“Totalnya dua puluh empat ribu tujuh ratus rupiah.” Kata Dina kepada seorang gadis muda.
Gadis muda itu memberinya uang sebesar 25.000 rupiah.
“Uangnya dua puluh lima ribu rupiah, kembaliannya tiga ratus rupiah. Mau disumbangkan?” Tanya Dina.
“Sumbangin aja deh, mbak!” kata gadis muda itu lalu mengambil barang belanjaannya dan pergi.
“Terima kasih dan selamat berbelanja kembali!” Kata Dina dengan senyuman ramah.
Dina melihat jam yang tertera pada komputernya. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Itu berarti tinggal 2 jam lagi tersisa hingga akhirnya bisa pulang.
“Padahal masih jam 9, tapi udah sepi.” Gumam Dina.
Dina beranjak dari meja kasir menuju rak barang-barang. Ia mencoba menyusun dan merapikan barang-barang dari gudang. Untuk membunuh rasa jenuh. Setelah itu, ia pun mulai mengambil tongkat pel dan mengepel lantai minimarket yang sudah terlihat sangat kusam.
Tiba-tiba seorang wanita berlari dan menerobos pintu minimarket. Wanita itu tidak melihat rambu lantai basah, sehingga membuatnya tergelincir diatas lantai yang licin.
“Waduuuhhh saya minta maaf, mbak!” Kata Dina sambil membantu wanita itu untuk bangkit.
Saat mencoba membantu wanita itu berdiri, wajah dari wanita itu mulai terlihat jelas di hadapan Dina. Dina yang kaget saat melihat tampang wanita itu, melepaskan genggamannya sehingga wanita itu kembali jatuh tersungkur.
“Aduuuhhh mbak, kok dilepasin lagi sih! Jatuh lagi deh saya.” Protes wanita itu dengan nada sedikit macho.
“Oh maaf, mas! Eh, mbak!, eh, Mas!” kata Dina bingung memanggilnya dengan sebutan apa karena wanita itu berwajah laki-laki alias bencong.
“Enak aja panggil mas! Panggil saya tante!” kata bencong itu.
“Oh, iya maaf tante bencong! Eeehhh… tante.” Kata Dina meminta maaf.
Akhirnya bencong itu berdiri sendiri tanpa dibantu oleh Dina.
“Mbak, saya butuh tempat sembunyi. Tolong dong!” rengek bencong itu.
“Kenapa?” Tanya Dina.
“Saya lagi dikejar polisi… cepet tolongin saya!” rengek bencong itu.
“Yaudah, mas masuk ke ruang staf aja!” kata Dina sambil menunjuk ke sebuah ruangan.
“Iiihhh… dibilangin panggil tante! tapi… bodo amat lah, gue harus sembunyi!” protes bencong itu.
Ia langsung masuk kedalam ruangan staf meninggalkan Dina yang berdiri di depan pintu masuk minimarket sambil tertawa terbahak-bahak. Dina melanjutkan mengepel lantai. Tak lama, ia melihat beberapa bencong sedang berlari di kejar oleh polisi tepat di depan minimarket.
“Hmmmm…hidup itu keras, ya!” gumam Dina sambil kembali memaju mundurkan tongkat pel.
“Permisi…mbak!” Kata seorang polisi yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu mimimarket.
“Ya, pak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Dina sambil menghentikan aktivitasnya.
“Apa ada bencong yang lari ke toko ini?” Tanya polisi itu.
“Gak ada, pak. Saya dari tadi sendiri.” Kata Dina berbohong.
“Baik, kalau begitu terima kasih dan selamat malam!” Polisi itu pun segera pergi meninggalkan Dina.
Setelah merasa aman, Dina berjalan menuju ruang staf untuk memberitahu si bencong bahwa keadaan sudah aman.
“Ayo pergi! Udah aman kok.” Kata Dina.
“Yang bener sis?” Tanya bencong.
“Iya.” Jawab Dina singkat.
Bencong itupun segera keluar dari ruang staf dan berjalan dengan mengendap-endap ke pintu minimarket. Ia membuka pintu itu dan melihat ke sekeliling. Tidak terdengar suara orang berteriak dan berlari. Itu berarti keadaan memang sudah aman.
“Makasih loh sis, udah bantuin gue!” Kata Bencong itu.
“Iya. Sama-sama.” Jawab Dina.
Bencong itu pun segera pamit dan pergi meninggalkan Dina yang masih harus bekerja sampai jam 11 malam. Meskipun si Bencong sudah pergi, Dina masih tertawa sendiri mengingat kejadian yang baru saja terjadi sambil terus mengepel lantai.
Satu jam kemudian, rekan kerjanya datang untuk bertukar shift.
“Lu pulang aja, udah malem!” kata seorang lelaki yang merupakan rekan kerjanya.
“Tapi kan belum jam 11.” Kata Dina sambil melihat kearah jam komputer.
“Gapapa! Lu balik duluan aja gih!” kata lelaki itu.
Karena terus memaksa, Dina pun akhirnya menyetujui untuk pulang lebih awal. Setelah berganti seragam, Dina pamit kepada rekan kerjanya dan lalu pulang meninggalkan minimarket tempat kerjanya.
Dina terus berjalan diantara gelapnya malam. Ia melihat keatas langit yang bertabur penuh dengan bintang-bintang. Sesekali sorot matanya juga menyisiri berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang. Langkah kakinya terhenti di sebuah tenda yang menjual nasi goreng.
“Kang, nasi gorengnya 2. Dibungkus ya!” Dina memesan kepada tukang nasi goreng.
Sambil menunggu, ia mengeluarkan dompetnya untuk menyiapkan sejumlah uang yang harus ia bayar. Saat ia membuka dompet, terpampang sebuah foto dengan 3 orang sedang berpose. Namun, wajah dari salah seorang di foto tersebut hilang. Dilihat dari bentuk fotonya, sangat jelas bahwa wajah seseorang tersebut telah di sobek oleh Dina. Maka foto itu hanya menyisakan wajah seorang gadis kecil yang sedang tertawa bahagia bersama seorang pemuda bertubuh gemuk dan bergigi tonggos. Foto itu adalah foto keluarga Dina. Gadis kecil yang tampak bahagia itu adalah dirinya. Pemuda bertubuh gemuk dan bergigi tonggos itu adalah abangnya. Sedangkan, foto yang tersobek dibagian wajah itu adalah wajah bapaknya.
“Dina kangen sama abang. Meskipun abang selalu jahil, tapi Dina tau kalo abang adalah seorang kakak yang selalu melindungi adiknya.” Gumam Dina sambil terus meratapi foto itu.
“Bang? Apa yang harus Dina lakukan, kalau suatu hari Dina bertemu dengan Bos Randy? Apa Dina harus balas dendam atas kematian abang? Atau Dina harus mengikhlaskan kepergian abang?” Tanya Dina pada foto abangnya seolah abangnya akan mendengarkan.
“Dendam itu gak baik. Ikhlaskan saja! Dengan ikhlas, hati merasa lebih lega.” Sebuah jawaban terdengar oleh Dina.
Dina terkejut. Ia pikir abangnya tidak akan menjawab pertanyaannya.
“Yang bener bang?” Tanya Dina lagi.
“Bener.” Jawaban itu terdengar lagi.
“Makasih, Bang!” Kata Dina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca meratapi foto.
“Iya… Totalnya jadi 20 ribu!” Kata suara itu lagi.
“Apanya yang 20 ribu, bang?” Tanya Dina heran.
“Ya ini. Nasi goreng 2 totalnya 20 rebu!” Kata tukang nasi goreng.
Dina memindahkan pandangannya dari foto kearah tukang nasi goreng. Tampak tukang nasi goreng berdiri dengan wajah datar dan memberikan keresek berisi nasi goreng kepada Dina.
“Jadi, dari tadi akang yang jawab?” Tanya Dina kepada tukang nasi goreng.
“Iya hooh! Siapa lagi?” Jawab tukang nasi goreng.
Dina segera membayar nasi goreng yang ia pesan lalu memandang tukang nasi goreng itu dengan tatapan kesal. Dina lalu memberhentikan angkot lalu masuk kedalam angkot.
“Kirain dapet jawaban dari abang di surga, ternyata yang jawab malah tukang nasi goreng!” keluh Dina dengan kesal.
Di Rumah sakit…
Sadam tertidur dengan posisi duduk disamping tempat tidur Tiara. Tubuh Sadam terasa panas dan meriang. Lampu kamar telah padam, sehingga membuat ruangan ini menjadi gelap gulita. Tiba-tiba pintu kamar dibuka membuat sinar cahaya lampu dari luar kamar menerobos masuk diantara kegelapan.
“Ceklek…” Saklar lampu dinyalakan dan seketika ruangan ini kini menjadi terang.
Dina menepuk-nepuk pundak Sadam agar ia segera terbangun dari tidurnya. Saat tangannya menyentuh leher bagian belakang Sadam, ia merasakan tubuh Sadam terasa panas. Dina mencoba melihat ke wajah Sadam. Ternyata benar saja, wajahnya pucat. Dina juga mencoba memegang dahi Sadam dengan punggung telapak tangannya dan panas dari tubuh Sadam mulai mengalir di punggung telapak tangannya.
“Dam…bangun, Dam! Makan malam dulu...” Kata Dina terus menggoyang-goyangkan tubuh Sadam.
“Gua gak laper!” kata Sadam dengan mata yang masih terpejam.
“Tapi, lu tetep harus makan!” bujuk Dina.
“Gua gak mau makan. Gua mau Tiara!” Kata Sadam sambil menyembunyikan wajahnya.
“Apa perasaan Tiara kalo dia bangun, terus lihat ayahnya sakit?” Dina terus membujuk Sadam.
Sadam bangun dari tidurnya dan berdiri mengahadap Dina.
“Tau apa lu soal Tiara? Lu bahkan bukan keluarga kami. Mending sekarang lu pergi! Besok pagi gua bakal ambil barang-barang gua sama Tiara, lu tempatin rumah itu sendirian!” Kata Sadam kembali tidur.
“Maksud lu apa, Dam? Gua punya salah apa, hah?” Kata Dina sambil meneteskan air mata.
“Pokoknya, lu gausah kesini lagi!” Kata Sadam sambil terpejam.
“Dam… lu bener-bener…” Dina tak mampu berkata apa-apa.
Air matanya mulai menetes.
“Dam… gua… gua… udah anggap Tiara sebagai anak gua sendiri.” Kata Dina dalam isak tangisnya.
Sadam semakin kesal dengan Dina yang tak kunjung pergi. Ia berdiri dengan amarah yang membelenggunya.
“ORANG TUA TIARA CUMA GUA SAMA LARAS!!!” Bentak Sadam sambil mendorong Dina.
Dina tersungkur ke lantai akibat dorongan dari Sadam yang terlalu keras. Melihat pemandangan itu, seketika membuat kepala Sadam tiba-tiba terasa sakit. Ia melihat bayangan-bayangan ketika ayahnya dulu sering menyiksa ibunya. Diantara banyaknya bayangan yang berputar di kepala Sadam, ia melihat sebuah adegan dimana ayahnya mendorong ibunya hingga ibunya tersungkur ke lantai dan kepalanya mengeluarkan darah.
Dina menatap Sadam sambil menangis.
“AAAARRGGHHH!!!” Sadam berteriak sambil menutup matanya dengan kedua tangannya karena bayangan-bayangan itu terus berputar dikepalanya.
“Din, mending lu pergi sebelum gua melakukan hal-hal yang tidak diinginkan!” Kata Sadam sambil terus memejamkan mata dan menutupnya dengan kedua tangannya.
Dina segera berdiri dan beranjak pergi.
“Blam!!!” pintu kamar, Dina banting dengan sekuat tenaga.
Dina berlari di lorong Rumah Sakit sambil air matanya terus mengalir deras.
“Maafin gua, Din! Gua gak mau Randy tau kalo lu adalah adiknya Dani dan lu masih hidup. Gua takut lu akan bernasib sama seperti Dani!” Gumam Sadam di dalam kamar Tiara.
Setelah sampai di Rumah, Dina melemparkan tubuhnya keatas ranjang dan menangis dengan wajah tertutup bantal. Tangisannya belum cukup untuk meredam kesedihannya. Dina berdiri dari tempat tidurnya dan mengacak-acak kamarnya hanya untuk melampiaskan rasa sedih dan kesal.
“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi!” Kata Dina sambil bersimpuh diatas lantai kamarnya.
Malam itu benar-benar terasa menyakitkan untuk jiwa Dina yang sepi.
Keesokan harinya…
Dina terbangun dari tidurnya setelah semalaman menangis dan melampiaskan kekesalannya. Ia membuka kamarnya dan tampak Sadam sedang duduk di kursi plastik di ruang tamu dengan wajah yang masih pucat karena masih demam. Didepannya ada sebuah tas yang didalamnya berisi barang-barang milik Sadam dan Tiara.
“Jadi, lu mau tetep pergi dari Rumah ini?” Tanya Dina.
Sadam menganggukan kepalanya sambil menatap Dina.
“Lu juga mau, gua memutuskan ikatan dengan lu dan Tiara?” Tanya Dina lagi.
Sadam kembali mengangguk. Dina tersenyum meskipun air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
“Kalo Tiara udah sadar, tolong bilang padanya! Kalau dia gak bisa mengaggapku sebagai ibunya, maka anggaplah aku sebagai tantenya!” Kata Dina lalu kembali masuk kedalam kamar sambil membanting pintu.
Sadam lalu mengeluarkan kunci Rumah yang selama ini ia pegang. Meletakannya diatas meja lalu mengambil barang-barangnya. Pintu Rumah mulai tertutup dengan rapat. Setelah ia melangkahkan kakinya dari rumah ini, ia tidak akan bisa kembali lagi ke rumah ini.
“Maafkan aku, Dina! Ada janji pada abangmu yang harus aku tepati!” Gumam Sadam sambil menatap sejenak Rumah Dina dan lalu kembali melangkahkan kakinya berjalan semakin menjauh.
Sore harinya, Dina harus bekerja seperti biasa. Setiap pelanggan yang datang, ia lemparkan senyuman meskipun hatinya sedang bersedih. Ya begitulah namanya tuntutan pekerjaan.
Adzan Maghrib berkumandang. Dina melemparkan senyuman kepada pelanggan terakhir. Setelah pelanggan itu pergi, Dina kembali memasang wajah murung sambil memindahkan beberapa bungkusan rokok dari dalam dus ke rak nya.
“Saya tahu meskipun dari tadi kamu tersenyum, tapi kamu gak bisa menyembunyikan kesedihan kamu!” Kata seorang lelaki yang tiba-tiba sudah berdiri di depan meja kasir.
Dina membalikkan badannya dan tampak seorang laki-laki sudah berdiri dihadapannya.
“Maaf. Mas siapa?” Tanya Dina kepada lelaki paruh baya yang kira-kira usianya hampir sama dengannya.
“Masa sih kamu lupa? Coba perhatiin wajah saya dengan seksama!” Pinta lelaki itu.
Dina memperhatikan wajah itu dan mencoba mengingat apakah ia pernah bertemu wajah seperti itu.
“OOOOOOHHH!” Kata Dina terkejut.
“Nah. Gimana inget kan?” Tanya lelaki itu lega.
“Nggak inget, sih!” Kata Dina dengan wajah datar.
“Haduuuhhh!” Kata lelaki ini sambil menggaruk-garuk kepala.
Lelaki itu mencoba mencari cara agar Dina bisa mengingatnya.
“Coba inget gak sama kata-kata ini. Panggil saya tante!” kata lelaki itu.
“OOOHHHHH!!! Mas bencong yang semalem? Yang ikut…” Dina terkejut namun belum sempat ia tuntaskan kalimatnya, lelaki itu sudah membekap mulut Dina.
“SSSSTTTTT!!! Jangan keras-keras! Nanti orang-orang bisa tau!” kata lelaki itu.
Dina mencoba melepaskan tangan lelaki itu yang membekapnya.
“Ihhh… tangan mas bau ikan asin!” protes Dina.
Lelaki itu mencium tangannya sendiri.
“Hehe… ya maaf! Bekas makan siang.” Kata lelaki itu sambil nyengir.
Dina mulai mengobrol dengan lelaki itu. Mereka saling berkenalan satu sama lain. Lelaki itu bernama Edi ketika siang hari dan bernama Erni di malam hari. Edi berusia 48 tahun. Dan tinggal didekat sini. Ia tak memiliki teman ataupun keluarga. Edi merasa Dina adalah orang yang baik, makanya ia putuskan hari ini untuk kembali bertemu dengan Dina untuk menjalin persahabatan dengannya. Bahkan Edi setia menunggu Dina yang menyelesaikan pekerjaannya sampai tiba waktu Dina untuk pulang.
“Hahaha… jadi kamu tuh sebenernya bukan penyuka sesama jenis?” Tanya Dina sambil berjalan berdampingan dengan Edi menuju rumah Dina.
“Yah… sebenernya aku masih suka sama cewek.” Kata Edi.
“Terus kenapa kamu kerja jadi bencong?” Tanya Dina penasaran.
“Ya… gimana lagi? Daripada aku mati kelaparan. Aku kan manusia… butuh makan juga!” Kata Edi sambil tertawa.
“Hmmm… ngomong-ngomong soal makan, aku laper nih! Kamu laper gak?” Tanya Dina.
“Laper sih. Mau makan nasi goreng disitu gak?” Kata Edi sambil menunjuk tukang nasi goreng.
“Jangan beli disitu! Penjualnya suka ikut nimbrung ngobrol.” kata Dina karena masih belum melupakan obrolan semalam dengan tukang nasi goreng itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Rumah Dina sambil membawa beberapa tusuk sate kambing beserta 2 bungkus nasi putih. Dina memberikan piring kepada Edi. Mereka berdua pun menyantap makan malam sambil bercengkrama.
“Kamu tinggal sendirian disini?” Tanya Edi sambil menarik daging ayam yang tertusuk pada lidi dengan giginya.
“Iya.” Jawab Dina singkat sambil termenung.
Edi menyadari sesuatu.
“Apa ini alasan kamu bersedih hari ini?” Tanya Edi.
“Iya.” Jawab Dina singkat lagi.
“Selama ini aku tinggal sendirian. Tapi aku gak pernah merasa sedih!” Kata Edi dengan lahap menyantap makanannya.
“Kamu kan enak! Kamu orangnya lucu. Tinggal ngaca aja pasti langsung gak sedih!” kata Dina sambil tertawa.
“Nah, gitu dong! Kalo ketawa kan kamu keliatan lebih cantik.” Kata Edi.
Dina tersipu malu.
“Oh iya, kamu kenapa tinggal sendirian?” Tanya Dina.
“Orang tua ku meninggal kecelakaan. Habis itu aku tinggal bersama adik perempuanku. Lalu dia meninggal karena sakit. Setelah itu, aku harus hidup sendiri.” Jawab Edi dengan santai seolah bukan beban hidup.
“Apa kamu gak menikah?” Tanya Dina.
Edi termenung sejenak lalu tersenyum.
“Jujur, aku trauma dengan wanita.” Jawab Edi sambil tersenyum.
“Trauma gimana?” Tanya Dina.
“Dari zaman aku sekolah, aku selalu gagal mendapatkan wanita. Para wanita yang ku nyatakan cinta, mereka hanya tertawa dan menghinaku. Padahal awalnya mereka memberiku sebuah harapan. Makanya sampai sekarang, aku menganggap bahwa para Wanita itu hanya orang-orang yang mempermainkan hidup orang lain dengan harapan-harapan palsu demi kesenangannya sendiri.” Kata Edi menjelaskan alasan traumanya.
“Gak semua wanita. Aku gak seperti itu kok!” protes Dina.
“Ya. Aku tahu makanya aku memutuskan untuk berteman denganmu.” Jawab Edi.
“Kalau kamu, kenapa gak menikah?” Edi balik bertanya.
Dina termenung dan tak menjawab. Wajahnya seketika berubah menjadi murung. Edi menatap Dina yang terus diam seribu bahasa. Ia mengenggam telapak tangan Dina yang terasa dingin.
“Beban akan terasa berat jika kita pikul sendiri, dan akan terasa ringan jika kita menceritakannya kepada orang lain!” Kata Edi sambil tersenyum menatap Dina.
Dina menatap wajah Edi yang penuh keseriusan. Ia menarik nafas dengan dalam lalu bercerita.
“Dulu aku tinggal dengan bapakku dan abangku. Ketika aku SMA, bapak memperkosaku.” Kata Dina sambil mulai menangis.
Edi langsung merangkul dan mengusap-usap punggung Dina.
“Jika itu memang terlalu berat untuk diceritakan, kamu bisa berhenti!” Kata Edi sambil terus berusaha menenangkan Dina.
Dina kembali menarik nafas panjang dan mengusap air matanya lalu lanjut bercerita.
“Setelah itu, bapak tewas terbunuh oleh abangku karena abangku tahu kalau bapak telah memperkosaku. Setelah itu, aku berpisah dengan abang selama 8 tahun karena ia harus dipenjara. Lalu kami bertemu kembali dan hidup bersama selama 10 tahun. Tapi, selama 10 tahun, abang hidup menjadi orang jahat. Ketika ia baru saja ingin menjadi orang baik, ia harus tewas dibakar hidup-hidup oleh Mafia. Makanya aku pikir bahwa lelaki itu hanyalah orang yang haus akan nafsu dan kekuasaan.” Kata Dina.
“Gak semua lelaki. Aku gak seperti itu kok!” protes Edi.
Dina menatap Edi, dan Edi pun menatap Dina.
“HAHAHA!!!” tiba-tiba saja mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena kalimat protes yang keluar dari mulut mereka ternyata sama persis.
“Ternyata kita sama-sama punya trauma terhadap lawan jenis.” Kata Edi sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding.
“Iya juga, ya!” kata Dina sambil tertawa.
“Terus, apa yang mau kamu lakukan selanjutnya? Apakah akan tetap menyimpan trauma itu?” Tanya Edi.
“Entahlah.” Jawab Dina sambil menatap langit-langit.
“Kalo aku… aku mau menyembuhkan trauma ini. Aku ingin menikahimu!” Kata Edi.
Dina terhentak mendengar perkataan Edi.
“Hah??? Menikah denganku???” Tanya Dina terkejut.
Edi mengangguk.
“Maaf! Tapi aku butuh waktu. Ini terlalu cepat.” Kata Dina.
“Ambilah waktu sebanyak yang kau mau! Aku akan tetap menunggumu!” Kata Edi dengan tatapan serius.
Setelah selesai makan, Edi segera pamit untuk pulang karena sudah tengah malam. Edi pergi meninggalkan Dina yang dihantui dengan perasaan bingung. Baru saja hari ini ia mengenal Edi, namun tiba-tiba lelaki itu sudah melamarnya. Dina benar-benar bingung dengan semua hal yang terjadi begitu cepat.
Keesokan harinya, Dina bekerja seperti biasa.
“Permisi mbak!” Kata Edi dengan pakaian wanitanya.
“Edi? Ngapain kamu pake baju wanita gitu?” Tanya Dina keget.
“Ya kerja, dong!” Kata Edi dengan bibir yang penuh lipstik itu mengeluarkan senyuman.
“HAHAHA!!! Aku lupa!” kata Dina sambil tertawa.
“Habis, kamu kemaren dateng dengan tampilan sebagai pria, sekarang pake baju perempuan. Makanya aku lupa.” Lanjut Dina.
“Iya. Kemaren aku libur. Hari ini, aku kerja lagi. Kamu kapan libur?” Tanya Edi.
“Hmmm…besok.” Jawab Dina.
“Kalo gitu, besok siang jalan yuk!” Ajak Edi.
“Yuk! Kemana? ” Dina bertanya balik.
“Hmmm… karaoke?” Kata Edi.
“Boleh.” Kata Dina sambil tersenyum.
“Yaudah ya boooo… ekeu mangkal dulu!” pamit Edi.
“Iyaaa… hati-hati ya! Awas ada razia!” Kata Dina melambaikan tangan sambil tertawa.
Sementara itu di tempat lain…
Beberapa orang dari kelompok Keluarga Pangestu masuk kedalam rumah Sadam yang dulu pernah ditinggali Sadam di Jakarta. Rumahnya masih penuh oleh barang-barang yang hancur berantakan. Mereka menemukan foto milik keluarga Sadam. Seseorang mengambil foto dari kamera ponselnya. Dan mengirimkannya kepada Bos besar.
“Hmmmm…Jadi ini cecunguk yang membuat onar dengan bisnisku!” Kata Bos Besar setelah menerima foto dari anak buahnya.
Bos besar lalu menelpon Randy.
“Halo, Randy!” Kata Bos Besar.
“Halo, Om!” jawab Randy.
“Om barusan kirim foto ke hape mu. Itu adalah foto cecunguk yang mencoba bermain-main dengan kita.” Kata Om.
“Kenapa om kirim ke Randy? Bukannya dia di Jakarta?” Tanya Randy menutupi fakta bahwa Sadam ada di Bandung.
“Anak buah om bilang, Rumahnya kosong. Kemungkinan, ia pergi dari Jakarta. Dan Om punya feeling yang kuat kalo dia kabur ke Bandung.” Kata Om.
Randy langsung berkeringat dingin.
“Om akan kirim beberapa anak buah untuk mencari ke Bandung. Kamu fokus sama rencana awal kita!” Lanjut Om berbicara.
“Baik, Om!” Kata Randy.
Telepon pun berakhir.
Beberapa bencong berbaris sambil menggoda beberapa orang yang melintas dihadapan mereka. Mereka pun menawarkan jasa mereka kepada setiap kendaraan yang lewat. Erni alias Edi melambaikan tangannya untuk menghentikan kendaraan yang melintas di depannya. Tapi, tak ada satupun kendaraan yang mau membeli jasanya. Hari ini Erni masih belum dapat pelanggan satu orang pun.
“Masih sepi, boooo?” Tanya seorang bencong pada Erni.
“Iya nih! Apa karena ekeu udah makin tua ya?” Tanya Erni sambil melihat kulit-kulit tangannya yang sudah sedikit demi sedikit berkeriput.
“Lagian, udah tuwir masih aja mangkal, nanti mati loh!” Kata bencong itu sambil tertawa.
“Heyyy… jangan sembarangan yey! Ekeu nih biar tua masih tetep sehat loh booo…” Protes Erni.
“Kuat body, tapi kalo sedotannya kurang kuat and penampilan gak oke, yey cuma buang-buang waktu. Gak akan mungkin dapet pelanggan.” Kata bencong itu terus menasehati Erni.
Erni mengeluarkan cermin di tasnya dan lalu bercermin.
“Iya juga ya! Wajah ekeu udah makin keriput nih. Bibir ekeu juga udah mulai keriput kayak lubang pantat.” Kata Erni sambil bercermin.
“Tuh kan! Mending sekarang yey pulang, terus besok cari kerjaan lain deh!” kata bencong itu.
“Yaudah deh! Lagian besok ekeu udah ada janji. Ekeu cabut ya cyiinnn!!!” Kata Erni pamit kepada para bencong lainnya.
Belum jauh kedua kakinya melangkah, 2 orang bertubuh kekar menghalangi jalannya.
“Lu Edi?” Tanya kedua orang itu.
“Ihhhh… ekeu Erni!” Kata Erni dengan manja.
“iya nama asli lu Edi. Lu punya utang kan sama Om Bear, kan?” Tanya kedua lelaki bertubuh kekar itu.
Om Bear adalah salah seorang dari banyaknya mucikari yang menaungi para bencong di Kota Bandung. Dahulu kala Edi bekerja dibawah naungan Om Bear, namun karena Edi banyak terlilit hutang dengan Om Bear, Edi kabur dan akhirnya ia bekerja sendiri tanpa membutuhkan mucikari.
“Ayo. Bayar utang lu!” tagih kedua lelaki itu.
Edi benar-benar tak bisa berkutik. Ia ingin kabur dari kedua orang itu, namun ia sedang memakai hak tinggi dan tak akan bisa berlari dengan bebas.
“Duuuhhh…ekeu belum punya uang nih! Besok deh ya!” Kata Edi mengelak.
“Oke. Gua tunggu lu besok di Alun-alun. Kalo gak dateng, lu tau akibatnya!” Kata dua orang itu mengancam.
“Ekeu janji deh… besok sore ya!” pinta Edi.
“Oke. Tapi malam ini gua gak bisa lepasin lu gitu aja.” Kata salah seorang dari lelaki itu.
“Maksudnya?” Tanya Edi kebingungan.
Beberapa saat kemudian…
Di sebuah bangunan kosong, Edi tergeletak tak berdaya dengan muka babak belur dan bersimbah darah. Ia memegangi perutnya yang amat terasa sakit. Sedangkan mulut nya terus mengeluarkan darah. Meski dalam keadaan babak belur sambil menahan rasa sakit, ia mencoba berdiri dan berjalan keluar dari bangunan tua itu. Ia terus berjalan dengan pakaian yang compang camping sambil memegangi perutnya yang telah menerima beberapa kali pukulan dan siksaan. Ia benar-benar sudah tidak kuat lagi untuk berjalan ke rumahnya. Meskipun perjalanan ke rumahnya tidak terlalu jauh, namun karena rasa sakit yang ia derita membuat perjalanan terasa amat sangat jauh.
“Tolong…” teriaknya dengan lemah.
Namun karena jalan ini begitu sepi tanpa ada seorang pun yang melintas, maka tak ada satu pun orang yang mendegar rintihannya. Edi tak sadarkan diri diantara deretan toko-toko yang telah tutup.
Keesokan harinya…
Orang-orang berkumpul mengerubungi jasad Edi dan mengira Edi adalah mayat. Edi membuka mata dan terkejut dengan kerumunan itu.
“Woy! Pergi! Gua bukan mayat!” Kata Edi mengusir kerumunan.
“Baguslah! Kirain mayat. Bakal ngerepotin pasti.” Kata seseorang sambil berlalu.
Edi masih merasakan rasa nyeri di perutnya. Namun tidak sesakit semalam. Ia berjalan menuju rumahnya dengan tergopoh-gopoh. Ia istirahatkan sejenak tubuhnya diatas kasur lalu kembali berdiri untuk segera mandi dan berdandan se-tampan mungkin.
Siang harinya…
“Tok…tok…tok…” suara pintu Rumah Dina terdengar diketuk.
Dina yang telah tampil secantik mungkin, berjalan membukakan pintu. Dina sangat terkejut ketika membuka pintu dan medapati wajah Edi yang dipenuhi oleh lebam.
“Wajah kamu kenapa bonyok gitu?” Tanya Dina sambil menyentuh lebam di wajah Edi.
“Awwww…! Jangan disentuh!” Kata Edi meringis kesakitan saat Dina menyentuh luka lebamnya.
“Maaf! Sakit banget ya?”
“Ini mah luka kecil, namanya juga resiko pekerjaan. Yuk cabut!” ajak Edi.
Dina segera mengunci pintu rumahnya dan berjalan sambil memperhatikan luka lebam pada wajah Edi.
“Kamu kenapa?” Tanya Edi yang merasa tak nyaman terus diperhatikan oleh Dina.
“Kamu yakin itu gak apa-apa?” Tanya Dina yang khawatir dengan kondisi Edi.
“Gak apa-apa. Cuma dipukulin sama preman yang malak. Untung aku hajar mereka juga. Mereka pasti lebih bonyok dari aku.” Kata Edi berbohong.
Dina mencoba untuk tidak khawatir dan menikmati harinya bersama Edi.
Mereka telah sampai di tempat karaoke. Keduanya sangat bersenang-senang dan terus menyanyi sambil sesekali menari. Tawa mereka begitu lepas seolah mereka bisa melupakan masalah mereka masing-masing. Dina bisa tertawa lepas meskipun ia sedang dilanda kesedihan akibat putusnya hubungan dengan Sadam dan Tiara. Sedangkan Edi bisa tertawa lepas meskipun ia sedang terlilit hutang. Bahkan keduanya benar-benar seolah melupakan trauma masa lalu mereka.
Tak terasa, sang surya telah terlelap berganti dengan bulan sabit diatas langit. Setelah dari tempat karaoke, mereka memutuskan untuk makan malam bersama. Lalu Edi akan mengantar Dina untuk pulang. Begitulah rencananya.
Dalam perjalanan pulang, Edi memberanikan diri untuk menggandeng tangan Dina. Dina yang merasakan telapak tangan Edi sedang menggenggam telapak tanganya, tak mencoba untuk melepaskannya. Edi menoleh dan menatap wajah Dina yang seolah bersinar. Dina pun menatap wajah Edi yang juga tampak bersinar meski babak belur. Edi mendekatkan wajahnya pada Dina. Dina sangat mengerti apa yang akan dilakukan Edi, Dina memejamkan kedua matanya. Bibir Edi semakin mendekat dengan bibir Dina. Bahkan, kini Dina bisa merasakan hembusan nafas dari hidung Edi yang menerpa wajahnya.
Sayangnya, adegan romantis mereka harus terganggu ketika tiba-tiba dua orang bertubuh kekar membekap Dina dan Edi lalu membawanya masuk kedalam mobil. Didalam mobil, mereka disuntikan obat bius agar tidak berontak dan tak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian di sebuah tempat entah dimana…
Gelap. Hanya itu yang bisa terlihat oleh Dina maupun Edi. Sampai akhirnya kain yang melilit mata mereka terbuka. Edi memincingkan mata karena cahaya lampu menerpa wajahnya secara tiba-tiba, begitupun Dina. Tubuh mereka berdua terikat disebuah kursi di tengah sebuah gudang tua.
“Om bear?” Tanya Edi setelah melihat seseorang yang tidak asing baginya.
Seorang lelaki tua berusia 65 tahun dengan tubuh besar dan memakai kemeja berwarna ungu dengan kancing atas yang terbuka, serta emas putih yang melilit lehernya
“Om maafin saya, om! Saya pasti bayar hutangnya!” Kata Edi memohon.
“SShhhhhh…!” Om Bear menaruh telunjuknya pada bibir Edi.
“Tenang saja! Hari ini kamu akan segera membayarnya kok.” Kata Om Bear.
Edi tidak bisa menangkap apa maksud dari ucapan Om Bear. Lalu, tak lama seorang Dokter berjalan kearah Om Bear dan pamit untuk pergi dari tempat ini. Namun, Om Bear memperkenalkan dulu dokter tersebut kepada Edi dan Dina yang masih terikat diatas bangku. Dokter itu sangat terlihat cantik dan tubuhnya yang cukup seksi dibalut jas dokter berwarna putih yang tampak kekecilan.
“Ini Dokter Vivian. Dia sudah memeriksa ginjal kalian tadi. Setelah sekian lama, akhirnya Dokter Vivian menemukan ginjal yang cocok didalam tubuh salah satu dari kalian.” Kata Om Bear.
Dina menatap Edi sambil melotot ketakutan. Edi pun menatap mata Dina dan ingin sekali memohon maaf karena dirinya, Dina jadi ikut terseret kedalam masalah pribadinya.
“Maksud Om, Saya bayar hutang saya dengan ginjal yang saya punya?” Tanya Edi.
“Bukan.” Kata Om Bear tersenyum.
“Tapi dengan ginjal miliknya.” Tunjuk Om Bear kepada Dina.
Edi langsung menatap kearah Dina dengan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya. Dina tak bisa berkata apa-apa. Hanya diam seribu bahasa karena ia seperti disambar oleh petir.
“Kalo gitu, saya pergi sekarang! Bos sudah dalam perjalanan.” Pamit Dokter Vivian.
“Mari, saya antar sampai gerbang!” kata Om Bear dengan ramah.
“ OM BEAR!!!! TOLONG JANGAN LIBATKAN DINA!!!” Kata Edi berteriak.
“Bukkkk!!!” sebuah pukulan menghantam wajahnya yang dilayangkan oleh anak buah Om Bear.
Dina masih menangis tak percaya karena hari ini ia akan kehilangan salah satu ginjalnya.
Sesaat kemudian, Om Bear telah kembali setelah mengantar Dokter Vivian dan kali ini ia tak sendirian. Ada Randy di sampingnya. Randy melihat tubuh Dina dan Edi yang terikat di sebuah kursi. Dina masih tertunduk sambil menangis dan tak menyadari bahwa Randy pembunuh abangnya sedang berdiri tepat di hadapannya.
“Wanita itu yang akan menjadi pendonornya, Bos!” Kata Om Bear pada Randy.
“Lepaskan ikatan mereka! Saya jamin mereka tidak akan kabur.” kata Randy dengan wajah datar.
Om Bear menyuruh anak buahnya untuk melepaskan ikatan pada Edi dan Dina. Randy berjalan mendekati Dina yang masih tertunduk menangis.
“WOYYY!!! JANGAN DEKETIN DINA!!!!” Kata Edi menahan tubuh Randy yang mencoba mendekati Dina.
Randy menatap tajam pada Edi. Ada sebuah tatapan putus asa yang terlihat pada kedua bola mata Edi.
“Tenang saja, saya tidak akan menyakitinya!” kata Randy sambil melepaskan tubuhnya yang di tahan oleh Edi.
Randy terus berjalan mendekati Dina yang tertunduk.
“Saya turut berduka atas kematian abang mu!” Randy membungkuk dan mendekati wajah Dina lalu berkata tepat di daun telinga Dina.
Mendengar perkataan Randy, membuat Dina sangat terkejut. Ia menengadahkan wajahnya. Kini, wajah Randy benar-benar tepat berada didepan wajahnya. Wajah yang tak mungkin pernah ia lupakan seumur hidupnya. Wajah seorang lelaki yang telah membunuh abangnya.
Dina terus menatap Randy dengan darah yang mendidih. Ia terus teringat dengan senyuman terakhir di wajah abangnya.
“Cuiihhhh…” Dina meludah ke wajah Randy.
Randy mengambil sapu tangan di saku celananya lalu membasuh ludah Dina di wajahnya.
“AAAARRRGGGHHHH!!!” Dina lalu melompat sambil berteriak dan menangis, membuat tubuh Randy tersungkur diatas lantai kotor gudang ini.
Dina terus menampar wajah Randy serta memukuli tubuh Randy yang ia tindih dengan tubuhnya. Beberapa anak buah Om Bear mulai melangkah dan berniat untuk menghentikan Dina. Namun, Randy memberi isyarat pada mereka untuk berhenti dan membiarkan Dina melakukan hal yang diinginkannya.
Dengan teriakan dan tangisannya Dina terus memukuli Randy yang tak berniat melawannya. Edi hanya diam dan mematung karena bingung dengan apa yang membuat Dina begitu kesal dengan Randy. Dina hendak mendaratkan tamparan yang terakhir, namun Randy menahannya.
“LEPASIN TANGAN GUA BANGS*T!” bentak Dina yang pergelangan tangannya telah di cengkram erat oleh Randy.
“Kau bisa melakukan semua yang kau mau padaku, bahkan membunuhku. Tapi tolong selamatkan dulu anakku!” Kata Randy menatap wajah Dina.
Mendengar perkataan Randy, membuat tubuhnya menjadi lemah dan limbung. Dina jatuh diatas tubuh Randy. Ia berteriak dan menangis sekuat tenaganya. Air mata mengalir deras membasahi kemeja Randy. Sedangkan Randy hanya telentang menghadap langit dengan tatapan kosong membiarkan Dina menangis sepuasnya diatas tubuhnya.
“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan mendonorkan ginjalku untukmu?” Tanya Dina sambil menatap Randy dengan kesal.
“Kau lihat laki-laki itu!” tunjuk Randy pada Edi.
Dina menengokan wajahnya kearah Edi.
“Siapa lelaki itu?” Tanya Randy.
Dina masih terdiam membisu sambil menatap Edi.
“Bukankah dia orang yang sangat penting di hidupmu?” Tanya Randy.
Dina terus menatap Edi sambil menangis.
“Orang itu terlilit hutang yang sebesar gunung. Jika bukan kamu yang membantunya, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Om Bear terhadapnya. Apa kamu siap kehilangan lagi orang yang sangat penting dalam hidupmu?” Tanya Randy.
Perkataan Randy membuat perasaan Dina menjadi campur aduk. Dina sangat tidak ingin mendonorkan ginjalnya pada orang yang telah membunuh abangnya, namun di sisi lain ia juga sadar bahwa ia mulai mencintai Edi.
“Dina, jangan dengarkan perkataannya! Kamu gausah bantu aku! Biar aku yang menyelesaikan masalahku! Jangan kau korbankan dirimu hanya untuk orang yang bukan siapa-siapa dalam hidupmu!” Kata Edi memohon pada Dina.
“DIAM!!!” Dina membentak Edi.
“Tau apa kau soal hatiku? Menyelesaikan masalahmu? Membayar hutangmu? SAMPAI KAPAN??!! SAMPAI KAPAN KAU BISA MEMBAYAR HUTANGMU DENGAN BEKERJA SEBAGAI BENCONG DI PINGGIR JALAN??!!” Dina terus membentak Edi.
Edi hanya terdiam seribu bahasa sambil meratapi Dina.
“KAU ADALAH ORANG PENTING DALAM HIDUPKU!!! Aku gak bisa lagi kehilangan orang yang aku cinta…! Aku…Aku…” Belum sempat Dina menyelesaikan perkataannya, Edi berlari kearahnya dan mencium bibir Dina.
“Cukup! Jangan terus berbicara yang membuat hatiku hancur. Hatiku hancur untuk menerima kenyataan bahwa aku gak bisa melindungi kamu. Hatiku hancur karena orang yang kucintai berkorban untuk aku yang hanya seorang lelaki tak berdaya.” Kata Edi sambil menangis dan menempelkan dahinya pada dahi Dina.
Dina terus menangis di hadapan Edi. Dina harus menerima kenyataan bahwa rasa cintanya kini lebih besar dibandingkan dendam dan amarahnya selama ini.
Dina mendorong tubuh Edi hingga tersungkur kebelakang.
“Ayo Randy! Kita pergi dari sini!” Ajak Dina lalu berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
Randy pun segera bangun dan mengekori Dina menuju pintu keluar.
“DINA!!! JANGAN KORBANKAN DIRIMU!!!” Teriak Edi yang hendak berlari menghentikan Dina.
Beberapa anak buah Om Bear menahan tubuh Edi yang hendak berlari untuk menghentikan Dina.
“Nanti uangnya saya transfer!” kata Randy pada Om Bear.
“Baik. Senang berbisnis dengan anda!” Kata Om Bear sambil mengajak Randy berjabat tangan.
Randy menjabat tangan Om Bear dan lalu berjalan kembali mengekori Dina hingga ke mobil.
Didalam mobil menuju Rumah Sakit…
“Kenapa waktu itu kau bunuh abangku?” Tanya Dina sambil meratapi foto abangnya yang ia simpan didalam dompet.
Randy terdiam sejenak dan menghela nafas panjang.
“Alasan yang sama saat Dani membunuh Iwan.” Jawab Randy sambil mengemudikan mobilnya.
“Apa? Bang Dani membunuh Bang Iwan?” Tanya Dina sambil menoleh kearah Randy.
Randy mengangguk.
“Gak mungkin! Mereka itu bersahabat.” Kata Dina tidak mempercayainya.
Randy lagi-lagi menghela nafas panjang lalu berbicara.
“Hidup ini selalu butuh pengorbanan. Ada saatnya kita harus tetap hidup dan mengorbankan orang lain, ada saatnya kita berkorban demi hidup orang lain.” Jawab Randy.
Dina seketika bungkam mendengar perkataan Randy.
“Dani harus hidup untuk terus menjagamu, makanya ia mengorbankan hidup sahabtnya Iwan. Tapi setelah itu Dani mengorbankan dirinya, agar kamu bisa tetap hidup.” Kata Randy.
Dina kembali meratapi foto abangnya dan mulai kembali meneteskan air mata.
“Apa yang kulakukan sekarang, sama dengan apa yang dilakukan oleh abangmu Dani. Aku harus hidup untuk merawat anakku sampai sembuh. Karena di kelompok kami, gagal dalam tugas artinya mati. Kalau aku gak bunuh Dani, aku akan dibunuh oleh Om ku. Setelah mendapatkan ginjalmu dan anakku sembuh, kau bisa membunuhku untuk membalas kematian Dani. Itu lebih baik daripada kamu menyimpan dendam pada anakku di kemudian hari yang malah bisa mengancam keselamatannya. Aku rela mengorbankan hidupku untuk anakku.” Lajut Randy.
Dina menatap wajah Randy yang penuh akan keseriusan.
“Kenapa kamu gak bunuh aku, lalu mengambil ginjalku secara paksa? Bukankah itu lebih mudah ? Dan juga kau tak perlu mengorbankan nyawamu.” Tanya Dina.
“Maaf! Tapi aku tidak pernah membunuh orang yang tak berdosa sepertimu.” Jawab Randy.
Dina kembali terdiam dan menatap wajah Randy.
Perjalanan mereka telah sampai di Rumah Sakit. Setelah memarkirkan mobil, mereka turun dan lalu berjalan kedalam Rumah Sakit. Saat berjalan di lorong, mereka berdua berpapasan dengan Sadam. Dengan wajah yang masih pucat, Sadam sangat terkejut melihat Dina sedang berjalan berdampingan dengan Randy.
“Dina! Ngapain kamu bersama Randy? Hati-hati dia orang yang telah membunuh Dani!” Sadam mewanti-wanti Dina.
Dina menatap sinis kepada Sadam.
“Kita sudah tidak ada ikatan apapun. Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu!” Dina lalu kembali berjalan bersama Randy menuju kamar Raymon meninggalkan Sadam yang berdiri menatap mereka berdua.
“DINA!!!” teriak Sadam.
Dina tidak menghiraukan panggilan Sadam dan terus berjalan bersama Randy.
Sesampainya di kamar Raymon, Raymon tampak tertidur pulas diatas ranjang. Dina meratapi Raymon yang tertidur pulas dengan tatapan iba. Lalu Dina baru teringat dengan perkataan Sadam yang baru saja bertemu dengannya di lorong Rumah sakit.
“Kau dan Sadam rupanya sudah saling kenal. Kenapa kau tidak membunuh Sadam?” Tanya Dina penasaran.
“Aku sedang menguji keberuntungan Sadam.” Jawab Randy.
“Maksudnya?” Tanya Dina kebingungan.
“Aku bilang padanya bahwa, kita gak pernah tahu aku akan membunuhnya atau tidak. Dan aku juga bilang padanya bahwa, kita gak pernah tahu bahwa Raymon mati atau tidak. Keputusanku bergantung kepada kesembuhan dan kematian Raymon. Jika Raymon sembuh, maka aku tidak akan membunuh Sadam. Jika Raymon mati, aku akan membunuh Sadam. Kata Randy.
“Jadi, jika aku mendonorkan ginjal ini dan anakmu sembuh, kau tidak akan membunuh Sadam?” Tanya Dina.
“Ya begitulah. Aku tidak akan membunuh Sadam karena kau akan membunuhku terlebih dulu. Sayangnya, meskipun aku tidak akan membunuh Sadam, tapi orang-orang itu akan terus mencarinya.” Jawab Randy.
Dina berpikir sejenak.
“Ayo kita temui Dokter agar segera dilakukan pencakokan ginjal!” Ajak Randy sambil berjalan keluar kamar.
“Tunggu. Aku ingin mengubah kesepakatan!” Kata Dina.
“Apa yang ingin kau ubah?” Tanya Randy.
“Aku tidak akan membunuhmu. Aku ingin kau hidup melindungi Sadam dan Tiara!” Kata Dina.
Randy berpikir sejenak.
“Baiklah. Aku berjanji akan melindungi Sadam sekuat tenaga, tapi aku tidak berjanji untuk membuatnya tetap hidup! Karena itu adalah tugas Tuhan.” Kata Randy.
Dina menyetujui kesepakatan Randy.
3 jam setelah melakukan operasi pencakokan ginjal…
Dina akhirnya sadarkan diri. Disampingnya, terdapat Edi yang sudah menunggu kehadirannya. Saat ia mengetahui bahwa Dina sudah sadar, Edi lalngsung memeluk dan mencium bibir Dina.
“Terima kasih… kau sudah berkorban untukku!” kata Edi.
Dina tersenyum dan kembali mencium bibir Edi.
“Seseorang bilang padaku bahwa hidup ini selalu butuh pengorbanan. Ada saatnya kita harus hidup dan mengorbankan orang lain, ada saatnya kita berkorban untuk hidup orang lain.” Kata Dina sambil tersenyum.
“Apa maksud kamu?” Tanya Edi bingung.
“ Abangku telah mengorbankan hidupnya demi kehidupanku. Ini adalah saatnya aku mengorbankan ginjalku untuk hidupmu, hidup Raymon, hidup Sadam, dan hidup Tiara!” Kata Dina tersenyum.
Edi benar-benar terharu dengan kata-kata yang keluar dari mulut Dina meskipun Edi tak mengenal siapakah Raymon, Sadam, dan Tiara. Ia hanya menangkap bahwa wanita ini telah mengorbankan salah satu ginjalnya untuk kehidupannya.
“Dina, menikahlah denganku dan biarkan aku menjagamu. Membalas apa yang telah kau lakukan untukku!” Edi kembali melamar Dina.
Dina berpikir sejenak dan terdiam. Lalu ia tersenyum dan mengangguk.
“Beneran?” Tanya Edi.
Dina kembali mengangguk sambil tersipu malu.
“HOREEEE!!!!” Teriak Edi kegirangan.
“SHHHH… ini rumah sakit!” kata Dina sambil membekap mulut Edi.
Mereka berdua sudah siap memulai hidup baru dan menyembuhkan trauma mereka di masa lalu. Trauma yang akhirnya sembuh oleh cinta.
Di kamar lain…
“Operasi pencakokan telah berhasil. Mungkin masih akan ada efek samping selama 2-3 minggu. Obatnya terus diminum secara rutin ya, pak! Hari ini Raymon sudah dinyatakan sembuh. Setelah efek obat biusnya hilang, dan Raymon tersadar. Maka kalian sudah boleh pulang!” Kata Dokter pada Randy.
“Makasih, Dok!!!” kata Randy sambil memeluk Dokter.
Dokter pun turut senang dan bahagia akan kesembuhan Raymon.
“Raymon! Kamu denger itu nak? Kamu udah sembuh! Kita bisa pulang. Kamu bisa main lagi sama papa.” Kata Randy sambil mengusap-usap kepala Raymon yang belum sadar akibat efek obat bius.
Di kamar lainnya lagi…
Sadam meratapi Tiara yang masih terbaring koma. Ia mencium pipi lembut Tiara.
“Nak, ayo bangun! Ayah rindu melihatmu bermain biola.” Kata Ayah sambil meletakan Biola warisan istrinya disamping Tiara.