Lagu Indie

1785 Kata
Jendela kamar dia buka lebar, buku yang sedari tadi dipelajari pun ditutup. Dia baru saja selesai belajar dan mengerjakan semua tugas. Sudah letih pula, saatnya istirahat dan memanjakan diri. Tangan terulur untuk menyangga dagunya. Matanya tertuju pada rintikan air yang terus menetes. Sudah satu jam hujan turun membasahi bumi, tak deras tapi tak kunjung reda. Setiap rintik dia nikmati, ini menenangkan. Hujan memang sangat disukai olehnya. Lagu indie— lagu bermakna dalam dari penyanyi kelas atas yang akhir-akhir ini namanya semakin terkenal diputar dari playlist ponselnya. Terdengar samar karena berbenturan dengan suara hujan. Meski demikian Ailee mampu menikmatinya dengan baik. Bunyi lagu itu seperti ini .... Jingga menyala Warna langitnya Saat senja saat senja Memanjakan kita Duduk bersama Diskusi rasa Saat senja saat senja Bertukar cerita Memang cocok didengarkan saat senja, terlebih lagi saat matahari benar-benar meninggalkan berkas sinar merah di langit. Kali ini tidak ada langit jingga, yang ada hanyalah abu yang akan segera menghitam dengan air yang masih saja turun dari langitnya. Tidak tahu kapan berhenti, tapi yang jelas ini sudah cukup lama, takutnya jika menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Pikiran gadis itu teralihkan seketika. Senyumnya mengembang tatkala mengingat wajah seseorang yang seringkali dia temui akhir-akhir ini. Ya, siapa lagi jika bukan Binar, si guru matematika baru di sekolahnya. Sepertinya Ailee memang benar-benar jatuh cinta dengan duda beranak satu itu. Dia tak pernah merasakan gelora seperti ini. Dan sepertinya memang ini yang dinamakan jatuh cinta. Baru kali ini Ailee merasakan hal seperti ini. Sebelumnya memang belum pernah. Dia yakin bahwa dirinya sedang mengalami jatuh cinta sejak pandangan pertama dulu di kedai kopi milik Binar. Dia juga semakin yakin bahwa ada takdir baik di antara mereka karena semesta mempertemukan mereka kembali dalam ranah yang berbeda. "Ngalamun terus!" seru Aiden sembari menyentil kening Ailee. Lelaki itu kemudian berbaring di sofa kamar Ailee, kebiasaannya yang tidak pernah hilang sejak dulu. Aiden memang suka seperti itu. Setelah belajar, dia pasti akan menemui Ailee ke kamarnya. Bermaksud mengganggu, bukan hal lain. Meskipun kerap diganggu, Ailee tetap akan merindukan Aiden jika tidak menemui dirinya di kamar. Dia akan selalu menunggu kedatangan saudara kembarnya itu. "Kak, kakak pernah jatuh cinta nggak?" tanya Ailee, dia menatap sang kakak yang malah asyik bermain ponsel dengan kaki yang dilipat menumpu kaki yang lain. Sepertinya sedang chattingan dengan Sora atau teman band-nya. Aiden memang anak band, namun hal ini ditentang keras oleh sang papa hingga akhirnya dia menyukai dalam diam. "Entahlah! Heh, jangan memikirkan tentang cinta lagi!" jawab Aiden. "Kak, aku jatuh cinta sama Pak Binar." Perkataan Ailee itu memang santai, tapi tidak bagi Aiden. Aiden langsung bangun dan menatap Ailee lekat. Dia lalu menghampiri saudara kembarnya yang masih duduk menghadap meja belajar. Aiden menatap Ailee semakin intens dengan rentang waktu cukup lama. Dia mencoba mencari sesuatu. "Kamu suka sama gurumu sendiri? Hey, sadarlah! Pak Binar itu duda beranak satu. Umurnya pun jauh berbeda denganmu!" Dia menarik dagu sang adik dan kembali menatapnya lekat. Manik mata gadis itu berkata jujur, sangat jujur. Aiden tak menyangka jika Ailee menyukai Binar. "Aku nggak mempermasalahkan itu semua, aku menerimanya apa adanya." "Papa sama Mama harus tahu kalau anaknya sudah nggak waras." Aiden menggelengkan kepalanya dan berniat keluar dari kamar Ailee mencari orang tuanya — berniat mengadukan apa yang dia tahu dari gadis yang kala itu mengikat rambutnya. Menurut Aiden, Ailee sudah salah karena telah menyukai orang yang baginya tidak tepat. "Kakkk ... Jangan beritahu Mama sama Papa, ini rahasia di antara kita berdua! Kumohon," ucap Ailee mencegah kakaknya keluar dari sana. Dia mengatupkan kedua tangannya dan memasang puppy eyes berharap Aiden luluh dengannya. Dan Aiden sedang mempertimbangkannya. Aiden tampak berpikir keras, sebenarnya dia juga bercanda soal tadi. Masalah Ailee menyukai Binar itu tak masalah baginya, karena dia tahu perasaan memang terkadang muncul dengan sendirinya dan tak bisa dielakkan. Sebagai seorang kakak memang sudah kewajibannya untuk mengingatkan sang adik apakah hal yang dilakukan sudah benar atau belum. Untuk masalah kali ini Aiden benar-benar tidak mempermasalahkan. "Aku tak akan mengatakannya pada Papa ataupun Mama, tapi ada syaratnya," seru Aiden. Setelah dipikir matang-matang, dia pun menemukan cara supaya menguntungkan bagi keduanya. Pemuda berkaus hitam polos itu membisikkan ide yang menurutnya menguntungkan ke telinga Ailee. Gadis itu tampak tak mau, tapi setelah dipikir-pikir lagi dia pun menyetujuinya. Tak ada salahnya menerima tawaran Aiden, pikirnya. "Senang bekerja sama dengan Anda, Nona Ailee," seru Aiden mengulurkan tangannya mengajak Ailee berjabat tangan. Raut wajahnya pun mendukung sekali— raut wajah bangga atas kesepakatan mereka berdua. Terlalu berlebihan. "Senang juga bisa bekerja sama dengan Anda, Tuan Aiden," jawab Ailee membalas uluran tangan kakaknya. Mereka seolah tengah merencanakan hal yang besar. Layaknya seorang pebisnis yang baru saja menerima tawaran proyek besar lalu saling berjabat tangan. "Apa yang kalian rencanakan?" seru Pak Aksa, sang Papa, mengejutkan Aiden dan Ailee. Pria paruh baya tersebut tak sengaja lewat di kamar putrinya yang kala itu kebetulan terbuka lebar hingga menampakkan dua anaknya yang sedang berjabat tangan. Pak Aksa tahu jika anak kembarnya itu pasti telah merencanakan sesuatu. "Nggak ada, Pah. Itu tadi Kak Aiden mau nitip sesuatu soalnya aku mau ke supermarket hehe..." ucap Ailee sembari mencubit pinggang kakaknya supaya disetujui juga. "Jangan aneh- aneh. Belajar yang sungguh- sungguh, jangan mikirin cinta dulu," nasihat Pak Aksa. Akhir- akhir ini dia merasa ada yang tak beres dengan anaknya, dia merasa jika anak- anaknya sudah memikirkan cinta. Sejak dulu dia memang bersikeras melarang mereka, karena cinta bisa menghalangi masa depan. Oleh sebab itu, dia tak mau anak- anaknya terjerat cinta yang bisa jadi membuat masa depan tak seindah angan. "Iya, Papaku sayangku, cintaku, kasihkuuu...." Pak Aksa menggelengkan kepala setiap kali mendengar anaknya yang selalu saja menggodanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia sebenarnya menyukai segala macam godaan anaknya yang memang membuatnya bahagia setiap hari. Anak-anaknya selalu menjadi obat dari segala lelah dan kesibukan yang menimpanya. Maklum, beliau adalah presiden direktur di perusahaan turun temurun yang kesibukannya tidak peh ditanyakan lagi. Ailee memang tadinya mau pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu, dan tanpa disangka itu malah bisa dijadikan alasan untuk menutupi rahasianya bersama sang saudara kembar. Di luar, hujan masih mengguyur namun tak sederas tadi. Payung berwarna biru muda itu dia buka untuk menjaga tubuhnya supaya tak terkena air hujan. Tentu saja dia sudah berpamitan pula dengan mamanya yang kala itu sedang menyiapkan makan malam bersama asisten rumah tangga. Dia kemudian melangkah pelan menuju pintu gerbang. Saat di pos satpam, dia berhenti sejenak menyapa Mang Dudung— satpam yang sudah cukup lama bekerja di rumah tersebut. "Halo, Mang Dudung!" sapa Ailee kepada satpam di rumahnya yang kala itu tengah memakai sarung dan duduk bersila di pos satpam dengan kopi di depannya. Kue bolu buatan tuan rumah yang sedikit bantet pun tengah dinikmatinya. Ailee terkagum-kagum dengan Mang Dudung yang ternyata menghargai orang lain. Kue bolu buatan Mamanya itu bantet dan tak sedap, dirinya saja tidak sanggup menghabiskan satu potong, tapi lelaki itu berusaha menghabiskannya dan menikmatinya pula. Luar Biasa. Semoga setelah menghabiskan kue itu Mang Dudung tetap baik-baik saja. Itu pikiran Ailee. Dia cengengesan sendiri dibuatnya. "Halo, Neng Ailee yang cantik jelita. Hujan-hujan gini mau ke mana?" tanya Mang Dudung. Dia merupakan salah satu pegawai rumah yang dekat dengan Ailee, bahkan juga sudah menganggap Ailee anaknya sendiri. Mang Dudung terlampau sayang dengan Ailee. "Ke supermarket sebentar, byeee...." Ailee lalu kembali melangkahkan kakinya menuju supermarket yang letaknya cukup jauh dari komplek perumahannya. Mang Dudung mengiyakan dan tidak lupa menyuruh Ailee untuk berhati-hati, dia tadi sebenarnya juga ingin mengantarkan Ailee biar tidak lelah, tapi gadis itu menolak. Dia memang lebih suka berjalan kaki untuk ke sana. Lumayan sekalian olahraga, pikirnya. Supermarket itu berada di luar wilayah komplek perumahan. Membutuhkan waktu sepuluh menit lebih dengan jalan kaki jika ke sana. Sebenarnya juga cukup melelahkan, tapi Ailee sangat senang. Ailee meletakkan payungnya di depan supermarket, bersamaan dengan beberapa payung milik pengunjung yang lain. Dia langsung mengambil keranjang berwarna biru untuk meletakkan barang belanjaannya nanti. Tak banyak, hanya makanan ringan dan kebutuhan perempuan. Baru beberapa saat saja, ternyata keranjangnya hampir penuh, semuanya telah terambil dan siap dibayar. "Pak Binar!" teriak Ailee riang. Dia tak sengaja bertemu dengan Binar yang kala itu tengah membeli s**u yang sepertinya untuk Clarissa. Ailee pun segera menuju ke kasir karena dirinya juga sudah selesai berbelanja. Binar menoleh, dia menepuk keningnya. Bagaimana bisa dirinya bertemu lagi dengan anak itu. Dia pura- pura tak tahu dan menutupi wajahnya dengan jaket yang sedang dipakai. Berusaha memalingkan wajah pula dari Ailee yang berlari menghampirinya. Tapi usahanya itu percuma saja karena Ailee sudah tahu keberadaan dirinya dari awal. "Halo, Pak Binar. Selamat sore..." sapa Ailee. Gadis itu berdiri di kasir kedua tepat di samping Binar. "Hm..." sahut Binar, dia segera menyodorkan selembar uang seratus ribuan kepada mbak-mbak kasir untuk membayar belanjaannya. Setelah mendapat kembalian dan belanjaannya dikemas, dia segera pergi dari sana. Takut sekali jika Ailee semakin berbuat yang tidak-tidak padanya. "Pak, tunggu!" Ailee berteriak karena Binar terburu-buru pergi dari sana. Setelah berhasil membayar dan belanjaannya dikemas, Ailee langsung berlari menghampiri Binar. Ailee takut sekali jika kehilangan jejak Binar. Beruntung sekali lelaki itu masih berusaha mengenakan jas hujan dan belum pergi meninggalkan supermarket. "Pak, tunggu!" "Apaan?" sahut Binar dengan malasnya. "Ikut!" "Jangan aneh-aneh! Minggir sana." Binar seperti sedang dikejar hantu. Dia segera menaiki motornya dan bersiap pergi dari sana. Takut setengah mati dengan Ailee. Bagaimana tidak, jika ada Ailee maka dia langsung darah tinggi karena gadis itu selalu saja membuatnya emosi. Akan tetapi, belum sempat memutar motornya, Binar dikejutkan dengan Ailee yang sudah naik dan cengar cengir. Untung dia bisa menahan motornya dengan kuat hingga dirinya tak jatuh saat Ailee ikut naik. "Ayo, Pak, berangkat! Aku mau ketemu Clarissa." Ailee sangat semangat. Dia sudah tidak sabar berkendara bersama Binar. Ini adalah kali pertamanya membonceng lelaki yang membuatnya berbunga-bunga belakangan ini. "Hey, turun nggak? Turun cepet," gertak Binar yang tak mampu membuat Ailee takut. Gadis itu tetap terpaku di tempatnya. Dia tidak mau turun dari motor. "Ailee, turunlah. Ini masih hujan dan kamu nggak pakai jas hujan, turun saja sana!" Lelaki tersebut masih berusaha untuk membuat salah satu muridnya itu turun dari motornya. "Nggak mau, Pak. Aku mau ketemu Clarissa, lihatlah, aku tadi sudah membelikan sereal bayi untuknya," ucap Ailee memperlihatkan plastik berisikan barang belanjaannya. Padahal dia tidak membelinya. Itu hanya dalih supaya dirinya tetap diperbolehkan ikut dengan Binar. Ailee memang pandai sekali jika harus mencari alasan. Dan dia selalu bisa meyakinkan orang-orang, lebih tepatnya mengelabui. "Oh ya, Pak, mending barang-barangku ditaruh di depan, nih...." Dengan santainya, Ailee menyodorkan plastik belanjaannya supaya diletakkan di samping belanjaan Binar. Biar ringkas dan dirinya nanti fokus berpegang pada Binar supaya tidak terjatuh. Tentu saja lelaki itu mengangahkan mulut, tak percaya jika ada orang seperti Ailee. Hatinya kembali bertanya-tanya kenapa Tuhan menciptakan orang yang seperti Ailee. Binar menggertakkan giginya berusaha menahan emosinya. Dia mengusap dadanya sembari membisikkan kata-kata untuk tetap bersabar menghadapi orang seperti Ailee.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN