Sebuah mobil sedan berhenti di depan sebuah Rumah tua.
“Lu inget tempat ini?” Tanya Ucup pada Sadam.
“Ya, belum lama ini gua kesini sama Randy.” Kata Sadam sambil memandangi Rumah tua nya.
“Randy? Siapa?” Tanya Ucup.
“Musuh gua dulu.” Jawab Sadam dengan malas.
“Ini Mas, kunci rumahnya.” Maya memberikan kunci itu kepada Ucup.
Mereka bertiga segera turun dari mobil dan berjalan mendekat ke Rumah itu. Rumah yang pernah Sadam tempati sejak kecil, kini tampak kotor dan usang. Ia bisa melihat beberapa dinding teras yang sudah ditinggali oleh lumut, kayu-kayu atap yang sudah mulai rapuh dan banyak sekali sarang laba-laba menggantung di setiap sudut teras.
“Ibu lu menitipkan Rumah ini untuk lu. Karena beliau yakin kalau suatu saat lu bakal balik kesini. Sayangnya, gua terlalu sibuk mengurus bisnis kafe gua, sehingga gua gak sempet membersihkan rumah ini.” Kata Ucup.
Sadam hanya diam tak berkomentar.
Ucup memasukkan kunci rumah kedalam lubang kunci. Pintu Rumah pun terbuka. Mentari masih bersinar siang itu, namun cahayanya tak dapat menembus kedalam Rumah. Membuat Rumah ini sedikit gelap. Bau lembab mulai tercium memenuhi Rumah ini.
“Kalo lu mau tinggal disini, besok gua carikan orang untuk membersihkan tempat ini. Juga sekalian membetulkan genteng-genteng yang bocor.” Kata Ucup.
“Gausah, Cup! Lu udah banyak membantu keluarga gua, termasuk menjaga Ibu gua.” Kata Sadam menolak bantuan Ucup.
“Gak apa-apa kok, Mas Sadam. Saya sama Mas Ucup sudah menganggap Ibu mas Sadam sebagai Ibu kami juga. Dan saya sudah menganggap Mas Sadam sebagai kakak saya sendiri.” Kata Maya.
“Entah lu masih nganggep gua sebagai sahabat lu atau nggak, tapi gua masih nganggap lu sebagai sahabat. Sahabat seharusnya saling membantu bukan?” Tanya Ucup.
Sadam terdiam karena ia benar-benar merasa malu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ucup. Sadam lalu memeluk Ucup dengan erat.
“Dam, apa-apaan sih lu? Istri gua entar cemburu tau!” Kata Ucup sambil meronta agar Sadam melepas pelukannya.
“Udaaahhh.... Lu diem aja bangs*t!!!” Kata Sadam sambil terus memeluk Ucup dengan erat.
Maya hanya tertawa melihat suaminya dipeluk sangat erat oleh Sadam. Karena bahkan ia tak pernah memeluk suaminya seerat itu.
“Dam, gua sama Maya mau jemput anak gua dulu, entar gua kesini lagi sekalian beliin makan dan obat untuk lu. Lu keliatannya lagi sakit.” Kata Ucup karena melihat wajah Sadam yang pucat.
“Makasih banget. Cup, May!” kata Sadam sambil tersenyum dengan wajah yang pucat.
Maya dan Ucup lalu meninggalkan Sadam. Mereka berdua tahu betul bahwa Sadam butuh waktu untuk bernostalgia dengan rumah lamanya. Setelah pergi, Sadam berkeliling Rumah sambil melihat foto-foto yang menempel di beberapa dinding Rumah. Ia juga memeriksa kamarnya yang dulu ia tempati. Rumah ini adalah Rumah yang dahulu melindunganya dari panas dan hujan. Sebuah Rumah tua yang menyimpan sejuta cerita. Bahkan setiap Sadam melangkahkan kakinya, ia bisa melihat bayangan dirinya dulu bersama Ibu yang sedang melakukan aktivitas di Rumah tersebut.
“Andai saja Ibu masih hidup, aku yakin Ibu pasti senang jika ia bisa bertemu dengan Tiara.” Kata Sadam sambil tersenyum memandangi foto Ibunya yang masih tampak muda.
“Laras sudah pergi, Ibu sudah pergi. Tiara, lekaslah bangun dan temani Ayah! Ayah tidak tau lagi harus seperti apa jika Ayah kehilanganmu.” Gumam Sadam.
Sambil menunggu Ucup dan Maya kembali, Sadam berinisiatif untuk membersihkan dan mengepel lantai yang berdebu. Ia juga mencoba membersihkan jendela-jendela dari bekas air hujan yang mengering. Serta ia membersihkan setiap sudut Rumah dari sarang laba-laba.
Beberapa saat kemudian, mentari mulai meredup. Beberapa butir hujan mulai turun ke bumi dengan tenang. Sadam mendengar beberapa tetes air hujan berhasil menembus masuk kedalam Rumah. Ia lalu mencari sumber suara tersebut. Dan benar saja, ia menemukan beberapa titik genteng yang sudah bocor. Sadam lalu berlari ke Dapur untuk mengambil beberapa baskom untuk menampung air hujan yang bocor ke dalam Rumah. Hujan mulai semakin deras disertai angin kencang yang berhembus. Hawa dingin mulai masuk dan menyeruak ke seluruh ruangan. Sadam segera menutup pintu Rumahnya. Ia sempat melihat pohon mangga di depan Rumahnya bergerak karena tertiup angin. Setelah menutup pintu ia mencoba menyalakan lampu di rumah ini karena perlahan tapi pasti, gelap mulai menyelimuti Rumah ini.
“Ceklek…” Sadam memencet saklar lampu, namun lampu tak mau menyala.
“Bodoh! Mana mungkin bisa nyala? Rumah ini listriknya pasti sudah diputus oleh PLN.” Gumam Sadam.
Mau tidak mau, Sadam harus berteman dengan kegelapan ini. Ia mendudukan tubuhnya di sofa sambil terus menunggu Ucup dan Maya. Kepalanya kembali terasa pusing dan tubuhnya mulai menggil kedinginan. Sadam mulai beranjak mencari selimut lalu kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya disana. Rasa kantuk mulai menyerang, membuat matanya semakin lama semakin redup. Suara rintik hujan yang menerpa atap Rumah, terdengar sangat nyaman di telinga. Suara rintik hujan yang semakin membuat mata Sadam semakin berat. Tak lama, mata Sadam mulai terpejam dan ia pun mulai terlelap.
“Tok…tok…tok…” Beberapa jam kemudian, terdengar suara rumahnya diketuk oleh seseorang.
Sadam membuka mata. Namun ia terkejut karena tak dapat melihat apapun.
“AKU BUTA!!!” Teriak Sadam dengan panik.
Setelah nyawanya terkumpul, ia baru sadar bahwa gelap ia sedang tertidur didalam Rumah yang gelap.
“Tok…tok…tok…” Orang itu terus mengetuk pintu Rumah.
“Masuk aja, Cup! Gak gua kunci kok.” Teriak Sadam.
Dari atas sofa, Sadam melihat keluar jendela. Namun ia tak dapat menangkap bayangan orang yang mengetuk pintu Rumahnya. Yang ia tangkap dengan pandangannya hanyalah langit yang kini sudah berubah menjadi gelap di luar Rumah dengan hujan yang masih turun dengan sangat deras.
“Berapa jam gua tidur?” gumam Sadam sambil menguap.
“Tok…tok…tok…” pintu kembali di ketuk.
Dengan kepala yang masih terasa pusing, Sadam bangkit dari sofa lalu berjalan untuk membuka pintu.
“Gua udah bilang, masuk aj…” Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Sadam sudah terkejut melihat seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh, kumal, dan basah kuyup sedang berdiri didepan rumahnya.
Kepala Sadam semakin terasa pusing. Ingatannya membawa ia ke masa lalu dimana ia sering mendapatkan penyiksaan dari ayahnya. Tubuhnya menjadi limbung. Sadam memegangi kepalanya yang terasa sakit.
“Kamu kenapa?” Kata lelaki tua itu dengan khawatir melihat Sadam yang tiba-tiba merasa sangat pusing.
Ingatan terus berputar di kepalanya. Rasa sakit yang telah lama ia pendam kini seakan-akan terasa kembali. Rasa sakit ketika ia di tampar, di pukul, di cubit, dan di hantam oleh balok kayu seakan terlihat jelas didepannya.
“AAARRRRGGHHHH!!!!” Teriak Sadam sambil menjambak rambutnya karena kepalanya benar-benar terasa sakit.
“SADAM, KAMU KENAPA?” Lelaki tua itu berteriak berusaha menyadarkan Sadam.
Lelaki tua itu hendak berjalan mendekati Sadam dan mengenggam tangan Sadam agar berhenti menjambaki rambutnya. Namun, baru saja ia menyentuh sedikit kulit tangan Sadam. Sadam langsung menatapnya dengan kedua matanya yang berubah menjadi merah dan berair. Tatapan kebencian terpancar dari sorot matanya. Sadam lalu mendorong lelaki tua itu dengan sekuat tenaga hingga lelaki tua itu terjengkang dan tersungkur keatas tanah yang basah. Lelaki tua itu tergeletak di bawah hujan yang deras. Rambutnya menjadi kotor karena terkena tanah yang becek. Wajahnya menatap langit. Air mata yang mulai menetes langsung tersapu oleh air hujan. Hatinya benar-benar hancur ketika Sadam mendorong tubuh tuanya yang tak berdaya. Lelaki tua itu terus menghadap langit dengan mata yang terpejam. Tak lama, tangisannya mulai berubah saat sebuah memori melintas di kepalanya.
Beberapa tahun yang lalu…
Lelaki tua itu tampak masih sangat muda. Ia sedang duduk dengan gelisah dibalik etalase yang penuh dengan kalung, gelang, dan cincin yang terbuat dari emas. Tiba-tiba seorang pemuda berlari dengan tergopoh-gopoh kearahnya.
“Pak! Ibu udah mau lahiran. Dia udah dibawa ke Rumah Sakit.” Kata pemuda yang merupakan tetangganya itu.
Mendengar perkataan si pemuda, membuat lelaki itu segera menyuruh karyawannya untuk menutup toko emas miliknya.
“Ayo, antar saya ke Rumah Sakit!” Kata lelaki itu kepada si pemuda.
Sesampainya di Rumah Sakit, rupanya istrinya telah melahirkan seorang bayi laki-laki.
“Pak, anak kita laki-laki!” Kata Istri lelaki itu sambil menggendong bayi laki-laki yang masih merah.
“Wahhhh!!! Anakku pasti jadi jagoan. Nama apa ya yang bagus untuk dia?” kata lelaki itu sambil menatap bahagia kepada si bayi yang bahkan belum bisa membuka matanya.
“Aku sih gimana ayah, saja.” Kata Istrinya.
“Hmmmm…sebentar, aku pikir-pikir dulu karena nama itu berarti doa. Jadi, gak boleh sembarangan.” Kata lelaki itu sambil mulai berpikir.
Beberapa saat kemudian…
“Nah, aku sudah dapat nama yang bagus!” Kata lelaki itu dengan penuh semangat.
“Siapa namanya?” Tanya sang istri.
Lelaki itu medekatkan wajahnya pada wajah si bayi.
“Kamu akan menjadi anak yang tangguh, kuat, gagah, dan berani. Ayah memberimu nama Sadam.” Kata lelaki itu.
“Hmmmm… bagus juga! Terus nama belakangnya siapa?” Tanya Sang istri.
“Entahlah. Nanti kita pikirkan lagi! Kalau bisa, nanti kita Tanya Sadam ketika dia sudah bisa ngomong. Mau apa nama panjangnya?” Kata lelaki itu sambil tertawa.
Sang Istri pun ikut tertawa dengan lelucon suaminya.
Lelaki tua itu masih telentang menghadap langit. Ia tersenyum mengingat momen membahagiakan itu. Ia lalu bangkit dan mencoba untuk berdiri dengan susah payah.
“Sadam… kamu sekarang sudah menjadi lelaki yang tangguh, gagah, kuat, dan berani. Ayah bangga denganmu. Itu artinya doa ayah untukmu telah terkabul.” Kata Ayah sambil tersenyum memandang Sadam yang masih diselimuti oleh dendam.
“Keadaan lah yang membuatku seperti ini. Jangan harap Tuhan akan mengabulkan doa dari orang sepertimu!” Kata Sadam dengan angkuh.
“Betul. Aku memang orang penuh dosa. Setiap hari aku selalu mabuk dan menyiksa anak dan istriku. Untuk itulah aku datang kesini untuk meminta maaf padamu dan Ibumu. Setelah itu, aku akan pergi. Setidaknya aku bisa menghabiskan sisa waktuku tanpa dihantui rasa bersalah.” Kata Ayah sambil menangis.
Sadam semakin kesal dengan perkataan pak Tua itu. Ia tak peduli lagi dengan tubuhnya yang sedang meriang, dan lalu berjalan menerobos air hujan menghampiri pak tua itu.
“KAU MAU DAPAT AMPUNAN DARI IBU? JANGAN MIMPI!!! BAHKAN JIKA KAU MATI, KAU AKAN MENETAP DI NERAKA DAN TAK AKAN PERNAH BERTEMU DENGAN IBU.” Bentak Sadam sambil mencekik leher ayahnya yang sudah tua dan tak berdaya itu.
Ayah terus megap-megap karena lehernya di cekik dengan sangat kuat oleh anak kandungnya sendiri. Ia mulai kehabisan nafas. Tangannya meronta-ronta dan mencengkram tangan Sadam yang terus mencekiknya. Sadam benar-benar kesetanan dan larut dengan rasa dendam yang selama ini ia pendam.
“Sadam…” Tiba-tiba saja Sadam mendengar suara Ibunya memanggil namanya diantara gemericik air hujan.
Seketika cengkraman pada leher ayah mulai melemah. Ayah langsung ambruk dan memegang lehernya yang terasa sakit.
“Ibu?” Sadam kebingungan dan mencari sumber suara yang memanggilnya.
Ia memutar tubuhnya dan pandangannya menyisiri setiap sudut, mencari darimana suara Ibu berasal.
“IBUUUU??? IBU DIMANA???” Sadam berteriak sambil terus memutar tubuhnya.
Tiba-tiba hatinya terhentak seketika ketika Sadam merasakan tubuhnya dipeluk oleh seseorang. Ada kehangatan yang terasa dalam pelukan itu.
“Sadam, Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi orang yang pendendam.” Suara Ibu terdengar berbisik di telinga Sadam.
Air mata Sadam mulai meleleh. Ia menolehkan wajahnya namun ia tetap tidak bisa menangkap bayangan ibunya.
“Ibu… Ibu dimana?” Panggil Sadam yang terus kebingungan.
“Apa kamu tidak merasakan pelukan ibu?” Tanya Ibu.
“Aku merasakannya, tapi aku tidak bisa melihat ibu.” Keluh Sadam.
“Rupanya, anak Ibu tidak berubah sama sekali. Kau masih seorang anak yang manja yang baru merasa tenang jika melihat wajah ibunya.” Kata Ibu.
Sadam terdiam dan merasakan kepalanya sedang dielus dengan lembut.
“Sadam, ibu telah memaafkan semua perbuatanmu. Ibu juga sudah memaafkan semua perbuatan ayah. Kau juga harus berbesar hati memaafkan ayah. Karena jika kamu menyimpan dendam itu terus menerus, bukan hanya ayah yang menderita, tapi kau juga akan menderita.” Kata Ibu.
Seketika Sadam merasakan pelukan pada tubuhnya semakin memudar.
“Bu?” panggil Sadam.
Tak ada jawaban yang terdengar. Sadam menarik nafas dengan sangat dalam. Ia berusaha melepaskan rasa dendam yang telah ia pendam sejak lama kepada Ayah agar pergi terbilas air hujan. Tak lama, Sadam menjulurkan tangannya pada Ayah. Ayah terdiam sesaat melihat Sadam dengan heran. Namun, ia kemudian senyum dan meraih tangan Sadam. Dengan satu tarikan, ayah telah berhasil berdiri kembali.
“Ayo masuk kedalam rumah!” Ajak Sadam dengan ketus.
Ayah tetap tersenyum meskipun Sadam tetap ketus. Ia berjalan mengekori Sadam masuk kedalam rumah yang tanpa penerangan ini. Didalam Rumah yang gelap, Ayah merasa canggung untuk berbicara dengan Sadam, begitupun juga Sadam. Ayah seketika teringat dengan perkataan Sadam saat mencekiknya. Itu berarti, istrinya telah meninggal dunia.
“Ayah turut berduka cita atas kematian Ibu.” Kata Ayah memecah keheningan.
“Ya.” Jawab Sadam singkat.
Sadam beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya. Ia membuka lemari bajunya dan mengambil salah satu baju untuk ia kenakan. Meskipun sempit karena baju di lemarinya adalah baju ketika usianya remaja, namun itu lebih baik daripada memakai baju yang telah basah kuyup. Ia juga mengambil satu kaos untuk ayahnya.
Saat Sadam kembali ke ruang tamu, Ayah sedang menyalakan beberapa lilin. Membuat tempat ini sekarang menjadi tidak terlalu gelap dan menyeramkan.
“Dapet lilin darimana?” Tanya Sadam penasaran.
“Dari Rumah ini.” Jawab Ayah sambil tersenyum.
“Kamu tau darimana tempat Ibu biasa menyimpan lilin?” Tanya Sadam heran.
Senyuman di wajah Ayah mulai pudar ketika mengetahui bahwa anaknya tidak lagi memanggilnya dengan sebutan ‘ayah’. Hatinya benar-benar bagai tertancap sebuah pedang tajam.
“Aku telah menikahi Ibumu dan tinggal dengannya cukup lama. Aku tahu persis dimana biasanya Ibu menyimpan lilin.” Jawab Ayah dengan ekspresi penuh kesedihan.
“Oh gitu. Nih, gantilah baju basah itu!” Kata Sadam memberikan kaos itu pada ayahnya.
Ayah mengambil dan segera mengganti dengan bajunya yang basah.
“Kapan Ibu meninggal?” Tanya Ayah.
“5 tahun yang lalu.” Jawab Sadam ketus.
“Terus, kamu tinggal dimana? Kamu gak mungkin tinggal di Rumah seperti ini.” Ayah mencoba terus untuk mengakrabkan diri.
“Aku dan keluargaku tinggal di Jakarta. Baru beberapa hari ini aku pulang ke Bandung, dan baru hari ini aku kesini.” Jawab Sadam tetap dengan nada ketus.
“Jadi, itu berarti ibu meninggal dalam keadaan sendirian?” Tanya Ayah.
“Ya.” Sadam hanya menjawabnya dengan malas.
Papa tertunduk dan ikut bersedih atas kematian Ibu.
Hujan mulai reda. Rintik-rintiknya mulai hilang. Sadam melihat ke layar ponselnya, dan rupanya waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.
“Oh iya. Tadi kamu bilang punya keluarga, apa kamu sudah mempunyai anak?” Tanya Ayah.
“Ya. Aku punya 1.” Jawab Sadam dengan malas.
“Laki-laki apa perempuan? Siapa namanya? Usianya berapa?” Tanya Ayah dengan antusias.
Sadam menatap ayahnya dengan sinis.
“Apa pentingnya untukmu?” Tanya Sadam sambil menatap sinis.
Sadar bahwa Sadam menatapnya dengan sinis, Ayah tertunduk membuang muka.
“Tidak… Ayah hanya berpikir bahwa waktu berjalan begitu cepat sampai tidak terasa bahwa ayah sudah memiliki seorang cucu. Itu artinya Ayah sudah semakin tua, dan tak lama lagi ayah pasti akan segera menyusul ibu.” Jawab Ayah sambil tertunduk.
“Dengarkan Sadam! Jika suatu saat kamu mati dan bertemu kembali dengan Ibu, tolong jangan lagi ganggu dia! Jangan pernah menyakiti Ibu lagi!” Kata Sadam dengan tatapan serius.
Ayah menengadahkan kepalanya dan melihat tatapan keseriusan Sadam.
“Baiklah. Ayah mengerti.” Jawab ayah sambil tersenyum.
“Aku juga ingin berterima kasih kepada kamu.” Kata Sadam.
“Terima kasih untuk apa?” Tanya Ayah dengan heran.
“Kamu adalah contoh ayah yang buruk untukku. Sehingga aku bisa melakukan hal yang sebaliknya pada anakku.” Jawab Sadam.
Ayah tertunduk malu.
Kemudian terdengar suara gemuruh mobil datang mendekat. Terdengar pula langkah kaki yang berjalan mendekat.
“Dam, sorry banget! Tadi ada jalan banjir, jadi macet banget.” Kata Ucup yang datang bersama Maya sambil membawa makanan.
Ucup kaget melihat seorang lelaki tua sedang duduk bersama Sadam.
“Gapapa, Cup! Makasih banget. Kenalin ini….” Kalimatnya terputus karena ia bingung memperkenalkan ayahnya kepada Ucup karena ia benar-benar tidak ingin menganggap lelaki tua ini adalah ayahnya.
“Ini… ayah…gua.” Kata Sadam sambil menahan nafas.
Ucup bersalaman dengan ayah Sadam, begitupun Maya. Ucup dan Maya memperkenalkan diri kepada ayah Sadam.
“Dam, ini ayah lu yang sering lu ceritain? Yang sering nyiksa lu waktu lu kecil?” Tanya ucup dengan polos.
“Iiihhh…Mas!” Kata Maya sambil menyenggol pundak Ucup.
“Ups…Sorry!” kata Ucup sambil nyengir.
Ayah semakin malu. Ia menundukan wajahnya, menyembunyikan wajah yang kini berubah menjadi merah karena malu.
“Kalo gitu, Ayah pamit dulu!” kata ayah karena ia benar-benar merasa canggung.
“Ya silahkan.” Jawab Sadam dengan ketus.
Ayah berpamitan kepada Ucup dan Maya. Mereka berdua merasa tidak enak karena mengganggu pertemuan antara ayah dan anak yang sudah lama terpisah.
Ayah terus berjalan menjauh sambil terus mengusap air matanya yang terus menetes. Ia tahu bahwa kata maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan hati Sadam yang pernah ia lukai.
“Mas Sadam…” Maya melihat kearah Sadam dengan harapan bahwa Sadam segera menghentikan langkah ayahnya.
“Aku sudah memaafkannya. Tapi, butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan luka ini.” Kata Sadam pada Maya.
“Aku dan Mas Ucup akan membantu menyembuhkan luka di hati Mas Sadam. Tapi, sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menyembuhkan hati ayah Mas Sadam dari rasa bersalah. Dia akan menderita sampai akhir hayatnya.” Kata Maya mencoba membuka hati Sadam.
Sadam berpikir sejenak. Ia menatap sahabatnya yang malah menampakan wajah nyengir tak berdosa.
“Pinter kan istri gua?” kata Ucup sambil nyengir.
Sadam menatap Maya dan ia bisa melihat sorot mata Maya yang begitu meyakinkan. Sadam pun segera meneguhkan hatinya.
“AYAH!!!” panggil Sadam.
Ayah yang tak mendengar panggilan Sadam dan terus berjalan menjauh. Sadam segera mengejar sebelum bayangan ayahnya mulai menghilang.
“AYAH!!!” panggil Sadam lagi.
Ayah mulai mendengar panggilan Sadam lalu ia menghentikan kedua kakinya yang sedang melangkah. Ayah membalikkan badan dan kini Sadam sudah tepat berada didepannya.
“Ayah mau pergi kemana? Apa ayah punya tempat tinggal?” Tanya Sadam.
“Ayah ingin pergi ke kuburan Ibumu. Untuk malam ini, ayah akan tidur disamping makamnya. Ayah rindu tidur disamping ibumu.” Jawab Ayah sambil tersenyum.
“Memang ayah tau dimana kuburan ibu?” Tanya Sadam.
Ayah tersenyum sejenak sambil pikirannya menerawang keatas langit.
“Dulu sebelum kamu lahir, Ayah dan Ibu telah berjanji akan terus bersama bahkan setelah maut memisahkan. Kami ingin di makamkan bersampingan. Agar bisa bersampingan, akhirnya kami memesan tanah untuk kami jika suatu saat kami meninggalkan dunia ini.” Jawab Ayah sambil tersenyum dan terus memandang langit.
Sadam terdiam.
“Bukankah disamping kiri dan kanan makam ibumu hanyalah tanah kosong?” Tanya Ayah.
“Ya. Betul.” Jawab Sadam.
“Berarti tidak salah lagi, disitulah Ayah dan Ibu memesan tanah kuburan kami. Bahkan Ayah telah memesan satu tanah lagi untukmu. Agar kita bisa bersama kembali meski kita sudah tidak lagi berada di Dunia ini.” Kata Ayah sambil melemparkan senyuman pada Sadam.
“Lalu, jika malam ini ayah akan tidur disamping ibu, besok ayah akan tidur dimana?” Tanya Sadam.
“Entahlah. Esok adalah hari esok. Yang terpenting adalah hari ini. Ayah sangat berterima kasih karena kamu telah memaafkan ayah.” Kata Ayah sambil tersenyum.
“Baiklah. Jika besok ayah tidak memiliki tujuan, datanglah ke rumah kami! Pintu ini akan selalu terbuka.” Kata Sadam.
“Terima kasih, Sadam anakku!” Kata Ayah sambil tersenyum.
Sadam kembali ke Rumah dan menjelaskan pada Ucup dan Maya apa yang ayahnya inginkan. Sedangkan ayah melanjutkan perjalanannya menuju makam Ibu.
“Ya sudah, kalo itu memang keinginan ayahnya Mas Sadam.” Kata Maya menghela nafas.
“Ya udah. Yuk!” kata Ucup sambil masuk mobil.
Maya pun mengikutinya.
“Loh kalian mau pada kemana?” Tanya Sadam heran.
“Kita makan di rumah gua. Disini gelap!” Kata Ucup.
“Ya udah bentar, gua matiin lilin dulu sama kunci pintu!” kata Sadam.
Sadam segera meniup semua lilin yang ada, lalu menutup dan mengunci pintu dengan rapat. Mereka bertiga akhirnya segera pergi menuju Rumah Ucup dan Maya.
“Cup, tadi siang bukannya lu pamit mau jemput anak lu? Mana dia?” Tanya Sadam heran.
“Iya. Asalnya gua mau ngajak dia ke rumah lu. Tapi dia rewel terus, udah gitu jalanan macet, jadi gua bawa ke Rumah dulu aja. Terus, di Rumah dia susah banget bobonya. Maya sampe masak dulu. Pas dia udah bobo, baru deh kita ke Rumah lu.” Kata ucup sambil fokus menyetir.
“Heeemm… pantesan lama.” Kata Sadam dengan nada kesal.
“Tapi, mungkin emang sudah seharusnya jalannya begitu, Mas Sadam.” Kata Maya menimpali.
“Maksudnya?” Tanya Sadam bingung.
“Coba kalo kita dateng sesuai rencana. Kita dateng, terus makan di tempat Mas Sadam. Habis itu kita pergi ke Rumah Sakit menjenguk anak Mas Sadam. Pasti Mas Sadam gak akan bertemu sama ayahnya Mas Sadam.” Kata Maya.
Sadam terdiam dan berpikir bahwa perkataan Maya ada benarnya juga. Ucup melihat Sadam yang sedang terdiam dan berpikir, dari spion tengah mobilnya.
“Gimana? Pinter kan istri gua? Udah cantik, pinter, baik, solehah, rajin menabung, hormat pada orang tua, sayang sama suami, cinta NKRI lagi. Apa sih yang kurang dari kamu, sayang?” Kata Ucup memuji istrinya sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas.
“Aaaahhh Mas Ucup so sweeeettt….!” Kata Maya tersipu malu.
“EH... CUP AWAS DI DEPAN ADA MOBIL!!!” Bentak Sadam agar Ucup lebih fokus mengemudi.
Ucup langsung mengerem mobilnya yang hampir saja menabrak mobil yang berada didepannya.
“Loh macet apa lagi ini?” Gumam Ucup.
“Perasaan tadi lewat sini gak macet ya, Mas?” Kata Maya lalu kepalanya keluar dari jendela untuk melihat apa yang terjadi di depan.
Ucup juga mengeluarkan kepalanya ke jendela seperti Maya.
“Mas, kok macet? ada apa sih?” Tanya Ucup penasaran kepada seorang pedagang asongan.
“Ada kecelakaan, Pak. Mending puter balik aja!” Saran pedagang asongan itu.
“Hmmm... Oke deh! Makasih ya!” Kata Ucup lalu hendak menutup kembali jendela mobilnya.
“Eh, tunggu pak!” Pedagang asongan itu menghentikan Ucup yang hendak menutup kaca jendela mobilnya.
“Ada apa lagi?” Tanya Ucup heran.
“Supaya bapak fokus pas muter balik, mending minum dulu minuman ini!” kata pedagang asongan itu menawarkan air mineral yang ia jual.
“Wah… kamu ini pandai juga cari kesempatan ya! Yasudah beli 3 botol!” kata Ucup.
“Nah gitu dong!” kata pedagang asongan itu dengan gembira.
“Hey! Kamu itu kalau ada kecelakaan, harusnya langsung kamu tolong! Bukannya malah dagang!” Kata Ucup menasehati pedagang asongan sambil memberikan uang.
“Wah… kalau tiap hari disini ada yang kecelakaan, bisa bangkrut saya!” kata pedagang asongan itu sambil tertawa.
“Dikasih tau malah ngejawab.” Gumam Ucup dengan kesal sambil menutup jendelanya.
Mereka pun segera memutar arah dan memilih jalan lain. Meski memutar agak jauh, namun akhirnya mereka sampai di Rumah Ucup dan Maya.
“Wuiiihhh…Rumah lu gede banget, Cup!” kata Sadam yang takjub dengan Rumah Ucup dan Maya yang cukup mewah.
“Yah… ini lah hasil kerja keras gua sama Maya di kafe.” Kata Ucup sambil berjalan kedalam Rumahnya.
“Gua gak pernah tahu kalo lu punya mimpi menjadi pengusaha kafe.” Kata Sadam.
“Bukan mimpi gua. Itu mimpinya Maya. Tugas gua, Cuma mewujudkan mimpinya Maya.” Kata Ucup sambil menatap istrinya.
“AAAAHHHHH… SO SWEEETTT!!!” Kata Maya.
Sadam memonyongkan bibirnya mengejek Ucup.
Didalam Rumah, Sadam terus terkesima dengan kemewahan Rumah Ucup. Bahkan ia sangat takjub melihat meja makan yang terbuat dari marmer. Setelah cuci tangan, mereka duduk bersama di meja makan. Sang pengasuh bayi memberikan anak Ucup kepangkuan Maya.
“Eeeehhhh…anak Mama udah bangun! Tuh ada temen Papa, namanya Om Sadam.” Maya mengajak anaknya berbicara.
Bayi itu tidak mengerti apapun yang mamanya katakan, namun ia tetap tertawa selama ada di pangkuan mamanya.
“Cantik…siapa namanya?” Tanya Sadam.
“Tuuuhhh… ditanya sama om!” Kata Maya pada anaknya.
Bayi itu mengerti jika seseorang bertanya namanya, namun jika orang yang baru saja ia kenal, ia hanya tersipu malu dan memeluk mamanya.
“Yeeee… malah malu! Ditanya sama om tuh!” Kata Ucup sambil mencium pipi anaknya.
“Nama aku Aisyah, Om!” kata Maya menirukan seolah-olah yang menjawab adalah anaknya.
Maya memberikan anaknya kembali pada pengasuh bayi dan pengasuh bayi itu pun membawa Aisyah ke kamar Aisyah. Setelah berdoa, mereka pun menyantap makan malam bersama. Usai makan malam, mereka bercengkrama sejenak.
“May, ngeliat lu sama Aisyah barusan, bikin gua kangen sama Tiara.” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Tiara? Siapa? Anak Mas Sadam?” Tanya Maya bingung.
“Ya iyalah. Ngapain gua kangen sama anak orang lain?” Jawab Sadam sambil tertawa.
Setelah bercengkrama sejenak, Ucup dan Maya mengantarkan Sadam ke Rumah Sakit sekaligus menjenguk Tiara.
Saat Sadam membuka pintu kamar Tiara, ia benar-benar sangat terkejut. Kedua matanya menangkap sosok Tiara yang sedang duduk diatas kasur sambil menatap kearahnya.
“Tiara?” Panggil Sadam.
“Ayah? Tiara ada dimana?” Tanya Tiara dengan bingung.
“TIARAAAA!!!!” Sadam lalu berlari dan memeluk Tiara dengan erat.
“Ayah kenapa? Tiara masih bingung.
Sadam terus memeluk erat Tiara sambil terus menciumi kening dan pipinya.
“Mas, Aku gak kuat, Mas! Aku mau ke mobil!” Kata Maya terharu dan menangis.
“Kamu jangan pergi! Ini pemandangan yang membahagiakan.” Kata Ucup sambil merangkul Maya.
Maya menyenderkan kepalanya di pundak Ucup.
“Sadam. Dia mungkin bukan sahabat yang baik, ataupun anak yang baik. Tapi aku percaya bahwa dia adalah ayah yang baik.” Kata Ucup pada Maya.
Karena Tiara sudah siuman, Dokter segera memeriksa keadaan Tiara. Ajaibnya, cidera di kepalanya telah sembuh total. Dokter pun mengizinkan Tiara untuk pulang. Tiara berkenalan dengan Ucup dan Maya. Ucup dan Maya mengajak Sadam dan Tiara untuk menginap di Rumah mereka. Baru malam ini Sadam akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus memeluk Tiara dengan erat. Ia benar-benar akan menjaga Tiara dengan segenap jiwanya untuk kali ini. Karena ia tidak sanggup jika harus sampai kehilangan Tiara.
Keesokan harinya…
“Tiara, hari ini Ayah sudah mulai kerja di tempat Om Ucup. Ayah juga mau ke kantor PLN supaya listrik di Rumah kita bisa nyala lagi. Tiara di Rumah main sama tante Maya, Sama Aisyah ya!” Kata Sadam berpamitan pada Tiara.
“Ayah pulang jam berapa? Tante Dina gak akan nyariin kita?” Tanya Tiara.
“Ayah malam juga sudah pulang. Tante Dina sudah tidak tinggal dengan kita lagi. Kita juga udah pindah ke Rumah baru. Oh iya, besok pagi kita akan pergi ke makam nenek. Nanti akan ayah ceritakan semua apa yang terjadi ketika Tiara koma, ketika ayah pulang.” Kata Sadam sambil mengelus kepala Tiara.
Tiara mengangguk dan segera mencium tangan ayahnya. Ucup pun segera berpamitan kepada istrinya. Di pagi hari yang cerah, Sadam dan Ucup pun berangkat dari rumah mewah Ucup. Tujuan utama mereka adalah kantor PLN agar listrik di Rumah Sadam bisa kembali menyala. Lalu, mulai hari ini Sadam akan bekerja sebagai satpam di kafe milik Ucup.
“Mau ngusir gua lagi lu?” Tanya Sadam dengan angkuh kepada Satpam yang waktu itu hendak mengusirnya.
Satpam itu tak bisa berkata-kata dan hanya menahan rasa kesal di hatinya.
Malamnya, Sadam menceritakan apa yang terjadi dengan Dina pada saat Tiara koma. Tiara tampak bersedih karena ia tahu bahwa Dina adalah orang yang baik.
Keesokan harinya…
Sadam pamit dan benar-benar berterima kasih kepada Ucup dan Maya.
“Yakin gak mau gua anter?” Tanya Ucup.
“Gausah lah! Gua mau berdua aja sama Tiara.” Kata Sadam menolak ajakan Ucup.
Setelah berpamitan, Sadam dan Tiara mulai melangkahkan kaki keluar dari Rumah Ucup. Mereka mampir sejenak di rumah baru mereka.
“Jadi, ini dulu Rumah ayah?” Kata Tiara.
“Iya.” Jawab Sadam sambil tersenyum.
Tiara terus berlari kesana kemari melihat foto-foto yang terpajang di dinding Rumah. Ia sangat senang melihat foto-foto ayahnya saat kecil dan masih imut. Namun, seketika ekspresinya berubah saat ia melihat foto keluarga ayahnya. Dimana ayahnya yang ketika masih kecil sedang berdiri diantara kedua orang tuanya.
“Ayah, mereka siapa?” Tanya Tiara.
“Itu orang tua Ayah. Kakek dan Nenekmu. Yuk berangkat!” Ajak Sadam.
Tiara masih menunjukan ekspresi kebingungan di sepanjang perjalanan. Akhirnya, mereka sampai di sebuah pemakaman. Sadam benar-benar terkejut. Karena ia yakin betul bahwa terakhir kali Ucup membawanya kesini, tidak ada makam disamping kanan dan kiri ibunya. Namun kini, ia bisa melihat gundukan tanah disamping kanan makam ibunya. Ia menjongkokan badannya dan melihat nama yang tertera diatas batu nisan. Sadam semakin terkejut ketika ia melihat nama Ayahnya yang terukir diatas batu nisan itu. Sadam lalu memindahkan pandangannya menuju tanggal wafat yang tertera diatas batu nisan.
“Kemarin lusa?” pikir Sadam dalam hati.
Sadam melihat seorang penjaga kuburan dan memanggilnya.
“Pak, orang ini meninggalnya kenapa?” Tanya Sadam penasaran.
“Katanya sih kecelakaan. Untungnya polisi bisa menemukan surat pembelian tanah di kuburan ini. Makanya dia di kubur disini deh.” Kata penjaga kuburan itu dengan polos.
“Kecelakaan? Dimana?” Tanya Sadam benar-benar penasaran.
“Kalo gak salah, di jalan Supratman.” Jawab penjaga kuburan itu.
“Oh gitu, makasih pak!” Kata Sadam.
“Iya. Sama-sama.” Balas penjaga kuburan itu lalu pergi.
Sadam mengingat betul bahwa malam itu ketika ia bersama Ucup dan Maya hendak pergi ke Rumah mereka, Saat melewati jalan Supratman perjalanan mereka terganggu oleh macet akibat adanya kecelakaan.
“Jadi, kecelakaan malam itu… Ayah?” gumam Sadam.
“Hmmm… ada apa ayah?” Tanya Tiara.
“Gak apa-apa sayang.” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Jadi, malam itu Ayah benar-benar tidur disamping Ibu.” Kata Sadam dalam hati.
Randy dan Raymon sedang bermain PS di rumah mereka. Kini Randy benar-benar menghabiskan waktunya bersama Raymon. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Randy melihat kelayar ponselnya. Rupanya Om Rio lah yang telah menelponnya.
“Halo, Om!” Kata Randy.
“Halo, Randy. Om telah menemukan cecunguk itu. Sekarang anaknya sedang dirawat di Rumah Sakit Cendrawasih. Anak-anak buah om sedang meluncur kesana. Nanti kalo dia ketangkep, kamu yang habisin dia ya!” pinta Om pada Randy.
Randy langsung menjadi panik dan berkeringat dingin.
“Tapi, kalo ternyata sampai sana yang ada hanya anaknya, gimana Om?” Tanya Randy dengan panik.
“Kamu culik, dan jadikan ia sandera. Kita lihat, apakah dia mau menukarkan nyawanya untuk anaknya atau tidak. Jika dalam waktu 3 hari, dia gak dateng juga. Kamu habisin anaknya!” perintah Om pada Randy.
“Taaa—tapi, Om! Om kan tau aku gak bisa bunuh anak kecil.” Protes Randy.
“Itu berarti, nyawamu taruhannya.” Om lalu menutup telepon.
Randy segera berlari menuju Rumah Sakit untuk menyelamatkan Tiara.
“Papa mau kemana?” Tanya Raymon.
“Maaf, Nak! Untuk pertama kali dalam hidup papa. Ada nyawa yang harus papa selamatkan!” Kata Randy terus berlari menuju garasi.
Sesampainya di Rumah Sakit, Randy tak melihat ada tanda-tanda dari anak buah Om nya. Ia berhasil masuk kedalam kamar Tiara. Namun Randy sangat terkejut saat Tiara tidak berada di kamarnya.
“Sial*n! Kemana mereka? Apakah mereka sudah sembuh? Atau sudah tertangkap?” Gumam Randy.
Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Randy benar-benar panik saat melihat nama Om Rio tertera di layar ponselnya.
“Halo, Om?” Kata Randy dengan gugup.
“Halo, Randy. Dia bukan cecunguk. Dia itu belut. Pandai sekali dia melarikan diri.” Kata Om nya.
Randy merasa lega.
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya Randy.
“Kamu bantu cari informasi tentang dia. Sekarang Om bener-bener jengkel.” Om lalu menutup teleponnya.
“Bagus! Rupanya Sadam berhasil lolos. Tapi kemana aku harus mencari? Jika aku sudah menemukannya, bagaimana caraku melindunginya?” pikir Randy dalam hati.