Hidup Dalam Pelarian

3520 Kata
  “Ayaaahhh…!” Teriak Tiara sambil berlari memeluk Ayahnya yang baru saja pulang kerja. “Lihat Ayah bawa apa?” Kata Ayahnya sambil menyombongkan kantong plastik berwarna putih di tangannya. “Asiiikkkk!!! Eskriimmm…!” Tiara berteriak kegirangan. “Eittsss… Tiara baru boleh makan eskrim setelah makan malam!” Kata Ayah sambil mencubit hidung kecil Tiara. “Yaaahhhh…!” Tiara semberut kecewa. Ayah kemudian masuk kedalam kamarnya dan berganti baju. Sedangkan Tiara kembali ke kamarnya untuk bermain biola. Sadam sangat ingin melepaskan rasa letih setelah seharian bekerja dengan berbaring di tempat tidur. Namun ia tak bisa melakukan itu, ia harus segera memasak untuk makan malam. Dari dapur, Sadam bisa mendengar lantunan biola yang dimainkan oleh Tiara di dalam kamarnya. Sebuah lagu Beethoven yang berjudul ‘Fur Elise’ terdengar ramah di telinganya. Sambil memasak, mulutnya ikut bersenandung mengikuti lantunan nada dari biola yang dimainkan oleh Tiara. Lantunan lagu eropa itu membawanya seolah sedang memasak untuk keluarga kerajaan. “Tuan putri… makanan telah aku persembahkan di meja makan!” Panggil Sadam. Tiara keluar dari kamarnya dan menuju meja makan. “Masa tuan putri makannya tumis kangkung?” Protes Tiara. “Weiittsss… Tuan putri jangan salah! Daun kangkung ini ditanam dan dirawat seperti anak sendiri.” Kata Sadam bercanda sambil tertawa. “Pasti namanya Malika. Ya kan?” Kata Tiara menimpali. “Loh kok kamu tau?” Tanya Sadam sambil mencubit pipi Tiara dengan gemas. “Ya kan kangkung ini, kembarannya kacang kedelai hitam.” Kata Tiara. Mereka berdua menghentikan obrolan tidak penting itu dan segera menyantap makan malam yang sederhana itu. Tiara selalu mengeluh dengan makanan yang selalu sederhana, namun Sadam selalu mempunyai 1001 alasan untuk membuat Tiara memakan masakannya. “Gimana di Sekolah yang baru?” Tanya Sadam sambil menyantap makan malam. “Temen-temennya asik. Ada cowok juga yang sering deket-deket sama Tiara.” Ucap Tiara dengan polos. “Waaahhh… berani-beraninya deketin anak ayah. Besok bawa dia kesini!” kata Sadam dengan kesal. “Dia anaknya baik kok, Yah!” Kata Tiara. “Oh gitu. Kerja apa dia?” Tanya Ayah. “Ih… Aku sama dia kan masih anak SD.” Protes Tiara. “Hahaha… habis Ayah gak sabar liat kamu tumbuh dewasa, lalu kamu kenalin calon suami kamu ke Ayah.” Kata Sadam sambil tertawa. “Aku gak mau nikah ah!” Kata Tiara dengan polos. “Hmmm? kenapa?” Tanya Ayah. “Kalo aku nikah, aku pasti bakalan ninggalin Ayah. Nanti Ayah kesepian.” Kata Tiara sambil tersenyum gemas. Sadam menghentikan kunyahannya dan bengong mendengar perkataan Tiara. Daun kangkung masih menggantung di mulutnya. Ia tarik dengan lidahnya dan lalu menelannya. “Tiara…” Panggil Ayah. “Hmmm?” Tanya Tiara. “Tetaplah menjadi putri kecil Ayah dan jangan cepat-cepat beranjak dewasa!” Kata Sadam sambil tersenyum. Tiara membalas senyuman ayahnya itu. Setelah makan, Sadam merebahkan tubuhnya diatas kasur untuk menghilangkan rasa letihnya setelah seharian bekerja. “Ih…Ayah! Baru makan jangan tiduran, gak baik!” Tiara memarahi ayahnya yang sedang berbaring diatas kasur. “Gak baik? Kata siapa?” Sadam tidak percaya dengan ucapan Tiara. “Aku baca di buku. Ayo bangun!” Tiara menarik tangan ayahnya agar tidak berbaring. “Iyaaaa…iya….” Dengan malas Sadam bangun dan terduduk di pinggir kasur. “Nah gitu dong!” Kata Tiara lalu keluar dari kamar ayahnya. Setelah menutup pintu kamar, Sadam kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. Baru saja ia hendak memejamkan kedua matanya, tiba-tiba ponselnya berdering. “Halo. Ada apa, Cup?” Tanya Sadam. “Dam, barusan ada beberapa orang datang nyariin lu. Tampangnya serem-serem.” Kata Ucup. “Terus lu kasih tau alamat gua?” Tanya Sadam. “Ya nggak lah.” Kata Ucup. “Ohhh… syukur deh!” Kata Sadam menghela nafas. “Tapi Satpam gua ngasih tau alamat lu!” Kata Ucup dengan panik. “APA???!!!” Sadam menjadi ikut panik. “Sialan!” Gumam Sadam. “Dam, lu…” Belum sempat Ucup berbicara, Sadam sudah mematikan ponselnya. Sadam langsung berlari ke kamar Tiara. Tiara yang sedang belajar, menatapnya dengan kebingungan. “Tiara, Ayo pergi!” ajak Sadam. “Kemana?” Tanya Tiara yang masih bingung dengan semua ini. Sadam tak menjawab pertanyaan Tiara. Tangan kiri Sadam langsung mengambil biola, sedangkan tangan kanannya menarik Tiara untuk segera pergi. Sadam terus menarik Tiara hingga mereka keluar dari Rumah. Benar saja. Baru saja mereka keluar dari Rumah beberapa mobil terlihat mendekat. Sadam berlari menjauh dari mobil-mobil itu sambil terus menarik tangan Tiara. Dengan perasaan yang bingung, Tiara terus berlari dengan tangan yang terus ditarik. Sadam melihat sebuah gang, ia langsung masuk kedalam gang itu dengan tujuan untuk mengecoh orang-orang yang mengejarnya. “WOY JANGAN LARI LU WOY!!! Teriak seseorang sambil turun dari mobil dan berlari mengejar Sadam. Sadam menengok kebelakang, ia tak dapat menghitung berapa orang yang mengejarnya. Mungkin 8 orang atau 10 orang. Ia kembali fokus kedepan. Dihadapannya kini ada sebuah persimpangan. “Kanan? Atau Kiri?” pikir Sadam dalam hati. “Kanan.” Sadam berbelok ke kanan. Kemudian ia langsung dihadapkan kembali dengan persimpangan. “Lurus.” Kata Sadam terus berlari. Kaki Tiara mulai terasa letih. Semakin lama, kakinya semakin melamban. Karena tangannya terus ditarik, membuat tubuh mungilnya jatuh dan tersungkur. Sadam melihat ke belakang, dan orang-orang itu semakin mendekat. Ia lalu berjongkok dan menggendong Tiara. Setelah naik keatas punggung, Sadam lalu kembali berlari. Sepanjang gang, ia terus dihadapi dengan persimpangan-persimpangan yang membuatnya bingung. Ia tak boleh berakhir di jalan buntu. Sadam terus berlari dengan harapan bahwa orang-orang itu akan terkecoh. Namun ketika ia menoleh ke belakang, orang-orang itu masih tetap mengejarnya. Kakinya semakin lama, semakin terasa lelah. Keringat mulai bercucuran dari sekujur tubuhnya. Jantung Sadam terus berdegup dengan kencang. Bagaimana tidak, setelah lelah bekerja seharian, ia harus memasak untuk makan malam, lalu sekarang ia harus berlari sambil menggendong Tiara. Sadam memejamkan mata untuk sesaat dan mencoba sekuat tenaga agar tak menghiraukan rasa lelahnya. “Kanan, kanan lagi, kiri, lurus, kiri, kanan, lurus, kiri, kiri lagi, kanan, lurus.” Kata Sadam di setiap persimpangan yang ia lewati. Ia sampai kembali di jalan raya. Ini kesempatan Sadam untuk menghilang diantara keramaian kota. “BANGKE!!!” bentak orang-orang itu dengan kesal karena telah kehilangan jejak Sadam dan Tiara.   Beberapa saat kemudian, Sadam mengistirahatkan tubuhnya di atas jembatan penyebrangan yang sepi tanpa ada orang yang lalu lalang. Ia menarik nafas dengan panjang dan berusaha menghirup udara sebanyak mungkin. Tiara duduk disampingnya dengan tatapan prihatin. “Ayah, mereka siapa?” Tanya Tiara. Sadam tak menjawab pertanyaan Tiara. Ia terus menarik nafas karena benar-benar kelelahan. “Ayah…” Panggil Tiara lagi sambil menggenggam tangan ayahnya. Sadam masih tak menjawab. “Ayaaahhh…” Tiara terus mencoba memanggil ayahnya. “APA??!!!” bentak Sadam dengan kesal. Tiara benar-benar terkejut dengan bentakan Sadam. Baru pertama kali seumur hidupnya, ayahnya membentaknya. Matanya lalu berkaca-kaca. Bibirnya menjadi mengkerut. Membuat Sadam segera menyadari kesalahannya. “Maafin ayah ya!” Kata Sadam sambil memeluk Tiara yang mulai menangis. Tiara terus menangis dalam pelukan Sadam. “Hey…Jangan nangis! Ayah janji, ayah gak akan bentak Tiara lagi!” Kata Sadam sambil membelai rambut Tiara. “Ayaaaahh…Tiara takut.” Kata Tiara sambil menangis. “Takut? Apa yang Tiara takutkan?” Tanya Sadam. “Tiara takut kehilangan ayah.” Tiara semakin mengeratkan pelukannya. “Maksud Tiara, Tiara takut ayah mati?” Tanya Sadam. Tiara menganggukan kepalanya dengan lemah. “HAHAHA…Ayah ini jagoan. Ayah ini sulit untuk mati.” Kata Sadam sambil tertawa. “Kenapa sih, kita gak bisa hidup tenang?” Tanya Tiara dalam isak tangisannya. Sadam terdiam sejenak. “Suatu saat, Tiara pasti bisa hidup dengan tenang. Ayah janji!” Kata Sadam sambil tersenyum dan terus membelai rambut Tiara. Hari semakin larut. Bintang-bintang bersinar begitu indahnya. Diantara bintang-bintang itu, ada sebuah bulan purnama yang terlihat sangat indah. “Purnama…” Kata Sadam sambil tersenyum menatap bulan purnama itu. Sadam menyenderkan tubuhnya pada pagar jembatan itu. Sementara Tiara sudah terlelap dengan posisi telentang beralaskan kardus bekas dan kaki ayahnya yang menjadi bantalnya. Sadam mengusap-usap kepala Tiara yang bersender di kakinya. Usapan yang membuat Tiara semakin larut dan terlelap. Melihat anaknya yang tidur dengan begitu nyenyak, membuat Sadam ikut 'mengantuk. Namun tiap kali ia memejamkan mata, ia membayangkan kalau orang-orang itu bisa menemukan mereka ketika mereka tertidur. Ketakutan akan keselamatan Tiara, membuatnya harus terjaga sampai pagi. Mentari mulai terbangun dari tidurnya dengan ceria. Saking cerianya, sinar cahaya begitu terang menerangi dunia yang penuh dengan kegelapan. Para manusia mulai terbangun dari tidurnya. Memulai hari dan aktivitasnya masing-masing. Tiara masih memejamkan matanya. Membuat Sadam harus menggendongnya agar mereka pindah dari jembatan ini karena beberapa orang mulai berlalu lalang menggunakan jembatan penyeberangan ini. Dengan rasa kantuk yang mengganggunya, Sadam terus berjalan menyisiri trotoar tanpa tujuan. Ia tak bisa mengunjungi orang-orang yang dikenalnya, karena itu hanya akan membahayakan mereka. Tiara membuka kedua matanya karena ia merasakan tubuhnya bergerak. Ia mendapati tubuhnya sedang digendong oleh ayahnya. “Ayah turunkan aku!” pinta Tiara. “Oh. Kamu udah bangun? selamat pagi tuan putri…” Kata Sadam lalu menurunkan Tiara lalu membiarkan Tiara memegang biolanya. Sadam dan Tiara berjalan kembali menuju rumah mereka, namun rupanya rumah mereka sudah dijaga dengan ketat. Tidak ada lagi tempat untuk berlari. Yang bisa mereka lakukan hanyalah bersembunyi.   Randy terus menyisiri setiap sudut kota untuk mencari Sadam. Ia mengemudikan mobilnya dengan perlahan dan sesekali bertanya pada orang-orang dengan menunjukan foto Sadam dan Tiara. Ia sudah berjanji pada Dina untuk melindungi Sadam, namun bagaimana bisa ia menepati janjinya jika ia tidak bisa menemukan Sadam. Tak terasa matahari mulai mengantuk. Ia segera pamit dan sinarnya mulai menghilang. Meninggalkan Randy yang masih dalam pencariannya. Setelah tengah malam, Randy baru kembali ke istananya. Pencarian hari ini tidak membuahkan hasil. Ia termenung diatas sofa dengan tatapan kosong. “Papa udah pulang?” Tanya Raymon yang tiba-tiba ada dibelakangnya. “Hey… jagoan papa! Kenapa belum tidur?” Tanya Randy. “Raymon khawatir.” Jawab Raymon dengan polos. Raymon lalu duduk disamping Randy. “Pah, apa ini ada hubungannya dengan kerjaan papa?” Tanya Raymon penasaran. “Enggak.” Jawab Randy sambil tersenyum. “Terus papa kenapa selalu sibuk?” Tanya Raymon. “Papa lagi nyari Om Sadam dan Tiara. Nyawanya sedang terancam. Tapi sampe sekarang papa belum bisa menemukannya.” Jawab Randy. “Boleh Raymon bantu?” Tanya Raymon dengan polos. Randy tersenyum pada Raymon lalu mengusap kepalanya. “Kamu fokus sekolah aja! Urusan ini biar papa yang menangani.” Kata Randy. “Baiklah kalau gitu. Raymon bangga dengan papa.” Kata Raymon sambil tersenyum. “Ya sudah, kamu tidur sana!” kata Randy. Raymon segera beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. “Raymon!” panggil Randy. “Ada apa, Pah?” Tanya Raymon. “Kalau Papa gagal melindungi Om Sadam dan Tiara, apa rasa bangga Raymon akan hilang?” Tanya Randy, membuat Raymon menghentikan langkahnya. “Tidak. Raymon tau kalo Papa sudah berusaha semaksimal mungkin. Jadi, jika hasilnya ternyata tidak seperti yang diharapkan, itu berarti memang sudah takdir dari Tuhan. Tapi, karena Tiara sudah Raymon anggap menjadi teman Raymon. Mungkin Raymon akan bersedih jika harus kehilangan Tiara.” Kata Raymon lalu kembali berjalan ke kamar meninggalkan papanya yang masih tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut anaknya.   Keesokan harinya…. Tiara sedang menyantap semangkuk bubur ayam dipinggir jalan. Ia memakan dengan lahap karena rasa lapar telah mengganggunya sejak malam. “Ayah gak makan?” Tanya Tiara. “Ayah lagi diet. Tuh lemak di perut ayah udah menumpuk.” Kata Sadam sambil mencubit kulit perutnya sendiri. “Makanya… habis makan jangan langsung tidur! Jadi buncit deh…” Kata Tiara sambil tertawa. Sadam membalas tawaan Tiara. Sebuah tawa yang menyembunyikan rasa lapar di perutnya. Ia sangat ingin membeli semangkuk bubur ayam dan makan bersama dengan Tiara, namun ia tak memiliki cukup uang. Bagi Sadam melihat Tiara yang makan dengan lahapnya, bisa menahan rasa lapar yang memberontak didalam perutnya. Setelah selesai makan dan membayar semangkuk bubur ayam itu, Sadam dan Tiara kembali melanjutkan perjalanan mereka yang masih tanpa tujuan. Mereka berdua menemukan sebuah bangunan kosong yang terbengkalai didekat sebuah pasar traditional. Sadam mengajak Tiara untuk beristirahat didalam bangunan itu. Bangunan itu tampak kotor dan lembab. Entah telah berapa lama bangunan ini di tinggalkan. “Hmmmm Tiara tunggu sebentar disini! Ayah mau cari kardus bekas supaya kita bisa duduk.” Kata Sadam. Tiara menganggukan kepalanya. Sadam segera keluar untuk mencari kardus bekas. Sementara Tiara harus bersabar menunggu ayahnya kembali. Beberapa menit kemudian, Sadam kembali dengan 2 buah kardus bekas. Ia menggelarnya dan akhirnya mereka pun bisa duduk bahkan merebahkan tubuh mereka tanpa harus khawatir merasa kotor. Sadam merebahkan tubuhnya diatas kardus itu. Ia memejamkan matanya sejenak agar tertidur dan menghilangkan rasa lapar yang menyelimutinya. Namun, baru saja ia memejamkan mata.   “Ayah, Tiara kangen sekolah!” Kata Tiara sambil terduduk dan termenung. Sadam membuka kembali kedua bola matanya. Menatap Tiara dengan rasa iba. “Ayah janji. Kamu pasti akan bisa bersekolah lagi.” Kata Sadam sambil menatap Tiara dengan iba. Tiara hanya diam membisu. Dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ragu jika ia bisa kembali bersekolah dan hidup normal seperti anak kebanyakan. Sementara itu, Sadam sambil telentang menerawang ke langit-langit. Dari dalam lubuk hatinya, ia berjanji bahwa suatu saat kehidupan Tiara akan kembali normal. Tiara menatap ayahnya yang sedang melamun dan berpikir. “Ayah gak jadi tidur?” Tanya Tiara. Perkataan Tiara memecah lamunanannya. “Iya. Ini ayah mau tidur.” Kata Sadam sambil kembali memejamkan kedua matanya. Sadam terlelap meninggalkan Tiara yang masih duduk termenung sambil menggenggam biolanya. Beberapa jam kemudian, Sadam terbangun dan keadaan sudah menjadi gelap gulita. Ia tak menemukan Tiara didekatnya. “Tiaraaa?” panggil Sadam. Tak ada jawaban sedikit pun dari Tiara, Sadam hanya mendengar suaranya yang menggema memenuhi seluruh ruangan. “TIARA???” Sadam semakin panik. Tak lama, Tiara datang sambil membawa dua bungkus makanan ditangannya. “Ayah…” panggil Tiara dengan riang. “TIARA KAMU DARIMANA?” bentak Sadam kepada Tiara yang baru saja datang. “Tiara habis beli makan buat, ayah!” kata Tiara sambil memberikan bungkusan makanan. “Makan? KAMU DAPET UANG DARIMANA?” bentak Sadam membuat Tiara menjadi takut. “Ti-Tiara barusan…” belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Sadam sudah memotongnya. “KAMU NYURI? AYAH GAK PERNAH NGAJARIN KAMU BUAT NYURI!!!” Bentak Sadam semakin keras. Tiara terdiam dan tak menyangka bahwa ayahnya akan berpikir yang buruk tentangnya, air matanya seketika mulai meleleh. Ia semakin menangis menjadi-jadi. “Tiara gak nyuri…” kata Tiara dalam isaknya. “TERUS APA?” bentak Sadam dengan amarah yang masih membelenggunya. “Tiara tadi duduk di pinggir jalan… terus Tiara main biola… terus tiba-tiba banyak yang ngasih uang…” Kata Tiara sambil terus menangis. Sadam terdiam membisu mendengar jawaban dari Tiara. Ia benar-benar dihujani rasa bersalah. Sadam seharusnya senang karena rupanya dalam kesulitan pun Tiara masih memikirkannya. Sadam benar-benar merasa malu. Ia yang membawa Tiara dalam kondisi seperti ini, dan ia pula menuduh Tiara melakukan hal yang macam-macam. Sadam berlutut dan memanggil Tiara. “Tiara…kemarilah!” panggil Sadam sambil tertunduk. Tiara menghampiri ayahnya sambil terus menangis. “Maafin ayah! Ayah janji tidak akan memarahimu lagi.” Kata Sadam sambil memeluk Tiara. “Ayah… berhenti! Jangan pernah membuat terlalu banyak janji yang pada akhirnya tidak bisa ayah tepati!” Kata Tiara dalam isak tangisnya. “Ini. Benar-benar janji terakhir ayah!” Kata Sadam memeluk Tiara dengan erat. Malam itu, mereka makan bersama dan melupakan kejadian yang sebelumnya terjadi. Keesokan harinya… “Tiara… kamu tunggu disini! Ayah mau jual hape ayah untuk kita hidup!” Kata Sadam berpamitan. “Ayah…Tiara mau bantu! Tiara mau main biola supaya bisa dapet uang kayak kemarin.” Kata Tiara dengan polos. “Ngamen? Jangan Tiara! Diluar sana banyak orang-orang jahat yang bisa membahayakanmu.” Kata Sadam. “Yaudah deh!” kata Tiara dengan wajah murung. Tiara segera mencium tangan ayahnya. Ayahnya lalu pergi meninggalkan Tiara di Rumah itu. Siang harinya, Sadam belum kembali sejak pagi karena ponselnya masih belum laku terjual. Sedangkan cacing-cacing di perut Tiara sudah berdemo agar segera diisi. Rasa lapar yang di deritanya, membuat ia menjadi nekat. Dengan bermodalkan keteguhan hati, serta biola peninggalan ibunya. Tiara segera pergi meninggalkan tempat berlindung mereka. Di Pasar, Tiara segera melantunkan sebuah lagu dari biolanya. Ia begitu menghayati setiap gesekan pada senarnya. Membuat siapa saja orang yang melintas, berhenti sejenak untuk menikmati lantunan lagu dari Tiara. Orang-orang langsung merogoh saku mereka untuk memberikan Tiara uang. Ketika Tiara menghentikan permainannya, orang-orang yang mengerubunginya langsung bertepuk tangan dengan meriah. “Terima kasih…” kata Tiara sambil membungkukan badannya. Setelah kerumunan itu pergi, Tiara langsung menghitung uang yang ia dapatkan hari ini. “Asiiikkk… dapet banyak nih?” tiba-tiba 5 orang preman datang dan salah seorangnya merebut uang dari tangan Tiara. “Kembalikan! Itu uang untuk ayah…” rengek Tiara. “Uang ini sekarang jadi milik kita!” kata salah seorang preman. “Tolong kembalikan!” Kata Tiara memelas dan berusaha mengambil kembali uangnya. Kelima preman itu hanya tertawa melihat Tiara yang bersusah payah merebut kembali uang ditangan mereka. Karena merasa dipermainkan, Tiara menendang kaki salah seorang preman yang memegang uangnya hingga preman itu membungkuk. Kesempatan itu Tiara gunakan untuk merebut kembali uang hasil jerih payahnya dan segera berlari. Keempat preman lainnya berlari mengejar Tiara. Dengan ketakutan dan panik, Tiara terus berlari. Salah seorang preman yang tadi kesakitan akibat menerima tendangan Tiara, kini sudah pulih kembali. Ia pun segera berlari mengejar Tiara dan keempat temannya. Sadam saat itu sedang berjalan di trotoar jalan raya sambil menghitung uang setelah berhasil menjual ponsel miliknya. Namun, ia bisa mendengar suara gaduh dekat dengan tempat ia berdiri. Matanya seketika tertuju ketika ia menangkap seorang anak kecil sedang dikejar-kejar oleh 5 orang preman di sebrang jalan. “Tiara?” Sadam langsung berlari mengejar Tiara dan kelima preman itu. Kedua kaki Tiara membawanya masuk kedalam gang yang berkelok. Kedua kaki mungilnya terus berlari tanpa arah dan tujuan. Tiara menoleh ke belakang dan tampak kelima preman itu telah semakin dekat. Tiara merasakan kedua kakinya sudah semakin lelah. Namun, ia harus terus berjalan. “Inikah rasa lelah yang dirasakan ayah saat itu? Bagaimana bisa ia berlari sambil menggendongku?” Pikir Tiara dalam hati. Di persimpangan depan, Tiara mengambil langkah dan berbelok ke kiri. Sayangnya, Dewi Fortuna tidak memihak padanya. Ia terperangkap di jalan buntu dengan tembok yang sangat mustahil bisa ia panjat. “Mau lari kemana lagi, tikus kecil?” Tanya kelima preman itu sambil menyeringai. Tiara benar-benar ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Namun ketakutan itu seketika langsung menghilang ketika ayahnya menerobos kelima preman itu. “Tolong jangan sakiti anak saya!” kata Sadam sambil merangkul Tiara. “Awalnya kita cuma mau uang itu!” tunjuk salah seorang preman pada uang ditangan Tiara. “Oke. Kalian boleh ambil tapi jangan sakiti anak saya!” kata Sadam memohon dan memberikan uang ditangan Tiara kepada kelima preman itu. “Anak lu udah bikin kita capek hari ini. Urusan gak bisa selesai disini aja!” Kata salah seorang preman. “Apalagi mau kalian?” Tanya Sadam heran. Mereka berlima menyeringai pada Sadam. Sebuah bogem mentah langsung menghantam wajah Sadam. Tubuhnya menjadi ambruk. Kelima preman itu menginjak-injak tubuh Sadam yang tak berdaya. Didekatnya, Tiara terus berteriak histeris sambil menangis. Hanya itu yang bisa dilakukannya sambil terus melihat ayah tercintanya di hajar habis-habisan. Meski tubuhnya sedang dihajar habis-habisan, Sadam masih bisa menatap putrinya yang terus menangis dan berteriak histeris. Dengan susah payah, tangan Sadam mulai bergerak dan meraih tangan Tiara. Seketika Tiara berhenti menangis dan berteriak setelah ayah menggenggam tangannya dengan erat. Ia menatap wajah ayahnya yang terus dihajar oleh kelima preman itu. “Kenapa ayah malah tersenyum?” Tanya Tiara dalam hati. TIba-tiba genggaman tangan Ayah mulai melemah dan terlepas dari tangan Tiara. Setelah merasa puas, mereka memutuskan untuk segera pergi. Sebelum pergi, salah seorang preman itu memeriksa saku disetiap pakaian Sadam. Mereka tertawa setelah menemukan sejumlah uang hasil penjualan ponsel Sadam. Kini Sadam dan Tiara benar-benar tak memiliki uang sepeserpun. Sadam masih tergeletak tak berdaya bersimbah darah. Tiara memeluknya dan terus menangis melihat kondisi ayahnya yang benar-benar kritis. “Ayaaaahhh… bangun!” Kata Tiara sambil menangis dan menggoyangkan tubuh Sadam. Sadam tak bersuara sedikitpun. “Ayah jangan mati! Jangan tinggalin Tiara!” kata Tiara terus menangis histeris. “Ayah belum mati. Kan ayah bilang, ayah itu sulit untuk mati.” Kata Sadam sambil tersenyum menampakan giginya yang berwarna merah akibat darah. “Ah! Ayah bikin Tiara panik aja.” Kata Tiara sambil memukul perut ayahnya. “Aduuuhh!!!” kata Sadam kesakitan setelah Tiara memukul perutnya. Setelah itu, Tiara membantu ayahnya untuk berdiri. Mereka berdua berjalan keluar dari gang ini. Dengan tergopoh-gopoh, Sadam menyeret kakinya sambil tangan kanannya di tuntun oleh Tiara. Di pinggir sebuah toko yang telah tutup, Sadam mendudukkan tubuhnya. “Kita bermalam disini aja. Ayah udah gak kuat!” Kata Sadam sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tiara duduk disampingnya sambil meratapinya. “Ayah maafin Tiara!” Kata Tiara sambil menatap Ayahnya dengan Iba. “Iya… Ayah udah maafin kamu kok!” Kata Sadam dengan lemah. “Ayah marahin Tiara, sekarang! Soalnya Tiara udah gak nurut sama ayah.” Kata Tiara sambil memberikan tangannya untuk Sadam pukul. “Tidak. Ayah tidak akan marahin Tiara! Kan ayah udah berjanji.” Kata Sadam sambil tersenyum lemah. Tiara terdiam dan menangis. “Ngomong-ngomong, apa alasan kamu tetap ngamen?” Tanya Sadam. Tiara tertunduk sejenak lalu mulai berbicara. “Tiara laper. Udah gitu, Tiara pengen beliin hadiah untuk ayah. Hari ini kan ulang tahun ayah.” Kata Tiara menatap ayahnya yang semakin lemah. Mendengar perkataan Tiara, Sadam menjadi sangat terharu. Ia bahkan tak mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. “Tiara, kamu gak usah kasih kado untuk ayah! Sepanjang hidup ayah, kamu adalah kado terindah yang diberikan Tuhan untuk ayah. Maaf, ayah udah bikin kamu kelaparan!” Kata Sadam sambil tersenyum dan mengusap-usap kepala Tiara. Tiara pun terharu dengan perkataan ayahnya. Ia mendekatkan tubuh mungilnya dan memeluk tubuh ayahnya yang masih terasa sakit. Malam semakin larut. Tiara sudah terpejam disisi ayahnya sambil tidur meringkuk kedinginan. Sadam masih duduk terjaga maratapi tubuh Tiara. Ia membuka baju yang dipakainya meski sudah bersimbah darah untuk menyelimuti tubuh mungil buah hatinya. Angin malam terasa begitu menusuk hingga ke tulang apalagi kini Sadam telah bertelanjang d**a. Namun Sadam tak begitu memikirkannya karena semua ini ia lakukan agar Tiara tidak menggigil kedinginan. “Ayah sayang sama kamu.” Kata Sadam sambil membelai kepala Tiara yang sedang terlelap. Tiba-tiba sebuah sorot lampu mobil berjalan mendekat. Seseorang turun dari mobil dan memandangi mereka berdua. “Sekarang apa lagi?” gumam Sadam ketika melihat Randy. Randy berdiri dan memanggil Sadam untuk masuk kedalam mobilnya. Sambil memegangi perutnya yang terasa sakit bercampur dingin dari angin malam, Sadam masuk kedalam mobil Randy. “Mau sampai kapan lu bikin hidup dia menderita seperti itu?” Kata Randy dari dalam mobil menatap Tiara yang sedang terbaring di emperan toko yang tertutup. “Entahlah. Gua pengen banget bikin dia bahagia! Tapi gua gak pernah bisa.” kata Sadam sambil menatap kosong kedepan. “Serahkanlah dirimu! Jangan lagi libatkan dia!” Kata Randy. “Gua gak bisa meninggalkan dia!” Kata Sadam. “Semua terserah sama lu. Lu punya 2 pilihan. Yang pertama, serahkan diri lu dan tinggalkan dia! Yang kedua, lu hidup bersama dengan dia dan terus berharap keajaiban mampu membuat hidupnya bahagia. Dengan sejuta teror yang mengancam nyawanya. Mana pilihan yang lu ambil?” Tanya Randy dengan serius. Sadam terdiam dan berpikir. Cukup lama sehingga membuat Randy kembali berbicara. “Dam, jujur gua pengen banget lindungin lu sama Tiara. Tapi, kayaknya gua gak bisa. Dari kemarin gua terus nyariin lu. Dan sekarang, ketika lu ada di depan gua. Gua gak tau harus ngapain.” Kata Randy berbicara serius. “Randy. Lu gak bisa ngelindungin gua, tapi lu bisa nolongin gua!” Kata Sadam menatap Randy dengan serius. “Apa yang bisa gua bantu?” Tanya Randy penasaran. Sadam berbicara pada Randy dengan sangat serius, membuat Randy memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari mulut Sadam dengan seksama. “Baiklah. Kalo memang itu yang lu pilih. Buatlah Tiara bahagia!” Kata Randy sambil memberikan sejumlah uang pada Sadam. Setelah menerima uang dari Randy, Sadam segera turun dari mobil. Sementara itu, Randy membatalkan niatnya untuk menyerahkan Sadam pada Om Rio maupun keluarga Pangestu. Ia juga tak tau bagaimana cara untuk melindungi Sadam. Namun, sesuai apa yang dibicarakannya dengan Sadam. Ia yakin, ia bisa menolong Sadam. Mobil Randy semakin melaju menjauh meninggalkan Sadam dan Tiara yang diselimuti dinginnya malam dibawah langit gelap.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN