Untuk Tuan Putri

4274 Kata
  “Tiara… ayo bangun!” panggil Sadam sambil mengguncang tubuh Tiara. Hawa dingin di pagi hari benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tiara terkejut melihat ayahnya yang bertelanjang d**a. “Baju ayah kemana?” Tanya Tiara heran. “Lah…itu yang kamu peluk, baju siapa?” Tanya Sadam sambil tertawa kecil. “Jadi… semalaman baju ayah, Tiara pake untuk selimut?” Tanya Tiara. Sadam mengangguk. “Berarti…” belum sempat Tiara menyelesaikan kalimatnya, Sadam sudah menaruh jari telunjuknya persis di depan bibir Tiara. “Pagi-pagi udah cerewet. Sekarang mending kita mandi! Habis itu, ayah mau ngajak kamu ke suatu tempat yang sangat spesial.” Kata Sadam dengan penuh semangat. “Oh ya? Asiiikkk!!!” kata Tiara dengan kegirangan. Mereka lalu berjalan dengan gembira menuju sebuah WC umum yang letaknya tidak terlalu jauh. Semua rasa gatal yang hinggap di tubuh mereka langsung sirna seketika setelah terbilas air. Setelah badan segar, saatnya mengenyangkan perut. Tak jauh dari tempat itu, seorang pedagang nasi kuning baru saja menggelar lapaknya. “Bu, Nasi kuning 2 porsi ya!” pesan Sadam. Penjual nasi kuning itu melayani sambil terus menatap baju Sadam yang dipenuhi noda darah yang mengering. Namun, penjual nasi kuning itu tak berani berkomentar apapun. Tak lama 2 porsi nasi kuning sudah ada didepan mata mereka. Asapnya yang mengepul, membuat nasi ini tampak sangat menggiurkan. Sadam dan Tiara makan dengan lahapnya. “Mau nambah?” Tanya Sadam yang melihat Tiara makan dengan sangat lahap. Tiara menganggukan kepalanya meski nasi yang berada di mulutnya belum ia telan. “Bu, tambah 2 porsi ya!” kata Sadam pada penjual nasi kuning itu. Matahari semakin lama semakin naik dan sinarnya semakin menyeruak. Toko-toko mulai buka. Setelah makan, Sadam mengajak Tiara untuk membeli baju baru di sebuah toko yang baru saja buka. “Tiara pilih baju mana yang kamu suka?” Kata Sadam sambil tersenyum. “Ayah dapet uang dari mana sih?” Tanya Tiara penasaran. “Kemarin malam, temen ayah datang meminjamkan uang. Dan ayah berjanji kalo uang ini akan ayah gunakan untuk membahagiakan kamu.” Kata Sadam sambil berjongkok dan mengelus kepala Tiara. “Jadi, sekarang Tiara boleh pilih baju yang Tiara suka?” Tanya Tiara dengan penuh semangat. “Iyaaaa…” kata Sadam. “Asiikkk…” Tiara langsung berlari dan memilih baju. Tak hanya Tiara, Sadam pun juga mencari baju yang layak dipakai olehnya untuk mengganti bajunya yang telah dilumuri oleh darah yang mengering. Tiara dan Sadam mencoba beberapa baju di kamar pas. Butuh waktu yang agak lama, namun akhirnya mereka menemukan baju yang pas. Akhirnya Sadam memilih untuk mengenakan kemeja hitam dengan celana jeans berwarna krem. Sedangkan Tiara, memilih untuk mengenakan short dress berwarna putih. Tak hanya itu, mereka juga membeli beberapa pakaian untuk ganti di kemudian hari. Setelah berpakaian lebih layak, kini Sadam mengajak Tiara untuk membeli tas dan berbagai perbekalan. Sadam juga membeli tas yang lebih besar agar biola Tiara bisa masuk kedalam tasnya dan tak perlu repot-repot menggenggamnya sepanjang hari. Merasa sudah lengkap, Sadam menuntun Tiara dan berdiri di trotoar untuk menunggu taksi. Dari kejauhan muncul sebuah taksi yang melaju mendekati sepasang ayah dan anak yang sedang berbahagia ini. “Mau kemana, mas?” Tanya supir taksi setelah Sadam dan Tiara duduk di kursi penumpang. “Gunung Putri.” Jawab Sadam. Karena jaraknya cukup jauh, sepanjang perjalanan Tiara terus melihat keluar jendela menikmati pemandangan-pemandangan kota Bandung yang tak sempat ia nikmati karena koma di Rumah Sakit. Sedangkan Sadam menatap keluar jendela sambil tersenyum. Butuh waktu 2 jam hingga akhirnya mereka sampai di Gunung Putri. “Kamu kuat mendaki gak?” Tanya Sadam setelah turun dari taksi. “Hmmm siapa takut???” Kata Tiara dengan semangat. Sadam segera membayar tiket masuk dan lalu mulai mendaki. Belum 5 menit perjalanan, Tiara sudah mengeluh