Pasca perkelahian Iwan dengan Sadam di Pasar...
Iwan berlari masuk kedalam gang dan berusaha mungkin mengecoh polisi didalam gang yang berkelak-kelok bak labirin ini.
“Haaaahhh…Haaahh…” Nafas Iwan ngos-ngosan.
Ia melihat kearah belakangnya dan rupanya polisi sudah tidak lagi mengejarnya. Sesekali Iwan meremas dadanya karena paru-parunya terasa sesak. Dengan tergopoh-gopoh Iwan melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba, sebuah sapu tangan berwarna hitam membekap mulutnya dari belakang. Sapu tangan itu sudah dilumuri cairan pengantuk, sehingga ketika cairan itu terhirup oleh Iwan, tubuhnya menjadi lemas dan matanya langsung mengantuk. Tubuh Iwan tergeletak diatas tanah dan pandangannya mulai kabur sehingga ia tak dapat melihat siapa orang yang baru saja membekap wajahnya.
Di sebuah tempat gelap dan tersembunyi…
Dani sedang berdiri sambal merokok menunggu seseorang. Berulang kali ia melirik jam tangan yang ia kenakan karena orang yang ia tunggu tak kunjung datang.
Tiba-tiba pandangannya teralihkan ketika sebuah lampu mobil yang bersinar menyorot kearahnya. Mobil itu semakin mendekat dan berhenti tepat di depannya. Kaca mobil terbuka sedikit demi sedikit. Didalamnya terdapat 2 lelaki. Namun karena sangat gelap, Dani tak mampu melihat wajah mereka. Meskipun tak jelas siapa wajah 2 lelaki didalam mobil, tapi Dani mengetahui plat nomor mobil itu. Ia yakin bahwa 2 lelaki itu adalah orang yang dinantinya sejak tadi.
Sebuah tangan kekar keluar dari jendela sambil memegang amplop berwarna coklat. Segera Dani mengambil amplop itu dan membukanya.
“50 juta. Persis sesuai kesepakatan.” Kata Dani setelah menghitung uang di dalam amplop coklat itu.
Dani langsung mengambil tas yang ia taruh disebelahnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dan memberikannya kepada mereka. Kotak itu berisi paket sabu-sabu seberat 5 kg. 2 lelaki itu membuka paket yang mereka pesan.
“Ya. Barangnya bagus.” Kata salah seorang lelaki didalam mobil.
Mereka langsung menutup kembali kaca mobil dan segera pergi dari tempat itu. Sedangkan Dani masih berdiam diri di tempat itu untuk menunggu pelanggan selanjutnya yang akan membeli obat terlarang yang ia jual.
Saat mobil itu beranjak pergi, tiba-tiba dalam kegelapan muncul seseorang yang berjalan menuju kearahnya. Semakin lama semakin mendekat lalu berbisik lelaki itu berbisik.
“Lu dipanggil Bos Rio. Biar gua yang jaga tempat ini!” Kata lelaki itu.
Mendegar kabar bahwa Bos besar memanggil, Tanpa membuang waktu lebih lama, Dani segera memberikan semua paket obat terlarang yang berada di tas-nya serta daftar pembeli yang akan datang malam ini pada rekannya itu. Ia segera membuang rokoknya dan berjalan meninggalkan tempat ini menuju markas besar dimana Bos Rio telah menunggunya.
Beberapa saat kemudian di sebuah tempat perjudian terselubung…
Seseorang dengan kemeja putih yang di balut rompi hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu sedang mengocok-ngocok kartu ditangannya. Tak jauh darinya, tampak seorang wanita bartender yang sedang asyik beratraksi dengan beberapa botol minuman yang berada di tangannya.
Dani melangkah masuk dan menghampiri seorang lelaki berusia 50 tahun yang duduk di sebuah meja tak jauh dari wanita bartender itu.
“Selamat malam, Bos!” kata Dani sambil membungkukkan badan.
Bos Rio menyuruhnya berdiri tegap kembali, namun tak menjawab ucapan salamnya.
“Gimana penjualan hari ini?” tanya Bos.
“Saya baru berhasil dapet 50 juta, lalu keburu bos memanggil saya kesini.” Kata Dani sambil menyerahkan amplop berisikan uang sebesar 50 juta.
Bos mengambil uang tersebut dan memasukannya ke dalam koper.
“Bagus. Kerja kamu bagus. Sekarang ikut saya ke Gudang!” ajak Bos Rio.
Dengan perasaan bingung, Dani mengikuti Bos Rio menuju Gudang di bawah tanah. Ia terus mengekori Bos Rio sambil pemikirannya bertanya-tanya. Mereka berjalan ditengah Lorong yang gelap dan lembab. Hingga Dani mulai melihat sebuah pintu diujung lorong tempat kakinya berpijak.
“Biar saya yang buka pintunya, Bos!” Pinta Dani.
“Gak usah! Saya punya kejutan buat kamu.” Kata Bos.
Bos membuka pintu itu dan didalamnya terdapat banyak sekali minuman alkohol yang tersusun rapi pada rak-rak botol. Tapi, bukan itu yang membuat Dani terkejut. Dani terkejut karena rupanya didalam gudang itu telah banyak sekali orang yang menunggu kedatangan mereka. Dan diantara orang-orang itu, terdapat 1 orang yang duduk terikat dengan wajah yang tertutup kain hitam.
Perasaan Dani semakin tak karuan.
“Apa yang sebenarnya Bos inginkan darinku? Mengapa Bos besar membawaku kemari? Siapa orang yang terikat dan tertutup kain itu?” Dani bertanya-tanya dalam hati.
Mereka berjalan masuk kedalam dan mendekati kerumunan orang-orang itu.
“Buka!” Pinta Bos Rio kepada orang-orang didalam Gudang itu agar membuka kain penutup wajah orang yang yang terikat itu.
Seseorang membuka kain yang menutupi wajah orang itu. Ketika kain terbuka, Dani langsung bisa melihat wajah orang itu dengan sangat jelas. Dani benar-benar terkejut dan tak menyangka bahwa orang yang terikat itu adalah Iwan yang wajahnya sudah babak belur dengan mulutnya yang tersumpal sebuah kain.
“Kamu kenal dia?” tanya Bos Rio.
“Ada apa dengan Iwan, Bos?” tanya Dani penasaran.
Bos Rio berjalan lalu berdiri disamping Iwan yang masih duduk dengan terikat disebuah kursi.
“Sahabat kamu ini… Guooobl*k nya super.” Kata Bos Rio sambil menghajar wajah Iwan.
“Gua suruh dia dagang barang di pasar. Tapi, dia malah berantem sama kecoak sampe babak belur gini. Udah gitu, itu Anj*ng polisi sampe dating ke Pasar. Dan lu tau apa lagi?” Tanya Bos kepada Dani.
Dani hanya terdiam.
“Waktu polisi ngejar si bangs*t ini, itu barang jatoh dari sakunya dan diambil sama polisi. Tol*l banget kan?” tanya Bos dengan kesal.
Dani memandangi sahabatnya dengan tatapan iba. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
“Untung gua langsung nyuruh orang buat bawa dia kesini. Soalnya gua gak mau dia di tangkep polisi, habis itu markas kita terbongkar.” Lanjut Bos.
“Jadi, sekarang Bos mau saya yang dagang di Pasar gantiin Iwan?” tanya Dani.
Bos hanya tertawa kecil dan memberi aba-aba kepada salah seorang yang berkerumun itu. Orang itu lalu berjalan mendekat kearah Iwan dan membuka kain yang menyumpal mulutnya.
“Siapa kecoak itu?” tanya Bos Rio pada Iwan.
“Orang yang sama. Orang yang waktu itu menghajar Bos Jaka.” Jawab Iwan.
Dani semakin tercengang mendengar perkataan Iwan.
“Sial*n! Jadi, orang yang waktu itu?” pikir Dani dalam hati.
“Hahaha…” Bos tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
“Ada 1 lagi yang mau gua tunjukin ke lu!” Kata Bos.
Tiba-tiba, seseorang datang dari belakang tumpukan minuman dan berjalan kearah Dani. Orang itu tampak masih sangat muda dibandingkan dirinya. Bahkan Dani berpikir bahwa usia orang itu tidak lebih dari 30 tahun. Namun dari tatapannya sangat terlihat bahwa orang ini sangatlah angkuh dan mempunyai karisma tersendiri.
“Ini keponakan gua. Namanya Randy Pangestu. Kita akan kembangkan bisnis Keluarga Pangestu sampai ke Bandung. Dan Randy yang akan memimpin di Bandung.” Kata Bos Rio sambil menepuk-nepuk Pundak Randy.
Dani segera membungkukan badannya dan memberi hormat kepada Randy.
Bos Rio menghampiri Dani yang masih membungkuk member hormat kaepada Randy.
“Basmi kecoak itu dalam waktu 3 hari! Kalo lu berhasil, lu ikut kembangkan bisnis di Bandung dibawah perintah Randy! Karna gua tau kalau kemampuan dagang lu cukup hebat.” Lanjut Bos.
“Baik Bos.” Kata Dani.
“Tapi sebelum itu…” Kata Bos Rio.
Seseorang menghampiri Bos Rio dan memberikan sebuah pisau.
“Lu beresin dulu kecoak yang itu!” Kata Bos sambil memberikan pisau dan menunjuk kearah Iwan.
Dani benar-benar tak menyangka bahwa Bos Rio akan memberikan tugas yang benar-benar mustahil dilakukannya. Tubuh Dani seketika bergetar hebat karena ia tak sanggup untuk membunuh sahabatnya sendiri. Iwan adalah sahabat seperjuangannya sejak mereka masih muda. Bukan hanya Dani, Iwan pun benar-benar terkejut mendengar perintah Bos Rio kepada Dani.
“BOS JANGAN BOS! SAYA MINTA MAAF BOS!!!” Iwan terus merengek.
Bos Rio tidak menghiraukannya dan malah tersenyum menyeringai sambil merangkul pundak Randy. Randy pun tersenyum menyeringai.
Dani terus terdiam mematung. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia terus memandangi pisau yang berada di tangannya, juga Iwan yang terus berteriak memohon kepada Bos. Nafas Dani mulai tak beraturan dan tubuhnya terus bergetar.
“DANI!!!” Bentakan dari Randy membuat tubuh Dani berhenti bergetar.
“Harga organ tubuh sekarang lagi mahal. Gua bakal jual organ tubuh Iwan. Tapi, kalo lu gak mau gua jual organ Iwan. Maka, apakah lu siap merelakan organ tubuh lu sebagai gantinya?” Lanjut Randy.
Perkataan Randy seolah berkata secara tidak langsung bahwa ia akan membunuh Dani, jika Dani gagal membunuh Iwan. Dani mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan kearah Iwan. Semua teriakan Iwan yang menyuruhnya untuk berhenti, seolah tidak terdengar di telinganya.
“Gua gak boleh mati sekarang!” Hanya itu yang terpikirkan oleh Dani.
Tanpa sadar, Dani sudah berdiri persis dibelakang Iwan. Ia membekap mulut Iwan yang terus berteriak. Iwan menatap matanya dengan tajam.
“Apa lu tega membuang semua mimpi kita? Apa arti dari persahabatan kita selama ini?” Tanya Iwan yang mulai sudah pasrah.
“Sorry, Bro! Ketika keadaan telah membuat kita terpojok, maka harus ada salah seorang dari kita berdua yang harus berkorban.” Kata Dani sambil mulai menyayat leher sahabatnya itu.
Darah mulai mengalir dari leher Iwan yang tersayat oleh pisau di tangan Dani sahabatnya. Bos dan Randy tersenyum Bahagia akan kerja Dani yang sangat profesional.
“Dani. Kalau lu berhasil dalam 3 hari, lu bakal ikut gua ke Bandung. Tapi kalau lu gagal, lu akan bernasib seperti Iwan.” Kata Randy dengan tatapan tajam.
Randy dan Om Rio segera meninggalkan tempat ini. Disusul oleh Dani yang juga meninggalkan tempat yang menyedihkan ini. Meninggalkan orang-orang yang akan mengurus jasad Iwan. Dan didalam Gudang yang gelap dan sunyi ini, Iwan menghembuskan nafas terakhirnya di tangan sahabatnya sendiri.
Beberapa saat kemudian…
Dani berjalan di tanah Pasar yang becek sambil tertunduk. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya dan menyalakannya. Hisapannya sangat dalam. Dadanya terasa sesak bukan karena asap rokok. Namun, ia masih tak menyangka bahwa baru saja ia membunuh sahabatnya sendiri. Untuk beberapa saat, ia berhenti melangkah dan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Dalam keheningan, ia mencoba bernostalgia dengan ingatannya di masa lalu.
20 tahun yang lalu…
Saat itu Dani masih berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku SMA disalah satu sekolah swasta di Jakarta. Siswa di sekolah itu, rata-rata lahir dari keluarga yang ekonominya menengah kebawah. Dani adalah tipe penyendiri yang tak memiliki teman. Bukan ia tak menginginkannya, namun tak ada satupun orang yang ingin berteman dengannya karena fisiknya yang buruk rupa.
“Tonggos… tonggos…!” ejek sebagian teman sekelasnya.
“Gendut… gendut…!” ejek sebagian teman sekelasnya yang lain.
Dani hanya diam tak menimpali ejekan-ejekan yang menghujaninya. Ia tetap duduk di bangku dengan kepalanya yang menghadap keluar jendela. Tampak seorang siswa kelas sebelah sedang berlarian bersama teman-temannya sambil tertawa. Orang itu adalah Iwan.
Iwan adalah salah satu siswa yang menguasai sekolah ini. Ia sering kali terlibat tawuran dengan siswa sekolah lain. Dimana Iwan berada, sekolah ini selalu menang tawuran dengan sekolah lain. Iwan sangatlah populer di kalangan siswa laki-laki karena kekuatannya dalam bertarung.
Sepulang sekolah…
“LU MAU NGAPAIN? LEPASIN GUA!!!” teriak Dani sambil meronta-ronta karena tangannya di genggam oleh beberapa siswa, sementara salah seorang siswa berusaha membuka kemeja seragamnya.
Walaupun tubuhnya lebih besar dibandingkan teman-temannya, namun nyalinya kecil sebesar biji kacang. Ia tak berani melawan teman-teman yang terus menerus merudungnya. Tak sulit untuk teman-temannya melepas seragam Dani bahkan kaus singlet yang dipakainya. Dani kini telah bertelanjang d**a.
Tak cukup sampai disitu, teman-temannya kini berusaha menarik dan membuka celana abu-abu milik Dani. Ia terus meronta-ronta dan memohon agar temannya menghentikan perudungan terhadap dirinya. Namun, rengekan Dani hanya dianggap sebagai angin lalu.
Beberapa menit kemudian, Dani sudah terduduk di sebuah bangku sambil bertelanjang dan hanya menyisakan celana dalam berwarna putih yang ia kenakan untuk menutupi alat k*********a. Tangannya sudah terikat ke belakang bangku, sementara kedua kakinya terikat pada kaki-kaki bangku. Mulutnya tersumpal kaus singlet miliknya sendiri.
Dani benar-benar merasa malu karena saat itu, tak hanya para siswa yang melihatnya hampir telanjang bulat, namun juga para siswi yang tertawa puas melihat tubuh telanjang Dani. Air matanya mulai mengalir deras membasahi pipi. Ia terus berusaha meronta-ronta agar tubuhnya bisa terlepas dari bangku itu, meskipun sebenarnya ia tahu bahwa semua yang dilakukannya hanyalah percuma.
“Waaaahhh… Mewek!!! Cengeng banget sih lu!” Ejek salah seorang sambil menoyor kepala Dani.
Pemuda yang merudung Dani itu lalu berjalan kearah tasnya dan mengambil 2 botol ‘pylox’ yang akan ia gunakan untuk mencorat-coret tubuh Dani. Ia memegang pylox berwarna merah, sedangkan ia memberikan pylox berwarna hitam kepada salah seorang temannya.
“Plop… clek…keclek…” Setelah tutup pylox itu terbuka dan tabungnya dikocok.
Dani terus meronta-ronta dan menangis ketika perut besarnya di semprot oleh cairan merah dan hitam. Semua orang saling bergantian melukis diatas tubuh telanjang Dani sampai mereka puas.
Adzan Maghrib mulai berkumandang. Didalam sebuah kelas yang gelap, Dani mencoba memakai kembali seragam putih abu-abunya sambil sesekali mengusap air matanya. Bagi orang lain, masa-masa SMA adalah masa-masa terindah di sepanjang hidup mereka. Namun, bagi Dani, masa SMA adalah Neraka.
Sesampainya di rumah…
Dani membuka pintu rumahnya, dan rupanya di ruang tamu bapaknya telah menunggu kedatangannya. Dani hanya tinggal bertiga bersama bapak dan adik perempuannya karena ibunya telah pergi meninggalkan keluarga mereka bersama lelaki lain sejak ia masih kecil.
“Darimana aja kamu, jam segini baru pulang?” tanya bapaknya dengan ketus dalam keadaan mabuk.
Dani tak menjawab pertanyaan bapaknya dan langsung berlalu menuju kamarnya.
“Kalau ditanya orang tua itu, JAWAB!!!” Bentak bapak Dani sambil menjambak rambutnya.
Ketika menjambak rambut Dani, bapaknya baru bisa melihat noda-noda coretan pada Pundak Dani melalui celah kerah seragam.
“Di bully lagi?” tanya bapaknya.
Dani terdiam.
“Gak ngelawan?” tanya bapaknya lagi.
Dani masih terdiam.
“Plaakkk…” Bapak lalu menampar pipi Dani.
“GOBL*K!!! Bapak malu punya anak cemen, pengecut, t***l kayak kamu.” Kata bapaknya.
Dani masih tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya, dan lalu masuk kedalam kamarnya. Adiknya yang bernama Dina, hanya mengintipnya dari dalam kamar mandi sambil ketakutan. Dina berusia 2 tahun lebih muda dibandingkan Dani. Dina dan Dani selalu mendapatkan kekerasan fisik dari bapaknya yang pemabuk.
Keesokan harinya…
“Bang… bangun! Gak sekolah?” Kata Dina yang sudah mengenakan seragam SMP nya dan mencoba menggoyangkan tubuh Dani agar bangun dari tubuhnya.
“Abang gak mau sekolah.” Kata Dani yang malah menutup wajahnya dengan bantal.
“KENAPA? TAKUT DI BULLY?” Bentak bapaknya yang tiba-tiba saja masuk ke kamar Dani.
Dina segera mundur menjauh dan berlari keluar kamar. Ia berlari kedalam kamarnya dan mengambil tas miliknya lalu segera berangkat ke Sekolah. Ia berharap abangnya akan baik-baik saja dan tak mendapatkan penyiksaan dari bapaknya.
“HEH! Denger! Lu ngelawan, lu bakal di hajar. Lu gak ngelawan, lu tetep bakal di hajar. Sekarang, pergi ke Sekolah dan hajar temen-temen lu!” Kata Bapak sambil menarik tangan Dani agar segera bangun dari tempat tidur.
Dengan berat hati, Dani harus tetap berangkat ke Sekolah. Ia berjalan di trotoar sambil mengeluh di dalam hatinya. Ia menghentikan langkahnya dan malah lebih memilih untuk duduk diatas trotoar sambil memberanikan nyalinya. Ia yakin kalau ia pergi ke sekolah, teman-teman sekelasnya akan membully-nya lagi dan menertawakannya akan kejadian kemarin sore.
Diatas Trotoar, Dani menatap kosong ke jalan raya. Kendaraan lalu lalang di hadapannya tanpa peduli dengan nasib nya. Tiba-tiba sebuah teriakan memecah lamunannya. Kepalanya langsung menengok dan mencari asal teriakan itu. Rupanya teriakan itu berasal dari 4 orang siswa SMA yang sedang berlari mengejar seorang siswa SMA dari sekolah yang berbeda. Seorang siswa itu terus berlari sekuat tenaga agar bisa lolos dari kejaran 4 orang di belakangnya.
“Tunggu… kayaknya aku kenal orang itu.” Pikir Dani saat melihat seorang siswa yang dikejar.
“Iwan????” Kata Dani lalu berlari kearah Iwan yang sedang berlari di kejar.
Beberapa saat kemudian…
Iwan telah terkepung di sebuah jalan di dalam komplek perumahan yang buntu. Tak ada tempat lagi untuknya meloloskan diri. Ia melihat ke belakang dan rupanya 4 orang yang mengejarnya telah berdiri dengan santai sambil menyeringai.
“Mau lari kemana lagi lu?” tanya salah seorang siswa.
Iwan sudah pasrah dengan keadaan dan sepertinya ini adalah akhir dari hidupnya. Tapi, ia tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Iwan nekat berlari kearah 4 orang siswa yang mengejarnya dan mencoba untuk melayangkan sebuah pukulan ke salah satu siswa itu. Tiba-tiba dari belakang keempat siswa, muncul Dani membawa sebuah bambu Panjang dan mencoba memukulkan bambu itu kepada 4 orang siswa SMA lain itu.
“Aw…aw…aw…” jerit keempatnya menahan sakit.
Mereka langsung berlari meninggalkan Dani dan Iwan. Dari sinilah persahabatan mereka di mulai.
1 tahun kemudian…
Mereka telah memasuki kelas 3 di sekolah. Kini, sekolah benar-benar telah dikuasai oleh Iwan dan Dani. Iwan semakin bertambah kemampuan bertarungnya, sedangkan Dani semakin besar nyali bertarungnya. Juga mereka berdua memiliki anak buah yang sangat kuat. Teman-teman yang dulu merudungnya, bahkan telah babak belur dihajar oleh mereka berdua. Jika ada yang berani macam-macam dengan salah satu dari mereka, maka bersiaplah kalah dan babak belur. Dani maupun Iwan benar-benar sedang berada diatas puncak kejayaan.
Di sebuah atap bangunan terbengkalai…
“Kita bentar lagi lulus. Apa cita-cita lu?” tanya Iwan sambil menghisap rokoknya dan menikmati pemandangan kota dari atas Gedung.
“Gua kayaknya mau jadi tentara.” Kata Dani yang juga sambil menghisap rokoknya dan menatap pemandangan kota dari atas Gedung.
“Tentara?” kata Iwan sambil tersenyum mengejek.
“Kenapa? Gua pengen kekuatan gua dipake buat kebaikan. Gua gak mau lagi tawuran-tawuran gak jelas.” Kata Dani.
“Hmmm…Oke.” Kata Iwan sambil tersenyum.
“Kalo lu?” Iwan balik bertanya.
“Gua mau nguasain dunia.” Kata Iwan sambil menerawang keatas langit.
“Pfftttt… Caranya?” Kini Dani gentian mengejek Iwan.
“Pertama-tama gua mau nguasain Kota ini, terus Negara ini, terus Dunia ini.” Kata Iwan dengan penuh semangat.
“Iya… Cara lu nguasain Kota ini gimana?” tanya Dani.
“Lu pernah denger Mafia keluarga Pangestu?” tanya Iwan.
Dani menggelengkan kepalanya.
“Keluarga Pangestu adalah kelompok Mafia besar yang menguasai Kota ini dari mulai hal terkecil seperti pasar, sampai kasino terselubung. Bahkan penjualan Narkoba, Wanita, dan Organ dalam manusia.” Kata Iwan menjelaskan.
“Setelah gua gabung sama mereka, gua bakal hancurin dari dalam dan merubah Namanya menjadi Mafia Keluarga Iwan.” Lanjut Iwan.
“Omongan lu terdengar gampang banget. Tapi praktiknya pasti susah.” Kata Dani tertawa.
“Yah Namanya juga impian. Lu juga, emangnya masuk tentara gampang?” Balas Iwan dan tertawa.
“Gua yakin, impian kita pasti jadi kenyataan.” Kata Dani dengan penuh keyakinan lalu merangkul Pundak sahabatnya.
“Kalo lu gagal jadi Tentara, bergabunglah bersama gua! Dan menguasai Dunia, akan menjadi mimpi kita berdua.” Kata Iwan.
“Pasti.” Jawab Dani sambil menatap Iwan dengan penuh keyakinan.
Iwan pun menatap Dani dengan penuh keyakinan dan merangkul Pundak milik Dani. Gedung yang terbengkalai itu adalah saksi bisu janji akan cita-cita 2 orang kampung yang hanya bermodalkan keyakinan.
2 tahun kemudian…
Dani terlihat murung setelah menerima kabar bahwa dirinya kembali gagal masuk tentara untuk kedua kalinya. Ia juga telah gagal seleksi di tahun sebelumnya. Kini hidupnya terasa hampa karena ia tak memiliki cita-cita selain menjadi seorang Tentara.
“Kreeekkk…” Dani membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci.
Ia memasang wajah lesu tanpa semangat dan lalu masuk menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sambil memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
“Hikss…hiks…” terdengar suara tangisan tak jauh dari kamar Dani.
Isak tangis itu membuyarkan lamunan Dani. Ia segera beranjak dari kasurnya dan mengikuti arah suara isak tangis itu terdengar. Dani segera berhenti setelah arah suara tangisan itu terdengar dari dalam kamar Dina. Ia menempelkan kupingnya ke daun pintu kamar adiknya, dan rupanya benar saja bahwa isak tangis seorang perempuan terdengar dari kamar adiknya. Dani langsung menerobos masuk kedalam kamar Dina dan mendapati adiknya terduduk diatas kasur dengan pakaian compang camping sambil mengangis tersedu.
“Kamu kenapa?” tanya Dani dengan nada cuek.
Dina hanya terus menangis dan tak menjawab pertanyaan abangnya. Dani sadar akan sesuatu.
“KAMU DIPERKOSA?” tanya Dani setengah membentak.
Dina mengangguk.
“SIAPA?” bentak Dani.
“Bapak.” Kata Dina sambil terus menangis.
“ANJ*NG! ANJ*NG! ANJ****NG…!!!!” Umpat Dani dengan kesal sambil memukuli lemari.
Dina semakin menangis menjadi-jadi sambil mengusap-usap tubuhnya yang terasa kotor. Dani segera bergegas keluar dari rumah dengan perasaan kesal. Tak lama tampak dari kejauhan Iwan datang menghampiri Dani.
“Bro! Gimana seleksinya?” sapa Iwan sambil tertawa.
Dani tak menjawab pertanyaan Iwan dan berjalan bahkan tak menengok kearah Iwan.
“Lu kenapa bro?” tanya Iwan.
“Gua mau nyari bapak gua!” kata Dani dengan kesal.
“Tadi sih gua liat lagi nongkrong di warung jamu deket pasar.” Kata Iwan dan masih tidak tau akar permasalahan.
“Oke. Gua bakal pastiin hari ini bapak gua mati di tangan gua!” Kata Dani mulai berjalan ke pasar.
Iwan sangat terkejut dengan perkataan Dani, namun ia yakin bahwa ada sesuatu yang membuat Dani ingin membunuh ayahnya. Iwan berjalan mengekori Dani menuju Pasar.
Beberapa saat kemudian…
Dani dan Iwan bersembunyi di balik toko-toko yang telah tutup karena waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Suasana pasar sudah gelap dan sepi. Sesekali Dani mengintip kearah warung jamu dan mendapati bapaknya sedang mabuk seolah tak merasa bersalah telah memperkosa Dina. Mereka berdua menunggu saat yang tepat untuk menghabisi lelaki tua itu.
Satu jam telah berlalu, tampak Bapak Dani sedang berjalan sempoyongan menuju kearahnya. Mereka berdua bersiap-siap dengan sebuah pisau di tangan mereka masing-masing.
“Slebbbb…” Dani menikam bapak dari belakang sambil membekap mulutnya.
“Sleebbb…” Tikaman kedua berasal dari depan yang dilakukan oleh Iwan.
Dani dan Iwan melempar jasad bapak yang sudah tak bernyawa dengan 30 tusukan di sekitaran tubuh bapak ke Sungai dekat Pasar. Mereka berdua kembali ke Rumah Dani dengan tenang tanpa merasa bersalah.
Beberapa hari kemudian…
Polisi berhasil membekuk Dani sebagai tersangka pembunuhan terhadap bapak kandungnya sendiri. Dina menangis histeris ketika abangnya harus meringkus di balik jeruji selama 8 tahun. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Itulah yang dirasakan Dina. Sudah mendapat perkosaan dari ayah kandungnya, kini abangnya harus meninggalkannya sendiri selama 8 tahun.
“Dina jangan sedih! Ada Iwan yang akan menjaga mu.” Kata Dani mencoba menenangkan Dina.
Iwan tak tertangkap oleh polisi karena Dani hanya mengaku melakukan pembunuhan seorang diri. Dengan semua pernyataan Dani akan apa yang dilakukan ayahnya terhadap adiknya, dipercayai polisi sebagai motif utama pembunuhan dan sangat masuk akal jika pembunuhan itu hanya dilakukannya seorang diri.
Saat itu di Rumah Iwan…
“Tok…tok…tok…” pintu rumah Iwan di ketuk oleh seseorang.
Iwan membuka pintu dan terheran ketika ia melihat seorang lelaki berdiri di depan Rumahnya seorang diri. Ia menatap tubuh lelaki itu dari ujung kaki, sampai ujung rambut. Iwan benar-benar tak mengenali lelaki itu.
“Gua tau apa yang lu lakuin di pasar waktu itu.” Kata lelaki itu sambil menyeringai.
“Lu siapa?” Tanya Iwan kaget dan keheranan.
“Gua Jaka. Gua yang nguasain pasar. Gua ada dibawah naungan Keluarga Pangestu. Mau bergabung?” Ajak Bos Jaka.
Perkataan Bos Jaka membuat Iwan bingung dan seolah tak percaya. Impian lamanya kini sedang berada tepat didepan mata.
8 tahun kemudian…
Dani telah bebas dari penjara. Ia berjalan menyusuri trotoar hingga menuju rumahnya. Dina adiknya, menyambut dengan gembira kepulangan abangnya. Kini adik yang sangat ia cintai telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Dina telah bekerja disebuah Toserba yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Sedangkan Iwan sudah menjadi preman pasar bersama bos Jaka. Iwan tahu bahwa hari ini adalah hari kepulangan sahabatnya. Tak sabar ia ingin segera mengajak sahabatnya untuk bergabung bersamanya menjadi anak buah Bos Jaka.
Kembali ke masa sekarang…
Sudah cukup bernostalgia dengan masa lalu. Dani segera beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju Rumah untuk berpikir akan rencana menemukan orang yang menyebabkan sahabatnya terbunuh. Orang yang akan dicari oleh Dani adalah Sadam. Dani berjalan sambil berpikir bagaimana cara menemukan Sadam. Bahkan ia tak mengetahui nama Sadam.
Tak lama, tampak dari kejauhan beberapa pemuda berlari dengan panik dari dalam sebuah rumah tua. Para pemuda yang tertangkap oleh kedua mata Dani, membuat pikiran Dani menjadi buyar. Karena penasaran, ia segera masuk kedalam rumah itu dan mendapati seorang jasad wanita telah tergeletak tak bernyawa. Wanita itu adalah Laras.
Dani segera mengejar keempat pemuda itu. Namun, mereka semakin jauh dan ia tak mampu menyusulnya. Ia kembali kedalam rumah tua itu dan dengan hati-hati, Dani memakai sarung tangan dan mengambil dompet Laras untuk mengetahui identitasnya.
Dani sontak kaget ketika ia membuka dompet Laras dan mendapati foto Laras bersama anak dan suaminya. Suami wanita ini adalah orang yang sedang ia cari. Ia segera menyimpan foto itu dan menyimpannya kedalam dompetnya. Dani juga segera mengambil KTP Laras dan memotretnya dengan kamera ponselnya untuk mengetahui dimana wanita ini tinggal.
Sebelum meninggalkan TKP, Dani segera menelpon Polisi untuk segera mengevakuasi jasad Laras. Karena meskipun ia adalah orang yang jahat, tapi ia selalu tak tega jika seorang wanita disakiti dan diperkosa. Ia berharap Polisi segera meringkus pelaku dan menghukum seberat-beratnya.
Keesokan harinya…
Ia segera mengikuti alamat yang tertera pada KTP Laras yang sebelumnya telah ia potret menggunakan kamera ponselnya. Dani berhasil menemukan tempat tinggal Sadam. Saat itu ia melihat bahwa Ohim sedang mengabari Sadam dan Mutiara akan kematian Laras. Karena sedang dilanda kesedihan, Dani menunda untuk menghabisi Sadam.