“Treeeenngggg….” Suara motor sport 2tak milik Dimas memasuki gerbang sekolah.
Ia tidak sendirian kali ini. Seorang gadis dengan seragam putih abu-abu terduduk di jok belakang motornya. Wajahnya tak terlihat jelas karena tertutup helm fullface.
Saat Dimas memasuki tempat parkir khusus motor, disana tampak Ucup yang baru saja memarkirkan motornya terlebih dahulu. Dimas mengambil tempat parkir persis disebelah Ucup. Ucup yang pada saat itu menyadari kedatangan Dimas, ia menolehkan kepalanya dan mendapati Dimas sedang membonceng seseorang. Ucup sangat penasaran dengan siapa gadis dibalik helm tersebut.
“Dari posturnya, sepertinya bukan Maya.” Pikir Ucup dalam hati karena gadis yang dibonceng Dimas tampak lebih tinggi dibandingkan Maya.
Gadis tersebut membuka helm yang ia kenakan. Paras yang sungguh cantik ditambah rambut kecoklatan yang terurai panjang benar-benar membuat gadis tersebut terlihat sempurna. Gadis cantik itu adalah Jessica. Jessica adalah siswi kelas 3 teman sekelas Laras. Selain bersekolah, Jessica juga adalah seorang model. Banyak lelaki yang sangat tertarik dan jatuh hati padanya. Bahkan, ia pun selalu mendapatkan perhatian khusus dari para guru pria. Sudah sangat jelas, bahwa Jessica adalah bintang di Sekolah ini.
Kecantikan Jessica tak dapat melunturkan kekesalannya pada Dimas. Ucup masih memikirkan peristiwa kemarin sore saat Maya, gadis kelas 2 yang ia cintai memberikan handuk dan air minum kepada Dimas. Api cemburu sedang bergejolak didalam tubuh Ucup. Ia menatap sinis kepada Dimas. Betapa tega sahabatnya sendiri memberi sebuah harapan semu kepada Maya, sedangkan sekarang ia sudah bersama dengan gadis lain.
“Dimas, aku ke kelas duluan ya!” pamit Jessica.
“Ok. Nanti makan siang bareng ya!”
Jessica tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia segera meninggalkan Dimas yang masih merapikan rambutnya sambil berkaca pada spion motor. Jessica berpapasan dengan Ucup, ia pun melempar senyum pada Ucup dengan ramah meskipun tak mengenal Ucup. Jessica tak mengenal Ucup karena Ucup memang bukanlah siswa populer. Meskipun Ucup telah memenangkan olimpiade matematika beberapa kali, namun popularitasnya ternyata masih dibawah Dimas. Ucup benar-benar kalah telak oleh Dimas.
“Yuk, Cup !”
Ucup tersenyum menyembunyikan rasa kesalnya. Kini Ucup dan Dimas berjalan menyusuri lorong sekolah. Dimas berjalan didepan, sementara Ucup mengekorinya dari belakang. Beberapa siswi menyapa Dimas dan tersenyum pada Dimas. Dimas pun membalas senyum dan sapaan para gadis-gadis yang tergila-gila olehnya itu. Dibelakngnya, Ucup terus menggerutu dengan kesal. Tak lama, Ucup mulai melihat sosok Maya sedang berjalan kearah mereka berdua. Ia memperhatikan tangan Maya, bahwa Maya sedang menggenggam sebuah kotak berwarna merah muda.
“Entah apapun isinya, pasti buat Dimas.” Kata Ucup dalam benaknya.
“Kak Dimas ! ini buat kakak !” Maya memberikan kotak itu sambil tertunduk malu menyembunyikan wajahnya.
“Makasih Maya !” Jawab Dimas sambil tersenyum.
Setelah kotak itu berada di tangan Dimas, Maya pun berlari menjauh sambil tersipu malu. Api cemburu makin bergejolak di hati Ucup. Ia terus mengepal tangannya untuk meredakan rasa kesal yang sedang menerjangnya.
“Siapa cewek tadi ?”
“Cewek yang mana ? Maya ? Itu adik kelas kita. Doi penggemar gua.”
“Bukan dia. Cewek yang tadi…”
“Cewek yang mana ? Yang itu ? Yang itu ? Apa yang itu ? itu semua penggemar gua.” Kata Dimas menyombongkan diri sambil asal menunjuk kepada siswi-siswi yang ada di sekitar mereka berdua.
“Bukan… Cewek yang lu bonceng tadi… Pacar lu ?”
“Oh….! Jessica ? Penggemar gua juga. Kenapa lu cemburu ?”
“Dari cewek-cewek yang suka sama lu, apa gak ada satupun yang lu suka ?” Kini Ucup semakin penasaran dengan harapan bahwa Dimas tidak membalas cinta Maya.
“Wah kalo itu sih, gua belum tau ! Gua masih milih-milih. Untuk sementara, gua manfaatin aja dulu mereka. Habisnya mereka sering ngasih barang ke gua.” Jawab Dimas dengan enteng.
Ucup menghentikan langkahnya lalu menundukan kepalanya. Dimas menoleh kebelakang karena tak ada respon dari Ucup akan jawabannya itu. Tampak Ucup terdiam mematung sambil mengepal tangannya berusaha sekuat mungkin untuk meredam amarahnya.
“Kenapa lu, Cup ?”
“Maya.” Kata Ucup sambil tertunduk kaku.
“Maya ? Kenapa Maya ?”
“Apa lu juga manfaatin dia dan cuma untuk main-main doang ?” Tanya Ucup sambil terus menunduk.
“Ya… bisa dibilang begitu.”
Ucup tak kuat lagi menahan amarahnya, ia melayangkan sebuah pukulan tepat pada wajah sahabatnya itu. Seketika kotak pemberian Maya yang dipegang Dimas, terhempas jatuh entah kemana. Ucup mendorong Dimas hingga terjatuh ke lantai, dengan sigap Ucup menindih Dimas dan mencoba terus menerus menghajar Dimas. Dimas terus melindungi kepalanya sambil terus berusaha mendorong Ucup. Meski tubuh Ucup gemuk, tapi Dimas juga orang yang sering berolahraga sehingga kekuatan Dimas mampu menandingi Ucup. Dimas pun berhasil mendorong Ucup. Tap, Dimas tidak melakukan itu untuk sekedar melindungi dirinya saja. Kini ia pun membalas menimpa Ucup dan terus berusaha menghajar Ucup. Dengan posisi bertahan, Ucup pun mampu melindungi kepalanya dari pukulan-pukulan yang dilemparkan oleh Dimas. Semua siswa-siswi segera berkerumun dan menonton perkelahian Ucup dan Dimas tanpa ada yang berusaha melerai. Semua orang bersorak mendukung Dimas.
Perkelahian semakin sengit, karena posisi terus berbalik. Menyerang, bertahan, menyerang, bertahan begitu seterusnya bahkan ada kala dimana mereka berdua sama-sama menyerang. Beberapa siswi yang menonton sanagat ketakutan akan hal buruk terjadi pada Dimas. Sementara para siswa hanya menyoraki untuk memeriahkan pertarungan itu.
Sadam datang entah darimana bersama dengan Laras dan mencoba menghentikan perkelahian. Sadam menarik tubuh gempal Ucup dan mencengkram kedua tangannya, sementara Laras meminta bantuan kepada para siswa untuk menahan tubuh Dimas.
“STOPPP!!!! GUA BILANG STOP, YA STOP!!!” Bentak Sadam tepat didepan wajah Ucup sambil tubuhnya menindih Ucup dan kedua tangannya merentangkan kedua tangan Ucup diatas lantai sehingga akhirnya Ucup pun tak bisa berkutik.
Ucup melihat raut wajah Sadam dan membuat dirinya sadar kembali. Amarahnya kini telah mereda. Dirasa Ucup sudah dapat mengontrol dirinya kembali, Sadam pun melepaskan tubuhnya yang menahan Ucup, dan Ucup pun mengangkat tubuhnya dan terduduk sambil bersandar di dinding. Mesikpun amarah nya sudah mereda, kesadarannya sudah kembali pulih, namun tatapannya pada Dimas semakin tajam.
“Akan kuhajar dia lain waktu.” Kata Ucup dalam Hati.
Pertarungan antara Ucup dan Dimas pun berakhir.
Beberapa menit kemudian…
“Srekkk…Srekkk…” Ucup sedang sibuk menggosok dinding-dinding kamar mandi.
Dibelakangnya, Dimas juga sedang sibuk mengepel lantai. Mereka berdua mendapat hukuman membersihkan kamar mandi akibat perkelahian mereka berdua tadi pagi.
“Lu jangan ngepel dulu lah! Entar juga kan bakal diinjek lagi.”
“Ya terus gua ngapain dong ?”
“Lu bersihin wc sebelah aja! biar kita cepet beres.”
Dimas membanting gagang pel yang digenggamnya. Kepalan tangannya memukul pintu kamar mandi yang membuat Ucup terkejut.
“LU NGAPAIN NYURUH-NYURUH GUA!!! INI SEMUA GARA-GARA LU YANG DULUAN MUKUL GUA!!!”
“Kalo lu gak mau ini cepet beres, mending kita ribut lagi aja yuk!” Ajak Ucup sambil membusungkan dadanya.
“ANJ*NG LU!!! LU PIKIR GUA TAKUT APA ??!! SINI… MAJU LU!!!” Tantang Dimas.
Ucup menutup pintu dengan sekuat tenaga sehingga kini mereka berdua berada di dalam bilik kamar mandi yang tertutup.
“JANGAN MENTANG-MENTANG LU LEBIH POPULER DARI GUA, TERUS GUA TAKUT SAMA LU! LU DULUAN SINI MAJU!!!” Ucup menantang balik Dimas.
“LU DULUAN YANG MAJU !” bentak Dimas.
“LU DULUAN !” balas Ucup.
Satu jam kemudian…
“Aaaahhh… Akhirnya beres juga!” Kata Dimas sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
Bel istirahat telah berbunyi. Dimas mengusap keringat pada keningnya dan berdiri di depan kamar mandi. Di dalam, Ucup masih sibuk mengepel lantai kamar mandi sebagai tanda bahwa hukuman mereka berdua telah selesai. Rupanya tak ada perkelahian yang terjadi ketika kamar mandi tertutup.
“Beres kan? gua cabut duluan.” Kata Dimas dengan nada ketus.
Dimas berjalan meninggalkan Ucup yang masih menata peralatan kebersihan. Langkah Dimas terhenti tepat di depan kelas Jessica. Ia menengok kedalam kelas dan mendapati Jessica sedang duduk menunggunya sedari tadi. Jessica menangkap sosok Dimas yang berdiri di depan pintu kelas. Ia tersenyum kepada Dimas dan segera beranjak dari tempat duduknya. Jessica sempat mengeluarkan tisu dari saku depan seragamnya. Ia mengusap kening dan leher Dimas yang dibanjiri oleh keringat.
“Kenapa sih kamu berantem segala? Nanti gantengnya hilang loh!” Tanya Jessica sambil mengusap keringat yang membasahi kening Dimas.
“Ucup yang duluan mukul. Masa aku gak balas?”
“Emang kamu bikin kesel dia ?”
“Gak tau. Udah lah gausah di bahas. Yuk ke Kantin !” Ajak Dimas dan menghentikan Jessica untuk membahas perihal perkelahiannya.
Dimas dan Jessica pun berjalan beriringan menuju Kantin. Jessica memberanikan diri untuk menggengam tangan Dimas. Jari-jemarinya masuk ke sela-sela jari-jemari Dimas dan ia genggam dengan erat. Dimas agak terkejut dengan perlakuan Jessica, namun saat ia menatap Jessica yang tersenyum bahagia, ia pun membalas senyuman Jessica dan membiarkan gadis itu menggenggam pergelangan tangannya.
“Apakah aku mulai mencintainya?” Tanya Dimas dalam hati.
Dibelakang kemesraan mereka, berdiri seorang gadis imut yang hatinya sedang hancur berkeping-keping melihat kemesraan mereka, gadis imut itu adalah Maya.
Sementara itu, Ucup telah selesai merapikan alat-alat kebersihan. Kini ia sedang menaiki tangga untuk segera kembali ke kelasnya. Ia ingin sekali mencurahkan isi hatinya kepada Sadam yang mana adalah salah satu sahabatnya juga. Namun rupanya ia tidak menemukan Sadam di dalam kelas. Ucup menyisiri lorong-lorong kelas di lantai 2, namun hasilnya tetap saja nihil. Ia tak juga dapat menemukan Sadam. Ia pun mencoba untuk kembali lantai 1 gedung sekolahnya untuk mulai menyisiri ruangan satu persatu.
Langkah kakinya terus berjalan kesana kemari demi mencari sosok sahabatnya. Namun, tak lama langkahnya terhenti saat ia melihat Sadam sedang bermain Gitar diiringi oleh Laras yang sedang bermain biola di sampingnya. Tampak kebahagiaan terpancar dari diri mereka masing-masing. Angin berhembus menerpa pohon yang sedang berdiri kokoh tepat diantara mereka berdua. Hembusan angin membuat dedaunan berjatuhan dan menampilkan pemandangan yang sangat romantis. Ucup sangat cemburu dengan apa yang dilihatnya. Ia berharap bahwa suatu saat ia bisa merasakan hal yang sama dengan wanita yang ia cintai. Ucup juga ingin merasakan tersenyum bahagia bersama seorang kekasih, ditemani oleh hembusan angin yang menyejukkan hati dan daun-daun yang menari-nari.
Ucup melanjutkan langkahnya untuk menjauh dari mereka berdua.
Langkah kaki Ucup mengantarkannya hingga sampai ke kantin. Ucup merasakan tenggorokannya mulai mengering. Ia memutuskan untuk memesan sebuah minuman jus buah. Sambil menunggu jus buah yang sedang di giling di mesin blender, kedua mata Ucup menyisiri setiap sudut di kantin ini. Bola matanya menangkap sosok Dimas yang sedang asyik tertawa dengan Jessica sambil saling menyuapi. Sesekali tampak mereka saling menggelitiki satu sama lain. Api cemburu kembali membakar perasaanya. Kedua sahabatnya sudah menemukan orang yang tepat untuk saling mencintai, sedangkan cintanya harus bertepuk sebelah tangan.
“Apakah aku tidak pantas merasakan kebahagiaan seperti itu?” Tanya Ucup dalam hati
“Nak, ini jus nya !” Penjual jus buah membuyarkan lamunan Ucup.
Ia segera membayar dan bergegas kembali ke kelas. Tapi, Ucup harus menghentikan kedua kakinya lagi untuk melangkah, karena ia melihat seorang siswi sedang duduk di tangga sembari menyembunyikan wajahnya pada kedua tangan yang ia lipat. Isak tangisnya tidak terlalu keras, namun cukup terdengar oleh Ucup.
“Plop…” Ucup mencoblos sedotan pada cup berisi jus Stroberi yang ia beli.
“Nih minum!” Kata Ucup sambil menempelkan cup itu kepada tangan gadis yang terlipat.
Hawa dingin dari cup mengalir pada tangannya. Ia menengadahkan kepalanya. Matanya yang sembab sudah berlinang air mata, serta pipinya sudah basah oleh air mata yang meleleh. Gadis itu adalah Maya. Ucup tahu bahwa gadis itu adalah Maya karena ia tahu betul postur tubuh Maya. Bagaimana tidak? Ucup ia telah mencintai Maya sejak lama.
“Apa ini?” Tanya Maya di sela isak tangisnya.
“Ini bubur. Ya jus Stroberi lah...”
“Siapa tau udah minum ini, kamu jadi lebih tenang.” Lanjut Ucup sambil tersenyum.
Maya menatap Jus Stroberi pemberian Ucup, namun tak berani mengambilnya.
“Tenang aja! Didalamnya gak ada racun atau obat perangasang. Kalo gak percaya Tanya aja yang jualnya!” Kata Ucup meyakinkan Maya.
Maya mulai tersenyum dan mengambil jus itu.
“Makasih !” Kata Maya yang lalu meminum jus Stroberi itu.
“Dengan senang hati.” Jawab Ucup sambil tersenyum.
Karena merasa Maya sudah lebih tenang, Ucup pun meninggalkannya dan kembali ke kelas. Tampak raut bahagia terpancar dari wajah Ucup. Hari ini ia telah berhasil menghapus sedikit kesedihan pada orang yang ia cintai. Namun sesampainya di kelas, Ucup teringat akan sesuatu.
“Sial*n. Gua jadi haus nih! Woy ada yang punya minum gak?” Tanya Ucup kepada semua temannya yang berada di kelas.
Sadam kembali ke kelas setelah bel kembali berbunyi. Ia melihat Ucup sedang duduk disamping bangkunya sambil senyum-senyum sendiri. Sadam masih merasa kesal dengan peristiwa tadi pagi. Ia segera berjalan kearah bangkunya dan mengambil tasnya, lalu meminta salah satu temannya untuk bertukar tempat duduk dengannya. Ucup sangat kecewa dengan sikap Sadam yang kini menjauh tanpa tahu persoalan sebenarnya apa yang membuat ia berkelahi dengan Dimas.
Tak lama, Dimas berjalan memasuki kelas. Ia tampak santai dengan headset kecil yang menempel di telinganya. Lagu “Nothin’ On You” dari Bruno Mars feat B.o.B ia putar dan ia dengarkan sambil bernyanyi kecil. Tingkah Dimas yang seakan tidak menyesali perbuatannya, membuat Sadam semakin jengkel. Ia menatap Dimas dengan tatapan sinis dan sungguh kecewa dengan sikap kedua sahabatnya.
��
“Yuk Balik!” ajak Sadam pada Laras yang sedang asyik bermain biola di pinggir lapangan.
“Yuk!” ajak Laras sambil bersiap-siap dan membereskan biolanya.
“Dimas, kita pulang duluan ya!” Pamit Laras sambil melambaikan tangannya.
“YOOO!!!” teriak Dimas karena ia sedang fokus bermain basket.
Sadam hanya terdiam dan lalu merangkul pundak kekasihnya. Laras sadar bahwa hubungan Sadam sedang tidak baik dengan kedua sahabatnya itu semenjak kejadian tadi pagi. Tapi, Laras tidak ingin membahasnya dengan Sadam. Karena ia mengerti meskipun Sadam sedang kesal dengan kedua sahabatnya, namun jauh dalam lubuk hati Sadam, ia sedang merasakan kesedihan dan kekecewaan.
“Hati-hati pulangnya ya!” Kata Laras yang telah berdiri di depan pintu gerbangnya sambil melambaikan tangan kepada Sadam.
Sadam melempari sebuah senyuman manis pada kekasihnya itu.
Laras mulai memasuki rumahnya setelah bayangan Sadam menjauh dan perlahan menghilang.
Vespa berwarna biru muda berjalan menuju arah pulang. Sadam mengendarai Vespa-nya dengan kecepatan 30km/jam. Ia menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Pikirannya mulai sedikit jernih dari peristiwa perkelahian antara kedua sahabatnya itu. Rasa kesal, sedih, dan kecewa seolah telah hilang terbawa bersama angin yang berhembus. Kini Sadam sudah berada di persimpangan. Ia membelokan kemudinya kearah kiri melewati jalan yang agak sepi dan mulai menyempit dibandingkan Jalan Raya sebelum ia berbelok.
Seorang pemuda sedang berkerumun di sebuah warung bersama kelima temannya. Dari penampilannya sangat jelas memperlihatkan bahwa ia anak berandalan. Kemeja sekolahnya tidak ia masukkan kedalam celana abu-abu. Sebuah kalung berwarna perak berbahan titanium bergelantungan di leher pemuda itu. Tangan kanannya memegang sebatang rokok, sedangkan tangan kirinya merangkul bahu seorang gadis yang juga sedang merokok. Si pemuda dan gadis yang berada di sebelah kirinya duduk diatas jok motor yang terparkir, sedangkan keempat teman lainnya duduk didalam sebuah saung yang terletak disamping warung itu. Pemuda itu bernama Randy. Ia adalah pemimpin dari orang-orang ini.
Kepulan asap rokok mengepul disekitar warung itu karena setiap orang menghisap rokok yang ada ditangannya. Tampak mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa terbahak-bahak entah apa yang sedang mereka bicarakan. Seketika Randy menghentikan tawanya setelah ia menoleh ke kanan dan menangkap sosok Sadam yang mengendarai vespanya dari kejauhan melaju mendekat. Para anak buah Randy seketika menghentikan tawanya dan heran melihat pemimpin mereka yang tiba-tiba saja berhenti tertawa dan malah menunjukkan ekspresi kesal. Semua langsung beranjak dari duduknya dan menoleh kearah yang sama dengan Randy. Mereka tetap kebingungan karena yang mereka lihat hanya seorang siswa yang sedang mengendari vespanya dengan santai.
“Kalian udah lama gak menghajar orang kan ?” Tanya Randy sambil menyeringai.
Randy menyuruh para anak buahnya untuk menghalangi jalan yang akan dilalui oleh Sadam.
Sadam menghentikan laju Vespa-nya karena kini ada empat pemuda yang berbaris menutup jalan yang akan dilaluinya.
“Siapa kalian?”
Tiba-tiba seseorang keluar dari balik tubuh salah seorang yang bertubuh gemuk yang sedang berbaris menghadang jalan.
“Sadam… Sadam… Sadam… sudah lama kita tidak berjumpa ya?” Kata Randy yang tiba-tiba keluar dari balik tubuh seseorang sambil bertepuk tangan dan tersenyum pada Sadam.
Sadam melepas helm dari kepalanya karena ia yakin akan ada pertempuran yang melibatkannya sesaat lagi. Dimana ada Randy, disitu ia harus terlibat pertarungan karena mereka adalah musuh bebuyutan sejak lama.
“Randy… mau apa lu?” Tanya Sadam dengan nada malas.
“Mau menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.” Kata Randy yang berjalan semakin mendekat kearah Sadam.
“Urusan kita udah selesai. Semenjak kekalahan lu yang terakhir.” Kata Sadam dengan wajah serius dan tatapan tajam.
“Glederrr…” Suara petir terdengar bergemuruh diatas langit.
Cahaya kilat petir tampak terlihat diatas awan yang mulai menghitam. Sadam dan Randy menatap kearah langit yang hendak menumpahkan air hujan. Randy tersenyum menyeringai dan kembali menatap Sadam.
“Jo, Fico, Bagas, Opik! kalian semua diem aja dipinggir! ini akan menjadi pertarungan satu lawan satu.” Kata Randy dengan tenang.
Sadam yakin bahwa ia tidak bisa menghindari pertarungan ini. Pilihan yang ia punya hanyalah bersiap atau menyerah sebelum bertarung. Keempat teman Randy mundur menjauhi arena pertarungan.
Sebutir air hujan melompat terjun bebas dari atas awan, mendarat tepat di tengah-tengah antara Sadam dan Randy. Sebutir air itu menjadi tanda bahwa pertandingan harus dimulai.
Randy berlari kearah Sadam dengan sangat cepat. Kepalan tangannya berhasil meninju perut Sadam yang masih lengah. Bola mata Sadam terbelalak menahan rasa sakit di perutnya. Segera Sadam memakai sikut tangan kanannya untuk memukul punggung Randy, lalu mendorongnya untuk menjauh. Randy seolah kesetanan, ia tak merasakan sakit pada punggungnya. Ia tetap menyeringai dan bersiap untuk kembali menyerang Sadam. Randy mulai berlari kembali menyerang Sadam. Kepalan tangannya kini mengincar kepala Sadam.
“Woosshhh…” Sebuah tinju dilayangkan kearah wajah Sadam.
Namun, Sadam berhasil menghindar dan segera menangkap tangan Randy dan membanting tubuh Randy dengan sekuat tenaga.
“Bruukkk…” Tubuh Randy ambruk keatas tanah.
Tanpa pikir panjang, Sadam lalu menindih tubuh Randy dan menghajar Randy habis-habisan. Sayangnya, serangan terakhir Sadam meleset dan mengenai tanah. Dengan sigap Randy membalik keadaan dan kini menindih Sadam lalu menghajarnya tanpa ampun. Sadam sekuat tenaga bertahan di posisinya saat ini sambil berpikir tenang dan mencari celah dari serangan Randy agar ia bisa kembali menyerang. Sebuah pukulan dari tangan kanan Randy berhasil ia tahan. Sadam menggenggam kepalan tangan Randy sekuat tenaga dengan tangan kirinya. Pukulan kembali dilayangkan dari tangan kiri Randy, dan kembali ia tahan sekuat tenaga dengan tangan kanan. Merasa mendapat celah, Sadam melepaskan genggamannya dan menarik kepala Randy yang ia benturkan dengan kepalanya sendiri. Randy mulai limbung karena kepalanya merasa pusing, Sadam mendorong tubuh Randy dan membalikan keadaan.
“Buaakkk…buaakk…” Sadam menghajar Randy hingga kini darah mulai mengucur dari mulut Randy.
Lagi-lagi saat hendak melayangkan pukulan terakhir, tiba-tiba sepasang tangan menarik pinggangnya hingga terangkat dan tubuhnya dilempar ke samping oleh seseorang. Setelah terjatuh ke tanah, Sadam segera bangkit dan memastikan siapa yang mengganggu pertarungannya. Rupanya keempat teman Randy yang tadi hanya menonton, kini turut masuk kedalam pertarungan.
Beberapa saat kemudian, Sadam masih terus berusaha sekuat tenaga melawan keempat orang temannya Randy. Namun perbedaan jumlah membuatnya kualahan. Keringat bercampur air hujan dan darah entah milik siapa sudah membasahi seragam yang ia kenakan. Hujan semakin deras, membuat pertarungan ini semakin sengit dan terus berlanjut.
5 menit kemudian, Sadam berdiri setelah tersungkur akibat serangan salah satu dari keempat teman Randy. Saat ia berhasil berdiri dengan tegap, tiba-tiba saja salah satu teman Randy yang berbadan gemuk menyeruduk bagai banteng mengamuk dan membuat tubuhnya terhempas lalu jatuh tak berdaya diatas tanah. Sadam tergulai lemas menghadap langit. Wajahnya sudah babak belur, tenaganya pun sudah habis. Kini ia hanya bisa menikmati tetes demi tetes air hujan yang membasuh wajahnya.
Tiba-tiba sosok Randy menghalangi pandangan Sadam yang menatap langit. Sadam melihat kearah Randy, ia melihat bahwa Randy sudah menggenggam sebuah balok kayu panjang. Sadam hanya pasrah sambil tersenyum.
“Jangan becanda ! Balok kayu ?” Kata Sadam sambil tersenyum.
Ingatannya membawa dirinya terbang kembali ke masa lalu. Masa dimana ia sering mendapat siksaan dari ayahnya menggunakan balok kayu. Tergambar jelas dalam ingatannya ketika ayahnya memukuli sekujur tubuhnya dengan balok kayu dan setelahnya ia terkapar diatas lantai dengan tubuh penuh luka. Pada saat itu Sadam kecil berkata pada dirinya sendiri “Aku selalu lemah dihadapan ayah. Aku tidak boleh lemah dihadapan orang lain”. Semakin sering ia mendapatkan siksaan dari ayahnya, semakin sering juga ia melampiaskannya kepada orang lain. Banyak sekali teman sekolahnya yang ia bully. Salah satunya adalah Randy.
Kini ingatannya membawa terbang menuju masa dimana ia bertemu dengan Randy untuk pertama kali ketika mereka berumur 10 tahun.
7 tahun yang lalu…
“Perkenalkan namaku Randy Pangestu. Semoga kita menjadi teman baik ya!” kata Randy sambil mengajak Sadam untuk berjabat tangan.
Sadam hanya menepis jabat tangan Randy lalu pergi meninggalkan Randy yang berdiri mematung. Sadam dan Randy pada saat itu masih duduk di Sekolah Dasar. Semenjak hari itu, Randy selalu menjadi target pelampiasan Sadam.
“Sadam! Maafin aku Sadam!” Randy memohon sambil berusaha mendobrak pintu kamar mandi yang dikunci oleh Sadam dari luar.
Sadam dan beberapa teman lainnya hanya tertawa melihat Randy terus memohon sambil berusaha mendobrak-dobrak pintu kamar mandi. Tidak hanya dikurung, tapi kemeja seragam Randy telah diambil paksa hingga ia terpaksa menahan hawa dingin karena bertelanjang d**a. Sadam memberi isyarat kepada teman-temannya. Mereka pun mengerti. Mereka langsung masuk kedalam bilik kamar mandi satunya dan mengguyur Randy dari atas sekatan bilik kamar mandi.
“Byurrr…Byuurrr…” Randy semakin basah kuyup.
Ia kini hanya pasrah sambil menangis, sementara Sadam dan teman-temannya tertawa seperti Iblis. Setelah merasa puas, Sadam pun membuka kunci kamar mandi tempat Randy dikurung.
“Liat temen-temen, kayak tikus kecemplung got!” Kata Sadam sambil tertawa puas.
Randy terus menangis karena ia diperlakukan seperti itu. Penderitaan Randy rupanya belum berakhir. Kini mereka memukuli Randy hingga mereka merasa puas. Satu persatu mulai meninggalkan Randy yang masih menangis dan babak belur akibat dihajar teman-temannya. Sadam belum meninggalkan Randy. Ia masih berdiri mematung namun tanpa ekspresi. Sadam benar-benar merasa bingung. Entah kenapa beberapa saat lalu ia sangat menikmati dan merasa puas mengerjai Randy, namun sekarang perasaannya hilang begitu saja. Hanya kehampaan yang tersisa didalam hati Sadam.
“Randy… Hidup ini memang tidak adil. Semoga kau bisa melewatinya!” Kata Sadam sambil melempar kemeja seragam milik Randy ke lantai, lalu ia pergi.
“Sadam! Lihat saja nanti, suatu saat akan kubalas semua perbuatanmu!” Randy kecil yang awalnya menangis, kini dirinya dipenuhi rasa dendam terhadap Sadam.
Semenjak hari itu, Randy kembali pindah sekolah dan berpisah dengan Sadam.
Beberapa tahun kemudian, Sadam dan Randy kini sudah menduduki bangku SMP di sekolah yang berbeda. Tahun pertama, Sadam masih sering mem-bully teman-temannya. Padahal ayahnya sudah tidak pernah menyiksanya lagi karena sudah dipenjara. Tapi trauma yang dialami Sadam masih membekas. Sedangkan Randy, ia terus berusaha menciptakan tentara yang kuat untuk membalaskan dendamnya pada Sadam. Hingga akhirnya mereka kembali bertemu. Pertempuran antara geng Sadam dan geng Randy pun terjadi. Pertarungan yang sangat sengit diantara keduanya, namun dendam Randy masih belum terbalaskan karena pemenang dari pertempuran itu adalah geng Sadam. Tahun kedua, trauma Sadam sudah mulai memudar dan Sadam pun sudah berhenti mem-bully teman-temannya. Namun ia masih terus harus terlibat perkelahian dengan korban-korbannya yang merasa dendam padanya. Sedangkan Randy, masih terus memperkuat tentaranya karena ia merasa belum puas telah kalah oleh Sadam. Di Akhir tahun kedua bahkan tahun ketiga, Randy masih saja kalah oleh geng Sadam.
“Ini udah kekalahan lu yang ketiga. Mau sampai kapan lu nantang gua?” Tanya Sadam pada Randy yang tergulai lemas diatas tanah.
“Gua bakal terus berusaha sampe dendam gua terbalaskan!” Kata Randy sambil mengusap darah yang mengalir dari mulutnya.
“Gua mau hidup tenang setelah masuk SMA! Jadi urusan kita udah selesai. Karena sampai kapan pun lu gak akan pernah ngalahin gua!” Kata Sadam lalu pergi bersama geng-nya meninggalkan Randy yang masih terkapar diatas tanah.
Air mata Randy mulai mengalir karena ia tak bisa lagi menahan rasa kesal.
“Kenapa begitu sulit menumbangkan orang yang jahat padaku? Apakah benar bahwa hidup ini tidak adil?” pikir Randy dalam hati.
Ingatan yang membawa Sadam ke masa lalu telah sirna. Kembali ke masa sekarang dimana ia sedang terkapar, sementara di hadapannya telah berdiri seseorang yang telah menaruh dendam kesumat sambil menggenggam sebuah balok kayu.
“Jangan becanda ! Balok kayu ?” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Kenapa lu ketawa ? Apa lu udah sadar kalo kali ini lu bakalan kalah ?” Tanya Randy bingung dengan sikap Sadam.
Sadam kembali tersenyum.
“Ayo hajar gua! kita akhiri segalanya! Tapi… biarkan gua Tanya satu hal sama lu!” kata Sadam yang semakin membuat Randy kebingungan.
“Hidup memang tidak adil. Bukan?” Tanya Sadam sambil tersenyum.
Pertanyaan yang keluar dari mulut Sadam membuatnya sadar akan satuh hal. Randy sadar bahwa meskipun ia menghajar Sadam, tidak akan membuatnya merasa menang karena kali ini pertarungan antara ia dan Sadam sangatlah tidak adil. Itu berarti apa yang pernah dikatakan Sadam adalah benar. Dan lagi, pertarungan kali ini malah membuat dirinya terlihat seperti Sadam saat ia di bully oleh Sadam dan teman-temannya dulu. Randy semakin bimbang karena apapun langkah yang ia ambil, entah itu menghajar Sadam ataupun tidak, tetap akan membuatnya merasa kalah. Randy memundurkan langkahnya. Air matanya mulai mengalir deras seperti air hujan yang kini semakin deras menghujani tubuhnya.
“AAAAARGGHHHH!!!! AAARRRGGGHHHH!!!” Randy terus berteriak untuk melepaskan rasa kesal dan rasa bimbangnya.
Teman-temannya menatapnya dengan penuh kebingungan. Tak lama Randy pun memantapkan pilihannya.
“Menghajar ataupun enggak, gua akan merasa kalah, tapi seenggaknya gua bakalan sedikit lebih puas kalo ngehajar lu!” Kata Randy yang kini kembali bersiap mengayunkan balok kayu untuk menghajar Sadam.
Randy telah mengambil keputusan, maka Sadam hanya bisa memejamkan mata dan bersiap dengan apa yang akan terjadi.
“Kalo lu sampe mati, semoga kita bertemu kembali di Neraka! ARRRGHHHH” kata Randy sambil berteriak dan balok kayu pun mulai ia ayunkan kepada Sadam.
“Orang yang penuh keraguan, gak akan pernah bisa membunuh gua.” Gumam Sadam sambil memejamkan matanya.
Mata Sadam tertutup rapat hingga tak ada satupun yang bisa ia lihat melainkan hanyalah kegelapan. Seketika suara-suara menjadi hening. Bahkan Sadam bisa menikmati setiap suara butiran air hujan yang jatuh menghempas tanah. Sadam terus menunggu balok kayu itu mengenai tubuhnya. Tapi, ia tak merasakan apa-apa. Padahal Randy sudah memutuskan kehendaknya.
Perlahan kegelapan mulai terkikis oleh cahaya saat Sadam membuka matanya. Tak ada siapapun yang mengerubunginya. Lalu ia mendengar suara orang-orang sedang bertarung. Sadam mengangkat tubuhnya yang semula terbaring diatas tanah menjadi posisi duduk. Kini ia bisa melihat dua orang yang sedang bertarung melawan Randy dan keempat temannya. Kedua orang itu adalah Ucup dan Dimas.
“Kedua sahabatku telah kembali.” Gumam Sadam sambil tersenyum.
Kekompakan mereka berdua dalam bertarung membuat semangat Sadam berkobar. Tak peduli sederas apapun hujan turun, takkan mampu memadamkan semangatnya. Tak perlu membuang-buang waktu, Sadam pun berlari menghampiri kedua sahabatnya itu.
“Jangan sampai lengah!” Kata Sadam sambil tersenyum pada Ucup dan Dimas.
Kedua sahabatnya pun membalas senyuman penuh arti dari Sadam. Persahabatan ketiganya memberikan energi positif satu sama lain.
Pasukan Randy mulai berteriak dan berlari menyerang kearah mereka bertiga. Tak mau tinggal diam, ketiganya pun berlari menyerang musuh yang ada dihadapan mereka.
Pertarungan antara 3 sahabat melawan 5 pemuda pun berlangsung sangat sengit.
Pertarungan antara dendam yang dialami Randy melawan kesalahan akibat trauma masa lalu Sadam pun akhirnya berakhir bersamaan dengan hujan yang kini sudah mulai reda. Pelangi mulai tampak terlihat dari arah barat. Warnanya yang sungguh mempesona tampak cantik terlebih muncul setelah kegelapan langit yang memudar.
“Badai telah berlalu. Biarkanlah dendam lu pergi bersama badai itu! Jalanlah kearah yang lebih baik karena sampai kapanpun dendam lu gak akan pernah terbalaskan! Gua pengen mengakhiri ini semua karena gua ingin bahagia menikmati hidup. Kalo lu masih ingin terus dendam sama gua, pada akhirnya lu hanya akan memperkeruh hidup lu sendiri. Sementara itu, gua akan hidup tenang dan menertawakan masa lalu dan masa yang akan datang. Gua harap, ini kekalahan lu yang terakhir! Gua gak mau ngeliat kekalahan lu yang selanjutnya! Setiap kekalahan yang lu rasakan, setiap itu juga gua merasa bersalah atas kesalahan gua di masa lalu.” Kata Sadam sambil menatap Randy yang sudah terkapar diatas tanah becek dengan air mata yang terus mengalir.
“Dam, lu bener. Hidup itu memang tidak adil. Gua hanya ingin membuat lu merasakan kekalahan seperti apa yang dulu gua rasakan. Tapi, pada akhirnya orang lemah hanya akan bisa meratapi hidup yang tidak adil ini.” Kata Randy sambil matanya mengawang ke langit.
“Dy, Gua minta maaf!” Kata Sadam sambil mengajak Randy untuk berjabat tangan.
Randy berusaha mengangkat tubuhnya sendiri dengan dibantu oleh para anak buahnya agar ia bisa duduk.
Setelah itu, ia menepis tangan Sadam yang mengajaknya berjabat tangan. Ia menatap Sadam dengan tatapan yang sangat tajam. Sadam hanya terdiam setelah Randy menepis ajakannya berjabat tangan. Ucup, Dimas, dan teman-teman Randy terdiam mematung tak berani ikut campur dengan mereka berdua. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.
“Perkenalkan namaku Randy Pangestu. Semoga kita menjadi teman baik ya !” kata Randy sambil mengajak Sadam untuk berjabat tangan.
Perkataan yang sama persis Randy ucapkan ketika pertama kali bertemu Sadam di Sekolah Dasar. Sadam mengingat betul kejadian itu, dan pada saat itu ia menepis ajakan Randy untuk berjabat tangan dan malah mem-bully Randy. Akibat perbuatannya, kini Randy menjadi seperti ini. Sadam tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Ia pun menjabat kembali tangan Randy.
“Mari kita berteman !” Kata Sadam sambil membalas senyuman Randy.
Pertarungan dan dendam selama bertahun-tahun pun akhirnya berakhir dengan damai. Sadam, Ucup, dan Dimas kini pergi meninggalkan mereka setelah saling bersalaman. Dalam perjalanan, Sadam menyadari bahwa hidup memang tidak adil. Sebagai orang lemah, kita akan terus disakiti oleh orang-orang yang lebih kuat. Randy adalah contoh orang lemah yang terus disakiti oleh orang yang kuat seperti dirinya. Dan begitupun dirinya adalah contoh orang lemah yang akan terus disakiti oleh orang yang lebih kuat yaitu ayahnya.
“Jika orang-orang yang kuat terus menyakiti orang-orang yang lebih lemah, sampai kapan kedamaian akan tercipta? Hidup begitu mengerikan. Gua jadi ragu untuk memiliki keturunan. Lebih baik ia tidak lahir ke Dunia daripada tergerus oleh kejamnya kehidupan.” Pikir Sadam dalam hati.