Di UGD…
“DOK…!!! Tolong anak saya, Dok!” Teriak Sadam sambil menggendong putrinya yang masih tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.
“DOK…!!! Tolong anak saya juga, Dok!” Teriak Randy sambil mendorong putranya yang duduk di kursi roda dengan wajah pucat dan tak bergeming.
Dokter dan beberapa suster langsung menyuruh Sadam untuk membaringkan Tiara diatas Kasur.
“Bapak tunggu diluar saja!” Kata suster sambil menutup tirai.
Sedangkan Randy, disuruh merebahkan Raymon diatas kasur lalu pihak rumah sakit membawanya kembali ke kamarnya.
“Lu mau kemana?” Tanya Sadam dengan sedikit marah dan menahan tangan Randy yang hendak meninggalakannya untuk menyusul Raymon.
“Gua harus temenin anak gua!” Kata Randy mencoba melepaskan genggaman tangan Sadam pada tangan kirinya.
“Terus anak gua gimana? Lu harus tanggung jawab!” Kata Sadam menagih Randy untuk mengganti rugi.
“Dam, anak lu tiba-tiba lari ke tengah jalan. Yang salah itu, lu! Lu sebagai orang tua gak bisa ngejaga anak lu! Untung yang nabrak gua, coba kalo yang nabrak bis atau kendaraan besar lain. Kalo gak siap jaga anak, gausah punya anak!” Kata Randy lalu berlari menyusul Raymon dan meninggalkan Sadam.
Sadam terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Randy. Perkataan Randy memang ada benarnya juga. Coba pada saat itu ia mengawasi Tiara dan tidak berjalan lebih dulu masuk kedalam toko, pasti ia bisa mencegah Tiara yang berlari ke tengah jalan.
“AAAARRRRRGGHHH!!!!” Sadam berteriak dengan kesal sambil menjambak-jambak rambutnya dan memukul-mukul kepalanya.
Semua orang di ruangan itu menatap Sadam karena mendengar teriakannya. Sadam terduduk lemas diatas lantai sambil menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Kedua tangannya terus menjambak-jambak rambut dan sesekali memukuli kepalanya sendiri.
“Permisi, pak!” suara seorang wanita menyapa Sadam.
Sadam menengadahkan kepala dan menatap wanita itu. Rupanya wanita itu adalah suster yang baru saja memeriksa Tiara.
“Pak, putri bapak mengalami beberapa cidera di otaknya, dan juga sangat kekurangan darah. Kebetulan kami sedang kehabisan darah tipe AB-. Kami juga sudah menghubungi pihak rumah sakit lain, dan juga PMI. Namun, kebetulan mereka semua juga sedang kehabisan stok golongan darah AB-. Apakah mungkin bapak punya keluarga yang mempunyai golongan darah yang sama?” Tanya Suster itu.
“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?” Teriak Sadam dalam hati.
Sadam benar-benar kebingungan. Satu-satunya keluarga yang dimiliki Tiara hanyalah dirinya dan Laras. Namun, Laras sudah tiada maka kini hanya dialah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Tiara. Sedangkan, Sadam golongan darahnya adalah B+. Sesekali Sadam menutup wajahnya dan menampar pipinya, berharap semua ini adalah mimpi buruk.
“Pak, Sadar pak!” Suster menggenggam tangan Sadam yang terus menampar-nampar wajahnya sendiri.
“Pak, jangan lakukan itu! Daripada buang-buang waktu melakukan hal seperti itu, lebih baik bapak membantu untuk mencari pendonor untuk anak bapak! Anak bapak benar-benar sedang dalam keadaan kritis.” Lanjut Suster menasehati Sadam.
“Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk mencari pendonor darah untuk Tiara?” Tanya Sadam.
Suster melihat kearah jam dinding. Jarum pendek mengarah ke angka 12, sedangkan jarum panjang mengarah ke angka 8.
“Bapak punya waktu sampai jam 4 sore. Tapi lebih cepat lebih baik!” Kata suster itu.
“Baik, terima kasih suster!” Kata Sadam.
Sadam segera keluar dari Rumah Sakit dengan setengah berlari. Namun saat sampai diluar Rumah Sakit, otaknya benar-benar berhenti bekerja. Pikirannya benar-benar buntu dan tak tau siapa orang yang bisa mendonorkan darah untuk anaknya. Wajahnya benar-benar takut dan panik. Tapi, ia tiba-tiba mengingat bahwa kini dirinya tinggal bersama Dina.
“Dina! Bener juga, gua harus tanya golongan darahnya apa! Siapa tau cocok dengan Tiara.” Gumam Sadam.
Ia langsung memberhentikan angkot dan segera menuju Rumah barunya. Sayangnya, sesampainya di Rumah, Sadam tidak bisa menemukan keberadaan Dina karena Dina pada saat itu sedang berbelanja perlengkapan entah dimana. Sadam juga lupa menanyakan nomor ponsel Dina. Jadi, ia benar-benar tidak bisa menghubungi Dina. Pikiran Sadam semakin kacau dan buntu. Tidak ada lagi orang yang ia kenal selain Dina.
“Gua harus ngelakuin sesuatu! Nyari orang lagi, atau tunggu Dina?” Pikirnya dalam hati.
“Kalau nyari orang lagi, kira-kira siapa? Kalau nunggu Dina, belum tentu golongan darahnya sama. Itu hanya menghabiskan waktu.” Lanjut Sadam dalam hati.
“SIALAAANNN!!! GUA BINGUNG!!!” Teriak Sadam.
Raymon telah tertidur pulas setelah diberi obat bius dan beberapa vitamin.
“Ginjalnya sudah semakin parah, bapak benar-benar harus segera menemukan pendonor ginjal yang cocok untuk Raymon. Untuk saat ini, kerusakan pada pendengarannya hanya sementara. Yang saya khawatirkan, kerusakan pada indra pendengarnya akan menjadi permanen di kemudian hari. Jika itu terus berlanjut, maka bapak benar-benar harus bertabah!” Kata Dokter menguatkan hati Randy.
Dokter meninggalkan Randy sendiri di kamar Raymon. Mendengar maksud perkataan Dokter, Randy benar-benar paham bahwa yang Dokter itu maksudkan adalah ia harus tabah jika akhirnya Raymon harus pergi untuk selama-lamanya.
Randy berjalan mendekati Raymon yang terbaring di tempat tidur tak sadarkan diri. Ia melihat kearah mobil remote control yang ia belikan untuknya tempo hari terparkir diatas meja samping tempat tidur Raymon.
“Maafkan papa ya! Karena dosa-dosa papa, kamu harus menderita! Jika ada yang bisa papa lakukan untuk kesembuhanmu, papa akan lakukan apa saja bahkan jika harus nyawa papa taruhannya!” Kata Randy sambil mengelus kepala Raymon.
“Mulai sekarang, papa akan mengambil kembali mobil remote control itu. Kamu gak
Membutuhkannya! Karena… papa akan selalu ada di sisimu, sampai detik terakhirmu!” Kata Randy lalu mengecup kening putranya.
Beberapa saat kemudian, Randy melaju dengan mobilnya keluar dari rumah sakit menuju basement tempat biasa ia menemui anak buahnya.
“Tempat biasa. Sekarang!” Kata Randy di telpon.
“Oke, Bos!” Jawab anak buahnya.
Mobil Randy masuk kedalam basement yang terbengkalai itu. Mobilnya masuk dan melaju hingga ke lantai 12. Disana kedua anak buahnya telah menunggunya. Setelah mematikan mesin, Randy keluar dan berjalan kearah anak buahnya yang sudah menunggu kehadirannya.
“Mulai sekarang, gua mau cuti dulu. Untuk sementara, Bisnis kalian ambil alih! Atur janjian dengan client, dan ingat kita hanya membersihkan sampah-sampah masyarakat, bukan orang-orang yang tak berdosa!” kata Randy.
“Baik, Bos!” Ucap kedua anak buahnya itu sambil menundukkan kepala mereka.
Sadam menggantungkan sebuah papan di lehernya. Papan itu bertuliskan “Tolong bantu saya, anak saya sedang kritis. Saya butuh golongan darah AB-“. Sadam berjalan di sepanjang trotoar dan memberhentikan setiap orang yang dilaluinya.
“Bu, Tolong bu! anak saya sedang kritis!” kata Sadam memohon kepada seorang wanita paruh baya.
“Maaf. Golongan saya O.” Kata Ibu itu dengan ketus.
Sadam berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Ia terus memohon dan memelas agar seseorang dapat menolong putrinya.
“Pak, Tolong pak!” Kata Sadam sambil bersujud dan matanya berkaca-kaca.
“Maaf, saya sibuk!” Kata lelaki paruh baya dengan ketus.
“Pak… Bu… Tolong saya! Tolong anak saya!” Kata Sadam terus memohon dan memelas kepada setiap orang yang dijumpainya.
“Orang gila ya itu?” Entah siapa yang berbicara.
“Pengemis sekarang udah bukan minta uang, tapi minta darah! Hiiii…” kata seseorang berbicara dan mengeluarkan kalimat keji seperti itu.
“Paaakkk… Tolong anak saya, Pak!” Sadam memelas dan memegangi kaki seorang lelaki paruh baya.
“Maaf mas, saya ingin menolong. Tapi, golongan darah saya B!” Kata Lelaki paruh baya itu dengan ramah.
Sadam tak patah arang dan terus menerus memohon dan memelas tak peduli dengan orang-orang yang mencibirnya dengan kalimat-kalimat hinaan yang menghujam hati. Sadam benar-benar telah membuang harga dirinya.
Jam menunjukkan pukul 3 sore. Sadam masih belum bisa mendapatkan pendonor darah untuk Tiara. Tubuhnya menjadi lemas tak berdaya. Sadam terduduk di atas trotoar sambil menjambak-jambak rambutnya. Beberapa orang yang melintas memandangnya bdengan tatapan aneh.
“Maafin ayah, Tiara! Maafin, Ayah!” Kata Sadam yang kini mulai menangis sambil menyenderkan tubuhnya pada sebuah bangunan dan membenamkan wajahnya pada kedua tangan yang saling menumpuk bertumpu pada lututnya.
“Laras, maafin aku! Aku gak bisa jadi ayah yang baik untuk Tiara…” Lanjut Sadam dalam isak tangisnya.
Tiba-tiba bayangan masa lalu muncul di kepalanya. Sebuah bayangan kalimat yang keluar dari istri tercintanya ketika mereka masih hidup miskin di sebuah rumah tanpa kamar tidur dan kamar mandi di masa lalu.
Saat itu...
“Aku yakin, kamu bakalan jadi ayah yang baik. Anak kita pasti bangga punya ayah kayak kamu.” Kata Laras sambil mengusap-usap punggung Sadam agar perasaan Sadam sedikit lebih tenang.
Sebuah kalimat yang dapat menyadarkan dan menguatkan tekad Sadam.
“Tiara bangga punya ayah seperti aku?” Tanya Sadam pada dirinya sendiri.
“Jangan bercanda! Bagaimana Tiara bisa bangga, jika aku adalah ayah yang mudah menyerah seperti ini?” Gumam Sadam sambil berdiri dan menghapus air matanya.
“Masih ada 1 jam. Gua harus bisa nemuin orang yang mau donorin darahnya untuk Tiara!” Kata Sadam.
Kini ia kembali menyapa para pejalan kaki yang melintas dengan tanpa memelas. Ia hanya akan bertanya golongan darah dari orang yang lewat tersebut. Jika ada yang cocok, barulah ia akan meminta agar orang tersebut bersedia mendonorkan sebagian darahnya untuk Tiara.
Randy yang hendak kembali menuju Rumah Sakit untuk menemani anaknya, harus menghentikan laju mobilnya ketika ia melihat Sadam dipinggir jalan sedang bertanya kepada semua orang yang melintas. Randy membaca papan yang mengalung di leher Sadam. Setelah itu, ia segera turun dari mobil dan menghampiri Sadam.
“Dam, pake darah gua aja!” Kata Randy yang berdiri dibelakang Sadam.
Sadam menolehkan kepalanya dan terkejut melihat Randy yang dengan sukarela mendonorkan darahnya untuk Tiara. Randy seolah seperti angin segar yang akan membantunya keluar dari masalahnya. Sadam tersenyum gembira dan lalu memeluk Randy.
“Jangan peluk-peluk, gua bukan homo!” Kata Randy dengan ketus.
Randy lalu meminta Sadam agar segera masuk kedalam mobilnya, dan kedua ayah ini segera melaju ke Rumah Sakit dengan kecepatan penuh. Mereka tidak ingin datang terlambat dan menyesal untuk selamanya.
Beberapa jam setelah mendapatkan donor darah dari Randy…
“Kondisinya sudah mulai stabil, hanya saja kami masih melakukan pemulihan terhadap cidera di kepalanya.” Kata Dokter kepada Sadam.
“Apa anak saya sudah sadar, Dok?” Tanya Sadam.
Dokter menggelengkan kepalanya.
“Kita akan berusaha semaksimal mungkin dan berharap agar anak bapak segera sadar.” Kata Dokter lalu pergi meninggalkan Sadam dan Randy.
Mereka berdua masuk kedalam kamar untuk melihat kondisi Tiara. Seorang gadis kecil menggemaskan itu masih terbaring diatas tempat tidur dengan perban dikepalanya. Sadam mengambil boneka jerapah yang terduduk diatas meja dan memindahkannya ke sisi Tiara.
“Jangan pergi tinggalkan ayah, nak! Lekaslah bangun, ayah rindu akan senyumanmu!” kata Sadam sambil mengecup kening Tiara.
Sadam dan Randy lalu meninggalkan Tiara sendirian didalam kamar dan berjalan menuju bagian administrasi.
“Buset! Mahal amat!” Kata Sadam setelah melihat tagihan Rumah Sakit.
“Biar gua yang bayar!” Randy mengambil selembar kertas tagihan dari tangan Sadam.
“Jangan lah! Lu udah banyak membantu.” Kata Sadam menolak.
“Terus, siapa yang mau bayar? Lu mampu?” Kata Randy sambil memperhatikan pakaian Sadam yang lusuh.
Sadam terdiam. Randy memaksa untuk tetap membayar biaya pemulihan Tiara. Setelah membayar, Randy mengajak Sadam untuk menemui Raymon anaknya.
“Ini Raymon anak gua.” Kata Randy duduk diatas kasur disamping Raymon yang sedang terlelap.
“Sakit apa dia?” Tanya Sadam.
“Sindrom Alport. Dan sekarang gua lagi bener-bener putus asa buat nyari pendonor ginjal untuk dia.” Kata Randy sambil terus meratapi Raymon.
“Lu gabisa donorin ginjal lu?” Tanya Sadam
“Darah dan gen gua gak cocok.” Jawab Randy.
“Kalo gitu coba pake ginjal gua aja!” Kata Sadam menawarkan.
Randy tersenyum sesaat.
“Lu perokok?” Tanya Randy.
“Baru hari ini gua berhenti.” Jawab Sadam.
“Berarti gak bisa. Ginjal yang bisa di donorkan bukan hanya harus cocok darah dan gen nya, tapi juga harus dari orang yang bukan perokok.” Jawab Randy.
Sadam terdiam sejenak. Begitupun Randy yang terdiam meratapi sambil mengelus-elus kepala Raymon. Keheningan mulai terasa. Sadam mulai basa-basi untuk memecah keheningan.
“Ngomong-ngomong Lu punya anak berarti udah nikah, dong? Istri lu mana?” Tanya Sadam penasaran.
“Belum. Raymon ini anak angkat gua, yang udah gua anggap anak kandung gua sendiri. Gua besarin dia seorang diri.” Kata Randy sambil mengusap rambut Raymon.
“Sama dong kayak gua!” Kata Sadam sambil duduk di sebuah sofa dekat tempat tidur.
“Tiara anak angkat lu juga?” Tanya Randy.
“Bukan.” Jawab Sadam.
“Terus, sama apanya?” Tanya Randy.
“Gua juga sekarang, hanya Seorang diri membesarkan Tiara.” Kata Sadam.
“Istri lu kemana?” Tanya Randy penasaran.
“Dia…udah meninggal.” Jawab Sadam sambil tertunduk.
Randy melihat wajah Sadam yang menjadi murung ketika membicarakan soal Laras. Maka ia berinisitaif untuk mengajak Sadam ke kantin dan mentraktirnya makan malam.
Di Kantin…
“Makasih loh, Dy! Lu udah baik banget sama gua hari ini.” Kata Sadam sambil menyantap makan malamnya.
“Yaaa… sama-sama.” Jawab Randy sambil menyantap makan malamnya.
Setelah menyantap makan malam, mereka pindah menuju sebuah taman di rumah sakit.
Sadam menatap langit dengan tatapan kosong.
“Kenapa bengong?” Tanya Randy melihat Sadam yang bengong melihat bintang-bintang di langit.
“Gua kangen sama ibu. Dulu waktu kecil, setelah kepala gua di pukul ayah pake balok kayu, gua koma selama 3 hari di Rumah Sakit. Saat gua bangun, ibu gua tersenyum bahagia dan langsung meluk gua. Mungkin nanti ketika Tiara bangun, gua bakal merasakan hal yang sama dengan apa yang ibu rasakan waktu itu.” Kata Sadam sambil terus menatap langit.
“Emang ibu lu kemana?” Tanya Randy.
Sadam terdiam. Randy masih menatap Sadam yang terus terdiam tak menjawab pertanyaannya.
“Ibu gua, ada di Rumah.” Jawab Sadam sambil menundukkan kepalanya.
“Ya… terus kenapa lu kangen?” Tanya Randy lagi.
“10 tahun yang lalu, gua kabur dari Rumah.” Jawab Sadam yang masih terus tertunduk.
Randy berdiri sambil menghisap rokok di tangannya.
“Ayo!” Ajak Randy sambil melangkahkan kaki beranjak dari taman itu.
Sadam menatap Randy dengan heran.
“Kemana?” Tanya Sadam heran.
“Lu itu sekarang adalah orang tua. Lu tau gimana perasaan orang tua ketika kehilangan anaknya, kan? Jangan biarin orang tua lu menunggu lebih lama lagi!” Kata Randy.
Mendengar perkataan Randy, membuat hati Sadam menjadi sadar. Ia berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mengekori Randy menuju mobil. Lalu mobil berjalan menuju rumah Sadam yang telah ditinggalakan selama 10 tahun. Meninggalkan seorang ibu yang hidup dalam kesendirian di dalam rumah itu.
Mobil berhenti tepat didepan sebuah Rumah. Rumah yang mengingatkan Sadam akan masa kecilnya ketika tinggal berdua dengan ibunya. Sadam melihat bayangan dirinya ketika 10 tahun lalu ia berdiri menatap Rumah ini dan lalu pergi bersama Laras menembus malam yang dingin dan sunyi.
“Woy! Ayo turun!” Ajakan Randy membuyarkan lamunan dan bayangan Sadam.
“Dy, kayaknya gua belum siap. Suatu hari nanti gua bakal balik kesini sendirian tanpa harus lu temenin!” Kata Sadam ragu.
Randy menatap Sadam.
“Oke. Gua sih gak mau lu sampe nyesel, tapi kalo itu keputusan lu, yo wis lah…” Kata Randy kemudian menyalakan mesin mobilnya kembali.
“Satu hal yang harus lu ingat! Kita gak pernah tahu usia kita.” lanjut Randy lalu melaju kan mobilnya.
Sadam seperti melihat dirinya sendiri dalam tubuh Randy. Perkataan Randy mengingatkannya dengan perkataannya sendiri pada saat Laras memarahinya karena mengajak Tiara keatas genteng.
Waktu itu…
“Kalo kamu mau ajarin dia untuk melawan rasa takut, gak gitu caranya! dia itu masih kecil.” Kata Laras yang terus membuang muka dari Sadam.
“Terus mau sampai kapan? Kita gak pernah tau usia kita. Aku cuma gak mau kalo Tiara hidup dengan penuh rasa takut dan gak mandiri.” Kata Sadam mencoba menjelaskan.
Kembali kedalam mobil…
Sadam termenung sambil menatap keluar jendela. Sorot matanya benar-benar kosong.
“Woy! Ngelamun mulu. Dah sampe Rumah sakit nih.” Kata Randy membuyarkan lamunan Sadam.
“Lu bisa anterin gua ke Rumah gak? gua mau ngambil beberapa perlengkapan dan pamit sama Dina.” Pinta Sadam.
“Dina? Siapa tuh?” Tanya Randy.
“Ceritanya panjang, bro!” kata Sadam sambil menghela nafas.
“Ya ceritain garis besarnya aja lah! Istri baru lu?” Randy benar-benar penasaran.
“Dia itu adiknya temen gua, waktu gua tinggal di Jakarta.” Jawab Sadam dengan malas.
Randy semakin bingung. Tapi mendengar fakta bahwa Sadam pernah tinggal di Jakarta, semakin memperkuat kemungkinan bahwa Sadam adalah benar-benar orang yang sedang di cari oleh Mafia Keluarga Pangestu.
“Jadi, Dina itu adiknya temen lu waktu di Jakarta? Terus ngapain dia ikut ke Bandung? Kakaknya ikut lu juga?” Tanya Randy sambil mengorek informasi.
“Kakaknya mati di bakar hidup-hidup oleh Kelompok Mafia Pangestu. Makanya sebelum mati, dia nitipin adiknya ke gua.” Jawab Sadam.
“Oh gitu. Sorry, Dam kayaknya gua gak bisa temenin lu. Gua harus temenin Ramon!”
“Ya udah deh gua balik sendiri aja. Semoga anak lu cepet sembuh ya!” kata Sadam sambil membuka pintu dan segera turun dari mobil disusul oleh Randy yang juga keluar dari mobilnya.
“Cepetan balik lagi kesini! Anak lu gak ada yang jagain tuh.” Kata Randy.
“Pasti gua bakalan cepet-cepet balik kesini.” Kata Sadam.
Sadam lalu berjalan keluar Rumah Sakit dan menghentikan sebuah angkot yang melintas. Meninggalkan Randy yang masih berdiri disamping mobilnya meskipun Sadam sudah tak berada dalam pandangannya. Randy bisa saja mengantar Sadam ke Rumahnya, namun Randy harus waspada dengan Dina. Ia tak mengetahui siapa Dina sebenarnya. Ia harus memastikan dahulu apakah Dina mengenalinya atau tidak.
Sadam membuka pintu rumahnya dan mendapati Dina sedang duduk menunggu kedatangannya.
“Dimana Tiara?” Tanya Dina karena melihat Sadam pulang seorang diri.
“Tiara mengalami kecelakaan. Dia koma di Rumah Sakit.” Jawab Sadam.
Mendengar perkataan Sadam, Dina benar-benar merasa terkejut. Ia memutuskan untuk pergi bersama Sadam menuju Rumah Sakit untuk menjenguk Tiara.
“Aku akan tinggal di Rumah Sakit sampai Tiara sembuh. Kamu gak apa-apa sendiri di Rumah?” Tanya Sadam.
“Gak apa-apa. Lagian tadi aku baru dapet kerja di sebuah minimarket. Paling tiap pulang kerja, aku akan jenguk Tiara.” Kata Dina.
Sadam telah selesai berkemas dibantu oleh Dina. Mereka berdua mengunci pintu Rumah dan segera menuju ke Rumah Sakit.
Sementara itu, masih di tempat parkir Rumah Sakit…
“Halo bos, Ada yang bisa dibantu?” kata anak buah Randy di telepon.
“Halo! Gua mau Tanya satu hal!” Kata Randy.
“Silahkan, Bos!” jawab anak buahnya.
“Apa lu pernah membakar orang hidup-hidup waktu kita di Jakarta?” Tanya Randy.
“Hmmm… sebentar saya ingat-ingat dulu!” kata anak buahnya.
Tak butuh waktu lama untuk anak buahnya berpikir dan meningat.
“Pernah, Bos!” kata anak buahnya.
“SIAPA???” Kata Randy setengah membentak karena sangat penasaran.
“Itu…. Dani, Bos!” Kata anak buahnya.
“Oh… Oke.” Jawab Randy singkat lalu menutup teleponnya.
“Sial*n! Jadi si Dina itu adik si Dani. Kenapa dia bisa bareng sama Sadam? Kakaknya kan orang yang nyulik Tiara?” Kata Randy sambil berpikir dan kebingungan.
Sadam bangun dari tidurnya setelah semalaman terlelap diatas sofa di kamar Tiara. Ia beranjak dari tempat tidur dan masih mendapati anaknya yang belum sadarkan diri.
“Cepet bangun dong, sayang! Ayah kesepian nih!” Kata Sadam sambil mengelus rambutnya.
Sadam lalu membasuh tubuhnya dan setelah bersih, ia segera meninggalkan Tiara untuk kembali mencari kerja.
“Dam, udah sarapan?” Tanya Randy yang tiba-tiba ada dibelakangnya sambil mendorong Raymon yang terduduk diatas kursi rodanya.
“Oy! Belum nih, baru gua mau pergi.” Jawab Sadam.
“Ini teman papa namanya om Sadam.” Randy menulis di papan tulis kecil untuk Raymon karena Raymon masih belum bisa mendengar.
“Halo om Sadam, aku Raymon! Mohon maafkan papa yang kemarin telah menabrak anak om!” Kata Raymon sambil menundukkan kepalanya.
“Halo…” belum sempat Sadam menjawab salam Ramon, Randy lalu memberikan papan tulis beserta spidol kepada Sadam.
Sadam langsung mengerti dengan Randy yang memberikan sebuah papan tulis dan sebuah spidol hitam padanya.
“Halo Raymon! Kamu sangat tampan seperti papa mu. Tidak usah dipikirkan atas kecelakaan kemarin, Om sudah memaafkannya.” Sadam menulis di papan itu lalu memberikannya kepada Raymon.
“Terima Kasih!” Jawab Raymon sambil tersenyum.
Randy mendorong kursi roda Raymon dan masuk kedalam kamar Tiara.
“Pa, apa dia baik-baik saja?” Tanya Raymon melihat Tiara yang belum sadarkan diri.
Sadam menghapus tulisan di papan tulis itu, lalu menuliskan kalimat yang baru.
“Om yakin Tiara akan baik-baik saja.” Sadam menulis dan diberikan kepada Raymon.
“Aku berharap yang terbaik untuk Tiara.” Kata Raymon.
Randy mengambil papan tulis itu dan menuliskan sebuah kalimat.
“Papa mau ngobrol sebentar sama om Sadam. Raymon tolong jagain Tiara, ya!” Randy menulis di papan tulis dan diberikan kepada Raymon.
“Oke pah. Bolehkah aku menganggap Tiara sebagai temanku?” Tanya Raymon.
“Sangat boleh.” Kata Sadam sambil mengusap kepala Raymon.
Meskipun Raymon tak mendengar perkataan Sadam, ia bisa menangkap dari gerak mulut Sadam yang membolehkannya menganggap Tiara sebagai temannya.
Sadam dan Randy segera turun ke kantin untuk memesan sarapan meninggalkan Raymon yang terduduk sambil meratapi wajah Tiara yang cantik dan masih tak sadarkan diri. Sesampainya di kantin, mereka menghabiskan waktu utnuk sarapan dan bernostalgia dengan masa lalu. Sadam maupun Randy menertawakan kekonyolan dan perbuatan mereka di masa lalu yang penuh dengan pertikaian. Hingga waktu tak terasa berlalu begitu cepat dan sudah 1 jam berlalu.
“Hidup memang penuh misteri, ya?” Tanya Randy pada Sadam.
“Betul. Kita gak pernah tau kalo orang yang trauma dan benci sama yang namanya ayah, bisa jadi ayah kayak gua.” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Kita juga gak pernah tau orang yang dulu pernah bully gua, bahkan sering perang antar geng, sekarang malah duduk di sebelah gua.” Kata Randy sambil tertawa menatap Sadam.
“HAHAHA iya juga ya. Dulu geng gua sama geng lu sering banget perang. Karena lu dulu dendam terus sama gua!”
“Gimana gak dendam? lu dulu bully gua terus!”
“Sekarang masih dendam?”
Randy menatap Sadam dengan tatapan serius sesaat.
“Nggak lah. Gua udah gak ada dendam lagi sama lu setelah kekalahan geng gua yang terakhir.” Kata Randy merubah keseriusan di wajahnya menjadi senyuman.
“Oh pertarungan yang waktu itu? Yang tiba-tiba temen gua si Ucup sama si Dimas datang?”
“Yoi. Yang itu.”
“Nah… ngomongin soal mereka, kita juga gak pernah tau bahwa persahabatan bisa hancur seperti persahabatan gua sama Ucup dan Dimas.” Kata Sadam sambil menunduk.
“Jadi, lu putus hubungan sama mereka?”
“Yoi. Dimas pergi ke Jogja, sedangkan gua pergi ke Jakarta karena pacar gua Laras, hamil. Dan Ucup? entahlah, mungkin dia masih di Bandung.”
Randy hanya diam dan tak berkomentar soal persahabatan mereka dan mencari topik yang lain.
“ Tau gak apa yang lucu?” Kata Randy sambil menerawang keatas langit-langit.
“Apaan?”
“Kita gak pernah tau kalo dulu orang yang dianggap baik, bisa jadi jahat. Dan orang yang dianggap jahat, bisa jadi orang yang lebih baik dari orang yang pernah dianggap baik.” Kata Randy menatap Sadam dengan serius.
“Maksudnya siapa tuh?” Tanya Sadam penasaran.
“Kita. Dulu gua orang yang cupu, orang yang selalu lu bully. Orang lain akan menganggap bahwa gua si baik, sedangkan lu si jahat. Tapi, seiring waktu berlalu dan Dunia terus berputar. Kini si baik mungkin lebih jahat dari si jahat, dan si jahat mungkin lebih baik dari si baik.” Kata Randy masih dengan tatapan serius.
“Emang, sejahat apa lu sekarang?” Tanya Sadam penasaran.
“Yang pasti, gua yakin bahwa lu lebih baik dari gua.” Jawab Randy yang tak menjawab inti dari pertanyaan Sadam.
“Sejahat apapun lu, gua yakin lu masih punya sisi baik. Manusia bukan malaikat. Setiap manusia punya sisi jahat dan sisi baik.” Kata Sadam.
“Lu kok bisa yakin gua masih punya sisi baik?” Tanya Randy penasaran sambil tersenyum kecil.
“Melihat lu yang begitu menyayangi Raymon, dan mau mendonorkan darah untuk Tiara dimana orang lain gak ada yang peduli, gua bisa simpulkan bahwa itu adalah sisi baik lu.” Jawab Sadam tersenyum.
Randy terdiam.
“Dy, gua cabut ya! Gua mau nyari kerja, nih.” Pamit Sadam sambil menepuk pundak Randy.
Sadam mulai melangkahkan kakinya setelah membayar dan mentraktir Randy. Randy masih diam tak bergeming. Ia benar-benar tak menyangka, selama ini ia berpikir bahwa ia adalah orang yang hatinya dipenuhi kegelapan, namun rupanya masih ada setitik cahaya yang bersinar di hatinya. Sadam berjalan semakin menjauh meninggalkan Randy yang masih terdiam tak bergeming.
“Dam!” panggil Randy.
Sadam memutar tubuhnya setelah mendengar Randy memanggilnya.
“Kita gak pernah tahu!” Kata Randy.
“Kita gak pernah tahu apa?” Tanya Sadam.
“Kita gak pernah tahu, kalo ternyata orang yang selama ini gua cari-cari dan mau gua bunuh adalah lu.” Kata Randy.
“Hah? Maksud lu apa?” Tanya Sadam sambil kembali berjalan mendekat ke Randy.
“Selama ini, ada orang yang harus dan ingin sekali gua bunuh meskipun gua gak pernah bertemu orang itu. Dan ternyata orang itu adalah lu.” Jawab Randy sambil menatap serius kearah Sadam.
“Maksud lu gimana sih?” Sadam semakin kebingungan.
“Gua tau lu pernah tinggal di Jakarta. Coba lu pikir lagi, siapa yang pernah menculik Tiara? Siapa yang berkelahi dengan lu di Pasar? Siapa yang ngacak-ngacak Rumah lu? Dan siapa yang membunuh Dani waktu itu?” Tanya Randy.
Sadam terkejut ketika mengetahui bahwa Randy ternyata mengenal Dani. Sadam mencoba mengingat-ingat kejadian baru-baru ini dan apa yang membuatnya pindah dari Jakarta kembali ke Bandung. Ia berusaha mengingat apa yang Dani sampaikan padanya sebelum kematiannya.
Saat itu…
“Bentar lagi, Mafia keluarga Pangestu pasti datang kesini untuk ngebunuh gua. Lu mending segera pergi sekarang dan tingalin kota ini, ajak Dina sama lu!” kata Dani.
“Kenapa lu gak pergi sama-sama?” Tanya Sadam.
“Kemana pun gua pergi, mereka pasti akan segera nangkep gua. Mereka gak tau siapa lu, dan anak lu. Mereka juga gak tau siapa Dina. Jadi, kalian bertiga aman. Sedangkan, mereka tau siapa gua. Gua cuma bakal jadi ancaman buat lu bertiga.” Kata Dani.
Kembali ke masa sekarang…
“Ya ada. Seseorang dari kelompok Mafia Keluarga Pangestu pernah bilang sama gua bahwa Mafia Keluarga Pangestu terus mencari gua. Orang yang ngacak-ngacak rumah gua dan nyulik Tiara adalah Dani, Dan orang yang pernah berkelahi dengan gua di Pasar adalah Jaka dan Iwan. Mereka bertiga anggota Keluarga Pangestu. Tapi orang dibalik itu semua belum tau siapa gua. Apa semua itu ada hubungannya sama lu?” Tanya Sadam yang kini menatap tajam kearah Randy.
“Dam, apa lu lupa nama gua?” Tanya Randy.
“Nama lu Randy.” Jawab Sadam.
“Nama lengkap gua, apa lu lupa?” Tanya Randy lagi.
Sadam berpikir dan mengingat-ingat siapa nama lengkap dari Randy. Ingatannya membawanya ke masa saat ia pertama kali bertemu dengan Randy ketika mereka berdua masih SD.
Saat itu…
“Perkenalkan namaku Randy Pangestu. Semoga kita menjadi teman baik ya!” kata Randy sambil mengajak Sadam untuk berjabat tangan.
Sadam hanya menepis jabat tangan Randy lalu pergi meninggalkan Randy yang berdiri mematung.
Kini ingatannya membawa ke masa SMA setelah pertarungan terakhir antara geng Randy dan Geng Sadam
“Perkenalkan namaku Randy Pangestu. Semoga kita menjadi teman baik ya!” kata Randy sambil mengajak Sadam untuk berjabat tangan.
Sebuah perkataan yang sama persis, namun saat itu Sadam menjabat tangannya.
Kembali ke masa sekarang…
“Gua ingat. Jadi, nama lu…Randy…Pangestu.” Kata Sadam sambil menatap tajam.
Randy tersenyum menyeringai.
“Jadi, lu udah tau sejak kita pertama kali bertemu lagi?” Tanya Sadam.
“Ya.” Jawab Randy singkat.
“Terus kenapa lu gak bunuh gua? Malah, lu mencoba nyelamatin anak gua.” Tanya Sadam kebingungan.
“Mungkin… bener kata lu. Gua masih punya sisi baik.” Jawab Randy.
“Jadi, apa sekarang lu masih mau bunuh gua?” Tanya Sadam.
“Mungkin ya, Mungkin juga nggak.” Jawab Randy.
Sadam terdiam dan terus menatap tajam pada Randy.
“Sadam, Kita gak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Kita juga gak pernah tahu, sisi jahat atau sisi baik gua yang akan bertindak.” Jawab Randy lalu pergi meninggalkan Sadam.
Randy pergi menuju kamar Tiara. Dibelakangnya, Sadam mengekorinya sampai kedepan kamar Tiara.
“Mau apa lu di kamar Tiara?” Kata Sadam menghentikan Randy yang hendak membuka kamar Tiara.
“Jangan khawatir. Gua gak pernah membunuh anak kecil. Gua kesini cuma mau menjemput Raymon.” Kata Randy lalu masuk dan menjemput Raymon.
Sebelum meninggalkan Sadam, Randy berbisik di telinga Sadam.
“Raymon sembuh, atau meninggal. Kita gak pernah tahu.” Kata Randy lalu meninggalkan Sadam sambil tertawa menyeringai.
Sebuah kalimat terakhir yang penuh arti, namun membingungkan.