Lelaki Idaman

1785 Kata
Binar memang layak disebut lelaki idaman, pantas saja Ailee menyukainya. Pagi-pagi sekali, Ayah satu anak itu sudah bersiap rapi pergi ke sekolah. Tak lupa dirinya membuatkan s**u terlebih dahulu untuk Clarissa. Sebelum itu, dia juga membantu Bu Melati memasak untuk anak-anak di panti. Terlihat lucu memang jika lelaki tampan itu terjun ke dapur, tapi tidak bagi Binar. Dia tak mempermasalahkan apa pun. Baginya adalah selagi dia mampu melakukannya, maka tidak ada masalah. Dia harus membantu juga karena harus mengirit pengeluaran. Jika dirinya memperkejakan banyak orang, yang ada malah donasi yang didapat untuk anak-anak panti akan berkurang karena harus membayar orang tersebut. Dan dia terpaksa mengeluarkan uang pribadi yang seharusnya digunakan untuk keperluan keluarganya. Sangat disayangkan. "Mah, jangan capek-capek, ya. Biar Bu Lilis yang bantu urus anak panti," ujar Binar. Sebenarnya dia tak tega dengan Bu Melati yang mengurus anak-anak panti sendirian, oleh karena itu dirinya menyewa jasa asisten rumah tangga. Awalnya Bu Melati menolak karena dia masih sanggup mengurus panti serta anak Binar. Lebih tepatnya dia kasihan dengan Binar yang harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar Bu Lilis, orang yang akan membantunya di panti. Donasi untuk anak-anak panti terkadang memang tidak cukup, Binar sampai kewalahan dan mengeluarkan uangnya sendiri. Tapi jika harus membayar satu karyawan, dia merasa sanggup. "Iya siap, Mama akan patuh dengan anak Mama satu-satunya ini," seru Bu Melati. "Maaf selalu merepotkan." Binar merasa tak enak dengan Mamanya sendiri yang selalu diminta tolong untuk menjaga Clarissa padahal Mamanya tak merasa terbebani dan malah senang saat menjaga cucunya sendiri. "Sudah-sudah, kamu nanti malah terlambat pergi ke sekolah." Bu Melati segera menyuruh anaknya untuk berangkat karena matahari semakin naik, takut jika anaknya nanti terlambat. Binar memang guru yang pasti akan diberi keringanan jika terlambat, tapi sudah sepatutnya Binar juga memberi contoh yang baik untuk anak didiknya. Binar pun langsung berpamitan kepada anak dan Mamanya sebelum berangkat. Helm hitam bawaan motor melekat di kepalanya. Jaket hitam serta tas punggung juga sudah melekat di tubuhnya. Kunci motor ditancapkan lalu diputar, dia lihat spedometernya terlebih dahulu. Bensinnya masih ada dua garis, dia tak perlu mengisinya, masih cukup sampai pulang nanti. Cukup lega. Lelaki itu pun segera melajukan motor matic berwarna hitam miliknya, baru saja lunas bulan kemarin. Berhasil lunas karena penghasilan dari kedai kopi. Sementara gajinya selama mengajar dia sisihkan untuk Clarissa dan terkadang terpakai kebutuhan anak- anak panti. Ekonominya benar- benar tidak stabil. Dengan kecepatan sedang, dia melajukan motornya menyusuri ibukota yang padat. Wajar saja karena orang- orang akan bergegas ke tempat mencari nafkah. Saat dia berhenti di lampu merah, suara teriakan seseorang yang sangat ia kenal terdengar jelas. "Pak Binaaaarrrrr!" "Paakkkk!" "Pak Binar!" "Pak Binar!" Suara itu semakin terasa dekat, Binar lalu menoleh ke samping. Dia berjingkat dan mengusap dadanya melihat Ailee yang ternyata berada di dalam mobil yang berjejer dengannya. Gadis itu memasang senyum dan memperlihatkan giginya, tangannya terus melambai. Lampu lalu lintas tak kunjung berubah juga, Binar ingin sekali melajukan motornya meninggalkan Ailee. Lelaki itu berusaha untuk mengabaikan Ailee. Dia terus menatap lampu merah dan berdoa supaya segera berganti. Tiga... dua... satu... Tanpa jeda lagi, Binar langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi saat lampu merah telah tergantikan. "Hua ha ha ha ha...." Aiden yang melihat Binar ketakutan saat bertemu dengan Ailee pun terpingkal- pingkal. Dia jadi tak fokus mengemudikan mobil karena asyik menertawakan adiknya yang sebenarnya juga saudara kembarnya. Beda beberapa menit saja. "Pak Binar kaya lihat setan, ketakutan dia wk wk wk...." Aiden melajukan mobil dan tak berhenti meledek Ailee. Baginya ini adalah hal lucu. Dia jarang sekali menemukan orang yang ketakutan melihat Ailee. Tidak hanya takut, tapi juga berusaha menjauhinya. Hal langka sekali. "Diam saja kamu itu! Mungkin dia emang lagi buru- buru makanya cepet-cepet pergi!" elak Ailee yang semakin membuat Aiden terpingkal-pingkal. Lebih tepatnya Ailee sebenarnya malu jika memang perkataan tadi benar. Tapi kembali lagi, dia cantik, tidak menakutkan. "Makanya jangan berlebihan jadi orang tuh biar Pak Binar nggak takut. Kamu ngedeketin yang ada Pak Binar malah jijik sama kamu!" "Mana ada! Dia juga seneng kok deket sama aku. Aku kan lucu, baik hati, dan menggemaskan," tukas Ailee menyombongkan dirinya sendiri, Aiden hampir muntah dibuatnya. Kebiasaan Ailee yang tidak pernah hilang dari kecil. Matematika memang tak bisa jauh dari anak IPA. Entah berapa jam mata pelajaran matematika dalam seminggu, intinya bisa membuat otak hampir keluar dari tempatnya. Itu pun dibagi menjadi dua, wajib dan peminatan. Terkadang beberapa anak memilih untuk menghindari pelajaran itu dengan pergi ke kantin atau nongkrong di kamar mandi. Tapi beda dengan Ailee, dia sangat menyukai matematika apalagi gurunya adalah Binar. Mau seminggu full pelajaran matematika pun tak apa baginya. Intinya, matematika tidak akan pernah ditinggalkan olehnya. "Ingat! Kalian itu sudah kelas tiga, fokuslah belajar dan jangan memikirkan hal lain! Perjalanan yang sesungguhnya akan segera dimulai, fokuslah mengejar impian kalian!" seru Binar kepada anak kelas dua belas IPA satu itu. Sebenarnya dia menyindir Ailee yang sejak pertama kali dirinya mengajar terlihat tak fokus dan malah memperhatikan dirinya bukan pelajarannya. "Tadinya mau fokus, Pak. Tapi semenjak Pak Binar yang mengajar jadi nggak fokus lagi. Pak Binar terlalu tampan," celetuk Ailee yang diiyakan oleh siswi kelas itu. Sedangkan para siswa hanya bersorak, mereka merasa iri dengan Binar yang kini menjadi sorotan para cewek-cewek di sekolah itu. "Baiklah, bel pergantian jam pelajaran telah berbunyi, itu berarti saya harus segera mengakhiri kelas..." "Dan itu berarti semangatku kembali hilang karena harus berpisah dengan Pak Binar," potong Ailee. "Anjayyy! Bucin banget sih, bikin malu aja!" seru Aiden mencubit lengan adiknya lembut sekali supaya tidak sakit. Meski kesal, Aiden tidak pernah melampaui batasan. Tanpa ba- bi- bu lagi, Binar langsung keluar dari ruang kelas menuju kelas selanjutnya. Kelas Ailee langsung bersorak saat ada guru piket masuk dan memberitahu jika ada jam kosong. Mereka pun berhambur melakukan aktivitas masing-masing karena guru itu tak meninggalkan tugas apa pun. Aiden langsung mengambil gitar yang dia bawa dari rumah tadi, dia memainkannya dengan indah. Dan Sora melantunkan lagu mengikuti iringan petikan gitar Aiden. Mereka berdua terlihat serasi, sering juga mengikuti acara- acara sekolah maupun luar sekolah. Suara Sora sangatlah merdu. Sudah cantik, pintar, bersuara merdu pula. Siapa yang tak menyukainya? Aiden saja tergila- gila, tapi dia tak pernah menunjukkannya kepada siapa pun kecuali dengan Ailee. Mencintai dalam diam, begitulah Aiden. Lelaki itu tidak pandai dalam hal percintaan. Dia hanya mengandalkan takdir yang diberikan Tuhan dan berharap supaya takdirnya sesuai dengan angannya. "Ehem... ehem...." dehem Ailee menghampiri keduanya yang mojok di kelas. Seperti biasa pula, dia akan menjadi pengganggu. "Sini ikut nyanyi," ucap Sora menarik kursi untuk Ailee dan menyuruhnya untuk bergabung. "Jangan- jangan! Nanti bisa gempa kalau Ailee nyanyi," cegah Aiden, Ailee pun memajukan bibirnya. Kakaknya itu kalau berbicara nyelekit, tak pernah disaring terlebih dahulu. Tapi ada benarnya juga, suara Ailee memang tidak bagus. Tidak ada apa- apanya dengan suara Sora. Ailee pun jadi semakin malas bergabung, dia keluar kelas. Kakinya melangkah tak tentu arah. Bingung juga harus pergi ke mana. Hendak ke kantin, tapi tidak ada teman, semuanya asyik dengan dunianya masing-masing. Telinganya tak sengaja mendengar suara Binar di kelas sebelah, kelas Kimmy dan juga Bryan. Dia pun mengintipnya dari kaca jendela kelas tersebut. Beruntung kaca tersebut bersih hingga tidak menghalangi penglihagan Ailee. Ternyata memang Binar yang sedang mengajar di kelas. Dia mengintip cukup lama, tapi tidak ada yang menyadari kehadirannya. Akhirnya dia memberanikan diri mengintip dari pintu. Dia kemudian berusaha memanggil sahabatnya yang berada di kelas tersebut. "Sssttt...." Ailee mencoba memanggil Kimmy yang duduk tepat di depan, dekat pintu. Kimmy pun menoleh ke arah pintu mendengar ada yang mendesis memanggil, terkejutlah dia mendapati sahabatnya yang cengar cengir di sana. Gadis itu mengisyaratkannya supaya geser karena dia ingin duduk bersamanya dan mengikuti pelajaran. Ailee langsung masuk dengan pelan saat Binar menghadap ke papan tulis. Dia bergabung dengan Kimmy. Kursi terasa sempit, tapi Kimmy tidak keberatan. Dia justru takut jika ketahuan. Sedangkan Ailee berjaga-jaga menutupi wajahnya dengan buku. Tapi tentu saja gelagatnya akan tetap ketahuan. "Ngapain sih ikut pelajaran di sini? Kembali aja ke kelasmu sana!" bisik Kimmy memperingatkan Ailee. "Punyaku jam kosong! Aku mau di sini aja, ada Pak Binar soalnya he- he- he...." Kimmy pun menepuk keningnya, Ailee sangatlah menjengkelkan jika sudah menyangkut Binar. "Awas saja kalau nanti kamu dimarahi dan dihukum. Pokoknya jangan bawa- lbawa aku!" Kimmy memperingatkan Ailee. Dia takut sekali jika nantinya akan dimarahi dan diberi hukuman jika ketahuan. Kimmy takut kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, yakni dia terseret hukuman karena kenakalan Ailee. "Tenang saja, aku akan baik-baik saja, kok," sahut Ailee. Dia sebenarnya juga cemas karena takut Binar akhirnya mengetahui keberadaannya. "Jadi, ini materinya sangat mudah sekali kita hanya butuh-" penjelasan Binar terputus saat dirinya melihat sesuatu yang mengganjal. Ada siswi lain yang duduk bersama Kimmy, dia menutupi wajahnya dengan buku yang terbalik. Binar pun mendekat mengambil buku itu, dan ternyata itu adalah Ailee. Demi Tuhan! Kenapa ada anak yang sangat menyebalkan seperti Ailee? Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar melihat Ailee yang bukannya takut tapi malah cengar cengir. "Ngapain kamu di sini? Kembali ke kelasmu sekarang juga!" seru Binar. "Anu- itu-" "Ailee belum paham materinya, jadi ikut kelas Pak Binar lagi mumpung jam kosong, Pak!" jawab Ailee. Dia memang pandai membuat alasan. Tapi terkadang alasan itu tidak mampu menyelamatkan dirinya. "Keluar!" Binar pun menyeret Ailee keluar dari kelas itu. Ailee pun memberontak, tapi Binar tak bisa dilawan. Kelas itu terasa ramai, siswa dan siswi yang lain tertawa melihat Ailee. Seolah menjadi hiburan di tengah- tengah ketegangan menerima pelajaran. "Sakit, Pak! Lepasin!" Tangan Ailee memerah karena genggaman kuat dari Binar. Dia memang kesakitan untuk kali ini, tidak bohong. "Maaf!" Binar langsung kembali ke kelas, dan tak lupa menutup pintunya supaya anak itu tak masuk dan mengganggunya lagi. "Kita hanya perlu ketelitian. Jika kalian belum terlalu paham, maka dengan latihan soal bisa lebih mudah memahaminya. Maka dari itu, kita coba kerjakan soal di halaman tiga puluh. Setelah selesai kita diskusikan bersama," lanjut Binar. Dia berusaha sebisa mungkin membuat suasana kelas kembali kondusif. "Baik, Pak!" Murid kelas itu mengiyakan perkataan Binar. Mereka lalu membuka halaman buku sesuai perkataan Binar tadi karena perkataan Binar tadi memang benar adanya bahwa akan lebih mudah memahami saat langsung berlatih soal. Ailee kembali mengintip dari jendela, Binar yang tahu pun jadi tak bisa fokus, namun Binar tetap berpura-pura tidak peduli lagi. Anak itu benar-benar nakal. Saat Binar menatap Ailee lagi, anak itu sudah tak ada. Binar keluar sebentar memastikan Ailee, khawatir juga jika terjadi sesuatu padanya. Dan ternyata Ailee dijewer kepala sekolah dan langsung disuruh kembali ke kelasnya lagi. Binar pun terpingkal-pingkal mengetahuinya. Akhirnya Ailee mendapatkan balasan karena telah mengganggunya. Puas sekali dirinya. Hatinya bersuka ria karena akhirnya si pengganggu mendapatkan balasan, dia masih mengamati Ailee seksama. Binar menggelengkan kepala melihat telinga Ailee yang memerah usai mendapat jeweran kepala sekolah yang kebetulan lewat. Namun, Ailee tetap saja bisa tersenyum setelah apa yang terjadi padanya. Ailee memang orang yang periang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN