Randy terbang kembali ke Bandung sesuai permintaan Om nya untuk mengembangkan bisnis Keluarga Pangestu. Matanya menatap keluar jendela. Tak ada apapun yang bisa ia tangkap diluar sana. Hanya kegelapan malam, segelap hatinya.
Pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Usai turun dari pesawat, ia segera berjalan keluar bandara. Tangannya menunjuk ke depan, dan sebuah taksi pun berhenti tepat didepannya.
“Kemana kita, pak?” Tanya supir taksi.
“Rumah Sakit Cendrawasih.” Kata Randy sambil menatap keluar jendela.
Bahkan didalam taksi Randy masih melamun sambil menatap keluar jendela.
“Aku telah berubah menjadi orang jahat. Bagaimana denganmu, Sadam? Sudah lama kita tidak berjumpa.” Gumam Randy sambil terus menatap keluar jendela.
“Nama Saya Asep, pak. Bukan Sadam!” Kata supir taksi sambil nyengir dan menatap Randy dari kaca spion tengah mobil.
Randy hanya terdiam lalu menatap tajam kearah supir taksi. Si supir taksi langsung gugup dan kembali fokus menyetir.
“Pak, kita mampir ke toko mainan dulu sebelum ke Rumah Sakit!” Kata Randy yang kini memalingkan wajahnya dan kembali menatap keluar jendela.
“Ba-baik, Pak!” Kata supir taksi sambil terbata-bata.
Sementara itu di Stasiun Gambir…
Sadam, Tiara, dan Dina sedang duduk menunggu kereta api mereka tiba.
“Ayah, apa hidup kita akan aman di Bandung?” tanya Tiara dengan gelisah.
“Pastinya.” Kata Sadam tersenyum.
“Tiara takut!” kata Tiara sambil memeluk Sadam.
“Apa yang kamu takutkan?” Tanya Sama sambil mengusap-ngusap kepala Tiara.
“Banyak orang yang mencari ayah. Tiara takut kehilangan ayah!” Kata Tiara dengan pelukan yang semakin erat.
“Ayah janji, ayah akan hidup lebih lama. Bahkan ayah akan melihat kamu tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan anggun.” Kata Sadam sambil menengadahkan kepala Tiara agar menatap matanya.
Meskipun Sadam terus berusaha menenangkan Tiara, namun pelukan dan genggaman Tiara pada dirinya semakin erat. Dina yang melihat pembicaraan mereka, hanya bisa menundukkan kepala. Ia berpikir jika saja bapaknya dulu sebaik Sadam, mungkin nasibnya tidak akan seburuk ini.
“Tiara betul-betul anak yang beruntung.” Pikir Dina.
15 menit kemudian…
“Jalur 2 segera diberangkatkan kereta api Argo Parahyangan dari Stasiun Gambir dengan tujuan akhir Stasiun Bandung.” Seseorang mengumumkan menggunakan speaker Stasiun.
“Yuk, kita berangkat dari sini !” ajak Sadam pada Tiara.
“Nanti kita tidur dimana?” Tanya Dina.
“Malam ini, kita cari hotel yang murah. Besok pagi kita cari rumah kontrakan.” Kata Sadam.
“Rumah kontrakan yang murah juga?” Tanya Dina.
“Iya.” Jawab Sadam singkat.
Randy berjalan di lorong rumah sakit sambil membawa sebuah kotak hadiah. Ia berjalan sambil tersenyum karena tak sabar ingin segera bertemu dengan satu-satunya orang yang ia cintai.
“Selamat malam, Tuan Raymon!” Kata Randy sambil masuk kedalam kamar Rumah Sakit.
“Papaaa!!!” Panggil seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dengan riang gembira sambil terbaring di ranjang rumah sakit.
“Uuuhhhh… anak papa jam segini belum tidur?” Tanya Randy sambil menyimpan kotak hadiah pada anaknya Raymon.
“Raymon tahu hari ini papa akan datang!” kata Raymon sambil tersenyum.
“Wuuuiihhhh… anak papa ini jago ngeramal dong sekarang? Kata Randy sambil mengusap-usap kepala Raymon.
Raymon hanya tersenyum senang.
“Papa bawa apa itu?” Tanya Raymon yang melihat sebuah kotak di atas meja.
“Oh iya… papa hampir lupa!” kata Randy lalu berjalan mengambil kotak hadiah yang ia bawa.
“Aaahhh…papa capek. Kamu dong yang buka sendiri!” kata Randy sambil memberikan kotak hadiah itu.
Dengan semangat Raymon membuka kotak hadiah itu dan ternyata isinya adalah sebuah mainan mobil remote control berukuran cukup besar.
“Waaahhhh… keren banget!” kata Raymon merasa senang.
“Papa selalu sibuk kerja. Jadi, gak bisa terus berada disisi Raymon, makanya papa kasih mainan ini untuk menemani Raymon.” Kata Randy sambil tersenyum.
Namun, Raymon kini malah menunjukkan wajah murung setelah mendengarkan ucapan papanya.
“Kenapa? Kamu gak seneng sama mainannya?” Tanya Randy.
“Raymon seneng tapi…” Raymon tidak meneruskan kata-katanya.
“Tapi… apa ?” Tanya Randy.
“Raymon lebih seneng kalo papa ada disini temenin Raymon!” kata Raymon.
Randy tersenyum kecil dan mencium kening buah hatinya.
“Kalo papa ada disisi kamu terus, gimana kita bisa dapet uang buat bayar rumah sakit? Gimana Raymon bisa sembuh?” Tanya Randy.
Raymon masih menunjukkan wajah murung.
“Nanti kalo Raymon udah sembuh, papa akan ambil cuti terus kita main sama-sama.” Kata Randy sambil merangkul Raymon.
Kini Raymon pun mulai tersenyum.
“Sekarang papa mau pulang, Raymon tidur ya! Besok pagi, papa bakal minta izin ke Dokter untuk ngajak Raymon jalan-jalan.” Kata Randy sambil mencium kening Raymon.
Raymon tersenyum dan lalu menarik selimut.
“Dadah papa…!!!” Kata Raymon yang matanya mulai redup karena mengantuk.
“Dadaaahh…!!!” Kata Randy lalu berjalan keluar kamar.
Randy berjalan keluar dari Rumah Sakit lalu memesan kembali taksi untuk pulang ke Rumah.
“Gimana udah dapet pendonor?” Tanya Randy pada anak buahnya di telepon.
“Belum Bos! Ginjal yang Bos butuh langka banget.” Kata anak buahnya.
“ANJ*NG!!! GUA GAK MAU TAU, LU HARUS CARI SAMPE DAPET!!!” Bentak Randy sambil menutup teleponnya dengan kesal.
Mobil taksi berhenti didepan sebuah rumah yang cukup besar. Seorang satpam membukakan gerbang rumah itu dan membungkuk memberi hormat.
“Selamat malam, Tuan!” Kata satpam rumah itu kepada Randy yang baru saja turun dari taksi.
Randy tidak menjawab salam itu, ia hanya terus berjalan masuk dengan muka yang masih kesal. Setelah masuk kedalam Rumah, Tubuhnya ia rebahkan diatas sofa besar di ruang tamu. Ia terus memijiti kepalanya sendiri karena penat yang ia rasakan.
“Kenapa sulit banget nyari donor ginjal buat Raymon!” gumam Randy.
Raymon adalah anak angkat Randy. Ia mengidap penyakit langka yang disebut Sindrom Alport. Sebuah penyakit yang menyerang ginjal dan membuat urin pengidapnya mengandung protein dan darah. Jika penyakit ini dibiarkan, para pengidapnya akan mengalami gangguan pendengaran, bahkan kematian. Belum ada obat untuk mengobati penyakit Sindrom Alport ini, hanya pencegahan-pencegahan seperti cuci darah. Satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah hanya dengan cara transplantasi ginjal. Namun, selama setahun Randy telah mencari ginjal dengan gen dan darah yang cocok dengan anaknya, tapi ginjal itu sangatlah langka.
“Apa ini adalah bener-bener karma buat gua?” gumam Randy.
Sadam, Tiara, dan Dina telah sampai di Kota Bandung. Karena hari sudah larut, mereka mencari Hotel melati sekitaran stasiun. Mereka menemukan sebuah Hotel yang cukup murah dengan keadaan yang seadanya. Sebuah hotel yang biasa dipakai para Pekerja Seks Komersial untuk mencari pundi-pundi rupiah.
“Kita yakin mau tidur disini? Tiara kan masih kecil.” Bisik Dina.
“Gapapa. Toh dia udah tidur.” Kata Sadam sambil menggendong Tiara yang sudah terlelap.
Mereka berjalan memasuki lobi Hotel yang tampak penuh oleh wanita-wanita penghibur dengan pakaian yang serba minim. Semua mata tertuju kepada mereka bertiga dengan pandangan aneh. Bagaimana tidak, para pengunjung Hotel ini kebanyakan adalah para lelaki yang haus akan nafsu dan penuh akan birahi. Sedangkan, kini didepan mata mereka berdiri seorang wanita dan seorang lelaki yang menggendong seorang anak kecil.
“Permisi… Masih ada kamar pak?” Tanya Sadam kepada resepsionis Hotel yang terlihat agak tua.
“Masih. Mau berapa malam?” Tanya bapak Resepsionis sambil merokok.
“1 malam aja dulu. Yang kasurnya 2 ya pak!” pinta Sadam.
“Gak ada. Disini semuanya kasurnya 1.” Kata Resepsionis.
“Yaudah pesen 2 kamar aja!” bisik Dina.
“Sayang uangnya. 1 kamar aja deh!” Bisik Sadam.
Melihat Dina dan Sadam saling berbisik, Bapak Resepsionis pun memotong pembicaraan mereka.
“Tenang aja, kita jual kondom juga kok!” Kata Resepsionis sambil tersenyum menyeringai.
“KONDOM?” Kata Sadam setengah berteriak.
“SSSTTT!!!” Dina menyuruh Sadam untuk mengecilkan suaranya.
“Untuk apa kondom?” Tanya Sadam pada Respsionis.
“Ya… untuk pengaman.” Kata resepsionis dengan santai.
“Maksud saya, untuk apa kita butuh kondom?” Tanya Sadam lagi.
“Oh… kalian sudah menikah ya? kalo gitu kita akan menawarkan obat kuat saja.” Kata Resepsionis sambil mengeluarkan sebungkus pil.
Dina menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kita bukan suami istri, dan gak mungkin melakukan itu. Pertama, wanita yang bersama saya ini usianya jauh lebih tua dari saya. Kedua, bapak gak liat saya gendong anak kecil? gak mungkin saya melakukan itu didepan anak kecil.” Sadam mencoba menjelaskan situasi tidak mengenakan ini.
“Kita juga terima jasa tempat penitipan anak, kok! Jadi, anaknya bisa dititipkan.” Kata si Resepsionis sambil senyum-senyum.
“Fiuuuhhhh…” Sadam menghela nafas.
“Dina, lu bener. Kita cari Hotel lain yang lebih waras aja!.” Kata Sadam dengan kesal.
Dina masih menahan tawa dengan menutup mulutnya menggunakan tangan sambil kini mengekori Sadam yang menggendong Tiara keluar dari Hotel.
“MAS!!! SAYA TADI CUMA BECANDA MAS!!!” teriak resepsionis itu kepada Sadam yang berjalan meninggalkan Hotel.
“Ihhh… Pundungan. Meuni teu asik! (Ihhh…Baperan. Gak Asik!)” keluh si Resepsionis.
Sadam, Dina serta Tiara yang masih saja terlelap diatas punggung ayahnya, Terus berjalan menerobos keheningan malam. Akhirnya mereka menemukan sebuah tempat yang bisa dibilang lebih ‘layak’ dan lebih ‘waras’ untuk mereka singgahi.
“Aaaahhhh… akhirnya bisa rebahan juga.” Sadam sambil rebahan diatas lantai yang ia lapisi dengan sprei.
Mereka menginap di sebuah kamar Hotel dengan 2 tempat tidur yang cukup bersih dan lingkungan yang jarang terlihat wanita penghibur disekitarnya. Kasur pertama akan ditiduri oleh Tiara, dan kasur kedua akan ditiduri oleh Dina. Sedangkan Sadam akan tidur diatas lantai yang telah ia lapisi dengan sprei.
Semua rasa gundah dan rasa kesal seolah hanyut tersiram air shower yang menerpa tubuh Randy. Setelah mandi, Randy berjalan keluar dengan menggunakan bathrobe dan melempar tubuhnya keatas kasur.
“Haaaahhhh…” Randy benar-benar merasa nyaman.
Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang sangat besar. Matanya tertuju lurus ke depan. Menatap sebuah foto yang berdiri tegak diatas sebuah lemari bersama foto-foto yang lainnya. Randy tersenyum kecil memandangi foto itu. Ia beranjak dan mengambil foto itu lalu kembali melemparkan tubuhnya diatas ranjang. Ia menatap foto itu dengan senyuman yang tersirat di wajahnya. Sebuah foto ketika Randy dan Raymon pergi memancing bersama.
3 tahun yang lalu…
Randy sedang termenung di dalam mobilnya disebuah basement gedung yang masih aetengah jadi. Ia sedang menunggu anak-anak buahnya yang berjanji akan menemuinya di tempat itu. Randy melihat kearah jam yang tertera pada dashboard mobil. Waktu telah menunjukan pukul 9 malam.
“Haaaahhh… lama banget sih!” keluh Randy yang menyenderkan kepalanya pada stir mobil.
Karena anak buahnya tak kunjung datang, Randy keluar dari mobilnya untuk menyalakan sebatang rokok. Untuk membunuh rasa bosan, ia mondar mandir sambil sesekali melihat kearah kota dari pembatas basement.
“bruuummmm…” terdengar suara mesin mobil bergemuruh dan sorot cahaya lampu mulai terlihat dari bawah menuju keatas.
“Itu pasti mereka!” Kata Randy.
Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil mulai bergerak mendekat kearah Randy yang sedang berdiri sambil merokok.
“Selamat malam, Bos!” kata seorang anak buahnya yang keluar dari mobil.
“Dimana barangnya?” Tanya Randy dengan ketus.
“Ada di bagasi, Bos!” Jawab salah seorang anak buahnya sambil menundukkan kepala.
Salah seorang anak buahnya mengajak Randy menuju bagasi untuk melihat ‘barang’ yang dimaksud.
“Klek…” Bagasi pun dibuka.
Tampak seorang pemuda berusia sekitar 26 tahun di sekap dengan wajah yang babak belur. Pemuda itu hanya menggunakan celana pendek berwarna biru.
“Ya betul. Sesuai dengan foto yang gua terima.” Kata Randy.
“Plakkk…Plakkkk…” Randy menampar pipi kedua anak buahnya itu.
“Kalo sesuai, kenapa bos nampar pipi kita?” Tanya kedua anak buahnya sambil menunduk.
“Itu hukuman karena lu udah buat gua nunggu lama.” Kata Randy dengan ketus.
Pemuda yang berada didalam bagasi mencoba untuk mengatakan sesuatu, namun mulutnya masih tersumpal kain sehingga ucapannya tidak bisa terdengar.
“Lu mau ngomong sesuatu?” Tanya Randy.
Pemuda itu mengangguk. Randy melepaskan sumpalan kain di mulutnya.
“Tolong jangan bunuh saya!” pemuda itu memohon sambil menangis.
“Kenapa gua gak boleh membunuh lu?” Tanya Randy sambil tertawa.
“Saya punya anak yang masih kecil. Kalo saya mati, dia bakal hidup sendirian.” Kata pemuda itu.
“Lu tau dosa lu apa?” Tanya Randy.
Pemuda itu terdiam dan merenungi dosa-dosanya.
“Lu itu begal yang meresahkan warga. Untungnya salah satu warga ada yang kenal dan minta gua buat melenyapkan lu.” Kata Randy.
“Plis… saya janji saya bakalan berhenti jadi begal!” Kata pemuda itu.
“Oke. Gua kasih 1 pertanyaan, dan lu harus jawab! Kalo jawaban lu memuaskan, maka lu akan gua lepasakan.” Randy membuat kesepakatan.
Pemuda itu mengangguk.
“Apa alasan lu jadi begal?” Tanya Randy.
“Gua gak punya uang, sedangkan anak gua butuh uang untuk makan.” Kata Pemuda itu berusaha membuat alasan agar Randy mau melepaskannya.
“Terus? Kalo gua lepasin lu sekarang, lu mau cari duit darimana? Pada Akhirnya lu bakal tetep miskin dan kembali jadi begal. Jawaban lu kurang memuaskan.” Kata Randy.
“Ucapkan selamat tinggal pada Dunia, biarkan gua yang merawat anak lu! Anak lu bakal lebih bahagia dengan uang yang gua miliki.” Lanjut Randy kembali menyumpal mulut pemuda itu.
Pemuda itu berontak dan mencoba berteriak. Namun apa daya, tempat ini tak ada satupun kehidupan kecuali mereka. Randy mengambil kartu identitasnya dan Bagasi kembali tertutup.
“Bawa ke dokter Vivian! Kalo sehat, langsung jual organnya! Kalo ternyata gak sehat, buang mayatnya ke Hutan!” Perintah Randy kepada anak buahnya.
Randy adalah seorang pembunuh bayaran sekaligus penjual organ tubuh ilegal. Namun, ia hanya akan menerima jika target sasarannya adalah seorang kriminal. Ia akan mendapatkan uang dari 2 sumber. Yang pertama dari client, yang kedua dari penjualan organ dalam milik sasarannya.
“Orang-orang kayak mereka itu cuma jadi sampah. Sampah itu harus dimusnahkan agar tidak mengganggu.” Kata Randy lalu mobilnya mulai melaju meninggalkan basement gedung ini.
Keesoknya harinya, Randy mengunjungi tempat tinggal pemuda begal itu. Sebuah tempat kumuh di sebuah gang yang kotor dan jorok. Randy sangat terkejut ketika ia masuk kedalam Rumah dan mendapati anak laki-laki berusia 7 tahun sedang menangis menunggu kedatangan ayahandanya.
“Hey… Jagoan! Siapa namamu?” Tanya Randy.
“Emon…” kata anak itu dalam isaknya.
“Kamu nangis nungguin papa ya?” Tanya Randy.
Anak itu mengangguk sambil terus menangis.
“Papa kamu gak akan datang. Mulai hari ini, aku akan jadi papa kamu!” Kata Randy.
Anak itu menatap Randy dengan kebingungan, namun tangisannya tiba-tiba terhenti. Ia digendong oleh Randy keluar dari tempat kumuh itu, untuk kemudian tinggal di istananya yang megah.
“Halo…” Kata Randy di telepon.
“Halo, Bos! Orang yang lu kirim kemarin organnya sehat semua.” Kata Dokter Vivian.
“Oke. Lu urus semuanya!” Jawab Randy lalu menutup telepon.
Anak itu menatap Randy dengan polos tanpa tahu Randy adalah penyebab papanya menghilang.
“Kenapa jagoan?” Tanya Randy sambil mengelus kepalanya.
“Oh iya. Mulai hari ini, namamu bukan Emon tapi Raymon.” Kata Randy sambil mengelus kepala anak itu.
Anak itu hanya terus menatap Randy dengan polos.
Seiring berjalannya waktu, Randy menyayangi Raymon seperti anaknya sendiri. Begitupun Raymon yang menyayangi Randy seperti papanya sendiri tanpa pernah tahu bahwa Randy lah yang membunuh papa kandungnya.
Setahun kemudian…
“Hari ini kita mancing yuk!” ajak Randy pada Raymon.
“Asyiiikkk!!!” Kata Raymon dengan penuh semangat.
Mereka berdua lalu pergi ke area pemancingan untuk menghabiskan waktu berdua.
“Hop…” Randy melemparkan tongkat pancingannya ke kolam.
“Kamu pegang ini, nanti kalo udah gerak, tarik yang kuat ya!” kata Randy memberikan tongkat pancingannya kepada Raymon.
“Papa mau kemana?” Tanya Raymon sambil memegang tongkat pancingan.
“Papa gak kemana-mana. Papa dibelakang kamu.” Kata Randy.
Randy lalu duduk bersila diatas rerumputan persis dibelakang anaknya. Ia melamun memandangi Raymon sambil tersenyum bahagia.
“Papa, ini gerak!” kata Raymon yang melihat tongkat pancingnya bergerak.
“Ayo tarik yang kuat!” kata Randy menyemangati.
“Berat, Pah!” Kata Raymon yang susah payah menarik tongkat pancingannya.
“Sini, Papa bantu!” Kata Randy.
Randy memeluk Raymon dari belakang sambil kedua tangannya berusaha membantu Raymon menarik tongkat pancingnya.
“Huuuuupppp…” Randy dan Raymon bersusah payah menarik tongkat pancing itu.
“Waaaahhhh ikannya besar banget!!!” Kata Raymon terkejut melihat ikan sebesar kepalan tangan orang dewasa.
“Hebat! Anak papa jagoan!!!” Kata Randy memuji Raymon.
“Untung Papa bantuin Raymon.” Kata Raymon.
“Nggak kok! Papa cuma pura-pura narik aja. Ikan ini hasil Raymon sendiri.” Kata Randy berbohong untuk menyemangati anaknya.
“Yang bener, Pah?” Tanya Raymon tak percaya.
Randy mengangguk dan tersenyum.
“YEEEEE!!!” teriak Raymon kegirangan.
“Kita foto dulu, yuk! Buat kenang-kenangan.” Ajak Randy.
Mereka berfoto berdua sambil menyombongkan hasil tangkapan mereka. Tapi, tiba-tiba wajah Raymon tampak pucat.
“Pah, perut Raymon sakit!” Keluh Raymon dengan wajah pucat.
“Kamu kenapa?” Tanya Randy heran.
Raymon tidak menjawab pertanyaan papanya. Pandangannya menjadi kabur dan akhirnya Raymon pingsan tergeletak diatas rumput.
“RAYMON???” Randy berteriak membangunkan Raymon.
Tak ada respon dari Raymon membuat Randy semakin panik. Ia lalu menggendong Raymon ke mobil dan lekas menuju Rumah Sakit.
Setelah beberapa lama menunggu di depan ruang UGD, Dokter memberikan hasil penelitiannya.
“Anak bapak terkena Sindrom Alport. Sebuah penyakit turunan yang langka yang menyerang ginjal penderitanya. Penyakit ini, belum ada obatnya. Kita hanya bisa memperlambatnya saja sebelum akhirnya kerusakan pada ginjalnya menyerang indra pendengaran dan juga komunikasinya. Jika dibiarkan terus, maka akan menimbulkan kematian.” Kata Dokter dengan berat hati memberikan kabar buruk.
“Apa gak ada cara lain untuk menyembuhkannya, Dok?” Tanya Randy.
“Hanya ada satu cara yaitu transplantasi ginjal.” Kata Dokter.
“Lakukan sekarang, Dok!” Kata Randy dengan panik.
Dokter menghela nafas sejenak.
“Sayangnya, ginjal anak bapak sangat langka. Sangat sulit mencari pendonor yang darah dan gen nya cocok dengan anak bapak.” Kata Dokter.
“Apakah bisa pakai ginjal saya?” Tanya Randy.
“Kemungkinan cocok memang lebih besar dari keluarga sedarahnya.” Kata Dokter.
“Tapi, saya bukan ayah kandungnya. Apakah masih bisa?” Jawab Randy.
“Jika cocok, tetap bisa.” Kata Dokter.
Randy mencoba untuk mengetes kecocokan darah dan gen nya dengan Raymon. Namun, hasilnya adalah ginjal Randy tidak cocok dengan Raymon. Bahkan meskipun cocok, Randy tetap tidak bisa mendonorkan ginjalnya karena dia adalah seorang perokok berat. Kini, yang bisa ia lakukan hanyalah memperlambat efek kerusakan ginjal pada putranya yaitu dengan rajin cuci darah. Randy adalah orang yang super sibuk, ia takut jika ketika meninggalkan Raymon di Rumah, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Maka ia putuskan mulai hari ini, Raymon akan tinggal di Rumah sakit.
Randy termenung di dalam mobil sambil kepalanya menunduk dan menempel di stir. Sesekali ia memukul stir mobil dengan keras agar rasa kesalnya cepat pudar. Ia juga mencoba menelepon anak buahnya untuk memerintahkan mereka mencari pendonor ginjal yang cocok untuk anaknya.
“Penyakit keturunan?” Kata Randy sambil berpikir.
Ia mengingat pada saat itu, dokter Vivian berkata bahwa semua organ milik papa Reymon sehat dan bisa dijual.
“Apakah penyakit ini turunan dari ibunya? atau memang karma buat gua?” Tanya Randy.
“Kalau memang benar ini karma, sungguh tidak adil jika harus menimpa seorang anak kecil tidak berdosa.” Lanjut Randy bergumam.
“ARRRGGHHHH!!!” Randy semakin kesal memukuli stir mobilnya..
Kembali ke masa sekarang…
“Papa akan berusaha semaksimal mungkin mencari ginjal yang cocok untuk kamu.” Kata Randy sambil menatap foto tersebut.
Randy tidak mengembalikan foto tersebut ke tempat semula. Ia menaruh foto tersebut disamping tubuhnya dan terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya…
Randy memakan sarapan yang telah dibuatkan oleh pembantu di rumahnya. Perutnya kini telah terasa kenyang. Untuk hari ini, ia mengawali hari dengan senyuman dan segera bergegas menuju Rumah Sakit untuk menemui Raymon.
Sadam, Tiara, dan Dina sedang menyantap bubur ayam yang Dina beli tepat didepan Hotel tempat mereka menginap.
“Hari ini, kita akan cari kontrakan yang murah. Setelah itu, saya akan mencari kerja.” Kata Sadam pada Dina.
“Saya juga akan cari kerja.” Jawab Dina.
“Ayah, Tiara mau cari sekolah yang baru ya!” kata Tiara.
“Iya, sayang.” Jawab Sadam.
“Habis makan, kita mandi lalu segera berangkat dari sini!” kata Sadam pada Tiara dan Dina.
“Ayo jagoan, kita berangkat!” kata Randy pada Raymon.
“Ayo, Pah!” kata Raymon yang sudah berpakaian rapi dan duduk di kursi roda.
Randy telah meminta izin kepada pihak Rumah Sakit untuk mengajak putranya jalan-jalan seharian. Raymon merasa sangat senang meski tubuhnya terasa sangat lemas, karena hari ini ia bisa menghabiskan waktu bersama papanya. Sorot mata Raymon menyisiri setiap sudut Rumah Sakit dari atas kursi roda yang didorong oleh papanya. Setelah sampai di mobil, Randy menuntun Raymon untuk duduk di jok depan mobil, lalu kursi roda ia lipat dan ia taruh di jok belakang mobilnya.
“Kamu mau kemana hari ini?” Tanya Randy pada Raymon.
“Terserah papa.” Kata Raymon sambil tersenyum meski wajahnya terlihat pucat.
“Loh, kok terserah papa sih? Emang kamu gak punya tempat yang pengen kamu kunjungi?” Tanya Randy.
“Raymon akan pergi kemanapun, asal bersama papa.” Kata Raymon.
“Hmmmm… Oke deh kita ke Kebun Binatang, gimana?” Tanya Randy.
Raymon tersenyum pertanda setuju. Mobil mereka pun mulai melaju meninggalkan Rumah Sakit. Perjalanan menuju Kebun Binatang melewati banyak sekali gedung-gedung yang menjulang tinggi. Kedua bola mata Raymon menatapi gedung-gedung itu dengan bahagia. Ia telah lama berada di Rumah Sakit sehingga ia merindukan pemandangan seperti ini.
“Kamu seneng?” Tanya Randy.
“Seneng, Pah!” Kata Raymon sambil tersenyum.
“Kalo kamu seneng, papa akan lebih sering ngambil cuti! Ya… minimal seminggu sekali.” Kata Randy sambil terus menyetir.
“Sampai kapan?” Tanya Raymon yang masih menatap gedung-gedung.
“Sampai kamu sembuh, bahkan setelah kamu sembuh.” Kata Randy sambil tersenyum.
“Papa yakin, aku akan sembuh?” Tanya Raymon.
Seketika senyuman di wajah Randy menghilang. Dari lubuk hati Randy yang paling dalam, ia meragukan kesembuhan anaknya itu. Namun, ia terus berharap bahwa suatu saat akan ada keajaiban datang yang dapat menyembuhkan anaknya.
“Jagoan Papa pasti sembuh. Papa akan berusaha terus untuk mencari donor ginjal yang cocok dengan Raymon.” Kata Randy menyemangati Raymon.
Raymon hanya tersenyum kecil karena jauh di lubuk hatinya, ia juga meragukan kesembuhan terhadap tubuhnya.
Sadam, Tiara, dan Dina sudah keluar dari Hotel. Kini mereka menyusuri trotoar menuju sebuah tempat yang direkomendasikan oleh resepsionis Hotel. Resepsionis Hotel memberikan informasi tempat dimana mereka bisa menemukan Rumah kontrakan dengan harga yang sangat murah.
Tiara berjalan sambil tangan mungilnya di tuntun oleh Dina. Sedangkan ayahnya mengekori mereka berdua sambil merokok.
“Uhukkk…Uhukk…” Tiara batuk karena asap rokok milik ayahnya terhirup olehnya.
“Ayah ngerokok terus, ih!” protes Tiara.
“Kan ayah tadi habis makan, jadi harus ngerokok.” Kata Sadam.
Tiara melepaskan tangannya dari genggaman Dina dan berjalan menuju ayahnya.
“Tiara juga mau ngerokok!” pinta Tiara pada ayahnya.
“Kamu masih kecil. Anak kecil gak boleh merokok!” Kata Sadam menasehati Tiara.
“Kalo aku udah gede, boleh ngerokok?” Tanya Tiara dengan polos.
“Ya… gaboleh! Merokok itu gak baik.” Kata Sadam.
“Terus, kalo gak baik kenapa ayah ngerokok?” Tanya Tiara.
Sadam terdiam tak bisa menjawab.
“Bukannya itu malah jadi contoh yang gak baik buat aku?” Tanya Tiara lagi.
Sadam masih terdiam. Kini perkataan Tiara mengingatkannya dengan perkataan Ucup pada saat mereka menginap di Rumah Dimas pasca pertempuran dengan geng Randy.
Waktu itu…
“Gua yakin gua bisa jadi orang tua yang baik buat anak gua suatu hari nanti !” kata Ucup sambil membuang rokoknya.
“Kenapa lu buang rokok lu?” Tanya Dimas.
“Gua mau jadi orang tua yang baik. Gua gak mau mencontohkan merokok pada anak gua !” Kata Ucup sambil tersenyum.
“Tapi, emang lu bakal ngajarin anak lu buang sampah sembarangan? Mana jatuhnya ke halaman rumah gua lagi.” Protes Dimas.
“Ya maaf. Gua terlalu terbawa suasana.” Kata Ucup mengelak.
Sadam mengingat percakapan itu dan baru menyadari bahwa sebagai orang tua, ia bukan hanya mengajari anaknya untuk melakukan sesuatu. Namun, ia juga harus mencontohkan semua hal yang baik agar tak ditiru oleh anaknya.
Sadam lalu mematikan rokoknya dan mencari tong sampah terdekat untuk membuang rokok itu.
“Iya deh… mulai sekarang ayah bakalan berhenti ngerokok.” Kata Sadam setelah membuah semua rokok yang ia miliki kedalam tong sampah.
“Nah, gitu dong!” Kata Tiara sambil tersenyum.
“Kamu nih bener-bener mirip bunda ya.” Kata Sadam sambil mencubit-cubit kedua pipi Tiara dengan gemas.
“Emang kenapa?” Tanya Tiara.
“Ayah kalo debat sama bunda, pasti kalah.” Kata Sadam lalu menuntun Tiara.
Saat ia baru saja mau melanjutkan perjalanannya, sorot matanya menangkap sebuah mobil yang melintas. Didalamnya, ia melihat Randy bersama seorang anak laki-laki. Namun sayangnya, mobil itu semakin berjalan menjauh.
“Ada apa, Dam?” Tanya Dina heran karena melihat ekspresi Sadam yang kebingungan.
“Gak apa-apa. Tadi ada mobil yang lewat, terus didalemnya mirip temen gua.” Kata Sadam.
“Oh.” Kata Dina singkat.
Untungnya, Dina tidak melihat siapa pengemudi mobil itu. Jika ia melihat pengemudi mobil itu adalah Randy, mungkin ia akan sangat marah besar karena Randy adalah orang yang telah membunuh abangnya.
Beberapa saat kemudian di Kebun Binatang…
Raymon merasa bahagia bisa melihat begitu banyak jenis binatang di Kebun Binatang ini. Di setiap kandang, mereka berhenti untuk menyaksikan terlebih dulu binatang unik itu.
“Pah…?” Panggil Raymon yang duduk di kursi rodanya sambil meperhatikan seekor Harimau.
“Apa?” jawab Randy.
“Apa binatang-binatang itu bahagia?” Tanya Raymon.
“Hmmm…Papa gak tau. Papa belum pernah jadi binatang.” Jawab Randy sambil tertawa.
Namun, Raymon sama sekali tidak tertawa dan terus menatap kearah Harimau yang sedang terbaring dengan lemas di ujung kandang.
“Kalo menurut aku, mereka pasti gak bahagia.” Kata Raymon.
“Kenapa kamu berpikir kayak gitu? Kalo menurut papa, malah mereka seneng hidup disini.” Jawab Randy yang juga melihat harimau itu.
“Kenapa papa malah berpikir kalau mereka bahagia?” Raymon balik bertanya pada papanya.
“Mereka kan dikasih makan dan dirawat dengan benar. Mereka gausah capek-capek berburu makanan. Terus kenapa kamu berpikir mereka gak bahagia?” Randy balik bertanya pada anaknya.
“Mereka sama kayak aku. Meski dikasih makan dan dirawat dengan benar, tetep aja aku gak merasa bahagia karena harus terkurung di Rumah Sakit.” Jawab Raymon.
Randy terdiam mendengar jawaban anaknya.
“Hmmm…. Mendingan sekarang kita cari makan aja, yuk!” Randy mengalihkan pembicaraan dan segera mendorong kursi roda Raymon untuk mencari makan.
Kini mereka berdua berada di kantin kebun binatang sambil menyantap makanan yang telah mereka pesan.
“Gimana makanannya? Enak?” Tanya Randy pada Raymon.
“Enak.” Jawab Raymon singkat sambil tersenyum.
Tiba-tiba Raymon merasa kepalanya benar-benar pusing dan Dunia seolah berputar dengan cepat.
“Ngggiiiiinnnggg….” Telinganya berdenging.
“Makan yang banyak, biar kamu cepet sehat. Oke, jagoan papa?” Tanya Randy.
Raymon tak menjawab pertanyaan Randy karena kepalanya benar-benar terasa pusing.
“Kamu kenapa, Raymon?” Tanya Randy yang melihat wajah Raymon semakin pucat.
Raymon tak dapat mendengar ucapan ayahnya. Ia hanya bisa melihat gerak bibir ayahnya tanpa ada suara yang terdengar olehnya.
“Raymon?” panggil Randy.
Raymon masih terdiam. Matanya melotot dan keringat dingin mulai mengalir deras di tubuhnya.
“Raymon…?” panggil ayahnya.
Raymon masih tak dapat mendengar suara ayahnya.
“Raymon kamu kenapa?” Tanya Randy yang kini beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Raymon.
Raymon menatap wajahnya dengan mata yang melotot.
“Pah… Raymon…Raymon… gak bisa denger suara apa-apa.” Kata Raymon sambil ketakutan.
“APA???!!!” Teriak Randy.
Mendengar ucapan Raymon, sungguh membuat jantung Randy seolah mau copot. Ia segera membayar makanan dan mendorong kursi roda dengan sangat cepat menuju mobilnya. Setelah sampai di mobil, Randy mendudukan Raymon di jok depan lalu memasukkan kursi rodanya kedalam bagasi. Tanpa membuang-buang waktu, Randy segera tancap gas dengan rasa panik yang menyelimutinya.
“Nah, ini rumah yang akan dikontrakan. Harganya 5 juta per tahun.” Kata pemilik rumah kontrakan.
Sadam mengamati Rumah tersebut. Sebuah rumah yang terletak di sebuah gang kumuh dan jorok. Kondisi lingkungannya sama persis dengan lingkungan ketika Sadam tinggal berdua dengan Laras yang sedang hamil. Namun, rumah ini lebih besar dari rumah yang dulu ia tinggali berdua dengan Laras. Rumah ini berukuran 6x10 meter dengan 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi.
“Kita ambil!” kata Dina sambil memberikan sejumlah uang.
“Kenapa kamu yang bayar?” Tanya Sadam.
“Gak apa-apa. Ini juga uang abangku. Kalau dia ada disini, dia pasti setuju dengan apa yang aku lakukan.” Kata Dina sambil mengingat abangnya.
“Terima kasih.” Kata Sadam.
Kini mereka telah resmi tinggal di rumah kontrakan ini. Karena rumah ini terdiri dari 2 kamar, maka Sadam dan Tiara akan tidur di salah satu kamar, sedangkan Dina akan tidur di kamar yang lainnya.
“Tiara, mulai sekarang kamu gak punya kamar sendiri.” Kata Sadam.
“Iya, gapapa.” Kata Tiara sambil memeluk kedua boneka kesayangannya.
“Dina, karena kamu yang bayar sewanya, jadi biar gua yang beli beberapa perlengkapan rumah ini.” Kata Sadam.
“Oke.” Jawab Dina singkat.
Setelah beristirahat sejenak, Sadam berpamitan pada Dina untuk pergi mencari pekerjaan.
“Ayah… Tiara pengen ikut!” Rengek Tiara sambil menggendong boneka jerapahnya.
“Yaudah. Ayo!” ajak Sadam.
“Kalo gitu, aku akan berbelanja perlengkapan rumah ini.” Kata Dina menawarkan diri.
Sadam memberikan sejumlah uang untuk berbelanja perlengkapan kepada Dina. Lalu, mereka berdua pun mulai pergi meninggalkan Dina seorang diri di rumah baru mereka.
Beberapa saat kemudian, Sadam telah memohon kepada beberapa perusahaan untuk menerimanya bekerja, namun keringat yang ia keluarkan tidak menghasilkan apa-apa. Sadam terduduk lemas diatas trotoar. Disampingnya, Tiara juga terduduk sambil meratapi ayahnya yang sedang bersedih karena tak juga mendapat pekerjaan. Sadam, Tiara, dan Jerry duduk dipinggir trotoar sambil disirami terik matahari.
“Yang sabar sayang, kamu pasti bisa dapet kerja kok!” Kata Tiara sambil mengusap-usap punggung ayahnya.
Sadam sangat kaget mendengar perkataan itu, ia langsung menolehkan kepalanya dan melihat kearah Tiara yang duduk disampingnya.
“Kalo Bunda ada disini, pasti bunda bakalan ngomong kayak gitu sambil ngusap-usap punggung ayah kayak gini.” Kata Tiara dengan polos yang ternyata menirukan perkataan bundanya.
“Fuuuhhhh…” Sadam menghela nafas.
Tiara masih menatapnya dengan tatapan polos.
“Kamu jangan niruin kata-kata bunda dong!” protes Sadam pada Tiara.
“Hmmm? Kenapa?” Tanya Tiara heran.
“Ayah kira, kamu kesurupan hantu bunda.” Protes Ayah.
“Bunda gak mungkin jadi hantu.” Kata Tiara dengan polos.
“Kenapa?” Tanya Sadam heran.
“Soalnya, Tiara lihat di TV, hantu itu serem-serem.” Lanjut Tiara.
“Iya juga, sih. Bunda pasti lagi di surga. Jadi, gak mungkin jadi hantu.” Kata Ayah lalu merangkul Tiara.
Sadam menoleh kearah belakang. Ia melihat sebuah minimarket.
“Tiara, mau eskrim?” Tanya ayah.
“Mau dong!” kata Tiara tersenyum dengan gemas.
“Yaudah. Yuk beli!” ajak ayah.
“Yuk!” kata Tiara bersemangat.
Sadam berdiri lebih dulu dari Tiara dan mulai melangkahkan kakinya menuju toko. Tiara hendak berdiri dan mengambil boneka jerapahnya yang ia taruh disampingnya. Namun, salah seorang yang hendak menyebrang jalan tak sengaja menendang boneka Tiara dan menggelinding hingga ke tengah jalan. Tiara segera berjalan mengambil boneka jerapah kesayangannya.
“Bruuukkk…!!!” terdengar sebuah benturan keras dari arah belakang Sadam.
“TIARAAAA!!!” teriak Sadam saat menolehkan kepalanya dan mendapati tubuh Tiara tergeletak di tengah jalan sudah bersimbah darah.
Sadam berlari dan memeluk Tiara sambil terus meneriakan namanya. Namun, Tiara masih tak sadarkan diri. Sementara itu, pengemudi mobil masih belum keluar dari dalam mobil karena merasa panik akan kerumunan orang yang berkumpul melihat kejadian itu.
“BANGS*T!!! TURUN LU!!!” bentak Sadam sambil menendang pintu mobil.
Pengemudi itu membuka pintu mobil dan segera keluar. Sadam dan pengemudi mobil itu saling bertatapan untuk beberapa saat karena terkejut satu sama lain.
“Sadam?” saat pengemudi mobil itu melihat Sadam.
“Randy?” saat Sadam melihat wajah pengemudi yang menabrak Tiara.
Sadam dan Randy saling mematung dan bertatap-tapan sejenak karena keduanya dipertemukan kembali dalam keadaan yang sangat tak diharapkan.
“Ini bukan saatnya diam. Gua harus ke Rumah Sakit. Cepet bawa dia juga masuk kedalem mobil!” Kata Randy dengan panik dan langsung masuk kembali kedalm mobil.
Sadam segera menggendong Tiara dan mengambil boneka jerapah kesayangan Tiara, lalu masuk kedalam jok belakang mobil. Mobil kembali melaju menuju Rumah Sakit.
“Tiara…bangun, sayang!” Kata Sadam sambil memeluk Tiara.
“Siapa anak itu?” Tanya Randy sambil menyetir.
“Ini Tiara. Anak gua.” Jawab Sadam sambil mengelus-elus pipi Tiara.
Randy mencoba melihat wajah Tiara dari kaca spion tengah mobilnya. Ia benar-benar terkejut bukan main saat melihat wajah Tiara. Wajah yang ia kenal dan pernah ia temui. Randy mengingat-ingat kejadian itu.
Pada saat Randy bertemu Tiara di Rumah Dani…
Dani mengantar Randy menuju kamar dimana Tiara sedang disekap. Dani membuka kunci kamar dan mengajak Randy untuk masuk kedalam kamar. Randy menatap Tiara dengan kebingungan.
“Siapa anak ini? apa hubungannya sama gua?” Tanya Randy kebingungan.
“Ini anak dari cecunguk itu. Bos Randy bisa bawa dia, tapi tolong jangan bunuh saya!” Kata Dani memohon.
“Jadi, orang yang selama ini diincer sama gua dan Om Rio itu, ternyata Sadam. Sialan! Bener-bener pertemuan yang tidak diharapkan.” Keluh Randy dengan kesal dalam hati.