Di Rumah Dimas pasca pertarungan dengan geng Randy…
“GOOOLLL…!!!” Teriak Dimas yang lalu dilanjutkan berjoget-joget ria setelah ia berhasil memasukkan bola ke gawang milik tim Sadam.
Ucup dan Sadam memutuskan untuk menginap di rumah Dimas karena kebetulan besok adalah hari sabtu dimana mereka tidak perlu berangkat ke sekolah.
“Cup, main Cup! males gua kalah mulu!” Kata Sadam sambil membangunkan Ucup yang sedang tertidur pulas diatas kasur padahal jam masih menunjukkan pukul 7 malam.
“WOOOOY! CUP! BANGUUUUN!!!!” Teriak Dimas di kuping Ucup.
“Lu kalo cuma mau tidur, ngapain kesini? Tidur mah di Rumah lu juga bisa!” kata Sadam sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ucup yang masih juga tertidur pulas.
“CUP! BANGS*T ILER LU KENA BANTAL GUA!” Dimas terus membentak Ucup agar bangun dari tidurnya.
Ucup masih tertidur pulas diatas kasur Dimas.
Dimas dan Sadam memutar otak memikirkan cara agar Ucup bisa terbangun dari tidurnya. Dimas menatap Sadam dan tersenyum. Pertanda bahwa Dimas sudah menemukan ide cemerlang yang memenuhi otaknya. Dimas mendaratkan bibirnya di dekat telinga Ucup dan berbisik.
“Cup, kalo lu gak mau bangun, gua bakalan pacaran sama Maya!” Bisik Dimas pada daun telinga Ucup.
“Weeiitttssss!!! Langkahin dulu mayat gua, Bos!” kata Ucup yang seketika terbangun dari tidurnya.
“Maya? Maya adik kelas yang nge-fans sama lu, Dim?” Tanya Sadam penasaran.
“Yoi. Ternyata sobat kita satu ini naksir dia. Makanya pas tau gua mainin perasaan Maya dia langsung mukul gua, dan… lu tau sendiri lah kelanjutannya tadi pagi.” Kata Dimas menjelaskan pada Sadam.
Ucup hanya tertunduk malu.
“Udah ah mending kita main. Gausah bahas Maya !” kata Ucup lalu beranjak dari tempat tidur dan mengambil stik PS.
Ketika Dimas dan Ucup sedang bermain PS, Sadam mencoba menelpon ibunya karena ia belum meminta izin untuk menginap di rumah Dimas.
“Halo, Bu!”
“Halo, Sadam !”
“Bu, Sadam nginep di rumah Dimas ya!”
“Iyaaaa, jangan bandel ya! Kasian orang tuanya Dimas.”
Tiba-tiba Ucup berteriak untuk mengerjai Sadam.
“LARAS!!! NGAPAIN BUKA BAJU???” teriak Ucup sambil pandangannya tetap fokus ke pada layar TV.
“ADA PEREMPUAN JUGA??? NGAPAIN BUKA-BUKA BAJU???” Bentak ibu panik.
“Nggak, Bu! itu Ucup cuma becanda.” Kata Sadam sambil melihat Ucup dengan kesal.
“Beneran? Awas… jangan macem-macem ya!” kata ibu.
“Iyaaa…”
“DAM, ROKOK LU TUH BELUM DI MATIIN!” kini giliran Dimas yang mengerjai Sadam.
“KAMU NGEROKOK???” Tanya ibu dengan panik lagi.
“Itu Dimas bu… Mereka emang gapunya akhlak.” Kini Sadam menatap Dimas dengan kesal.
Dimas dan Ucup tertawa puas meskipun mereka masih fokus dengan permainan mereka.
“Yaudah ya, Bu. Ibu baik-baik aja di rumah ya!”
“Iya. Ibu gapapa. Kamu hati-hati disana ya ! Yasudah ibu tutup teleponnya.”
“Dah Ibu…!!!”
Sadam lalu menoyor kepala Dimas dan Ucup. Mereka berdua hanya tertawa dan tetap fokus pada permainan.
“Dah Ibuuu… Dasar anak ibu, lu!” ejek Ucup.
“GOOOLLLL!!!” Dimas kembali berteriak.
“Nah, kan! Kualat sih lu…” Kata Sadam yang kini mengejek Ucup.
Pertandingan melawan Ucup pun kembali dimenangkan oleh Dimas.
“Kualat? Ah…Ini sih gara-gara stik nya aja rusak nih! Makanya gua kalah.” Kata Ucup yang tak terima dengan kekalahannya.
“Alaaahh… Alasan lu kayak anak SD.” Kata Dimas.
Terdengar dari bawah, bahwa pintu gerbang telah dibuka dan suara mesin mobil terdengar memasuki rumah. Mereka adalah orang tua Dimas. Dimas mengajak Sadam dan Ucup untuk menemui orang tuanya dan segera makan malam bersama. Namun, Sadam dan Ucup menolak karena muka mereka bertiga masih penuh lebam bekas perkelahian mereka dengan geng Randy. Mereka takut jika orang tua Dimas akan memarahi mereka karena telah berkelahi. Dimas menenangkan mereka dan terus membujuk mereka untuk menemui orang tuanya Meski hati masih ragu, Sadam dan Ucup menuruti ajakan Dimas.
Di meja makan...
“Kenapa muka kalian babak belur begitu?” Tanya Papanya Dimas dengan nada setengah membentak.
Ucup dan Sadam terdiam membisu sambil menundukkan kepala.
“Habis berantem, Pah!” Jawab Dimas dengan enteng sambil mengambil nasi ke piringnya.
Ucup dan Sadam mencoba menatap kearah wajah papanya Dimas. Namun, mereka kembali menunduk karena mukanya terlihat kesal dan mengerikan dengan mata yang melotot seolah hendak keluar dari kelopaknya. Ucup melihat kearah mamanya Dimas yang sedang tenang mengambilkan nasi untuk papanya Dimas seolah tak terjadi apa-apa. Sedangkan Sadam melihat kearah Dimas yang terlihat cuek, tanpa adanya rasa takut sama sekali. Akhirnya Sadam dan Ucup pun saling melirik karena merasakan ada kejanggalan pada keluarga Dimas.
“BERANTEM???” Tanya papa Dimas dengan nada menggertak sambil menggebrak meja makan yang seketika membuat Sadam dan Ucup terperenjat kaget.
Bulu kuduk mereka mulai berdiri, bahkan Ucup sudah tidak tahan untuk kencing di celananya.
“HAHAHAHA!!!” Tawa keras yang keluar dari mulut papa Dimas terdengar menggema keseluruh ruangan.
“Bagus. Anak laki-laki memang harus berantem! Dimas papa bangga sama kamu!” Lanjut papa Dimas yang nada bicaranya berubah 180 derajat menjadi tenang.
Sadam dan Ucup mulai kebingungan. Mereka menatap wajah papa Dimas yang malah tertawa bahagia dan malah bangga pada anaknya yang babak belur.
“Om gak akan marahin kalian kalo berantem. Asal cuma bonyok-bonyok aja, jangan sampe mati. HAHAHA !!!” Lanjut papa Dimas dan diakhiri dengan tawanya yang kembali menggema disusul oleh tawa yang keluar dari Dimas dan juga mamanya.
“Sungguh keluarga aneh!” bisik Ucup pada Sadam.
Setelah menyantap makan malam bersama, mereka bertiga kembali ke kamar Dimas yang berada di lantai 2. Ucup segera menyalakan rokoknya dan duduk di balkon kamar Dimas. Sadam dan Dimas bukanlah perokok, namun mereka pun duduk di balkon bersama Ucup hanya untuk menikmati terangnya bulan purnama yang bersinar indah di langit yang gelap.
Sadam menatap Bulan sambil tersenyum.
“Keluarga lu unik ya! Coba kalo ayah gua bisa kayak dia.” Kata Sadam yang terus menatap kearah bulan.
“Kita gak pernah tau lahir di keluarga seperti apa.” Jawab Dimas yang juga menatap bulan.
“Seperti kata lu. Hidup emang gak adil.” Kata Ucup sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
“Iya. Lu bener, Cup. Gua dulu sering disiksa sama ayah gua. Sedangkan, Dimas malah begitu akrab dengan orang tuanya.” Kata Sadam dengan singkat.
“Iya, Dam. Mami gua juga ngomel-ngomel mulu. Seakan ngomel-ngomel tuh udah jadi passion-nya dia sejak kecil.” Kata Ucup menimpali.
“Setiap orang tua pasti punya sisi positif dan sisi negatif. Termasuk orang tua gua.” Kata Dimas sambil tersenyum.
“Emang sisi negatifnya kayak gimana?” Tanya Ucup penasaran.
“Kelak, Gua gak mau kayak orang tua gua yang gak peduli sama anaknya. Asalkan anaknya belum mati, gua bebas melakukan apa aja. Suatu hari gua pengen jadi orang tua yang selalu peduli pada anaknya dan sekecil apapun masalahnya.” Kata Dimas dengan panjang lebar.
Sadam dan Ucup tersenyum menatap Dimas sesaat dan kembali menatap bulan purnama.
“Kita udah tau orang tua seperti apa yang baik, dan orang tua seperti apa yang buruk. Kelak kita harus bisa membuktikan pada anak-anak kita bahwa kita adalah salah satu dari orang tua yang baik!” Kata Sadam sambil merangkul pundak kedua sahabatnya.
Mendengar perkataan Sadam, Ucup langsung menatap kearah rokoknya.
“Gua yakin gua bisa jadi orang tua yang baik buat anak gua suatu hari nanti!” kata Ucup sambil membuang rokoknya.
“Kenapa lu buang rokok lu?” Tanya Dimas.
“Gua mau jadi orang tua yang baik. Gua gak mau mencontohkan merokok pada anak gua !” Kata Ucup sambil tersenyum.
“Tapi, emang lu bakal ngajarin anak lu buang sampah sembarangan? Mana jatuhnya ke halaman gua lagi.” Protes Dimas.
“Ya maaf. Gua terlalu terbawa suasana.” Kata Ucup mengelak.
Mereka bertiga pun melanjutkan menikmati pemandangan bulan yang bersinar di malam hari dengan pikiran mereka yang melayang ke masa depan.
“Menjadi orang tua seperti apa mereka nanti?” itu adalah hal yang mereka bertiga sedang pikirkan sambil melamun.
“Oh iya, Bro… Bulan depan, gua bakalan tanding basket buat yang terakhir. Lu pada nonton ya!” Kata Dimas yang membuyarkan lamunan Sadam dan Ucup.
“Kok terakhir?” kata Sadam dan Ucup berbarengan.
“Gua bakal pindah ke Jogjakarta soalnya papa gua di pindah tugas kesana.” Kata Dimas.
“Jadi, lu gak akan lulus bareng kita dong?” Tanya Ucup.
Dimas hanya menggelengkan kepala dan tertunduk.
“Yaudah mau gimana lagi. Seenggaknya kita masih punya waktu sebulan untuk bareng-bareng.” Kata Sadam berusaha menyemangati Dimas, Ucup, dan juga dirinya sendiri.
Ucup memeluk Dimas dan meminta maaf akan apa yang ia lakukan tadi di Sekolah.
“Lu harus menang di pertandingan terakhir! Dan setelah itu, kita kemping bareng untuk malam terakhir persahabatan kita.” Ajak Sadam.
“Deal. Gimana kalo kita berangkat ke Gunung Putri beres pertandingan gua?” kata Dimas bersemangat.
“Deal. Disana ada pemandangan yang bagus banget.” Kata Sadam karena memang pernah kesana sebelumnya.
Ucup langsung merangkul bahu kedua sahabatnya pertanda ia pun setuju dengan rencana Sadam.
4 hari setelahnya…
Bu Ismi seorang guru Matematika berjalan memasuki kelas dengan beberapa lembar kertas yang ada di tangannya.
“Baik, anak-anak. Kita akan ulangan Matematika. Ibu kasih waktu 10 menit, setelah itu masukkan buku catatan kalian kedalam tas dan hanya tinggalkan alat tulis diatas meja !” kata Bu Ismi lalu duduk di mejanya.
Murid-murid langsung membuka buku catatan mereka masing-masing untuk menghafal rumus-rumus yang sulit sekali menempel di kepala mereka. Semua murid, kecuali Ucup. Ucup tampak tenang sambil melihat ekspresi teman-temannya yang mulai panik. Tanpa ada rasa takut sedikitpun yang menghantuinya. Bahkan, Ucup malah memasang wajah sombong melihat kepanikan yang melanda teman-temannya itu.
“Oke, waktu habis! Silahkan masukkan buku catatan kalian ke dalam tas! Untuk yang duduk sebelah kiri, akan mendapatkan soal paket A. Sedangkan yang duduk sebelah kanan, akan mendapatkan soal paket B. Kalian akan mendapatkan waktu selama 1 jam. Mengerti?” jelas Bu Ismi.
“Mengerti…” Jawab murid-murid dengan kompak.
Ucup dan Dimas duduk di sebelah kiri, sedangkan Sadam karena teman sebangku Ucup, berarti duduk di sebelah kanan. Ulangan pun dimulai.
Ketiga sahabat itu akan melakukan rencana yang sama di setiap ulangan Matematika. Sadam dan Dimas terdiam menatap soal Matematika yang begitu membingungkan. Sementara Ucup, mulai mengerjakan soal yang bahkan bisa ia kerjakan sambil mengupil.
30 menit telah berlalu…
Lembar jawaban Sadam dan Dimas masih bersih tak tersentuh sedikitpun. Sedangkan lembar jawaban Ucup telah ia isi seluruhnya. Ucup segera mengambil lembar soal dan lembar jawaban milik Sadam yang masih kosong. Ia juga memberikan lembar jawaban serta lembar soal miliknya kepada Sadam agar Bu Ismi tak curiga jika Ucup memiliki 2 lembar soal. Tanpa banyak basa-basi, Ucup langsung mengerjakan soal milik Sadam. Sedangkan Sadam menyalin Jawaban Ucup pada sebuah kertas.
Waktu tersisa tinggal 20 menit lagi…
Ucup baru mengerjakan seperempat dari soal milik Sadam. Dimas yang lembar jawabannya masih kosong merasa semakin panik. Sadam menyalin secepat mungkin jawaban milik Ucup pada selembar kertas. Untungnya, soalnya pilihan ganda membuat pekerjaan Sadam lebih ringan karena ia hanya harus menyalin abjad demi abjad di setiap Nomor. Kepanikan belum berakhir saat Bu Ismi kini mulai berkeliling berjalan menghampiri meja demi meja. Setiap sepasang kaki dilangkahkan oleh Bu Ismi, disitu pula keringat dingin para murid-murid mulai bercucuran. Perlahan tapi pasti, Bu Ismi semakin mendekat. Sadam telah selesai menyalin jawaban milik Ucup pada sebuah kertas. Ia hanya tinggal meremas dan melemparkannya pada Dimas, namun Bu Ismi sudah semakin dekat. Sadam harus sabar menunggu ketika Bu Ismi sedang lengah. Tak lama, pandangan Bu Ismi teralihkan selama beberapa detik untuk melihat keluar jendela. Saat itu pula Sadam melemparkan kertas yang berisikan jawaban yang telah ia salin dari Ucup.
“Hop!!!” Dengan cekatan Dimas menangkap bola kertas tersebut.
Kini, ia tinggal menuliskan salinan itu kedalam lembar jawaban miliknya. Sayangnya, Dewi Fortuna tak memihak pada Dimas. Bu Ismi kini berdiam diri dan mengawasi dari belakang kelas tepat di belakang meja Dimas. Ucup terus fokus mengerjakan soal milik Sadam, sedangkan Sadam tengah duduk santai dengan lembar soal dan lembar jawaban milik Ucup di atas mejanya. Hal itu tidak membuat Bu Ismi curiga. Karena Bu Ismi akan berpikir bahwa Sadam telah selesai mengerjakan soal miliknya, sedangkan Ucup sedang fokus mengerjakan soalnya sendiri.
“5 Menit Lagi! Yang sudah boleh di kumpulkan!” Teriak Bu Ismi sambil berjalan menuju mejanya.
Momen ini lah yang di tunggu mereka bertiga. Ucup dan Sadam segera menukar kembali lembar soal dan jawaban seperti semula. Setelah itu, mereka berdua berjalan ke depan kelas untuk mengumpulkan. Hanya 5 menit yang bisa Dimas pergunakan untuk menyalin jawaban. Dimas mempercepat gerakan tangannya yang menyalin jawaban Ucup. Kecepatan tangannya menulis, sebanding dengan sebuah sepeda motor yang melaju 60km/jam. Sadam dan Ucup berjalan keluar kelas. Sadar bahwa sahabatnya belum selesai, Sadam melangkahkan kakinya dan kembali menuju Bu Ismi.
“Bu. Maaf untuk soal yang ini, tadi saya agak kurang mengerti. Gimana ya cara penyelesaiannya ?” Kata Sadam mencoba mengalihkan perhatian Bu Ismi.
Bu Ismi pun mulai menjelaskan pada Sadam dengan seksama. Sadam terus berpura-pura tak mengerti sehingga membuat Bu Ismi kembali mengulang penjelasannya. Hingga ia lupa bahwa waktu ujian telah melewati batas selama 5 menit.
“Eh! Waktunya udah habis. Ayo kumpulkan!” kata Bu Ismi yang baru sadar bahwa waktu telah habis.
Sadam tidak berhasil membuat Bu ismi kehilangan fokus untuk beberapa menit lagi. Ia menatap sahabatnya yang masih sibuk menyalin jawaban Ucup dengan tatapan penyesalan.
Dimas semakin panik, keringat dingin mulai bercucuran. Ia semakin menambah kecepatan menulisnya. Teman-teman sekelasnya sudah selesai mengumpulkan dan meninggalkan dirinya seorang diri.
“DIMAS! AYO KUMPULKAN!” Bentak bu Ismi.
Dimas lalu membuang contekannya ke kolong meja dan segera berdiri untuk mengumpulkan lembar soal dan jawabannya. Ia berjalan dengan perasaan cemas. Setelah mengumpulkan, ia pun segera keluar kelas untuk menemui Ucup dan Sadam.
“Gimana ?” Tanya Ucup.
“Beres. Thank’s banget, bro… Lu udah bantuin gua banget!” Ucap Dimas sambil merangkul pundak Ucup.
“Lu juga bro… Thank’s banget udah ngulur waktu.” lanjut Dimas yang juga sambil merangkul Sadam.
Bu Ismi berjalan keluar kelas dengan membawa lembar jawaban dari para siswa.
“Kalian semua boleh istirahat ! Hasilnya akan ibu bagikan minggu depan.” Kata Bu Ismi sambil berlalu.
Di Kantin…
“Oh iya. ngomongin rencana soal kemping kita, lu pada mau ngajak siapa?” Tanya Ucup sambil berjalan ke meja dimana Sadam dan Dimas berada, setelah ia memesan makanan.
“Gua sih pasti ajak Laras. Tapi, gua belum ngomong ke dia.” Kata Sadam.
“Gua bakal ajak Jessica juga deh kayaknya.” Kata Dimas lalu meneguk air putih yang ia beli.
Ucup terdiam karena ia juga ingin mengajak Maya, namun ia bahkan belum berkenalan dengan Maya. Dimas dan Jessica sangatlah dekat, sehingga kemungkinan Jessica akan ikut begitu besar. Apalagi jika dibandingkan Sadam dan Laras, mereka berdua telah berpacaran sejak lama.
“Kalau Jessica dan Laras ikut, maka aku hanya akan jadi pengganggu saja untuk mereka yang berpacaran.” Pikir Ucup dalam hati.
“Gua juga mau nyoba ngajak Maya deh!” Kata Ucup.
“Ya ajaklah! Biar lu gak cuma jadi nyamuk ngeliatin kita pacaran.” Kata Dimas sambil tertawa mengejek Ucup.
Ucup pun ikut tertawa. Sadam hanya tersenyum kecil dan menatap Ucup. Sadam menyadari bahwa ada tawa kepalsuan yang ditunujukkan oleh Ucup. Ia menyadari bahwa Ucup sahabatnya, sedang merasa cemburu.
Sepulang sekolah…
“Hahhh…Hahhh…” Dengan nafas terengah-engah Dimas berlari kepinggir lapangan.
Jessica memberikan sebotol air minum untuk Dimas, agar dahaganya hilang. Di sampingnya terdapat Laras yang sedang menyenderkan kepalanya di bahu Sadam dengan mesra. Rambutnya hitam nan lembut sedang di sisir dan di usap oleh jari jemari Sadam.
“Rambut kamu wangi, ya!” puji Sadam yang mencium rambut Laras.
Jessica membasuh keringat yang membasahi leher Dimas dengan handuk kecil berwarna pink dengan gambar kelinci berwarna putih yang mempercantik handuk itu. Dimas menatap dalam pada kedua bola mata Jessica yang tampak indah. Senyuman manis dilemparkan oleh Dimas sambil menggenggam tangan Jessica yang masih sibuk membasuh keringatnya. Ia seolah melihat ada keindahan pelangi yang terdapat pada bola mata Jessica. Seolah terngiang di telinganya sebuah lagu dari grup band Jamrud yang berjudul ‘Pelangi di Matamu’. Pada saat itu, Ucup hanya duduk termenung dan menundukkan kepalanya. Ia sangat membenci keromantisan antara kedua sahabatnya dengan para kekasihnya.
Dari jauh, sepasang kaki mungil milik seorang gadis melangkah mendekati mereka berlima. Sepatu dan kaos kaki yang ia kenakan tampak terlihat sangat bersih. Tangannya menggenggam sebuah handuk kecil berwarna putih dan sebotol minuman dingin. Gadis itu adalah Maya. Dengan langkah riang, Maya mendekat kearah Dimas. Namun, senyuman diwajahnya berubah ketika ia menangkap sebuah adegan ketika tangan Jessica di genggam oleh Dimas dan mereka berdua saling bertatapan. Senyuman manis di wajah Maya seketika memudar. Ia lalu berlari menjauh sambil menahan isak tangis. Terdengar langkah kaki seseorang yang sedang berlari membuat Dimas, Jessica, Sadam, Laras, dan Ucup menoleh kearah sumber suara. Ucup yang pada saat itu tahu betul kalo sosok itu adalah Maya, langsung berdiri dan berlari mengejar Maya. Tubuh mungil itu berlari sangat cepat sekali, sehingga membuat Ucup sangat kelelahan. Namun Ucup tak patah arang, ia terus berlari mengejar sosok tubuh mungil pujaan hatinya. Semakin lama semakin mendekat. Tangan Ucup berusaha meraih pundak gadis yang sedang patah hati itu. Akhirnya Ucup bisa menggenggam bahu Maya, dan pada saat itu Maya langsung berbalik dan memeluk Ucup sambil menangis sejadi-jadinya. Dengan gelagapan, Ucup membalas pelukan Maya dan mengusap-usap rambut panjangnya untuk beberapa saat.
Maya mulai sadar dari rasa gundah di hatinya. Ia mulai melepas pelukannya terhadap pemuda yang tak ia kenal saat itu. Namun, Maya masih mengingat bahwa pemuda inilah yang memberinya jus Stroberi tempo hari. Merasa Maya sudah melepaskan dekapannya, Ucup pun mulai melepaskan pelukannya. Maya terus menyeka air matanya yang sudah mulai mengering.
“Ayo, aku antar pulang!” Ajak Ucup sambil menarik tangan mungil Maya.
Kembali ke pinggir lapangan…
Dimas sudah kembali latihan karena rasa capeknya telah hilang. Rasa cintanya pada Jessica membuat ia semakin semangat untuk latihan.
“Ucup gak balik lagi deh kayaknya.” Kata Sadam kepada Laras yang masih bersandar di bahunya.
“Ucup naksir cewek itu ya?” Tanya Laras.
“Iya. Cuma cewek itu naksir Dimas, makanya tadi dia lansung lari karena cemburu sama Jessica.” Jawab Sadam sambil melirik Jessica.
Mendengar namanya disebut, Jessica langsung melirik Sadam. Mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa saat lalu Jessica memalingkan pandangannya.
“Pulang yuk! aku mau ajak kamu ke suatu tempat sebelum aku mengantarmu ke Rumah.” Ajak Sadam kepada Laras.
“Yuk!” Jawab Laras sambil mengambil tas ransel dan tas biolanya.
“DIMAS!!!” Panggil Sadam dari pinggir lapangan.
Dimas menoleh dan seakan tau bahwa Sadam akan pamit untuk pulang. Ia hanya melambaikan tangannya dan kembali bermain basket.
“Jess, gua duluan ya!” Pamit Laras sambil tersenyum dan memeluk Jessica.
“Jess, Sampai nanti ya !” Kata Sadam sambil tersenyum.
Jessica pun membalas tersenyum dan kembali menonton Dimas yang sedang latihan. Sadam merangkul Laras ketika mereka berjalan menuju tempat parkir. Meninggalkan Dimas yang sedang asik latihan dan Jessica yang sedang asyik menonton latihan Dimas.
Ada rasa canggung antara Maya dan Ucup. Pasalnya, Maya merasa malu karena ia baru saja memeluk Ucup, lelaki yang tidak ia ketahui namanya. Sedangkan Ucup merasa bahagia karena wanita yang ia cintai kini berada sangat dekat dengannya. Meskipun sudah setengah perjalanan, keduanya masih saling membisu. Ucup melihat ke spion motornya, dan tampak sosok wajah imut dibalut helm yang kini hatinya sudah merasa lebih tenang.
“Gimana? Masih galau?” Tanya Ucup memulai percakapan.
“Udah nggak kak!” Jawab Maya dengan lembut.
Mendengar suaranya saja sudah membuat jantung Ucup seakan meledak-ledak. Ia memutar otak sebisa mungkin agar percakapan dengan Maya terus berlanjut.
“Nama kakak siapa?” Tanya Maya yang malah lebih dulu melanjut percakapan.
“Yusuf Khaerudin.”
“HAH??? SIAPA???” Maya mengulang pertanyaannya karena suara bising dari kendaraan lain membuat suara Ucup tidak terdengar jelas olehya.
“Ucup.”
“HAH??? KUNCUP???”
“UCUP!!!”
“Oh… Kak Ucup.”
“UCUP!!! BUKAN k****t!!! UCUP!!!” Kini malah Ucup yang tidak bisa mendengar suara Maya.
“SIAPA YANG BILANG k****t??? AKU BILANG KAK UCUP!!!”
Suaranya terdengar sangat kencang karena Maya tidak sadar ketika dia berteriak, motor sedang berhenti karena lampu merah di persimpangan jalan. Semua pengemudi yang mendengar suara Maya langsung menoleh kearah mereka berdua. Sontak wajah Ucup dan Maya berubah menjadi merah merona karena malu. Mereka berdua pun tertunduk terdiam.
Dimas telah menyelesaikan latihannya. Kini ia dan Jessica berjalan di lorong sekolah untuk segera pulang. Sesampainya di tempat parkir, Dimas menyalakan mesin motornya dan seketika suaranya terdengar bising. Lalu Jessica pun naik ke jok belakang motor Dimas dan mereka pun pergi meninggalkan sekolah. Dalam perjalanan pulang, Jessica mengajak Dimas untuk berbelanja pakaian terlebih dahulu. Mereka berdua pun memutuskan untuk mampir ke pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Kota Bandung ini.
“Aku cantik gak pake baju ini ?” Tanya Jessica sambil mencoba sebuah baju yang ia ambil dari rak baju.
“Kamu pake apa aja juga cantik kok.”
Pujiannya membuat Jessica tersipu malu. Akhirnya setelah mencoba beberapa baju dan Dimas tetap memuji “Cantik”, Jessica pun memilih untuk membeli 2 buah short dress dan 1 buah kaos berwarna putih bergambar “Doraemon”.
“Makan dulu yuk!” ajak Dimas ketika melihat sebuah restoran jepang yang cukup terkenal.
“Yuk !” kata Jessica mengiyakan ajakan Dimas.
Mereka berdua melangkahkan kaki memasuki sebuah restoran Jepang.
“IRASAIMASEEENNN !!!” Teriak salah satu greeter restoran jepang yang akan mengantarkan mereka berdua ke tempat duduk mereka.
“IRASAIMASEEENNN !!!” seluruh petugas restoran pun ikut berteriak menyambut kedatangan mereka berdua.
Mendengar teriakan para staf restoran yang menyambut kedatangan mereka, bukannya membuat mereka senang malah membuat mereka sangat kaget dan merasa aneh.
“Kita disini belum makan aja udah di kagetin. Lucu ya!” Bisik Jessica pada Dimas sambil tertawa.
Dimas hanya tertawa karena setuju dengan perkataan Jessica. Mereka berdua diantar oleh salah satu greeter restoran menuju sebuah meja yang berada di tengah restoran.
“Restorannya padahal kecil, tapi buat duduk aja harus dianter tour guide.” Bisik Dimas sambil cekikikan.
“Mungkin… dulu ada pengunjung yang pernah nyasar.” Balas Jessica sambil berbisik dan tertawa.
“Ini menunya ya, kak!” kata seorang petugas restoran sambil memberikan buku berisikan menu-menu makanan yang dijual di restoran ini.
“IRASAIMASEEEENNNN!!!” kata seorang greeter lainnya ketika tamu lain memasuki restoran.
“IRASAIMASEEEENNNN!!!” Kembali seluruh petugas restoran berteriak termasuk greeter yang masih berdiri, yang baru saja memberi menu kepada Dimas dan Jessica.
Untuk kedua kalinya Dimas dan Jessica kembali terkejut dengan teriakan para petugas Restoran.
20 menit kemudian setelah memesan makanan, akhirnya makanan pun sudah siap disantap diatas meja. Dimas memesan Mie Ramen, sedangkan Jessica memesan Sushi yang berbahan dasar Ikan Salmon. Tampak daging segar dari ikan salmon dan aroma yang kuat dari Mie Ramen yang sangat menggugah selera.
“SLUURRRPP!!!” suara ketika Dimas menyeruput Mie Ramen pesanannya.
“Pantesan Restorannya terkenal. Meskipun aneh tapi makanannya enak.” Kata Dimas sambil mengunyah makanannya.
“Iyalah. Harganya juga mahal! Tapi, orang yang jantungnya lemah gak bisa makan disini.” Jawab Jessica sambil melahap gumpalan Sushi kedalam mulutnya.
“Iya. Soalnya disini harus siap di kagetin dan di teriakin.” Jawab Dimas sambil terkekeh.
Tiba-tiba saja seseorang menghampiri mereka yang sedang asyik menyantap makanan sambil mengobrol.
“OH… Jadi ini pacar barunya?” kata sosok laki-laki dari arah belakang Dimas.
Dimas menatap wajah Jessica. Sosok itu membuat Jessica sangat terkejut. Dimas pun menoleh kearah belakangnya dan ternyata ada seorang pemuda dengan mengenakan kemeja hitam yang dibuka dua kancing atasnya dan menampilkan kalung dengan bentuk naga, serta tangan kirinya yang dipenuhi oleh tato tribal.
“Siapa dia, Jess?” Tanya Dimas penasaran sambil menatap Jessica yang masih belum bisa menghilangkan ekspresi terkejutnya.
Tiba-tiba pemuda itu menggenggam kemeja seragam Dimas dan menariknya hingga Dimas berdiri lalu merapat ke dinding. Semua mata para pengunjung beserta petugas restoran langsung tertuju kepada Dimas dan pemuda itu.
“Gua Pacarnya.” Jawaban singkat yang keluar dari mulut pemuda itu sontak membuat Dimas terkejut dan tak bisa berkata apa-apa.
Dimas hanya menoleh kearah Jessica sambil melotot tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Jessica lalu berdiri dan menenangkan pemuda itu.
“Tenang sayang...! Dia cuma temen kok!” Kata Jessica pada pemuda itu dan berharap pemuda itu melepaskan Dimas.
Belum cukup Dimas dibuat terkejut, kini kalimat yang keluar dari bibir manis wanita yang ia cintai, membuat hatinya menjadi hancur. Rasa cinta pada Jessica yang selama ini ia bangun seolah runtuh begitu saja. Pemuda itu pun melepaskan Dimas, lalu menarik Jessica untuk segera pergi dari restoran ini. Dengan tangan yang ditarik menuju keluar restoran, Jessica hanya bisa menatap Dimas yang masih mematung sambil memandangi dirinya yang semakin menjauh. Dimas terduduk lemas dengan pikiran yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Ia pun menundukan kepalanya keatas meja sambil berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
“HAHAHA!!!” Ucup dan Maya tertawa terbahak-bahak di salah satu meja di dalam sebuah kafe kecil di pinggir jalan.
Mereka berdua tertawa setelah mengingat dan membahas kejadian memalukan di lampu merah tadi.
“Slurrrrppp… Ahhhh…” sebuah kenikmatan ketika Ucup menyeruput Espresso pesanannya.
“Enak kan kak?” Tanya Maya sambil tersenyum.
“Enak.” Jawab Ucup singkat dan membalas senyuman Maya.
“Ini kafe langganan aku. Aku suka banget kopi. Suatu saat aku pengen punya kafe sendiri.” Kata Maya lalu meminum Ice Café Latte pesanannya.
Ucup menatap kedua bola mata Maya dan tersenyum. Bola mata hitam yang bulat dan begitu indah pada wajahnya yang imut.
“Pengen punya kafe?”
“Iya…”
“Bagus. Suatu saat aku bakal bantu mewujudkannya.” Kata Ucup yang masih menatap kedua bola mata hitam Maya yang indah.
Mendengar ucapan Ucup, Maya langsung menatap kedua bola mata Ucup. Pandangan mata mereka pun bertemu untuk beberapa saat dan seakan ada aliran listrik dari mata yang saling menatap. Maya pun memalingkan pandangannya sambil tersenyum dan tersipu malu. Bibir merahnya masih menempel pada sedotan meskipun ia tidak menyedotnya. Ucup yang pada saat itu merasa malu juga langsung mengambil cangkir kopinya dan meneguknya habis dengan sekali tegukan.
“Mas !” Panggil Ucup kepada pelayan kafe.
“Pesan 1 lagi ya…! Yang double shot!” Lanjut Ucup dengan tersenyum ramah kepada pelayan itu.
Ia melirik kearah Maya, begitupun sebaliknya. Kini mereka berdua saling salah tingkah dan merasa malu satu sama lain.
“Maya, suka kemping gak?” Tanya Ucup setelah memberanikan diri untuk mulai percakapan kembali.
“Hmmm… Suka.” Kata Maya sambil tersenyum manis.
Senyuman bagai malaikat yang terpancar dari wajah Maya membuat Ucup semakin salah tingkah. Tangan kanannya mengambil sebuah pulpen dari saku kemeja seragamnya hanya untuk ia mainkan agar mengurangi rasa gugup.
“Bulan depan aku mau kemping sama temen-temen. Mau ikut gak?” Tanya Ucup sambil menahan nafas.
“Siapa aja emangnya?”
“Aku, Dimas, Sadam, Mungkin Laras sama Jessica juga ikut.”
“Kalo ada kak Dimas sama kak Jessica, aku gak mau ikut ah!”
“Oh gitu. Yaudah gak apa-apa.” Kata Ucup yang sebenarnya merasa kecewa.
“Lagian kan mereka berpasang-pasangan, Kak Ucup kenapa milih aku?” Tanya Maya berpura-pura polos.
Ucup tak menyangka kalo pertanyaan yang sangat sulit seperti itu akan keluar dari mulut gadis pemalu seperti Maya. Jantungnya mulai berdegup semakin kencang, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya, badannya mulai bergetar kedinginan. Ucup menolah ke kiri dan ke kanan, ia juga menggoyang-goyangkan kedua kakinya karena semakin salah tingkah. Ia terus memikirkan jawaban yang pas agar Maya tak berpikir bahwa dirinya terlalu agresif. Pertanyaan yang keluar dari mulut Maya, bahkan lebih sulit dari ulangan Bu Ismi.
“Permisi Mas, Espresso Double Shot nya!” Kata seorang pramusaji sambil memberikan pesanan Ucup.
Ucup langsung mengambilnya dan kembali meneguk habis dengan sekali tegukan. Ketegangan yang dirasakan Ucup seolah mengalahkan rasa pahit dari secangkir espresso double shot yang baru saja ia habiskan dalam sekali tegukan. Baru saja sang pramusaji berbalik badan dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Ucup, Ucup kembali memanggilnya.
“Mas. Sini!”
“Ada yang bisa dibantu lagi, mas?”
“1 lagi! TRIPLE SHOT!!!” kata Ucup dengan nada setengah membentak karena salah tingkah.
Pelayan itu pun mengiyakan pesanan Ucup dan segera pergi untuk membuatnya.
“Kesurupan demit kayaknya.” Kata pelayan itu setelah menjauh dari meja Ucup dan Maya.
“Kak Ucup kenapa? Kok aneh begitu?” Tanya Maya kebingungan karena melihat Ucup yang terus salah tingkah.
“Aneh? Gua aneh? Gua gak aneh! Maya gak boleh berpikir kalo gua aneh!” pikir Ucup dalam hati.
“Hah?? Ehem… Gak apa apa.” Kata Ucup sambil mencoba untuk setenang mungkin.
Maya seakan tau apa yang dirasakan dan disembunyikan Ucup, ia hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat Ucup yang salah tingkah karena pertanyaannya. Meskipun ia baru mengenalnya, tapi Ucup adalah orang yang lucu yang bisa membuatnya tersenyum.
“Memang fisiknya jauh dari kata sempurna, namun aku bisa melihat ketulusan itu.” Kata Maya dalam hati.
Sadam memarkirkan sepeda motornya. Setelah turun dan melepas helm nya, Ia lalu tersenyum kearah Laras dan langsung menggenggam tangan halus Laras untuk mengajaknya ke suatu tempat.
Langit mulai berubah menjadi gelap. Laras melihat kearah jam tangannya dan rupanya waktu telah menunjukan pukul 6.30 malam.
“Kamu mau ajak aku kemana sih ?” Tanya Laras penasaran.
Sadam melihat kearah Laras dan tak menjawab pertanyaan. Hanya sebuah senyuman yang ia gambarkan dari raut wajahnya. Rasa penasaran Laras makin lama makin berkurang ketika sorot matanya melihat sebuah kursi panjang yang disampingnya terdapat sebuah tiang lampu. Kursi panjang itu berada diantara dua pohon rindang yang berdiri dengan kokoh.
“Sini duduk !” Ajak Sadam.
Laras menduduki kursi panjang itu, namun matanya masih terbelalak dengan keindahan yang kini berada tepat di depannya. Rupanya kursi itu berada di tepi bukit. Dari sini, Laras bisa melihat hampir seluruh kota dengan cahaya lampu yang terlihat kecil seolah ia sedang berada diatas lautan bintang.
“Bagus gak ?” Tanya Sadam sambil menatap mata Laras dengan dalam.
“Bagus banget !!!” Kata Laras.
“Aku memanggil bukit ini dengan sebutan ‘duduk diatas bintang-bintang’.” Kata Sadam.
Laras benar-benar menyukai pemandangan ini. Mereka memang seolah sedang duduk diatas bintang-bintang yang bersinar dibawahnya.
“Bulan depan aku, Dimas, sama Ucup mau kemping. Kamu ikut ya! Aku janji bakalan ngasih sesuatu yang lebih indah dari ini semua.” Ajak Sadam lalu mencium pergelangan tangan kanan Laras.
“Aku pasti ikut. Tapi kamu harus minta izin sama orang tua ku.” Kata Laras sambil menyentuh lembut pipi Sadam.
“Pasti. Aku akan minta izin pada orang tuamu.” Kata Sadam lalu mencium kembali pergelangan tangan kekasihnya itu dan tersenyum. Laras pun membalas senyum Sadam.
Beberapa saat kemudian…
“Sreeekkk…” Sadam membuka resleting tas gitarnya dan lalu mengeluarkan gitarnya.
“Ayo kita jadikan malam ini lebih indah dengan harmoni biolamu!” ajak Sadam dengan posisi siap untuk bermain gitar.
Laras langsung mengeluarkan biola kesayangannya untuk segera dimainkan. Jantung Laras berdegup dengan sangat kencang. Entah kenapa pada hari ini ia merasa lebih mencintai Sadam dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ia sangat bahagia memiliki kekasih seperti Sadam.
“Selamanya…! Aku ingin terus bersamanya… selamanya!” Kata Laras dalam benaknya.
Jari jemari lentik mulai menari diatas senar biola. Gesekan dari tongkat dengan senar biola yang Laras mainkan sangatlah harmonis. Petikan gitar dan suara Sadam yang merdu turut membuat suasana ini semakin romantis. Mereka berdua menyanyikan lagu ‘Sempurna’ dari Andra and the Backbone. Wajah mereka saling bertatapan satu sama lain.
“Sempurna…” kata Sadam bernyanyi sambil menatap wajah kekasihnya.
Lagu yang mereka mainkan pun berakhir. Sadam dan Laras kembali memasukkan alat musik mereka masing-masing. Sebelum pulang, mereka berdiam sejenak menikmati pemandangan kota yang terlihat seperti bintang-bintang sambil duduk diatas kursi.
“Pemandangan kota saat malam hari sangatlah indah.” Kata Sadam sambil menunjuk kearah kota.
“Sinar Bulan Purnama di malam hari sangatlah indah.” lanjut Sadam yang sekarang menunjuk bulan purnama yang bersinar diatas langit.
“Melihatmu, mendengarmu melantunkan nada-nada dari biolamu sangatlah indah.” lanjut Sadam sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Laras dan membelai rambut indahnya.
“Bersamamu, menikmati semua itu adalah sebuah anugrah terindah.” Lanjut Sadam sambil menempelkan hidungnya ke hidung Laras.
“Aku mencintaimu, Sadam!” Kata Laras sambil memejamkan mata dan memajukan bibir merahnya.
Begitupun Sadam yang terpejam dan menikmati saat bibirnya bertemu dengan bibir Laras. Diantara pemandangan kota dari atas bukit, di bawah sinar bulan purnama, mereka berdua berciuman.
Satu bulan kemudian saat pertandingan basket Dimas…
Bola basket memantul keatas dan kebawah lalu dilempar oleh salah seorang pemain.
“Hop…” Dimas menangkap bola itu.
Dirinya yang berada di tengah lapangan langsung berlari sambil memantulkan bola basket. Di depannya ada pria tinggi yang mencoba menghalangi jalannya. Ia memantulkan bola tepat diantara kedua kaki pria tersebut dan Dimas berhasil melewati pemain itu lalu langsung menangkap kembali bola yang terpantul itu. Tapi kemudian ada 2 orang lawannya yang kini mencoba menghalanginya.
“Oper kesini, Kapten!” kata salah seorang dari timnya.
Dengan sigap Dimas melempar bola itu lalu merunduk untuk melewati kedua lawannya. Setelah melewati kedua lawan yang menghalanginya, bola basket kembali dilemparkan kearahnya dan kini tak ada lagi orang yang akan menghalanginya.
“AYO DIMAS!!!” Teriak Sadam dari pinggir lapangan.
“DIMAS LU HARUS JUARA!!! KALO NGGAK JUARA, LU BUKAN TEMEN GUA LAGI!!!” Teriak Ucup dari pinggir lapangan juga.
Teriakannya yang aneh membuat orang disekitarnya melirik padanya. Ucup tidak menghiraukannya ia terus menyemangati sahabatnya itu. Dimas melompat dan melakukan slam dunk. Bola masuk dan poin bertambah.
“Priiittttt…..” Wasit meniup peluit dengan panjang pertanda pertandingan telah berakhir. Tim Dimas menjuarai Turnamen Basket antar sekolah.
“YEEEE !!!!!” Semua penonton pendukung tim Dimas bersorak gembira.
Sadam dan Laras pun ikut berteriak gembira sambil saling berpelukan. Saking gembiranya Ucup sampai-sampai tak bisa mengontrol dirinya dan hampir memeluk Laras.
“Weittsss…!!! Pacar gua nih!” Kata Sadam sambil menahan Ucup yang hampir saja memeluk kekasihnya.
“Maaf… maaf! gua terbawa suasana.”
Tampak Dimas tersenyum bahagia karena hari ini adalah hari terakhir ia bertanding bersama tim-nya karena setelah itu ia akan pindah ke Jogjakarta bersama kedua orang tuanya. Ia berjalan sambil tersenyum gembira menuju kearah sahabatnya. Tiba-tiba senyuman di raut mukanya berubah ketika ia melihat Jessica bersama lelaki yang ia temui tempo hari duduk tak jauh dari para sahabatnya. Ia menatap dengan kesal karena Jessica telah mempermainkan hatinya. Sadar bahwa Dimas menatapnya dengan tajam, Jessica pun mengajak pemuda yang duduk bersamanya, yang ternyata adalah pacarnya itu untuk segera pergi.
“Weeeeee… Selamat!!!!” Kata Ucup yang tiba-tiba datang memeluk Dimas.
“Jadi, kita sekarang kemping?” Tanya Dimas kepada Sadam.
“Jadi dong.” Kata Ucup yang malah menjawab pertanyaan.
Tiba-tiba seorang gadis dari kejauhan dengan handuk kecil dan sebotol minuman di tangannya, datang menghampiri mereka. Gadis itu adalah Maya. Ucup yang melihat Maya datang membawa handuk kecil dan sebotol minuman, langsung tertunduk memendam kesedihan. Ia tahu bahwa barang-barang itu adalah untuk Dimas.
“Nih minum!” kata Maya sambil memberikan handuk kecil dan sebotol minuman yang dibawanya.
Saat ia menunduk, ia melihat sepasang sepatu Maya bukan mengarah ke Dimas melainkan mengarah padanya. Dengan perlahan ia menaikan pandangannya dan ternyata benar bahwa Maya memberikan sebotol minuman dan handuk kecil itu padanya, bukan diberikan kepada Dimas.
“Kok aku yang dikasih handuk sama minum? Kan yang bertanding Dimas?” Tanya Ucup penasaran.
“Kak Ucup juga tadi semangat banget teriak-teriaknya. Tuh sampe keringetan gitu.” Kata Maya.
Ucup menyeka dahi dan lehernya dan ternyata benar dia memang berkeringat.
“Pasti tenggorokan kak Ucup juga kering kan?” Tanya Maya.
“Ehem…ehemm…cek…cek…!” Ucup berdehem dan mengetes tenggorokannya.
Ucup lalu tersenyum bahagia karena ia bahkan tak menyadari kondisi tubuhnya sedangkan gadis impiannya malah lebih menyadarinya. Ucup mengambil handuk dan botol minuman pemberian Maya. Maya pun tertunduk malu setelah Ucup mengambil apa yang ia berikan.
“Hati-hati ya kempingnya!” Kata Maya yang lalu berlari sambil malu.
Ucup masih terdiam mematung karena ia seolah bermimpi. Gadis idamannya begitu perhatian padanya.
“Iya…” Kata Ucup dengan lembut sambil terus memandangi tubuh Maya yang terus berlari dan semakin menjauh.
Dimas dan Sadam tersenyum bahagia karena mereka turut merasakan apa yang Ucup rasakan.
Perjalanan menuju perkemahan…
Sadam telah meminta izin pada kedua orang tua Laras dan bersedia bertanggung jawab dengan apapun yang terjadi jika sesuatu yang buruk menimpa Laras.
Kedua tangan Laras memeluk erat tubuh Sadam yang sedang mengendarai vespanya. Pipinya menempel pada punggung Sadam, ia sungguh merasa aman, nyaman dan hangat berada dekat dengan kekasihnya. Di belakang Vespa Sadam, ada Dimas yang sedang mengendarai motor sport-nya dengan perasaan kesal mengingat kejadian antara dirinya dengan Jessica. Dibelakang motor Dimas, ada Ucup yang sedang senyum-senyum sendiri sambil terkadang bersenandung diatas motor Astrea-nya.
“Inikah namanya cinta…? Oh inikah cinta…?” Kata Ucup bersenandung karena hatinya sedang berbunga-bunga.
1 jam kemudian…
Mereka telah sampai di tempat kemping. Setelah memarkirkan sepeda motor, mereka bertiga berjalan menuju pos jaga untuk membayar biaya kemping.
“Satu orang berapa mas?” Tanya Sadam.
“Kemping atau hiking doang?” Tanya penjaga.
“Kemping.”
“20 ribu aja.”
Setelah membayar, mereka pun mulai berjalan mendaki gunung. Gunung ini bukanlah gunung yang sulit dan memakan waktu lama karena gunung ini hanyalah gunung kecil.
“Hufffttt… Capek gua.” Kata Ucup yang terlihat sangat kelelahan.
“Yaelah baru 5 menit kita jalan, Cup!” ejek Dimas.
“Gak kuat gua. Paru-paru gua mau meledak!” Keluh Ucup.
“Makanya perut kecilin, rokok kurangin !” Kata Dimas.
Ucup tidak membalas ejekan Dimas karena Ucup harus fokus menyerap oksigen sebanyak mungkin.
“Yaudah. Gua, Laras, sama Dimas duluan keatas. Lu istirahat disini sambil jalan sedikit-sedikit! Nanti gua balik lagi.” Kata Sadam.
Ucup tidak bisa berkata apa-apa, namun ia langsung merebahkan dirinya diatas rerumputan pertanda bahwa ia setuju dengan ide Sadam. Perjalanan pun dilanjutkan oleh mereka bertiga, meninggalkan Ucup yang kelelahan.
“Oke. Kita nge-camp disini.” Kata Sadam setelah berjalan selama 1 jam dan kini sudah sampai di tempat perkemahan.
Laras tampak sedikit kelelahan dan mendaratkan pantatnya diatas rerumputan sambil menikmati pemandangan. Dimas menyisiri tempat itu, rupanya banyak pula orang yang kemping disini. Sudah banyak tenda-tenda berdiri dan terpasang diatas tanah.
“Rame banget, Dam!” Keluh Dimas.
“Ya… mungkin emang banyak juga yang pengen ngerasain tidur di alam.” Kata Sadam sambil memberi sebotol minuman kepada Laras.
“Jalan lagi lah ! kita cari tempat yang agak sepi biar kita bebas kalo mau berisik.”
“Yaudah. Kita jalan sedikit lagi!”
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan Sadam yang memapah Laras yang rasa lelahnya belum sirna. Akhirnya mereka sampai disebuah hutan lebat yang sangat hening dan tidak ada satu pun orang tenda yang terpasang.
“Perfecto!!!” Kata Dimas karena sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Laras langsung melempar tas nya dan merebahkan tubuhnya diatas rumput. Ia memejamkan kedua matanya untuk menikmati suasana yang sejuk di bawah pepohonan yang rindang. Dimas dan Sadam mulai sibuk memasang tenda dan juga hammock yang mereka ikatkan pada dua buah pohon untuk nanti mereka pakai untuk bersantai.
“Gua susul si endut (Ucup) dulu ya!” kata Sadam kepada Dimas dan Laras.
“Biar gua aja, Dam! Lu sama Laras disini aja!” pinta Dimas.
Sadam pun menyetujui dan akhinrya Dimas lah yang turun untuk menjemput Ucup.
“GILA !!! CAPEK BANGET GUA !!!!” kata Ucup yang sudah tidak kuat lagi berjalan.
Ia terus berusaha mengejar teman-temannya. Kini ia sudah setengah perjalanan menuju tempat kemah para sahabatnya. Ia sudah tak kuat lagi untuk mendaki, dan kini untuk kedua kalinya tubuhnya roboh diatas rerumputan. Ia memandang langit yang sudah mulai meredup.
“Untung Maya gak ikut! Gua gak mau terlihat lemah dihadapannya.” Kata Ucup berbicara sendiri sambil mengatur nafasnya.
Ucup memejamkan matanya sesaat sambil terus mengatur nafas.
“Hey, pecundang! Lu mau mati disini?” kata seseorang yang berdiri didekat Ucup.
Ucup membuka kedua matanya dan tampak wajah Dimas yang sedang tersenyum mengejeknya.
“Dimas, maafin gua kalo punya salah sama lu ya! gua kayaknya gak kuat lagi. Tolong bilangin ke papi sama mami…” belum sempat Ucup menuntaskan kalimatnya, Dimas sudah menyela.
“Halah lebay lu! baru juga mendaki segini udah kayak orang sekarat aja.” Protes Dimas.
Laras sedang merebahkan tubuhnya diatas hammock sambil menatap ke langit yang terhalang sebagian oleh pepohonan. Ia sangat menikmati suasana yang hening dengan udara yang segar ketika ia hirup dalam-dalam. Tiba-tiba Sadam sudah berada didekatnya dan mencium keningnya.
“Gimana tuan putri, seneng?” Tanya Sadam sambil menggodanya.
“Seneng sih. Tapi jangan panggil tuan putri! Norak. Jijik. Wleeekk…” Kata Laras pura-pura muntah.
“Terus mau dipanggil apa, dong?”
“Panggil paduka Ratu aja! Kalo Tuan putri, untuk anak kita nanti…”
“Wleeekkk… malah lebih norak! Lebih jijik! Lagian kalo kita menikah nanti, aku gak mau punya anak!”
“Loh? Kenapa?”
“Jadi orang tua itu sulit. Lagian kasian anakku kalo lahir ke Dunia yang kejam ini.”
Laras hanya tersenyum.
“Lihat aku!” pinta Laras dengan serius.
Sadam menatap Laras dengan seksama.
“Jadi orang tua itu emang sulit. Tapi, bukan berarti kita harus menghindarinya. Hidup juga sulit, tapi kita tetap menjalaninya kan?” Kata Laras dengan serius.
Perkataan Laras membuat Sadam bungkam seketika.
“Dunia memang kejam. Itu berarti kita harus bisa mendidik anak kita untuk bisa menaklukan Dunia yang kejam ini.” Kata Laras kembali rebahan menatap langit.
“Omongan kamu udah kayak ibu-ibu. Seolah kita udah suami istri aja!” protes Sadam sambil tertawa kecil.
Laras pun menyadari perkataannya yang mirip seperti seorang ibu yang sudah memiliki anak dan sedang menasehati suaminya. Ia lalu tertawa terbahak-bahak mengingat perkataannya itu.
Matahari sudah berganti menjadi bulan purnama yang indah. Api unggun sudah menyala berkobar membakar daun-daun kering serta kayu yang Sadam kumpulkan. Sadam dan Laras duduk didekat api unggun untuk menghangatkan badan dari hawa dingin yang menyelimuti tubuh mereka. Ucup belum juga datang dan Dimas belum juga kembali. Sadam khawatir jika sesuatu yang buruk menimpa mereka, ia ingin sekali menyusulnya namun ia lebih khawatir jika meninggalkan Laras sendirian di antara lebat dan gelapnya hutan. Tak lama, ia melihat sebuah cahaya senter yang berjalan semakin mendekat kearahnya. Kegelapan malam membuat ia tak dapat melihat pemilik senter itu. Semakin lama, semakin jelas wajah dari orang yang membawa senter tersebut. Orang itu adalah Dimas dan Ucup.
“Cup, kita bertiga sampe ke tempat ini tuh cuma butuh waktu 2 jam. Lah elu kenapa bisa sampe malem gini?” Sadam mengejek Ucup yang akhirnya tiba di tempat mereka berkemah.
“Stamina orang beda-beda, bro!” protes Ucup sambil mengatur nafas dan mencoba menghilangkan rasa lelahnya.
“Istirahat sama jalan, malah lebih banyak istirahatnya.” Dimas menambahi karena kesal ia harus terus menerus menemani Ucup untuk beristirahat hingga akhirnya bisa sampai di tempat perkemahan mereka.
Laras hanya tertawa kecil melihat persahabatan antara kekasihnya dengan kedua sahabatnya.
Setelah staminanya kembali pulih, Ucup berinisiatif untuk memasak makan malam untuk menebus kesalahannya. Sadam menghibur mereka dengan bermain gitar sambil bernyanyi. Dimas masuk kedalam tendanya untuk mengambil sesuatu, lalu ia kembali dengan 2 buah botol minuman alkohol yang sudah berada di tangannya.
“Gila… lu bawa minuman gituan buat apaan?” Tanya Sadam setelah melihat Dimas membawa minuman alkohol di tangannya.
“Gua pengen nyobain aja. Mabok tuh gimana rasanya sih? Berhubung, gua juga lagi patah hati.” Jawab Dimas enteng.
“Kita kesini kan buat nikmati suasana, kalo mabok kita gak akan bisa nikmatin keindahan alam ini dong!” Protes Sadam.
“Ya udah. Kalo lu gak mau biar gua aja yang minum sendiri.” Kata Dimas lalu duduk dan menyimpan botol itu didekatnya.
Hidangan buatan Ucup telah siap untuk disantap. Mereka menyantap makanan buatan Ucup dengan di temani hangatnya api unggun. Mereka habiskan waktu bersama dengan saling tertawa dan berbagi kebahagiaan. Sadam, Ucup, dan Laras menikmati waktu terakhir mereka bersama Dimas, karena tak akan pernah lagi mereka temui tawa dan senyuman yang keluar dari mulut Dimas di hari esok.
Tak terasa waktu telah menunjukan pukul 12 tengah malam. Dimas yang mabuk sudah masuk kedalam tendanya disusul oleh Ucup yang matanya sudah telihat berat karena mengantuk. Meninggalkan Sadam dan Laras yang masih menikmati kehangatan api unggun sambil berpelukan.
“Dam, waktu itu kamu janji akan ada yang lebih indah dari duduk diantara bintang-bintang. Inget gak?” Kata Laras dalam pelukan Sadam.
“Iya. Aku inget kok. Besok pagi, aku akan ajak kalian semua ke suatu tempat yang indah.”
Kabut sudah mulai menyelimuti setiap sudut hutan ini, rasa dingin sudah mulai menusuk hingga ke tulang. Sadam mengajak Laras untuk masuk ke dalam tenda agar tubuh mereka terasa lebih hangat. Laras membungkukkan badannya dan segera masuk kedalam tenda disusul oleh Sadam yang mematikan api unggun terlebih dahulu.
“Dingin gak?” Tanya Sadam sambil tubuhnya menghadap kearah Laras.
“Dingin.” Jawab Laras sayu.
Sadam kembali memeluk Laras dan mulai memejamkan matanya untuk tidur. Sedangkan Laras masih memperhatikan wajah kekasihnya yang sangat dekat dengan wajahnya. Ia tersenyum lalu mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Sadam. Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Sadam. Sadam kembali membuka kedua matanya akibat kecupan Laras. Wajah Laras yang cantik sungguh berada dekat dengan wajahnya. Sadam sangat mengerti jika kekasihnya butuh kehangatan yang lebih dari hanya sekedar pelukan. Sadam segera mencium Laras dengan sedikit lebih ganas. Bahkan tidak hanya bibir manis Laras saja yang ia kecup melainkan seluruh wajah dan leher Laras sudah basah dipenuhi oleh air liurnya.
“Buka dong bajunya!” protes Laras.
Sadam tak bisa mengabaikan permintaan kekasihnya yang meminta dengan nada manja. Ia segera membuka seluruh pakaiannya hingga kini ia bertelanjang bulat untuk pertama kali di hadapan seorang lawan jenis.
“Kamu juga buka dong bajunya!” Pinta Sadam.
Tangan Laras bergerak perlahan dan mulai menarik kaos yang ia kenakan. Kini mereka berdua telah bertelanjang bulat dan anehnya hawa dingin yang semula seakan menusuk tulang, kini menghilang entah kemana. Dalam kesunyian malam di hutan yang lebat dan dinginnya suhu serta kabut diluar sana, dua sejoli ini masuk kedalam selimut untuk saling mencapai puncak gairah dan berbagi kehangatan.
Keesokan harinya…
Laras sudah bangun terlebih dahulu. Diluar tenda, ia menemukan sepucuk surat dari Dimas tergeletak diatas Hammock. Laras segera membangunkan Sadam yang masih tertidur pulas didalam tenda.
“Dam, bangun!” kata Laras sambil menggoyangkan tubuh Sadam.
“Hoaaamm…” meskipun menguap, Sadam tetap terbangun dari tidurnya sambil menggeliatkan tubuhnya.
“Ada apa?” Tanya Sadam sambil mengucek-ngucek matanya.
“Ini ada surat dari Dimas. Dimas udah pergi.”
Mendengar itu, rasa kantuk yang menyelimutinya seakan sirna begitu saja. Dengan cepat ia merebut surat yang berada di tangan Laras lalu membacanya.
“Untuk Sadam dan Ucup. Gua harus pergi karena ternyata rencana orang tua gua dipercepat dan gua akan berangkat ke Jogjakarta pagi ini. Awalnya gua mau pamit, tapi keliatannya lu berdua tidur pulas banget. Jadi, gua tinggalin surat ini buat kalian baca. Gua minta maaf kalo gua punya salah ke kalian. Kalian berdua emang sahabat terbaik. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Oh iya, lu gausah nyusul ke rumah gua soalnya pasti gua udah pergi ke Jogjakarta. Nikmati aja pemandangan disana tanpa gua. Pesan terakhir untuk Ucup, kejar terus Maya karena menurut gua dia bakalan jadi wanita yang baik buat lu. Pesan terakhir untuk Sadam, tolong jaga Laras dengan sekuat tenaga lu! Gua yakin kalo suatu hari nanti kita bertemu lagi, lu berdua pasti udah jadi orang tua yang hebat sesuai janji kita. Pertanda Dimas.” Isi dari surat tersebut.
Sadam tampak bersedih karena ia belum mengucapkan perpisahan kepada sahabatnya itu. Sadar bahwa perasaan kekasihnya sedang bersedih, Laras meminta agar lebih baik mereka pulang dan tidak perlu membuktikan janji Sadam kepadanya tentang pemandangan indah di gunung ini. Sadam menyetujui saran Laras. Ia langsung membangunkan Ucup dan segera berkemas untuk pulang karena mood mereka sedang benar-benar buruk.
2 bulan kemudian…
Ucup berdiri diatas podium dengan senyuman kebahagiaan. Panitia lomba memberikan mendali dan mengalungkannya di leher Ucup. Ucup memenangkan lomba matematika antar SMA yang diselenggarakan di sebuah gedung yang berada jauh dari sekolah. Setelah ia turun dari Podium, Maya langsung memeluknya dengan erat dan memberinya selamat. Mereka berdua kini telah berpacaran. Tak lama, Sadam dan Laras pun menemuinya dan turut memberikan selamat.
“Gua bangga banget punya sahabat yang berprestasi. Yang satu waktu itu juara basket, yang satu sekarang juara matematika.” Kata Sadam sambil merangkul bahu Ucup.
Ucup terlihat sangat bahagia. Namun sempat terlintas dalam pikirannya bahwa ia akan jauh merasa bahagia jika Dimas berada disini. Ia tak menyangka bahwa pada malam saat ia berkemah, adalah saat terakhir ia melihat senyum dan tawa terakhir Dimas tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan atas nama persahabatan yang telah mereka jalin.
Di tempat parkir setelah acara selesai…
“Lu gak mau bareng? mau pacaran dulu ya?” Tanya Ucup yang sudah menaiki motornya bersama Maya dibelakangnya yang sedang memeluk perut buncitnya.
Sadam menolak untuk pulang bersama Ucup karena Laras ingin membicarakan sesuatu berdua dengannya.
“Lu balik duluan aja! Gua masih ada urusan sama Laras.” Kata Sadam menolak ajakan Ucup.
“Yaudah deh. Gua sama Maya balik duluan ya!” kata Ucup sambil melambaikan tangan kepada Sadam dan Laras.
Maya pun berpamitan kepada Sadam dan Laras. Setelah Ucup dan Maya pergi, Laras langsung menarik lengan Sadam dan mengajaknya ke belakang gedung.
“Ada apa? kayaknya penting banget.” Tanya Sadam yang penasaran.
Laras sedikit ragu untuk berbicara, ia mencoba menarik satu nafas panjang. Dengan tatapan serius, ia pun mendekatkan bibirnya ke daun telinga Sadam.
“Aku hamil!” bisik Laras di telinga Sadam sambil menangis.
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Laras, benar-benar membuat pipi Sadam seolah ditampar oleh benda yang sangat keras, lalu jantungnya seolah ditusuk oleh benda yang sangat tajam.