“Aku hamil!” bisik Laras di telinga Sadam sambil menangis.
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Laras, benar-benar membuat pipi Sadam seolah ditampar oleh benda yang sangat keras, lalu jantungnya seolah ditusuk oleh benda yang sangat tajam. Bahkan membuat tubuhnya kaku seperti habis disambar petir. Tubuhnya tetap mematung dan matanya melotot tak berkedip. Seolah tak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya.
Sadam memundurkan tubuhnya. Ia memejamkan kedua matanya karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kedua kaki Sadam bergetar hebat hingga semakin lama semakin tak bertenaga dan tak sanggup lagi menopang beban tubuhnya. Sadam terduduk lemas sambil kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Ia benar-benar tampak kebingungan. Didepannya, Laras sedang berdiri mematung sambil menundukkan kepala dengan air mata terus mengalir deras membasahi pipi. Ditangan kirinya tergenggam sebuah tespek dengan dua garis merah yang menunjukkan bahwa ia memang positif hamil.
Setelah hatinya merasa sedikit tenang, Sadam berdiri dengan tegak dan mendekati Laras yang sedang menangis. Tangan kiri Laras ia raih dan ia mengambil tespek di tangan Laras. Sadam melihat dengan seksama tespek itu, dan benar saja bahwa kekasihnya kini memang sedang mengandung seorang bayi. Ia mencengkram erat tespek itu dengan perasaan kesal. Sadam melempar tespek itu dan masuk tepat kedalam tempat sampah yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Apa yang ingin kau lakukan terhadap bayinya?” Tanya Sadam dengan serius.
Laras membasuh air matanya yang berlinang. Ia mencoba menatap Sadam yang kala itu sedang menundukan kepala karena tidak berani menatap matanya.
“Aku ingin melahirkannya.” Jawab Laras.
“Tidak mungkin! Tidak mungkin aku mempunyai seorang anak! Aku tidak ingin memiliki anak!” Teriak Sadam dalam hati.
Sadam menatap wajah kekasihnya yang terus menangis dengan lirih. Sadam meneguhkan hati dan pikirannya. Dengan segenap keteguhan hati, ia merangkul dan memeluk Laras.
“Oke. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu.” Bisik Sadam ditelinga Laras sambil memeluknya dengan erat.
Sadam benar-benar harus mengalah dari segala keegoisannya. Sadam terus menguatkan dirinya akan kenyataan ini.
Dalam perjalanan menuju rumah Laras, mereka berdua diselimuti dengan kegelisahan. Tak ada sedikitpun percakapan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama hanyut dalam lamunan. Hingga tak terasa mereka telah sampai didepan gerbang rumah Laras.
Dengan dirundung kegelisahan, sepasang kekasih ini hanya berdiri mematung di depan gerbang rumah yang pagarnya cukup tinggi. Seperti biasanya, Rumah Laras selalu tampak hening. Keheningan inilah yang semakin menambah kegelisahan di dalam hati kedua remaja ini.
Sadam menuntun tangan Laras dan berjalan perlahan setelah menguatkan hatinya. Pintu gerbang ia buka dan dengan hati yang berdebar mereka berdua pun masuk kedalam halaman rumah itu. Keringat dingin membasahi tangan Laras. Mau tak mau, ia harus menggerakkan tangannya yang basah oleh keringat dingin itu untuk menggenggam gagang pintu dan segera masuk kedalam rumah. Setelah pintu terbuka, ternyata memang benar. Tak tampak satu orang pun yang sedang beraktivitas di dalam rumahnya.
“Ma…!!! Pa…!!! Kak…!!!”
Suaranya terdengar menggema keseluruh ruangan. Tiba-tiba terdengar sebuah langkah kaki dari lantai dua. Lalu tampak seorang lelaki berjalan menuruni tangga dari lantai dua. Ia berjalan mendekati Sadam dan Laras yang terus berdiri mematung di depan pintu. Lelaki itu adalah Darius, kakak dari Laras. Darius sempat memperhatikan Sadam yang terus menggenggam tangan Laras dengan erat.
“Kayaknya cowok ini adalah pacar adikku.” pikir Darius dalam hati.
“Kak, kenalin ini Sadam. Pacar Laras.” Laras memperkenalkan Darius kepada Sadam karena selama mereka berpacaran, Sadam hanya pernah bertemu dengan orang tuanya dan belum pernah bertemu dengan Darius, karena Darius tinggal di luar negeri.
Dengan senyum ramah Darius mengajak Sadam untuk berjabat tangan. Namun, Sadam terdiam membisu dalam lamunannya. Darius sempat bingung dengan tingkah Sadam yang mematung. Laras menyenggol bahu Sadam menggunakan bahunya. Membuat Sadam tersadar dari lamunannya. Sadam melihat kearah Darius yang sedang mengajaknya berjabat tangan. Sadam lalu melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Laras lalu menjabat tangan Darius dengan tangan kanannya. Darius sangat bingung dengan tingkah Sadam yang bahkan tidak membalas tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Dimata Darius, Sadam hanyalah seorang pemuda dengan ekspresi kebingungan dan selalu terbang dalam lamunan. Bahkan saat berjabat tangan dengan Sadam, ia merasa bahwa tangan Sadam benar-benar sangat dingin.
“Sadam. Ayo duduk!” kata Darius yang terus mencoba untuk ramah.
Setelah duduk di sofa, Darius meninggalkan Sadam dan Laras menuju dapur. Darius hendak memasakan Sadam dan Laras agar susasana terasa lebih cair tanpa ketegangan. Juga karena kebetulan memasak adalah keahliannya karena ia adalah seorang koki di sebuah kapal pesiar, yang sekarang sedang menikmati waktu cutinya di rumah.
“Kamu yakin, mau ngaku kalo aku hamil?” bisik Laras yang duduk di samping Sadam pada sebuah sofa di ruang tamu.
Sadam menarik nafasnya dengan dalam untuk terus menguatkan tekadnya.
“Yakin.” Jawab Sadam sambil menatap dalam kearah mata Laras pertanda bahwa Sadam telah membulatkan tekadnya.
“Kamu bener-bener yakin mau tanggung jawab dan jadi suamiku?” bisik Laras kedua kalinya untuk meyakinkan tekad Sadam.
Sadam terdiam sejenak sambil menatap dengan dalam kearah mata Laras.
“Apakah aku benar-benar seorang suami yang layak untuk dia? Aku bahkan belum terpikir bagaimana cara untuk menafkahinya. Aku benar-benar dihadapkan oleh dua pilihan yang membuatku takut. Pertama, aku takut tidak bisa menjadi suami dan ayah yang layak. Aku takut menjadi seperti ayahku dulu. Kedua, aku takut kehilangan Laras jika aku tidak menikahinya.” Pikir Sadam dalam hati.
“Sadam?” Panggil Laras sambil melambai-lambaikan tangannya persis di depan muka Sadam agar calon suaminya itu cepat sadar dari lamunannya.
Sadam akhirnya tersadar dari lamunannya dan menatap wajah cantik kekasihnya, lalu ia pun tersenyum.
“Apa kau masih ingat kata-kata ku?” Tanya Sadam.
Laras mengerutkan dahinya pertanda kebingungan.
“Pemandangan kota saat malam hari sangatlah indah. Sinar Bulan Purnama di malam hari sangatlah indah. Melihatmu, mendengarmu melantunkan nada-nada dari biolamu sangatlah indah. Bersamamu, menikmati semua itu adalah sebuah anugrah terindah. Jadi, aku ingin terus bersamamu menikmati semua keindahan itu sampai kita tua dan terpisah oleh kematian.” Jawab Sadam sambil mengecup tangan kanan Laras.
Semua perkataan Sadam membuat Laras menangis terharu. Betapa bahagianya ia memiliki kekasih yang sangat setia dan baik hati.
“Apa kau bersedia untuk menjadi istriku dan menjalani hari tua bersamaku?” Tanya Sadam.
Laras hanya mengangguk sambil terus mengusapkan air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Laras langsung mendaratkan bibir lembutnya pada bibir Sadam. Sebuah kecupan lembut yang mampu menghangatkan dan menghapus semua kegelisahan yang sedang menyelimuti dua sejoli itu.
“Kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini?” tanya Laras dengan lembut.
Sadam hanya menggelengkan kepalanya karena ia memang tak tahu perasaan apa yang sedang dirasakan oleh kekasihnya pada saat ini.
“Aku merasa sedang di hujani oleh sejuta panah keyakinan pada hatiku. Keyakinan bahwa kamu memang lelaki terbaik yang memang tercipta untukku. Aku juga sedang merasa dibanjiri oleh kebahagiaan karena aku tahu bahwa aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama denganmu.” Ucap Laras sambil mengalungkan kedua tangannya dengan manja pada leher Sadam.
Sadam tersenyum pada Laras sambil mengelus rambut Laras yang lembut. Ia pun mendaratkan bibirnya di kening calon istri tercintanya. Mereka berdua tersenyum dan saling bertatapan. Kemesraan mereka pun harus terhenti ketika Laras melihat bayangan kakak nya yang segera menuju kemari. Dengan sigap ia pun melepaskan dekapannya pada Sadam dan duduk ke posisi semula.
“Makanan sudah siap!” Kata Darius sambil bersemangat membawa dua piring berisi makanan buatannya di kedua tangannya.
“Ayo, Sadam! Cicipi masakanku! Masakanku enak loooo! Iya kan dek?” tanya Darius pada adiknya yang cantik.
Laras hanya tersenyum pada Darius. Sadam terdiam sambil menunduk. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara jujur pada Darius. Darius yang mulai curiga dengan gerak-gerik Sadam. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang janggal. Sadam menoleh dengan cepat dan menatap tajam kearah Darius. Sadam lalu beranjak berdiri lalu membungkukan badannya menghadap Darius. Darius semakin keheranan dengan tingkah laku Sadam.
“Izinkan saya menikahi adikmu dalam waktu dekat ini!” kata Sadam dengan bersungguh-sungguh yang masih dalam keadaan membungkuk.
Ia telah mengumpulkan semua keberaniannya dan meledakkan semuanya dalam sebuah kalimat yang membingungkan bagi Darius. Ia mencoba untuk mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Sadam. Dengan tenang ia menaruh kedua piring yang masih berada ditangannya keatas meja. Ia menoleh kearah adiknya yang tertunduk dan menyembunyikan wajahnya karena takut. Ia juga menoleh kearah Sadam yang masih saja membungkuk dengan wajah melihat kebawah. Darius menaruh curiga dengan gelagat mereka berdua, namun ia tetap berpikir positif dan berharap bahwa apa yang ia pikirkan adalah salah. Darius menghela nafas panjang sambil sesekali memejamkan kedua matanya.
“Kenapa harus buru-buru menikah? Sedangakan kalian berdua bahkan belum lulus sekolah.” Tanya Darius dengan tenang.
Sadam, maupun Laras masih diam seribu bahasa.
“Sadam. Jawab pertanyaan saya!” ucap Darius dengan nada tenang.
Sadam merasakan bahwa jantungnya terus berdebar dengan sangat cepat. Seluruh tubuhnya sudah bermandikan keringat dingin. Kedua tangan dan kakinya bergetar hebat. Mulut Sadam seolah terkunci rapat-rapat dan tak mau membukanya sekeras apapun ia berusaha.
“Sadam… Jawab per….” Darius belum sempat mengakhiri kata-katanya, Sadam sudah membuka mulutnya yang tak lagi terkunci rapat.
“Aku… aku menghamili Laras.” Jawab Sadam sambil menggigit bibirnya sendiri dan menutup matanya dengan rapat.
Darius hanya tertawa kecil. Ia lalu berjalan mendekati Sadam.
“Bukankah, sejak kecil semua orang tua mengajarkan kita untuk selalu menatap mata lawan bicara ketika sedang berbicara?” Ucap Darius pada Sadam.
Sadam menghela nafas sejenak dan memberanikan diri untuk berdiri dengan tegap dan menatap tajam kearah Darius.
“Aku menghamili Laras… Aku ingin menikahi…” belum sempat Sadam selesai berbicara, sebuah pukulan keras menghantam wajahnya.
Darius melayangkan sebuah bogem mentah tepat di wajah Sadam hingga membuat Sadam terpental. Tak cukup disitu, Darius pun melayangkan sebuah pukulan disusul oleh sebuah tendangan tepat mengenai perut Sadam dan membuat Sadam memuntahkan darah dari mulutnya. Laras yang melihat kejadian itu lalu beranjak dari tempat duduknya dan memeluk sang kakak yang sedang dirasuki Iblis agar berhenti menyakiti Sadam.
“KAK!!! JANGAN KAK!!! CUKUP!!!” bentak Laras pada kakaknya.
Sadam terjatuh dan tersungkur dilantai. Sadam bukan tak mampu melawan, namun ia sadar bahwa ia layak mendapatkan semua ini. Melihat Sadam yang tak melawan, Darius masih juga belum puas memukuli Sadam, jika Sadam masih bisa bernafas. Ia kembali melayangkan sebuah tendangan tepat kearah samping perut Sadam. Sadam yang sadar bahwa ia akan kembali di tendang oleh kaki Darius, tidak berupaya menghindar. Namun, ia malah secara sukarela membiarkan Darius menendangnya lagi. Saat kaki Darius hampir mengenai bagian perut samping Sadam, Sadam lalu berpindah posisi lalu memeluk kaki Darius dengan erat dan tak ingin melepaskannya.
“LEPASIN KAKI GUE BANGS*T!!!” Bentak Darius.
“Saya benar-benar minta maaf! Saya benar-benar mencintai Laras, maupun anak yang ada didalam kandungannya. Saya mohon dengan bersungguh-sungguh. Izinkan saya menikahinya, dan bertindak sebagai laki-laki untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang saya perbuat!” kata Sadam sambil bersujud dan menahan rasa sakit.
Darius berhenti menyakiti Sadam dan hanya berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.
“Cuihhh…” Darius membuang ludah kepada Sadam yang masih bersujud.
Ia berdiri beberapa saat tanpa mengeluarkan sepatah kata serta tatapan nya penuh kebencian kepada Sadam. Beberapa saat kemudian, Darius meninggalkan Sadam yang masih bersujud. Sempat ia melirik kearah adiknya sejenak dengan penuh rasa kesal.
“Stupid!” Kata Darius pada Laras lalu kembali berjalan menuju kamarnya untuk mengurung diri sejenak.
Laras hanya terdiam saat kakaknya menghinanya. Pandangannya langsung beralih kepada Sadam yang bersujud diatas lantai. Ia menghampiri dan membantu Sadam agar segera bangun dari sujudnya dan beralih ke sofa. Ia mengusap darah pada bibir Sadam, ia juga membasuh rambut Sadam yang sempat diludahi oleh kakaknya. Dengan kondisi seperti itu, Sadam masih tetap tersenyum. Tekad Sadam yang kuat serta rasa tanggung jawab yang dimilikinya, sanggup membuat Laras menangis sambil memeluknya. Usapan demi usapan yang dilakukan Sadam pada rambutnya, malah membuat tangis Laras semakin larut dalam tangisannya.
Malam harinya…
“Plakkkk!!! Plakkkk!!!” dua kali tamparan keras dilayangkan papa Laras kepada pipi Sadam.
Sadam hanya terdiam menerima begitu saja tamparan dari ayah Laras.
“Cukup, papa! jangan sakiti Sadam lagi!” kata Laras sambil menangis dalam pelukan mamanya.
Papa berdiri dan berjalan menuju Laras. Ia hampir saja melayangkan tamparannya kepada Laras, namun mama berusaha sekuat tenaga menahan tangan papa.
“Sudah, pa! Cukup!” kata mama menenangkan papa sambil tangan kanannya terus menahan tangan papa dan tangan kirinya mengelus-elus d**a papa.
“Papa ingin kamu keluar dari rumah ini!” ucap papa.
Mama sangat terkejut mendengar perintah papa kepada Laras.
“Pa…! Apa-apaan? Laras itu anak kita.” Kata mama menolak perintah papa untuk mengusir Laras.
“Oke.” Kata Laras dengan singkat sambil berdiri menatap wajah papa dengan mata yang masih sembab, ia lalu beranjak dan bergegas masuk kedalam kamarnya.
Sadam masih tertunduk diam dan membisu. Mulutnya seolah kembali terkunci rapat dan ia sudah tak peduli siksaan maupun bentakan papa Laras. Papa kembali menghampiri Sadam yang masih tertunduk dan membisu.
“Apa hanya cara menghamili anak orang, yang orangtuamu ajarkan padamu?” tanya papa kepada Sadam dengan memasang wajah kesal.
“Ini semua kesalahan saya. Tolong jangan libatkan ibu saya!” ucap Sadam sambil masih tertunduk.
“Untuk apa kau bela ibumu yang sudah gagal dalam mendidik anaknya?” hina papa.
“Saya mohon, jangan hina ibu saya! Silahkan hina saya, caci maki saya, siksa saya. tapi jangan libatkan ibu saya!” kata Sadam yang kini matanya memerah dan dipenuhi amarah.
Laras keluar dari kamarnya sambil membawa tas berukuran besar berisi baju-baju untuk ia pakai, serta biola kesayangannya. Ia berjalan lalu terhenti di depan pintu karena mendapati Sadam masih saja tak beranjak.
“Ayo, Sadam!” Ajak Laras karena Sadam masih saja berseteru dengan papa.
“Laras! Jangan pergi, nak!” mama tak bisa merelakan putri kesayangannya pergi.
Ia memohon kepada papa untuk berhenti mengusirnya. Ia juga memohon kepada Laras agar jangan meninggalkan rumah ini.
“Ma, suatu saat Laras akan kemari bersama cucu mama.” Kata Laras sambil mengusap-usap perutnya yang belum membesar.
Mama terduduk di sofa dan terus menangis berharap Laras tidak pergi meninggalkannya. Laras yang sudah kehabisan kesabaran menunggu Sadam yang tak kunjung beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri Sadam dan menarik tangannya agar mereka cepat meninggalkan tempat itu. Masih dengan perasaan kesal karena papa menghina ibunya, ia pun pergi dengan terpaksa karena tangannya ditarik oleh Laras.
“Beritahu ibumu jika tak siap mendidik anak, lebih baik tak usah memiliki anak! Daripada nantinya hanya akan merusak hidup anak orang lain.” Ucap papa.
Sadam menghentikan langkahnya. Laras mencoba sekuat tenaga menarik tangan Sadam agar terus melangkah. Namun, amarah dalam diri Sadam semakin bergejolak. Matanya dipenuhi rasa benci. Ia membalik badannya menghadap ayah Laras.
“BRENG*EK KAU ANJ*NG TUA!!! GUA UDAH BILANG JANGAN PERNAH MENGHINA IBU GUA!!!” Bentak Sadam yang langsung hendak berlari dan menghajar papa.
Sayangnya, Langkah Sadam terhenti ketika rupanya tangan kirinya masih digenggam erat oleh Laras.
“Plakkk…!!!” Sebuah tamparan mendarat di pipi Sadam.
“Kamu juga, jangan pernah hina orang tuaku!” Kata Laras sambil menangis.
“Maaf!” Ucap Sadam merasa bersalah karena tak dapat mengontrol amarahnya.
Laras kembali menarik tangan Sadam agar segera pergi dan meninggalkan tempat ini.
“Selamat tinggal, Pah, Mah! Aku harap kak Darius juga mendengar permintaan maafku.” Ucap Laras sebelum akhirnya mereka berdua lenyap ditelan kegelapan malam.
Dalam perjalanan menuju rumah Sadam, Laras terus memeluk dengan erat diatas Vespa. Sesekali Sadam mengusap-usap pergelangan tangan kekasihnya yang memeluknya erat. Laras membenamkan wajahnya dalam punggung Sadam sembari menangis. Mereka saling menguatkan tekad dan menghilangkan rasa takut satu sama lain.
Rintik-rintik hujan mulai bercucuran. Sadam segera menancap gas motornya, agar cepat sampai Rumah sebelum hujan semakin deras. Ia melihat kearah jam tangan yang ia pakai dan rupanya waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Kini mereka sudah hampir tiba di rumah Sadam. Sayangnya, hujan semakin deras dan seketika membasahi tubuh mereka berdua yang masih berbalut seragam. Dalam derasnya hujan, dinginnya angin malam serta kesunyian yang terus membuntuti mereka, motor Sadam melaju hingga akhirnya sampai di rumah dengan keadaan basah kuyup.
Setelah memarkirkan motor, mereka melangkah untuk segera masuk kedalam Rumah. Namun, langkah kaki sepasang kekasih ini terhenti sesaat di depan pintu sebuah rumah tanpa pagar ini. Sadam takut jika ibunya ternyata masih terjaga. Dengan perlahan Sadam membuka pintu itu dan rupanya Dewi Fortuna memihak kepadanya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di ruang tamu. Sadam berjalan dan membuka pintu kamar ibunya perlahan dan mengintip ke dalam kamar. Sedangkan Laras masih menunggu di depan rumah. Rupanya ibunya sudah tertidur pulas membelakangi pintu. Sadam memberi isyarat kepada Laras untuk segera masuk kedalam kamarnya. Dengan pakaian yang basah kuyup, Laras berjalan mengendap-endap menuju kamar Sadam. Setelah Laras berada di dalam kamarnya, ia segera menutup kembali kamar ibunya dengan sangat hati-hati agar ibunya tidak terbangun. Setelah di kamar, Sadam mulai memasukkan baju-bajunya dari dalam lemari dan juga uang tabungannya selama ini kedalam sebuah tas besar. Laras membuka seragamnya yang basah kuyup untuk mengganti dengan baju yang kering. Ia berganti pakaian tepat di hadapan Sadam. Sadam sangat takjub dengan keindahan tubuh Laras dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang sedikitpun, meskipun ini bukan pertama kalinya. Ia lalu tersadar bahwa memandang tubuh Laras saat ini, bukanlah saat yang tepat. Ia harus segera mengganti seragamnya yang basah dengan baju yang kering lalu pergi dari Rumah ini.
Saat hendak keluar dari kamar untuk pergi dari rumah ini, Sadam yang lebih dulu berjalan keluar dari kamar langsung menghentikan langkahnya saat ia melihat ibunya membuka pintu dan berjalan keluar kamar sambil menguap. Dengan cekatan, Sadam lalu menahan langkah Laras yang hampir keluar kamar dan meminta Laras diam beberapa saat di dalam kamar. Sadam juga meletakkan kembali tas besarnya beserta tas gitarnya di dalam kamar karena memang ia berencana untuk pergi tanpa diketahui oleh sang ibu.
“Sadam? kamu baru pulang?” tanya ibunya sambil mengucuk-ngucek mata dan dikejutkan oleh sosok Sadam yang berdiri didepan pintu kamar Sadam.
“Iya, bu. Habis kerja kelompok dulu tadi.” Kata Sadam berbohong.
“Tapi, wajah kamu kenapa memar begitu? Pasti berantem lagi ya?” tanya ibu sambil mengusap memar yang tampak pada wajah Sadam.
“Sadam udah gak pernah berantem lagi bu. Ini memar soalnya tadi gak sengaja kena sikut temen pas lagi bercanda.” Jawab Sadam menyembunyikan kebenaran bahwa memar pada wajahnya akibat pukulan yang di layangkan oleh Darius.
“Sini, ibu obati!”
“Gausah ! entar Sadam obati sendiri aja.”
“Udah… sini ibu obati!”
Beberapa saat kemudian…
“Awww sakit, bu!” Kata Sadam saat ibunya menyentuh luka di pipi Sadam.
“Maaf! Ibu akan coba pelan-pelan.” Kata Ibunya sambil kembali mengobati luka anak semata wayangnya.
Sadam menatap wajah ibunya yang terlihat penuh hati-hati, dan kasih sayang terpancar dari wajahnya. Membuat ingatannya mengajaknya kembali ke beberapa tahun ke belakang.
Beberapa tahun yang lalu…
Saat itu Sadam berusia 3 tahun. Sadam kecil sedang berlari-lari sambil tertawa di sebuah taman dengan padang rumput yang sedang ia injak. Tak jauh dari situ, ayah dan ibunya sedang duduk disebuah tikar sambil memerhatikan Sadam yang berlari dan sambil tertawa dengan sepatu kecil yang membuat langkahnya semakin lincah.
“Sadaaamm…!!!” Panggil ibu.
Sadam yang mendengar ibunya memanggil langsung berlari dengan cepat hingga tak sadar ada sebuah batu kecil yang menghalangi langkahnya. Batu kecil itu membuat Sadam kecil tersandung dan terjatuh sehingga lututnya tersobek. Sadam kecil menangis kesakitan. Ayah langsung berlari kearah Sadam dan menggendongnya.
“Anak ayah kuat. Anak ayah jagoan. Jagoan gak boleh nangis !” Kata Ayah mencoba menghibur Sadam yang terus menangis kesakitan.
Ayah menurunkan Sadam persis didepan ibu. Setelah mengeluarkan kotak P3K, Ibu lalu mengobati luka sobek di lutut Sadam dengan kapas dan obat merah. Rasa perih pada lututnya, membuat Sadam kecil semakin menangis setiap kali kapas menyentuh lututnya. Setelah selesai mengobati, ibu mengucapkan mantra yang Sadam percaya bahwa itu adalah mantra penghilang rasa sakit.
“Brakada…Brakadit…Brakadam… Sembuhkan rasa sakit pada Sadam!” kata Ibu membaca mantra.
Sadam langsung tertawa selepas ibu membaca mantra itu. Tak ada lagi rasa sakit yang ia rasakan pada lututnya yang sobek. Ibu tersenyum melihat anak yang ia cintai tak lagi menangis.
“Mau naik pesawat?” Tanya Ayah sebagai hadiah karena Sadam sudah tak lagi menangis.
Sadam kecil tersenyum dengan gemas kepada ayah. Ayah lalu menggendong Sadam kecil dan menaikannya ke bahunya. Ia lalu mengajak Sadam mengelilingi taman dan berpura-pura sebagai pesawat yang sedang mengantarkan pilot berkeliling taman. Tampak kebahagiaan terpancar dari ketiganya. Sungguh keluarga yang harmonis.
2 tahun kemudian…
Seseorang telah menipu usaha ayah hingga akhirnya usaha emas milik ayah mengalami kebangkrutan. Sejak kejadian itu, tak ada lagi wajah kebahagiaan yang terpancar dari keluarga harmonis itu. Ayah depresi dan selalu menyiksa Sadam kecil dan Ibunya sebagai pelampiasan karena ia lelah memutar otaknya, agar usahanya bisa kembali. Setiap malam selalu dipenuhi oleh air mata bagi Sadam kecil.
Hari itu, ayah baru pulang setelah pergi bersama teman-temannya dan pulang dalam keadaan mabuk.
“SADAM!!!” Panggil ayahnya sambil membentak.
“Sadam lagi tidur, yah!” kata ibu sambil membopong tubuh Ayah yang sempoyongan.
“Tidur? Aku cari uang, dia malah enak-enakan tidur?” bentak ayah pada ibu.
“Ayah mabuk, ayo ke kamar!” Kata ibu sambil terus membopong tubuh ayah.
Ayah langsung mendorong ibu hingga kepala ibu membentur ke dinding. Untungnya, kepala ibu tidak membentur terlalu keras. Dan ibu masih dalam keadaan baik-baik saja. Hanya sedikit pusing yang ia rasakan. Ayah langsung masuk kedalam kamar Sadam dan mendapati Sadam kecil sedang tertidur pulas diatas ranjang kecilnya. Ia langsung meraih tangan Sadam dan menariknya hingga Sadam terduduk dan terbangun.
“BANGUN!!! AYAH CARI UANG KAMU MALAH ENAK-ENAKAN TIDUR!!!” bentak ayah.
Bentakan ayah membuat Sadam menjadi takut. Ia menangis dan tangisannya membuat ayah semakin murka.
“Plakkk…Plakkk…” Ayah terus menampar Sadam agar berhenti menangis.
Ibu yang mendengar tangisan Sadam segera berlari ke kamar Sadam. Ibu mencoba sekuat tenaga menghentikan ayah yang terus menampar pipi Sadam. Hingga akhirnya ayah mendorong ibu hingga tersungkur ke lantai dan menindihnya. Ayah terus menampar pipi ibu sepuas hatinya. Ibu berusaha sekuat tenaga untuk melawan, namun usahanya sia-sia. Pipi ibu terus menerus menjadi korban tamparan ayah hingga ayah merasa puas. Sadam menangis diatas tempat tidur melihat ibu yang pasrah di tampar ayah terus menerus hingga bibir ibu sobek dan pipinya lebam.
Setelah merasa puas menyiksa anak dan istrinya, karena mengantuk ayah pun berjalan dengan sempoyongan menuju kamar dan segera tidur. Meninggalkan Sadam dan Ibunya berlinang air mata. Sadam semakin menangis ketakutan setelah apa yang baru saja menimpa ia dan ibunya. Tangisan Sadam terdengar oleh ibu dan ia pun segera mengusap air matanya lalu berdiri menghampiri Sadam.
“Sini ikut ibu!” Kata ibu sambil tersenyum menyembunyikan rasa sakit yang ia alami.
Ibu mengajak Sadam menuju teras rumah. Ibu menatap ke langit dan tampak bulan purnama yang bersinar dengan indah diantara kegelapan malam.
“Coba Sadam lihat bulan purnama itu!” kata ibu sambil menunjuk sebuah bulan purnama yang indah diatas langit.
Sadam memperhatikan bulan purnama dengan perasaan yang bingung.
“Bulan purnama itu tetap bersinar meski langit disekitarnya dipenuhi kegelapan.” Kata Ibu sambil menatap bulan penuh makna.
Sadam kecil masih tetap bingung dengan perkataan ibunya.
“Suatu saat, jika Sadam merasa sedih ataupun takut. Sadam bisa lihat bulan purnama. Lihat bagaimana bulan purnama tetap bersinar meskipun disekitarnya dipenuhi kegelapan. Sadam bayangkan bahwa bulan purnama itu adalah Sadam. Meskipun orang-orang disekitar Sadam jahat dan dipenuhi kegelapan, Sadam harus tetep ceria dan terus bersinar seperti bulan purnama!” Lanjut ibu dan menjelaskan secara rinci kepada Sadam.
Tangisan Sadam pun berubah menjadi senyuman.
Semenjak saat itu, ketika Sadam harus menerima siksaan dari ayahnya, bersedih dan merasa takut akan suatu hal. Sadam mengingat perkataan ibunya dan selalu melihat kearah bulan. Sayangnya, bulan tak selalu purnama namun Sadam harus selalu menjadi purnama.
Kini ingatannya membawanya ke waktu ketika ia siuman di rumah sakit setelah dipukul dengan balok kayu oleh ayahnya.
“Sadam di pukul sama Ayah, Ibu yang bawa kamu ke rumah sakit. Kamu udah gak sadar selama 3 hari. Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa nak ! Ibu… Ibu…” Ibu tak sanggup meneruskan kata-katanya dan kembali menangis sambil memeluk Sadam dengan erat.
“Ibu gak usah khawatir! Aku sayang ibu. Sampai kapanpun aku gak akan pernah ninggalin ibu!” Kata Sadam berbicara di dekat telinga ibu.
Ibu melepaskan pelukannya dan mencoba untuk tersenyum. Namun, air matanya masih saja berlinang.
“Mulai sekarang, Sadam cuma tinggal sama ibu. Ayah gak akan ganggu kita lagi.” Kata Ibu sambil terus mencoba untuk tersenyum.
Sadam termenung dan hanya bisa terdiam menatap ibu yang berada dihadapannya, terus sibuk mengobatinya. Ingatannya membuat Sadam mengingat kembali akan janji lama yang pernah terucap dari mulutnya. Janji bahwa Sadam tidak akan pernah meninggalkan ibunya. Sebuah janji lama yang mungkin tak akan bisa ia tepati.
“Awww…” Sadam meringis kesakitan saat ibu mencoba mengobati luka memar di pipinya yang sekaligus membuyarkan lamunannya.
“Maafkan ibu nak! Ibu akan lebih berhati-hati.” Kata ibu dengan perlahan menempelkan kapas yang telah dilumuri alkohol ke pipi Sadam.
“Brakada…Brakadit…Brakadam… Sembuhkan rasa sakit pada Sadam!” Kata Sadam mengucapkan mantra.
Ibu menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Sadam yang ternyata juga sedang menatap kearahnya dengan senyuman.
“Kenapa ibu tak lagi mengucapkan mantra itu? Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya. Entah kenapa sekarang aku benar-benar merindukan mantra itu keluar dari mulut ibu.” Lanjut Sadam dengan senyuman manisnya.
Ibu tersenyum sesaat.
“Brakada…Brakadit…Brakadam… Sembuhkan rasa sakit pada Sadam!” Kata Ibu mengucapkan mantra penghilang rasa sakit yang ia buat saat Sadam masih kecil.
Di akhir mantranya, ibu juga turut menampakan sebuah senyuman yang manis, namun juga air mata yang ikut berlinang pada mata sayunya. Sebuah air mata nostalgia yang membawa ibu pada masa itu. Sebuah masa saat dimana keluarga mereka masih harmonis. Ia juga merindukan masa-masa itu.
“Sudah cukup, bu!” kata Sadam menghentikan kegiatan ibunya.
“Yasudah, Sadam makan dulu sana!” Perintah ibunya.
“Sadam udah makan. Ibu tidur aja, yuk!” Kata Sadam sambil menuntun ibunya masuk kedalam kamar.
Setelah didalam kamar, Ibu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sadam membantu menarik selimut yang kemudian ia selimuti tubuh ibunya yang telihat agak keriput.
“Selamat tidur, Ibu!” Kata Sadam sambil mengecup kening ibunya.
“Kamu juga, selamat tidur dan mimpi yang indah, nak!” Balas ibunya dan juga membalas mencium kening anak kesayangannya itu.
Sadam berjalan kearah pintu sambil mematikan lampu kamar ibu. Seketika kamarpun berubah menjadi gelap gulita. Sadam tak dapat melihat apa-apa bahkan ia tak dapat melihat sosok ibunya yang terbaring diatas tempat tidur. Saat ia membuka pintu kamar, barulah cahaya lampu ruang tamu menerobos kegelapan kamar ibu. Pada cahaya itu, barulah Sadam dapat melihat wajah ibu yang sedang tersenyum dengan mata yang terpejam. Ia berdiri dan memandangi wajah tersenyum itu sejenak untuk terakhir kalinya. Hingga tanpa sadar bahwa garis bibirnya mulai tertarik dan ikut tersenyum. Dengan perlahan, pintu yang terbuka mulai tertutup dengan rapat meninggalakan ibu yang sedang tertidur dengan senyuman di wajahnya.
Setelah memeriksa kembali barang-barangnya, Sadam dan Laras bergegas pergi dari rumah ini. Waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Laras mengintip keluar jendela dari kamar Sadam, dan rintik-rintik hujan telah mulai menghilang hanya menyisakan tanah dan dedaunan yang basah serta hawa dingin yang menusuk tulang. Sadam menutup pintu rumah dengan perlahan bahkan nyaris tak berbunyi. Saat kakinya hendak melangkah pergi, ia berbalik badan sejenak dan memandangi rumah yang selama ini ia tinggali berdua dengan ibunya untuk terkahir kali.
“Ibu, maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku untuk terus hidup bersamamu!” Kata Sadam dalam hati dengan penuh penyesalan.
Setelah ia benar-benar membulatkan tekadnya, kini ia mulai berjalan sambil menuntun vespa kesayangannya. Ia sengaja tak menyalakan mesin vespanya karena ia takut terdengar dan membuat ibu terbangun.
Kabut malam semakin lama semakin tebal. Sepasang kekasih bersama anak dalam kandungannya berjalan menerobos kegelapan dan kesunyian malam. Kabut malam menelan bayangan tubuh mereka secara perlahan tapi pasti. Udara dingin yang berhembus dari berbagai arah mata angin membuat suhu dingin seakan menusuk tulang belulang. Dalam kegelapan malam, meninggalkan amarah yang tak sanggup untuk memudar dan sirna dari hati seorang Kakak, Juga kekecewaan yang amat sangat dalam seakan menyayat hati seorang Papa. Meninggalkan sang Ibu yang menyayanginya sejak kecil dalam kesepian dan kesendirian.
“Laras, kau lihat bulan purnama yang disana?” Sadam menghentikan langkah kakinya dan menunjuk kearah bulan purnama yang sangat terang selepas hujan.
“Iya. Ada apa emang?” Tanya Laras kebingungan.
Sadam tersenyum sejenak.
“Kau tau apa yang menarik?” Tanya Sadam sambil menatap wajah Laras.
Laras hanya menggelengkan kepalanya karena tak tau maksud dari perkataan Sadam.
“Sejak kecil, aku selalu menatap bulan purnama. Ibuku bilang bahwa ketika hatiku sedang gundah, maka tataplah bulan purnama dan jadilah seperti dia yang terus bersinar meskipun kegelapan mengitarinya.” Kata Sadam.
Laras hanya terdiam mendengar cerita Sadam.
“Sejak saat itu, aku sering menatap bulan purnama bahkan meskipun hatiku sedang tidak gundah. Aku menatapnya ketika aku bersama Dimas dan Ucup, ketika aku bersama mu, ketika aku habis disiksa oleh ayahku. Dan sekarang, bahkan ia muncul dan aku tetap menatapnya. Jalan hidupku telah banyak berubah-ubah, namun ketika aku menatap keatas langit, Purnamanya selalu sama. Ia mungkin akan terus ada untuk melihat perjalanan kisahku. Aku berharap aku dan kamu bisa membuat kisah menarik untuknya, atau dia akan pergi karena bosan dan tidak akan lagi ada purnama yang indah.” Kata Sadam sambil tersenyum.
Laras tetap tidak mengerti dengan perkataan Sadam, namun ia tetap membalas senyuman calon suaminya itu. Satu hal yang bisa ia petik dari perkataan Sadam ialah bahwa ia dan Sadam harus membuat kisah yang menarik sepanjang hidup mereka berdua. dan dengan hati yang berdebar, Laras menantikan kisah seperti apa yang akan mewarnai hidupnya bersama Sadam. Ia berharap bahwa kisah yang menarik, tentunya harus bahagia. Ia ingin dirinya, Sadam dan bayi yang ada dalam kandungannya terus diselimuti oleh kebahagiaan.