10 Tahun kemudian pasca kelahiran Mutiara….
“Mbak, beli nasi uduknya 3 ya! Oh iya… Di bungkus aja!” Kata Laras kepada seorang wanita paruh baya penjual nasi uduk.
Laras sudah bukan seorang remaja lagi. Kini ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan anggun. Kulitnya sudah tidak sekencang dulu, namun untuk seorang wanita berusia 27 tahun kulitnya masih terlihat lebih baik dibandingkan wanita seumurannya.
“Ini mbak nasi uduknya…” Kata penjual nasi uduk itu sambil memberikan pesanan Laras.
Laras segera mengeluarkan sejumlah uang dari dompet kecil miliknya. Setelah membayar, ia pun segera beranjak dari tempatnya dan kembali menuju rumah kontrakannya.
Mereka telah pindah ke Rumah kontrakan yang baru. Rumah mereka sudah tak lagi sama. Bukan lagi hanya sebuah rumah kontrakan kecil tanpa kamar maupun WC yang hanya berukuran 3x4 meter dan terletak disebuah gang kecil yang sempit dan kumuh. Meskipun rumah yang kini mereka tinggali masih di dalam gang, namun lebih luas dan lebih bersih, serta tak jauh untuk sampai ke Jalan Raya. Rumah yang sekarang mereka tempati juga kini memiliki 2 kamar tidur serta 1 kamar mandi. Mereka tidak perlu repot-repot lagi pergi ke WC umum setiap kali mandi atau sekedar buang air.
“Udah siap nak?” Tanya Laras setibanya di Rumah pada seorang gadis cilik cantik yang sudah memakai seragam putih merahnya dengan lengkap dan sedang menunggu di meja makan kecil dekat dapur.
Gadis cilik itu adalah Mutiara atau mereka sering memanggilnya dengan sebutan Tiara. Tiara tumbuh menjadi gadis imut dengan rambut terurai panjang seperti Laras. Di usianya yang kini genap 10 tahun, Tiara mewarisi keahlian bermain biola seperti bunda-nya. Guru-guru di sekolahnya sangat takjub dengan kemahiran Tiara dalam bermain biola. Tapi, tak hanya Laras yang mewarisi Tiara dengan keahlian bermain biola. Sadam juga mewarisi Tiara dengan kelemahannya disetiap pelajaran sehingga membuat nilai-nilai Tiara sering kali dibawah rata-rata.
“Udah siap bunda.” Jawab Tiara sambil tersenyum manis.
“Sini… bantu Bunda siapin sarapan, sayang! Ini Bunda udah beli nasi uduk.” Kata Laras sambil memberikan 3 piring bertumpuk dengan kantong keresek diatasnya.
“Iya Bunda.” Jawab Tiara singkat sambil mengambil dan mulai menata piring-piring lalu membuka satu persatu bungkusan nasi uduk dan menaruhnya diatas piring.
Laras meninggalkan Tiara menuju kamar untuk mengganti baju dasternya dengan seragam kerjanya. Sesuai janji Sadam dulu, kini Laras sudah bekerja di sebuah pabrik tekstil sejak Tiara berhenti meminum ASI miliknya. Itulah sebabnya kini keluarga mereka bisa tinggal di sebuah lingkungan yang lebih layak untuk disebut ‘Rumah’.
“Tengg…terengtengteng….” Suara motor Vespa mulai terdengar mendekat.
Tak lama munculah sebuah motor Vespa berwarna merah tua dan berhenti persis di depan rumah mereka. Seorang pria turun dari Vespa itu sambil membuka helm dan berjalan menuju kedalam rumah. Pria itu adalah Sadam. Kini Sadam tak lagi harus menaiki sepeda butut karena ia telah mampu membeli sebuah motor Vespa.
Sadam baru saja pulang setelah semalaman bekerja. Kini ia juga tak lagi menjaga sebuah toko di pasar dengan alasan untuk menghindari para preman yang sebelumnya menghajar ia habis-habisan. Kini ia bekerja sebagai pengaman di sebuah klub malam di pinggiran kota.
“Bunda… Ayah udah pulang!” Teriak Tiara sambil berlari dengan kegirangan menuju Sadam.
Ia lalu melompat dan memeluk ayahnya. Sadam lantas menggendong Tiara dan mencium kening Tiara lalu menurunkannya kembali. Rasa letih dan kantuk seakan sirna setelah melihat anak tercintanya begitu gembira menyambut kedatangannya. Laras keluar dari kamarnya dengan sudah berpakaian seragam dengan rapi. Ia lekas mencium punggung telapak tangan suaminya yang baru saja bekerja semalaman. Sadam pun melakukan hal yang sama bahkan ia juga mencium kening istri tercintanya itu. Ketiganya tersenyum bahagia dan membuat siapa saja yang melihat menjadi iri dengan keharmonisan mereka.
“Yuk sarapan dulu!” Ajak Laras.
Meskipun hanya sebuah nasi uduk yang mereka santap, tapi terasa lebih spesial jika menyantapnya bersama keluarga tercinta. Tampak senyuman kebahagiaan terpancar dari raut wajah seorang ayah, bunda, dan anak semata wayangnya.
Usai sarapan, Laras dan Tiara langsung bersiap-siap mengecek kembali barang-barang mereka agar tidak ada yang tertinggal. Sedangkan Sadam sudah menunggu mereka di teras sambil menyalakan sebatang rokok. Kini, rokok sudah menjadi sahabat Sadam yang selalu setia menemani Sadam ketika ia bertugas malam hari.
“Ayo, yah!” Kata Tiara yang sudah siap untuk berangkat sekolah.
Sadam lalu membuang sisa rokok yang masih tersisa seperempat batang dan lalu menginjaknya agar langsung padam.
“Wuiihhh… anak ayah semakin berat.” Kata Sadam sambil menggendong Tiara menuju Vespanya sambil sesekali mencubit-cubit kecil pipi Tiara.
Tiara hanya tertawa karena cubitan ayahnya membuatnya merasa geli.
Setelah mengunci pintu, Laras pun segera menyusul Sadam yang sudah duduk diatas vespa yang mesinnya sudah menyala sambil dipeluk oleh tangan mungil Tiara. Lengan kecil Tiara bahkan tak mampu untuk memeluk pinggang Sadam seutuhnya. Laras mulai mendaratkan pantatnya keatas jok motor lalu memakaikan helm untuk Tiara dan juga dirinya. Setelah semua siap, Sadam mulai menjalankan Vespanya.
Dalam perjalanan mereka, kedua mata Tiara yang mungil terus memperhatikan setiap orang yang sedang beraktivitas dengan kesibukan mereka masing-masing sambil sesekali menunjuknya. Ia benar-benar merasa nyaman duduk diantara kehangatan punggung ayah serta pelukan hangat dari seorang bunda. Seorang malaikat kecil yang tak berdosa yang belum mengerti akan pahitnya kehidupan, mengeluarkan senyuman manisnya menyambut Dunia di pagi hari.
Vespa mereka terhenti setelah mereka sampai di Pabrik tempat Laras bekerja. Laras segera turun dan berpamitan kepada suami serta anaknya.
“Dadaaaahhh Bunda….!” Kata Tiara sambil melambaikan tangan mungilnya.
Laras yang semula hendak beranjak pergi, kini kembali dan mencium pipi Tiara.
“Belajar yang baik ya sayang!” Kata Laras.
Tiara pun membalas dengan tersenyum pada bunda. Kemudian, Laras mulai berjalan menuju gerbang masuk pabrik sambil menjinjing helm. Sedangkan Sadam dan Tiara, melanjutkan perjalanan mereka. Sepanjang perjalanan Tiara terus menggenggam jaket milik ayahnya agar tidak jatuh dari atas motor. Sesampainya di Sekolah, Tiara membuka helm kecilnya dan memberikannya pada ayahnya. Sadam segera mengambil dan menggantungkannya pada leher motor.
“Kamu belajar yang rajin ya! Kalo ada anak yang rese, kamu bilang sama ayah!” Kata Sadam memberi wejangan sambil tertawa.
“Siap komandan !” Kata Tiara sambil member hormat bagai seorang prajurit.
“Tapi, kamu gak boleh rese duluan!” Kata Sadam kembali tertawa dan mencubit hidung kecil Tiara.
“Assssshiiiaappp Komandan…” kata Tiara yang juga tertawa dengan riang.
Ia segera mencium tangan ayahnya dan segera berjalan menuju gerbang Sekolah. Akhirnya tugas Sadam telah selesai. Kini ia kembali ke Rumah untuk menikmati tidur sepanjang hari sampai waktunya ia harus menjemput kedua orang yang sangat ia cintai untuk pulang ke Rumah.
Di Sekolah…
Tiara berjalan sambil melompat-lompat dengan riang. Salah satu teman perempuan sekolahnya datang menghamprinya.
“Eh Tiara! Kamu enak ya… Ayah kamu selalu perhatian sama kamu.” Kata gadis cilik itu karena merasa iri dengan Tiara.
“Emang ayah kamu gak perhatian sama kamu?” Tanya Tiara pada temannya itu.
Gadis kecil itu hanya mengerutkan bibir dan menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu. Tiara merangkul temannya, juga mencoba menghibur supaya gadis itu merasa lebih ceria.
“Aku yakin kok! Semua orang tua pasti sayang sama anaknya.” Kata Tiara dengan senyuman manisnya.
“Tapi ayahku bahkan gak pernah mau nganterin aku ke sekolah. Tiap hari aku cuma dianter pake supir.” Kata gadis cilik itu sambil terus cemburut.
“Mungkin… ayah kamu cuma sibuk aja. Kalo ayah kamu gak perhatian sama kamu, mungkin kamu bakal disuruh jalan kaki. Gak akan tuh harus sampe nyewa supir.” Kata Tiara.
Gadis itu menoleh dan menatap mata Tiara yang berbinar. Semua perkataan yang keluar dari mulut Tiara memang ada benarnya. Raut wajah yang semula sendu berubah menjadi sebuah senyuman yang manis. Mereka berdua pun lanjut berjalan menuju kelas mereka.
Di Pabrik Tekstil…
“Hey, Mbak Laras!” panggil seorang wanita yang berada di samping Laras.
Laras yang sedang fokus mengukur kain yang berada didepan meja kerjanya, tidak mendengar suara dari seseorang yang memanggilnya.
“Hey…!” kata wanita itu sambil menepuk pundak Laras sehingga alhasil Laras pun kaget hingga terperenjat.
“Eh… ! Mbak Gita ngagetin aja.”
“Kamu kalo kerja selalu fokus ya. Pantesan sering dapet penghargaan sebagai Karyawan Teladan.” Kata mbak Gita sambil tersenyum ramah.
“Ah… saya sih merasa ini tanggung jawab saya, mbak! oh iya… tadi mbak Gita manggil saya? ada apa?”
“Kamu nikah udah berapa lama sih ?”
“10 tahun lebih, mbak. Ada apa memangnya?”
“Cukup lama ya… Gini loh, saya liat setiap hari hubungan kamu sama suami kamu selalu harmonis. Emang gak pernah ada bertengkar gitu?”
“Ya…. Namanya pernikahan, mbak. Bertengkar dan perselisihan pasti ada.”
“Terus rahasianya apa sih? bagi-bagi dong tipsnya!”
Untuk menjawab pertanyaan mbak Gita, Laras termenung sejenak untuk menerawang kembali momen ketika ia dan suaminya berselisih. Laras hanya tertawa kecil. Membuat Mbak Gita semakin penasaran.
“Kok malah ketawa sendiri sih!” kata mbak Gita sambil juga ikut tersenyum kecil.
“Gapapa, mbak. Saya hanya teringat kejadian lucu.” Kata Laras sambil tertawa kecil dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
“Jadi tips nya apa dong?”
“Jadi Mbak Gita, namanya perselisihan itu pasti ada. Tinggal, kita hadapin perselisihan itu dengan kepala dingin. Kalo ada suatu masalah yang membutuhkan solusi, jangan selalu menganggap bahwa solusi kita adalah yang paling benar. Jadikan itu sebagai bahan untuk berdiskusi, bukan untuk berdebat.” Kata Laras dengan tatapan serius, namun bibirnya masih tersenyum ramah.
“Semakin kita saling berdiskusi dan memberikan kesempatan pasangan kita untuk berbicara, semakin kita bisa mengenal diri dan pola pikir satu sama lain. Untungnya, suami saya bukan tipe orang yang berpikir bahwa keputusan suami itu absolut, sedangkan istri tidak berhak memutuskan apapun dan hanya mengikuti perintah dan arahan dari suami.” Lanjut Laras.
“Cuma karena itu?”
“Ya nggak. Itu cuma salah satunya. Saran yang saya berikan, hanya akan memperbaiki komunikasi antar suami dan istri. Tapi, jangan salah! Komunikasi itu penting. Karena menjadi salah satu kunci penentu, apakah rumah tangga akan retak ataukah akan bertahan lama.” Kata Laras dengan panjang lebar.
“Oh gitu… makasih ya, Mbak Laras! saya akan coba praktekan dengan suami saya.” Kata mbak Gita dan kembali bekerja.
Beberapa jam kemudian di Rumah…
“Teeettt…Teeettt…” Alarm ponsel Sadam yang terletak di sebuah meja kecil di samping tempat tidur berbunyi.
Rasa kantuk yang hinggap di tubuhnya sangatlah terasa amat berat. Membuat alarm harus berbunyi berulang-ulang untuk membuat Sadam akhirnya terbangun dari tidurnya meski matanya masih tertutup rapat.
Tangannya berusaha meraih ponsel yang terbaring rapi di meja samping tempat tidurnya. Setelah berhasil, ia mendekatkan layar ponsel pada wajahnya. Salah satu mata Sadam terbuka dengan sangat berat dan menatap ke layar hape. Rupanya waktu telah menunjukkan pukul 12.30 siang.
Suara alarm tak lagi terdengar. Untuk sesaat, tubuhnya masih terbaring diatas kasur bersama dengkuran yang semakin menggema ke seluruh sudut kamar. Teringat bahwa hari ini adalah hari yang sangat penting, ia pun langsung terperenjat dan bangun dengan seketika meskipun kepalanya jadi terasa pusing. Sadam berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai.
Beberapa saat kemudian...
“Treng…teng…teng…” suara mesin vespanya telah ia nyalakan.
Tubuh Sadam menjadi lebih segar ketika rasa kantuk dan letihnya terbilas oleh air ketika mandi. Ia sempat bercermin sebelum akhirnya ia memantapkan dirinya untuk segera berangkat. Hari ini adalah hari ulang tahun Mutiara Kusuma Dewi alias Tiara, anaknya.
Sadam berhenti di depan sebuah toko kue di pinggir jalan. Didalamnya terdapat macam-macam kue tart dengan desain yang berbeda-beda. Ia tidak memilih untuk membeli kue tart berukuran besar, ia hanya memilih sebuah kue tart kecil dengan diagram 7 sentimeter dengan hiasan potongan buah di pinggir dan beberapa di letakkan di permukaan. Belum cukup, karena Sadam merasa bahwa apalah artinya sebuah pesta ulang tahun tanpa kado. Ia pun berkeliling dengan vespanya mengunjungi toko demi toko untuk menemukan kado yang pas untuk buah hatinya. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan kado yang pas untuk Tiara.
Sadam kembali ke Rumah untuk sekedar menyimpan kue di dalam kulkas serta menyembunyikan kado yang telah ia beli. Kini ia kembali berangkat dengan vespa merah tua nya untuk menjemput Tiara di Sekolah.
“Ayaaahhh…!!! Teriak Tiara setelah melihat ayahnya di luar gerbang sekolah sedang menunggu diatas motor.
Tiara berpamitan kepada teman-temannya juga menicum tangan Ibu Luna wali kelasnya. Dengan riang Tiara melompat keatas motor dan memeluk ayahnya dari belakang.
“Gimana tadi di sekolah, sayang?” Tanya ayahnya.
“Tadi ada ulangan Matematika, tapi nilaiku jelek.” Kata Tiara sambil murung dan menyembunyikan wajahnya di punggung ayahnya.
“Yaudah nanti kamu minta bunda ajarin ya!” Kata Sadam dengan lembut dan tidak memarahi Tiara.
“Kenapa bukan ayah?” Tanya Tiara sambil mengangkat wajahnya.
“Ayah juga bodoh kalo Matematika. Dulu, ayah selalu dibantu sahabat ayah namanya Ucup. Dia pinter banget matematika.” Kata Sadam sambil tertawa.
“Berarti aku bodoh Matematika, karena ayah.” Kata Tiara sambil tertawa.
“Anak ayah udah mulai berani cari alasan, sama berani ngeledek, ya?” Kata Sadam sambil tertawa kecil dan menyalakan mesin motornya.
“Kapan-kapan aku boleh ketemu Om Ucup gak ?” tanya Tiara dengan polos.
Ekspresi Sadam seketika berubah. Ia termenung sejenak.
“Ayah kenapa? Tiara bolehkan ketemu Om Ucup?” Tanya Tiara.
Sadam hanya mengangguk sambil nyengir.
Sebelum pergi, Sadam melihat kearah Sekolah dan rupanya Ibu Luna memperhatikan mereka. Karena merasa tidak enak, Sadam pun tersenyum sebagai tanda bahwa mereka akan pamit. Motor Sadam pun melaju menuju Rumah.
“Ayah… Tiara pengen Eskrim.” Kata Tiara merengek manja ketika dalam perjalanan pulang.
Sadam menuruti permintaan Tiara, sehingga mereka mampir terlebih dahulu di sebuah toko kelontong untuk membeli eskrim.
Sesampainya di Rumah...
“Tiara… ayo!” Kata Sadam sambil berteriak dengan memakai kaus singlet sedang berdiri di tangga menuju atap rumahnya.
Tiara berlari dari dalam kamar dengan semangat. Ia memakai kaos oblong beserta rok seragamnya yang masih terpakai. Tiara berlari menyusul ayahnya menuju atap Rumah mereka. Diatas, Sadam menuntun Tiara dengan berjalan perlahan dan sangat hati-hati menginjak pinggiran atap Rumah. Ketika sudah sampai puncak atap Rumah, Sadam membuka kantong kresek dan mengambil 2 buah eskrim yang baru saja mereka beli. Mereka berdua menjilati eskrim sambil menikmati pemandangan dari atap rumah. Sinar Matahari yang hangat, serta dingin dari eskrim yang meleleh di mulut mereka, menjadi sebuah kenikmatan yang tiada tara.
“Ayah kenapa awan itu terlihat seperti permen kapas?” Tanya Tiara sambil menengadah keatas melihat awan yang bergerak diatas langit.
“Pertanyaan yang bagus! Besok kamu coba tanya Bu Luna!” Kata Ayahnya karena tidak mengetahui jawabannya.
“Jadi ayah gak tau jawabannya?” kata Tiara menggerutu.
“Bukan gak tau, ayah udah lupa.” Kata Sadam mengelak.
Tiara hanya cemberut karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
“Kalo awan rasanya manis, boleh gak aku memakannya?” Tanya Tiara dengan lugu.
“Jangan! Awan itu sebenarnya bentuknya sangat besar. Kalo kamu makan itu, perut kamu bisa meledak!” Kata Sadam sambil menggelitiki perut Tiara.
Tiara pun tertawa menahan geli sambil mempertahankan eskrim di tangannya agar tidak jatuh.
Beberapa saat kemudian, Tiara terus menikmati keindahan dari atap Rumah. Sesekali ia memutar tubuhnya agar ia bisa menikmati keindahan dari berbagai arah sambil salah satu tangannya di genggam erat oleh ayahnya. Sadam memperhatikan wajah gembira yang terpancar dari wajah buah hatinya.
“Rupanya, kebahagiaan itu tidak semahal seperti yang selalu orang-orang bicarakan dan aku pikirkan.” Pikir Sadam dalam hati.
Langit berubah menjadi mendung. Awan seputih salju, berubah menjadi gelap keabuan. Suara gemuruh mulai menggelegar dari atas langit.
“Yuk, sayang. Kita turun! Udah mendung tuh!” ajak Sadam sambil beranjak dari tempatnya.
“Ayah, kenapa langit mendung begitu menakutkan?” tanya Tiara sambil berjalan dengan perlahan menuruni atap rumah.
“Bukan awan mendung yang ayah takutkan, tapi petir. Petir akan menyambar tempat tinggi. Jadi, kalo gak mau kesamber petir, ya… kita harus turun dari tempat ketinggian!” jelas Ayah.
“Bukan itu, maksud Tiara, kenapa ya awan mendung itu bikin Tiara takut?” tanya Tiara lagi sambil mereka berjalan menuruni tangga.
“Apa yang Tiara takutkan dari awan mendung ?” tanya ayah.
Ayah menuntun Tiara untuk duduk di sofa.
“Tiara juga gak tahu, tapi Tiara suka takut.” Kata Tiara yang terus memepetkan tubuhnya ke tubuh ayah yang duduk disampingnya.
Sadam pun kebingungan untuk mengerti perasaan Tiara yang takut oleh awan mendung. Ia mencoba memutar otaknya hingga akhirnya mencoba membuat perumpamaan agar Tiara lebih mengerti.
“Mungkin, Tiara merasa bahwa awan mendung itu ibarat seseorang yang sedang murung. Hujan adalah ibarat air mata. Sedangkan gemuruh adalah ibarat tangisannya. Ayah boleh tanya sesuatu?” tanya ayah.
“Boleh.” Kata Tiara sambil menatap wajah ayahnya yang tersenyum.
“Kalo Tiara lihat ada orang lagi sedih, apa perasaan Tiara?” tanya ayah.
Tiara berpikir sejenak. Matanya melihat keatas seakan menerawang.
“Tiara suka ikutan sedih.” Jawab Tiara dengan polos.
“Bagus. Itu artinya Tiara punya yang namanya empati di dalam hati Tiara. Jadi ayah rasa, Tiara bukan takut kalo lihat mendung, tapi perasaan gak nyaman karena ikut merasakan kesedihan.” Kata Ayah sambil menunjuk d**a Tiara.
“Ketika kita punya empati, kita ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Nah, lebih baik lagi, Tiara kalo lihat orang lain lagi sedih, selain Tiara ikut merasakan kesedihan orang itu, Tiara juga harus bisa menghilangkan kesedihan orang itu. Bisa?” Tanya ayah sambil mengusap-usap rambut putrinya.
Tiara mengangguk dan tersenyum.
“Tiara sekarang istirahat di kamar! Ayah mau jemput Bunda.” Kata Sadam sambil memakai Jaketnya.
Tiara mencium tangan ayahnya dan segera masuk kedalam kamarnya lalu memeluk boneka jerapah kesayangannya.
Dibawah langit mendung yang bergemuruh, Sadam memacu vespanya menuju tempat istrinya mencari pundi-pundi rupiah. Ia tersenyum dengan pertanyaan Tiara yang seolah membawanya ke masa lalu ketika ia masih seumuran dengan Tiara.
Masa ketika Sadam berusia 10 tahun…
“Duarrrr…!!!” Sebuah suara dari petir terdengar sangat bergemuruh disertai kilatan yang luar biasa.
Sadam kecil meringkuk di dalam kamarnya sambil memeluk selimut yang menyelimuti setengah badannya.
“Kreeekk…” Suara pintu kamarnya terbuka bersamaan dengan sebuah suara langkah kaki yang melangkah masuk kedalam kamarnya.
Sadam menolehkan kepalanya kearah pintu. Rupanya, ibu datang sambil membawa segelas coklat panas untuk menenangkan Sadam. Ibu menaruh coklat panas itu di sebuah meja yang terletak tak jauh dari tempat tidur Sadam. Ibu duduk dan memeluk Sadam yang terus bergemetar ketakutan karena mendengar suara petir.
“Bu… kenapa sih petir itu sangat menakutkan?” Tanya Sadam sambil memeluk ibunya.
“Apa yang kamu takutkan dari petir?” Tanya ibu sambil tersenyum.
“Suara dan kilatannya seakan-akan seperti monster.” Kata Sadam.
Ibu tertawa kecil.
“Petir memang bisa membunuhmu.” Kata Ibu.
Sadam semakin ketakutan.
“Kamu takut?” tanya ibu.
Sadam kecil hanya mengangguk.
“Apa kamu selalu takut dengan semua yang bisa membunuhmu?” tanya Ibu.
Tanpa pikir panjang Sadam langsung menganggukan kepalanya.
“Kalo kamu memiliki rasa takut, itu wajar. Semua orang pasti memiliki rasa takut dan itulah yang akan membuat kita bisa bertahan hidup. Tapi, kalo kamu selalu takut dengan segala hal yang bisa membunuhmu, kamu akan kesulitan untuk hidup tenang.” Jelas ibu.
“Manusia bisa membunuhmu, Pisau bisa membunuhmu, Api bisa membunuhmu, Air bisa membunuhmu, bahkan semua hal di dunia ini bisa membunuhmu. Pilihannya ada 2. Sadam menghindari itu, atau Sadam menghadapi itu.” Lanjut Ibu.
“Terus, gimana cara Sadam bisa menghadapi petir?” tanya Sadam kecil.
“Tidak! Petir memang harus di hindari. Tapi, bukan berarti petir harus ditakuti secara berlebihan. Ibu tidak akan memberitahu kamu cara menghindari petir, Ibu mau kamu yang mencari tahu itu sendiri! Sebuah informasi jika didapatkan dengan mudah, akan mudah juga untuk dilupakan.” Kata Ibu yang sambil tersenyum.
Kini Sadam sudah merasa lebih tenang, ia hanya tinggal mencari tahu informasi tentang petir.
“Alah… dasar anak penakut!” Kata ayah yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar.
“Ayah akan mengajari kamu supaya kamu gak takut sama petir!” Kata Ayah sambil menyeret Sadam kecil.
Sadam terus berontak dan memohon pertolongan dari ibunya. Ibu pun memohon agar ayah segera melepaskan genggamannya pada tangan Sadam. Namun, ayah malah melayangkan sebuah bogem mentah kepada ibu, sehingga membuat ibu tersungkur dan meninggalkan luka memar di wajahnya. Ayah terus menarik Sadam dan mendorongnya keluar Rumah. Saat itu, hujan sedang turun deras diiringi oleh petir yang semakin terdengar menggelegar. Tubuhnya tersungkur ke tanah dan seketika basah diguyur derasnya hujan. Ia bias melihat bahwa ayah segera menutup pintu dan menguncinya. Sadam berlari dan berusaha membuka pintu agar ia bisa segera masuk kedalam rumah. Namun, itu hanya sia-sia karena pintu sudah terkunci rapat. Sadam terus menggedor-gedor pintu dan memohon agar segera dibukakan. Namun ayah tidak menghiraukannya. Ayah malah menjambak rambut ibu dari tubuh ibu yang masih tergeletak di lantai dan menyeretnya masuk kedalam kamar.
“Blaarrrr…!!!” Suara petir terdengar menggelegar.
Seketika membuat tubuh Sadam lemah dan ambruk tepat di depan pintu. Ia berusaha menutup telinganya dengan tubuh bergemetar hebat. Namun setiap kali petir bergemuruh, ia tetap bisa mendengarnya. Keringat dingin mulai bercucuran bersamaan dengan air matanya yang mengalir dengan deras. Sadam sangat ketakutan.
Beberapa menit kemudian, hujan telah berhenti menyisakan basah pada rumput dan dedaunan. Sadam masih tergulai lemah tak berdaya di depan pintu.
“ceklek…” terdengar suara kunci pintu mulai dibuka.
Gagang pintu mulai bergerak dan pintu pun terbuka. Ibu muncul dari balik pintu dengan wajah penuh memar dan rambut yang berantakan. Ia segera memeluk Sadam.
“Ibu, Apakah ayah bisa membunuhku? apakah aku harus mencari tahu juga bagaimana cara menghadapi ayah?” kata Sadam pada ibu sambil membuang muka.
Mendengar perkataan itu keluar dari mulut anaknya, hatinya terasa teriris namun ibu hanya bisa menangis.
Sadam menunggu di sebuah kantin tempat istrinya bekerja sambil menyalakan sebatang rokok. Beberapa saat kemudian, tak jauh dari tempatnya duduk. Tampak Laras berjalan mendekatinya. Sadam segera membuang rokoknya yang tersisa setengah batang lalu menginjaknya agar padam. Sadam beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Laras. Tangannya dicium oleh Laras, begitupun ia mencium tangan istrinya itu. Lalu mereka berdua berjalan menuju tempat motor mereka terparkir.
Dalam perjalanan pulang, langit tak mampu lagi membendung kesedihannya. Hujan mulai turun. Sadam dan Laras segera menepi untuk berteduh. Namun tak berapa lama, Sadam berbisik kepada Laras dan melanjutkan perjalanannya. Dalam derasnya hujan, kedua sejoli menerobos setiap butir air hujan yang jatuh. Harapan mereka, agar mereka cepat sampai di Rumah.
Sesampainya di Rumah, langit telah berhenti menangis. Meninggalkan basah pada baju Sadam maupun Laras. Tiara bertanya-tanya karena mengapa kedua orang tuanya memilih untuk diguyur hujan daripada menepi untuk berteduh.
“Lihat! langit menangis. Tapi Ayah dan Bunda terus menghibur dengan menari diantara air hujan. Alhasil, langit kembali cerah dan ceria.” Kata Sadam sambil berjongkok dan menatap mata Tiara.
Perkataan ayahnya sungguh membuat hati Tiara menjadi lega dan tak lagi takut dengan awan mendung.
Setelah mandi dan berganti pakaian dengan yang kering, Sadam membuka kulkas dan mengambil kue Ulang tahun yang tadi ia beli sebelum menjemput Tiara pulang dari sekolah.
“Selamat… Ulang Tahun… Kami ucapkan…” Kata Sadam sambil bernyanyi.
Ditangannya telah terdapat kue ulang tahun yang sebelumnya telah ia beli. Diatas kue terdapat lilin berbentuk angka 10 dengan api yang menyala di kuncupnya. Disampingnya, Laras turut bernyanyi sambil bertepuk tangan mencoba memeriahkan hari Ulang tahun anak mereka. Tiara berlari dari dalam kamar dan terkejut bahagia karena kedua orang tuanya ternyata mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
“Fuuuuhhhh…” Tiup Tiara pada kuenya setelah berdoa yang kini diletakan diatas meja ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga.
Sadam dan Laras pun bertepuk tangan setelah api pada lilin padam.
“Tadi Tiara berdoa apa, sayang?” Tanya bundanya sambil merangkul Tiara.
“Aku berdoa supaya keluarga kita selalu berbahagia selamanya. Aku ingin Ayah dan Bunda terus berada disampingku.” Kata Tiara dengan mata yang berkaca-kaca.
Sadam dan Laras lekas memeluk Tiara dengan erat. Sungguh sebuah kehangatan keluarga yang dirasakan oleh Tiara.
“Oh iya! Ayah punya hadiah buat Tiara.” Kata Sadam lalu beranjak dan mengambil hadiah yang telah ia beli.
Sebuah kado berbentuk persegi panjang agak besar dengan dibalut kertas kado berwarna kuning diberikan kepada Tiara. Dengan penasaran, Tiara lalu mencabik-cabik kertas kado hingga sebuah kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu mulai tampak. Tiara membuka tutupnya dengan perlahan. Saat dibuka, rupanya didalamnya ada sebuah biola berwarna putih yang sedang tertidur pulas menunggu sang pemilik menyambutnya.
“Yeeee… aku punya biola!!!” Kata Tiara kegirangan karena kini ia tidak lagi harus meminjam biola milik bundanya ketika ia ingin bermain biola.
Ia mulai melompat kegirangan dengan hadiah yang diberikan oleh Sadam.
“Makasih ayah!” ucap Tiara sambil memeluk Sadam dengan tangan mungilnya.
Tiara langsung mencoba memainkan sebuah lagu dengan biolanya yang baru. Lagu berjudul ‘My Immortal’ dari Evanescence terdengar sangat merdu dalam setiap gesekan pada biola Tiara yang baru. Tak mau melihat putrinya bermain sendirian, Laras langsung mengambil biola miliknya dan mereka berdua pun berkolaborasi. Sadam hanya duduk terpesona dengan duet maut yang dilakukan oleh istri dan putri semata wayangnya. Ia terus tersenyum selama 5 menit sampai lagu selesai dimainkan.
Terdengar suara sepeda motor terhenti didepan rumah mereka. Sadam langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi untuk mengecek siapa yang hendak bertamu.
“Om Ohiiimmm…!!!” Teriak Tiara yang ketika mengetahui bahwa yang datang adalah Ohim.
“Waaahhh…! Tiara udah gede sekarang!” kata Ohim.
Ohim kini tidak lagi bekerja sebagai penjaga WC Umum. Gitar pemberian Sadam sangat bermanfaat untuknya. Kini ia sering mengisi acara band di tempat hajatan atau acara-acara kecil-kecilan yang honornya lebih besar daripada sebagai penjaga WC Umum.
“Om… liat biola Tiara!” Kata Tiara menyombongkan biola barunya.
“Wah! Bagus. Hadiah dari siapa?” Tanya Ohim.
“Ini hadiah ulang tahun dari ayah.” Kata Tiara sambil tersenyum lugu.
Ohim pun tak mau kalah. Ia memberikan sebuah hadiah untuk Tiara. Dengan semangat Tiara membuka hadiah pemberian dari Ohim dan ternyata adalah sebuah boneka Gajah.
“Yeeee… sekarang si Jerry punya temen baru!” Kata Tiara dengan gembira.
Jerry adalah nama boneka Jerapah kesayangannya.
“Gajah ini, Om kasih nama Ohim aja ya! Biar kalo Tiara kangen sama om, Tiara bisa peluk bonekanya.” Kata Ohim sambil mengusap-usap kepala Tiara.
“Iya om.” Kata Tiara sambil tersenyum.
“Ayah. Besok kita nongkrong diatas genteng lagi ya! Aku mau ajak Jerry sama Ohim juga.” Kata Tiara sambil memeluk boneka gajah yang baru ia dapatkan dengan gemas.
Mendengar perkataan Tiara, Sadam langsung kaget sambil melirik perlahan kearah Laras. Benar saja, ekspresi istrinya sudah berubah dari seorang malaikat baik hati menjadi seorang iblis yang hendak mengamuk. Laras memelototi Sadam dengan kesal dan lalu berjalan ke kamarnya. Sadam mengikuti Laras dari belakang hingga akhirnya mereka berdua masuk kedalam kamar.
Laras berdiri membelakangi Sadam dan hanya terdiam dengan dingin. Sadam merangkul bahunya dari belakang, namun Laras melepaskan tangan Sadam yang menyentuh bahunya. Sadam tahu betul bahwa istrinya sedang benar-benar murka.
“Kamu marah ya?” Tanya Sadam pada Laras.
Tidak ada jawaban sedikitpun dari Laras. Ia mengunci mulutnya dengan rapat.
“Gara-gara aku bawa Tiara kea tap rumah?”Tanya Sadam kembali.
Laras hanya tetap membisu seribu bahasa.
“Aku Cuma mau ngajarin Tiara supaya dia gak takut ketinggian. Dan dia seneng-seneng aja kok.” Kata Sadam.
“Kamu gak kepikiran kalo dia kepeleset lalu jatuh? Tiara seneng karena dia masih kecil. Dia gak tau kalo itu berbahaya.” tanya Laras dengan nada kesal.
“Kan aku pegangin. Lagian Tiara udah cukup besar untuk tahu mana yang menurut dia bahaya, mana yang menurut dia gak bahaya.” Kata Sadam terus mengelak.
“Kalo kamu mau ajarin dia untuk melawan rasa takut, gak gitu caranya! Buat aku, dia itu masih tetep anak kecil.” Kata Laras yang terus membuang muka dari Sadam.
“Terus mau sampai kapan kamu nganggep Tiara sebagai anak kecil? Sampai dia masuk kuliah? Laras dengerin aku! Kita gak pernah tau usia kita. Aku cuma gak mau kalo Tiara hidup dengan penuh rasa takut dan gak mandiri.” Kata Sadam mencoba menjelaskan.
“Ya… tapi kan gak sekarang-sekarang.” Kata Laras yang terus menjadi semakin kesal.
“Kamu yakin besok-besok kita masih hidup? Dan kamu gak menyesal kalo kita mati, lalu meninggalkan Tiara untuk hidup sendirian tanpa bekal apapun dari kita?” Tanya Sadam.
Kini Laras hanya bisa terdiam tak bergeming. Sadam membalik tubuh Laras menghadap kearahnya, namun laras terus membuang muka. Rasa kesal masih membelenggu di hatinya. Namun, kekesalan itu mulai mencair ketika Sadam memeluk Laras.
“Tiara anak aku juga. Sebagai ayah, aku tau apa yang harus kulakukan dan apa yang gak harus kulakukan jika itu mengancam keselamatannya.” Bisik Sadam.
Air mata mulai meleleh dari bola mata Laras karena ia sangat terharu dengan perkataan Sadam. Tangannya mulai bergerak dan ia pun memeluk Sadam. Tangan kiri Sadam tetap memeluk Laras, sedangkan tangan kanan Sadam kini membelai rambut Laras. Laras pun memejamkan matanya.
“Ssstttt… Tiara!” Panggil Ohim dengan nyaris tak bersuara.
Tiara berjalan kearah Ohim yang berdiri persis di depan kamar orang tuanya.
“Lihat ayah dan bunda!” Kata Ohim sambil menunjuk kedalam kamar.
Tiara menangkap basah kedua orang tua mereka sedang berpelukan dengan mesra.
“Kok ayah sama bunda gak ngajak Tiara berpelukan juga?” Protes Tiara.
Kaget mendengar suara Tiara, mereka pun akhirnya melepas pelukan mereka dan tampak canggung. Laras mencoba menyeka air matanya dan pura-pura tersenyum.
“Yaudah sini…! Tiara juga ayah peluk.” Kata Sadam yang lalu memeluk Tiara dan Laras bersamaan.
Mereka bertiga berpelukan mesra di hadapan Ohim yang sangat butuh juga akan pelukan kasih sayang.
“Ayaaahhh!!!! Bunda!!!! Ohim juga mau dipeluk!!!!” Kata Ohim sambil berpura-pura merengek dan berjalan kearah mereka bertiga.
“Lu tunggu di ruang tamu aja!” Kata Sadam ketus.
Beberapa Minggu kemudian…
Sadam terlihat tampak lesu. Jam baru menunjukkan pukul 12 tengah malam. Namun, ia kini sedang melaju bersama vespanya menuju arah pulang. Wajah lesu ia dapatkan setelah mendapatkan kabar buruk dari Bos di tempat ia mencari nafkah. Perusahaan diskotik tempat ia mengais rejeki, dinyatakan bangkrut dan terpaksa semua karyawannya harus berhenti bekerja termasuk dirinya.
“Tok…Tok…Tok…” Sadam mengetuk pintu Rumahnya setelah ia sampai di Rumah.
Tak lama Laras membukakan pintu dan sangat terkejut karena suaminya sedang berdiri didepan pintu dengan wajah lesu, sorot mata yang hampa, dan sepucuk surat yang ia remas di tangan kanannya. Seolah tahu apa yang terjadi, Laras langsung memeluk suaminya tanpa berkata sepatah kata pun.
Semenjak itu, aktivitas keluarga mereka pun berbeda dengan kebanyakan keluarga lainnya. Setelah mencoba melamar kesana kemari, Sadam tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Akhirnya, Laras lah yang bertugas untuk mencari nafkah sedangkan Sadam bertugas untuk menjaga dan membersihkan Rumah serta antar jemput Istri dan putrinya. Tak hanya itu, Sadam juga belajar memasak agar ia bisa menghidangkan makanan super lezat untuk menghilangkan rasa lelah pada istrinya yang setelah seharian bekerja.
Beberapa hari kemudian saat menjemput Tiara pulang dari Sekolah…
“Dadah dulu sama bu Luna!” pinta Sadam pada Tiara yang baru saja naik ke jok motor.
Tiara melambaikan tangan kepada gurunya tersebut. Sadam melemparan senyuman manis dan lalu beranjak pergi.
Sesampainya di Rumah…
“Kamu mau belajar masak gak?” tanya Sadam pada Tiara.
“Mau, yah!” Jawab Tiara dengan semangat.
“Yaudah, ganti baju dulu terus cuci tangan. Hari ini koki Sadam mempunyai asisten baru bernama koki Tiara!” Kata Sadam untuk membakar semangat Tiara.
Sadam mengajari Tiara cara mengulek bumbu-bumbu menjadi satu. Sadam juga mengajarkannya cara membersihkan bahan-bahan makanan yang akan mereka pakai. Ia tidak membuat Tiara melakukan hal yang berbahaya. Ia mengajarkan putrinya sambil becanda agar Tiara merasa tidak cepat bosan.
“Kamu diajarin masak, kenapa nangis?” Tanya Sadam yang heran karena melihat Tiara menyeka air matanya.
“Nangis? Tiara gak nangis kok.” Jawab Tiara.
“Oalah… Pantesan aja. Kamu duduk deket bawang merah. Bawang merah itu pedih di mata.” Kata Sadam sambil tertawa dan memindahkan bawang merah agar menjauh dari Tiara.
Beberapa saat kemudian, mereka pun telah selesai memasak.
“Inget ya, Tiara gak boleh nyoba masak sendiri tanpa diawasi ayah sama bunda!” kata Sadam mewanti-wanti.
“Siap, Chef!!!” kata Tiara sambil hormat.
Karena telah selesai memasak, Sadam menyuruh Tiara untuk beristirahat di kamarnya. Sementara ia harus pergi untuk menjemput istrinya pulang dari pabrik.
Di Pabrik…
Seperti biasa, Sadam harus menunggu Laras sampai jam kerjanya selesai, setelah itu barulah mereka pulang ke rumah mereka.
“Hari ini, Tiara bantuin aku masak.” Kata Sadam sambil mengendarai vespanya.
“Wah… bagus dong!” Jawab Laras.
“Dia anaknya penuh semangat.” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Kalo gitu… mampir dulu di toko ya, ayah!” kata Laras karena ia ingin membelikan Tiara sebuah hadiah.
Sesampainya di Rumah, mereka makan bersama di meja makan kecil milik mereka.
“Terima kasih koki Sadam dan koki Tiara atas makanannya yang super lezat ini!” Kata Laras dengan formal setelah menyantap makanan yang disajikan oleh Sadam dengan bantuan Tiara.
“Sama-sama, bunda.” Jawab Tiara dengan senyum yang lebar di bibirnya.
Laras beranjak dari tempat duduknya dan mengambil hadiah yang telah ia beli untuk menyemangati Tiara. Hadiah itu adalah topi koki berukuran kecil khusus untuk anak-anak. Tiara merasa sangat senang dengan hadiah yang diberikan oleh Laras. Ia benar-benar sangat bahagia memilki kedua orang tua yang sangat menyayanginya.
Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Tiara sudah meringkuk di dalam kamarnya tertidur pulas sambil memeluk Jerry si Jerapah dan Ohim si Gajah. Sementara itu, Sadam sedang memijati kaki Laras karena rasa pegal yang mengganggunya.
“Maaf ya, bun!” Kata Sadam sambil memijati kaki Istrinya yang telah di balur dengan balsam yang menyengat.
“Maaf untuk apa?” tanya Laras sambil menikmati pijatan pada kakinya.
“Aku gak bisa jadi suami yang semestinya.” Kata Sadam sambil tertunduk dan terus memijat.
“Kok gitu?” Tanya Laras.
“Ya… harusnya kan aku yang cari nafkah. Kamu gak usah sampe pegel-pegel gini.” Jawab Sadam.
Laras tersenyum kecil.
“Ayah… untuk saat ini, keadaannya memang harus seperti ini. Aku yang harus kerja demi ekonomi keluarga kita.” Jawab Laras sambil mengusap-usap rambut Suaminya yang senantiasa terus memijatinya.
“Tapi kan aku malu sama tetangga. Pasti mereka gosipin keluarga kita dan menyangka kalo aku laki-laki yang gak bertanggung jawab.” Keluh Sadam.
“Kenapa kamu harus peduliin omongan orang lain yang gak tau apa-apa tentang keluarga kita?” Tanya Laras.
Sadam hanya terdiam dan terus memijat.
“Apa orang lain tau kalo kamu jadi ayah yang baik buat anak kita? apa orang lain tau kalo kamu bela-belain belajar masak untuk supaya menyenangkan aku dan Tiara? apa orang lain tau perjuangan kamu dulu sebelum aku bisa kerja?” tanya Laras.
Sadam masih terdiam dan tertunduk.
“Coba lihat aku!” Pinta Laras.
Sadam masih terus menyembunyikan wajahnya karena malu. Laras merasa kesal sehingga harus menarik wajah suaminya, agar suaminya itu bisa menatap matanya.
“Apa ada yang salah jadi ayah rumah tangga? Apa kalo istri yang bekerja, sementara suami memasak, mengurusi rumah, mengajari anak, memanjakan istri seperti memijat kaki adalah suatu yang hina?” tanya Laras dengan tatapan yang sangat dalam.
Perkataan Laras rupanya ada benarnya juga. Perkataan yang bisa membuat Sadam bungkam seribu bahasa. Rumah tangga artinya bukan hanya menyatukan kedua insan yang saling mencintai dalam satu atap. Namun, rumah tangga adalah dimana kedua insan yang saling mencintai saling bantu membantu satu sama lain, menjaga komitmen, tak peduli dengan omongan orang lain, karena yang terpenting adalah keluarga.
Setelah selesai memijat, mereka pun masuk kedalam selimut dan mematikan lampu agar mereka bisa tidur nyenyak dan menyambut esok hari dengan penuh semangat.
“Ayah… mau bikin adik gak buat Tiara?” Bisik Laras pada telinga Sadam dengan lembut dan menggoda.
Sadam tercengang mendengar rayuan Laras.
“Jangan ah… kita hidup pas-pasan. Kalo nanti kita punya anak lagi, beban kita makin berat. Lagian kasian kalo dia harus lahir dalam keadaan pas-pasan.” Kata Sadam dengan serius.
“Iiihhh ayah gak asik! ‘bikin adik’ itu kan cuma permainan kata. Lagian sekarang bukan masa subur ku!” Jawab Laras dengan kesal sambil memonyongkan bibirnya.
“Lagian bunda ada-ada aja. Kita ini udah nikah selama 10 tahun. Pengen begituan aja pake basa-basi sambil permainan kata segala. Kalo pengen kan tinggal bilang aja! pake malu-malu segala.” Kata Sadam sambil tertawa dan lalu menarik selimut hingga benar-benar menutupi tubuh mereka berdua yang sedang b*******h.
Hari-hari mereka lalui dengan normal. Sadam kini sudah menerima perannya menjadi ayah rumah tangga sambil terus mencari lowongan pekerjaan, sedangkan istrinya lah yang harus mencari nafkah.
Beberapa hari kemudian…
Wajah Laras tampak pucat dan dunia terasa berputar dengan cepat di kepalanya.
“Kamu istirahat aja, lagi sakit jangan maksain kerja!” Kata Sadam sambil merangkul Laras di sofa ruang tamu.
“Bunda istriahat aja! Kan gapapa kalo gak kerja sehari.” Kata Tiara yang juga menasehati bundanya agar tetap di rumah.
“Gak apa-apa bunda kuat kok. Yuk pergi!” Kata Laras sambil beranjak dari sofa.
Kali ini, Sadam mengantarkan Tiara lebih dulu ke Sekolah. Setelah itu, barulah mereka menuju ke pabrik. Sadam berpikir bahwa siapa tahu istrinya berubah pikiran saat di perjalanan. Namun, rupanya Laras masih berpegang teguh pada pendiriannya dan terus memaksakan tubuhnya untuk bekerja.
“Kamu mending istirahat di Rumah. Jangan maksain!” Sadam terus mencoba menahan Laras untuk bekerja.
Namun Laras terus bersikeras untuk tetap pergi bekerja dengan alasan bahwa ia memiliki banyak kerjaan yang tertunda dan tak mau membuat Bos nya marah.
“Yaudah kalo ada apa-apa, langsung cepet telepon aku, ya!” Kata Sadam.
Laras pun mengangguk dan segera berpamitan. Ia berjalan menuju gerbang pabrik dengan rasa pusing dan meriang yang dirasakan olehnya. Dengan berat hati, Sadam pun menyalakan mesin motornya dan lekas menuju Rumah.
Jam 12 siang hari, Sadam sedang asyik menyapu lantai rumah sambil menggunakan headset yang menempel pada daun telinganya. Lagu greenday berjudul ‘21 Guns’ terdengar sangat keras di telinganya. Namun, keasyikan itu harus terhenti ketika tiba-tiba saja lagu berhenti berputar. Sadam mengecek hponsel yang ia taruh didalam saku celananya. Rupanya ada panggilan masuk dari istrinya.
“Halo…” kata Sadam sambil mendekatkan microphone yang bersatu dengan headset yang ia pakai tepat didepan mulutnya.
“Ayah… bisa jemput aku gak? kayaknya aku udah gak kuat banget.” Pinta Laras dengan suara lirih.
“Oke, aku kesana sekarang!” Kata Sadam sambil setengah berlari dan segera memakai jaketnya.
“Treeenggg…teng…teng…” Mesin motornya menyala setelah berulang kali ia selah.
Dengan kecepatan maksimal, vespanya melaju dengan sekuat tenaga. Namun, tiba-tiba mesin motor terasa melamban. Karena tidak ingin terhenti di tengah Jalan Raya, Sadam segera menepi untuk mengecek mesinnya terlebih dahulu. Saat turun dari vespanya, ia baru sadar bahwa ia berada di Pasar tempatnya mencari uang dulu. Sebuah nostalgia yang tidak terduga. Sadar bahwa sekarang sedang situasi genting dan bukan saatnya untuk bernostalgia, Sadam segera berjongkok dan mencoba mengecek kerusakan apa yang terjadi.
Dari kejauhan, seorang preman yang sedang merokok melihat kearah Sadam. Dengan penuh amarah yang menyelimuti dirinya. Ia lalu datang menghampiri Sadam. Preman itu adalah Iwan yang dulu merupakan anak buah Bos Jaka.
“Brukkk…” Vespa terjatuh menimpa Sadam setelah ditendang oleh Iwan.
“Udah lama gak bertemu, BANGS*T!!! Masih inget gua?” kata Iwan lalu menarik Sadam yang tertimpa vespanya lalu menghajarnya habis-habisan.
“Kenapa harus sekarang? Gua gak boleh kalah disini!” Pikir Sadam dalam benaknya.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk membalas dan menghajar Iwan yang telah lama menjadi musuh bebuyutannya sejak 10 tahun yang lalu dan sudah lama tidak saling bertatap muka.
Kini, keadaan berbalik. Sadam menimpa Iwan dan menghajarnya habis-habisan Hingga wajah Iwan sudah berlumuran darah. Para pengunjung pasar hanya bisa terdiam dan berkerubung menonton pertandingan antara keduanya. Iwan pun tak mau kalah karena rasa dendam atas kematian bosnya yang dulu terbunuh akibat Sadam.
Tangan Iwan meraba-raba diatas tanah. Hingga ia menemukan sebuah batu agak besar yang ia genggam dengan kuat. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba membenturkan batu tersebut agar mengenai kepala Sadam. Sadar apa yang akan dilakukan oleh Iwan, Sadam lalu menahan kepalanya dengan kedua tangannya dan menghentikan pukulannya kepada Iwan. Meskipun si preman gagal menghantam kepala Sadam dengan batu, namun cukup membuat Sadam lengah. Ia mendorong tubuh Sadam hingga ambruk dan kini posisi berbalik.
Dari kejauhan 3 orang polisi berlari menerobos keramaian. Tepat didepan mereka tampak Iwan yang terus mencoba menghajar Sadam, namun Sadam terus melindungi kepalanya dari serangan Iwan.
“BERHENTI!!!” Teriak ketiga polisi itu.
Iwan menghentikan gerakannya dan melihat kearah polisi yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Eh… Pak Polisi…” Kata Iwan sambil nyengir dan menyingkir dari tubuh Sadam.
Giginya tampak berwarna merah karena sudah berlumuran darah. Namun, ia rupanya masih mempunyai tenaga dan segera kabur dari ketiga polisi tersebut. Kedua polisi yang lain segera berlari mengejar Iwan. Ia tak bisa menggunakan pistolnya untuk melakukan tembakan peringatan karena banyak pengunjung pasar disekitar dan mencegah adanya peluru nyasar. Sedangkan Polisi yang satunya lagi, meringkus Sadam dan membawanya ke kantor polisi.
Di depan pabrik, Laras terus menunggu suaminya yang berjanji akan segera datang menjemputnya. Dengan wajah pucat, ia berulang kali melihat jam tangannya dan waktu telah menunjukkan pukul 3 sore. Itu berarti, dia telah berdiri disana menunggu sekitar 3 jam. Ia telah mencoba menghubungi ponsel Sadam berulang kali, namun tak ada jawaban sama sekali karena ponsel Sadam telah disita oleh polisi.
“Pasti ada sesuatu yang terjadi pada ayah.” Pikir Laras dalam hati.
Dengan rasa khawatir yang menyelimutinya, ia beranjak dari tempatnya sambil membawa helm yang sedari tadi menempel di genggamannya. Laras berdiri di pinggir trotoar dan memberhentikan sebuah angkot yang melintas. Di dalam angkot, ia terus mencoba menelpon Sadam berulang kali dan hasilnya masih tetap nihil.
“Kiri pak!!!” Kata Laras setengah berteriak.
Angkot pun berhenti di depan sebuah sekolah dasar. Ia segera turun dari angkot dan segera menghampiri putrinya yang sedang duduk disebuah kursi dibawah pohon dekat gerbang sekolah.
“Loh??? Kok bunda yang jemput, Ayah mana?”
Laras hanya menggelengkan kepalanya dan mengajak Tiara untuk lekas pulang.
Di dalam sel, Sadam terus memohon kepada Polisi yang berjaga untuk segera dibebaskan.
“Pak tolong pak…! Saya harus jemput istri saya… istri saya lagi sakit pak!” rengek Sadam sambil memegang jeruji besi.
Polisi tidak ada yang menghiraukan permintaannya.
“WOY PAK!!!!” bentak Sadam.
“ADA APA??? BERANI KAMU BENTAK APARAT?” kata Polisi yang juga membentak Sadam.
“Pak, dia itu preman pasar. Saya ini cuma korban. Tolong pak! Tolooongg! Istri saya lagi sakit, dan saya harus jemput anak saya.” Sadam terus merengek kepada Polisi.
Sekali lagi, tak ada satu pun polisi yang menggubris rengekannya.
“Kalau gitu, biarkan saya menelpon istri saya!” Pinta Sadam.
“Kamu ini lagi di tahan. JANGAN BANYAK MINTA!!!” Bentak polisi.
Sadam merasa sangat kesal dan emosinya semakin memuncak, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Adzan Maghrib berkumandang, membuat hati Sadam semakin gelisah. Ia terus memikirkan apa yang terjadi pada istri dan anaknya karena ia tak bisa dating untuk menjemput mereka.
“Bun, ayah kemana?”
“Kamu gak usah khawatir, Ayah pasti bentar lagi sampe rumah. Kamu ke kamar gih belajar!”
Tiara mengangguk dan mengikuti perintah Bundanya.
Laras terus mondar-mandir di teras rumah sambil menggiti kuku jari tangannya dengan dibalut perasaan cemas dan khawatir karena tidak biasanya Sadam menghilang seperti ini tanpa kabar.
“PAK!!! ANJ*NG!!! BEBASIN GUA BANGS*T!!!” Bentak Sadam yang sudah mulai kehabisan kesabaran karena waktu telah menunjukkan pukul 10 malam.
“WOY BERISIK BANGS*T !!!” bentak narapidana lain yang juga satu sel dengannya.
Polisi datang dan menghampiri Sadam.
“Kamu baru boleh pulang besok. Sebagai hukuman bahwa kamu gak akan merusuh lagi.” Kata Polisi dengan santai.
“GUA HARUS PULANG SEKARANG!!! ISTRI GUA LAGI SAKIT!!!” bentak Sadam sambil menarik dan meremas kemeja si Polisi.
“Oke… Oke… gimana kalo kita buat kesepakatan?” ajak Polisi mencoba bernegosiasi dengan Sadam.
Sadam terdiam dan rasa amarahnya mulai mereda. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama kesepakatan apa yang ditawarkan oleh polisi yang di kemejanya tertera bernama ‘Hartono’.
“Dalam waktu 5 menit, lu jilatin sepatu gua sampe bersih. Kalo dalam waktu 5 menit dan ternyata sepatu gua belum bersih, orang-orang dibelakang lu bakal kasih lu pelajaran sopan santun!” Kata Polisi bernama Hartono sambil tersenyum menyeringai.
Dibelakang Pak Hartono, beberapa polisi tertawa terbahak-bahak mendengar kesepakatan yang rekannya buat. Sadam terdiam dan berpikir sejenak.
“Berani kagak lu? Atau cuma gede bacot doang?” tanya Pak Hartono.
Kini para narapidana dibelakang Sadam juga ikut tertawa terbahak-bahak ketika Sadam menganggukkan kepalanya.
Pintu sel dibuka sedikit agar terdapat celah yang agak lebar. Pak Hartono memasukkan kaki kirinya kedalam sel untuk segera dijilati oleh Sadam. Sadam mulai bersujud dihadapan kaki pak Hartono. Dengan perlahan, ia segera mencium dan menjilati sepatu kotor pak Hartono. Sesekali ia memejamkan matanya agar tidak merasa jijik. Saat itu, pak Hartono hanya bisa tertawa dengan puas melihat apa yang sedang Sadam lakukan. Sadam benar-benar telah membuang harga dirinya.
5 menit telah berlalu...
“Udah gua jilatin sampe bersih sepatu lu. Sekarang tolong lepasin gua!” Kata Sadam sambil berdiri dan menatap tajam kepada Pak Hartono.
“Weittsss… gua bilang, lu jilatin sepatu gua sampe bersih dalam 5 menit. Dan lu baru berhasil jilatin sepatu gua yang kiri, belum yang kanan. Itu artinya lu gagal dan harus bersabar menginap disini sampe besok siang!” Kata Pak Hartono sambil tersenyum licik.
“ANJ*NG LUUU!!!” teriak Sadam dan hendak menghajar Pak Hartono.
Namun, usahanya gagal karena tubuhnya di tarik menjauh oleh para narapidana dan sel kembali terkunci.
“Mereka bakal ajarin lu sopan santun.” Kata Pak Hartono sambil tersenyum penuh kemenangan.
Kedelapan narapidana yang berada di sel itu, menghajar Sadam dengan habis-habisan sampai babak belur.
“Inget anak-anak, jangan sampe dia mati !” Kata Pak Hartono sambil berjalan menjauhi sel.
Sadam hanya bisa pasrah ketika tubuhnya menerima serangan dari berbagai arah. Ia benar-benar di siksa hingga tak berdaya. Tubuhnya benar-benar babak belur. Di lantai, berceceran darah-darah segar yang mengalir dari tubuhnya. Dalam kondisi tak berdaya, Sadam menatap langit-langit dan menitikkan air mata.
“Laras... Tiara... maafkan aku!” Kata Sadam dengan lemah.
Laras mengecup kening Tiara lalu menyelimutinya dengan selimut berwarna merah muda.
“Bunda, gak apa-apa?” tanya Tiara sambil menatap wajah Laras yang pucat.
“Gak apa-apa. Kamu mimpi yang indah ya sayang!” kata Laras dengan senyuman.
Ia segera keluar dari kamar Tiara setelah mematikan lampu kamarnya. Laras berjalan menuju kamarnya. Rasa cemas dan khawatir pada suami tercintanya, mengalahkan rasa sakit yang tubuhnya rasakan. Ia terduduk di pinggir tempat tidur dan sangat kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan. Ia membuang tubuhnya keatas kasur, menutup wajahnya dengan bantal agar tangisannya tidak terdengar oleh putrinya.
Laras tak bisa lagi menunggu. Sadam telah menghilang semenjak ia berjanji akan menjemputnya di pabrik. Perasaanya benar-benar tidak enak. Sesuatu yang sangat buruk pasti sudah menimpa suaminya. Ia segera mengenakan jaket dan mengendap-endap keluar dari rumah untuk mencari Sadam.
“Kreeenggg…” Suara gerbang terdengar menggema di malam yang sunyi.
Suara gerbang terdengar di telinga Tiara sehingga membuatnya harus beranjak dari tempat tidur. Ia mengintip dari jendela dan mendapati bahwa bundanya sedang berjalan keluar Rumah dengan memakai jaket.
“Glederrr…” suara gemuruh terdengar diatas langit yang hitam.
Tiara segera berlari kedalam kamarnya dan bersembunyi di balik selimut. Ia teringat oleh perkataan ayahnya tentang gemuruh dan awan mendung.
“Lagipula, ini malam Hari. Awan mendung pastinya tidak akan terlihat. Aku yakin bahwa Ayah dan Bunda akan baik-baik saja.” Pikir Tiara dalam hati.
Laras terus berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ia menelusuri jalanan dengan hanya berjalan kaki. Ia menelusuri jalanan yang biasa Sadam lewati ketika setiap hari Sadam mengantarnya ke tempat kerja. Tiba-tiba Laras menghentikan langkahnya ketika kedua matanya menangkap 4 orang pemuda sedang mabuk di pinggir jalan. Ia merasa takut dan terdiam sementara waktu. Namun, langkahnya kembali berjalan ketika tekadnya sudah benar-benar bulat.
“Permisi…!” Kata Laras sambil melewati keempat pemuda yang sedang mabuk itu.
Tiba-tiba saja, sebuah tangan kekar membekap mulutnya dari belakang, sedangkan ketiga orang lainnya mengangkat tubuhnya menuju sebuah bangunan kosong terbengkalai.
“TOLONG!!!” kata Laras berteriak ketika dekapan pada mulutnya mulai terlepas.
Seorang pemuda menampar pipinya dengan keras sampai memerah.
“DIEM JANGAN BERONTAK!” Bentak salah seorang pemuda.
“Malem-malem gini mau kemana sih manis?” Goda salah seorang pemuda yang tadi membekap mulutnya.
Keempatnya mulai mendekati Laras dan mencoba untuk melucuti pakaiannya.
“TOLONGGG!!!” Laras kembali berteriak dan meronta.
Beberapa kali wajahnya kena tamparan sampai-sampai bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Namun, Laras tak berhenti menyerah. Ia terus berteriak dan meronta sehingga membuat keempat pemuda itu menjadi kesal dan naik pitam.
“Bukkk…” suara teriakan Laras terhenti ketika salah seorang pemuda menghantam kepalanya dengan sebuah batu dengan sangat keras.
Tubuhnya seketika lemas dan pandangannya menjadi kabur. Darah mulai mengalir deras dari belakang kepalanya. Hantaman batu pada kepalanya, rupanya tak hanya membuatnya lemas. Kini Laras merasa seperti sedang sekarat. Dalam keadaan sekarat dan tak berdaya, keempat pemuda itu tetap memperkosa Laras.
Dalam perkosaan terhadap dirinya, Laras memuntahkan banyak darah dari mulutnya sehingga membuat keempat pemuda itu panik dan segera meninggalkan Laras yang tergeletak tak berdaya di dalam bangunan kosong.
Air matanya mengalir dengan deras bercampur menjadi satu bersama darah yang tergenang diatas lantai kotor. Langit yang semula mengeluarkan suara gemuruh dalam mendungnya, kini mulai memuntahkan air hujan.
“Sadam... Tiara... maafkan aku!” Kata Laras dengan lemah.
Dalam gemericik air hujan, didalam bangunan yang gelap dan kotor Laras menghembuskan nafas terakhirnya.
Keesokan harinya...
Tiara terbangun di pagi hari dan menemukan tubuhnya tertidur diatas sofa. Ia berlari dan mengitari rumah, namun ia masih tidak bisa menemukan kedua orang tuanya dimanapun. Ia sangat ketakutan. Ia terus menangis sambil terduduk diatas sofa.
Tangisannya akhirnya semakin dalam ketika ayahnya tiba dengan keadaan babak belur.
Tiara segera memeluk ayahnya sambil memarahi dan memukul kecil pinggang ayahnya.
Tak lama, Ohim datang membawa pesan yang harus disampaikan. Dengan berat hati, Ohim menyampaikan kepada mereka bahwa Laras telah tewas.
“Mendengar kematian istri tercintaku, aku bisa mendengar suara tangisanku yang bergemuruh didalam hatiku yang mendung.” Kata Sadam dalam hati.