kelelahan. “Yaaahhh… katanya kuat.” Ejek Sadam. “Ayah…istriahat dulu! Tiara gak kuat.” Kata Tiara dengan kelelahan. “Kamu kayak Om Ucup. Gak kuat diajak naik Gunung.” Sadam terus mengejek Tiara. “Itu kan karena aku masih kecil. Liat aja nanti kalo Tiara udah gede! Gunung segini mah kecil…” Kata Tiara di sela nafasnya yang terengah-engah. “Ahhhh… tuan putri bisa aja alasannya!” kata Sadam sambil mencubit hidung kecil Tiara dengan gemas. Sadam meminta Tiara untuk naik ke punggungnya. Namun, Tiara menolaknya. “Kamu udah gak mau ayah gendong?” Tanya Sadam. “Tiara kan udah gede. Udah semakin berat. Lagian ayah pasti capek kalo harus gendong Tiara terus.” Kata Tiara. “Iyaaa… ayah percaya kamu udah gede. Omongan kamu makin hari makin dewasa.” Kata Sadam sambil tersenyum. Sadam dan Tiara memutuskan untuk beristirahat lebih lama lagi. Setelah energinya pulih, mereka melanjutkan mendaki. Baru beberapa meter mereka mendaki, Sadam bisa mendengar nafas Tiara yang ngos-ngosan. Sadam menengok kearah Tiara, dan rupanya Tiara benar-benar sudah kelelahan bahkan sampai menjulurkan lidahnya. “Hop…” Tanpa pikir panjang, Sadam melepaskan tasnya dan langsung berjongkok didepan Tiara. “Tiara masih kuat kok!” kata Tiara menolak. “Iyaaa… Ayah tau kamu masih kuat. Anak ayah kan hebat. Ayah cuma lagi pengen gendong kamu aja.” Kata Sadam mencari alasan. “Emang ayah gak berat gendong Tiara?” Tanya Tiara. “Ya…lebih berat biayain kamu sekolah sih!” Kata Sadam sambil tertawa. “Iihhhh… liat aja, entar Tiara bakal biayain sekolah sendiri kalo udah gede.” Kata Tiara sambil memonyongkan bibirnya. “Ayo cepet naik! Ayah udah pegel nih jongkok terus!” protes Sadam. Tiara langsung naik ke punggung ayahnya, sementara tas Sadam ia gendong di depan. Dengan langkah yang sedikit demi sedikit, akhirnya Sadam dan Tiara sampai di dalam hutan yang cukup lebat. Sadam segera menurunkan Tiara dari punggungnya dan lalu mereka duduk diatas padang rumput dikelilingi pohon-pohon lebat. “Ayah mau ngapain sih ngajak aku kesini?” Tanya Tiara penasaran. Sadam tersenyum sejenak dan menjawab. Ia mengenang masa itu sambil tersenyum penuh kerinduan untuk kembali ke masa itu. Saat itu di tempat ini… Laras sedang merebahkan tubuhnya diatas hammock sambil menatap ke langit yang terhalang sebagian oleh pepohonan. Ia sangat menikmati suasana yang hening dengan udara yang segar ketika ia hirup dalam-dalam. Tiba-tiba Sadam sudah berada didekatnya dan mencium keningnya. “Gimana tuan putri, seneng?” Tanya Sadam sambil menggodanya. “Seneng sih. Tapi jangan panggil tuan putri! Norak. Jijik. Wleeekk…” Kata Laras pura-pura muntah. “Terus mau dipanggil apa, dong?” “Panggil paduka Ratu aja! Kalo Tuan putri, untuk anak kita nanti…” “Wleeekkk… malah lebih norak! Lebih jijik! Lagian kalo kita menikah nanti, aku gak mau punya anak!” “Loh? Kenapa?” “Jadi orang tua itu sulit. Lagian kasian anakku kalo lahir ke Dunia yang kejam ini.” Laras hanya tersenyum.   “Dulu, Ayah sama Bunda pernah kemping di tempat ini. Ayah pernah janji akan memperlihatkan pemandangan yang sangat indah pada Bunda. Tapi, akhirnya belum kesampaian karena waktu itu, sahabat ayah om Dimas harus pergi ke Jogja. Nah, sekarang ayah pengen lihatin tempat itu pada Tuan Putri Tiara.” Kata Sadam sambil mengingat-ingat kejadian masa lalu. Mendengar ucapan ayahnya, semakin membuat api semangat dalam tubuhnya berkobar. “Ayo… kita kesana sekarang!” kata Tiara dengan semangat. “Kamu minum dulu… nanti haus!” kata Sadam. “Oh iyaaa…” Kata Tiara sambil mulai mengeluarkan botol minum didalam tasnya. Setelah siap, mereka pun melanjutkan perjalanan. Sadam tak lagi menggendong Tiara, karena kali ini medan yang mereka lalui sangatlah landai sehingga tidak akan membuat Tiara merasa capek. Setengah jam telah berlalu. Kini kedua mata Tiara terbelalak saat melihat pemandangan air terjun yang indah. “Waaahhh bagus banget!” kata Tiara dengan takjub. “Bagus kan?” Tanya Sadam. Tiara tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia masih takjub dengan aliran air yang jatuh dari ketinggian sehingga cipratannya bahkan terasa menerpa wajah imut Tiara. Diatas, burung-burung berkicauan dengan merdu. “Ayaahhh…Tiara pengen berenang!” Kata Tiara sambil berlari menuju air terjun. “Ehhhh… kamu kan gak bawa baju renang!” Kata Sadam sambil menarik tangan Tiara yang hendak lari. Tiara memasang wajah cemberut. “Ayolah Tiara… jangan pasang wajah kayak gitu! Ayah jadi gak tega.” Kata Sadam yang menatap wajah Tiara yang cemberut. Tiara masih terus memasang wajah cemberut. “Mas, anaknya mau main air ya? Cuma mas gak bawa baju renang, kan?” Tanya seseorang yang tiba-tiba berada dibelakang Sadam. “Loh… kok bapak tau?” Tanya Sadam. “Saya ini paranormal yang nyambi jadi pedagang. Ini saya jual baju renang untuk anak-anak.” Kata pedagang itu. Sadam melirik kearah Tiara. Kini Tiara sudah nyengir dan menghapus wajah cemberutnya. Beberapa saat kemudian… “Wiiihhhh…dingiiinnn….!” Kata Tiara sambil bermain air. “Tiara… jangan jauh-jauh ya!” Teriak Sadam dari pinggir. Tiara melemparkan beberapa air kepada ayahnya. Membuat Sadam harus menghindar dari serangan Tiara. Wajah Tiara benar-benar terlihat tampak bahagia. Tiara terus berenang sambil bermain air hingga tak terasa mereka sudah berada di tempat itu selama 1 jam. “Ayo naik Tiara…! Panggil Sadam. “Bentar lagi ayah!” kata Tiara yang senang bermain air. “Kita harus pergi ke tempat lain lagi!” Kata Sadam. Dengan berat hati, Tiara lalu naik ke permukaan. Lalu Sadam menuntunnya hingga depan ruang ganti baju. Kini Tiara sudah berpakaian lengkap seperti sediakala. Sadam menuntun Tiara kembali menuju padang rumput diantara hutan lebat. Kembali mereka mengistirahatkan tubuh mereka sambil menyantap perbekalan yang sebelumnya mereka beli. Cuaca hari ini benar-benar indah untuk dinikmati. “Udah siang nih, selanjutnya kita mau kemana?” Tanya Tiara. Sadam menatap Tiara sambil tersenyum dan mengangkat alisnya. Setelah makan siang, Sadam dan Tiara menghabiskan waktu untuk bermain di Taman Lalu Lintas. Tiara mengendarai sepedanya dengan kecepatan penuh mengejar Sadam yang terus mengayuh. Lalu mereka berpindah ke Kebun Binatang untuk melihat para satwa. Tiara benar-benar sangat senang melihat berbagai macam hewan langka yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. “Tiara… tuh liat! Mirip Tiara kan?” Tanya Sadam sambil menunjuk seekor monyet. “Enak aja! Itu mirip ayah!” protes Tiara sambil tertawa. Sadam pun ikut tertawa melihat Tiara yang memprotesnya. Hari ini Tiara benar-benar sangat bahagia menghabiskan waktu berdua dengan ayahnya. Dalam lubuk hatinya, Tiara yakin bahwa kehidupannya akan kembali normal seperti dulu. Mentari mulai terbenam, kerlap-kerlip bintang mulai terlihat. Sadam dan Tiara sedang menikmati makan malam di sebuah Restoran yang cukup mewah. Tiara benar-benar terlihat senang. Ia selalu mengeluh jika setiap hari hanya memakan makanan yang sederhana. Kini dihadapannya terdapat berbagai macam seafood dengan aroma yang menggugah selera. “Gimana? Enak?” Tanya Sadam sambil mengupas kulit udang. “Hmmmm…enak banget!” Jawab Tiara dengan mulutnya yang belepotan. “Abisin makanannya! Jangan disisa-sisa!” Kata Sadam sambil tersenyum. “Siap, Komandan!” jawab Tiara yang juga tersenyum. Banyak sekali makanan yang tersedia didepan meja. Tiara sudah tak sanggup lagi untuk memakan semuanya. Perutnya benar-benar sudah terasa penuh. “Ayah…perut Tiara udah penuh!” kata Tiara sambil mengusap-usap perutnya. “Hayooo… tadi tuan putri janji mau ngabisin semuanya!” Kata Sadam. “Hehe…tapi ternyata perutku udah gak muat.” Kata Tiara sambil nyengir. “Ayah gak mau tau loh… Tiara tau kan kemaren rasanya kelaparan gimana? Sekarang Tiara malah mau buang-buang makanan.” Protes Sadam. Tiara menunduk sambil cemberut. Ia lalu berdiri dan beranjak dari kursinya. “Tiara mau kemana?” Tanya Sadam heran. Tiara tak menjawab dan terus berjalan menuju salah seorang pelayan Restoran. Sadam terus memperhatikan apa yang akan Tiara lakukan. Tak lama, Tiara kembali sambil lengan mungilnya menarik salah seorang pelayan Restoran. “Tante, ini banyak makanan yang belum tersentuh. Boleh tolong dibungkus?” Kata Tiara dengan ramah. “Baik.” Kata pelayan itu dengan ramah dan mengusap kepala Tiara. “Tuan putri, kita kan gak punya kulkas. Ini makanan gak bisa di makan lagi besok.” Kata Sadam. “Sssttttt…ayah pokoknya tenang aja. Malam ini, pasti makanan ini akan habis.” Kata Tiara dengan penuh percaya diri. Sadam masih memandangnya dengan heran. Apa yang sebenarnya Tiara akan lakukan? Setelah membayar, Tiara dan Sadam segera keluar dari Restoran dan berjalan menyusuri trotoar. Tiara menuntun tangan Sadam entah kemana tujuan ia sebenarnya. “Kamu mau bawa ayah kemana sih?” Tanya Sadam penasaran. “Udaaahhh… ayah tenang aja!” kata Tiara sambil terus menuntun dan menarik tangan ayahnya. Mereka sampai disebuah perempatan jalan raya. Sadam dan Tiara bisa melihat betapa banyak gelandangan di pinggir trotoar. Ada yang duduk-duduk, ada yang bermain, ada pula yang sudah tertidur di pojokan. Tiara berjalan menghampiri mereka. Dengan kantong kresek besar berisikan makanan yang masih bersih dan belum tersentuh. Ia memberikannya kepada mereka. Sadam berdiri dan melihat apa yang akan Tiara lakukan. “Apakah aku berhasil mendidiknya dengan benar?” Tanya Sadam dalam hati sambil terharu melihat kemurahan hati Tiara. Para tuna wisma itu sangat berterima kasih kepada Tiara. Tak lupa mereka memanjatkan doa untuk Tiara karena kemurahan hatinya. Tiara tersenyum bahagia melihat raut wajah para gelandangan yang memancarkan sinar kebahagiaan. Setelah itu, Tiara kembali berjalan menuju tempat ayahnya berdiri. Sadam tersenyum bangga kepada Tiara. “Apa yang membuat kamu ingin memberikan makanan itu kepada mereka?” Tanya Sadam sambil tersenyum. “Aku tau rasanya kelaparan. Makanya aku ingin sedikit membantu mereka yang sedang kelaparan.” Kata Tiara sambil tersenyum polos. “Hanya itu alasannya?” Tanya Sadam. “Tidak, masih ada lagi.” Kata Tiara sambil menatap ayahnya. “Hari ini Tiara sangat bahagia. Untuk apa jika hanya aku yang merasa bahagia? Aku ingin membagikan kebahagiaan itu untuk orang lain, supaya aku semakin merasa bahagia.” Lanjut Tiara dengan mata berbinar. Sadam tersenyum menatap Tiara. Ia berjongkok dan terus menatap wajah Tiara. “Ayah sangat bangga sama kamu. Dan bunda juga pasti bangga sama kamu.” kata Sadam sambil mengecup kening Tiara. Sadam kembali berdiri. Matanya menatap kearah Timur. Dari jauh tampak sebuah taksi sedang melaju mendekat kearah mereka. Setelah taksi itu berhenti didepan mereka, Sadam dan Tiara segera masuk ke jok penumpang. “Kita mau kemana lagi sekarang, ayah?” Tanya Tiara. “Ada dua tempat lagi yang harus kamu kunjungi! Dan salah satunya, akan kita kunjungi malam ini.” Kata Sadam sambil tersenyum membuat Tiara semakin penasaran. “Apa harus malam ini?” Tanya Tiara dengan penasaran. “Ya. Harus malam ini!” Jawab ayahnya sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai disebuah bukit. “Ini dimana, ayah?” Tanya Tiara penasaran. Sadam hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan Tiara. Membuat Tiara kini benar-benar penasaran dan bertanya-tanya. Sadam berjalan sambil menuntun tangan mungil Tiara menuju sebuah tempat yang sangat spesial. “Tiara…lihat itu didepan!” Kata ayah pada Tiara. Tiara menyipitkan matanya. Tampak sebuah bangku panjang dengan sebuah tiang lampu di belakang lampu itu. Bangku itu terletak diantara dua pohon yang sangat rindang. Tiara masih bingung, tempat apa ini sebenarnya. Tapi, ayahnya terus menuntun tangan mungilnya hingga kini mereka telah duduk di bangku itu. Tiara benar-benar takjub dengan keindahan yang ada didepannya. Bangku itu terletak persis di tepi bukit. Sehingga, mereka bisa melihat seluruh isi kota dari tempat mereka duduk. Sorot matanya benar-benar menandakan bahwa ia sangat takjub. Lampu-lampu yang menerangi kota, terlihat seperti lautan bintang. “Ayah dan bunda, menyebut tempat ini ‘Duduk Diantara Bintang-Bintang’.” Kata Sadam sambil tersenyum melihat Tiara yang terus takjub dengan keindahan yang berada didepan matanya. Sadam melihat keatas langit, mengingat kejadian di tempat ini 10 tahun silam bersama Laras. Kala itu, di tempat ini, benar-benar romantis. Waktu itu Laras memainkan biolanya diiringi petikan dan nyanyian Sadam. Mereka berdua menyanyikan lagu ‘Sempurna’ dari Andra and The Backbone. Lalu disaat lagu selesai Sadam mencium bibir lembut Laras. “Tuan putri… bisakah kau memainkan sebuah lagu untuk ayah?” Tanya Sadam. “Boleh. Ayah mau lagu apa?” Tanya Tiara. “Ayah ingin kau memainkan lagu ‘Sempurna’ dari Andra and the Backbone.” Pinta Sadam. Sadam lalu mengeluarkan biola dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Tiara. Tiara lalu berdiri dan kini memantapkan posisinya. Lantunan nada-nada mulai terdengar dari gesekan senar biolanya. Mengingatkan Sadam pada momen di hari itu bersama Laras. Sadam sangat rindu akan momen itu. Ia semakin menghayati dan bibirnya mulai bergerak dan bernyanyi. “Kau adalah darahku… Kau adalah jantungku… Kau adalah hidupku… Lengkapi diriku. Oh sayangku, kau begitu… Sempurna, Sempurna...” Sadam bernyanyi sambil mengenang momen ketika dulu ia bernyanyi bersama Laras. Tiara selesai memainkan lagu tersebut. Ia menatap wajah ayahnya yang tersenyum padanya dengan mata yang berkaca-kaca. “Ayah rindu bunda?” Tanya Tiara. Sadam hanya tertawa kecil dan tak menjawab pertanyaan Tiara. “Yuk. Kita pulang!” Ajak Sadam sambil meraih lengan Tiara. “Pulang kemana kita malam ini?” Tanya Tiara. “Hmmm… Kita akan menginap di Rumah temen ayah.” Kata Sadam. “Siapa?” Tanya Tiara penasaran. “Hmmm… liat aja nanti!” Kata Sadam yang masih merahasiakannya agar Tiara penasaran. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di sebuah Rumah. Tiara sangat mengenal baik Rumah ini. “Tok…tok…tok…” Sadam mengetuk pintu. Terdengar suara langkah kaki dari dalam Rumah yang berjalan mendekat kearah pintu. Tak lama, pintu terbuka. Seseorang berdiri dengan sangat terkejut melihat kedatangan Sadam dan Tiara. “TANTE DINA…!!!” Tiara langsung memeluk Dina dengan erat. “Tiara… tante kangen banget!” Kata Dina sambil berjongkok dan memeluk Tiara. Dina mempersilahkan Sadam dan Tiara masuk. Dina juga memperkenalkan mereka dengan Edi yang sedang duduk di ruang tamu. Dina telah bercerita banyak tentang Sadam dan Tiara kepada Edi. “Oh, jadi ini yang namanya Sadam dan Tiara?” Edi sambil mengajak berkenalan. “Oh iya, Dam. Minggu depan kalian dateng ya ke nikahan gua sama Edi!” ajak Dina. “Waaahhh… Tante Dina mau menikah.” Tiara turut bergembira. Sadam hanya terdiam dengan tatapan kosong. Ia belum menjawab ajakan Dina. “Dam?” Panggil Dina. “Eh? Kenapa?” Tanya Sadam yang baru sadar dari lamunannya. “Dam, ikut gua ke Dapur sebentar, yuk!” Dina menarik tangan Sadam. Sadam hanya membiarkan tubuhnya mengikuti Dina menuju Dapur. “Tiara ngobrol dulu sama Om Edi, ya!” Kata Dina dengan ramah. Di Dapur, Dina mulai berbicara serius dengan Sadam. “Apa yang membuat lu balik lagi kesini?” Tanya Dina. “Din, gua kesini cuma mau minta maaf sama lu! Lagian, Tiara kangen banget sama lu. Jadi, gua sama Tiara mau numpang nginep malam ini. Boleh kan?” Kata Sadam. Dina menatap Sadam dengan tajam. “Tiara boleh nginep disini selamanya. Tapi lu, Cuma boleh untuk malam ini aja!” Jawab Dina dengan ketus. “Oke.” Jawab Sadam dengan singkat. Baru saja Dina mau melangkahkan kaki untuk pergi dari dapur, tiba-tiba Sadam lanjut berbicara. “Selamat atas pernikahan lu. Tapi, jangan berharap gua bakalan datang!” Kata Sadam menatap Dina dengan serius. “Terserah lu!” Jawab Dina dengan ketus. Sadam dan Dina kembali ke ruang tamu. Sadam berusaha mengakrabkan diri dengan Edi. Sedangkan Tiara sangat senang bisa bermain kembali dengan Dina. Bahkan Dina menyuruh Tiara untuk tidur dengannya untuk malam ini. Sedangkan Sadam tidur sendirian di kamar satunya. Edi? Dia pulang ke Rumahnya karena mereka belum resmi menikah dan tidak boleh tinggal satu atap. Esoknya, Sadam dan Tiara berpamitan kepada Dina. “Tiara… tante seneng banget kamu main kesini. Sering-sering datang kesini ya! Tapi jangan ajak ayah!” kata Dina sambil mengusap-usap kepala Tiara. “Tiara kan gak bisa naik angkot sendiri kesini.” Jawab Tiara dengan polos. “Kalo gitu, nanti kalo Tiara mau main kesini biar tante yang jemput Tiara!” Kata Dina sambil tersenyum ramah. “Oke, deh!” Kata Tiara. Sadam dan Tiara pun kembali melanjutkan perjalanan dan keluar dari Rumah Dina. Dina menatap mereka yang semakin lama semakin jauh dan menghilang. “Sadam. Gua harap Randy menepati janjinya!” Gumam Dina lalu masuk kedalam Rumahnya. “Ayah… sekarang kita pergi kemana?” Tanya Tiara. “Kamu kangen Sekolah, gak?” Sadam balik bertanya. “Kangen.” Jawab Tiara dengan polos. “Hari ini kita akan cari sekolah yang baru untuk kamu. Dan habis itu, kamu gak akan pindah-pindah sekolah lagi.” Kata Sadam. “Asyiiikkk!!!!” Tiara benar-benar senang ketika mengetahui bahwa ia akan kembali bersekolah. Sadam dan Tiara sampai disebuah sekolah yang terlihat cukup elit. “Ayah yakin, aku akan bersekolah disini?” Tanya Tiara ragu. “Yakin.” Jawab Sadam. “Ayah udah punya kerjaan baru?” Tanya Tiara penasaran. Sadam berjongkok dan menatap mata Tiara dengan serius. “Ayah akan lakukan apapun untuk tuan putri.” Jawab Sadam sambil tersenyum. Tiara membalas senyuman ayahnya. Sadam segera berdiri dan menuntun Tiara untuk masuk kedalam sekolah elit ini. Tiara benar-benar terkesima melihat sekolah yang sangat luas dan banyak sekali fasilitas. Sekolah yang sangat berbeda dari sekolah-sekolah sebelumnya tempat ia menimba ilmu. “Mulai besok lusa, kamu udah bisa kembali sekolah.” Kata Sadam sambil mengelus kepala Tiara. Tiara menggenggam seragam sekolahnya yang baru dan masih terbungkus plastik. Ia tak mau memasukannya kedalam tas. Karena ia ingin terus memeluknya sepanjang jalan. Tiara benar-benar rindu bersekolah. Setelah keluar dari sekolah, Sadam dan Tiara menuju tempat terakhir yang harus mereka kunjungi dengan menggunakan taksi. Sesampainya di tujuan, mobil taksi berhenti disebuah Rumah besar. Rumah yang tampak asing bagi Tiara. “Ayah… ini Rumah siapa?” Tanya Tiara dengan penasaran memandangi rumah megah dengan pagar yang menjulang tinggi. “Ini Rumah kakek dan nenekmu.” Kata Sadam sambil memandang Rumah megah itu. “Bukannya kakek dan nenek Tiara udah meninggal?” Tanya Tiara. “Kakek dan nenek dari ayah memang sudah meninggal. Tapi Tiara kan masih punya kakek dan nenek dari bunda.” Jawab Sadam. “Oh ya? Tiara pikir, Kakek dan Nenek Tiara udah meninggal semua. Tiara gak sabar ingin ketemu mereka!” Kata Tiara dengan bersemangat. Sadam memencet bel dari balik pagar. Namun, tak ada satupun orang yang keluar dari rumah itu. Sekali lagi ia memencet bel. Tak lama, seorang asisten rumah tangga, keluar dari pintu dan menghampiri mereka yang berada di luar pagar. “Mama dan Papa apa sudah pulang, mbok?” Tanya Sadam pada asisten rumah tangga yang bernama mbok Parti. “Belum. Mas itu… Mas Sadam ya?” Tanya Mbok Parti yang telah mengenal Sadam sejak Laras berpacaran dengan Sadam. Sadam hanya tersenyum. “Non Laras dimana, mas?” Tanya pembantu itu. Sadam hanya terdiam tak menjawab. “Kak Darius ada di Rumah?” Tanya Sadam mengalihkan pembicaraan. “Mas Darius juga sedang pergi, Mas.” Jawab mbok Parti. “Oh gitu… Boleh saya tunggu mereka di teras?” pinta Sadam. “Boleh, mas. Oh iya ini anak Mas Sadam sama Mbak Laras?” Tanya Mbok Parti yang melihat Tiara. “Iya, mbok.” Jawab Sadam singkat. Mbok parti mencubit pipi Tiara karena gemas. Lalu ia mempersilahkan Sadam dan Tiara untuk menunggu di Teras Rumah. Di Teras Rumah, Sadam dan Tiara terus menunggu kedatangan kedua orang tua Laras. Mereka menunggu dengan ditemani teh hangat yang disuguhkan oleh Mbok Parti. Langit terlihat mulai menguning pertanda bahwa hari sudah senja. “Tiara, seragamnya kamu masukan kedalam tas!” Kata Sadam. Tiara mengikuti suruhan ayahnya. “Kok mereka lama amat sih, yah?” Tanya Tiara yang sudah habis kesabaran. “Mereka itu orang sibuk. Pastinya jadwalnya padat, sayang!” Kata Sadam. “Tiara bosen!” keluh Tiara. “Sekarang saatnya kesabaran kamu diuji, sayang!” Kata Sadam sambil membelai rambut Tiara. Meskipun Tiara memasang wajah cemberut, namun ia kini lebih memilih untuk mendengarkan ayahnya. Langit berubah menjadi gelap. Akhirnya, Tiara bisa melihat sebuah mobil yang hendak masuk kedalam Rumah. “Ayah, apa itu mereka?” Tanya Tiara. “Iya.” Kata Sadam sambil menelan ludah. Jujur, sebenarnya Sadam benar-benar tidak berani untuk bertemu dengan mereka. Ia tak sanggup untuk menceritakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi pada Laras. Papa, Mama, Darius serta seorang wanita yang ternyata istri Darius, turun dari mobil mereka. Mereka benar-benar terkejut ketika melihat Sadam yang duduk di teras rumah mereka. Setelah sekian lama, akhirnya mereka harus melihat kembali wajah Sadam yang mereka benci. Sadam terus tertunduk ketika mereka menatap tajam padanya. Melihat ayahnya yang tertunduk, Tiara pun ikut tertunduk meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Ngapain kamu disini?” Tanya papa dengan nada berat. Sadam terdiam dan terus tertunduk. “Dimana anakku Laras?” Tanya mama dengan ketus membuat Sadam semakin membisu. “Ini anak kalian?” Tanya Papa yang melihat Tiara sedang tertunduk. “Iya, Pah!” “Kenapa muka lu bonyok-bonyok gitu?” Kini giliran Darius yang bertanya karena ia melihat luka lebam di pinggir mata Sadam. Sadam tidak menjawabnya. “Ayo masuk! Kita bicarakan ini didalam.” Ajak Papa. Kini Sadam duduk sambil tertunduk di ruang tamu. Didepannya, ada Papa, Mama, dan Darius beserta istrinya yang siap mengintrogasinya. Tiara yang duduk disamping ayahnya, terus menatap ayahnya yang sedang tampak ketakutan. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ayah begitu ketakutan bertemu dengan Kakek dan Nenek?” Tanya Tiara dalam hati. “Jadi, apa maksud tujuanmu datang kesini?” Papa mulai mengintrogasi Sadam. Sadam menggigit bibirnya dan masih saja terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Jika boleh jujur, ia sangat tak ingin berada di kondisi yang tak membuatnya merasa nyaman ini. Namun, ini semua ia lakukan hanya untuk tuan putrinya. “Tiara, kamu main dulu sama mbok Parti, ya!” Kata Sadam menyuruh Tiara pergi agar Tiara tidak mendengar perkataan mereka. “Mbookkk…!” panggil Darius. “Gausah. Biar aku saja yang temaninya!” Kata Istri Darius. “Baiklah!” kata Darius. Istri Darius yang bernama Celia langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Tiara. Ia lalu mengajak Tiara untuk pergi dari tempat itu. Tiara yang kebingungan menatap kearahnya. “Ayo… main dulu sama tante Celia!” ajak Celia pada Tiara. Tiara menatap ayahnya. “Mainlah dulu dengan Tante Celia!” Kata ayahnya sambil tersenyum. “Tapi ayah…” Panggil Tiara karena ia khawatir dengan ayahnya. Sadam tersenyum menatap Tiara pertanda bahwa semua akan baik-baik saja. Tiara terus berjalan sambil menatap ayahnya dengan tangan yang dituntun entah kemana oleh tantenya. “Dimana anak saya?” Tanya Mama. Sadam menarik nafas dengan dalam sebelum akhirnya menjawab. “Mohon maaf…Laras sudah meninggal dunia.” Jawab Sadam sambil tertunduk. “Apa yang membuatnya meninggal?” Tanya mama lagi. “Laras… Laras… diperkosa lalu dibunuh.” Jawab Sadam sambil terbata-bata dan dengan berat hati harus menyampaikan penyebab kematian Laras. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sadam membuat Darius naik pitam. Ia langsung beranjak dari tempatnya dan lalu menghajar Sadam. Sedangkan Mama benar-benar terpukul hingga membuatnya menangis. Ia benar-benar tak terima dengan kenyataan pahit ini. “Laras…. Anakku…..” Kata Mama menangis dengan lirih. Papa hanya diam membatu dan menahan amarahnya. Tapi disisi lain, papa juga menyesal karena saat itu ia mengusir putrinya pergi dari Rumah. Tiara yang pada saat itu menatap ayahnya dan mengetahui ayahnya sedang dipukuli, langsung meloloskan diri dari genggaman Tante Celia dan berlari menuju ayahnya. “Tolonngggg… jangan sakiti ayahku!” kata Tiara sambil menangis histeris. Darius seakan seperti orang yang kerasukan. Ia tidak menghiraukan permohonan Tiara dan terus menghajar Sadam karena amarah didalam dirinya begitu membara. “Tolong…. Tiara mohon… jangan sakiti ayah! Ayah juga sangat kehilangan bunda. Ayah juga menderita.” Tiara menangis sambil memegang tangan Om Darius. Darius yang merasakan tangannya digenggam oleh tangan mungil, menghentikan pukulannya lalu menatap Tiara yang terus memohon padanya. Tatapan mata Tiara seolah memancarkan betapa sayangnya ia pada ayahnya. Tatapan yang membuat Darius menjadi iba dan luluh. Tatapan yang membuat Darius dengan berat hati harus menghentikan pukulannya. “Tiara… ayah kan udah bilang, kamu main dulu sama Tante Celia!” Kata Sadam yang masih telentang. “Tapi ayah…” Tiara harus menghentikan perkataannya ketika ia melihat senyuman di wajah sang ayah. “Apa benar semua akan baik-baik saja seperti apa yang terlukis dari senyuman ayah?” pikir Tiara dalam hati. Tiara lalu berjalan menjauh. Tangannya kembali dituntun oleh Celia. Sambil berjalan, ia terus menatap ayahnya dengan perasaan khawatir. Hingga Celia menuntunnya kedalam kamar yang cukup besar. Kamar itu dulunya adalah kamar Laras. Celia membuka lemari dan menemukan album foto lama milik adik iparnya. Ia lalu mengajak Tiara untuk melihat foto-foto bundanya ketika kecil, sehingga perlahan rasa cemas dalam hati Tiara mulai memudar. Sementara itu di Ruang tamu, Sadam bangun dan duduk kembali di sofa dan siap untuk diintrogasi. Darius pun kembali ke tempat duduknya. “Kamu bilang, kamu ingin bertanggung jawab pada anak saya. Tapi, kamu malah membiarkan anak saya meninggal dengan cara yang benar-benar membuat saya terpukul.” Kata Papa dengan nada berat. “Saya benar-benar minta maaf!” Kata Sadam sambil membungkuk dalam posisi duduk. “Kamu pikir, menjadi kepala Rumah tangga, menjadi suami, menjadi ayah, itu semua mudah?” Tanya Papa. “Saya benar-benar minta maaf!” Sadam mengulang kembali permohonan maafnya. Papa menarik nafas panjang. “Yang lalu, biarlah berlalu. Jadi, untuk apa kamu datang kemari?” Tanya Papa. Sadam seketika terdiam membisu. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Sejenak ia pejamkan kedua matanya, untuk meneguhkan hatinya. “Kau mau pinjam uang untuk kebutuhan Tiara?” Tanya Papa. Sadam masih enggan untuk berbicara. Namun, ia benar-benar harus berbicara. “Sadam. Apa tujuanmu datang kemari?” Tanya Papa dengan nada sedikit membentak. Sadam berdiri dan menghampiri ketiganya. Ia lalu bersujud didepan ketiganya. “Aku mohon… Tolong jaga Tiara untukku!” Kata Sadam sambil menangis karena kalimat ini benar-benar sangat berat untuknya. Sangat berat hingga harus membuatnya mengeluarkan air mata untuk membantunya mengatakan hal ini. Ketiganya terkejut dengan perkataan Sadam dan mereka hanya diam membisu. “Aku sangat menyayangi Tiara. Tapi, aku hanya akan membahayakan nyawanya. Aku telah kehilangan istri tercintaku. Aku tak sanggup jika harus kehilangan Tiara juga. Jadi, tolong jaga Tiara untukku! Ini adalah permintaan seumur hidupku.” Kata Sadam sambil terus bersujud dan menangis. “Apa kau benar-benar siap untuk hidup tanpa anakmu?” Tanya Darius. “Aku tidak akan sanggup. Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Tiara. Tapi, ini semua harus kulakukan demi hidupnya. Ini semua kulakukan untuk Tuan Putri kecilku. Jika dia terus bersamaku, itu hanya akan membahayakan hidupnya saja. Jadi, aku mohon tolong jagalah dia!” Kata Sadam sambil menatap Darius. Papa berpikir sejenak dan menarik nafas panjang. “Baiklah!” Jawabnya singkat.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN