Tiara benar-benar terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Ohim tentang kematian bundanya. Jantungnya terasa tersayat dan terasa sangat sakit. Lututnya terasa lemas dan tak lagi kuat menopang beban tubuh mungilnya. Nafasnya terasa amat sesak dan pandangannya menjadi kabur. Ia sangat ingin berteriak dan menangis, namun entah mengapa mulutnya seolah membisu. Pandangannya mulai berubah menjadi samar-samar. Begitupun juga pendengarannya yang hanya bisa mendengar teriakan ayahnya memanggil-manggil namanya dengan samar. Semakin lama, pandangannya berubah menjadi gelap. Tubuhnya ambruk, namun ia merasakan bahwa sepasang tangan menahan tubuh mungilnya yang hampir jatuh ke lantai. Tiara tak menyangka bahwa kemarin malam adalah malam terakhir ia bisa melihat senyuman di wajah bundanya yang pucat. Kesadaran Tiara mulai menghilang.
Keesokan harinya…
Tiara membuka matanya setelah semalaman tak sadarkan diri. Kepalanya terasa pusing dan seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Terakhir kali yang ia ingat adalah berita kematian tentang bundanya. Tiara melamun sejenak diatas tempat tidur, sambil terus berharap jika itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Ia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar sambil mengucek kedua matanya. Tampak ayahnya sedang menyiapkan sarapan diatas meja makan dengan menggunakan pakaian yang serba hitam.
“Selamat pagi!” Kata ayahnya sambil tersenyum.
Senyuman di wajah ayahnya terasa sangat janggal.
“Apakah kabar kematian bunda benar-benar hanya sebuah mimpi buruk ?” tanya Tiara dalam hati.
“Ayah, bunda dimmana ?”tanya Tiara penasaran.
“Tiara mandi dulu, terus kita sarapan sama-sama! habis itu kita ke tempat bunda.” Kata ayahnya.
Tiara segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Didalam kamar mandi, ia masih terus termenung dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia bingung karena tak ada sedikitpun raut kesedihan terpancar dari wajah ayahnya.
“Gimana enak nasi gorengnya?” Tanya ayah sambil tersenyum.
“Enak.” Jawab Tiara dengan singkat.
“Nih… pake kerupuk udang biar tambah enak!” Kata ayahnya sambil memberikan sebuah toples berisi kerupuk udang.
Tiara mengambil toples itu dengan perasaan yang masih bercampur aduk. Tiara memakan sarapan yang ayahnya siapkan sambil sesekali memperhatikan ayahnya yang sedang makan sambil menonton acara komedi di TV. Ayahnya tertawa terbahak-bahak dengan semua lelucon yang di siarkan di TV.
“Sekarang aku yakin bahwa itu semua hanyalah mimpi buruk. Tidak ada sedikitpun kesedihan yang kulihat dari ayah. Ia masih tersenyum dan tertawa seperti biasa.” Pikir Tiara dan perasaannya menjadi sedikit tenang.
Setelah ayahnya mencuci piring bekas sarapan, Tiara segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat bundanya bersama ayah.
“Rumah Sakit? Atau Pabrik?” pikir Tiara karena terakhir kali ia mengingat bahwa bundanya sedang sakit.
Ada kejanggalan lain yang terjadi. Ayahnya lebih memilih untuk menggunakan angkot dibandingkan Vespa kesayangannya. Dan juga, ketika ia keluar dari rumah, Tiara tak melihat Vespa ayahnya terparkir di dalam garasi. Tiara mengingat betul bahwa sebelum Om Ohim datang memberi kabar kematian bundanya, ayahnya pulang ke Rumah tanpa terdengar suara motor Vespa seperti biasanya. Perasaan Tiara kembali tidak tenang karena mungkin semua ini bukanlah sebatas mimpi buruk.
“Kiriiii…!” Teriak ayahnya dan angkot pun berhenti.
Setelah membayar, mereka pun berjalan kaki di sebuah tempat yang sangat asing untuk Tiara.
“Ayah, ini dimana?” tanya Tiara penasaran.
Ayah tidak menjawab pertanyaan Tiara dan terus berjalan. Tiara yang masih diselimuti oleh kebingungan, terus berjalan sambil sesekali menatap wajah ayahnya. Sadar bahwa Tiara mengawasinya, Sadam pun langsung tersenyum kearah Tiara.
“Kamu dari tadi murung terus. Kalo bunda tau, dia pasti bakalan sedih!” Kata ayah.
Tiara menatap wajah ayah yang tersenyum lebar. Senyuman di wajah ayahnya, mampu menenangkan rasa gundah di hatinya. Tiara mulai tersenyum.
“Kamu capek gak?” tanya Ayah.
Tiara mengangguk. Ayah lalu berjongkok dan menuntun Tiara supaya tubuh mungilnya naik keatas pundaknya. Setelah Tiara berhasil duduk di pundaknya, Sadam kembali berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan.
“Pergi kemana kita sekarang, Pilot?” Tanya ayah berpura-pura menjadi pesawat.
“Meluncur ke tempat bunda!” Kata Tiara dengan penuh semangat.
“Ashiaaaappp!!!” Kata ayah lalu mulai berjalan.
Mereka sampai didepan gerbang sebuah pemakaman umum. Tiara sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa ayahnya akan mengajaknya ke tempat ini. Ayah terus berjalan bersama Tiara yang duduk diatas pundaknya sambil memegang kepalanya dan berpura-pura menjadi Pilot pesawat.
Mereka berjalan semakin dalam. Dari jauh, Tiara bisa melihat beberapa orang yang ia kenal seperti tetangga, Pak RT, beberapa rekan kerja bundanya, dan bahkan Om Ohim yang semuanya berpakaian serba hitam. Kerumunan itu sedang berdiri meratapi sebuah makam yang terlihat baru. Ayah terus berjalan mendekati kerumunan juga makam itu. Perasaan Tiara mulai tidak enak.
“Ayah?” Tiara mencoba memanggil ayahnya.
Namun ayahnya terus berjalan dan tak menjawab panggilan Tiara. Mereka berhenti tepat di makam itu. Dari atas pundak ayahnya, Tiara bisa melihat sebuah makam dengan taburan bunga-bunga diatas gundukannya. Ia juga dapat melihat sebuah batu nisan yang terbuat dari kayu bertuliskan “Larasati Rahayu Widyodiningrat”. Melihat nama yang tertera pada batu nisan itu, sontak membuat hati Tiara runtuh dan hancur berkeping-keping.
Sadam membungkuk dan menurunkan Tiara dari pundaknya. Setelah turun, Tiara hanya terdiam mematung dengan mata yang berkaca-kaca. Tiara benar-benar tak menyangka bahwa semua benar-benar terjadi. Semua benar-benar terjadi dan bukan hanya sekedar mimpi buruk.
“Sana… peluk bunda mu!” kata ayah sambil berbisik di telinga Tiara.
Tiara yang masih terkejut menolehkan kepalanya untuk terakhir kali kepada sang ayah. Lagi-lagi Tiara melihat bahwa ayahnya masih saja tersenyum.
“BUNDA…!!!” Tiara berlari sambil berteriak memanggil bundanya.
Ia langsung memeluk gundukan tanah yang didalamnya terdapat jasad sang bunda. Semua orang disana meneteskan air mata ketika melihat Tiara yang menangis sejadi-jadinya sambil memeluk gundukan tanah makam bundanya. Semua orang, kecuali Sadam. Sadam hanya berdiri dengan wajah tanpa ekspresi meratapi anak kesayangannya yang menangis diatas makam istri tercintanya.
Tiara kembali berlari kearah ayahnya yang terus mematung. Ia mencoba memeluk ayahnya untuk meredam suara tangisannya yang semakin keras. Sadam meraih Tiara dan menggendongnya. Tiara membenamkan wajahnya pada d**a ayahnya. Lalu Sadam berbisik.
“Menangislah! Berteriaklah! Luapkan semua isi hatimu! Ayah tidak akan menghentikanmu. Karena rasa sakit yang tertahan didalam hati hanya akan menyiksamu secara perlahan.” Bisik Sadam.
“BUNDA…BUNDA…BUNDA…HAAAA!!!!” Tiara terus memanggil bundanya di sela tangisannya.
Gadis kecil polos itu semakin menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Ia mencoba meluapkan kesedihannya dalam pelukan sang ayah. Air matanya mengalir deras tanpa henti, sehingga membuat kemeja hitam yang dikenakan ayahnya menjadi basah oleh air matanya.
Cukup lama Tiara meluapkan semua tangisannya hingga ia merasa sudah mengeluarkan semua rasa sakit dalam hatinya tanpa menahannya sedikitpun. Akhirnya Tiara menghentikan tangisannya dan meminta tubuhnya untuk lepas dari gendongan sang ayah. Matanya tak lagi mengeluarkan air mata, hanya menyisakan genangan air yang masih berlinang di kelopak matanya seperti air yang tergenang di atas tanah selepas hujan deras. Sadam berjongkok dan menghapus air mata yang masih berlinang di mata Tiara sambil tersenyum dan mengusap-usap kepala Tiara.
Sadam lalu berjalan menuju batu nisan yang tertera nama istri tercintanya. Ia kemudian berjongkok dan mencium batu nisan tersebut. Tiara mengikuti ayahnya dan juga mencium batu nisan bundanya.
“Apa ayah mencintai bunda?” tanya Tiara dengan wajah lugu.
“Sangat.” Jawab Sadam dengan singkat dan di akhiri dengan senyuman.
“Terus, kenapa ayah malah tersenyum ketika ayah tahu bunda akan pergi untuk selama-lamanya? Kenapa ayah gak merasa kehilangan bunda?” Tanya Tiara sambil mengusap air matanya.
Ayah tersenyum dan terdiam sejenak.
“Kenapa ayah tersenyum? Itu karena ayah melihat kamu menangis.” Jawab Ayah sambil meratapi batu nisan.
“Maksud ayah?” tanya Tiara penasaran.
“Karena kamu menangis, itu artinya kamu sangat mencintai bunda. Ayah senang karena itu berarti kamu sangat mencintai bunda.” Kata Sadam sambil menatap Tiara.
“Ayah benar-benar merasakan kehilangan yang amat sangat dalam. Ayah tidak memilih untuk menangis, karena kalau kita berdua nangis, siapa yang akan menenangkan tangisan kita?” lanjut ayah sambil tertawa.
Tiara hanya diam mendengar ayahnya yang malah tertawa.
“Tiara, dengarkan ayah!” lanjut ayah yang kini mulai terlihat serius. Tiara memperhatikan ayahnya dengan seksama.
“Semua yang hidup, pasti akan mati. Termasuk bunda maupun ayah. Tangisan tidak akan membuat orang itu hidup kembali. Ayah ingin jika suatu saat ayah mati, kamu jangan menangis. Ayah ingin kamu tersenyum mengingat semua kenangan kita!” Kata Ayah.
Tiara mengangguk dan mencoba untuk tersenyum.
“Janji?” Kata ayah mengajak Tiara bersalaman jari kelingking.
“Janji.” Kata Tiara. Jari kelingking mereka pun bersatu sebagai simbol perjanjian mereka.
“Apa ayah emang sekuat itu? Sepanjang hidupku, bahkan tak pernah aku lihat dirinya menangis. Ia selalu menjadi sosok ayah yang ceria.” Pikir Tiara dalam benaknya.
Orang-orang di sekitar makam mulai pergi meninggalkan makam Laras satu persatu. Saat Tiara dan ayahnya beranjak pergi dari makam, ayahnya berpesan kepada Tiara agar pulang bersama Pak Wahyudin selaku ketua RT di tempat mereka tinggal.
“Tiara, kamu pulang duluan sama Pak Wahyudin ya!” pesan Sadam pada putrinya.
“Ayah mau kemana?” tanya Tiara.
“Ayah ada urusan dulu sama om Ohim. Sebentar aja kok.” Kata Sadam.
Tiara mengangguk.
“Pak, tolong antarkan anak saya pulang ya!” Kata Sadam sambil mengajak Pak Wahyudin bersalaman.
Setelah Pak RT mengiyakan permintaan Sadam, Tiara segera pulang ke rumah diantarkan oleh Pak Wahyudin. Sedangkan Sadam pergi bersama Ohim menuju rumah kontrakan yang dulu pernah ia dan Laras tempati.
Sadam dan Ohim berdiri di depan sebuah rumah kecil yang berada di sebuah gang yang kecil dan kumuh. Sebuah rumah yang ikut serta menjadi saksi bisu kehidupan Sadam dan Laras sebelum Tiara lahir ke Dunia.
“Makasih ya, Him. Lu udah nganterin gua kesini.” Kata Sadam.
“Iya. Sama-sama. Gua balik ya… kalo butuh apa-apa Bang Sadam jangan sungkan minta tolong ke gua!” Kata Ohim sambil menepuk pundak Sadam.
Sadam tak menjawab, melainkan hanya melempar senyum kepada Ohim.
Setelah Ohim pergi meninggalkannya, Sadam mengintip kedalam Rumah yang tak berpenghuni itu dari luar jendela. Ruangan tempatnya tinggal dulu masih tampak sama meskipun 10 tahun telah berlalu. Memorinya membawanya ke masa itu. Masa dimana ketika Sadam hidup berdua dengan Laras di rumah itu. Sadam seolah bisa melihat semua adegannya bersama Laras tepat di hadapannya saat ini. Adegan ketika mereka berdua tertawa bersama, adegan ketika makan dengan ala kadarnya, adegan ketika Sadam menuntun Laras yang sedang hamil, dan semua adegan ketika istri tercintanya masih bernafas.
Sadam menyenderkan tubuhnya pada dinding gang yang berdiri kokoh persis di depan rumah itu. Kepalanya melihat keatas, dan seketika air matanya mulai meleleh. Sadam tak dapat lagi menahan kesedihannya. Tiara sudah tak ada didekatnya, ia tak perlu lagi berpura-pura kuat di hadapan putrinya itu. Sadam bisa merasakan dadanya yang mulai terasa sesak. Nafasnya pun kini menjadi tidak beraturan, membuat kesedihan yang menghujaninya semakin deras. Sadam menangis sejadi-jadinya. Sesekali ia menjambak rambutnya dan menampar wajahnya. Ia juga kerap kali memukuli dinding itu hingga tangannya mengeluarkan darah tiap kali bayang-bayang wajah Laras yang sedang tersenyum melintas di benaknya. Dalam tangisnya, ia terus menyalahkan dirinya atas kematian Laras. Andai saja waktu bisa diputar kembali. Sadam tak akan berkelahi dengan Iwan di pasar. Mungkin ia juga tak harus menginap di jeruji besi dan Laras tak perlu keluar Rumah untuk mencari keberadaannya. Kini Laras telah pergi selamanya, meninggalkan penyesalan serta kesedihan jauh didalam hati Sadam.
“Tok…tok…tok…” Sadam mengetuk rumah Ohim. Tak lama pintu rumah terbuka dan kini Ohim berdiri dihadapannya.
“Pinjem gitar!” Kata Sadam singkat tanpa basa-basi.
Ohim kebingungan dengan penampilan Sadam yang sangat memprihatinkan. Matanya tampak sembab sehabis menangis, rambutnya kusut berantakan, dan punggung telapak tangannya tampak luka dan berdarah. Ohim tau jika Sadam sedang dalam keadaan berkabung, sehingga ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya bisa memberikan gitar yang ia dapat dari pemberian Sadam dulu.
Sadam berjalan diantara makam-makam. Ia kembali menuju makam istrinya dengan sebuah gitar dalam gengamannya. Persis didepan makam istrinya, Sadam menghentikan langkahnya dan mulai duduk bersila diatas tanah. Ia menyetem gitarnya dan mencoba memetik-metik senar sampai ia mendapatkan nada yang pas.
Merasa sudah menemukan nada yang ia inginkan, Sadam mulai memainkan sebuah lagu. Tangan kanannya memetik senar gitar dengan lihai. Sedangkan tangan kirinya berlenggak-lenggok membuat sebuah kunci pada gagang gitar. Dengan suara lirih, sadam menyanyikan lagu berjudul ‘Kemarin’ dari Band Seventeen.
Sadam selalu menghayati setiap liriknya bersamaan dengan bayang-bayang yang membuatnya mengingat masa lalu. Seluruh perasaannya ia curahkan melalui lagu itu. Air mata terus mengalir dengan deras bagai sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Bahkan terkadang lirik lagu yang ia nyanyikan tidak terdengar jelas karena bercampur dengan tangisannya yang begitu sendu. Tiara benar-benar salah berpikir tentang ayahnya. Tiara selalu memuji bahwa ayah yang ia banggakan, selalu ceria dan kuat. Tapi, rupanya kenyataan berkata lain. Hari itu Sadam benar-benar terlihat sedih dan rapuh. Meskipun begitu, semua orang memang berhak menangis ketika orang yang dicintainya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Setelah mengembalikan gitar kepada Ohim, Sadam segera menuju rumah karena putrinya pasti sedang merasa kesepian.
“Ayaaah…!!!” Teriak Tiara Saat ayahnya baru saja membuka pintu.
Tiara berlari dan langsung memeluk ayahnya. Tak ada bekas kesedihan yang tersisa di wajah ayahnya. Semua kesedihan ia sembunyikan didalam lubuk hati yang paling dalam.
Sadam duduk di sofa ruang tamu sambil memangku tubuh mungil Tiara. Sambil menyisiri rambut putrinya dengan tangannya, Sadam berbicara pada Tiara.
“Bunda udah gak ada. Itu berarti, sekarang ayah harus kerja cari uang. Ayah ingin mulai besok kamu jadi anak yang mandiri. Bisa?”
“Apa yang harus Tiara lakukan ?”
“Hmmm… Gimana kalo kita bagi tugas ?”
Tiara hanya diam, dan lalu mengangguk karena tidak mengerti.
Sadam membagi Tugas dengan Tiara untuk mempermudah dirinya, sekaligus membuat Tiara agar lebih mandiri. Ia akan memasak, mencuci baju, mengantar dan menjemput Tiara dari sekolah, serta bekerja mencari uang. Sedangkan tugas Tiara adalah belajar sendiri, dan membantu membersihkan rumah.
“Gimana? Setuju?”
Tiara pun mengangguk setuju.
Sadam mulai mengajari putrinya cara untuk mengelap kaca dan peralatan rumah, juga mengajarinya cara menyapu dan mengepel lantai. Tiara tampak kaku karena ini adalah pertama kalinya ia membersihkan rumah.
“Setiap hari akan ayah cek pekerjaan kamu. Jangan sampe ada yang salah ya!” Kata Sadam sambil tertawa.
Malam harinya, Tiara dan ayahnya makan malam bersama setelah ayahnya memasakannya makanan kesukaan Tiara. Kini makan malam tak lagi terasa sama setelah kepergian bundanya. Namun, kehidupan harus terus berlanjut. Tiara maupun ayahnya, tidak boleh terus-menerus dirundung kesedihan.
Setelah makan malam, Tiara langsung mencuci piring sambil di ajari dan di temani oleh ayahnya. Beberapa kali, sabun yang licin hampir saja menghempaskan piring yang sedang di cuci oleh Tiara. Berulang kali pula ayahnya mewanti-wantinya untuk tetap berhati-hati.
“Sekarang, Tiara masuk ke kamar dan belajar! ayah mau keluar untuk coba nyari kerja.”
“Tapi… sekarang kan udah malem. Ayah jangan pergi!”
“Kenapa? Tiara takut? Kan, ayah udah bilang, Tiara harus mandiri!”
“Tapi… terakhir kali bunda pergi malem-malem. Habis itu, bunda gak pernah kembali.” Kata Tiara sambil menundukkan kepalanya.
“Tiara tenang aja. Ayah janji pasti bakal pulang sebelum Tiara tertidur!”
Dengan berat hati, Tiara mengizinkan ayahnya untuk pergi malam itu.
Sadam terus menyusuri jalanan di kota besar ini. Satu persatu restoran, maupun tempat-tempat yang sekiranya masih buka, ia datangi untuk memohon pekerjaan. Namun, hasilnya tetap nihil. Ia melihat jam di ponselnya, dan rupanya waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Ia telah berjanji untuk berada di sisi putrinya sebelum putrinya terlelap. Sadam berlari sekuat tenaga agar ia cepat sampai rumah, sebelum Tiara tertidur. Meskipun ia meminta Tiara untuk hidup mandiri, sebagai seorang ayah tetap saja ia merasa khawatir meninggalkan anak kesayangannya seorang diri di malam hari.
Sesampainya di Rumah…
“Haaahh… Haaahhh… Tiara?” Panggil Sadam sambil ngos-ngosan karena kelelahan setelah berlari di sepanjang jalan sampai ke rumah.
“Ayah udah pulang?” Teriak Tiara dari dalam kamar.
“Syukurlah!” Gumamnya.
Sadam merasa senang karena ia bisa menepati janji yang ia buat kepada Tiara. Tiara membuka pintu kamarnya dan langsung berlari memeluk ayahnya.
“Ayo…Tidur!” ajak Sadam sambil menuntun Tiara masuk kedalam kamar Tiara.
Ia mencium kening Tiara sebelum Tiara menutup kedua matanya. Sadam berjalan dan hendak mematikan kamar tidur Tiara.
“Jangan di matiin lampunya!”
“Kenapa ?”
“Gak apa-apa.” Kata Tiara sambil tersenyum menyembunyikan fakta bahwa terakhir kali bundanya mematikan lampu kamarnya dan setelah kamarnya berubah menjadi gelap, bundanya pergi dan tak pernah kembali.
Sadam membiarkan lampu tetap menyala dan membalas senyuman Tiara lalu keluar dari kamar Tiara.
Didalam kamarnya, Sadam berpikir sambil berbaring diatas kasur. Matanya menerawang jauh menerobos langit-langit atap rumah mereka. Dia benar-benar bingung dengan apa yang harus dilakukan jika ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Untungnya mendiang istrinya adalah seorang yang pintar mengelola keuangan keluarga mereka. Sehingga, ia menyisakan tabungan sebelum kepergiannya. Sadam membuka brangkas kecil dimana mendiang istrinya meyimpan tabungan mereka.
“Lumayan. Ada 7 juta.” Kata Sadam setelah menghitung uang dalam brangkas itu.
Tabungan yang cukup sampai Sadam mendapatkan pekerjaan yang baru. Namun jika ia tak kunjung dapat pekerjaan, sebanyak apapun uang yang tersimpan akan habis juga.
Keesokan harinya…
“Ayah… hari ini rambut Tiara pengen di kepang!” pinta Tiara yang sudah duduk di meja makan.
“Tiara ada-ada aja. mana bisa ayah ngepang rambut.” Kata Sadam sambil memasak sarapan di dapur.
“Aaaahhh…ayah segala gak bisa!” Kata Tiara sambil cemberut dengan kesal.
Mendengar ucapan Tiara, Sadam langsung naik pitam. Darahnya mulai mendidih dan emosinya mulai memuncak. Ia benar-benar ingin memarahi dan menghajar putrinya. Seketika bayangan masa kecilnya terlintas di kepalanya. Bayangan ketika ayah menyiksanya dan membuat masa kecilnya hancur hingga membekaskan luka yang sampai sekarang sulit untuk disembuhkan. Kerena luka itu terus membekas didalam ingatannya.
“Tidak! Aku tidak boleh seperti ayahku! Aku harus menjadi ayah yang berbeda! Aku harus menjadi ayah yang baik! Aku tidak ingin masa kecil Tiara hancur seperti masa kecilku.” kata Sadam dalam hati.
Sadam kembali ke meja makan sambil membawa dua piring yang berisikan masing-masing nasi putih dan telur dadar.
“Kamu lebih cantik dengan rambut terurai. Tapi kalo kamu emang pengen di kepang, besok papa bakal ngepang rambut kamu.” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Beneran? yaudah deh rambutku di urai gini aja.” Kata Tiara sambil tersenyum gembira.
“Kamu pengen diurai biar keliatan cantik, emang ada cowok yang kamu taksir ya?” tanya Sadam.
“Iiihhh apaan sih ayah! Aku kan masih kecil.” Kata Tiara malu dan mulai menyantap sarapannya.
“Emang kenapa? Ayah dulu dari usia 6 tahun udah pacaran.” Kata Sadam menyombongkan dirinya.
“Terus, ayah waktu usia 6 tahun pacaran ngapain aja?” tanya Tiara penasaran.
“Main ular tangga.” Kata Sadam sambil tertawa.
“Ih… kirain nonton bioskop atau ciuman gitu.” Kata Tiara.
“Hussshh… kamu masih kecil udah tau ciuman. Siapa yang ngajarin?” kata Sadam dengan nada sedikit membentak.
“Aku suka ngintip ayah sama bunda. Sebelum tidur, ayah suka cium bibir bunda.” Kata Tiara.
Sadam gelagapan dan salah tingkah mendengar ucapan Tiara.
“Terus ayah sama bunda masuk kedalam selimut.” Lanjut Tiara.
Sadam semakin gelagapan dan salah tingkah.
“Terus…” belum sempat Tiara melanjutkan ucapannya, Sadam lalu memotong pembicaraan.
“Hessssss…Terus, terus, kayak tukang parkir! ayo cuci piring terus berangkat sekolah!” kata Sadam memotong pembicaraan.
“Iyaaaa…” kata Tiara dengan malas membawa piringnya ke dapur untuk di cuci.
Sadam bernafas lega karena berhasil menghentikan ucapan Tiara. Ia tak menyangka bahwa putrinya ternyata tukang intip.
“Tiara!” Panggil Sadam.
“Apa?” kata Tiara sambil mencuci piring.
“Kamu jangan suka ngintipin orang! Gak baik. Nanti mata kamu bintitan!” Teriak sadam.
“Iyaaaa… Ayah!”
“Ini anak kelakuannya nurun siapa sih? Kok kelakuannya kayak Ohim, tukang ngintip.” Gumam Sadam.
Setelah selesai cuci piring, Sadam dan Tiara bergegas pergi menuju sekolah.
Di perjalanan ke Sekolah dengan menggunakan angkot…
“Ayah?”
“Apa ?”
“Pulang sekolah nanti, aku pengen denger kisah cinta ayah sama bunda dong!”
“Kenapa kamu tiba-tiba penasaran sama cerita ayah sama bunda?”
“Gak apa-apa. Tiara lagi butuh asupan cerita-cerita romantis.”
Ucapan Tiara membuat penumpang yang duduk di depannya tersenyum geli. Sadam tersenyum malu kepada penumpang itu dan menjadi salah tingkah.
“Kamu tau darimana kalo cerita ayah sama bunda bakalan romantis?” tanya ayah sambil tertawa.
Tiara termenung sejenak.
“Tiara? kok diem?” panggil Ayah.
“Waktu di makam bunda, Tiara seolah ngedenger bunda berbisik.” Jawab Tiara sambil menundukan wajahnya.
“Bunda bisikin apa ?” tanya Ayah sambil tersenyum.
“Bunda bilang, kalo ayah dan Tiara adalah orang yang paling dicintai bunda.” Kata Tiara yang mulai meneteskan air mata.
“Yaudah nanti pulang sekolah, ayah akan ceritakan kisah ayah sama bunda. Tapi Tiara harus janji… jangan nangis lagi kalo inget bunda! Biarkan bunda tenang di surga!” Kata ayah sambil mengelus-elus kepala Tiara.
Tiara mengangguk.
“Setiap kali Tiara kangen sama bunda, Tiara inget kenangan lucu waktu Tiara sama bunda. Jadi Tiara pasti bakalan ketawa.” Saran Ayah.
Tiara lagi-lagi hanya mengagguk.
Tiara mengangguk dan segera menyeka air mata yang berlinang. Mobil angkot terus melaju hingga berhenti tepat didepan Sekolah. Sadam dan Tiara segera turun lalu mulai berjalan menuju gerbang Sekolah. Tangan kecilnya digenggam erat dan dituntun oleh sang ayah.
“HAHAHAHA!!!!” Tiba-tiba Tiara tertawa dengan sangat kencang.
Tawa Tiara yang sangat keras dan tiba-tiba membuat ayah sangat terkejut.
“Kamu kenapa?” tanya ayah sambil berjongkok di depan Tiara.
“Tiara inget sesuatu yang lucu waktu sama bunda.” Kata Tiara sambil terus tertawa.
“Kamu tuh bikin ayah kaget aja.” Kata ayah sedikit kesal.
“Kata ayah, aku harus inget kejadian yang lucu sama bunda biar aku gak sedih.” Protes Tiara.
“Tapi jangan tiba-tiba gitu dong! ayah kan jadi kaget. Emang momen apa yang lucu?” tanya ayah penasaran.
“Waktu itu bunda marahin ayah soalnya ayah ketiduran dan belum angkat jemuran. Sedangkan diluar hujan gede, jemuran kita jadi basah semua deh...” Kata Tiara sambil tertawa.
“Kamu nih, selera humornya rendah. Kamu seneng ya kalo ayah sering dimarahin bunda?” Kata ayah dengan muka datar.
“Enggak juga. Cuma Tiara suka lucu ngeliat wajah ayah yang selalu tertunduk kalo diomelin bunda.” Kata Tiara sambil tertawa.
Mendengar ucapan Tiara, membuat Sadam juga mengingat setiap momen ketika ia dimarahi oleh istrinya. Seketika ingatan itu membuat sebuah senyuman manis yang terlukis di wajah Sadam.
Sadam dan Tiara pun melanjutkan berjalan hingga kedepan gerbang sekolah.
“Saya titip anak saya ya, bu!” kata Sadam kepada Bu Luna wali kelas Tiara.
“Baik, pak! Saya juga turut berduka cita ya, Pak Sadam.” Kata Bu Luna dengan ekspresi sedih.
“Terima kasih, bu! Sekarang saya harus pergi, nanti saya jemput Tiara lagi.” Kata Sadam pamit.
“Baik, pak.” Kata Bu Luna Ramah.
Tiara segera masuk kedalam kelas setelah mencium tangan ayahnya. Di dalam kelas, Tiara terus memandangi sosok ayahnya dari jendela yang berjalan menjauh kearah gerbang sekolah. Ia juga bisa melihat ayahnya yang sempat tersenyum kepada Satpam Sekolahnya. Ayahnya benar-benar sosok yang sangat kuat. Tiara benar-benar bangga kepada ayahnya tanpa tahu tangisan dibalik senyuman itu.
Sadam sampai di Pasar tempat ia berkelahi dengan Iwan tempo hari. Ia mengambil vespa kesayangannya yang sudah terparkir di tempat parkir karena dipindahkan oleh warga pasar. Setelah mengambil vespanya, ia langsung beranjak pergi menuju makam istrinya.
Sesampainya di makam, ia duduk bersila memandangi makam tempat istrinya tertidur pulas untuk selamanya. Sadam tersenyum sambil menabur bunga diatas makam.
“Sayang, Tiara sekarang sudah mulai sedikit demi sedikit hidup mandiri. Hari ini aku hampir menampar pipi lembutnya. Aku hampir seperti ayahku dulu. Kenapa kamu pergi begitu cepat? Apa kamu pikir aku sanggup membesarkan Tiara seorang diri?” kata Sadam sambil menabur bunga dan sambil tersenyum.
Sadam berdiri dan terdiam sejenak. Ketika ia merasakan tubuhnya sedang didekap dengan sangat erat. Meskipun Sadam tak dapat melihat sosok yang mendekapnya, namun ia yakin bahwa yang mendekapnya saat ini adalah istrinya. Karena Sadam mengenal betul aroma yang sekarang sedang terhirup oleh hidungnya. Aroma wangi yang selalu berasal dari rambut mendiang istrinya.
“Tiara bilang, dia mendengar bisikanmu pada hari itu. Kenapa kamu gak membisikanku juga?” tanya Sadam sambil berdiri mematung dan merasakan dekapan erat Laras.
“BISIKAN PADAKU SEKALI LAGI BAHWA KAU BAHAGIA HIDUP BERSAMAKU!!!” Kata Sadam sambil berteriak kesal dan mulai menangis.
Tak ada sedikitpun bisikan dari Laras yang terdengar di telinganya.
“Kenapa kau tetap diam? Apa kau akhirnya menyadari bahwa kau tidak bahagia hidup bersamaku?” Tanya Sadam yang terus menangis.
“Hari ini aku akan mencari kerja. Aku janji akan membuat anak kita hidup bahagia meski aku harus mengorbankan nyawaku.” Kata Sadam yang mulai berhenti bersedih dan mulai menyeka air mata dan hidungnya yang mulai basah.
Dari kejauhan, Dani memantau pergerakan Sadam. Bahkan ia telah memantau sejak Sadam dan Tiara melangkahkan kaki dari rumah.
“Benarkah apa yang kau katakan? Kau akan mengorbankan nyawamu demi kebahagiaan anakmu? Izinkan aku untuk memastikan semua ucapanmu!” Kata Dani dari kejauhan sambil menghisap rokoknya lalu pergi.