bc

Demi Mutiara

book_age18+
31
IKUTI
1K
BACA
arranged marriage
drama
city
highschool
husband
like
intro-logo
Uraian

Setiap keluarga pastinya punya cerita. Begitupun dengan keluarga Mutiara. Mutiara adalah seorang anak yang lahir dari kesalahan ayah dan bundanya di masa muda. Perjalanannya bersama Sadam, ayahnya dimulai sejak Laras, bundanya tewas terbunuh oleh beberapa pemuda setelah mengalami pemerkosaan. Ia yang baru berusia 10 tahun harus hidup dalam pelarian karena ayahnya sedang diincar oleh kelompok mafia bernama Keluarga Pengestu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Masa Kecil Kurang Bahagia
  “Tik…Tik…” Suara dentingan jam dinding yang terdengar ke seluruh ruangan, membuktikan bahwa ruangan itu dikelilingi oleh kesunyian. Dalam kegelapan, tampak seorang anak laki-laki berusia 7 tahun sedang terduduk di lantai dan bersandar pada dinding ruangan. Ia terduduk sambil menyembunyikan wajahnya pada kedua tangannya yang saling menumpuk dan bertumpu pada kedua lututnya. Dalam kegelapan dan kesunyian, anak laki-laki itu sesekali mengusap air matanya yang meleleh di pipi. “Kreeekkk…” Suara pintu terbuka dari luar. Cahaya dari luar mulai menerobos masuk dan menyoroti wajah anak lelaki itu ketika pintu dibuka. Ia menengadahkan kepalanya kearah pintu. Kedua bola matanya yang sembab menangkap sebuah siluet seorang lelaki berbadan tegap sedang berdiri sambil menggenggam sebuah balok kayu panjang. Anak laki-laki itu pun sontak menunjukkan ekspresi sangat ketakutan sambil beranjak berdiri. Matanya terbelalak saat sosok itu berjalan mendekatinya. Jantungnya berdegup dengan kecang. Nafasnya mulai terdengar tak beraturan. Sosok lelaki tersebut kini berdiri persis tepat dihadapannya. Lelaki itu mengayunkan balok kayu panjang yang digenggamnya dan menghantamkannya kepada kepala anak laki-laki itu. “Aaahhhhhh!!!” Teriak Sadam sambil terbangun dari mimpinya. Pak Mulyono yang sedang mengajar pelajaran Kimia, hanya menatapnya sambil menggelengkan kepala. Suasana di kelas pun langsung dipenuhi oleh gelak tawa karena semua mata tertuju pada Sadam yang menampilkan ekspresi kebingungan dengan air liur yang mengering di sebelah kanan bibirnya. Sadam Kusuma adalah seorang siswa berkulit sawo matang yang duduk di kelas 3 di sebuah SMA Swasta di Kota Bandung. Sadam dikenal sebagai sosok yang ceria, namun suka tertidur didalam kelas. Sadam juga selalu mendapatkan nilai-nilai yang tidak terlalu baik hampir di semua mata pelajaran. Yang paling parah, ia juga selalu terlibat perkelahian dengan siswa-siswa lain baik di sekolahnya, maupun dengan siswa sekolah lain. “Sadam. Cuci muka sana !” bentak pak Mulyono.   Sadam segera mengangkat pantatnya dan berjalan keluar kelas. Ia berjalan menyisiri lorong sekolah dengan rasa takut yang masih menyelimutinya. Mimpi buruk itu terasa begitu nyata. Bahkan tubuhnya benar-benar dibanjiri oleh keringat. Saat melewati salah satu kelas, matanya tertuju pada sesosok gadis berparas cantik dengan rambut hitam terurai panjang yang ia lihat dari luar kelas. Sadam tersenyum karena paras cantik gadis itu telah membuat bayangan mimpi buruknya seketika sirna. Seolah tahu bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasinya, kepalanya menengok keluar kelas. Kedua matanya menangkap sosok Sadam yang sedang tersenyum manis padanya dari luar kelas. Gadis itu pun balas melemparkan senyuman manis pada Sadam. Gadis berparas cantik itu adalah pacar Sadam. Pemilik paras cantik itu bernama Larasati Rahayu Widyodiningrat atau biasa dipanggil Laras. Nama Laras mempunyai arti Harmoni dan mempesona. Nama yang memang sesuai dengan parasnya. Siapapun yang melihat wajahnya akan merasa damai bagai sebuah musik yang terdengar harmoni. Setelah saling membalas senyum dengan kekasihnya, Sadam melanjutkan langkahnya dan segera menuju ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang begitu mengganggunya. Setiap air yang menerpa mukanya terasa sangat dingin dan segar. Beberapa kali Sadam membasuh mukanya, dan barulah rasa kantuk pun benar-benar menghilang. Didalam kelas, Dimas Palevi sedang asik mendengarkan lagu pada mp3 yang ia hubungkan menggunakan headset pada daun telinganya yang sebelah kanan saja. Lalu ia sembunyikan dibalik tangannya agar tidak ketahuan oleh Pak Mulyono. Sedangkan Yusuf Khaerudin alias Ucup sedang asik bermain game ‘snake’ dengan kedua ibu jarinya yang menari diatas tombol hape Nokia 8250 miliknya. Dimas dan Ucup adalah sahabat Sadam. Mereka bertiga sudah berteman sejak masuk SMA. Mereka bertiga adalah anak-anak yang nakal, namun berprestasi di bidang masing-masing. Sadam berprestasi di bidang musik. Ia selalu turut memeriahkan acara pensi yang diadakan sekolahnya setiap tahun. Sedangkan, Dimas adalah seorang kapten Tim Basket sekolah ini. Tampang yang ganteng, tubuh yang tinggi dan atletis, membuat para siswi berteriak histeris setiap kali mereka menonton pertandingan Dimas. Meskipun dianugrahi fisik yang sempurna, Dimas masih belum memiliki pacar. Karena ia lebih menikmati saat semua wanita memujanya bagai dewa tanpa harus terjalin sebuah ikatan. Lalu Ucup ? Ucup hanyalah seorang siswa bertubuh gemuk dengan muka yang pas-pasan, namun sangat ahli di bidang Matematika. Sebanyak 3 kali Ucup menjuarai olimpiade matematika tingkat SMA se Kota Bandung. Namun dalam nilai-nilai pelajaran lain, Ucup bukanlah ahlinya. Setelah merasa lebih segar, Sadam kembali ke kursi tempat dimana ia duduk. Disampingnya, Ucup yang merupakan teman sebangkunya tetap fokus pada game yang ia mainkan. “Gua tau kalo pelajaran pak Mulyono tuh membosankan. Tapi gak harus teriak-teriak juga kali !” Kata Ucup sambil matanya tetap tertunduk dan fokus kepada layar hapenya. “Gua ketiduran. Mimpi buruk gua, Cup !” Kata Sadam. “Mimpi ? kayak manusia aja lu !” Ejek Dimas dengan headset yang masih menempel di daun telinga kanannya. Ucup tertawa terbahak-bahak mendengar ledekan Dimas pada Sadam. “Sialan lu ! udah lah gausah dibahas mimpi gua !” kata Sadam kesal. “Dih ! Ngambek. Yaaaah… mati !!!” Kata Ucup sambil kesal karena kalah dari permainan. Ucup pun berhenti memainkan game nya dan mencoba untuk memperhatikan Pak Mulyono yang sedang mengajar. Ucup melihat ke sekeliling dan rupanya raut teman-temannya yang lain pun tampak bosan mendengar pelajaran dari pak Mulyono. Membuat ia kembali merasa bosan dan mengantuk. “Gua kalo bisa jadi Presiden, Gua bakal hilangkan pelajaran Kimia dari muka bumi.” Kata Ucup setengah berbisik pada Sadam. “Kenapa gak semua pelajaran IPA lu musnahkan?” timpal Sadam. “Biologi juga? Jangan dong! Biologi itu seru...!” Protes Ucup. “Apalagi pas pelajaran alat reproduksi, ya?” Dimas menimpali. “Yoi.” Kata Ucup sambil terkekeh. “Pikiran lo berdua kotor melulu!” Kata Sadam sambil tertawa kecil. “Alaaahhh… gak usah sok suci deh lu! Lu juga pasti suka, kan?” Tanya Ucup sambil nyengir. Sadam gelagapan dan tak menjawab pertanyaan Ucup lalu malah mengalihkan pembicaraan. “Udah lah gausah dibahas! Cup, Pulang sekolah kita main PS di rumah lu yuk!” ajak Sadam kepada Ucup. “Gak bisa kalo hari ini.” “Kenapa?” “Hari ini, hari pertama Mami gua menstruasi. Bawaannya marah-marah mulu.” tolak Ucup sambil tubuhya menggigil. Sadam pun beralih ke Dimas. “Di rumah lu deh, Dim. Gimana?” Tanya Sadam setengah berbisik kepada Dimas. “Hari ini ada latihan. Gak bisa.” Tolak Dimas yang juga setengah berbisik. “Ahhh… Lu berdua gak asik!” Keluh Sadam dengan kesal.   Sepulang sekolah… Sebuah bola basket berlompatan keatas dan kebawah. Lalu sepasang tangan menggenggamnya dilanjutkan dengan lemparan cantik kedalam sebuah ring. “Yes ! Masuk !” teriak Dimas kegirangan. Teriakan Dimas diiringi teriakan histeris dari para siswi yang mengaguminya. “AAAAHHHH… DIMAS AI LOP YU…!” Dimas mengibaskan rambutnya yang basah oleh keringat layaknya seorang model iklan shampo. Sontak hati para gadis itu seakan dihujam oleh panah cinta milik Dimas. Di pinggir lapangan tempat Dimas bermain basket, tampak seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang sedang bermain biola. Lantunan nada-nada yang indah terdengar sangat menyejukan hati khas musik Eropa. Gesekan demi gesekan pada senar biolanya terdengar sangat merdu. Sedang asyiknya Laras bermain biola, tiba-tiba Sadam mengagetkannya dari belakang. “WOY !!!” kata Sadam sambil menepuk bahu Laras. Tepukan itu mengakibatkan tubuh Laras terperenjat kaget ditambah suara bentakan yang berbunyi di dekat telinganya. “Neng, mau akang genjreng-in nggak hatinya ?” Tanya Sadam menggoda Laras. Laras hanya tersipu malu. Wajahnya tampak merah padam dan senyuman manis keluar dari bibirnya yang mungil. “Lanjut dong mainnya! Aku pengen denger.” Pinta Sadam dengan manja kepada Laras. Laras melanjutkan permainan biolanya. Sedangkan Sadam menaruh Tasnya yang berisi gitar diatas rumput. Ia lalu duduk disamping Laras untuk melihat kekasihnya itu memainkan biola. Tangan Laras mulai bergerak mengikuti gesekan pada biolanya. Setiap gesekan yang memunculkan nada-nada indah. Nada-nada indah yang tersusun menjadi sebuah melodi. “Bahagia banget hidup guaaa...! Punya cewek cantik yang bisa memainkan lagu-lagu yang sangat merdu.” Teriak Sadam dalam hati kegirangan. Matanya terus memandangi Laras tanpa berkedip. Hembusan angin membuat rambut Laras seolah menari-nari mengikuti irama biola. Kecantikan wajahnya bertambah 1000% dan membuat Sadam semakin larut oleh keindahan didepan matanya. “Dukkkk!!!” Tiba-tiba sebuah bola basket menghantam kepala Sadam. Hantaman bola basket itu segera menyadarkan Sadam dari lamunannya. Sadam mengusap-usap kepalanya yang terhantam bola basket dengan kesal. Laras segera menghentikan musik yang ia mainkan lalu mengusap-usap kepala Sadam setelah menaruh biolanya diatas rumput. Dengan wajah kesal, Sadam melihat kearah lapangan dan tampak Dimas hanya berdiri sembari tangannya menunjuk kearah salah satu siswa anggota tim basketnya. Siswa itupun berlari menuju Sadam untuk mengambil bola basket dan meminta maaf kepada Sadam karena ia benar-benar tak sengaja melakukannya. Karena tidak sengaja, Sadam pun memaafkannya dan siswa itu pun kembali ke lapangan dengan bola basket yang digenggamnya lalu melanjutkan latihan bersama Dimas dan anggota tim basket yang lain. “Sakit gak ?” Tanya Laras dengan suara lemah lembut. “Tadi sih sakit, Tapi sekarang udah nggak. Soalnya kalo deket kamu, semua rasa sakitku seketika langsung hilang.” Gombal Sadam sambil nyengir dan mengeggam tangan halus Laras yang sedang mengusap-usap kepalanya. Di lapangan, Dimas yang sudah merasa sangat lelah meminta untuk menghentikan latihan sejenak. Bukti bahwa ia benar-benar merasa lelah adalah keringatnya terasa membanjiri seluruh tubuhnya. Ia memutuskan untuk mengambil handuk untuk membasuh keringatnya, serta air minum dipinggir lapangan untuk menghilangkan rasa dahaga. Saat ia berjalan ke pinggir lapangan, tiba-tiba seorang siswi bernama Maya menghampirinya dan memberikan handuk serta air minum kepada Dimas. Siswi itu tampak manis meskipun hanya sebagian wajahnya yang terlihat oleh Dimas karena Maya tertunduk malu. “Makasih ya… Maya !” Kata Dimas sambil mengambil handuk dan air minum sedangkan matanya melihat nama ‘Maya’ di seragam siswi tersebut. Maya hanya menggigit bibir dan berlari karena malu kearah temannya yang menunggu agak jauh. Dimas segera mengelap keringatnya yang bercucuran deras menggunakan handuk pemberian Maya. Setelah berjalan agak jauh, Maya kembali melihat kearah Dimas yang sedang mengelap keringat menggunakan handuk pemberiannya. Maya merasa sangat bahagia bahkan ia sampai melompat-lompat kegirangan. Jika saja bisa, mungkin maya sudah berteriak histeris saking senangnya. Maya adalah siswi kelas 2, yang berarti merupakan adik kelas dari Dimas, Sadam, Laras, dan Ucup. Maya sudah menaruh hati kepada Dimas sejak ia diterima di sekolah ini. Awalnya, ia hanya bisa memandangi Dimas dari jauh karena ia adalah orang yang sangat pemalu, namun hari ini ia telah melangkah sedikit lebih jauh dan berhasil mendekati Dimas. “WOY ! GUA BALIK DULUAN YA !” Teriak Sadam dari pinggir lapangan kepada sahabatnya. Dimas hanya melambaikan tangan karena ia sedang fokus meneguk air minum. Laras juga melemparkan senyuman dan melambaikan tangan pada Dimas. Sadam dan Laras berjalan menyusuri lorong sekolah menuju ke tempat parkir. Mereka berdua bertemu Ucup yang rupanya sudah mengendarai sepeda motornya dan bersiap untuk pulang. “Gua balik duluan ya !” Kata Ucup sambil berlalu mengendarai motor astrea-nya. Entah kenapa raut muka Ucup pada saat itu terlihat sangat kesal. Sadam pun bingung dengan raut muka Ucup, tapi Sadam tidak memikirnya dan lalu berjalan menuju vespa miliknya dan mengantarkan Laras pulang ke rumahnya dengan mengendarai motor Vespa-nya. Di perjalanan, Laras memeluk erat Sadam yang sedang mengendarai Vespa-nya. Hembusan angin menerpa wajah cantiknya. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu sang kekasih. Dari bahasa tubuh yang dilakukan Laras, Sadam sangat mengerti bahwa kekasihnya sangat merasa nyaman. Ia tak ingin memacu vespanya untuk lebih cepat. Sadam hanya ingin menikmati momen ini selama mungkin. Sayangnya, jarak antara sekolah dan rumah Laras tak terlalu jauh hanya berjarak 2 kilometer saja. Membuat momen kemesraan itu terasa begitu cepat berlalu. Sadam menghentikan mesin Vespa-nya tepat di depan gerbang rumah Laras. Laras merupakan orang yang cukup kaya. Sadam dapat melihat sebuah mobil sedan yang tampak cukup mewah berwarna hitam terparkir di garasi rumah Laras. Berbeda dengan dirinya yang hanya anak dari keluarga biasa-biasa saja. “Makasih ya!” Ucap Laras sambil tersenyum manis kepada Sadam. “Iya. Sama-sama.” Kata Sadam sambil membuka helm dari kepala Laras. Laras merapikan rambutnya yang kusut karena sebelumnya tertutup helm. Sadam mencubit kecil pipi Laras yang menggemaskan. Laras hanya tersenyum dan tertunduk malu. “Hati-hati di jalan !” kata Laras sambil melambaikan tangan dan melemparkan senyuman. “Yaudah. Aku pulang dulu ya ! Salam buat mama, sama papa !” Kata Sadam dan lalu menyalakan mesin Vespanya dengan cara di selah. “Iya.” Kata Laras dengan suara yang lembut. Sadam pun melemparkan senyuman terakhir sebelum akhirnya ia meninggalkan Laras yang masih berdiri di depan gerbang rumah. Setelah bayangan Sadam mulai menjauh, Laras pun mulai melangkahkan kaki masuk kedalam rumahnya yang terjaga oleh pagar yang tinggi.   Ucup termenung sambil terduduk di pinggir kasur. Matanya menghadap ke langit-langit sambil menerawang kejadian Dimas yang diberi handuk dan air minum oleh Maya. Ucup kesal karena ia telah menaruh hati kepada Maya sejak lama. Hari ini ia memergoki Maya yang ternyata malah menaruh hati kepada Dimas sahabatnya. Ia tahu kalau Dimas memang diidolakan banyak wanita di sekolahnya, namun ia tidak menyangka bahwa wanita yang ia cintai pun rupanya mengidolakan Dimas. Perasaan kesal, sakit hati, dan bingung dengan apa yang harus di lakukannya bercampur aduk menjadi satu. Ucup beranjak dari kasurnya dan duduk terdiam di depan pintu balkon kamarnya. Ia mulai merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek api. “Srekkk…Srekkk…” dan rokok pun menyala. Ucup menyedot batang rokok dengan sangat kuat, tak lama kepulan asap mengepul di udara. Ucup berharap bahwa kepulan asap yang ia keluarkan dari mulutnya itu bisa membawa pergi rasa gundah di hatinya. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia ingin menatap cermin. Ucup beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke depan cermin yang menempel di dinding kamar persis di sebelah meja belajarnya. Pantulan tubuh Ucup pun terpancar di cermin tersebut. Ucup meperhatikan dengan seksama setiap lekuk tubuh dan rupa wajahnya di depan cermin. Ia membuka seragam sekolahnya dan kini, Ucup telah bertelanjang d**a. Tak lama, ia pun termenung dan tertunduk. Ucup sadar bahwa dari segi fisik, ia sangat kalah jauh dengan Dimas. Wajah pas-pasan dan penuh dengan jerawat, membuat ia semakin berkecil hati. Berbeda dengan Dimas yang bersih dan tampan. Ucup pun sesekali meremas perutnya yang buncit dan lalu menghela nafas. Postur tubuhnya sangat berbeda dengan Dimas yang sangat atletis. “Hssssspppp….ffuuuhhhh” Ucup menghisap dan membuang kembali asap rokok yang iya himpit dengan 2 jari di tangan kanannya. “Apa laki-laki sepertiku layak untuk dicintai ?” “Dok…dok…” Tiba-tiba suara pintu kamar Ucup di gedor dari luar. “Mampus gua!” Ucup panik dan langsung membuang rokok yang berada di tangannya keluar balkon yang menghadap jalan. “Cu….p !!! Ucu…p !!!” Terdengar suara maminya memanggil dengan setengah berteriak dari luar kamar. Ucup semakin panik dan mencoba mendorong dengan kedua tangannya kepulan asap rokok yang memenuhi kamarnya agar keluar dari kamarnya. Tentu saja usahanya sia-sia. “Kok gua bego ya ? mana mungkin gua bisa ngedorong asap rokok pake tangan! Gua kan bukan Avatar the Legend of Aang.” Ucup segera menyalakan kipas angin untuk membantu kepulan asap rokok segera berhembus keluar kamarnya. “Lagi apa sih, Cup ?” Mami semakin terdengar kesal. “Lagi ganti baju, mi.. !” Dengan panik ia langsung mengganti celana seragamnya dengan celana pendek. Ia juga tak lupa memakai baju tanktop berwarna hitam sebelum akhirnya ia membuka pintu kamarnya. “Ada apa, Mi ?” Tanya Ucup yang hanya menongolkan kepalanya dari sela-sela pintu. “Ini… tadi mami beli cendol buat kamu.” Kata mami sambil memberikan keresek hitam berisi eskrim yang ia beli dari mini market. “Makasih, Mi… !” Mami tidak langsung pergi. Ia menyadari gelagat Ucup yang aneh karena Ucup hanya menonogolkan kepalanya saja tanpa membukakan kamar. Kerena penasaran, mami langsung mendobrak pintu kamar dan membuat Ucup terpental. Didalam kamar Ucup, mami bisa mencium asap rokok yang belum juga menghilang meski telah dipasang kipas angin. Ucup merinding ketakutan melihat ekspresi maminya yang menatap tajam padanya dengan aura pembunuh. “KAMU NGEROKOK ?!!!” bentak mami sambil menjewer telinga anaknya. “AWWWW !!!MI…SAKIT, MI…!!!” “Berani-beraninya kamu ngerokok, HAH ! Sini balikin cendolnya !” Bentak Mama sambil merebut kembali kresek hitam berisikan eskrim yang sebelumnya ia berikan. “Miiii!!! Jangan Miiii!!! Ucup pengen cendol…!” rengek Ucup. “Udah ngerokok, bukannya minta maaf malah pengen cendol! Sekali lagi kamu ngerokok, mami coret kamu dari kartu keluarga biar gak dapet warisan! Mulai besok selama seminggu kamu gak dapet uang jajan!” Kata mama lalu pergi meninggalkan Ucup yang sibuk mengusap-usap telinganya sendiri.   “MIIII….CENDOL!!!! MIIII….UANG JAJAN!!! MIIII…WARISAN!!!” rengek Ucup yang hanya bisa pasrah melihat mamanya sedang menuruni tangga dengan kesal.   Sadam sedang asyik bermain gitar di dalam kamar. Jari-jemarinya asyik menari-nari diatas senar. Petikan demi petikan menghasilkan suara yang membentuk nada-nada yang indah. Sesekali Sadam juga bersenandung. Ia memainkan lagu Celine Dion berjudul ‘My Heart Will Go On’ yang menjadi soundtrack film ‘Titanic’. “Dam, makan dulu yuk !” ajak ibunya yang berdiri di depan pintu kamar Sadam yang terbuka lebar. Sadam tersenyum dan menaruh gitarnya diatas kasur. Ibunda Sadam bekerja sebagai guru SD di sebuah Sekolah yang letaknya tak jauh dari rumahnya, bahkan ia bisa menempuhnya dengan hanya berjalan kaki. Sadam adalah anak semata wayangnya. Ia benar-benar mencintai Sadam dengan sepenuh hati. Ia juga membesarkan Sadam seorang diri dengan penuh perjuangan. Ia benar-benar seorang ibu yang sempurna untuk Sadam. “Ibu tadi lewat warung nasi, Ibu beli kangkung sama ikan bandeng kesukaan kamu.” “Makasih, Bu ! Sadam sayang sama ibu.” Kata Sadam sambil mencium pipi ibunya. Mereka pun makan malam bersama sambil diselingi bincang-bincang kecil. Lalu Sadam teringat akan mimpi buruknya ketika di Sekolah “Bu ! Tadi Sadam mimpi itu lagi.” Kata Sadam sambil melahap makanannya. Ibu terdiam sejenak. Sadam memperhatikan raut wajah ibunya yang sedang termenung penuh kekhawatiran. “Gausah pikirin masalah itu lagi, Sadam makan aja yang banyak !” Kata Ibu sambil tersenyum menyembunyikan masa lalu yang pahit yang pernah ia lalui bersama Sadam beberapa tahun yang lalu. Sadam pun melanjutkan melahap makanannya. “Bener kata Ibu. Aku gausah mikirin masa lalu lagi !” Pikir Sadam dalam hati sa,bil terus melahap makanan diatas piringnya. 10 Tahun yang lalu… Saat itu Sadam masih berusia 7 Tahun. Ibunya sudah bekerja sebagai guru SD. Sedangkan ayahnya adalah pemilik toko emas yang cukup besar, namun baru saja mengalami kebangkrutan. Karena kebangkrutan itu membuat pikiran ayahnya menjadi sering kalut dan lebih tempramen. “APA INI ???!!! NILAI RAPOR KOK MERAH SEMUA ???!!!” Bentak ayah Sadam sambil membanting buku rapor Sadam ke lantai. Sadam hanya terdiam membisu. Mulutnya terkunci rapat, jantungnya berdegup kencang. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Keringat dingin mulai bercucuran, kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah ayahnya. “PLAKKK!!!” sebuah tangan dewasa mendarat dengan sangat kencang mengenai pipinya. Tamparan yang cukup keras dari ayahnya sehingga membuat pipi anak berumur 7 tahun itu memerah. Tangis tak dapat lagi Sadam bendung, air mata mulai mengalir dengan deras dari kedua bola matanya yang sayu. “AYAH MALU PUNYA ANAK GUOOBBLL*KKK!!!” Bentak ayahnya lagi. “PLAKKK!!! PLAKKKK!!! PLAKKK!!!” entah sudah beberapa kali ayah menampar pipi Sadam hingga terlihat darah mulai mengalir keluar dari bibir Sadam yang sobek karena tamparan ayah. Sadam tersungkur ke lantai tak berdaya. Ibu hanya bisa mengintip dari dapur. Ia tak berani ikut campur dengan kekerasan yang dilakukan suaminya terhadap buah hati mereka. Ayah merobek kaos yang dikenakan Sadam dengan pakasa. Kini Sadam bertelanjang d**a sambil tergulai tak berdaya di atas lantai. Ayah menyeret tangan Sadam menuju kedalam kamar mandi. Dengan susah payah Sadam berusaha untuk berjalan, namun tubuhnya kembali terjatuh dan terseret di lantai hingga kedalam kamar mandi. Ayah menyalakan kran air dan menampungnya dengan sebuah gayung. “Byuurrrr” ia mengguyur Sadam dengan gayung beberapa kali hingga seluruh tubuh dan celana yang masih Sadam kenakan menjadi basah kuyup.   Ayah meninggalkan Sadam dan keluar dari kamar mandi untuk beberapa saat. Ayah lalu kembali dengan sebuah tongkat sapu yang sudah ia genggam dengan erat. Rasa marah yang membara, serta iblis yang sepertinya sudah berhasil merasuki ayah membuatnya menjadi kalap. Ia memukulkan gagang sapu itu ke punggung Sadam dengan bertubi-tubi. “AMPUUNNN PAAHHH!!!!” Tangis dan teriakan serta permohonan Sadam terdengar menggema di dalam kamar mandi. Bahkan tangis dan teriakannya terdengar sampai telinga ibu yang berada di luar kamar mandi, padahal pintu kamar mandi sudah tertutup rapat. Ayah tak mengenal ampun, ia terus menghujani siskaan pada punggung Sadam dengan bertubi-tubi. Ibu hanya terdiam dan mulai menangis. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Sadam dan suaminya di dalam kamar mandi. Hanya teriakan dan tangis Sadam yang dapat tertangkap oleh gendang telinganya. Cukup lama, akhinya terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ayah keluar dengan rasa amarah yang sudah cukup reda. Satu hal yang membuat ibu syok, ialah sapu yang ayah bawa kini sudah terbelah menjadi tiga bagian. Setelah ayah meninggalkan kamar mandi, ibu masuk kedalam kamar mandi dan melihat Sadam yang tergeletak di lantai dengan di hujani oleh air keran yang menyala. Air itu membilas sekujur tubuh Sadam dari darah dan meninggalkan sobekan serta luka lebam di punggung Sadam. Dengan cepat ibu mematikan keran lalu mendekap Sadam dengan handuk kering dan membilas seluruh badan Sadam. Kini Sadam sudah tak lagi menangis tapi tubuhnya bergetar sangat ketakutan. Tangisannya berubah menjadi trauma. Lima hari setelah kejadian naas tersebut. Sadam sedang asik bermain sepak bola bersama teman-teman seusianya di lapangan dekat rumah. Bola menggelinding dengan sepasang kaki yang menggiring dan mengikutinya. Sadam sudah berada dekat dengan gawang lawan. Kaki kanannya sudah mengambil ancang-ancang untuk menendang bola. Tiba-tiba dari samping seseorang dengan sengaja menabrakkan tubuhnya dengan tubuh Sadam hingga Sadam pun jatuh tersungkur dan membuat lututnya terluka. Rasa sakit pada lututnya mengingatkannya dengan bayang-bayang rasa sakit ketika ayah menyiksanya tempo hari. Luka di lututnya mengingatkan ia tentang luka yang ia dapatkan di sekujur tubuhnya. Seketika nafasnya menjadi tidak teratur. Kepalanya benar-benar terasa sakit saat bayangan itu berputar di kepalanya. Tak lama, rasa sakit itu mengilang bersama baying-bayang penyiskaan itu. Kini, Sadam menatap tajam kepada anak seusianya yang menabraknya beberapa saat lalu. Sadam bangkit dari tanah, ia langsung menghampiri anak tersebut dengan rasa amarah yang kini merasukinya. Tanpa basa-basi, Sadam langsung melanyangkan bogem mentah tepat di wajah anak itu. Beberapa temannya di lapang langsung menahan tubuh Sadam yang hendak meninju kembali anak itu untuk kedua kalinya. Anak itu pun lari ketakutan dan meninggalkan lapangan. Sadam terus meronta-ronta agar tubuhnya bisa lepas dari teman-temannya yang menahannya untuk mengejar anak yang menyebakan luka di lututnya. Tapi, sosok anak itu kini sudah hilang berlari entah kemana. Setelah amarah Sadam mulai mereda, teman-temannya langsung melepaskan tubuh Sadam dan kembali bermain sepak bola. Sadam tidak ingin melanjutkan pertandingannya. Ia meninggalkan lapangan dan segera pulang ke Rumah. Jam menunjukan pukul 7 malam. Ayah, ibu, dan Sadam sedang menikmati santapan makan malam di ruang makan. Tiba-tiba… “Ting…Tong…” Bel rumah berbunyi. Mereka bertiga saling berpandangan dengan kebingungan karena mereka tidak mengharapkan tamu yang akan datang malam ini. Ibu langsung berdiri dan berjalan ke pintu depan meninggalkan ayah dan Sadam di meja makan. Meski tak terdengar dengan jelas, ayah dapat mendengar suara seorang wanita yang berbicara sambil membentak-bentak ibu. Karena penasaran, ayah pun langsung menghampiri ibu, disusul oleh Sadam yang juga penasaran. Ketika sampai didepan pintu, Sadam sangat terkejut ketika melihat seorang wanita paruh baya berdiri bersama seorang anak laki-laki yang tadi sore ia hajar pada saat pertandingan sepak bola. “Dia orangnya ?” Tanya Wanita itu kepada anaknya sambil menunjuk Sadam. Anak itu melihat kearah Sadam dengan wajah memar hasil bogem mentah yang dilakukan Sadam. Ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “LIHAT ANAK SAYA! BABAK BELUR DI PUKUL ANAK ANDA!” Bentak wanita tersebut. “Maafkan anak saya, bu !” Kata Ibu sambil membungkukkan badan. “KALIAN BISA DIDIK ANAK GAK SIH!” Kembali wanita itu membentak ayah dan ibu. “Sekali lagi, kami benar-benar minta maaf!” Kini giliran ayah yang membungkukkan badannya. “ANDA DIDIK ANAK ANDA UNTUK JADI PREMAN?!” Tanya wanita itu sambil terus dengan nada membentak. Ayah dan ibu tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Mereka berdua masih tertunduk malu sambil membungkuk meminta maaf. “Dia duluan yang…. PLAKKK!!!” Belum sempat Sadam menyelesaikan kata-katanya, sebuah tamparan keras dari ayah menerpa bibir mungilnya. Sebuah tamparan keras yang membuat bibirnya kembali sobek. Sadam memandang wajah ayahnya yang kini sudah dipenuhi oleh hawa amarah. Tubuh Sadam kembali bergetar ketakutan. Matanya membelalak seolah tahu apa yang sebentar lagi akan menimpanya. Ayah menjambak rambut Sadam dan menyeret tubuhnya kembali kedalam Rumah. Sementar itu, ibu terus meminta maaf pada wanita itu sambil mulai menangis dan terus membungkukan badan. Sadam berusaha melepaskan cengkraman erat ayah pada rambutnya. Namun, kekuatan pria dewasa tidak akan sebanding dengan kekuatan seorang anak berumur 7 tahun. Ayah menghentikan langkahnya tepat didepan gudang yang gelap dan berdebu. Ia mendorong Sadam untuk masuk kedalam gudang itu dan menguncinya dari luar. Dengan sekuat tenaga, Sadam menggedor-gedor pintu dari dalam gudang dan memohon pada ayahnya. “Ayah maafin Sadam, Yah! Maafin Sadam!” Pinta Sadam sambil menggedor-gedor pintu. Ayah tak menghiraukan Sadam, ia hanya berlalu dan kembali ke meja makan untuk menyelesaikan makan malamnya. Beberapa saat kemudian… “Tik…Tik…” Suara dentingan jam dinding yang terdengar ke seluruh ruangan, membuktikan bahwa ruangan itu dikelilingi oleh kesunyian. Dalam kegelapan, tampak seorang anak laki-laki berusia 7 tahun sedang terduduk di lantai dan bersandar pada dinding ruangan. Ia terduduk sambil menyembunyikan wajahnya pada kedua tangannya yang saling menumpuk dan bertumpu pada kedua lututnya. Dalam kegelapan dan kesunyian, anak laki-laki itu sesekali mengusap air matanya yang meleleh di pipi. “Kreeekkk…” Suara pintu terbuka dari luar. Cahaya dari luar mulai menerobos masuk dan menyoroti wajah anak lelaki itu ketika pintu dibuka. Ia menengadahkan kepalanya kearah pintu. Kedua bola matanya yang sembab menangkap sebuah siluet seorang lelaki berbadan tegap sedang berdiri sambil menggenggam sebuah balok kayu panjang. Anak laki-laki itu pun sontak menunjukkan ekspresi sangat ketakutan sambil beranjak berdiri. Matanya terbelalak saat sosok itu berjalan mendekatinya.  Semakin dekat, semakin jelas bahwa sosok lelaki yang membawa balok kayu tersebut adalah ayahnya. “Ayah, maafin Sadam!” rengek Sadam dengan lemah pada ayahnya yang berdiri tegap didepannya dengan sebongkah balok kayu panjang dalam genggamannya. Ayah tidak menghiraukan perkataan Sadam, ia malah mengayunkan balok kayu panjang yang ia genggam dan menghantamkannya tepat mengenai kepala Sadam. Pandangan Sadam mulai gelap. Tubuhnya yang mungil tergulai tak berdaya diatas lantai. Ia merasakan sebuah cairan mengalir di kepalanya. Cairan itu merupakan darah yang mengalir akibat balok kayu yang menghantam kepalanya. Tubuh Sadam sudah sangat lemah. Namun, telinganya masih menangkap suara ibunya dengan samar.. “Ibu, Tolong aku !” Kata-kata terkahir yang keluar dari Sadam dengan nada lemah, hingga Sadam akhirnya tak sadarkan diri. 3 hari kemudian… Mentari mulai terbangun dari tidurnya. Sinarnya yang terang dapat menyinari dan melenyapkan kegelapan malam. Sinarnya yang hangat, menerobos jendela hingga mengenai wajah Sadam yang terbaring di tempat tidur. Perlahan, Sadam mulai membuka matanya yang bulat. Namun karena silau, ia tak mampu membuka penuh kedua matanya. Sadam mencoba membangkitkan tubuhnya dan berusaha duduk diatas kasur. Ia melihat keluar jendela, tampak gedung-gedung pencakar langit seolah sedang berdiri tegap menghadapi cerahnya pagi hari. Kedua mata Sadam mulai menyisiri ruangan ini. Tampak ibunya sedang tertidur diatas sofa sambil telentang. “Dimana ini ?” Saat ia hendak menghampiri ibunya yang tertidur pulas, ia baru sadar bahwa ada sebuah selang yang menempel di lengannya, membuatnya tak bisa bergerak lebih jauh. “Rupanya ini Rumah Sakit.” Kata Sadam sambil kembali menatap kosong keluar jendela. Tak lama, ibu mulai terbangun dari tidurnya. Pandangannya menangkap tubuh Sadam yang sedang duduk diatas kasur menghadap jendela. Ia mencoba memfokuskan kembali pandangannya kepada Sadam. Berulang kali ia mengucek-ngucek matanya agar pandangannya lebih jelas. Setelah pandangannya benar-benar jelas, ia langsung berlari dan memeluk Sadam dengan erat. Sadam hanya kebingungan dengan tingkah ibunya. “Syukurlah nak! Kamu udah sadar.” kata ibunya lalu mencium pipi Sadam. Rasa haru tak dapat lagi di tahan oleh ibu. Ia menangis bahagia karena putranya kini telah sadar kembali. “Ibu kenapa nangis?” Ibu lalu tersenyum dan berusaha menyeka air matanya dan kembali memeluk Sadam dengan erat. “Ayah dimana?” Ibu yang awalnya tersenyum, kini wajahnya berubah menjadi murung. “Kenapa aku disini? Kenapa ibu menangis? Ayah dimana?” Dengan tekad yang kuat, ibu berusaha untuk membuat dirinya tegar dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sadam. “Sadam dipukul sama ayah. Ibu yang bawa kamu ke Rumah sakit. Kamu komaselama 3 hari. Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa nak! Ibu… Ibu…” Ibu tak sanggup meneruskan kata-katanya dan kembali menangis sambil memeluk Sadam dengan erat. “Ibu gak usah khawatir. Aku sayang ibu. Sampai kapanpun aku gak akan pernah ninggalin ibu!” Kata Sadam berbicara di dekat telinga ibu. Ibu melepaskan pelukannya dan mencoba untuk tersenyum. Namun, air matanya masih saja berlinang. “Mulai sekarang, Sadam cuma tinggal sama ibu. Ayah gak akan ganggu kita lagi.” Kata Ibu sambil terus mencoba untuk tersenyum. “Emang ayah kemana? Ibu yakin, aku gak akan di siksa lagi sama ayah?” “Kamu gak usah khawatir! Ayah sekarang udah ditangkap polisi.” Perasaan Sadam bercampur aduk. Ia merasa sedih tapi juga sekaligus merasa tenang. Sadam merasa sedih karena kini ia akan merasakan hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Tapi, ia juga merasa tenang karena tidak akan ada lagi orang yang akan melukai dan menyiksanya. Satu hal yang Sadam pelajari dari kejadian tersebut adalah bahwa suatu saat kelak ia akan menjadi ayah, dan ia harus menjadi ayah yang baik agar anaknya kelak merasakan kasih sayang seorang ayah tanpa harus takut dilukai oleh ayahnya sendiri. Kebahagiaan masa kecilnya sudah terenggut, ia berharap bahwa anaknya kelak mendapatkan masa kecil dengan berbahagia dan berbeda dengan dirinya. Dan Semenjak itu, Sadam dan ibu hanya tinggal berdua. Meninggalkan ayahnya yang terkurung dalam jeruji besi karena kasus kekerasan terhadap anak dan dikenai hukuman selama 20 tahun penjara.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

The Perfect You

read
298.0K
bc

Secret Marriage

read
949.6K
bc

Takdir Cinta

read
500.3K
bc

FINDING THE ONE

read
34.9K
bc

23 VS 38

read
301.6K
bc

UN Perfect Wedding [Indonesia]

read
80.4K
bc

Love Me or Not | INDONESIA

read
572.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook