Biola Dan Gitar

4799 Kata
  Vespa berwarna merah tua melaju dengan tenang. Sadam menjalankan Vespa ini sambil matanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Setiap bangunan tak luput dari pandangannya. Tak lama, Vespa itu masuk kedalam sebuah gedung perkantoran yang tinggi menjulang ke langit. “Permisi pak! Ini saya mau titip lamaran…” Kata Sadam pada satpam gedung itu sambil memberikan map berwarna coklat. “Ya. Taruh disini aja!” kata Satpam itu dengan ketus. “Terima kasih, pak!” kata Sadam tetap dengan nada ramah. Satpam itu tak menjawab. Sadam melanjutkan perjalanannya menuju tempat terakhir. Hari ini ia telah memberikan lamarannya ke 15 perusahaan berbeda. Ia berharap salah satu dari 15 perusahaan yang telah ia lamar, akan memanggilnya kembali untuk bekerja. Saat hendak pulang ke Rumah, Sadam melewati sebuah tempat pencuci motor. Sadam Sadam beserta vespanya langsung masuk ke tempat pencucian itu. Bukan untuk berniat mencuci vespa tuanya. Tapi karena ia melihat selembar kertas tertempel didepan tempat itu dan bertuliskan “Lowongan Pekerjaan”. Sadam benar-benar berharap jika di tempat kecil ini, ia bisa diterima untuk bekerja. Di dalam tas yang ia gendong, tidak tersisa map lamaran satupun. Ia hanya memiliki tekad yang tersisa untuk mepertaruhkan keberuntungannya di tempat ini. “Permisi pak! Apa betul disini sedang menerima lowongan pekerjaan?” tanya Sadam pada pemilik tempat cuci motor ini. “Kamu bisa nyuci motor?” tanya pemilik tempat cuci motor ini. “Bisa, pak.” Kata Sadam dengan ramah. Pemilik tempat cuci motor itu melirik kearah vespa Sadam. “Terus kenapa motor kamu kotor?” tanya pemilik cuci motor. “Ini karena motor saya kemarin di parkir di pasar pak. Baru hari ini saya ambil. Setelah itu, saya langsung kesini.” Kata Sadam menjelaskan. “Oke. Kamu bisa cuci 1 motor itu sekarang?” tanya si pemilik sambil menujuk salah satu motor yang terparkir di tempat itu. Sadam mengecek jam di ponselnya. Ternyata ia masih memiliki waktu sampai ia harus menjemput Tiara. “Baik, pak. Saya bisa.” Kata Sadam. Sadam mulai berjalan menuju sepeda motor bebek yang tampak kotor itu. Kuncinya sudah tergantung, maka Sadam hanya tinggal mendorong sepeda motor itu naik keatas tempat cuci motor. “Permisi, mas! mesinnya dimana ya?” tanya Sadam kepada satu-satunya pegawai disitu. “Mesinnya itu, mas! Kalo sabunnya di situ. Jangan lupa pake sepatu boot mas, biar kakinya gak basah!” Kata pegawai itu. “Emang kalo basah kenapa?” tanya Sadam. “Kalo keseringan basah, nanti lama-lama bisa sakit mas. Sama suka kena kutu air!” Kata pegawai itu sambil mencuci motor salah satu pelanggan. “Makasih, mas atas sarannya!” Kata Sadam. “Sama-sama, mas!” Jawab pegawai itu. Setelah memakai sepatu boot, Sadam lalu berjalan kearah mesin pencuci motor. Ia sedikit bingung karena ini pertama kalinya Sadam mencuci motor dengan mesin pencuci. Ia melihat sebuah gulungan kawat di dekat mesin. “Mas, kawat yang ini ditarik buat nyalain mesinnya?” tanya Sadam pada pegawai tadi. “Betul, mas. Cuma harus kenceng nariknya supaya cepet nyala mesinnya!” kata pegawai itu. Sadam meraih gulungan kawat yang terhubung untuk menyalakan mesin itu. Ia menarik mafas dengan dalam, dan mulai menarik kawat itu. “Deg…deg..deg…” mesin itu hampir menyala dan kemudian mati kembali. “Lebih kenceng nariknya, mas!” kata pegawai tadi yang melihat mesin Sadam yang belum menyala. Untuk kedua kalinya, Sadam menarik kembali kawat itu dengan sekuat tenaga. “Deg…deg…deg…brem….” Akhirnya mesin menyala dan air menyembur dari selang dengan deras. Sadam melihat telapak tangannya yang memerah dan terasa sakit akibat tarikannya pada kawat dengan sangat kencang. “Ini bukan apa-apa.” Kata Sadam sambil melihat telapak tangannya dan mencoba tidak mengeluh akan rasa sakit pada telapak tangannya. Sadam mengambil selang yang menyemburkan air itu kemudian mulai membilas sepeda motor yang di perintahkan oleh si pemilik. Ia terus menyemprot sela-sela sepeda motor dengan sangat teliti. Sadam lalu mengambil sabun yang tadi ditunjukkan oleh si pegawai. Karena menyabuni motor tidak memerlukan mesin pencuci, maka Sadam mematikan kembali mesin itu. Setiap sudut yang sulit dijangkau, ia gosok dengan bersih. Tahap terakhir, Sadam harus membilas kembali motor yang sudah di penuhi sabun. Mau tak mau, ia harus kembali menyalakan mesin itu. “Deg…deg…breeemmm…” mesin kembali menyala dengan sekali tarikan Sadam. “Awww…” Sadam meringis kesakitan. Ia mengibas-ngibaskan telapak tangannya agar rasa sakitnya segera menghilang. 5 menit kemudian, Motor telah kering setelah Sadam mengelap motor itu. Si pemilik puas dengan kinerja Sadam. Ia menghampiri Sadam dan mengajaknya berjabat tangan. “Kamu bisa mulai kerja disini besok!” “Terima kasih, pak.” “Untuk gajimu disini, di hitung per motor.” “Maksudnya bagaimana, pak?” “Tarif cuci motor di tempat saya, seharga Rp. 15.000, Yang Rp. 10.000 untuk saya, yang Rp 5.000 untuk kamu. Jadi, kalo per hari kamu bisa mencuci 10 motor, berarti kamu dapat upah Rp. 50.000” Jelas si pemilik. Sadam berpikir sejenak. Ia kembali melihat telapak tangannya yang terasa sakit. Sadam berpikir bahwa 1 motor saja, sudah membuat telapak tangannya terasa sakit. Untuk mendapatkan Rp. 50.000 per hari, ia tidak bisa membayangkan seberapa sakit yang akan diterima olehnya. Namun, ia harus mendapatkan pekerjaan secepatnya. “Baik, pak. Saya terima.” Kata Sadam dengan berat hati.   Tiara memainkan biolanya dengan merdu di ruang aula yang sepi sambil menunggu ayah menjemputnya. Ia sangat menghayati lagu berjudul ‘Bunda’ dari Melly Goeslow, bahkan Tiara sampai menutup kedua matanya saat menggesek-gesekkan senar biola. Ia juga tak menyadari bahwa Bu Luna memperhatikannya dari belakang sambil menikmati setiap nada yang terdengar harmoni. Lagu telah selesai ia mainkan. Dari arah belakangnya, terdengar suara tepuk tangan beserta suara langkah kaki yang mendekat. “Hebat! Ibu suka.” Kata Bu Luna. Tiara lalu menolehkan kepalanya dan tersenyum kepada wali kelasnya itu. “Tiara kangen sama bunda, ya?” Tanya Bu Luna. Mata Tiara mulai berkaca-kaca dan hampir menangis. Bu Luna lalu mengelus-elus kepala Tiara mencoba menenangkan Tiara. “Jangan sedih! Tiara masih punya ayah yang hebat.” Kata Bu Luna. Tiara lalu memeluk Bu Luna dengan erat dan menangis dalam pelukan Bu Luna. “Bu, Tiara takut.” Kata Tiara sambil membenamkan wajahnya pada baju Bu Luna. “Takut kenapa?” tanya Bu Luna sambil mengangkat wajah Tiara agar bisa menatapnya. “Bunda udah pergi. Tiara takut kalo ayah juga akan pergi. Ayah pernah bilang, kalau suatu saat ayah pergi, Tiara gak boleh nangis. Tapi kalo sampai hari itu tiba, Tiara pasti nangis. Tiara takut sendirian dan gak ada lagi yang bakal sayang sama Tiara.” Kata Tiara sambil meneteskan air matanya. “Kenapa Tiara berpikir ayah bakal pergi ninggalin Tiara?” tanya Bu Luna. “Ayah bilang, semua orang pasti bakalan mati. Udah gitu, Tiara sering ngeliat wajah ayah babak belur kalo pulang ke Rumah. Tiara bener-bener takut.” Kata Tiara. Bu Luna terdiam tak bisa berkata apa-apa. Namun, sebagai seorang Wali kelas, ia harus terus mencoba menenangkan muridnya itu. “Tiara… dengerin Ibu!” kata Bu Luna. Tiara menatap mata Bu Luna dengan seksama. “Semua orang memang pasti bakalan mati. Tapi, ayah Tiara itu ayah yang hebat. Ibu percaya, kalo ayah gak akan ninggalin Tiara sendirian tanpa ada yang menyayangi Tiara. Jadi, selagi ayah masih ada disamping Tiara, Tiara jangan sedih! Karena kalau Tiara sedih, ayah pasti juga sedih. Mengerti?” Tanya Bu Luna. Tiara mengangguk dan menghapus air mata di matanya. Senyuman mulai muncul pada raut wajah Tiara. Bu Luna berhasil menenangkan Tiara. “Sekarang, kita ke ayah yuk! ayah udah nunggu di tempat parkir.” Ajak Bu Luna. Tiara mengangguk. Bu Luna menggandeng tangan mungil Tiara menuju ayahnya di tempat parkir. “Ayaaaahhh!!!” Teriak Tiara ketika melihat ayahnya sedang menunggu. Sadam lalu menengok kearah Tiara dan melemparkan senyuman. Tiara melepas tangannya pada Bu Luna dan lalu berlari menuju ayahnya. “Waaahhh… Vespa ayah ada lagi!” kata Tiara terkejut melihat vespa ayahnya telah kembali. Ayah tersenyum gembira melihat Tiara terkejut dan sangat senang dengan Vespa miliknya yang telah kembali. “Ayah hari ini terlambat jemput Tiara.” Kata Tiara dengan mengembungkan pipinya. “Maaf. Tadi Ayah harus kerja. Yuk pulang!” Ajak ayah sambil mencubit pipi Tiara dengan gemas. Tiara lalu menaiki vespa dan langsung memeluk ayah dari belakang. “Makasih, Bu Luna! Tiara pulang duluan ya…” Kata Tiara melambaikan tangan kepada Bu Luna. “Hati-hati ya, Tiara! Ingat pesan Ibu!” Kata Bu Luna mewanti-wanti. “Mari saya duluan, Bu!” kata Sadam pamit kepada Bu Luna. “Mari, pak!” kata Bu Luna sambil tersenyum ramah kepada Sadam. Tiara dan ayahnya segera berjalan pulang. Sesampainya di Rumah… “Tiara ganti baju terus nyapu dan ngepel ya! Ayah mau belanja terus masak buat kita makan malam.” Pinta Sadam. “Siap komandan!” kata Tiara sambil memberi hormat. “Mantap!” Kata Sadam tersenyum sambil mengelus kepala Tiara. Sadam kemudian pergi berbelanja untuk persiapan makan malam. Setelah berbelanja, Sadam lalu memasak dan menghidangkan makanan untuk malam. Setelah makan malam… “Ayah katanya mau cerita tentang kisah ayah sama bunda?” Kata Tiara menagih janji ayahnya. “Oh iya. Ayah lupa!” kata ayah sambil tertawa. “Ihhh… ayah nyebelin.” Kata Tiara sambil mengerutkan bibirnya. “Oke deh. Sekarang Tiara belajar dulu di kamar, ayah sambil mengingat-ingat ceritanya biar gak lupa jalan ceritanya! Nanti setelah belajar, ayah certain deh!” kata Ayah. “Janji ya?” kata Tiara. “Iya… anak ayah yang bawel.” Kata ayah sambil mencubit gemas pipi Tiara. “Yaudah. Sekarang Tiara mau cuci piring dulu, deh.” Kata Tiara sambil mengambil piring bekas makan mereka. “Gausah. Hari ini biar ayah aja! Kamu belajar aja sana!” kata Ayah mengambil piring di tangan Tiara. Tiara pun segera masuk ke kamarnya dan mulai belajar. Sedangkan Sadam mencuci piring bekas mereka makan dan juga alat masaknya. Setelah mencuci piring, Sadam melintas di depan kamar Tiara. Ia mengintip dari celah pintu kamar yang tak tertutup rapat. Sadam melihat anak kesaangannya sedang serius membaca buku dan belajar di temani 2 boneka kesayangannya yaitu Jerry dan Ohim. Sadam pun tersenyum dan segera berjalan kembali menuju kamarnya. Di dalam kamar ia berbaring sambil menatap telapak tangannya yang masih terasa sakit dan memerah. “Demi Tiara, sakit ini bukan apa-apa!” Kata Sadam. Jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Tiara telah selesai belajar dan menghampiri kamar ayahnya untuk menagih janji. “Pak komandan… mana janjinya?” tagih Tiara pada ayahnya. “Iyaaaa… sini naik kasur. Hari ini Tiara bobo sama ayah aja ya!” kata ayahnya. “Asyiiikkk!!!!” kata Tiara sambil melompat keatas kasur. “Ayah mulai ceritanya ya…” Kata Sadam. “Iya.” Jawab Tiara dengan singkat dan penuh semangat.   Kisah Sadam ayahnya dan Laras bundanya pun segera di mulai. Kisah ini berawal ketika 13 tahun yang lalu di Hari pertama Masa Orientasi Siswa… “Kiri…!!!” Sadam lalu turun dari angkot. Hari ini adalah hari pertama Sadam masuk SMA. Ia telah berjanji untuk memulai hidup baru. Ketika waktu di SMP, gengnya sering kali berselisih dengan geng Randy. Kali ini, ia ingin memulai hidup baru dengan damai. Sadam berjalan di lorong kelas dengan semangat baru. Ia memasuki kelas dan tampak didalamnya ada beberapa siswa yang telah tiba lebih dulu. Ia menyisiri satu persatu meja, hingga akhirnya ia memilih satu meja yang akan ia duduki. Meja tersebut berada di paling belakang kelas. Namun, rupanya Sadam akan segera memiliki teman sebangku karena seseorang telah menaruh tas diatas meja itu meskipun pemiliknya tak berada disitu. Sadam mencoba berkenalan dengan siswa-siswi yang telah tiba lebih dulu sambil menanyakan pemilik tas tersebut. Tak ada satupun dari mereka yang mengaku memiliki tas tersebut. Sadam kembali ke bangkunya dan duduk sambil memandangi tas tak bertuan itu. “Kira-kira seperti apa teman sebangku gua nanti?” Sadam bertanya-tanya dalam hati. Tak lama seorang siswa bertubuh gempal masuk kedalam kelas sambil meminum jus stroberi. “Pagi-pagi udah minum jus. Sakit perut baru tau rasa tuh orang. Dasar orang aneh!” Ejek Sadam dalam hati. Siswa aneh itu terus berjalan dan semakin mendekat ke meja Sadam. Sadam menatap aneh ke siswa tersebut yang berdiri di dekatnya. Siswa gemuk itu pun membalas menatap Sadam kerena Sadam menatapnya dengan tatapan dengan aneh. “Lu duduk sebelah gua?” tanya siswa gemuk itu. “Ini tas lu?” Tanya Sadam. “Iya.” Jawab siswa gemuk itu dengan singkat dan lanjut meminum jus stroberi nya. Sadam tercengang dan mengerutkan dahi. “Kalo gua pindah sekarang, ni orang bakalan kesinggung. Kalo gua gak pindah sekarang, nih orang bakalan jadi temen sebangku gua entah sampe kapan.” Pikir Sadam dalam hati. “Kenalin, Gua Sadam. Panggil aja Sadam!” Kata Sadam yang memilih untuk tetap di meja itu dan malah mengajaknya berkenalan. Siswa itu menatap Sadam sejenak dengan tatapan serius dan tidak menjabat tangan Sadam. “Lu mau temenan sama gua gak? Udah aneh, songong lagi!” Kata Sadam dalam hati. “Yusuf Khaerudin. Atau lu bisa panggil gua Michael!” Kata siswa aneh itu menjabat tangan Sadam. Seketika Sadam lalu menarik tangannya kembali yang semula telah berjabat tangan. “MANA ADA NAMA YUSUF KHAERUDIN DIPANGGIL MICHAEL???!!” Protes Sadam setengah membentak. “YANG PUNYA NAMA KAN GUA!!! TERSERAH GUA DONG!!!” Siswa aneh itu balik memprotes Sadam dengan nada setengah membentak juga. Semua mata, tertuju kepada mereka berdua. “GUA GAK MAU PANGGIL LO MICHAEL!!! GUA BAKAL PANGGIL LO UCUP!!!” Protes Sadam lagi. “LO KOK GITU?” Tanya Ucup tanpa merendahkan nada bicaranya. “KAN YANG MANGGIL GUA. TERSERAH GUA DONG!!!” protes Sadam. “YAUDAH KALO LO MANGGIL, GUA GAK BAKAL NYAUT!!!” Protes Ucup lagi. Sadam semakin kesal, tapi ia tak mau janji yang telah ia buat untuk hidup dengan tenang tanpa perkelahian, harus dilanggar hanya karena harus berurusan dengan anak aneh ini. Sadam meredam semua emosinya. Masa Orientasi Siswa pun di mulai… Sadam dan Ucup tetap diam satu sama lain meskipun mereka duduk bersebelahan. Didepan kelas ada seorang kakak kelas perempuan dari OSIS yang sedang memimpin jalannya Masa Orientasi Siswa ini. Tiba-tiba seorang siswa lainnya berlari dengan tergopoh-gopoh dan menerobos masuk kedalam kelas. Seorang siswa tampan dengan tubuh atletis. Semua mata para gadis-gadis belia ini terpesona memandangi tubuh siswa yang terlambat itu, bahkan termasuk kakak kelas yang berdiri mematung di depan kelas. “Maaf saya terlambat, kak! Nama saya Dimas Palevi.” Kata siswa yang terlambat itu. “Silahkan masuk, wahai anak muda!” Kata kakak kelas sambil masih terpesona dan mendadak puitis. “Saya gak di hukum, kak?” Tanya Dimas. “Akan selalu termaafkan dosa dari seorang pemuda yang rupawan.” Kata kakak kelas. Ucup memperhatikan setiap ekspresi yang terpancar dari wajah gadis-gadis di kelasnya. Semua ekspresi tampak terpesona dengan Dimas. “Dam, gua emang kesel sama lu. Tapi gua lebih kesel sama dia.” Bisik Ucup pada Sadam. “Lah kenapa? emang lu kenal sama dia? Atau temen SMP?” tanya Sadam sambil berbisik. “Gua gak suka sama cowok populer!” bisik Ucup. “Ya… kalo gua sih gak suka semua cowok. Gua sukanya cewek.” Kata Sadam sambil tertawa kecil. “Sssstttt… gua serius!” kata Ucup. “Orang-orang kayak Dimas, bakal ngerasa gampang dapet cewek. Habis dapetin cewek yang dia mau, Dimas bakal ninggalin cewek itu dan cewek-cewek yang disakitin oleh Dimas akan tetap bodoh dan terus mengejar Dimas tanpa merasa sakit hati.” Bisik Ucup dengan serius. “Kok lu mikirnya bisa sejauh itu sih? Lagian lu belum juga kenal sama Dimas, udah negative thinking aja.” bisik Sadam dengan penasaran. “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking, bro. Ingat!” bisik Ucup. “Hahaha padahal lu iri kan?” bisik Sadam lagi sambil tertawa kecil. “Iri? Iya dikit sih. Gua takut semua cewek jatuh cinta sama dia, sampe-sampe gua gak kebagian.” Kata Ucup sambil murung. “Tenang lah, Cup! cewek di Sekolah ini kan banyak. Gak mungkin lah semua tertarik sama Dimas!” Kata Sadam. “Iya juga sih. Eh tunggu… lu tadi panggil gua Ucup ya?” tanya Ucup yang baru sadar bahwa Sadam memanggil namanya dengan nama Ucup. Sadam tersenyum penuh kemenangan. “Lu lagi ngomongin gua ya?” Tanya Dimas yang rupanya sudah duduk di sebrang samping meja mereka. Ucup menoleh dengan perlahan kearah belakangnya. Dan benar saja, ia melihat Dimas duduk persis di sebrang samping mejanya sambil tersenyum sombong. “Dam, lu kok gak ngomong kalo Dimas duduk di samping meja kita?” protes Ucup dengan berbisik. “Lah… lu gak nanya.” Kata Sadam dengan enteng. “Enak aja! Gua gak lagi ngomongin lu!” Jawab Ucup pada Dimas. Masa Orientasi Siswa pun kembali dilanjutkan karena Dimas telah duduk ditempatnya. Bel istirahat berbunyi… Sadam berjalan keluar kelas menuju kantin. Dibelakangnya, Ucup setengah berlari mengejarnya. “Dam, bareng dong ke kantin!” teriak Ucup menyusul Sadam. Di kantin… Sadam dan Ucup sedang menyantap bakso pesanan mereka. Tiba-tiba semua mata para gadis tertuju pada sebuah objek. Membuat Sadam dan Ucup juga ikut menoleh kearah objek tersebut karena penasaran dengan apa yang sedang para gadis itu lihat. Ucup terlihat kesal karena ternyata objek itu adalah Dimas yang sedang berjalan sambil memainkan rambutnya. Entah kenapa pada saat itu, Ucup melihat Dimas dengan gerakan slow motion. “Bu, pesen bakso 1 mangkok!” kata Dimas pada tukang bakso di Kantin. Ucup memandang Dimas dengan perasaan kesal. “Nyebelin banget kan dia?” tanya Ucup pada Sadam sambil matanya terus memperhatikan Dimas. Sadam hanya diam tak bergeming. “Tuh liat! Semua cewek-cewek pada terpesona sama gayanya yang tengil.” Kata Ucup Yang masih melihat kearah Dimas. Sadam masih terdiam tak berkomentar apapun. “Dam, lu dengerin gua ngomong gak sih?” tanya Ucup yang kini melihat kearah Sadam. “Masa cewek secantik itu, lu bilang tengil?” kata Sadam yang sedang terpesona oleh seorang gadis. Sadam memang tak mendengarkan keluhan Ucup. Sadam tampak melihat seorang gadis di belakang Ucup yang membuat dirinya tak mampu berkedip. Wajah gadis yang sangat menawan untuk dilewatkan. Karena penasaran, Ucup memutar tubuhnya ke belakang dan tampak seorang wanita cantik sedang tertawa bersama teman-temannya. Seorang wanita dengan rambut panjang agak bergelombang dan sebuah senyuman manis yang tergambar dari bibir merahnya. “Lu suka? kenalan lah!” kata Ucup mengagetkan lamunan Sadam. “Gimana caranya?” tanya Sadam. “Tinggal dateng, terus kenalan!” Kata Dimas yang entah datang darimana tiba-tiba berdiri di samping Sadam. Dimas duduk di meja Sadam dan Ucup. “Cepetan kenalan sekarang, Dam! Sebelum di rebut sama dia!” Kata Ucup sambil menatap sinis pada Dimas. “Gue perhatiin, lu sinis mulu sama gua. Kenapa sih?” tanya Dimas pada Ucup. Ucup hanya diam dan tak mau mengakui bahwa alasan ia membenci Dimas adalah karena Dimas ganteng, atletis, dan populer. “Gua boleh gak bereteman sama kalian berdua?” tanya Dimas pada Sadam dan Ucup. “Boleh.” Kata Sadam. “Gak.” Kata Ucup. “Yaudah gua bertemen sama lu aja deh. Gua Dimas, lu siapa?” Kata Dimas pada Sadam dan menatap Ucup dengan sinis. “Gua Sadam. Ini Ucup.” Kata Sadam yang juga memperkenalkan Ucup. “Kalo lu mau bertemen sama gua, panggil gua Michael!” kata Ucup. “Mendingan gua gak bertemen sama lu deh!” Kata Dimas. Ucup hanya memasang wajah kesal.   Sepulang sekolah… “Gua balik duluan ya!” Pamit Ucup pada Sadam yang masih memasukkan buku-bukunya kedalam tas. “Oke!” kata Sadam sambil tersenyum. Ucup berjalan di lorong sekolah menuju tempat parkir tempat ia memarkirkan sepeda motornya. Saat memasuki tempat parkir, ia melihat beberapa orang kakak kelas sedang berdiri di dekat sebuah motor sport dan juga motor astrea miliknya. Tanpa rasa curiga, ia berjalan dengan santai menuju sepeda motornya. “Permisi, kak!” kata Ucup dengan ramah kepada 4 orang kakak kelas yang sedang berdiri dan mengobrol di sekitar sepeda motornya. “Oh, jadi ini motor lu?” tanya salah seorang kakak kelas. “Iya, kak!” kata Ucup masih dengan sopan. “Siapa bilang anak baru boleh bawa motor ke sekolah?” tanya kakak kelas itu sambil meremas seragam Ucup. “Lah? Kenapa gak boleh? emang ini sekolah punya nenek lu?” kata Ucup yang malah menantang mereka. “Anj*ng lu! Anak baru udah nyolot.” Kata kakak kelas yang meremas seragam Ucup. Sementara itu di lorong sekolah… Sadam dan Dimas sedang mengobrol sambil menuju tempat parkir. Dimas mengajak Sadam untuk pulang dibonceng olehnya. Tak hanya Ucup, Dimas juga menaiki sepeda motor. Sepeda motor sport yang tadi Ucup lihat sedang di kerumuni oleh beberapa kakak kelas adalah milik Dimas. Saat mereka memasuki tempat parkir, mereka melihat 4 orang kakak kelas sedang menginjak-injak Ucup. Sontak Dimas langsung berlari sementara Sadam masih berdiam diri sambil berpikir. “Dam, ngapain lu bengong? Ayo…!” ajak Dimas. “Haaaahhh… padahal gua udah janji kalo hidup gua bakalan berubah kalo dah masuk SMA.” Kata Sadam setelah menghela nafas dan mulai berlari untuk menolong Ucup. Mereka bertiga harus membantu Ucup yang dihajar oleh 4 orang kakak kelas, beserta beberapa kakak kelas yang awalnya berdiri di sekitar motor Dimas yang kini juga ikut terjun kedalam pertempuran. Beberapa menit kemudian… Sadam, Ucup dan Dimas sudah terkapar tak berdaya setelah mereka kalah dari para kakak kelas. Biarpun kalah, mereka tetap merasa senang karena memang dari awal mereka tahu bahwa mereka akan kalah karena dari segi jumlah. Yang terpenting bagi mereka adalah melakukan perlawanan dan bukan hanya pasrah. “Muka lu kalo lagi babak belur jadi jelek juga ya?” Kata Ucup mengejek Dimas. “Biarin aja. Daripada lu, udah gendut, bonyok lagi! kayak Galon penyok.” Balas Dimas mengejek Ucup. Ucup dan Dimas melirik kearah Sadam sesaat. Mereka berdua lalu tertawa puas ketika melihat wajah Sadam yang sama-sama babak belur dan tak lebih baik dari mereka. Dari sinilah persahabatan ketiganya di mulai. Beberapa hari kemudian… Hari ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa. Para siswa baru, tengah bersiap untuk bermalam dan menginap di sekolah sebagai upacara terakhir berlangsungnya Masa Orientasi Siswa. Matahari hampir terbenam dan waktu masih menunjukkan pukul 4 sore. Sadam, Ucup, dan Dimas sedang berada di kelas khusus para laki-laki bermalam. Mereka bertiga sedang mempersiapkan tempat mereka masing-masing untuk tidur nanti malam. “Lu kalo tidur jangan ngorok ya, Cup!” kata Dimas. “Kagak lah. Palingan kentut-kentut dikit!” kata Ucup dengan santai. “Jorok banget sih lu! Gimana mau ada cewek yang deketin lu?” Kata Dimas menimpali. “Cup, Dim, gua bawa gitar. Nanti malam kita nyanyi-nyanyi sampe subuh!” Ajak Sadam. “Oke. Kita begadang sampe subuh!” Kata Ucup dengan semangat. “Mending kita bikin taruhan! Siapa yang tidur duluan, dia harus traktir makan bakso di kantin. Yang terakhir tidur, selain dia dapet traktiran bakso, dia juga bakalan jadi bos selama 1 hari. Gimana?” ajak Dimas. “Oke. Siapa takut!” kata Ucup dengan semangat. “Deal!” kata Sadam. Mereka pun bersalaman sebagai tanda akan kesepakatan yang telah mereka buat. Malam harinya, ketika waktu menunjukkan pukul 10 malam… “Grrrrrrr….!!!” Suara dengkuran Dimas mulai bergema di ruangan kelas yang hening ini. “Brotttt…!!!” Ucup tertidur pulas sambil sesekali bokongnya mengeluarkan gas beracun. Semua siswa telah terlelap meninggalakan Sadam bersama gitarnya dalam kesunyian malam. “Gak seru banget sih kalian! KATANYA MAU NYANYI-NYANYI SAMPE SUBUH!!!” Protes Sadam pada Dimas dan Ucup sambil membentak. “SSSTTTTTT…!!!” kata beberapa siswa yang mencoba untuk terlelap. “Kalian semua juga aneh! masa gak keganggu sama suara ngoroknya Dimas dan kentutnya Ucup!” keluh Sadam pada seluruh siswa. Sadam keluar dari kelas membawa gitar kesayangannya menuju pinggir lapangan sambil menggerutu. Ia menatap langit dan sayangnya tak ada satupun bintang yang bersinar. Hanya sebuah purnama yang bersinar terang dengan indahnya. Sadam tersenyum pada purnama itu. Sesampainya di lapangan, Sadam mencoba memetik gitarnya hingga mengeluarkan nada yang ia ingin kan. “Waaaktuuu… terasaaa… semaaakiinn…berlalu…” Sadam bermain gitar sambil menyanyikan lagu ‘Semua Tentang Kita’ dari Peterpan. Sedang asyik ia bermain gitar dan bernyanyi, tiba-tiba terdengar dari belakangnya sebuah lantunan nada biola yang mengiringi nyanyian dan petikan gitarnya. Sambil bernyanyi, ia memutar tubuhnya 180 derajat dan lalu tampak seorang gadis cantik sedang memainkan biolanya mengiringi petikan gitar dan nyanyian Sadam. Gadis yang tempo hari membuat Sadam jatuh hati. “Baru kali ini aku mendengar suara biola, dan aku menikmatinya.” Kata Sadam setelah nyanyiannya berakhir. “Petikan gitar kamu juga bagus!” kata gadis itu memuji Sadam. “Oh iya, namaku Sadam.” Kata Sadam mencoba memperkenalkan diri. “Aku Laras.” Kata gadis itu. “Laras kenapa gak tidur?” kata Sadam dengan canggung. “Di kelas ku berisik. Ada yang tidur ngorok, ada yang tidur sambil kentut.” Kata Laras sambil tertawa kecil. “Mungkin suara itu bukan berasal dari kelas kamu. Itu mungkin kentut si Ucup sama ngorok si Dimas dari kelas aku sampe kedengeran ke kelas kamu.” Kata Sadam sambil tertawa karena memang kelas mereka bersebelahan. Mereka berdua menghabiskan malam bersama sambil mengobrol dan tertawa dibawah bulan purnama hingga rasa kantuk mulai menyerang mereka dan mereka kembali ke kelas masing-masing. Disinilah awal pertama kali Sadam mengenal Laras. 2 hari kemudian… Masa Orientasi Siswa telah selesai, kini para siswa baru kelas 1 dapat memulai hidup mereka dalam lembaran baru dan menjadi warga resmi sekolah ini. Di kantin, Sadam dan Ucup sudah memakan 3 mangkuk bakso karena Dimas lah yang kalah dari taruhan di hari terakhir Masa Orientasi. “Udah kenyang, Cup?” Tanya Sadam. “Udah.” Kata Ucup sambil mengelus-elus perutnya yang kekenyangan. “Yuk balik ke kelas!” ajak Sadam. Setelah sampai di kelas, Dimas memijat tangan Sadam, sedangkan Ucup memijat bagian kaki karena untuk hari ini saja, Sadam akan menjadi bos untuk mereka berdua. “Ngapain juga… gua bikin taruhan konyol kayak gini.” Keluh Dimas sambil terus memijat tangan Sadam. Sepulang sekolah… Sadam menghampiri kelas Laras. Ia harus menunggu sejenak di depan kelas karena rupanya kelas Laras belum berakhir. Tak lama kemudian, Laras berjalan keluar bersama seorang temannya dari dalam kelas. “Eh Sadam? kok disini?” “Laras, mau pulang bareng gak? Laras melirik kearah temannya. Dan temannya tersenyum seolah tau maksud Sadam. Ia pun memberi isyarat kepada Laras untuk menerima ajakan Sadam. Laras mengangguk dan seketika membuat hati Sadam berbunga-bunga. Sadam kini tak lagi memakai angkot karena Masa Orientasi Siswa telah selesai, jadi ia memutuskan untuk membawa vespa biru kesayangannya ke sekolah. Di perjalanan… “Laras kamu suka makanan apa?” “Aku suka eskrim.” “Yaudah kita mampir ke kafe yang jual eskrim ya?” “Boleh!” Sadam dan Laras mampir di sebuah kafe untuk menikmati eskrim. Kesempatan ini Sadam lakukan untuk menggali dan mengenal Laras lebih dalam. “Laras, kamu udah punya pacar?” Tanya Sadam dengan malu-malu. “Hmmm… emang menurut kamu, aku udah punya pacar?” “Cewek secantik kamu, biasanya udah punya pacar.” “Kamu selain jago main gitar, ternyata jago gombal juga ya…” Sadam tak berkata apapun dan hanya tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah cermin kecil dari dalam tasnya dan mendekatkannya pada wajah Laras. Laras menatap kearah cermin itu. Laras bisa melihat sendiri bayangan wajahnya yang terpantul dari cermin itu. “Apa menurut kamu aku bohong dan cuma gombal kalo aku bilang bahwa kamu itu cantik?” Laras menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya karena kini ia benar-benar tersipu malu. Setelah menghabiskan waktu bersama di kafe, Sadam lalu melanjutkan perjalanan untuk mengantar Laras ke rumahnya. Di depan rumah Laras… “Makasih, Sadam…!” Kata Laras setelah turun dari motor dan membuka helmnya. “Iya, sama-sama.” Kata Sadam sambil tersenyum. “Hati-hati ya, pulangnya !” Kata Laras. “Iya. Eh, besok-besok aku boleh antar jemput kamu lagi gak?” Tanya Sadam. “Emang kenapa kamu mau anter jemput aku ?” Tanya Laras dengan pura-pura polos. “Ya, biar lebih banyak waktu sama kamu aja. Aku nyaman soalnya kalo deket kamu.” Kata Sadam sambil canggung. Laras terdiam sejenak lalu tersenyum. “Boleh.” Sadam sangat senang dengan jawaban Laras. Ia pun kembali berpamitan dan pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Setelah hari itu, ia terus mengantar dan menjemput Laras karena ia ingin selalu berada disisi Laras. Sesekali, ia juga menemani Laras untuk memakan eskrim kesukaannya. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu untuk berkolaborasi antara petikan gitar Sadam dan gesekan biola Laras di sekolah maupun di rumah Laras. Hingga suatu hari… “Laras kamu mau gak jadi pacar Sadam?” Tanya Sadam sambil menggenggam tangan Laras. Mereka berdua sedang duduk diatas genteng rumah Laras sambil memakan eskrim dan menikmati pemandangan dari atas genteng. Laras menatap Sadam dan tersenyum. “Kalo aku jawab yang gak sesuai dengan harapan kamu gimana?” Tanya Laras. Sadam berpikir sejenak. “A-Aku ba-bakalan terjun ke-kebawah.” Kata Sadam terbata-bata. “Serius?” Tanya Laras tak percaya. “Se-serius.” Kata Sadam. “Yaudah terjun aja! aku gak mau jadi pacar kamu!” Kata Laras dengan ketus. “Kamu kok tega sih?” Kata Sadam. “Aku emang tegaan orangnya. Ayo terjun!” Pinta Laras dengan ketus. Sadam beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan. “Yaudah deh. Aku terjun aja!” kata Sadam dengan pasrah. “Eeehhh... kamu orangnya serius banget sih. Aku kan cuma becanda! Aku mau kok jadi pacar kamu.” kata Laras sambil menggenggam tangan Sadam untuk menghentikan Sadam. “Kamu juga serius amat, sih. Aku juga cuma becanda kalo aku mau terjun.” Kata Sadam sambil nyengir. Laras malah menjadi cemberut kesal setelah mendengar perkataan Sadam. Ia melepaskan genggamannya pada tangan Sadam. Ia mulai menuruni genteng dan masuk kedalam rumah meninggalkan Sadam. Tapi, Sadam tak tinggal diam, ia pun turun untuk mengejar Laras. “Laras!” panggil Sadam. Laras hanya diam dan terus berjalan dengan perasaan kesal. “Kamu kenapa jadi ngambek?” Tanya Sadam bingung. Laras tak menghiraukan Sadam dan terus berjalan menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika tangannya di genggam oleh Sadam. “Soal terjun, aku emang becanda. Tapi soal menjadikanmu sebagai pacarku, aku bener-bener serius.” Kata Sadam. Laras terdiam. “Aku tanya sekali lagi! Kamu mau jadi pacar Sadam gak?” Tanya Sadam. Laras membalik tubuhnya, dan masih memasang wajah cemberut dan kesal. “Mau.” Kata Laras dengan ketus dan masih cemberut. Sadam tertawa melihat wajah Laras yang berbanding terbalik dengan jawaban yang keluar dari mulutnya. Sadam langsung memeluk Laras dengan erat. Dalam pelukan Sadam, Laras mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum. Laras pun memeluk Sadam. Hari itu mereka resmi berpacaran. Hari-hari setelahnya mereka habiskan dengan kebersamaan diiringi petikan gitar dan gesekan biola. Mereka hidup berbahagia sampai menikah dan memiliki anak cantik yang bernama Mutiara.   “Nah gitu ceritanya, sayang!” Kata ayah selesai bercerita. “Kisah ayah sama bunda romantis ya? cocok jadi sinetron.” Kata Tiara sambil menatap ayahnya. “Tiara, mulai besok kamu kurangin nonton sinetron. Kamu masih kecil, gak baik!” kata Ayah. “Iihhhhh… kok gitu sih…” protes Tiara. “Udah ah, yuk bobo! Besok ayah harus mulai kerja. Kamu juga harus sekolah!” kata Ayah. Sadam beranjak dari tempat tidurnya untuk mematikan lampu, namun Tiara memanggil dan membuatnya harus menghentikan langkahnya. “Ayah… ambilkan Jerry dan Ohim!” kata Tiara. “Gak mau, ah!” kata Ayah dengan ketus. “Plissss… tolong dong ayaaahh!!” Tiara memohon. “Nah gitu dong, kalo minta sesuatu harus bilang, tolong!” kata Ayah. “Iyaaa ayah tolong yaaaa!!!” kata Tiara tersenyum dengan gemas. Sadam akhirnya berjalan ke kamar Tiara untuk mengambilkan boneka jerapah dan boneka gajah kesayangan putrinya. Setelah itu ia kembali memberikan boneka itu lalu mematikan lampu untuk tidur. Sadam menyelimuti Tiara dan juga menyelimuti dirinya. Tiara tidur membelakangi Sadam. Dalam kegelapan kamar, mata Tiara masih terbuka sedangkan Sadam sudah mulai terlelap dengan senyuman yang tersirat di wajahnya. Entah kenapa, Sadam merasakan kehadiran Laras di kamar ini. “Ayah…?” panggil Tiara. “Hmmm?” Jawab ayah sambil terpejam karena sudah mengantuk. “Besok aku mau bawa biola kesayangan bunda ke tempat bunda ya!” pinta Tiara. Sadam membuka kedua matanya menghadap langit-langit kamar. Ia tersenyum mendengar permintaan Tiara “Iya.” Jawab Sadam dan kembali memejamkan matanya. Keesokan harinya… Sadam terbangun dari tidurnya. Ketika ia membuka mata, Sadam mendapati sepasang kaki kecil yang mendarat tepat diatas wajahnya. “Perasaan Laras kalo tidur gak kayak gini. Ini anak siapa sih?” gumam Sadam sambil memindahkan kaki mungil milik Tiara yang terparkir tepat diatas wajahnya. Sadam lalu segera beranjak dari kasur untuk segera pergi membeli sarapan.   Sebelum mengantarkan Tiara ke Sekolah, mereka berdua mengunjungi di makam Laras. Tiara memainkan lagu Bunda dari Melly Goeslow dengan biola kesayangan milik mendiang bundanya. Ia tak memainkan biola miliknya khusus untuk hari ini. Di sampingnya, Sadam berdiri sambil tersenyum bahagia melihat putri kecilnya begitu mahir dan menghayati setiap gesekan pada senar biolanya. “Semoga bunda tenang di surga ya!” kata Tiara setelah selesai memainkan lagu. Sadam membungkukkan badannya tepat di depan batu nisan milik mendiang istrinya. “Tiara benar-benar mirip kamu. Meskipun beberapa hal, entah dia mirip dengan siapa.” Kata Sadam tertawa kecil lalu mencium batu nisan istri tercintanya. “Yuk berangkat!” ajak Sadam pada Tiara. “Yuk!” kata Tiara setelah memasukkan biola milik bundanya kedalam tas. Mereka berdua pun segera berangkat ke sekolah. “Dadaaahhh… ayah!!!” Kata Tiara melambaikan tangannya. “Dadaaahhh..!!!” Kata Sadam lalu mulai melaju dengan vespanya.   Di sebuah rumah… “Abang yakin mau ngelakuin ini?” Tanya Dina pada Dani, setelah Dani menceritakan strateginya. “Iya. Abang udah gak punya waktu lagi. Abang gak mau mati!” Kata Dani dengan serius menatap adiknya. “Dina, ikut apa kata abang aja.” Kata Dina dengan pasrah. Dani telah mempersiapkan sebuah strategi yang akan mengejutkan Sadam. Dani yakin bahwa sekaranglah waktu yang tepat untuk membalas kematian Bos Jaka dan Iwan sahabatnya. Keharmonisan dan kebahagiaan keluarga Sadam akan segera lenyap di tangannya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN