Sudah Selesai

1789 Kata
UTS matematika baru saja selesai dikerjakan. Sangat mudah bagi kelas IPA 1 yang notabennya adalah murid-murid pandai dan unggulan. Terutama bagi Aiden, Ailee, maupun Sora. Mereka menyelesaikannya dengan baik dan yakin bahwa mendapat nilai yang memuaskan pula. Hari ini adalah hari terakhir UTS diselenggarakan, tinggal menunggu hasil dan akan kembali belajar seperti biasanya. Para murid pun segera berhambur pulang merayakan berakhirnya UTS. Semua mata pelajaran benar-benar telah diujikan. Pada murid yang beberapa hari ini serius belajar pun bisa istirahat sembari menantikan hasilnya. Mereka tidak akan begadang lagi untuk memahami materi yang mungkin belum terlalu paham. "Mau ke rumahku nggak? Mumpung UTS-nya sudah selesai?" tanya Sora. Seperti biasanya dia selalu mengajak Aiden dan Ailee untuk ke rumahnya. Dia mengajak jika memang tidak ada hal penting yang harus dilakukan. Dan hari ini mereka harus bisa menikmati waktu yang ada sebelum kembali berkutat dengan pelajaran dan ujian berikutnya. Rumah Sora sangatlah tenang dan nyaman sekali jika dijadikan tempat belajar atau pun sekedar berkumpul biasa. Ada danau buatan di samping rumahnya dan taman bunganya juga luas dengan beraneka ragam jenisnya. Intinya sangat indah meskipun tak semewah dan seluas rumah Aiden dan Ailee, tapi mereka berdua senang menghabiskan waktu di sana. Terutama Aiden. "Boleh, tapi setelah aku menyelesaikan urusanku terlebih dahulu," ucap Ailee yang kemudian meninggalkan Aiden dan Sora tanpa ada sepatah kata lagi yang terucap. Ailee pergi begitu saja. "Mau ngapain dia?" tanya Aiden heran. Dia menatap Ailee yang berlari seolah takut tertinggal sesuatu yang penting baginya, gadis itu berjalan dengan cepat. "Entahlah, ayo ikuti saja!" Aiden dan Sora mengikuti Ailee. Mereka juga penasaran dengan hal apa yang akan dilakukan gadis itu. Akan tetapi mereka juga sudah menebak bahwasanya Ailee akan menemui Binar. Mereka hanya ingin memastikan saja apakah dugaannya benar. Entah hendak ke mana Ailee sekarang, kakinya terus saja melangkah sedangkan matanya celingukan mencari seseorang. Tak peduli sudah berapa jauh dia melangkah yang terpenting adalah menemukan lelaki itu. Kini dia sudah tidak berada di kawasan kelas dua belas. Sangat jauh dari kelasnya, tapi tak membuat gadis itu berhenti sebelum menemukan orang yang dicarinya. "Pak Bin! Pak Bin!" Lelaki yang dia cari sudah nampak dan berjalan ke arahnya. Ternyata Binar baru saja selesai mengawasi kelas sebelas dan baru saja melangkah keluar kelas. "Apa?" tanya Binar dari jauh. Dia bingung dengan Ailee yang terlihat panik. "Aku mengerjakan soalnya dengan sungguh-sungguh, pasti nilainya akan sempurna," seru Ailee yang kemudian mengikuti langkah Binar. Lelaki itu tidak peduli jika Ailee berjalan di sampingnya. "Terus?" Binar tetap acuh, membuat Ailee sedikit kesal. Binar memang tidak tahu harus berbuat apa menanggapi perkataan Ailee tadi. Namun dia yakin bahwa ada sesuatu yang gadis itu inginkan darinya. "Kalau nilaiku 100 bagaimana jika Pak Binar mentraktir dan mengajakku jalan-jalan keliling kota?" tawar Ailee. Dia ingin sekali menikmati waktu berdua dengan Binar. Semacam kencan. "Lalu, kalau nilaimu di bawah 100 kamu mau apa?" "Pak Binar tetap mentraktir dan mengajakku jalan-jalan keliling kota," jawab Ailee tertawa kecil, Binar pun ikut tertawa. "Jadi, kamu mau jalan-jalan keliling kota denganku?" tanya Binar. Dia berhenti, menatap Ailee. Binar juga melipat tangannya di d**a dan tersenyum meledek. Ailee mengangguk serius. Raut wajahnya memelas dan penuh harap. "Boleh, tapi kalau nilai UTS-mu seratus semua. Bukan hanya Matematika saja," tambah Binar. Dia lalu melenggang meninggalkan Ailee yang mengangahkan mulutnya. Tentu saja terkejut, persyaratan Binar cukup sulit baginya. "Hanya matematika saja, Pak. Jangan yang lain, itu nggak mungkin," teriak Ailee menghentikan langkah kaki Binar. "Kenapa nggak mungkin?" Binar berbalik dan menatap gadis kecil di depannya. Dia sebenarnya tahu betul apa yang menjadi alasan Ailee. Dia juga pernah menjadi murid, maka dari itu dia mengatahui dengan baik apa yang berada di pikiran Ailee. "Soalnya Fisika pasti jelek dan nggak akan seratus!" jawab Ailee malu-malu. Fisika memang kurang diminatinya, dia juga tidak terlalu memahaminya. Makanya dia sudah yakin sekali bahwa tidak akan mendapat nilai sempurna untuk mata pelajaran yang memang sulit tersebut, meskipun ujian lalu dia mampu mengerjakannya. Tapi tidak tahu apakah benar atau justru salah. "Kalau begitu kita nggak akan jalan-jalan." Binar melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Ailee yang masih mematung di tempat semula. Puas sekali Binar mengatakannya tadi, apalagi melihat wajah Ailee yang tidak terima. Raut wajah Ailee langsung sedih, dia menatap Binar yang semakin jauh darinya. Kemudian terdengar gelak tawa dari Aiden dan Sora yang ternyata berada di belakangnya sedari tadi memperhatikannya pula. "Harus seratus semua ya, kalau nggak seratus kita nggak jalan..." ucap Aiden mengulang perkataan Binar, ia langsung mendapat tonjokan di lengannya. "Yahhh, nggak jadi boncengan berdua naik motor keliling kota deh," tambah Sora dan masih tertawa juga. Senang sekali melihat Ailee yang selalu saja ada tingkah lucu. "Akan ku buktikan pada kalian kalau aku dan Pak Binar tetap akan jalan-jalan tanpa harus nilai seratus untuk semua mata pelajaran!" ujar Ailee penuh dengan kesungguhan. Dia benar-benar yakin dengan perkataannya. Dan kini dia harus berjuang lebih keras lagi untuk mewujudkannya. Sora dan Aiden pun mengiyakan. Mereka juga yakin sekali jika Ailee akan pergi berkencan dengan Binar karena gadis itu memiliki seribu cara untuk menaklukkan Binar. Dan banyak pula cara tersebut yang gagal. Kegagalan dan keberhasilan memang akan selalu ada di setiap perjuangan untuk mendapatkan sesuatu, salah satu di antaranya adalah dalam hal percintaan. Sore itu, setelah mengikuti bimbingan belajar, Ailee dan Aiden menuju ke kedai kopi Binar. Aiden awalnya tak tertarik dan hendak ke kedai kopi yang biasanya, tapi setelah bujuk rayu Ailee dia pun mau ke sana. Sekalian mencoba kopi milik Binar yang kata Ailee sangat nikmat seperti di kedai kopi ternama. Tak terlalu buruk rupanya, macchiato latte telah berada di hadapan mereka rasanya pun tak kalah dengan kafe biasanya. Dengan pisang goreng crispy sebagai pelengkapnya. Mata keduanya tertuju pada layar iPad mereka yang tengah menayangkan video-video lucu dari YouTube. Kebiasaan ketika nongkrong berdua. "Monyetnya sama kaya kamu, Kak!" celetuk Ailee membangkitkan emosi Aiden. Lelaki itu langsung menoyor kepala saudaranya yang duduk di hadapannya. Sangat tidak terima dikatai monyet. "Kita kembar, jadi kamu juga monyet dong!" Aiden berusaha membalas Ailee, namun gadis itu juga punya banyak sekali cara untuk menyangkalnya. "Untuk hal ini kita nggak sama. Yang monyet cuma kamu," tukas Ailee terkekeh. Mereka kembali menatap layar itu, gelak tawa kembali pecah membuat para pengunjung yang lain dan juga Binar ikut bahagia melihatnya. Kedai Binar menjadi ramai dari biasanya karena ulah anak kembar itu. Saling meledek, bertengkar kecil, dan tertawa terlalu keras membuat kedai yang biasanya sunyi senyap meski banyak pengunjung menjadi ramai seketika seperti pasar malam atau wahana bermain. "Pak Bin!" teriak Ailee melambaikan tangannya mengajak Binar bergabung dengan mereka. Binar tahu jika Ailee memanggilnya. Dia pun menghampiri mumpung tidak ada pelanggan lagi. "Apa?" tanya Binar, dia mengambil kursi kosong dan meletakkannya di dekat Ailee dan juga Aiden. "Bergabunglah dengan kami, Pak Bin 'kan lagi nggak ngapa-ngapain," jawab Ailee. Anak itu benar-benar ramah. Tapi sebenarnya, Ailee hanya ingin dekat dengan Binar. Biasalah, namanya juga mabuk cinta. "Statusku berubah jadi nyamuk jika begini," celetuk Aiden menggelakkan tawa. Dia jadi malas. "Tenang saja, Kak, kamu masih manusia kok," sahut Ailee sangat tidak masuk akal, Aiden semakin gemas dibuatnya. "Itu kan hanya perumpamaan saja. Kamu sama Pak Binar, dan aku sendiri di sini. Jadi nyamuk, kan!" "Kalau begitu pergilah dari sini." Ailee ikut berbicara dengan nada tinggi menanggapi perkataan Aiden tadi. Sementara Binar nampak bingung bagaimana cara menghadapi anak kembar yang berdebat itu. "Kamu mengusirku? Okay!" Aiden lalu berdiri dan berpindah ke meja yang kosong. Tak lupa membawa iPad-nya. "Kenapa kamu membawanya? Berikan padaku!" Ailee mencoba mengambil iPad dari tangan Aiden tapi lelaki itu pun tak melepaskannya dan malah mereka jadi rebutan tarik ke sana ke mari. Sudah seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan, padahal mereka sudah remaja dan sangat tidak pantas berebut seperti itu. Tapi hal itu memang kerap terjadi bagi Aiden dan Ailee. Mereka selalu saja berebut, terkadang orang tuanya sangat dibuat pusing dengan kelakuan anak kembar itu. "Berikan padaku! Kamu cerita saja sama Pak Binar! Lagi pula kamu juga bawa ponsel, kan? Pakai ponselmu saja!" "Nggak mau! Berikan padaku!" Binar jadi bingung harus bagaimana melerai karena mereka sama kuatnya. Dia pun mendiamkan mereka karena tak lama kemudian pasti akan lelah dan berhenti dengan sendirinya. Dan benar, mereka berhenti, tapi bukan karena lelah tapi karena iPad-nya jatuh. Beruntung ada case pelindung, jadi iPad itu baik-baik saja meski terlempar dan jatuh. "Ah, ambil saja! Dasar pelit!" gerutu Ailee. Dia kembali ke tempat duduknya dan bergabung lagi dengan Binar. "Kalian sudah tujuh belas tahun tapi kenapa masih kaya anak lima tahun sih?" seru Binar menggelengkan kepalanya. Ailee hanya diam dan kembali memakan pisang goreng. Manis dan kriuk, sangat cocok dengan suasananya. Apalagi pisang goreng itu buatan Binar sendiri. Mengagumkan bukan? Binar serba bisa, pantas Ailee takluk dengannya. "Pak, kenapa Bu Melati dan Clarissa belum pulang?" tanya Ailee. Sudah lama dia menunggu mereka berdua yang sedang pengajian di masjid sebelah bersama anak-anak panti. "Nah, itu mereka," jawab Binar menunjuk Bu Melati yang mendorong kereta bayi Clarissa. Binar sedari tadi juga menunggu Ibu dan anaknya itu kembali karena sudah cukup lama mereka pergi. "Baby..." Tanpa menunggu waktu lama, Ailee langsung mengambil Clarissa dan menggendongnya. Dia kecup wajah gembul anak itu tiada henti membuat Binar langsung tergerak menghentikannya. "Cukup! Cukup!" Meskipun Binar sudah melarangnya, gadis itu tetap menciumi Clarissa. Binar semakin gemas. Maksudnya gemas dengan Clarissa, melihat Ailee yang menciuminya, Binar jadi ingin pula mencium Clarissa. "Baby, ikut Papa saja, ya? Nanti pipimu bisa berkurang kalau sama dia," bujuk Binar kepada anaknya yang berada di pangkuan Ailee. Dia berjongkok dan bersiap mengambil alih anaknya, tapi malah dirinya mendapat pukulan mainan di kepalanya. "Aduh! Kenapa malah mukul Papa, sih...." Binar menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya. Dug! Lagi-lagi Clarissa memukul papanya, dia tertawa setelahnya. Pukulan itu tak sakit, tapi Binar berpura-pura saja supaya anaknya itu senang. Dan benar saja, Clarissa malah tertawa riang. Dia malah semakin gencar memukulkan mainannya ke kepala Papanya. Dug! "Awas, ya, kalau nakal lagi bakal Papa hukum!" goda Binar sembari mencolek hidung Clarissa. Sangatlah menggemaskan. "Hey, nggak boleh nakal! Kasihan Papa...." Ailee langsung mengambil mainan Clarissa dan menyembunyikannya. Tapi anak itu tak kehilangan akal, dia menggunakan tangannya dan memukul Binar. Sama seperti Ailee yang ketika dilarang justru semakin menjadi-jadi. Mungkin Clarissa sering bersama Ailee hingga akhirnya menuruni salah satu sifat gadis cantik nan manis itu. "Anak Papa mulai nakal ya sekarang..." Binar meletakkan kepalanya di perut Clarissa, dia menggesekkan hidungnya membuat bayi itu terpingkal-pingkal menggelinjang ke sana kemari. Ailee yang melihatnya pun ikut gemas, dia berusaha menghentikan Binar supaya Clarissa tidak tertawa terus karena bisa jadi nanti malah ngompol. "Oh jadi ini cewek yang akan menjadi penggantiku? Gadis kecil yang murahan!" Suasana tiba-tiba berubah ketika ada seorang wanita dewasa datang di belakang Ailee dan Binar yang sedang bercanda ria dengan Clarissa. Tatapan semuanya pun teralihkan kepada sesosok itu, begitu juga dengan Ailee dan Binar yang langsung menghadap ke sumber suara. Suaranya tadi begitu keras hingga para pengunjung juga bisa mendengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN