Les Private

1785 Kata
Bukan main senangnya, hari ini adalah hari pertama Binar datang ke rumahnya untuk les privat. Ailee sudah menunggu Binar di depan pintu gerbang sejak tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan Binar. Dia terlalu semangat. Tangannya melambai-lambai ketika melihat lelaki yang berkendara motor menuju arahnya. Senyumnya melengkung seperti bulan sabit di tengah malam. Orang yang ditunggu telah di depan mata, bukan main lagi senangnya. Ailee juga sangat antusias menunggu kedatangan Binar, dia berada di gerbang hendak menyambut kedatangan lelaki itu. Tiga puluh menitnya untuk menunggu akhirnya terbayarkan karena orang yang ditunggunya telah berada di depan mata. "Selamat datang di rumah Ailee..." seru Ailee menghadang Binar di depan pintu gerbang. Lelaki itu pun menghentikan motornya mendadak– tepat di depan Ailee. Hampir saja menabraknya jika tidak cakap mengerem sepeda motornya. "Bukannya ini rumahnya Tuan Aksa dan Nyonya Aza, ya?" sahut Binar seraya melepas helmnya. Dia juga merapikan rambutnya yang acak-acakan selepas memakai pengaman itu. Dan Ailee menatapnya tanpa berkedip. Bahaya sekali karena Binar jauh lebih tampan ketika sedang merapikan rambut. Ailee takut melewati batasnya. "Ah, sama saja. Mereka 'kan orang tuaku. Ayo masuk, Pak," ajak Ailee yang kemudian menarik lengan Binar. Lelaki itu pun kewalahan turun dari motornya. Ailee sangat tidak sabar. "Terus motornya?" "Ada Mang Dudung, aman pokoknya!" Tak peduli lagi dengan motornya, sang pemilik jauh lebih penting. Dia bimbing Binar memasuki ruang santai di mana sudah ada Aiden di sana. Binar sedari tadi hanya menurut saja, dia pun membiarkan Ailee menggandeng tangannya. Cukup jauh dari halaman depan. Binar sangat takjub dengan rumah yang sangat besar nan mewah itu. Jauh sekali dengan rumahnya yang kecil dan sederhana. Sofa panjang itu telah memuat Binar dan juga Ailee, sedangkan Aiden di sofa lain. Sebenarnya Aiden sangatlah malas untuk les privat, dia lebih nyaman belajar sendiri. Tapi karena desakan sang adik, akhirnya dia pun mau. Mereka saling tatap beberapa saat. Binar sendiri masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan. Dia sebenarnya bingung harus memulai dari mana karena ini adalah pertama kalinya mengajar les private. Sebelumnya dia memang pernah berpikir untuk melakukan ini, tapi selalu kekurangan waktu karena harus mengurus panti dan kedai. Tapi kali ini yang meminta adalah Pak Aksa, orang yang selalu berdonasi di panti asuhan. Binar pun berusaha meluangkan waktu. Dia hanya ingin sedikit membalas budi orang baik. "Baiklah, tadi saya sudah buat soal latihan untuk UTS besok. Hari ini kita mempersiapkan UTS dulu, selesai UTS akan saya ajarkan materi untuk ujian nasional maupun ujian masuk universitas," ujar Binar. Dia kemudian memberikan secarik kertas yang baru saja dikeluarkan dari tasnya pada Aiden dan juga Ailee. Besok memang jadwal kelas Ailee dan Aiden untuk ujian mata pelajaran matematika. Binar akan memulainya dengan memberikan soal latihan. "Apa ini soal UTS besok?" tanya Aiden. "Hanya latihan dan jangan harap soalnya akan sama seperti soal UTS besok," jawab Binar tegas. "Saya beri waktu dua menit untuk mengerjakan satu soal, setelah itu kita bahas," tambahnya kemudian. Les privat berlanjut hingga senja, Ailee sangatlah antusias. Dia malah lebih fokus dengan Binar bukan dengan materinya. Sebenarnya gadis itu sudah memahami semua materi matematika dan sebenarnya juga tak perlu les privat. Akan tetapi ada hal lain yang membuatnya ingin les privat. "Aku akan kembali ke kamar terlebih dahulu," pamit Aiden ketika sudah selesai. Dia sudah lelah, makanya memilih untuk pamit terlebih dahulu. Tinggalah Binar dan Ailee yang masih berada di ruangan itu. Ailee membereskan kertas-kertas soal dan juga alat tulisnya. Sedangkan Binar menatapnya dengan heran. Anak itu sudah pintar, semua soal bisa dikerjakan dengan baik dan benar, lalu kenapa masih memerlukan les privat? Apa tak sayang uangnya? Tapi kembali lagi bahwa orang kaya memang bebas. Dan hal ini kurang sesuai dengan Binar. "Hey, kenapa kamu mau les privat denganku?" tanya Binar dengan suara tegas. Tatapannya menyelidik pada gadis yang kala itu cantik memakai sweater dusty pink yang dipadukan dengan celana panjang warna abu muda. Rambutnya diikat, wajahnya semakin jelas. Baik diikat maupun tidak, Ailee sama saja. Tetap cantik. Begitulah pandangan Binar terhadap gadis yang usianya baru tujuh belas tahun. "Memangnya kenapa?" Ailee malah kembali bertanya membuat Binar jengkel. Lelaki itu kemudian meneguk kopi yang disediakan di depannya. Sisa setengah, dan itu sudah dingin karena sudah cukup lama. Dia hampir lupa menghabiskannya. Ailee kemudian menggeser tubuhnya mendekati Binar hingga tak ada celah antara mereka. Lalu berbisik e****s, "Aku hanya ingin lebih dekat denganmu, Pak." Merinding. Menakutkan. Dan menyebalkan. Binar bergidik ngeri mendengarnya. Ini jauh lebih menakutkan dibanding dengan bertemu hantu atau semacamnya. Binar segera mendorong tubuh Ailee menjauhi dirinya, dia lalu bangkit dan pamit untuk pulang. Takut jika Ailee bertingkah lebih. "Ayihh, menggemaskan sekali dia!" gumam Ailee. Ailee mengantarkan Binar hingga ke depan gerbang. Dan ternyata motor Binar tak ada, lelaki itu panik dibuatnya. Baru lunas tapi sudah hilang. Ah, menyebalkan sekali. Andai saja dia tadi memastikan motornya terparkir dengan baik, maka tidak akan panik seperti ini. Dia dan Ailee berkeliling mengitari rumah mencari keberadaan motor. Di garasi hanya ada mobil-mobil koleksi tuan rumah saja, tak ada motor milik Binar. Binar dan Ailee hampir putus asa dibuatnya. Mang Dudung yang tadi diberi kepercayaan pun entah ke mana, padahal tadi Ailee sudah menyuruh untuk meletakkan motor Binar di garasi. Tapi sepertinya Mang Duduk membawanya keluar karena satpam itu juga tidak ada di tempatnya. "Tenanglah, Pak. Komplek ini nggak ada maling kok," ujar Ailee menenangkan Binar yang panik. "Nggak ada maling gimana? Buktinya motorku hilang!" "Maaf, Pak Bin. Kalau benar-benar hilang, aku bakal ganti kok pake uang tabunganku. Tenang saja..." ujar Ailee menunduk ketakutan. Dan Binar terenyuh mendengarnya, Binar sangat suka dengan jiwa Ailee yang bertanggungjawab, tapi tetap saja ini bukan sepenuhnya tanggungjawab Ailee. Tin... tin... Suara klakson motor Binar terdengar. Ternyata satpam rumah itu membawa motornya keluar. Benar dugaan Ailee tadi. Jengkel bukan main karena Mang Dudung tak memberitahu sebelumnya jika meminjam motor. "Kenapa nggak bilang dulu sih, Mang Dudung!" gertak Ailee. "Maaf atuh, Neng, tadi buru-buru. Nih, disuruh Oma Aira beli wedang ronde," jawab Mang Dudung memperlihatkan beberapa kantong plastik berisi wedang ronde yang baru saja ia beli. "Oma Aira kemari?" Ailee justru bertanya. Sudah lama Oma Aira tidak mengunjungi rumahnya. "Iya, baru saja sampai. Katanya kangen Mang Dudung," jawab Mang Dudung seperti biasa. Gokil sekali. Mang Dudung kemudian pergi karena takut Oma Aira menunggu lebih lama lagi. Ailee selalu tertawa kecil mendengar celotehan Mang Dudung. Dan yang jelas dia senang sekali akhirnya Oma Aira datang. Sudah lama Oma Aira tidak ke rumahnya dan biasanya Ailee yang menemui Omanya itu. Ailee kemudian teringat dengan Binar yang hampir saja dia dilupakan karena asyik mengobrol dengan Mang Dudung. "Ya udah, Ayo pulang, Pak!" ajak Ailee, dia menuntun Binar mendekati motornya. Binar menyentil kening Ailee dengan keras, tak habis pikir dengan pemikiran Ailee. Dia kemudian berkata, "Mau pulang ke mana? Rumah kamu kan di sini!" "Oh iya lupa hehe...." Binar menggeleng seraya tersenyum. Lucu sekali anak itu. Baru saja duduk dan selesai memakai helm, tiba-tiba ada seseorang yang naik ke motornya. Binar pun menoleh ternyata sudah ada Ailee di belakangnya. "Aku nebeng ya, Pak. Mau beli martabak, he he. Udah izin sama Mama kok," seru Ailee, tangannya sudah melingkar di perut Binar. Dia belum mau berpisah dari Binar. Dan akhirnya dia pun terpikirkan untuk membeli martabak dengan nebeng Binar, dengan begitu dia masih memiliki waktu cukup lama bersama Binar. Binar akhirnya membiarkan. Dia sendiri sebenarnya juga senang membonceng Ailee. Motor pun perlahan meninggalkan area komplek. Lampu mulai menyala terang mengikuti laju motor. Keriuhan saat senja menghilang pun terasa. Memang cocok jika berboncengan dengan sepeda motor, jauh lebih romantis. Langit belum gelap sempurna, masih ada semburat warna jingga yang menghiasi sebagian meskipun telah dominan abu tua. Aku ingin malam mingguku Engkau selalu ada dekatku Menemani peluk bintang-bintang Lagu Yovie & Nuno yang berjudul Malam Mingguku itu terdengar jelas namun tak terlalu sedap didengar. Ailee menyanyi dengan riangnya, seakan suaranya sangat merdu. Padahal suaranya tak sopan ketika masuk telinga. Menyakitkan. Binar tetap membiarkannya. Suara Ailee lucu sekali, benar-benar mencerminkan sifatnya yang riang gembira. "Ini malam selasa," sahut Binar terkekeh. "Diam saja, Pak." Bila nanti engkau milikku Bila saja cinta berbalas Kan ku sayang selama hidupku Kuharapkan engkau mengerti apa yang kurasakan jangan kau ragu dengan kesungguhan ini... Binar terenyuh ketika lagu kembali dilantunkan. Liriknya begitu mengena. Sepertinya Ailee juga sedang menyinggung dirinya. "Kenapa nyanyi lagu itu?" tanya Binar. "Mewakili perasaanku, Pak. Aku pengen sama Pak Binar terus, tiap malam, tiap hari, tiap detiknya. Dan aku ingin Pak Binar membalas cintaku," jawab Ailee penuh dengan kesungguhan membuat Binar terhenyak seketika. Dia akhirnya berani mengatakan apa yang dia inginkan selama ini. Dapat disimpulkan dari ucapan tadi jika gadis itu mencintai dirinya. Tapi apakah itu bisa dipercaya? Ah, Binar tak mau menganggapnya serius. Dia masih anak kecil, berbanding terbalik dengannya pula. Tak mungkin jika mereka akan ditakdirkan bersama. Dan bisa saja itu hanyalah rasa kagum belaka atau malah cinta monyet. "Mau beli martabak yang di mana?" teriak Binar bertanya, mengalihkan pembicaraan Ailee tadi. Ada dua penjual martabak di wilayah itu, dia pun bingung martabak mana yang gadis itu inginkan. "Yang disitu saja, Pak!" jawab Ailee menunjuk gerobak martabak yang berada satu meter dari posisinya. "Terima kasih Pak Binar..." seru Ailee ketika sudah turun dari motor. Dia kembali melayangkan senyum untuk Binar. "Hm. Hati-hati pulangnya nanti," ucap Binar sebelum kembali melajukan motornya. "Pak Binar juga hati-hati pulangnya ya, Pak!" Ailee memberikan finger love untuk lelaki itu, mengecupnya sebentar, lalu dia berpura-pura memasukkannya ke kantong kemeja Binar. Lelaki itu hanya bisa terkekeh melihat tingkah Ailee. Selalu menggemaskan. Binar sepertinya sudah terlena dengan Ailee, buktinya saja dia senang diberi bekal pulang finger love dari Ailee yang dimasukkan ke kantong kemejanya. Tak masuk akal tapi membahagiakan sekali. "Bye... Pak Binar. Sampai bertemu kembali!" Ailee masih mengantarkan kepergian Binar. Tangannya melambai ketika Binar mulai meninggalkan dirinya. Sangat senang, padahal hanya hal kecil. Ailee menatap Binar sampai hilang dari pandangannya. Dia pun duduk di kursi plastik yang disediakan penjual martabak setelah memesan martabak coklat keju kesukaannya. Harinya dengan Binar sudah selesai, dia jadi tidak sabar menyambut hari yang baru. "Neng, tadi pesan varian apa? Lupa, maaf sudah tua," ucap penjual martabak itu kepada Ailee. Dia kembali bertanya karena lupa dengan pesanan Ailee tadi. "Martabak cokelat keju, Pak. Banyakin kejunya saja, cokelatnya jangan," jawab Ailee sopan, tidak lupa memberikan senyum pula. Penjual martabak itu juga tersenyum. Dia kembali membuatkan martabak cokelat keju untuk Ailee sekalian dengan pembeli yang lainnya. Sembari menunggu pesanannya, Ailee melamunkan hal yang tak jelas. Dia sudah membayangkan bagaimana jika dirinya benar-benar berjodoh dengan guru matematikanya itu. Dan bagaimana pula jika semesta tak membiarkan mereka bersatu? Akankah masih ada hal sederhana yang mereka lakukan bersama? Atau semuanya juga harus lenyap tatkala semesta tak menyatukan? Percayakan semuanya dengan takdir. Apa pun yang terjadi pasti adalah yang terbaik untuk kita. Tapi Ailee tetap berharap supaya Tuhan menjodohkan dirinya dengan Binar karena hanya Binar yang membuatnya jatuh hati dan enggan untuk berpisah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN