Tiara berdiri didepan gerbang sekolah menunggu ayahnya yang sudah telat 30 menit untuk menjemputnya.
“Ayah mana nih? telat lagi deh...” Keluh Tiara.
Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Tiara.
“Permisi, dek. Tante mau Tanya!” Kata seorang wanita itu.
“Boleh, tante.” Kata Tiara sambil tersenyum.
“Adek tau gak anak yang namanya Mutiara Kusuma Widyodiningrat?” Tanya wanita paruh baya tersebut.
“Itu nama saya, Tante. Ada perlu apa?” Kata Tiara dengan lugu.
“Jadi, ayah kamu namanya Sadam Kusuma? Bener?” Tanya Wanita itu.
“Iya. Bener.” Kata Tiara sambil mengangguk.
Wanita itu lalu memasang ekspresi penuh kesedihan.
“Ayahmu kecelakaan. Tante disuruh ayahmu menjemputmu, lalu kita sama-sama ke Rumah Sakit!” Kata Wanita itu.
Tiara bagai tersambar petir ketika mendengar berita yang disampaikan wanita itu. Matanya mulai berkaca-kaca karena menolak kenyataan pahit yang baru saja ia dengar.
“Ayah kecelakaan?” Tanya Tiara dengan panik.
Dengan raut wajah kesedihan, Wanita itu mengangguk. Tiara lalu mengikuti wanita itu masuk kedalam mobil yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Mobil pun melaju meninggalkan Sekolah.
Beberapa saat kemudian…
Sadam datang dengan vespa tua nya, berhenti di depan sekolah.
“Aduuuhhh gara-gara banyak motor yang harus di cuci, sampe telat deh jemput Tiara.” Gumam Sadam.
“Mana tangan sakit banget lagi.” Keluh Sadam sambil menatap telapak tangannya yang sudah diperban akibat luka karena menarik kawat mesin pencuci motor.
30 menit telah berlalu, Sadam masih duduk menunggu diatas vespa tuanya. Menunggu Tiara tak kunjung juga menunjukan batang hidungnya.
Sadam turun dari vespanya, dan masuk kedalam sekolah. Ia berjalan menuju kelas Tiara, siapa tahu anaknya sedang menunggunya disana pikirnya. Namun pada saat sampai disana, Sadam mengintip dari luar jendela kelas dan tak ada seorang pun yang bisa ia temukan didalam kelas.
“Permisi, Pak Sadam.” Sapa Bu Luna dari arah belakang Sadam.
“Selamat sore, Bu Luna!” Salam Sadam.
“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu, Pak Sadam?” Tanya Bu Luna dengan ramah.
“Saya mau jemput Tiara, tapi kok dia tidak ada ya, Bu?” Kata Sadam.
“Tadi sih saya lihat Tiara sedang menunggu bapak didepan gerbang sekolah. Lalu kemudian saya lihat lagi dia sudah tidak ada, saya kira sudah di jemput oleh bapak.” Kata Bu Luna.
“Maaf. Boleh Bu Luna bantu saya cari Tiara didalam area sekolah? pinta Sadam.
“Baik, pak.” Kata Bu Luna.
Sadam berlari ke depan gerbang untuk mencari Tiara di area luar sekolah, sementara Bu Luna berusaha mencari Tiara di area dalam Sekolah.
“TIARA!!!” Sadam berteriak memanggil-manggil nama anaknya dengan perasaan cemas. Ia juga mengunjungi beberapa tempat di sekitar sekolah yang sekiranya mungkin Tiara kunjungi.
“TIARA!!!” Sadam terus memanggil nama putrinya dengan panik.
Setelah berkeliling, Sadam masih juga tak dapat menemukan Tiara di area luar sekolah, ia kembali masuk kedalam Sekolah untuk mengetahui hasil pencarian Bu Luna.
“Bagaimana, Bu?” Tanya Sadam dengan panik.
“Tidak ada, Pak Sadam.” Kata Bu Luna dengan berat hati.
Sadam semakin tampak panik dan cemas.
“Apa mungkin, Tiara sudah pulang sendiri ke Rumah?” Tanya Bu Luna.
Sadam mengingat bahwa ia menyuruh Tiara untuk lebih mandiri, tapi ia tak yakin jika putrinya itu bisa pulang sendiri menaiki angkot. Tapi, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Sadam segera pamit kepada Bu Luna dan tanpa membuang-buang waktu, ia segera meluncur pulang ke Rumah.
Selama di perjalanan pulang, perasaannya sangat tidak karuan. Sadam benar-benar takut jika nanti setibanya di Rumah dan ternyata ia masih tak dapat menemukan Tiara. Usai memarkirkan vespanya di depan Rumah, Sadam berlari masuk kedalam Rumah sambil berteriak memanggil-manggil nama anaknya.
“Klekkk…” pintu masih terkunci.
Sadam menyadari sesuatu bahwa Tiara tak pernah membawa kunci Rumah. Meski ia membuka kunci pintu Rumah ini sekarang, Sadam harus melapangkan hatinya karena tak mungkin Tiara berada didalam Rumah yang terkunci dari luar.
“Tiara?” Panggil Sadam ketika masuk kedalam Rumah.
Hening dan tak ada jawaban.
“Tiara?” Sadam membuka pintu kamar Tiara.
Hanya boneka jerapah dan boneka gajah kesayangan Tiara yang tampak sedang terduduk diatas kasur Tiara.
“Tiara…” Panggil Sadam dengan lemah sambil berlutut di lantai dengan kepala menunduk.
Pikirannya telah kacau. Tak peduli dengan tangan kanannya yang masih sakit, Sadam memukuli lantai dengan sekeras mungkin.
“TIARA !!!” Teriak Sadam sambil menangis.
Matahari telah berganti menjadi rembulan, sinarnya yang terang telah redup dan menghasilkan kegelapan malam. Jam menunjukan pukul 9 malam. Di tengah kegelapan malam dan terangnya lampu di tengah kota Jakarta, Sadam masih mengendarai vespanya untuk mencari anak semata wayangnya yang hilang entah kemana.
Sementara itu di sebuah Rumah…
Seorang gadis kecil disekap diatas kasur didalam kamar berisikan banyak sekali boneka. Kaki dan tangannya terikat, serta mulutnya tersumpal kain. Seragam putih merah masih melekat di tubuhnya yang terbaring diatas kasur. Air mata mulai membanjiri pipi lembutnya. Perasaan takut masih menyelimutinya.
Seorang wanita datang membuka pintu kamar sambil membawa beberapa kue yang terlihat lezat. Wanita yang menculiknya itu mendaratkan pantatnya diatas kasur tepat disamping gadis kecil yang terbaring tak berdaya. Wanita itu adalah Dina.
“Kamu mau kue?” Tanya Dina sambil membuka kain yang menyumpal gadis kecil itu.
“Tiara mau ayah!” jawab Tiara sambil menangis.
“Kenapa? Apa ayah Tiara, ayah yang baik?” Tanya Dina.
Tiara mengangguk dengan air mata yang masih meleleh.
“Tiara beruntung punya ayah yang baik, tante selalu ingin tahu rasanya kasih sayang dari seorang ayah.” Kata Dina sambil menatap langit-langit kamar.
Tiara terdiam tak berkomentar.
“Tiara gausah takut! Kalo memang ayah Tiara ayah yang baik, dia pasti datang untuk nyelamatin Tiara.” Lanjut Dina sambil mengusap kepala Tiara.
“Tante kayaknya orang baik, tapi kenapa tante nyulik Tiara?” Tanya Tiara sambil terisak.
“Makasih loh, udah bilang tante orang baik.” Kata Dina sambil tersenyum.
“Jadi alasan tante apa?” Tanya Tiara.
“Tante cuma mengikuti apa yang di suruh abang. Tante juga sebenarnya gak mau nyulik Tiara.” Kata Dina yang sekarang malah berbaring di samping Tiara.
“Apa abangnya orang jahat?” Tanya Tiara dengan polos.
Dina terdiam dan menatap langit-langit. Tiara menatap sebutir air mata yang mulai meleleh dari air mata Dina yang terbaring di sampingnya.
“Kenapa tante nangis?” Tanya Tiara dengan polos.
“Gak apa-apa.” Kata Dina sambil mengelap air matanya.
“Jadi, apa mungkin abangnya tante orang jahat?” Tanya Tiara dengan polos.
“Kamu nih kecil-kecil udah kepo ya!” Kata Dina sambil tertawa dan berbaring menyamping menghadap Tiara.
“Dulu… Bang Dani orangnya baik. Sekarang, orang-orang bilang kalo Bang Dani orang yang jahat. Tapi buat tante, Bang Dani tetep orang yang baik.” Lanjut Dina sambil tersenyum.
“Tante kalo tersenyum keliatan cantik, deh!” kata Tiara.
Dina tersenyum pada Tiara lalu berdiri untuk mengunci pintu. Dina kembali berbaring setelah mengunci pintu dan membuka tangan dan kaki Tiara yang terikat.
“Tante udah kunci pintunya. Jadi meskipun Tiara bisa bergerak bebas, tetep aja Tiara gak akan bisa kabur.” Kata Dina.
Tiara diam tak berkomentar.
“Sini… tante suapin kue!” kata Dina sambil mengambil piring kue yang sebelumnya ia taruh di meja di samping tempat tidur.
Setelah selesai makan kue, Dina terbaring sambil memeluk Tiara.
“Tante selalu ingin punya anak.” Kata Dina sambil memeluk dan menatap Tiara.
“Terus kenapa tante gak punya anak?” Tanya Tiara dengan polos.
“Tante kan gak menikah.” Jawab Dina sambil tertawa kecil.
“Kenapa tante gak menikah?” Tanya Tiara.
“Buat Tante, semua laki-laki itu jahat. Cuma Bang Dani lah laki-laki yang baik.” Jawab Dina.
“Ayahku baik loh. Om Ohim juga baik. Om Ucup, Om Dimas sahabat ayah juga menurut Tiara baik juga. Ya… walaupun Tiara belum bertemu sama Om Ucup dan Om Dimas.” Kata Tiara dengan polos.
“Tiara masih kecil. Pikiranmu masih suci. Tante jadi ingin terus menjadi anak kecil seperti Tiara.” Kata Dina sambil memeluk Tiara dengan gemas.
Tiara hanya terdiam.
“Tiara mau jadi anak tante?” lanjut Dina.
“Maaf! Tapi, Tiara udah punya bunda dan ayah.” Jawab Tiara dengan polos.
Dina pun hanya tertawa kecil melihat kepolosan Tiara.
Sadam terduduk diatas genteng rumahnya dengan perasaan yang sangat kacau. Ia telah berkeliling untuk mencari Tiara, namun hasilnya tetap nihil. Ia benar-benar kebingungan. Ia tak tahu kemana harus mencari Tiara.
“Tiara sedang apa sekarang? Apa dia ketakutan dan kedinginan?” Pikir Sadam.
Ia benar-benar tak sanggup memikirkan semua kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa putrinya.
“Glederrrr…” Terdengar suara gemuruh diatas langit.
Sadam menatap dan menerawang keatas langit.
“Suara gemuruh… Langit pasti sedang mendung… Tiara pasti sedang ketakutan.” Kata Sadam. Ia lalu beranjak dari duduknya dan segera kembali berkeliling kota untuk mencari anaknya yang hilang.
Tiara sudah terlelap dan larut dalam pelukan Dina. Wajah manisnya tetap terpancar meskipun sedang terlelap. Dina segera melepaskan pelukannya dan berjalan keluar kamar meninggalkan Tiara. Menutup pintu, dan menguncinya dengan rapat.
Di tengah rumah, Dina terduduk sambil termenung. Didekatnya, sebuah cangkir berisi teh panas dengan asap yang mengepul dari dalam cangkir menemani kesendirian Dina. Ia melirik kesebuah jam tua berwarna keemasan yang menempel di dinding. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Tak lama, terdengar suara pintu rumah terbuka. Dina menolehkan kepalanya, dan rupanya Dani abangnya telah tiba. Dina lalu berdiri dan menghampiri abangnya yang baru saja datang.
“Abang kenapa baru pulang?” Tanya Dina sambil mencium tangan abangnya.
“Iya. Barusan banyak pelanggan.”
“Sampai kapan abang mau berjualan barang haram itu? Kita kan udah hidup berkecukupan.”
“Abang gak tau. Karena abang gak bisa berhenti. Pilihannya cuma tetep dagang, atau mati.” Kata Dani sambil membuka kaos loreng tentaranya.
Dina hanya terdiam, lalu mengambil kaos loreng milik abangnya untuk ia jemur di belakang rumah.
Dani berjalan menuju kamar tempat Tiara disekap. Ia membuka kunci dan membuka pintunya. Tampak Tiara sedang terlelap sambil memeluk salah satu dari banyak boneka milik Dina diatas kasurnya.
“Kenapa kamu gak ikat dia?” Tanya Dani pada Dina yang kini berdiri dibelakangnya setelah selesai menjemur kaos.
“Dia anak yang baik. Aku tadi banyak ngobrol sama dia.” Kata Dina sambil tersenyum.
“Ya sudah kalau begitu.” Kata Dani kemudian menutup dan mengunci kembali pintu kamar.
Dani dan Dina berjalan ke meja makan.
“Kamu udah makan?”
Dina mengangguk.
“Anak itu udah makan ?”
“Udah aku suapin kue tadi. Abang udah makan?”
“Udah.”
Dani mengeluarkan sebuah amplop coklat berisikan uang dari saku celananya.
“Ini didalamnya ada 10 juta. Untuk kamu bayar sewa mobil yang kamu pinjem untuk menculik anak itu, sisanya kamu simpen aja!” Kata Dani sambil memberikan amplop.
“Kenapa abang selalu kasih uang ke aku? bukannya abang sendiri punya kebutuhan?” Tanya Dina sambil mengambil amplop pemberian abangnya.
“Sebagai kakak, kebutuhan abang itu adalah mencukupi kebutuhan kamu.” Jawab Dani.
Dina tak berkomentar apapun dan lalu memasukan uang pemberian abangnya kedalam saku celananya.
“Dok…dok…dok…” Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dengan sangat keras.
Dani termenung sesaat dengan heran karena ia tidak menyangka akan kedatangan tamu selarut ini. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan membuka pintu. Sebelum membuka pintu, ia menyuruh Dina untuk bersembunyi. Saat pintu itu dibuka, ia sungguh terkejut dengan penampakan seorang lelaki yang sudah berdiri didepan Rumahnya.
“Bos Randy?” Kata Dani heran karena tak ada seorang pun anggota mafia keluarga pangestu yang mengetahui rumahnya kecuali Iwan.
“Kenapa? kaget ya?” Tanya Randy sambil tersenyum kecil.
Dani terdiam membisu.
“Jadi, udah sampe mana progress lu buat si cecunguk itu? Besok batas waktu lu udah abis loh!” Tanya Randy.
Dani terdiam membisu.
“Gua gak punya waktu lagi. Gua harus balik ke Bandung besok malam. Sampe besok malam lu belum juga ngabisin tuh cecunguk, lu bakalan stay di Jakarta. Lebih tepatnya, stay disamping kuburan Iwan.” Kata Randy tersenyum licik.
Dina yang mengintip dari dalam kamarnya terkejut mendengar ancaman Bos Randy untuk abangnya. Sedangkan Dani hanya terdiam mematung tak bergeming.
“Sssttt…hey…hey…!!! Kalo masih gak bicara, gimana kalo gua sobek sekalian bibir lu? Biar sekalian gausah bicara lagi seumur hidup.” Kata Randy sambil menepuk-nepuk pipi Dani untuk membuat Dani berbicara. Karena sedari tadi, ia hanya diam tak bergeming tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Jujur, sebenarnya Dani tidak ingin bosnya tahu bahwa ia telah menculik anak Sadam, karena ia takut hal yang buruk akan terjadi pada anak itu. Namun, Dani harus berbicara dan mengatakannya. Dani mulai membuka mulutnya dan menatap kearah Randy.
“Jadi, udah sampe mana progress nya?” Randy mengulang pertanyaannya.
“Bos Randy, ikut saya!” kata Dani sambil tubuhnya bergetar ketakutan.
Dani mengantar Randy menuju kamar dimana Tiara sedang disekap. Dani membuka kunci kamar dan mengajak Randy untuk masuk kedalam kamar. Randy menatap Tiara dengan kebingungan.
“Siapa anak ini? Apa hubungannya sama gua?” Tanya Randy kebingungan.
“Ini anak dari cecunguk itu. Bos Randy bisa bawa dia, tapi tolong jangan bunuh saya!” Kata Dani memohon.
Randy seketika tertawa mendengar perkataan Dani yang memelas. Sedangkan Dani sangat kebingungan dengan Bos Randy yang malah tertawa mendengar perkataanya.
“Kamu tahu apa yang lucu?” Tanya Bos Randy sambil terus tertawa.
Dani hanya terdiam sambil kebingungan.
“Gua pernah nanya tentang lu, sama om Rio, gua juga nanya sama anak-anak yang lain. Mereka bilang bahwa Dani itu orangnya sangat menghormati Perempuan, dan tak ingin menyakiti Perempuan.” Kata Bos Randy.
Dani masih terdiam sambil menunduk.
“Well, gua respek dengan prinsip itu karena gua pun punya prinsip yang sama.” Kata Bos Randy sambil bertepuk tangan.
“Lu tahu apa yang lebih hina dari orang yang menyakiti Perempuan?” Tanya Randy sambil tiba-tiba mencekik Dani.
Dani meronta-ronta karena kehabisan nafas akibat cekikan Randy di lehernya.
“Yaitu… orang yang menyakiti anak kecil.” Bisik Randy di telinga Dani.
Dani tertunduk malu.
“Dan lu. Lu lebih hina lagi, Karena lu pengen gua nyakitin seorang anak perempuan. Lu buang semua prinsip lu, cuma hanya karena takut mati.” Ejek Bos Randy sambil menyeringai.
Dani semakin tertunduk malu.
“Lu nyulik anaknya, berarti lu tau rumah cecunguk itu?” Tanya Randy.
Dani mengangguk dengan lemah.
“SEKARANG BAWA GUA KE TEMPAT CECUNGUK ITU!” Bentak bos Randy.
“Kalo lu gak bisa ngabisin dia, biar gua aja!” Lanjut Bos Randy sambil berjalan menuju mobilnya.
Dani lekas memakai kembali kaos yang tadi baru saja dijemur lalu mengekori Bos Randy dengan kepala yang masih tertunduk. Mereka berdua melaju menuju rumah Sadam. Dina yang mengintip dari dalam kamar, sungguh merasa cemas dengan nasib sang kakak. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa.
Hujan turun dengan sangat deras. Hawa dingin malam benar-benar terasa menusuk tulang bercampur dengan derasnya air hujan.
“TIARA KAMU DIMANA!!!” Teriak Sadam dari atas jembatan.
Ia terduduk dan tak memperdulikan air hujan yang terus mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup. Pikirannya benar-benar kacau. Baru saja ia ditinggal mati oleh istri tercintanya, kini ia tak rela harus kehilangan anak semata wayangnya.
“AAAAAAAARRRRGGGHHHHHH!!!!” Sadam berteriak sekencang-kencangnya agar semua rasa kesalnya keluar dari dalam tubuhnya.
Tetap saja meskipun sudah berteriak sekencang-kencangnya, rasa kesal seolah tak pernah ada habisnya. Bahkan setiap air hujan yang menerpa tubuhnya tak mampu meredam darahnya yang mendidih. Sadam terduduk lemas diatas jembatan sambil terus berteriak sekencang-kencangnya. Untungnya air hujan yang turun dengan deras, dapat meredam teriakannya sehingga teriakannya tak terdengar oleh siapapun.
Dani dan Bos Randy telah hampir sampai menuju rumah Sadam. Karena rumah Sadam berada di dalam gang, maka Bos Randy harus memarkirkan mobilnya di suatu tempat. Mereka berdua berjalan menyisiri gang kecil untuk menuju rumah Sadam. Dani berjalan sambil memayungi Bos Randy agar bajunya tidak basah oleh hujan yang turun dengan deras.
Akhirnya, Dani dan Randy telah sampai di rumah Sadam. Mereka mengintip dari jendela dan tampaknya tak ada tanda-tanda kehidupan.
“Dobrak!” perintah Bos Randy.
Dani mendobrak pintu hingga ia berhasil masuk kedalam rumah Sadam.
“Cari dia di dalam! Kalo gak ketemu, hancurkan semua barang yang ada!” perintah Bos Randy.
“Bos gak masuk?” Tanya Dani.
“Gua disini buat menghajar seseorang. Gua gak mau ngotorin tangan gua dengan hal-hal yang gak penting. Kalo dia ternyata bersembunyi, lu seret bawa ke gua!” perintah Bos Randy.
Dani masuk kedalam rumah dan memeriksa setiap sudutnya. Sementara bos Randy menunggu di teras rumah sambil merokok.
“Gak ada siapa-siapa, Bos!” kata Dani setelah memeriksa di dalam rumah.
“Yaudah. Ancurkan semua barang yang ada. Terus besok lu urus dia! Ingat, sampe besok malam lu gak bisa beresin ini kecoak, lu harus mengucapkan selamat tinggal pada Dunia!” kata Bos Randy menatap Dani.
“Baik, Bos!” Kata Dani sambil menelan ludah.
Dani mengobrak-abrik rumah Sadam. Menghancurkan segala yang ia lihat, termasuk biola milik Tiara yang tergeletak di dalam kamarnya. Semua terlihat seperti kapal pecah. Barang-barang berserakan dimana-mana, beberapa diantaranya hancur berkeping-keping. Dani meninggalkan sepucuk surat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi.
“Yuk. Cabut Sekarang!” Kata Bos Randy.
Dani kembali memayungi Bos Randy sambil berjalan. Meninggalkan rumah Sadam yang didalamnya telah hancur berantakan. Jika saja Bos Randy masuk kedalam Rumah Sadam, ia pasti akan menemukan foto-foto didalam Rumah. Dan ia akan tahu bahwa orang yang sedang mereka cari adalah Sadam yang pernah ia kenal dahulu.
Tak lama kemudian, Sadam datang ke rumahnya dalam keadaan basah kuyup. Bukan hanya hujan yang turun dari langit dengan deras, tapi dilam hatinya juga masih dihujani oleh keputusasaan. Ketika melihat pintu rumahnya terbuka dengan lebar, keputusasaan itu sempat berubah menjadi sebuah harapan kecil. Ia sempat berharap bahwa mungkin saja Tiara sudah datang. Namun, harapannya sirna ketika ia meilhat isi rumah yang hancur berantakan. Sadam masuk kedalam rumah dengan perlahan. Meratapi semua barang-barang yang telah hancur berantakan. Ia melangkahkan kedua kakinya masuk kedalm kamar Tiara. Disana, ia melihat sebuah biola milik Tiara yang saat itu ia hadiahkan pada saat ulang tahun Tiara. Biola itu kini sudah hancur berkeping-keping.
Sadam terduduk lemas didalam kamar Tiara. Tangannya meraih kedua boneka kesayangan Tiara. Ia benamkan wajahnya pada kedua boneka jerapah dan gajah itu.
“AAAARRRGHHHHHH!!!!” Sadam berteriak dengan kencang.
Dalam teriakan itu, tiba-tiba Sadam tersadar akan sesuatu. Sadam lekas beranjak dan berlari menuju kamarnya lalu membuka lemari. Untungnya, tabungan milik keluarga mereka masih tersimpan didalam lemari itu. Seketika Sadam yakin bahwa mereka yang datang ke rumah ini, bukanlah rampok.
“Gua yakin Tiara masih hidup. Tiara telah diculik, dan penculiknya baru saja datang kemari.” Kata Sadam sambil berpikir.
“Jika Tiara benar diculik, itu berarti mereka harusnya meminta tebusan, kan?” Kata Sadam terus berpikir.
“Bukan! Ini tidak ada hubungannya dengan uang. Mereka menculik Tiara untuk dijadikan sandera. Tujuan utama mereka adalah gua.” Lanjut Sadam.
Sadam telah menemukan jawabannya. Ia berpikir bahwa semua ini bukan soal uang, melainkan tentang dirinya.
“Jika memang semua ini tentang gua, mereka pasti meninggalakan pesan.” Kata Sadam sambil mencari-cari petunjuk.
Benar saja. Ia melihat sebuah kertas diatas sofa bertuliskan sebuah alamat. Tidak hanya alamat, melainkan juga waktu kapan mereka bisa bertemu.
“AAARRRRGHHHHH!!!” Sadam berteriak kesal sambil memukul-mukul Sofa setelah tahu bahwa Tiara benar-benar disandera.
Keesokan harinya…
Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Sesuai dengan waktu yang tertera pada pesan itu. Sadam sudah sampai di alamat yang tertuju di surat yang ia temukan. Sebuah rumah yang tampak biasa saja tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Ia berjalan mendekati rumah itu.
“Jadi, lu udah datang?” Kata seseorang yang keluar dari dalam rumah itu.
Orang itu adalah Dani.
“Lu preman yang waktu itu, kan?”
“Ya. Ingatan lu bagus juga.”
“Gigi tonggos, tubuh gemuk, selalu memakai kaos loreng tentara. Bagaimana gua lupa sama ciri khas lu?”
Dani hanya tersenyum kecil.
“MANA ANAK GUA???!!!”
“Kenapa? lu mau ambil dia lagi? apa lu yakin, lu bisa jaga dia?”
“Gua yakin. Lagian itu bukan urusan lu!”
“Gimana lu bisa seyakin itu setelah istri lu mati diperkosa 4 orang?”
“Bangs*t! Jadi, itu juga ulah lu?”
“Enak aja! Gua gak sehina itu. Gua cuma menemukan jasadnya.” Kata Dani sambil tersenyum kecil.
“Jadi, Apa sebenernya tujuan lu?” Tanya Sadam.
“Lu tau apa yang lucu?” Tanya Dani.
Sadam terdiam.
“Kalo aja waktu itu lu gak berantem di pasar sama Iwan, pastinya Iwan bakalan masih bisa bernafas, dan Istri tercinta lu juga pasti masih bisa tersenyum sekarang. Juga, anak lu pasti gak bakal kayak gini!” Kata Dani sambil memberi isyarat kepada Dina.
Dina berjalan keluar Rumah sambil menodongkan pistol ke kepala Tiara.
“TIARA!!!” Panggil Sadam sambil berteriak ketika melihat Tiara yang mulutnya tersumpal dengan pistol yang ditodongkan ke kepalanya.
“Tolong lepasin anak gua… tolong!” Kata Sadam memohon.
“HAHAHA!!!” Dani tertawa dengan keras.
Dina sebenarnya ingin mengembalikan Tiara kepada Sadam. Namun jika itu ia lakukan, maka abangnya akan gagal dalam rencananya dan pastinya akan tewas terbunuh oleh Mafia Keluarga Pangestu.
“Sadam! Gua punya hadiah yang lain untuk lu.” Kata Dani.
Dani masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Sadam terdiam dan tak mampu beranjak dari tempatnya karena ia takut jika ia bergerak, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Tiara.
Dani kembali sambil menggiring 4 orang yang wajahnya tertutup kain. Dani membariskan ke empat orang itu untuk berlutut di depan Sadam.
“Lu tau siapa mereka?” Tanya Dani.
Sadam hanya diam dengan kebingungan.
“Polisi bergerak sangat lambat, karena korbannya adalah orang miskin. Gua menemukan mereka lebih dulu. Mereka adalah pelaku yang memperkosa istri lu.” Kata Dani sambil membuka kain yang menutupi wajah mereka satu persatu.
Kini darah Sadam benar-benar mendidih. Ia seperti kerasukan setan yang siap membunuh ketika ia diperlihatkan dengan wajah para pelaku yang memperkosa istrinya.
“Kalo lu mau anak lu bebas, tugasnya gampang. Lu bunuh mereka semua tepat didepan anak lu!” Kata Dani menyeringai.
Mendengar perkataan Dani membuat Sadam menjadi bingung. Ia sangat ingin membunuh keempat pelaku yang membunuh dan memperkosa Laras, namun didepannya ada Tiara yang sedang mengawasinya. Ia tak mau menjadi pembunuh di hadapan anaknya.
“Ada apa Sadam? Bukannya itu tugas yang gampang? Lu pasti dendam sama mereka, lu juga pengen anak lu kembali ke pelukan lu kan?” Tanya Dani dengan enteng.
Sadam benar-benar sangat kebingungan.
“Gua emang pengen banget ngebunuh keempat orang ini, dan Tiara kembali ke pelukan gua. Tapi dampak yang diberikan juga besar. Tiara akan mempunyai ayah seorang pembunuh. Dan itu akan menjadi trauma hingga ia dewasa, dan membuat Tiara menjadi seorang pembunuh juga.” Pikir Sadam dalam hati.
“Sadam?” panggil Dani.
“Menyelamatkan Tiara tapi membuatnya trauma? atau membiarkannya mati menyusul Laras?” pikir Sadam dalam hati sambil melihat Tiara yang sedang menangis dengan mulut tersumpal.
Sadam tiba-tiba tersadar.
“Ayah macam apa aku? Itu bahkan tidak layak disebut pilihan. Karena menyelamatkan nyawa anakku adalah prioritas yang utama.” Kata Sadam sambil berdiri tertunduk.
Sadam mulai berjalan menuju 4 pemuda yang berlutut dihadapannya. Tiara berusaha untuk memanggil-manggil namanya, namun tak bisa karena mulutnya tersumpal.
“Tiara, maafkan ayah! Jika suatu hari kamu menjadi orang yang pendendam bahkan menjadi pembunuh seperti ayah, kamu bisa menyalahkan ayah!” kata Sadam dalam hati.
Sadam semakin berjalan mendekati keempat pemuda itu. Tiba-tiba…
“Ayah… jangan lakukan itu!” Kata Tiara yang tiba-tiba saja memeluk kakinya.
Sadam sangat terkejut melihat Tiara yang kini memeluk kakinya dengan erat, begitupun dengan Dani yang juga terkejut. Mereka berdua langsung menolehkan kepala mereka kearah Dina.
“Maafin Dina, Bang!” kata Dina sambil tertunduk menangis.
“Kenapa kamu lepasin anak itu? Kita belum membunuh Sadam!” bentak Dani pada Dina.
Dina hanya menangis.
“Kamu mau abang mati ?” Tanya Dani dengan setengah membentak.
“Maafin Dina, Bang! Selama ini, Dina pikir semua lelaki itu jahat kecuali abang. Tapi, sekarang abang juga udah jadi jahat.” Kata Dina sambil terus menangis.
“Kamu belum jawab pertanyaan abang! Kamu mau abang mati?” Tanya Dani sekali lagi.
“Dina sayang sama abang. Dina gak mau abang mati. Tapi kalau abang memang harus mati, Dina pengen abang mati saat menjadi orang baik.” Jawab Dina sambil terisak.
Mendengar perkataan Dina yang keluar dari lubuk hati yang paling dalamnya, membuat hati Dani yang keras menjadi luluh. Ia mengikhlaskan Sadam hidup bersama Tiara dengan bahagia meskipun itu berarti harus mengorbankan nyawanya.
1 Jam kemudian, polisi datang untuk meringkus keempat pelaku yang memperkosa Laras. Dani yang menelpon polisi tersebut dan keempat pemuda itupun mengaku dihadapan Polisi. Setelah itu, Dani merebahkan dirinya diatas sofa didalam rumahnya. Sedangkan Dina sedang bermain boneka bersama Laras didalam kamarnya.
“Makasih!” kata Sadam.
“Untuk apa? Untuk menculik anak lu?” Jawab Dani.
“Bukan. Makasih udah menemukan pelaku yang membunuh dan memperkosa istri gua.” Kata Sadam.
Dani terdiam tak menjawab perkataan Sadam. Dani melirik kearah jam dinding. Ia teringat akan sesuatu.
“Boleh gua minta satu hal dari lu sebagai balas budi?” Tanya Dani.
“Apa itu?” Tanya Sadam.
“Gua minta, tolong lu jagain adik gua!” pinta Dani.
“Lu emang mau kemana?” Tanya Sadam penasaran.
“Bentar lagi, keluarga Pangestu pasti datang kesini untuk ngebunuh gua. Lu mending segera pergi sekarang dan tingalin kota ini, ajak Dina sama lu!” kata Dani.
“Kenapa lu gak pergi sama-sama?” Tanya Sadam.
“Kemana pun gua pergi, mereka pasti akan segera nangkep gua. Mereka gak tau siapa lu, dan anak lu. Mereka juga gak tau siapa Dina. Jadi, kalian bertiga aman. Sedangkan, mereka tau siapa gua. Gua cuma bakal jadi ancaman buat lu bertiga.” Kata Dani.
Baru saja Dani menyuruh Sadam untuk pergi, lalu terdengar beberapa mobil berhenti di depan rumah Dani.
“ITU MEREKA. CEPET LU PERGI DARI SINI!” pinta Dani.
Sadam segera berlari menju kamar Dina dan menarik tangan Tiara untuk segera pergi dari rumah ini lewat pintu belakang.
“Ayah… bentar! Biola bunda ada di kamar sebelah.” Kata Tiara.
“Kalian pergi duluan, biar aku yang ngambil biolanya!” kata Dina.
Sadam lalu menggendong Tiara dan berlari melewati pintu belakang rumah. Dina yang sudah mengambil biolanya, berlari menuju abangnya yang masih rebahan diatas sofa dengan santai.
“Abang ayo!” ajak Dina.
“Kamu pergilah bersama Sadam! Mulai hari ini, abang gak bisa lagi menjagamu. Ingat! tidak semua lelaki itu jahat. Suatu saat kau akan menemukan lelaki yang baik itu.” Kata Dani.
Dina menangis dan ingin sekali memeluk abangnya untuk yang terakhir kali. Tapi, pintu sudah terdengar digedor dengan sangat keras. Sebelum pergi, Dina melihat sebuah senyuman tersirat di wajah abangnya. Sebuah senyuman yang sangat tulus.
Sadam terus berlari sambil menggendong Tiara. Dibelakangnya, Dina terus mengejar Sadam dan Tiara. Sedangkan Dani, beranjak dari sofa untuk membukakan pintu.
“Bagaimana? Sudah kamu bereskan cecunguk itu? Sudah kamu bebaskan anak itu?” Tanya Bos Randy.
“Maaf Bos! Saya gak bisa membunuh cecunguk itu. Tapi, anaknya sudah saya lepaskan bersamanya.” Kata Dani sambil tertunduk.
“Bagus! Berarti setidaknya hari ini kamu tidak mati sebagai pecundang yang menyakiti anak kecil.” Kata Bos Randy.
Bos Randy keluar dari rumah Dani dan memasuki mobilnya kembali.
“Gua harus terbang ke Bandung sekarang, jadi kalian aja yang habisi dia!” perintah Bos Randy kepada para anak buahnya.
Mobil Bos Randy pun segera melaju meninggalkan rumah Dani menuju bandara. Sedangkan Dani disiksa habis-habisan oleh para anak buah Keluarga Pangestu.
Beberapa saat kemudian, tubuh Dani sudah babak belur. Ia diikatkan pada sebuah kursi di tengah rumahnya. Pandangannya menjadi buram akibat beberapa pukulan yang menghantam matanya. Namun, ia masih bisa melihat beberapa orang sedang kesana kemari sambil menyirami bensin di sekitar rumah. Kejadian ini mengingatkan Dani pada saat dulu ia masih sering dirudung. Waktu itu, tubuhnya juga terikat diatas kursi sambil beberapa pasang mata menatap kearahnya. Bedanya, saat itu tubuhnya hanya di corat-coret oleh pylox. Sedangkan kali ini, tubuhnya harus basah karena disiram menggunakan bensin.
“Iwan, kita akan bertemu kembali. Kau boleh bebas memarahiku! Sepertinya mimpi kita harus berakhir sampai disini.” kata Dani dalam hati.
“Dina, hiduplah dengan bahagia! Apakah sekarang abang bisa mati sebagai orang baik?” lanjut Dani sambil tersenyum.
Dina yang terus berlari mengejar Sadam, harus menghentikan langkahnya ketika ia melihat sebuah api yang berkobar tinggi ke udara. Dari kejauhan, Dina dapat melihat Rumah yang selama ini ia tinggali bersama kakaknya hangus terbakar didala api yang membara.
“ABANG!!!!” Teriak Dina sambil terduduk lemas dan menangis.
Bahkan ia memeluk dirinya sendiri karena ia harus merelakan abang yang selalu melindunginya, pergi untuk selama-lamanya.
Sadam dan Tiara juga menghentikan langkahnya untuk meratapi Rumah yang terbakar itu. Sadam mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih kepada Dani didalam hatinya.
Sadam, Tiara, dan Dina kembali ke rumah Sadam untuk mengambil tabungan miliknya, dan juga boneka kesayangan milik Tiara. Dina masih saja menangis mengingat mendiang abangnya.
“Ayah, kita mau pergi kemana?” Tanya Tiara sambil ketakutan.
“Hari ini, kita akan berangkat ke Bandung.” Kata Sadam.