Harta Terbaik Di Dunia

5019 Kata
“Tiara, doain ayah supaya hari ini dapet kerja ya!” Pamit Sadam sambil mencium pipi dan kening Tiara yang masih koma. Sadam menutup pintu kamar dengan rapat. Meninggalkan buah hatinya yang masih terpejam. Dengan wajah yang masih pucat karena badannya masih meriang, ia berjalan di lorong sambil menggendong tas ransel yang tak terlalu besar. Didalamnya, ia membawa beberapa map berisi surat lamaran. Setelah diluar rumah sakit, Sadam menghentikan langkahnya dan mengecek isi dompetnya. “Yah…sisa 5000!” Gumam Sadam. Uangnya didalam dompetnya telah habis. Meskipun sebenarnya Sadam masih memiliki tabungan sebesar 2 juta. Namun, ia tidak berani menyentuh uang itu karena akan dipakainya untuk nanti ia cari rumah sebagai tempat tinggal ketika Tiara telah sadar. “Terpaksa jalan kaki, deh!” Kata Sadam lalu melangkahkan kakinya. Karena angin berhembus dari arah timur ke barat, maka ia putuskan untuk berjalan kearah barat terlebih dahulu mengikuti kemana angin berhembus. Untungnya pagi hari ini terlihat cerah, membuat semangat Sadam berkobar seperti sang surya. Siang harinya, terik matahari begitu menyengat. Membuat kemeja batik yang Sadam pakai sedikit basah kuyup oleh keringatnya, Sadam merehatkan diri sejenak disebuah warung di pinggir jalan sambil menikmati minuman segar dalam kemasan gelas sambil memandangi kendaraan yang lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. “Permisi, bu! Boleh minta tisu?” Tanya Sadam. “Ambil aja, mas di depan!” Kata si ibu pemilik warung sambil menunjuk ke sebuah tempat tisu yang terbaring diatas meja. Sadam mengambil 2 helai tisu itu untuk membasuh wajah dan tengkuknya yang berkeringat. Ia lalu menurunkan tas ranselnya dan mengecek map didalam tasnya. “Huufffttt… tinggal 2 perusahaan lagi.” Gumam Sadam. Setelah berterima kasih kepada ibu pemilik warung, Sadam melanjutkan perjalanannya mencari kerja. Belum jauh kakinya melangkah, Sadam mulai merasakan kepalanya yang sedikit pusing. Tangannya bertumpu pada sebuah pohon besar dipinggir trotoar. Pandangannya menjadi tidak jelas dan wajahnya semakin pucat. Suara bising kendaraan terdengar seolah sangat keras seperti hendak menghancurkan gendang telinganya. Kakinya mulai lemas tak dapat lagi menopang beban tubuhnya. Sadam lalu menyenderkan tubuhnya sejenak pada batang pohon tersebut. Ia pejamkan matanya untuk sesaat dibawah pohon rindang. Nafasnya semakin berat dan tak teratur. Tubuhnya benar-benar lemas. Saat memejamkan kedua matanya, tiba-tiba ingatannya membawanya ke masa lalu. Masa saat Sadam berusia 12 tahun… “Sadam… Ayo bangun! Nanti terlambat ke Sekolah.” Teriak ibunya dari luar kamar. Sadam masih terbaring diatas kasur dengan wajah pucat dan kepalanya yang terasa sangat pusing. Tubuhnya masih terbaring dibalik selimut yang membuat suhu tubuhnya tetap hangat. Meskipun sudah dibalut selimut, Sadam tetap saja masih menggigil kedinginan. Tangan kirinya ia dekatkan ke mulutnya, lalu Sadam bisa merasakan bahwa hawa nafasnya terasa sangat hangat. “Sadam… ayo bangun!” Kata Ibu mencoba menggoyangkan tubuh Sadam agar bangun dari tidurnya. “Sadam gak enak badan bu!” keluh Sadam. “Kamu sakit?” Tanya Ibu sambil memegang dahi Sadam. Sadam tak menjawab. Ia hanya terus menggigil kedinginan. “Yaudah. Kamu gak usah sekolah. Istirahat aja!” Kata Ibunya. Ibu lekas turun kebawah dan meninggalkan Sadam untuk beristirahat. Tak lama kemudian, Ibu sudah kembali dengan membawa semangkuk bubur buatannya. “Ini makan bubur dulu! Ibu mau ke warung beli obat.” Kata Ibu sambil meletakkan bubur di meja samping kasur. Sadam masih menggigil kedinginan dan tak mau beranjak dari tempat tidur. “Loh, kok buburnya belum di makan?” Tanya ibu setelah kembali dari warung. “Sadam gak nafsu makan, Bu!” Kata Sadam yang masih meringkuk di kasur. “Kalo gak di makan, mau kapan sembuhnya?” Tanya Ibu sambil mengambil makngkuk bubur. “Sini, Ibu suapin!” Kata Ibu sambil membuka selimut Sadam dan sedikit menarik tangan Sadam agar terbangun dari ringkukannya. Ibu menyuapi Sadam dengan penuh kasih sayang. Sadam begitu lahap memakan setiap suapan yang ibu berikan. “Wuuiihhh katanya gak nafsu, tapi kok habis?” Kata Ibu sambil tertawa. Sadam tak berkomentar dan lalu kembali meringkuk setelah selesai makan bubur. “Kamu nih anak laki-laki tapi manja banget! Harus disuapin baru mau makan.” Sambil tersenyum ibu mengejek Sadam. “Nih, di minum obatnya! Ibu mau berangkat mengajar sekarang!” Kata Ibu sambil memberikan obat sirup dan segelas air putih. Sadam kembali bangun dan meminum obat itu. “Wleeekkkk…pahit banget!” keluh Sadam lalu meneguk segelas air putih sampai habis. “Yaaa… namanya juga obat, ya pasti pahit! Kalo manis namanya bukan obat tapi Ibu.” Kata Ibu sambil kembali menyelimuti Sadam dan mengecup keningnya. “Hahaha…iya deh, ibu manis!” kata Sadam yang juga ikut tertawa. Baru saja ibu hendak keluar kamar, Sadam memanggilnya kembali. “Ibu jangan kerja. Temenin Sadam aja!” pinta Sadam. “Kamu nih manja banget, nanti siang juga ibu udah pulang. Kasian murid-murid ibu harus belajar!” Kata Ibu sambil menutup pintu kamar Sadam dengan rapat. Sepulang mengajar… Ibu berjalan kembali menuju kamar Sadam. Disana terdapat Sadam yang tubuhnya semakin melemah. “Sadam, kamu udah baikan?” Tanya Ibu. Sadam hanya terdiam dengan mata terpejam. Ibu kembali menempelkan punggung tangannya ke dahi Sadam. “Ya Allah! Kamu panas banget. Ibu anter ke Dokter ya!” Ajak Ibu. Ketika hendak melangkahkan kakinya keluar pintu, Sadam memanggilnya lagi. “Gausah, Bu. Ibu disini aja temenin Sadam!” Pinta Sadam. Ibu tersenyum menatap Sadam dan lalu membaringkan tubuhnya disamping Sadam dengan masih menggunakan seragam guru. “Kamu ini hobinya berantem. Tapi kalo lagi sakit gini, ternyata masih manja juga.” Ejek ibu sambil menatap wajah Sadam yang terpejam. Ibu mengusap-usap pipi Sadam yang terpejam. Senyuman di bibir ibu menandakan bahwa ia sangat bahagia mempunyai anak semata wayangnya yang begitu haus akan kasih sayangnya. “Ibu hari ini tidur sama Sadam ya!” pinta Sadam sambil membuka matanya sedikit. “Iyaaaa…” Kata Ibu lalu memeluk tubuh Sadam dengan penuh kasih sayang. Sadam merasakan hangatnya kasih sayang yang terpancar dalam diri ibu untuknya. Ibu selalu ada saat Sadam membutuhkannya. Ibu selalu mengobatinya saat ia terluka. Ibu selalu melindunginya dari semua masalah yang menimpanya. Ibu yang selalu berdiri paling depan melawan ayah, saat dulu ayah dulu sering menyiksanya. “Ibu…!” panggil Sadam. “Hmmm?” kata Ibu singkat. “Bacain mantra yang biasa!” “Hmmm…kamu ini… Barakada…Brakadit…brakadam… sembuhkan rasa sakit pada Sadam!” Sadam tersenyum setelah ibunya membacakan mantra penghilang rasa sakit. Sadam memeluk ibunya dengan erat. Dimata Sadam, ibu adalah sesosok malaikat tanpa sayap. “Ibu…” “Hmmm… apa lagi?” “Ibu, adalah Ibu terbaik di Dunia.” “Ya…iyalah! Kamu kan anak ibu. Semua anak pasti akan memuji ibunya, dong!” Kata Ibu sambil tertawa kecil. “Iya juga sih! Tapi, menurut ibu Sadam anak terbaik di Dunia gak?” Tanya Sadam sambil tersenyum meskipun wajahnya pucat. “Hmmmm…enggak!” Kata Ibu sambil tertawa. “Loh…kok gitu?” Tanya Sadam sambil cemberut. “Karena buat Ibu, kamu tuh bukan hanya anak terbaik di Dunia. Tapi buat ibu, kamu adalah harta terbaik di Dunia.” Kata Ibu sambil menatap mata Sadam dengan dalam. “Kenapa Sadam harta terbaik di Dunia?” Tanya Sadam yang bingung. Ibu tersenyum sejenak dan lalu menjawab. “Katakanlah ada seseorang yang memiliki 1 ton berlian, lalu orang itu ingin menukarnya dengan kamu. Ibu pasti gak akan kasih. Bahkan jika seluruh isi Dunia ini ditukarkan dengan kamu. Buat Ibu, itu masih belum sebanding.” Kata Ibu sambil tersenyum. “Bu… Sadam sayang sama Ibu!” Kata Sadam dengan mata yang berbinar. “Lagian mana ada orang yang mau menukar 1 juta ton berlian hanya untuk menukarnya dengan kamu?” Kata Ibu sambil tertawa. “Ahhhh… Ibu gak asik! Padahal Sadam udah tersentuh sama kata-kata Ibu.” Protes Sadam sambil cemberut. Ibu terus tertawa karena berhasil menggoda Sadam. “Memang tidak akan ada orang yang mau menukarkan 1 juta ton berlian untukmu. Karena semua orang tahu. bagi ibu, kamu adalah harta terbaik di Dunia yang tak bisa ditukar dengan apapun.” Kata Ibu dalam hati.   Sadam membuka kedua matanya. Ingatan tentang hari itu bersama ibu sudah hilang dalam kepalanya. Kini ia segera berdiri dan mencoba untuk tidak menyerah dengan rasa sakit di tubuhnya. “Kata Ibu, aku adalah harta terbaik di Dunia. Ibu salah! Aku hanyalah seorang anak yang tidak tau terima kasih yang pergi meninggalkannya sendirian begitu saja. Apakah Ibu masih menungguku? Malam itu, aku malu bertemu Ibu dihadapan Randy. Tapi malam ini, aku akan datang dan mencium kaki Ibu. Aku benar-benar minta maaf karena pergi meninggalkanmu. Aku benar-benar tidak pantas disebut harta, bahkan aku tidak pantas disebut anak.” Pikir Sadam dalam hati. Sadam kembali melangkahkan kakinya pergi dari pohon itu. Meskipun tubuhnya masih meriang, ia tetap melangkahkan kakinya dengan teguh. Hari ini ia benar-benar harus mendapatkan pekerjaan lalu pulang ke Rumah Ibu. Sadam telah sampai di sebuah kafe yang terlihat cukup ramai oleh pengunjung. Dengan langkah gontai, ia menaiki anak tangga untuk masuk kedalam kafe tersebut. “Permisi pak! Ada yang bisa dibantu?” Tanya seorang satpam melihat wajah Sadam yang pucat. “Saya… mau melamar pekerjaan, pak!” Jawab Sadam dengan lemah. “Maaf pak! Kafe ini sedang tidak menerima karyawan baru.” Kata Satpam itu. “Tapi saya lihat di Koran, perusahaan ini membutuhkan Satpam baru.” Kata Sadam. “Tidak mungkin, pak! Jika perusahaan ini membutuhkan karyawan baru, pemiliknya pasti sudah titip pesan pada saya!” Kata Satpam itu. “Boleh saya bertemu dengan pemiliknya terlebih dahulu? saya sudah berjalan jauh, pak!” Tanya Sadam. “Gak bisa. Pemiliknya sedang tidak berada disini.” Satpam itu dengan halus terus mencoba mengusir Sadam. “Kalo gitu biar saya bertemu dengan manajernya!” Sadam terus memaksa dan mencoba menerobos masuk. Satpam terus mencegah Sadam yang hendak masuk kedalam kafe. “Kalo saya bilang tidak bisa, ya tidak bisa!” Kata Satpam itu sambil mendorong tubuh lemah Sadam hingga jatuh tersungkur. “SANA PERGI!” Usir Satpam itu dengan membentak. Sadam kembali berdiri dengan pantang menyerah. Ia kembali mencoba sekuat tenaga untuk dapat masuk dan bertemu dengan manajer ataupun pemilik kafe tersebut. Satpam juga tidak ingin menyerah. Ia terus menghadang dan menahan tubuh Sadam yang mencoba untuk terus masuk kedalam kafe. Beberapa pengunjung didalam, melihat kegaduhan tersebut. “Bagaimana kopinya?” Tanya pemilik kafe kepada salah seorang pengunjung. “Wah…enak banget nih! Saya akan sering berkunjung sepertinya.” Kata pengunjung itu memuji. “Terima kasih dan silahkan dinikmati!” kata pemilik itu dengan ramah. Setelah beranjak dari meja pengunjung itu, sang pemilik kafe melihat para pengunjung yang tatapannya menghadap keluar menonton kegaduhan yang dibuat oleh Satpam dan Sadam. Pemilik kafe itu segera menghampiri dan mengecek keadaan yang terjadi. “Ada apa ini?” Tanya pemilik kafe kepada Satpam. “Begini pak, orang ini terus memaksa untuk masuk.” Kata Satpam. Pemilik kafe tersebut menengok kearah Sadam yang tertunduk. “Kenapa kamu larang?” kembali pemilik café bertanya kepada Satpam. “Dia mau melamar kerja, saya bilang gak ada. Karena emang perusahaan ini sedang tidak menerima pegawai baru.” Jawab Satpam itu. “Kamu tahu darimana? Saya memang memasang iklan di Koran.” Kata Pemilik kafe yang sontak membuat Satpam itu diam seribu bahasa. “Kamu kembali bekerja lagi!” perintah pemilik café kepada Satpam. “Siap, pak!” jawab Satpam itu. “Dan kamu, karena ingin melamar kerja disini, ikut saya ke ruangan!” kata pemilik kafe itu dan berjalan menuju ruangannya. Sadam lalu mengekori si pemilik kafe hingga ke ruangannya. Si pemilk kafe langsung duduk di belakang meja. Saat si pemilik kafe itu hendak mempersilahkan duduk, tiba-tiba ia terkejut melihat wajah Sadam. Begitupun Sadam yang sangat terkejut melihat wajah si pemilik kafe itu. “Sadam?” Tanya pemilik kafe itu karena terkejut melihat Sadam. Sadam hanya terdiam tak mampu berkata-kata. Suaranya seolah menghilang meskipun mulutnya terbuka. Pemilik kafe itu langsung berdiri dan membelakangi Sadam. Ia memijit-mijit pangkal hidungnya sambil memejamkan matanya. Pemilik itu benar-benar seolah bermimpi bisa bertemu kembali dengan Sadam. Nafasnya kini menjadi berat karena mencoba menahan amarah. “Lu apa kabar?” Tanya Sadam sambil berjalan mendekati si pemilik dan mencoba menjabat tangannya. Si Pemilik itu hanya terdiam dan tak menghiraukan pertanyaan Sadam. Ia lalu membuka matanya dan berbalik disertai kepalan tangannya yang langsung menghantam Sadam. Sadam langsung terpental dan jatuh keatas lantai. Pemilik kafe langsung menduduki tubuhnya dan menghajarnya habis-habisan. Sadam tak berkutik. Entah karena ia memang sedang sakit, atau Sadam benar-benar menyadari kesalahannya. Ia terus menerima pukulan demi pukulan yang menghantam wajahnya. Tiba-tiba seorang wanita dengan hijab berwarna merah sambil menggendong seorang bayi perempuan, lalu dibelakangnya adalah seorang wanita pengasuh bayi masuk kedalam ruangan. “MAS, BERHENTI!!!” bentakan wanita itu menghentikan tinjuan yang hampir mengenai wajah Sadam. Pemilik kafe itu pun kini merasa lebih tenang dan lalu berdiri kembali. Ia mendaratkan pantatnya diatas sofa empuk. Wanita berhijab merah itu adalah istri dari si pemilik kafe, sedangkan bayi perempuan yang sedang di gendong adalah anak mereka. Melihat ayahnya sedang menghajar seorang laki-laki, bayi perempuan itu pun mulai menangis dalam pangkuan sang bunda. Membuat sang istri pemilik kafe melepaskan gendongan pada anaknya dan memberikannya kepada pengasuh bayi. Ia pun memberi isyarat agar pengasuh bayi itu keluar dari ruangan ini. Sang Istri duduk disamping suaminya sambil mengusap-usap pundak suaminya agar amarah yang menyelimutinya cepat mereda. “Yang sabar, Mas! Jangan pake emosi!” Kata sang istri pada suami. “Makasih, kamu udah bikin aku jadi lebih tenang.” Kata Sang suami. Sang istri lalu mengambil tisu dan mengelap dahi suaminya yang dipenuhi oleh keringat. Sedangkan Sadam, masih tergeletak diatas lantai menghadap langit-langit. “Ngapain lu kembali?” Tanya si pemilik kafe. Sadam masih terdiam dan termenung. “Gua pikir lu udah mati. Gua jadi tenang karena gak perlu liat wajah lu lagi.” Kata si pemilik kafe. “Mas, lihat dia! Aku pikir, dia hidupnya sedang susah. Mas, maafkan lah dia!” Bisik sang istri kepada sang suami karena melihat wajah Sadam yang pucat dan tampak lusuh. “GAK BISA!!! Orang kayak dia ini, hanya mementingkan hidupnya sendiri. Orang kayak dia gak akan pernah memikirkan hidup orang lain.” Kata sang suami. Sang istri terus mengusap-usap pundak sang suami. “Gak pernah mikirin hidup orang lain?” kata Sadam sambil tertawa. “Kenapa lu ketawa? KENAPA LU KETAWA?” Bentak si pemilik kafe yang kini berdiri dan menarik tubuh Sadam untuk berdiri. Sadam masih tersenyum menatap mata si pemilik kafe itu dengan tajam. “Gak pernah mikirin hidup orang lain kata lu?” Kata Sadam kembali tertawa. “KALO LU GAK MIKIRIN DIRI LU SENDIRI, LU GAK AKAN PERNAH PERGI!!!” bentak pemilik kafe itu. “KALO GUA MIKIRIN DIRI GUA SENDIRI, GUA UDAH TINGGALIN LARAS SAMA BAYI DI PERUTNYA!!!” Kini Sadam membentak pemilik kafe itu. Sepasang suami istri yang kini ada dihadapan Sadam terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sadam. “Cup, Lu tau apa soal hidup gua?” Tanya Sadam syang kini mulai menangis. Ucup terdiam. Pemilik kafe itu adalah Ucup, sahabatnya ketika SMA. Dan Istri pemilik kafe itu adalah Maya, seorang wanita lugu yang cintanya bertepuk sebelah tangan pada Dimas, dan akhirnya menjadi pacar Ucup. Ucup dan Maya tampak berbeda dibandingkan 10 tahun yang lalu. Ucup masih dengan perut buncitnya, namun yang berbeda adalah wajah dan gaya rambutnya. Wajahnya kini terlihat lebih sangar dengan kumis dan jenggot yang muncul diantara bibirnya, juga rambutnya yang panjang lalu diikat dan terlihat seperti seorang samurai. Sedangkan, Maya dulu adalah perempuan imut yang begitu pemalu. Kini ia telah menjadi wanita dewasa yang cantik terbalut hijab yang menutupi rambutnya. “Cup, Laras hamil. Dia diusir sama keluarganya. Gua sebagai laki-laki harus tanggung jawab. Gua takut ibu gua kecewa, makanya gua pergi malam itu.” Kata Sadam mencoba menjelaskan. Maya masih syok dengan keadaan yang sebenarnya terjadi pada Sadam dan Laras. Ia benar-benar prihatin mendengar kejadian yang menimpa kedua teman lamanya itu. “Dam, apapun celotehan lu. Itu bukan alasan yang tepat untuk lu tidak mengatakan itu kepada ibu lu, ataupun sahabat lu!” Kata Ucup sambil menatap tajam kepada Sadam. “Gua tau. Itu kesalahan gua. Dan gua benar-benar minta maaf!” kata Sadam. “Dam, gak semua bisa kembali seperti semula setelah lu minta maaf!” Kata Ucup dengan serius. Sadam terdiam membisu. “Sekarang dimana istri dan anak lu?” Tanya Ucup. Sadam masih terdiam membisu. Ia tak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada Ucup. “Dam?” panggil Ucup. Sadam terus menutup mulutnya rapat-rapat dan tertunduk sambil memejamkan mata. “Mas Sadam, Dimana mbak Laras? Biar saya ajak dia kerja untuk membantu keadaan ekonomi kalian.” Kata Maya sambil mendekati Sadam yang tertunduk. “Dam, ada apa?” ucup terus bertanya karena Sadam masih membisu. “Mas Sadam?” Panggil Maya sambil menyentuh pundak Sadam karena terlihat Sadam mulai menangis. “Laras…Laras…meninggal…”Kata Sadam dengan berat hati mengakatakan yang sebenranya. “Haduuuhhh…” gumam Ucup sambil memijat-mijat pangkal hidungnya sendiri. Maya benar-benar terkejut mendengar berita itu. Tubuhnya terpental ke belakang dan air matanya mulai meleleh. “Terus anak lu dimana?” Tanya Ucup kembali. “Anak gua koma di rumah sakit.” Kata Sadam sambil menangis. Ucup menggelengkan kepalanya mendengar tragedi yang menimpa keluarga Sadam. Maya semakin tak sanggup menerima kenyataan pahit yang menimpa keluarga Sadam. Ia kembali terduduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan bantal. “Dam, apa lu menyebut diri lu suami dan ayah yang pantas?” Tanya Ucup sambil menarik nafas panjang. Sadam kembali terdiam dan tertunduk. “Coba waktu itu lu terus terang sama ibu lu! Gua tau dia pasti marah, tapi namanya seorang ibu pasti memaafkan anaknya. Dia pasti membantu lu dan keluarga kecil lu.” Kata Ucup menasehati Sadam. Sadam mengusap air matanya dan berdiri. “Cup, gua kesini karena butuh kerjaan. Bukan dengerin lu yang terus menyalahkan gua. Terima kasih atas waktunya, gua harus pergi karena gua harus nyari kerja ke tempat lain! Setelah itu, gua akan pulang ke Rumah dan minta maaf sama ibu gua.” Sadam beranjak dan hendak membuka pintu. “Dam, lu bisa kerja disini! Gua tau ini bukan waktu yang tepat, tapi lu harus ikut gua! Setelah itu, gua gak akan ikut campur lagi dengan hidup lu.” Kata Ucup yang membuat Sadam menghentikan langkahnya. “Kemana?” Tanya Sadam. Beberapa saat kemudian Sadam, Ucup, dan Maya tiba di suatu tempat. Sadam berdiri mematung dengan tubuh kaku tak berkutik. Jantungnya serasa mau copot. Nafasnya terenggal-enggal. Kedua kakinya terasa melemah hingga membuatnya bersimpuh. Ia berulang kali menampar pipinya dan berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi. “Dam, berhenti! Inilah kenyataan. Meskipun itu pahit, tapi lu harus terima!” Kata Ucup menggenggam tangan Sadam agar ia berhenti menampar dirinya sendiri. Air mata Sadam mulai mengalir deras. Seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat. Matanya terbelalak seakan mau keluar dari kelopak matanya. Sadam benar-benar terkejut saat melihat sebuah batu nisan bertuliskan nama ibunya. “IBUUUUU!!!!!...” Sadam berteriak sekencang-kencangnya memanggil ibunya. Ia benar-benar tak mempercayai jika Ibu yang selalu menjaga dan menyayanginya kini telah tiada. Ibu yang menganggapnya sebagai harta terbaik di Dunia kini sudah kaku tak bergerak didalam tanah. Tak ada lagi senyuman kasih sayang yang terpancar dari wajah ibunya. Tak ada lagi suara tawa indahnya yang terdengar di telinga Sadam. Tatapan mata yang dulu menatapnya dengan kasih sayang, kini sudah tertutup rapat dan tak akan pernah lagi terbuka. Sadam mengingat terakhir kali ia bertemu dengan wajah cantik ibunya adalah ketika 10 tahun lalu. Sadam mengingat senyuman terakhir ibunya dalam kegelapan malam di dalam kamar. Senyuman yang sempat membuatnya ragu untuk pergi. “BUUUUU… MAAFIN SADAM, BU!” Sadam terus berteriak sambil menangis dan bersimpuh didepan makam ibunya. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. Kata ‘maaf’ tidak akan membuat Ibunya terbangun kembali. Kata ‘maaf’ tidak akan membuat senyuman terlukis di raut wajah ibu kembali. Kata ‘maaf’ tidak akan membuat Ibu hidup kembali. Maya benar-benar tak kuat menahan rasa haru hingga air matanya ikut mengalir deras. Ia ikut merasakan apa yang sedang Sadam rasakan. Betapa pahit hidupnya ditinggal istri dan ibunya untuk selama-lamanya dan kini anak semata wayangnya sedang dalam keadaan koma. Bagaimana Sadam bertahan dari itu semua, membuat hati kecil Maya ikut tersayat. “Mas, aku gak kuat!” Bisik Maya sambil menangis kepada suaminya. “Ya udah. Kamu ke Mobil aja!” Kata Ucup sambil merangkul istrinya itu. “Aku jadi inget ibuku. Besok anter aku ke rumah Ibu ya, Mas!” Kata Maya sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Ucup. “Iyaaaa…” Jawab Ucup. Maya kembali ke mobil meninggalkan suaminya yang masih menemani Sadam yang terus menjerit dalam kesedihan. “IBUUUUU….” Sadam terus memanggil-manggil ibu sambil meremas tanah kuburan tempat ibunya bersemayam. “Ibu lu gak akan bangun lagi!” Kata Ucup sambil berjongkok mendekati Sadam. “BUUUUU…MAAFIN SADAM, BU!” Sadam tidak menghiraukan perkataan Ucup. Ia terus memohon dan meminta maaf kepada ibunya yang sudah terbujur kaku didalam tanah. “Dam, Ibu lu udah memaafkan perbuatan lu!” Kata Ucup sambil memegang pundak Sadam. “Dam, sampai akhir hayatnya, dia percaya bahwa lu adalah harta yang terbaik baginya. Dia bilang ke gua bahwa pada saat lu menutup pintu kamar malam itu, Ibu merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dihatinya. Ibu lu merasa bahwa ketika pintu kamar tertutup, Ibu tidak akan pernah lagi melihat lu. Dan sampai akhir hayatnya pintu kamarnya selalu terbuka, menunggu lu pulang.” Lanjut Ucup. 10 tahun yang lalu… Didalam kamar, Ibu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sadam membantu menarik selimut yang kemudian ia selimuti tubuh ibunya yang telihat agak keriput. “Selamat tidur, Ibu!” Kata Sadam sambil mengecup kening ibunya. “Kamu juga, selamat tidur dan mimpi yang indah, nak!” Balas ibunya dan juga membalas mencium kening anak kesayangannya itu. Sadam berjalan kearah pintu sambil mematikan lampu kamar ibu. Seketika kamar pun berubah menjadi gelap gulita. Sadam tak dapat melihat apa-apa bahkan ia tak dapat melihat sosok ibunya yang terbaring diatas tempat tidur. Saat ia membuka pintu kamar, barulah cahaya lampu ruang tamu menerobos kegelapan kamar ibu. Pada cahaya itu, barulah Sadam dapat melihat wajah ibu yang sedang tersenyum dengan mata yang terpejam. Ia berdiri dan memandangi wajah tersenyum itu sejenak untuk terakhir kalinya. Hingga tanpa sadar bahwa garis bibirnya mulai tertarik dan ikut tersenyum. Dengan perlahan, pintu yang terbuka mulai tertutup dengan rapat meninggalakan ibu yang sedang tertidur dengan senyuman di wajahnya. Tak lama, ibu kembali membuka matanya yang terpejam. “Perasaan apa ini?” pikir Ibu sambil melirik kearah pintu yang baru saja ditutup rapat oleh Sadam. “Kenapa seolah-olah Ibu tidak akan pernah melihatmu lagi, nak?” Tanya ibu dalam hati. Ibu berharap tidak ada sesuatu yang buruk yang menimpa anaknya. Ibu hanya berpikir bahwa itu hanya perasaannya saja. Kedua matanya kembali terpejam. Ia tak tahu bahwa Sadam dan Laras kini sedang berdiri memandangi rumah untuk terakhir kalinya. Setelah itu bayangan Sadam dan Laras menghilang ditelan kabut malam. Keesokan harinya, ibu benar-benar terkejut melihat beberapa barang di kamar Sadam sudah menghilang. Ia juga bahkan tak menemukan batang hidung buah hatinya itu. Air mata mulai mengalir deras seperti sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Ibu benar-benar panik. Ia bahkan belum mengganti dasternya dan lalu pergi ke sekolah Sadam berharap ia bisa menemui anaknya. Sesampainya di Sekolah, Satpam sekolah menahan Ibu yang masih mengenakan daster yang hendak masuk ke lingkungan sekolah. “Pak, anak saya gak ada di Rumah. Saya ingin memastikan kedalam apakah anak saya….” Ibu tidak menyelesaikan kalimatnya saat ia melihat Ucup sedang membonceng Maya menuju gerbang sekolah. “Nak Ucup!” Panggil Ibu sambil menghentikan motor Ucup. “Ibunya Sadam?” Kata Ucup memastikan. Ucup sempat bingung karena melihat Ibu yang masih mengenakan daster dan apa yang sedang dilakukannya disini. “Nak Ucup, Sadam gak ada di Rumah. Barang-barangnya juga beberapa ada yang hilang. Ibu takut kalo Sadam kabur.” Kata Ibu menceritakan ke Ucup. “Yaudah. Nanti Ucup coba cek didalam siapa tahu Sadam udah ada di kelas. Ibu pulang aja, nanti Ucup kabarin!” kata Ucup. “Gausah Ibu tunggu disini aja!” Kata Ibu tetap memaksa karena khawatir dengan Sadam. “Yaudah. Saya masuk, nanti saya balik lagi kesini.” Kata Ucup. Ibu menyetujuinya. Ucup dan Maya masuk ke lingkungan sekolah dan memarkirkan motornya. “Itu tadi ibunya Kak Sadam?” Tanya Maya. “Iya. May, kamu ke kelas duluan ya! Aku mau cari Sadam.” Pinta Ucup. Maya menganggukan kepalanya. Ucup lalu berlari menuju kelasnya. “SADAM!!!” Teriak Ucup saat sampai di kelas. Ia tak menemukan tas Sadam di samping mejanya. “Ada yang liat Sadam?” Tanya Ucup kepada teman-teman sekelasnya yang lebih dulu datang. Mereka semua menggelengkan kepala. “SADAM…!!!” Ucup terus berteriak memanggil nama Sadam di setiap sudut sekolah. Beberapa saat kemudian, bel sekolah berbunyi namun Sadam masih juga belum ditemukan. Meski nafasnya sudah terputus-putus, Ucup tetap berlari kembali menuju gerbang sekolah tempat dimana Ibu Sadam menunggu. “Gak Ada, Bu!” Kata ucup sambil menarik nafas. “Ya Allah. Kamu kemana, Sadam?” Gumam ibu dengan panik. “Ibu mendingan sekarang pulang, gak usah khawatir! Nanti saya dan Maya akan kabari Ibu secepatnya. Siapa tau dia cuma datang terlambat soalnya biasanya jemput Laras dulu.” Kata Ucup menenagkan Ibu Sadam. Ibu mengangguk. Ucup berpamitan dan kembali masuk ke Kelas. Didalam kelas, ia terus memandangi bangku kosong disampingnya. Bangku yang seharusnya di tempati oleh Sadam. “Dam, bangs*t dimana sih lu?” Tanya Ucup dalam hati dengan kesal. Sepulang sekolah… “JESSICA!” Panggil Ucup kepada Jessica teman sekelas Laras dan juga mantan pacar Dimas. “Ada apa sih, lu? Tumben banget manggil gua setelah gua putus sama Dimas.” Jawab Jessica dengan ketus. “Kak Jessica, tadi kak Laras masuk gak?” Tanya Maya. “Laras? Gak masuk dia.” Jawab Jessica dengan ketus. Ucup dan Maya saling memandang. “Oke. Makasih, Jess!” kata Ucup. “Makasih, Kak!” Kata Maya dengan ramah. Mereka berdua berjalan sambil berpikir. Bagaimana Sadam dan Laras bisa menghilang bersamaan. Sementara mereka terakhir bertemu di tempat parkir tempat Ucup mengikuti lomba Matematika. Ucup menaiki sepeda motornya, diikuti Maya yang duduk di jok belakang. Mereka mulai melaju menuju rumah Sadam untuk mengabari Ibunda Sadam. Namun, mereka harus berhenti di depan gerbang sekolah ketika mereka berdua melihat Ibu Sadam masih berdiri menunggu anaknya dengan pakaian yang sama. “IBU!” panggil Ucup lalu turun dari motornya. “Ibu kenapa belum pulang?” Tanya Ucup. “Ibu masih nunggu Sadam.” Kata Ibu sambil mengucek-ngucek dasternya. Dengan berat hati, Ucup dan Maya menyampaikan yang terjadi bahwa mereka berdua tidak bertemu Sadam hari ini alias Sadam tidak ada di Sekolah. Namun mereka juga menyampaikan bahwa Laras pacar Sadam juga tidak masuk sekolah. Sayangnya, tidak ada yang tahu alamat rumah Laras. Membuat mereka semua berpencar pulang ke Rumah masing-masing. Di Rumah, Ibu terus menunggu Sadam di meja makan. Ia terus berharap bahwa Sadam akan segera pulang. Namun, kenyataan berkata lain. Bahkan ketika malam hari, harta terbaik di Dunia itu tak kunjung pulang. “Sadam, kamu pergi kemana nak? Apa ibu melakukan sesuatu yang salah sehingga membuatmu pergi? Sadam, izinkan ibu untuk melihatmu sekali lagi saja, Nak!” Kata Ibu sambil menangis di meja makan. Keesokan harinya, ibu kembali ke Sekolah. Namun kali ini ia berpakaian dengan rapi. Ia berharap untuk menemui pihak sekolah agar ia bisa mendapatkan alamat Rumah Laras. Usahanya membuahkan hasil, Ibu mendapatkan alamat rumah Laras dan segera mengunjunginya. Mobil Angkot berhenti didepan sebuah komplek perumahan. Dari sini, ibu harus berjalan kaki menyisiri rumah-rumah hingga ia menemukan rumah yang sesuai dengan alamat yang diberikan oleh pihak sekolah. Ia mencari agak lama hingga akhirnya langkahnya terhenti di sebuah rumah besar dengan pagar menjulang tinggi. “Permisi…!” Ibu sambil memencet bel. Keluarlah seorang laki-laki tampan dari dalam Rumah. “Apa betul ini Rumah Laras?” Tanya Ibu dengan ramah kepada Darius kakak Laras. “Betul. Ibu siapa ya?” Tanya Darius dengan heran. “Saya ibunya Sadam.” Kata Ibu memperkenalkan diri. Darius benar-benar terkejut. Nada bicaranya yang semula ramah menjadi ketus. “Mau apa Ibu kesini?” Tanya Darius dengan ketus. “Saya dengar Laras tidak masuk sekolah, begitupun juga dengan Sadam anak saya. Apa Nak tau kemana mereka pergi?” Tanya Ibu dengan ramah. “Saya gak tahu dan saya gak peduli. Ibu silahkan pergi dari sini!” Usir Darius dengan ketus sambil berjalan masuk kembali kedalam Rumah. “Nak… tolong, Nak! Sadam anak ibu. Ibu gak tau harus cari dimana?” teriak Ibu dari luar gerbang. “Tidak perlu dicari. Mungkin dia mati. Dia sudah menghancurkan hidup adik saya!” kata Darius sambil membanting pintu Rumah. “NAK…APA MAKSUD KAMU??? SEENAKNYA SAJA BERBICARA TENTANG ANAKKU!!!!” bentak Ibu dengan kesal. Darius tak menghiraukan ocehan Ibu dan lalu masuk kembali kedalam Rumah meninggalkan Ibu yang masih dihantui rasa penasaran kemana anaknya menghilang. Ibu terus menunggu didepan gerbang sambil terduduk. Entah kini sudah jam berapa, namun langit sudah menjadi gelap. Suara petir mulai bergemuruh diatas langit. Hanya tinggal menunggu waktu hingga butiran-butiran air menghujani bumi. Benar saja, tak butuh waktu lama hujan mulai turun. Ibu menemukan sebuah celah kecil untuk berteduh agar tubuhnya tidak basah terguyur hujan. Tak lama ia melihat sorot lampu mobil mendekat kearahnya dan lalu berhenti persis didepannya. Seorang supir turun sambil membawa payung lalu membuka gerbang. Mobil pun masuk kedalam Rumah. Ibu mengikuti mobil itu dengan berjalan di belakang mobil itu tak peduli dengan air hujan yang membasahi tubuhnya yang renta. Pintu mobil pun terbuka, lalu Papa dan Mama Laras turun dari mobil satu persatu dibantu oleh supir yang memayungi mereka. “Ibu siapa? Ngapain hujan-hujan begini di rumah saya?” Tanya Papa Laras. Ibu langsung bersujud di kaki papa Laras. Membuat Papa dan Mama Laras kebingungan. “Pak, tolong pak! Saya sedang mencari anak saya. Yang kebetulan hilang bersama anak bapak.” Kata Ibu sambil memelas. “Ibu ini… Ibunya Sadam?” Tanya mama Laras. Ibu mengangguk. Mama Laras langsung berjalan dan mendorong tubuh Ibu hingga terjatuh. Dibawah langit yang sedang menangis, tubuh renta ibu tergeletak terguyur air hujan yang menghujam tubuhnya. “IBU TAU APA YANG DILAKUKAN ANAK IBU PADA ANAK SAYA???” Bentak Mama Laras. “ANAK IBU TELAH MENGHAMILI ANAK SAYA!!!” Lanjut Mama Laras sambil menangis. Ibu terkejut mendengar perkataan itu. Perkataan yang seolah mengiris jantungnya dengan sebuah pedang yang sangat tajam. Ibu berdiri dan kembali menghampiri kedua orangtua Laras. “Gak mungkin. GAK MUNGKIN!!! SADAM GAK MUNGKIN MELAKUKAN HAL ITU!!!” teriak Ibu Sadam yang kini sudah berdiri menatap tajam kearah mama Laras. “ANAK IBU YANG DATANG KE RUMAH SAYA DAN MENGAKUI ITU!!! LALU MEREKA PERGI DARI RUMAH INI!!!” bentak Mama Laras. “Gak mungkin… gak mungkin… GAK MUNGKIN!!! SADAM… SADAM APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN, NAK???” Dalam derasnya air hujan, ibu terus menjerit tak percaya dengan semua kenyataan ini. “YANG ANAK BRENG*EK ITU LAKUKAN ADALAH MENGHANCURKAN ANAK SAYA!!!” kini Papa Laras ikut membentak. Mendengar nama Sadam dihina, Ibu bangkit dan tak terima. “Jangan sekali-sekali kau menghina anakku!” kata Ibu yang benar-benar marah. “Aku tidak hanya menghina anakmu, tapi aku juga menghinamu malam itu di hadapan anakmu yang breng*ek. KALIAN MEMANG KELUARGA TERHINA!!!” Papa Laras terus memprovokasi Ibu Sadam. Baru saja ibu ingin mendekati Papa Laras, namun sang supir sudah menahan tubuhnya dan menyeretnya ke luar gerbang rumah. Sang supir melempar tubuh renta ibu keatas aspal lalu menutup gerbang rumah dengan rapat. Ibu terduduk diatas aspal basah yang diterpa hujan. Air matanya yang mengalir deras bersatu dengan air hujan. “Sadam…apa yang telah kau lakukan, Nak?” Tanya ibu dalam isak tangisnya. Ibu tak peduli lagi dengan tubuhnya yang basah kuyup. Ia terus memanggil-manggil nama anaknya di sepanjang perjalanan ke rumah. Sesampainya di Rumah, rupanya Ucup dan Maya sudah menunggu di teras rumah Sadam. “Ibu darimana? Kenapa hujan-hujanan?” Tanya Ucup pada Ibu Sadam yang terlihat basah kuyup. Ibu tidak menjawab pertanyaan Ucup ia hanya membuka pintu dan mempersilahkan Ucup dan Maya untuk masuk. “Ibu darimana?” Tanya Ucup lagi. “Ibu habis dari rumah Laras.” Kini Ibu mulai menjawab. “Lalu ibu dapat informasi tentang Kak Sadam?” Tanya Maya. Ibu hanya menggelengkan kepalanya menutupi kenyataan yang ada. Setelah Maya dan Ucup pulang, Ibu menangis di dalam kamar yang pintunya ia biarkan terbuka. Ia menangis sambil memeluk sebuah album foto. Album foto yang menyimpan banyak kenangan sejak Sadam baru lahir dari dalam perut Ibu. Ibu mengingat betul pada hari itu. Hari kelahiran Sadam ketika seorang bayi yang masih merah, diberi nama Sadam oleh mantan suaminya. Bayi yang menangis dalam gendongannya. Bayi yang belum sadar akan pahit dan manisnya Dunia. Hari berganti hari menjadi bulan. Bulan berganti bulan, menjadi tahun. Kini sudah 5 tahun semenjak Sadam pergi meninggalkan Ibu dan sahabatnya. Setiap hari, Ucup dan Maya selalu berkunjung karena mereka telah menganggap Ibu Sadam sebagai ibu mereka sendiri. Mereka tak tega meninggalkan Ibu hidup dalam kesendirian yang terbalut dengan kesedihan. Kini ibu telah jatuh sakit dan telah berhenti menjadi guru. Tubuhnya yang semakin renta dan pikiran yang terus memikirkan anaknya yang hilang, membuat Ibu sakit keras. “Ibu yakin, suatu hari Sadam akan kembali. Jika dia kembali, tolong sampaikan padanya bahwa Ibu telah memaafkannya. Bilang juga padanya bahwa dia adalah harta terbaik di Dunia. Ibu yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Sadam adalah hal yang benar. Dan terakhir, tolong sampaikan betapa Ibu sangat merindukannya!” Kata ibu dengan lemah diatas kasur pada Ucup dan Maya. “Baik, Bu!” Kata Ucup dan Maya berbarengan. “Laaa...illah...hailallah...!” Dengan nafas tersendat ibu mengucapkan kalimat terakhirnya. Ibu pun menghembuskan nafas terakhirnya tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sadam dan Laras kepada Ucup dan Maya. Ucup dan Maya lalu memeluk Ibu dengan air mata yang mengalir deras. Meskipun mereka bukan anak Ibu, tapi mereka benar-benar menangis seperti mereka benar-benar kehilangan ibu kandung mereka.   “Sudah cukup Ibu merasa sedih dan lelah menghadapi kerasnya ayah, dan aku yang tak tahu berterima kasih. Semoga Ibu senang dan tenang di alam sana!” Kata Sadam lalu mencium batu nisan ibunya. “Mungkin Ibu gak merasa bangga punya anak seperti Sadam, Tapi Sadam selalu bangga punya Ibu sepertimu. Bagiku, Ibu juga adalah Harta terbaik di Dunia.” lanjut Sadam lalu berjalan mengekori Ucup ke mobil. “Kemana kita sekarang, Mas?” Tanya Maya yang sudah sejak awal di dalam Mobil. “Ke Rumah Sadam. Satu-satunya warisan yang ibu berikan untuknya.” Kata Ucup dan mulai menyalakan mesin mobilnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN