailee jadi mengurungkan niatnya melawan lelaki berandal tersebut.
Melihat lawannya mulai terkulai lemas karena sesuatu yang berharga ditendang Ailee, gadis itu segera berlari. Sekencang mungkin kembali ke sekolah lagi. Sementara itu lelaki berandal tadi masih memegang alat vitalnya yang sakit. Maklum, itu seolah menjadi sumber kehidupan bagi seorang lelaki, makanya jika ditendang akan membuat mereka kelimpungan.
"Pak Binar tolong!" teriak Ailee ketika melihat Binar yang berada di depan gerbang dan bersiap pulang. Dia bersyukur masih ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Ailee semakin cepat berlari menuju Binar supaya segera mendapat perlindungan.
Binar yang melihat Ailee berlari menghampirinya dan dikejar-kejar lelaki pun segera memarkirkan motornya. Dia pun tidak lupa melepas helmnya. Ikut panik melihat Ailee yang berlari dikejar lelaki berandal.
"Pak, dia mau macem-macemin aku huuu... huuu..." Ailee menangis, dia bersembunyi di belakang Binar. Tangannya gemetar ketakutan, keringat dingin pun mengucur deras pertanda dirinya benar-benar takut.
"Saya Kakaknya, saya mau mengajaknya pulang, Pak. Tapi dia malah kabur," seru lelaki tadi membuat Binar jadi geram. Bagaimana bisa dia mengatakan jika dia adalah kakaknya Ailee. Sementara Binar tahu betul keluarga Ailee. Lelaki berandal itu benar-benar menyebalkan, harus segera diberi pelajaran.
Bughhh...
Satu pukulan keras mendarat di wajah lelaki itu dan membuatnya langsung tersungkur, namun kembali berdiri dan bersiap untuk memberikan balasan pada Binar.
"Pak Bin, hati- hati!" seru Ailee memperingatkan Binar supaya berhati- hati dengan lelaki berandal yang mencoba membalasnya.
"Argh, sialan!" lelaki tadi tak terima, dia mencoba membalas pukulan Binar tapi tak kena karena Binar pandai menghindar. Sampai berulang kali dan akhirnya lelaki berandal itu tersungkur ke tanah.
"Sudahlah, Mas, mending jauh- jauh dari tempat ini! Atau saya laporkan ke polisi karena mencoba mengganggu siswa siswi di sini?" ancam Binar. Dia menendang kaki lelaki berandal itu dan mencoba menyuruhnya berdiri supaya bisa dihajar lagi.
"Ada apa ini?" tanya Pak Dibyo, Satpam sekolah itu yang baru saja dari kamar mandi. Dia panik mendapati kegaduhan dari orang yang dikenalnya.
Pak Dibyo yang melihat lelaki itu pun mendengus kesal. Dia tahu siapa lelaki berandal tersebut. Dia adalah anak pang yang selalu saja mengganggu siswa siswi di sekolahan itu ketika pulang sekolah. Terkadang juga meminta uang untuk membeli rokok. Dan saat Pak Dibyo mencoba menangkapnya, dia selalu saja kabur. Sudah cukup lama lelaki berandal itu beraksi dan membuat Pak Dibyo kesal karena tak kunjung dapat menangkapnya.
"Oh jadi kamu! Kali ini kamu tak akan bisa lepas!" seru Pak Dibyo, dia mengeluarkan pentungnya dan mengarahkannya kepada lelaki tadi. Sontak saja, anak pang itu berlari sekencang mungkin menghindari Pak Dibyo.
"Hey! Jangan lari!" teriak Pak Dibyo sembari mengacungkan pentungnya.
Mereka kejar-kejaran. Belum tahu apakah Pak Dibyo akan berhasil menangkap lelaki berandal pengganggu itu atau tidak. Tapi yang jelas Binar dan Ailee berdoa yang terbaik, jika tidak berhasil ditangkap semoga lelaki berandal itu jengah dan tidak akan berbuat nakal lagi di sekolahan tersebut.
"Ada-ada aja, sih!" seru Binar menggelengkan kepalanya.
"Huuuu dasar cecunguk! Semoga berhasil ketangkep! Dasar anak nakal!" seru Ailee.
"Giliran udah kabur aja kamu berani? Kenapa nggak dari tadi?" Binar menahan Ailee yang hendak ikut berlari mengejar anak berandalan, Binar tak habis pikir dengan Ailee. Gadis itu jadi salah tingkah dibuatnya, dia segera mencari akal.
"Huaaaaaa... Aku takut pak...."
"Aku hampir ternoda..." lirihnya dibuat-buat. Dia langsung memeluk tubuh Binar, mencari kesempatan di dalam kesempitan. Haha, pandai sekali. Ailee sangat beruntung jadinya, dan Binar malah sebaliknya.
"Hey, ini masih di kawasan sekolah! Jangan memeluk!" ucap Binar berusaha melepaskan pelukan yang sangat erat dari Ailee sampai membuatnya sesak. Binar takut jika ada yang melihatnya dan berpikiran macam-macam tentangnya.
"Jadi, kalau di rumah boleh peluk Pak Binar? Kalau gitu ayo pulang, Pak!"
Jawaban tidak masuk akal justru diberikan gadis tersebut. Sungguh di luar dugaan. Binar geleng-geleng dengan kelakuan Ailee yang kian hari kian menjadi.