Jas Hujan

1785 Kata
Binar pun terpaksa membawa Ailee pulang ke rumah. Dia sudah kehabisan akal untuk membuat Ailee tak ikut dengannya. Gadis itu sangatlah angkuh. Sudah berkata ikut dan berarti memang harus ikut. Sangat menjengkelkan. Hujan turun malah semakin deras, tangan Ailee mulai menggigil. Udara sangat dingin apalagi Binar melajukan motornya dengan cepat membuat Ailee semakin membeku. Tubuh gadis itu semakin dingin dan basah karena hujan tak kunjung reda. "Hey, kamu masih hidup tidak?" tanya Binar dengan suara yang sangat kencang karena takut tidak didengar gadis yang memboncengnya. Dia sebenarnya khawatir, tapi Binar selalu punya cara sendiri untuk mengungkapkannya. "Astaga, Pak! Nanyanya gitu amat!" Wajar jika Binar bertanya seperti itu, udaranya sangat dingin, dirinya saja yang memakai jaket tebal masih merasakan dingin apalagi dengan Ailee yang kala itu hanya memakai kaos dan celana pendek. Lama kelamaan, Binar pun tak tega. Dia berhenti sejenak di depan warung sate untuk berteduh. Motor segera dihentikan. "Kenapa berhenti? Kan belum nyampe?" Ailee terheran-heran dibuatnya, dia masih mengamati sekitar kemudian menatap Binar. "Turun!" ucap Binar tegas. Ailee pun segera turun, tangannya memegang motor Binar, takut jika dirinya nanti ditinggal. Lucu sekali memang gadis itu. Lelaki itu turun setelah Ailee, dia segera melepas jas hujan miliknya dan melemparkannya kepada Ailee. "Pakai cepat!" Binar menyuruh Ailee untuk memakainya. Dia hanya tidak mau Ailee sakit karena hujan-hujanan. "Terus Pak Binar gimana?" "Saya sudah biasa hujan-hujan, lagi pula saya memakai jaket, nggak masalah." Binar kembali naik ke motornya, cukup lama dia menunggu Ailee memakai jas hujan miliknya. Dia yakin jika sebelumnya Ailee pasti tak pernah memakainya. Orang kaya seperti Ailee mana pernah kehujanan dan mengharuskan diri untuk mengenakan jas hujan. Ke mana-mana pun pasti menggunakan mobil dan tidak pernah menaiki motor. "Pak, tanganku hilang!" seru Ailee, Binar pun menoleh ke arahnya. Dia terpingkal-pingkal melihat Ailee memakai jas hujan yang kebesaran. Tangannya sampai tak terlihat lagi. Sungguh, gadis itu menggemaskan, tapi juga menyebalkan. "Dilipat dulu, astaghfirullah...." Binar pun menarik tangan Ailee dan melipat jas hujan itu supaya tangannya terlihat. Gadis itu terpukau saat melihat Binar dengan jarak dekat, jantungnya kembali bergejolak. Fix, dia benar-benar jatuh cinta dengan lelaki itu. "Bapak tampan! Tampan sekali seperti Lee Dong Wook, Park Seo Joon, Gong Yoo, Lee Do Hyun, Cha Eunwo, Kim Seon Ho, ehm... siapa lagi, ya? Pokoknya banyak deh." Binar langsung menghempaskan tangan Ailee dan menyalakan motor. Dia kemudian melajukannya meninggalkan Ailee. "Pak Bin!" Ailee pun berteriak sembari berlari mengejar motor Binar. Lelaki itu lagi-lagi tertawa lepas melihat Ailee dengan jas hujan kebesaran berlari mengejarnya. Mungkin orang yang melihatnya juga tak mampu menahan tawa. Tak lama kemudian, setelah adegan tak diinginkan, mereka sudah tiba di rumah Binar. Cukup jauh Ailee mengejar Binar yang melajukan motornya tadi, Binar memang tak punya hati. Bagaimana bisa lelaki itu membiarkan gadis secantik Ailee berlari di tengah hujan dengan jas hujan yang kebesaran. Ailee baru saja naik ke motor setelah hampir sampai di rumahnya Binar. Olahraga sore yang menyebalkan. Terlihat Bu Melati yang tengah menggendong Clarissa duduk menantikan Binar. Ailee yang masih terengah-engah dan lelah pun kembali bersemangat melihat putri kecil di gendongan Bu Melati. Sementara orang yang menggendong Clarissa itu terheran-heran mendapati Binar pulang bersama Ailee. "Halo, Clarissa!" seru Ailee, setelah turun dari motor dia hendak berlari menghampiri Clarissa tapi dihentikan Binar. "Lepas jas hujannya dulu! Jangan langsung menggendong anakku, lagi pula tubuhmu dingin nanti Clarissa malah sakit!" "Iya- iya...." Ailee hanya bisa menurut, sudah untung dia diajak Binar dan diperbolehkan menemui Clarissa. Bu Melati terheran-heran melihat Binar yang pulang dengan anak gadis orang. Dia pun bertanya pada Binar tapi lelaki itu enggan sekali menjawabnya, sangat malas. "Halo, Nak Ailee..." sapa Melati. Ia pun mengajak Ailee masuk ke dalam. Rumah yang sederhana dan tak begitu luas, hanya ditinggali Binar, Ibunya, serta putri kecilnya. Bahkan, rumah itu jauh lebih kecil dan sempit dibanding dengan panti asuhan yang mereka kelola. Meski kecil dan sempit, tetap terlihat nyaman dan asri, siapa pun pasti akan betah. Ailee pun duduk di kursi kayu panjang menghadap televisi. Bu Melati menuju ke dapur, membuatkan teh hangat untuk Ailee, sedangkan Clarissa sudah nyaman digendongan gadis berusia tujuh belas tahun tahun tersebut. "Utu- tu, sayangnya Mama anteng banget sih tidurnya. Mama cium-cium kok nggak bangun sih..." seru Ailee sembari menghujani kecupan pada Clarissa yang masih nyenyak tidur di gendongannya. Bu Melati datang dengan secangkir teh hangat, dia senang sekali melihat cucunya digendong Ailee. Wanita paruh baya itu bangga dengan gadis yang terlihat dewasa dan tidak seperti gadis lain yang kebanyakan kurang peduli dengan orang di sekitarnya. Ailee memiliki jiwa keibuan meski usianya belum pantas disebut ibu. "Minum dulu tehnya biar tubuhmu hangat, Nak," ujar Bu Melati. "Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan." "Jangan menggendongnya terlalu lama! Kemarikan Clarissa," seru Binar dan langsung mengambil alih Clarissa. Dia tidak mau Clarissa terpengaruh dengan Ailee yang menjengkelkan. Ailee memberikannya, dia tertegun dengan Binar yang hanya memakai kaos dan celana pendek. Rambutnya yang basah semakin membuat aura lelaki itu terlihat. Binar jauh lebih tampan saat memakai kaos. Selama ini Ailee hanya melihat Binar berpakaian formal. Kali ini berbeda sekali, tentu Ailee semakin senang menatap Binar yang memang tidak membosankan. "Tutup mulutmu!" Bu Melati menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sangat galak dengan Ailee. Sikap Binar kepada wanita selain dirinya memang berbeda. Lelaki itu tampak acuh dengan siapa pun wanita yang berada di dekatnya. Kejadian masa lalu membuatnya menutup hati rapat-rapat, tak akan ada wanita lagi yang bisa mengisi hatinya. Perempuan yang telah melahirkan Binar tersebut selalu berharap supaya Binar segera melupakan rasa sakitnya dan membukakan hati untuk orang lain. "Binar, jangan galak-galak," ucap Bu Melati mengusap lembut bahu anaknya. "Dia kalau nggak digalakin nggak ngerti, Mah." "Salah, Pak. Aku kalau digalakin malah nggak ngerti. Ngertinya kalau disayang..." ucap Ailee malu-malu. Bu Melati tertawa kecil mendengarnya, dia mencubit hidung Ailee karena gemas. "Tuh, denger sendiri kan dari anaknya. Minta disayang," goda Bu Melati sembari menyenggol lengan Binar. Bu Melati dan Ailee pun mengobrol sejenak, mereka sangat akrab sekali. Sudah seperti ibu dan anak, di sisi lain Binar pun menguping obrolan mereka yang sebagian besar membicarakan dirinya. Dia hanya bisa diam meski terkadang Ibunya bercerita di luar fakta atau menjelekkan dirinya. "Binar memang seperti itu orangnya, tapi aslinya itu dia penyayang dan hangat," ujar Bu Melati. Ailee mengangguk, dia sendiri juga tahu. Binar selalu acuh dengannya, tapi kalau dengan anaknya sendiri atau anak panti dia terlihat sangat sayang. "Cup... cup..." Clarissa terbangun, ia menangis kencang. Binar kewalahan menenangkannya. Ailee yang mendengarnya pun langsung mendekati Binar dan Clarissa. "Ututu... anak Mama sudah bangun, ya." Binar langsung menyentil kening Ailee, dia sangat jengkel jika gadis itu menyebutkan dirinya sebagai Mama Clarissa. "Kenapa? Aku kan Mamanya Clarissa!" "Berhenti menyebut dirimu Mamanya Clarissa atau saya tak akan memperbolehkanmu untuk menemui Clarissa selamanya?" seru Binar. "Iya- iya...." "Papamu galak sekali," bisik Ailee kepada Clarissa, bayi itu pun lantas terkekeh seakan mengerti semuanya. "Lariiii..." teriak Ailee mengajak Clarissa pergi menjauhi Binar yang kala itu sudah bersiap menyentil keningnya lagi. Binar menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. "Binar..." lirih Melati mengisyaratkan Binar supaya tak nakal dengan Ailee. Senja mulai meredup, langit tak lagi jingga tapi abu. Kegelapan akan segera menyapa, Ailee duduk di teras panti ditemani Bu Melati. Sedari tadi mereka menunggu hujan reda. Ailee sebenarnya tidak ingin pulang, tapi jika dirinya benar-benar tidak pulang, yang ada malah dihukum oleh Papa maupun Mamanya. Dia akan pulang jika hujannya reda. "Sudah mulai reda, hampir gelap juga. Sebaiknya kamu segera pulang ya, takut dicariin Papa sama Mamamu. Ibu akan memanggil Binar dulu," ujar Bu Melati, dia masuk ke rumahnya mencari Binar supaya mengantar Ailee pulang. Butuh cara ampuh untuk membujuk Binar supaya mau mengantarkan Ailee pulang. Lelaki itu malas sekali. Ailee begitu menikmati perjalanan pulangnya, dia memberanikan diri mendekap erat tubuh Binar dari belakang dengan dalih takut jatuh. Padahal dia sebenarnya tak takut sama sekali. Pandai cari kesempatan. Binar menambah kecepatan motornya supaya cepat sampai di rumah Ailee dan lepas dari pelukan anak itu. Dia merasa risih dengan pelukan Ailee yang erat sekali. "Pak, nanti anterin ke supermarket aja, ya!" "Hm...." "Aduh, Pak!" Ailee menepuk pundak Binar hingga lelaki itu terkejut. "Apaan sih!" Binar terkejut saat Ailee memekik sembari menepuk pundaknya. "Payung yang kubawa tadi masih di supermarket! Ilang nggak, ya?" Ailee baru teringat jika dirinya tadi melupakan payung biru yang dia bawa. "Bukan urusan saya!" Binar pikir ada hal yang sangat penting, ternyata hanya payung yang tertinggal di supermarket tadi. Sesampainya di supermarket, Ailee langsung turun dan mencari keberadaan payungnya. Dia bernapas lega karena payungnya masih terletak di depan supermarket. Aman, jika hilang dirinya pasti akan dimarahi Mamanya karena itu adalah payung kesayangan dan satu-satunya pula di rumah. "Ya sudah, naik cepet!" ucap Binar menyuruh Ailee kembali naik ke motor. "Aku jalan saja, Pak. Nanti kalau Pak Binar ke rumah dan Papa tahu pasti akan dimarahi. Papa tuh cerewet orangnya. Dia itu sensitif banget kalau aku jalan sama cowok. Bisa-bisa nanti Pak Binar kena semprot juga." Belum sampai ceritanya selesai, Binar ternyata sudah melajukan motornya meninggalkan dirinya. Ailee tadi berkata tak perlu diantar ke rumahnya, oleh karena itu Binar langsung pergi dari sana. Akan tetapi ada hal yang dilupakannya, yakni berpamitan. "Pamit dulu atau apa kek! Main nyelonong pergi aja tuh orang! Untung ganteng, coba kalau enggak, langsung aku geprek dah!" gerutu Ailee. Dia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan supermarket tersebut dan menuju ke rumahnya. Ailee mendelik, Papa, Mama, dan Kakaknya berkacak pinggang di teras rumah. Sepertinya dia pergi terlalu lama hingga membuat semuanya khawatir. Dia melangkah menghampiri tiga orang yang berbaris rapi itu dengan menundukkan wajahnya. Takut karena tatapan mereka mengerikan sekali "Dari mana saja kamu? Pamit dari jam empat pulang jam enam! Keluyuran terus sampai bikin orang rumah panik!" gertak Aiden. Pak Aksa dan Bu Aza langsung memandanginya dengan tatapan jengkel, karena seharusnya mereka yang akan memarahi Ailee. Tapi, Aiden dengan cepat mengambil alih. "Kenapa jadi kamu yang memarahinya? Harusnya papa, ishhh menyebalkan sekali!" gerutu Pak Aksa mencubit perut Aiden, dan anak itu malah tertawa. Aiden semakin membuat Pak Aksa dan Bu Aza kesal. "Maaf, Pah..." sahut Aiden tergelak. Ailee yang tadinya takut pun malah jadi tertawa. Dia langsung mendekap Mamanya yang tingkat emosinya lebih rendah dari pada Papa dan Kakaknya. Mamanya jarang sekali memarahi dirinya dibanding Papa dan Kakaknya. Makanya Ailee lebih memilih untuk di pihak perempuan cantik itu. "Tadi di sana hujan badai, Mah. Banjir juga sampai selutut, jadi Ailee menunggu hujannya reda dan banjirnya surut," ucap Ailee kepada sang Mama. "Alasan saja kamu ini. Sudahlah yang penting kamu sudah pulang, ayo segera ganti baju, badanmu dingin banget nih," ujar Bu Aza. Mereka pun segera masuk dan meninggalkan dua lelaki yang masih berdebat. Pak Aksa dan Aiden memang seperti itu. Lebih sering terlihat seperti teman, bukan Ayah dan anak karena mereka sering berdebat dan bertengkar kecil. Padahal permasalahannya hanya sepele, bahkan terkadang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Meski sering berdebat, mereka juga selalu bisa membaik lagi setelahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN