Hari Yang Cerah Untuk Hati Yang Pilu

5450 Kata
“Apa kau benar-benar siap untuk hidup tanpa anakmu?” Tanya Darius. “Aku tidak akan sanggup. Tapi, ini semua harus kulakukan demi hidupnya. Ini semua untuk tuan putri.” Kata Sadam sambil menatap Darius. Papa berpikir sejenak dan menarik nafas panjang. “Baiklah!” Jawabnya singkat. Meskipun Papa telah mengabulkan permintaannya, namun hati Sadam tetap terasa hancur berkeping-keping. Ia masih bersujud dan menyembukian wajahnya yang menangis sendu menghadap lantai. Perjalanannya bersama Tiara harus berakhir hari ini. Untungnya, Sadam sempat membuat Tiara bahagia meskipun hanya selama 2 hari. “Maafkan ayah, Tiara…!” Gumam Sadam dalam isak tangisnya. Papa dan Darius kini meratapi Sadam dengan sangat iba. Sedangkan Mama, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar. Mama benar-benar masih terpukul setelah mendengar kabar bahwa anak kesayangannya harus tewas dengan cara yang mengenaskan. “Sadam, kami sudah menuruti permintaanmu. Berhentilah bersujud dan duduklah di sofa!” Pinta Papa. Sadam mencoba menarik nafas dengan dalam dan menghentikan tangisannya. Ia mulai mengangkat tubuhnya dan kembali duduk di sofa. Papa dan Darius bisa melihat mata Sadam yang benar-benar sembab sehabis menangis. Menyisakan air mata yang berlinang tepat diantara kelopak matanya. “Jadi, kapan kau akan pergi?” Tanya Darius. “Besok pagi. Seorang kawan lama akan menjemputku.” Jawab Sadam sambil masih mencoba untuk mengusap air matanya. “Sadam, dengarkan aku!” Kata Papa berharap Sadam menatap matanya. “Kau tak perlu khawatir soal Tiara! Aku memang sangat membencimu setelah apa yang kau lakukan pada anakku. Tapi, aku akan sepenuh hati merawat cucuku karena ia tidak tahu apa-apa soal dosa yang ayah dan bundanya perbuat di masa lalu.” Kata Papa menatap mata Sadam dengan serius. “Terima kasih! Aku akan mengirim uang untuk menunjang kehidupan Tiara, meskipun mungkin tak seberapa nilainya.” Jawab Sadam yang juga menatap Papa dengan serius. “Kau tak perlu cemaskan soal biaya, kami akan membiayainya.” Kata Papa. “Tidak. Aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku sebagai ayah begitu saja.” Jawab Sadam. “Baiklah kalau begitu. Nikmatilah malam terakhir bersama anakmu!” Kata Papa sambil menghela nafas. Papa lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke kamar untuk menenangkan istrinya. “Ayo kita nikmati makan malam bersama! Mungkin ini akan menjadi makan malam terakhirmu bersama Tiara.” Kata Darius sambil beranjak dari tempat duduknya. Beberapa saat kemudian, Mereka duduk bersama di meja makan untuk menikmati makan malam. Mama kini sudah lebih tenang, namun masih menyisakan kelopak matanya yang sembab sehabis menangis. Tiara menyantap makanannya dengan lahap. Sesekali ia menolehkan pandangannya pada ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum menutupi kejadian yang baru saja terjadi. Tiara juga membalas senyuman ayahnya dengan polos tanpa mengetahui bahwa esok, ia tak akan bisa lagi menatap senyuman ayahnya. “Tiara… sekolah dimana?” Tanya Mama mencoba mengakrabkan diri dengan Tiara. “Hari ini Tiara baru daftar di sekolah baru…” Kata Tiara dengan gembira. “Udah kelas berapa?” Tanya Mama lagi. “Kelas 4, Nek.” Jawab Tiara. “Jangan panggil nenek, panggilnya oma aja! Panggil aku oma dan ini opa.” Kata Mama dengan ramah yang juga memperkenalkan papa. “Oh. Baik, oma!” Kata Tiara sambil tersenyum. “Nanti… kamar bekas bunda, oma jadikan kamar untuk Tiara, mau?” Tanya Eyang putri. “Emang, kita bakal tinggal disini ayah?” Tanya Tiara sambil menatap ayahnya. “Iya, sayang!” Jawab Sadam sambil tersenyum. “Terus kamar buat ayah dimana oma?” Tanya Tiara dengan polos. Seketika semua terdiam membisu dan kembali menyantap makanan sambil tertunduk. “Tenang aja! Malam ini, ayah akan tidur di Kamar Tiara. Nanti kita pikirin lagi dimana kamar ayah. Oke Tuan Putri?” Kata Sadam mencoba menjawab ketika semua membisu. “Oke, ayah!” Kata Tiara lalu menyantap kembali makanannya. Setelah makan, Sadam dan Tiara beranjak menuju kamar. Mereka mencoba merapikan kamar yang dulu pernah ditinggali oleh Laras. Mereka banyak menemukan foto-foto kenangan ketika Laras masih kecil. “Ayah, lihat foto bunda masih kecil!” Kata Tiara sambil membuka sebuah album foto. “Iya… Bunda dari kecil udah cantik ya?” Kata Sadam sambil tersenyum menatap foto istrinya ketika kecil. “Iya. Menurut ayah, Tiara bakal cantik kayak bunda gak kalo udah gede?” Tanya Tiara dengan polos. “Pastinya dong sayang.” Kata Sadam sambil mengusap rambut Tiara. “Ayah akan tetap sama Tiara dan lihat Tiara jadi cantik, kan?” Tanya Tiara lagi dengan wajah polosnya. Sadam terdiam. Perkataan Tiara benar-benar seakan menyayat hati. Ia benar-benar ingin melihat anak yang ia kasihi tumbuh besar menjadi wanita yang anggun dan cantik. Namun, kenyataan harus berkata lain. “Ayah?” Panggilan Tiara membuyarkan lamunannya. “Iya. Ayah akan tetap bersama Tiara.” Jawab Sadam berbohong. Tiara melanjutkan membuka album foto dan memperhatikannya satu persatu. Ayahnya yang berada disampingnya, hanya menatap tubuhnya dengan tatapan kosong. “Ayah, lihat!” Panggil Tiara sambil mencoba menunjukan sebuah foto dan kembali membuyarkan lamunan Sadam. “Kenapa, sayang?” Tanya Sadam. “Ternyata dari kecil Bunda udah main biola.” Kata Tiara sambil menatap foto bundanya yang masih berusia 7 tahun dan sedang bermain biola di sebuah acara. “Iya. Ternyata biola ini sudah mejadi saksi bisu sebuah perjalanan yang panjang ya?” Kata Sadam sambil memperhatikan biola yang sedang Laras mainkan di foto itu. Biola yang sama dengan biola yang kini diwariskan kepada Tiara. Malam sudah semakin larut. Sadam dan Tiara sudah berbaring di tempat tidur dengan mata yang masih terbuka. Tiara menatap mata ayahnya sambil tersenyum. Begitupun Sadam yang menatap mata Tiara dengan dalam ditambah senyuman yang tersirat di wajahnya. “Ayah, besok kita akan pergi kemana?” Tanya Tiara sambil menatap mata ayahnya. “Kita sudah mengunjungi semua tempat. Besok kita istirahat aja!” Jawab Ayah. “Jadi, besok ayah bakal temenin Tiara main di rumah ini. Ya kan?” Tanya Tiara. “Iya.” Jawab Sadam dengan singkat. “Asiiikkk…” Tiara sedikit berteriak. “Yaudah Tiara mau bobo ah… biar cepet-cepet besok.” Kata Tiara sambil memejamkan matanya. “Tiara…” Panggilan ayahnya membuatnya harus kembali membuka kedua matanya yang baru saja tertutup. “Apa?” Tanya Tiara. “Selama kamu hidup sama Ayah, apa kamu bahagia?” Tanya Sadam dengan nada serius. Tiara mengubah posisi tidurnya yang sebelumnya menyamping menghadap ayahnya, kini menjadi telentang dan menghadap langit-langit. Ia mencoba menerawang keatas lalu menjawab. “Jujur, sebenernya Tiara selalu takut kalo ayah akan pergi meninggalkan Tiara, sama seperti bunda. Tapi, Ayah selalu menenangkan Tiara. Kita udah melewati perjalanan yang sangat panjang. Ayah selalu berkorban untuk Tiara, Ayah juga selalu melindungi Tiara. Ayah… Tiara bangga punya Ayah. Tiara juga bahagia tinggal sama Ayah.” Jawab Tiara sambil menerawang keatas langit-langit lalu tersenyum. Mendengar perkataan Tiara, membuat Sadam benar-benar terharu. Ia tak mampu lagi membendung air matanya. Tiara menolehkan wajahnya pada ayahnya dan baru kali ini ia melihat air mata jatuh menetes dari kelopak mata ayahnya. Selama ini, ayahnya selalu tersenyum dalam kepalsuan. Senyuman yang selalu berusaha menenangkan hati Tiara. “Ayah kenapa menangis?” Tanya Tiara. “Enggak. Mata Ayah cuma kelilipan debu.” Jawab Sadam sambil tersenyum dan mengusap air matanya dengan tangan. “Ayah… Tiara minta maaf kalau selama ini, Tiara belum bisa jadi anak yang baik. Tiara juga belum bisa jadi anak yang bisa membanggakan ayah!” Kata Tiara dengan wajah murung. “Tiara… melihat kamu selalu sabar dan pantang menyerah dengan keadaan, melihat kamu mampu menyebarkan kebahagiaan dengan orang lain. Buat Ayah, itu adalah hal yang membanggakan. Itu berarti, ayah dan bunda berhasil mendidik kamu dengan baik. Tolong kamu pertahankan sifat seperti itu sampai kamu beranjak dewasa, ya!” Pinta Sadam sambil mengelus lembut pipi Tiara. “Iya, Ayah.” Jawab Tiara sambil tersenyum. “Oh iya, kamu cita-citanya kalau udah gede pengen jadi apa?” Tanya Sadam. “Tiara pengen jadi guru.” Jawab Tiara polos. “Guru? Kenapa pengen jadi guru?” Tanya Sadam penasaran. “Tiara pengen aja jadi guru musik di Sekolah. Tiara pengen ngajarin bagaimana cara memainkan biola pada orang-orang. Karena kadang lantunan irama dari biola bisa menenangkan hati. Tiara ingin semua orang merasakan itu saat hati mereka sedang gundah.” Kata Tiara dengan tatapan polos. Sadam tersenyum sejenak menatap wajah Tiara yang penuh dengan kepolosan. “Ayah yakin, kamu akan jadi guru yang hebat.” Kata Sadam sambil kembali mengusap lembut pipi Tiara. “Makasih, Ayah!” Jawab Tiara sambil tersenyum. “Yaudah, sekarang kamu tidur sana!” Kata Sadam. “Siap, Komandan!” Kata Tiara sambil tertawa. Beberapa saat kemudian, kedua mata Tiara mulai tertutup rapat. Ia terlelap sambil menghadap kearah ayahnya. Didepannya, Sadam terus meratapi sambil mengusap-usap rambut putrinya. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat Tiara tertidur sambil tersenyum. Senyuman yang manis dari wajah yang mungil itu tak akan pernah lagi Sadam jumpai. Sambil meratapi wajah Tiara, ingatannya membawa terbang jauh ke belakang. Ingatan ketika ia menghabiskan waktu bersama Tiara. 10 Tahun yang lalu saat hari kelahiran Tiara… “HARI INI AKU AKAN MENJADI AYAH !!!” Teriak Sadam di sela isak tangisnya. “Suatu saat, anakku akan menjadi perempuan yang cantik. Suatu saat aku akan berada disampingnya ketika ia hendak menikah bersama lelaki yang ia pilih. Nama dia adalah Mutiara. Harapanku ia akan menjadi harta kami yang paling berharga seperti batu Mutiara.” Lanjut Sadam sambil air matanya terus mengalir dengan deras. Kini ingatannya membawanya ke Beberapa bulan yang lalu sebelum kematian Laras saat Sadam mengantar Tiara ke Sekolah… “Kamu belajar yang rajin ya !Kalo ada anak yang rese, kamu bilang sama ayah !” Kata Sadam memberi wejangan sambil tertawa. “Siap komandan !” Kata Tiara sambil memberi hormat bagai seorang prajurit. “Tapi, kamu gak boleh rese duluan !” Kata Sadam kembali tertawa. “Assssshiiiaappp Komandan…” kata Tiara yang juga tertawa dengan riang. Dan Sebelum kematian Laras saat Sadam menjemput Tiara di Sekolah… “Gimana tadi di sekolah, tuan putri?” Tanya ayahnya. “Tadi ada ulangan Matematika, tapi nilaiku jelek.” Kata Tiara sambil murung dan menyembunyikan wajahnya di punggung ayahnya. “Yaudah nanti kamu minta bunda ajarin ya !” Kata Sadam dengan lembut dan tidak memarahi Tiara. “Kenapa bukan ayah?” Tanya Tiara sambil mengangkat wajahnya. “Ayah juga bodoh kalo Matematika. Dulu, ayah selalu dibantu sahabat ayah namanya Ucup. Dia pinter banget matematika.” Kata Sadam sambil tertawa. “Berarti aku bodoh Matematika, karena ayah.” Kata Tiara sambil tertawa. “Anak ayah udah mulai berani cari alasan sama berani ngeledek, ya ?” Kata Sadam sambil tertawa kecil dan menyalakan mesin motornya. Beberapa bulan yang lalu di atap Rumah… “Kalo awan rasanya manis, boleh aku memakannya?” Tanya Tiara dengan lugu. “Jangan dong! Awan itu sebenernya sangat besar. Kalo kamu makan itu, perut kamu bisa meledak.” Kata Sadam sambil menggelitiki perut Tiara. Tiara pun tertawa menahan geli sambil mempertahankan eskrim di tangannya agar tidak jatuh. Beberapa bulan yang lalu saat mengajari Tiara memasak… “Kamu diajarin masak, kenapa nangis?” Tanya Sadam yang heran karena melihat Tiara menyeka air matanya. “Nangis? Tiara gak nangis kok.” Jawab Tiara. “Oalah… Pantesan aja. Kamu duduk deket bawang merah. Bawang merah itu pedih di mata.” Kata Sadam sambil tertawa dan memindahkan bawang merah agar menjauh dari Tiara. Beberapa bulan yang lalu saat hari Ulang tahun Tiara… “SELAMAT… ULANG TAHUN…KAMI UCAPKAN…” Sadam bernyanyi lagu Ulang tahun untuk merayakan ulang tahun Tiara yang ke-10. Ditangannya telah terdapat kue ulang tahun yang sebelumnya telah ia beli. Diatas kue terdapat lilin berbentuk angka 10 dengan api yang menyala di kuncupnya. Disampingnya, Laras turut bernyanyi sambil bertepuk tangan. Tiara berlari dari dalam kamar dan terkejut bahagia karena kedua orang tuanya ternyata ingat dengan hari ulang tahunnya. “Fuuuuhhhh…” Tiup Tiara pada kuenya setelah berdoa yang kini ditaruh diatas meja ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga. Sadam dan Laras pun bertepuk tangan setelah api pada lilin padam karena tiupan Tiara. “Tadi Tiara berdoa apa, sayang ?” Tanya Bundanya sambil merangkul Tiara. “Aku berdoa supaya keluarga kita selalu berbahagia selamanya. Aku ingin ayah dan bunda terus berada disampingku.” Kata Tiara dengan mata yang berkaca-kaca. Sadam dan Laras lekas memeluk Tiara dengan erat. Sungguh sebuah kehangatan keluarga yang dirasakan oleh Tiara. Ingatan Sadam seketika menghilang menyisakan rasa sesak di d**a. Sadam menangis tersedu-sedu disamping putrinya yang terlelap. Ia benar-benar tak rela harus berpisah dengan Tiara setelah semua momen yang telah mereka lewati bersama. Hatinya benar-benar hancur. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Sadam tak menginginkan senyuman di wajah Tiara malam ini adalah senyuman yang terakhir untuknya. Ia benar-benar ingin terus bersama Tiara, melihat senyuman yang terus menghiasi hari-harinya, dan melihat putrinya tumbuh dewasa. Sayangnya, keinginannya hanya bisa sebatas angan-angan belaka. “Tiara… maafkan ayah! Ayah harus menyerah ketika kamu masih bisa tersenyum. Ayah tidak bisa melihatmu menggapai cita-citamu. Jika suatu hari kita bertemu lagi di kehidupan lain, Ayah ingin kamu menjadi anak ayah, bersama bunda disisi ayah. Maafkan ayah yang selalu membuatmu dalam bahaya! Maafkan ayah yang belum bisa membuatmu hidup dengan layak! Maafkan ayah yang tak bisa selalu berada disisimu! Maafkan ayah… yang harus pergi saat kamu tertidur! Maafkan ayah…! Maafkan ayah…!” Kata Sadam sambil menangis. Tangisannya kini benar-benar berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Air matanya benar-benar mengalir deras membasahi pipi. Sambil meratapi senyuman di wajah Tiara, Sadam meremas-remas dadanya yang semakin terasa sakit. Rasa sesak di d**a bahkan membuatnya hingga megap-megap. Sadam benar-benar ingin menjerit sekencang-kencangnya. Malam itu benar-benar terasa pilu untuknya. Hingga ayam berkokok di pagi hari dan mentari mulai terbangun dari tidurnya, Sadam masih belum memejamkan kedua matanya. Ia hanya terus meratapi senyuman di wajah Tiara sambil menangis. “Selamat tinggal… senyuman kecil di wajah tuan putri!” Kata Sadam lalu mengecup kening Tiara untuk terakhir kalinya. Sadam berjalan keluar kamar. Ketika ia membuka pintu kamar, Papa dan Mama mertuanya beserta kakak iparnya telah menunggu untuk menyambutnya. Mereka berjalan beriringan bersama Sadam menuju ruang tamu. Di ruang tamu, Randy telah duduk termenung sedang menunggu kedatangannya. “Udah siap?” Tanya Randy. Sadam menganggukan kepalanya dengan lemah. Randy dapat melihat mata Sadam yang benar-benar sembab. Ia yakin bahwa Sadam telah melewati malam yang pahit dan pilu. Mbok Parti membukakan pintu. Kedua kaki Sadam telah melangkah keluar dari Rumah bersama Randy disampingnya. “Sadam. Sering-seringlah berkunjung!” Kata Papa yang berdiri didepan pintu tanpa tahu bahwa Sadam tak akan pernah kembali. Sadam menoleh pada Papa dengan wajah yang lemah. Ia lalu melemparkan senyuman yang juga dengan lemah. Sadam dan Randy melanjutkan langkah kaki mereka menuju gerbang. Pak Paijo supir di rumah mertuanya, segera membukakan pintu gerbang. Sadam juga sempat melemparkan senyuman lemah ketika berpapasan dengan pak Paijo. Sadam benar-benar berharap bahwa seseorang dapat menolongnya agar ia bisa kembali bersama Tiara. Randy sudah lebih dulu masuk kedalam mobilnya, menunggu Sadam yang harus berjalan memutar untuk masuk kedalam jok penumpang di sebelah kiri. Saat sudah berada disamping pintu, Sadam segera menggenggam gagang pintu itu, dan sedikit membungkukan badannya untuk masuk kedalam mobil. Namun tiba-tiba… “Ayah mau pergi kemana?” Teriak Tiara yang berdiri di tengah-tengah opa, oma, tante dan omnya. Teriakan Tiara membuat Sadam menjadi terdiam membatu seperti patung. Randy yang sudah lebih dulu berada didalam mobil, hanya melihat Sadam yang tertunduk membatu tanpa berkomentar apapun. Keluarga besar Laras sontak kaget ketika tahu bahwa Tiara ada diantara mereka. Tiara langsung mencoba berlari menuju ayahnya. Namun, Om Darius dengan sigap langsung menangkap dan memeluk Tiara dengan sangat erat. “Ayah mau pergi. Tiara akan tinggal disini bersama kami!” Kata Om Darius. “AYAH??? KENAPA AYAH NINGGALIN TIARA???” Teriak Tiara dalam dekapan Om Darius. Sadam terus terdiam tak bergeming. “Ayah melakukan itu, demi Tiara.” Bisik Om Darius. Perkataan dari Om Darius seolah tak berpengaruh bagi Tiara. Ia terus meronta-ronta agar ia bisa segera menggapai ayahnya yang hendak pergi. “AYAHHHHH!!!!” Panggil Tiara sambil mulai menangis dan terus berteriak sambil meronta-ronta. Tangisan Tiara yang terdengar oleh Sadam, seketika membuat tubuhnya menjadi lemah. Sadam terduduk lemas diatas aspal dan bersandar pada mobil Randy. Ia menangis setiap kali Tiara memanggilnya. “AYAAAHHHH!!! KENAPA AYAH GAK JAWAB TIARA???!!!” Teriak Tiara. Tiara semakin meronta-ronta dengan kuat. Membuat oma, opa serta tantenya harus turun tangan dan menahannya yang hendak berlari. “AYAAAHHHH…. AYAH JANGAN PERGI!!!” teriak Tiara. Disisi lain, Sadam terus menangis dengan tersedu-sedu sambil menampar pipinya dengan sangat keras. “AYAAAHHHH… KENAPA AYAH GAK JAWAB??? AYAH UDAH GAK SAYANG SAMA TIARA???” teriak Tiara yang terus menangis. “Tiara… biarkan ayahmu pergi!” Kata oma untuk menenangkan Tiara. Sadam terus menangis, namun terus menahan suara tangisannya agar tak terdengar oleh Tiara. “Maafkan ayah, Tiara! Maafkan Ayah…!” Kata Sadam disela isak tangisnya. “AYAAAHHHH… APA TIARA NAKAL? TIARA JANJI AKAN JADI ANAK YANG BAIK!!!” Teriak Tiara. Sadam sudah tidak kuat lagi memendam perasaannya. Semakin ia menahannya, perasaan itu seolah semakin menyakitinya. “TIARAAAAA…!!!” Suara teriakan Sadam membuat Tiara bungkam seketika. Suasana menjadi hening, dan hanya tangisan ayahnya yang terdengar oleh Tiara. Tak lama, Tiara bisa melihat ayahnya yang berjalan mendekatinya sambil menangis. “Tiara…Cukup! Kamu anak yang baik. Tiara, ayah sayang sama kamu!” Kata Sadam dalam isak tangisnya. Sadam lalu berlari kearah Tiara dan memeluk putrinya itu dengan erat. “TIARA, MAAFKAN AYAH!” Kata Sadam sambil menangis dan memeluk Tiara dengan erat. Keluarga besar Laras melepas pertahanan mereka pada Tiara dan membiarkan Sadam memeluk Tiara. “Ayah… Jangan tinggalin Tiara!” Kata Tiara yang juga menangis dan memeluk ayahnya dengan erat. “AAARRRGGGHHHHH!!!!!” Teriak Sadam. “AAARRRGGGHHHHH!!!!!” Sadam terus berteriak-teriak dalam pelukan Tiara. Ia berusaha meluapkan semua kekesalan didalam dirinya. Ia benar-benar kesal dengan keadaan yang membuatnya harus terpisah dengan putri tercintanya. “Tiara, teruslah menjadi anak yang baik dan tumbuhlah menjadi orang yang berguna! Ayah dan bunda akan selalu mengawasimu.” Ucap Sadam sambil mencium kening Tiara lalu melepaskan pelukannya. Sadam berdiri dan mulai beranjak pergi meninggalkan Tiara. “Ayah…jangan pergi! Ayah…” Tiara terus memanggil ayahnya yang kini berjalan menjauh. “Jika kau rindu, duduklah diantara bintang-bintang!” Kata Sadam sambil terus berjalan kedalam mobil. “Ayah…Ayah…” Tiara hendak mengejarnya. Kini tubuh mungilnya lagi-lagi tak bisa bergerak karena ditahan oleh keluarga bundanya. Ia hanya bisa melihat ayahnya masuk kedalam mobil dan menutup pintu. “Brruummm…” Mesin mobil mulai menyala. Membuat Tiara semakin panik. “AYAAAAHHH JANGAN PERGI, AYAH!” Tiara terus berteriak sambil menangis. Ia berharap teriakannya mampu mengubah hati ayahnya. Namun, mobil mulai melaju perlahan meninggalkan tubuh mungilnya yang tak mungkin dapat mengejar ayahnya. “Ayah…” Kata Tiara sambil menangis dan terduduk lemah dan terus mencoba menggapai. Ia tak bisa merelakan ayahnya pergi. Ia masih ingin berada dipelukan ayahnya yang selalu terasa hangat. Tiara terus memanggil-manggil ayahnya agar kembali dalam pelukannya. Namun, tekad Sadam yang sudah bulat tak mampu membuatnya kembali memeluk tuan putri. Mobil terus melaju semakin jauh. Didalamnya, Randy terus fokus mengemudi sambil sesekali menatap kearah Sadam yang terus menangis sambil menempelkan dahinya pada kaca samping mobil. Sadam terus meratapi foto Tiara ketika masih bayi yang ia gendong dengan penuh kasih. Baginya, waktu terasa begitu cepat. Foto itu mengingatkannya ketika pertama kali bertemu Tiara yang baru lahir ke Dunia. Kini ia harus berpisah dengan bayi yang pernah ada dalam pelukannya. Randy menghentikan laju mobilnya di tengah perjalanan. Ia menatap kearah Sadam yang masih saja menangis. “Dam, lu yakin mau ngelakuin ini?” Tanya Randy sekali lagi meyakinkan Sadam. “Dy, Gua gak mau. Tapi gua harus melakukan ini!” Kata Sadam. “Dam, gua tau betapa lu mencintai Tiara. Raymon yang bukan anak kandung gua aja, gua benar-benar mencintainya. Apalagi, Tiara yang merupakan anak kandung lu. Dan darah daging lu. Gua tau apa yang sekarang lu rasakan. Gua minta maaf, gua gak bisa bantu lu dan Tiara!” Kata Randy sambil memegang bahu Sadam. “Dy, lu salah! Tiara bukan anak kandung gua.” Jawab Sadam. Randy benar-benar terkejut dan seolah tak percaya. “HAH? TIARA BUKAN ANAK KANDUNG LU?” Tanya Randy dengan kaget. “Bukan.” Jawab Sadam dengan lemah. 11 tahun yang lalu yang sebenarnya terjadi… Dimas yang mabuk sudah masuk kedalam tendanya disusul oleh Ucup yang matanya sudah telihat berat karena mengantuk. Meninggalkan Sadam dan Laras yang masih menikmati kehangatan api unggun sambil berpelukan. Kabut sudah mulai menyelimuti setiap sudut hutan ini, rasa dingin sudah mulai menusuk hingga ke tulang. Sadam mengajak Laras untuk masuk kedalam tenda agar tubuh mereka terasa lebih hangat. Laras membungkukkan badannya dan segera masuk kedalam tenda disusul oleh Sadam yang mematikan api unggun terlebih dahulu. “Dingin gak?” Tanya Sadam sambil tubuhnya menghadap kearah Laras. “Dingin.” Jawab Laras dengan sayu. Sadam kembali memeluk Laras dan mulai memejamkan matanya untuk tidur. Sedangkan Laras masih memperhatikan wajah kekasihnya yang sangat dekat dengan wajahnya. Ia tersenyum lalu semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sadam. Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Sadam. Ia kembali membuka kedua matanya akibat kecupan Laras. Wajah Laras yang cantik sungguh berada dekat dengan wajahnya. Sadam sangat mengerti jika kekasihnya butuh kehangatan yang lebih dari hanya sekedar pelukan. Sadam segera mencium Laras dengan sedikit lebih aktif dan ganas. Bahkan tidak hanya bibir manis Laras saja yang ia kecup melainkan seluruh wajah Laras sudah basah oleh air liurnya. “Buka dong bajunya!” Pinta Laras dengan manja. Sadam tak bisa mengabaikan permintaan kekasihnya yang meminta dengan nada manja. Ia segera membuka seluruh pakaiannya hingga kini ia bertelanjang bulat untuk pertama kali di hadapan wanita. “Kamu juga… buka dong bajunya !” Protes Sadam. Tangan Laras bergerak perlahan dan mulai menarik kaus yang ia kenakan. Kini mereka berdua telah bertelanjang bulat dan anehnya, hawa dingin seolah olah menghilang dan tak membuat tubuh kedua insane ini menggigil. Laras dan Sadam masuk kedalam selimut. Baru saja mereka hendak mencapai puncak gairah, Tiba-tiba dari luar terdengar suara seseorang memanggil. “Dam…Dam…” Panggil Ucup. Dengan berat hati, Sadam kembali memakai pakaiannya. Sedangkan Laras masih bertelanjang bulat dibalik selimut. Sadam membuka sedikit pintu tendanya dan hanya mengeluarkan kepalanya. “Ada apa, Cup?” Tanya Sadam. “Gua pengen boker. Anterin dong!” Pinta Ucup. “Buset! Cup, kamar mandi jauh disini.” Keluh Sadam. “Ayolah… gua gak kuat nih!” Keluh Ucup sambil memegangi perutnya. “Minta Dimas anterin lu deh! Gua ngantuk.” Kata Sadam berbohong. “Dimas udah tidur, susah dibangunin. Lagian dia mabuk. Gua gak mau, Bukannya nganterin gua ke WC malah nanti dia nyasar sendiri!” Protes Ucup. “Yaudah deh bentar.” Kata Sadam kembali memasukan kepalanya. Sadam meminta izin kepada Laras. Namun, Laras malah menjadi marah karena Sadam malah lebih mementingkan sahabatnya. Akhirnya, Sadam pergi bersama Ucup meninggalakan Laras yang masih bertelanjang bulat dibalik selimut. Dengan perasaan yang masih kesal, Laras mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Ia sempat mendengar suara seseorang membuka tendanya dari luar dan menutupnya kembali. “Udah balik lagi, Dam? Kok cepet?” Tanya Laras sambil menengok kearah orang itu. Laras benar-benar terkejut ketika mendapati bahwa orang tersebut bukanlah Sadam, melainkan Dimas. Dimas yang sedang mabuk, ditambah tubuh Laras yang bertelanjang bulat dihadapannya, membuat gairah nafsunya menjadi bangkit. Tanpa sadar, Dimas memperkosa Laras didalam tenda. Setelah memperkosa Laras, Dimas akhirnya sadar dari mabuknya dan terkejut ketika ia mendapati tubuhnya telanjang bulat didalam tenda yang bukan miliknya. Ia semakin terkejut ketika melihat Laras yang sedang bertelanjang bulat sambil menangis disampingnya. “Laras, apa yang udah gua lakukan sama lu?” Tanya Dimas dengan panik. Laras hanya terdiam dan terus menangis, membuat Dimas semakin panik. “Laras, maafin gua!” Kata Dimas yang merasa bersalah. Ia lalu mengenakan kembali pakaiannya dan segera kembali ke tendanya. Dimas benar-benar gelisah didalam tendanya. Tak lama, Sadam dan Ucup telah kembali dari WC umum. Dimas lalu berpura-pura tertidur seolah tak ada yang terjadi. Ia bisa merasakan tubuh Ucup yang gemuk bergesekan dengan punggungnya ketika Ucup mencoba merebahkan tubuhnya disamping Dimas. Sadam yang baru saja kembali, mendapati Laras yang sedang tertidur sambil masih bertelanjang bulat dibalut selimut. “Laras mau di lanjut gak?” Tanya Sadam pada Laras yang tidur membelakanginya. Tak ada jawaban dari Laras, akhirnya Sadam pun memutuskan tidur. Sadam tak tahu bahwa saat itu, Laras tidak sedang tertidur melainkan sedang menangis dan mengutuk apa yang telah menimpa dirinya. Merasa Ucup sudah tidur dengan pulas, membuat Dimas serasa memiliki kesempatan. Dimas mengendap-endap keluar dari tenda dan mengemas barang-barangnya. Sebelum pergi, ia meninggalkan surat yang ia taruh diatas hammock untuk kedua sahabatnya agar tak mencarinya. Dalam suratnya Dimas berkata “Pesan terakhir untuk Sadam, tolong jaga Laras dengan sekuat tenaga lu! Gua yakin kalo suatu hari nanti kita bertemu lagi, lu berdua pasti udah jadi orang tua yang hebat sesuai janji kita. Pertanda Dimas.” Malam itu, Dimas kabur dari perkemahan. Sedangkan Sadam tertidur pulas tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. 2 bulan kemudian setelah perlombaan Ucup… “Aku hamil.” Bisik Laras di telinga Sadam dengan wajah cemas. Sadam terkejut dengan perkataan Laras. Kali ini bisikan yang keluar dari mulut Laras benar-benar seperti sebuah tamparan. Bahkan membuat tubuhnya kaku seperti habis disambar petir. Tubuhnya tetap mematung dan matanya melotot tak berkedip. Seolah tak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya. “Malam itu, kita tidak melakukan apa-apa. Siapa yang menghamilimu?” Tanya Sadam sedikit membentak. Laras terdiam sesaat. Ia benar-benar takut menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Sadam adalah kekasihnya. Ia berhak tau apa yang sebenernya telah terjadi. “Dimas. Dimas memperkosaku.” Jawab Laras sambil menangis. “Mana mungkin? Dimas itu sahabatku!” Kata Sadam sedikit membentak. “Kamu pikir, untuk apa aku berbohong dan menyembunyikan siapa sebenarnya ayah bayi ini?” Kata Laras sambil menangis dan memegang perutnya. Sadam terdiam dan benar-benar bingung dengan semua yang terjadi. “Bangs*t lu, Dimas!” Sadam mengutuk sahabatnya itu dalam hati. “Kenapa kamu baru cerita sekarang?” Tanya Sadam. “Maafkan aku! Aku selalu ingin bercerita, tapi tiap hari aku gak punya waktu yang tepat karena kamu selalu bersedih atas kepergian Dimas, sahabatmu.” Jawab Laras. Sadam memejamkan mata sesaat karena ia benar-benar merasa pusing. “Terus kenapa sekarang kamu memutuskan untuk bercerita?” Tanya Sadam. “Karena aku gak tau harus gimana lagi.” Jawab Laras dan tangisannya semakin menjadi-jadi. Sadam memundurkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kedua kaki Sadam bergetar hebat hingga semakin lama semakin tak bertenaga dan tak sanggup lagi menopang beban tubuhnya. Sadam terduduk lemas sambil kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Ia benar-benar tampak kebingungan. Didepannya, Laras sedang berdiri mematung sambil menundukkan kepala. Air mata Laras mengalir semakin deras membasahi pipi. Bahkan kini isak tangisnya sudah mulai terdengar pilu. Ditangan kirinya tergenggam sebuah tespek dengan dua garis merah yang menunjukkan bahwa Laras memang positif hamil. Setelah hatinya sedikit tenang, Sadam berdiri dengan tegak dan mendekati Laras yang masih menangis. Tangan kiri Laras ia raih dan ia ambil tespek itu. Sadam melihat dengan seksama tespek itu, dan benar saja bahwa kekasihnya kini sedang mengandung seorang bayi didalam perutnya yang belum membesar. Ia menggenggam erat tespek itu dengan perasaan kesal. Sadam melempar tespek itu dan masuk tepat kedalam tempat sampah yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Apa yang ingin kau lakukan terhadap bayinya?” Tanya Sadam dengan serius. Laras membasuh air matanya yang berlinang. Ia mencoba menatap Sadam yang kala itu sedang menundukan kepala karena tidak berani menatap matanya. “Aku ingin melahirkannya!” Jawab Laras. Sambil terus menunduk, Sadam merangkul dan memeluk Laras. “Oke. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu.” Bisik Sadam ditelinga Laras sambil memeluknya dengan erat. Ketika di Rumah Laras… “Kamu bener-bener yakin mau tanggung jawab dan jadi suamiku?” bisik Laras kedua kalinya untuk meyakinkan tekad Sadam. Sadam terdiam sejenak sambil menatap dengan dalam kearah mata Laras.  “Sadam?” Panggil Laras sambil melambai-lambaikan tangannya persis di depan muka Sadam agar calon suaminya itu cepat sadar dari lamunannya. Sadam akhirnya tersadar dari lamunannya dan menatap wajah cantik kekasihnya, lalu ia pun tersenyum. “Apa kau masih ingat kata-kata ku?” Tanya Sadam. Laras mengerutkan dahinya pertanda kebingungan. “Pemandangan kota saat malam hari sangatlah indah. Sinar Bulan Purnama di malam hari sangatlah indah. Melihatmu, mendengarmu melantunkan nada-nada dari biolamu sangatlah indah. Bersamamu, menikmati semua itu adalah sebuah anugrah terindah. Jadi, aku ingin terus bersamamu menikmati semua keindahan itu sampai kita tua dan terpisah oleh kematian.” Jawab Sadam sambil mengecup tangan kanan Laras. Semua perkataan Sadam membuat Laras menangis terharu. Betapa bahagianya ia memiliki kekasih yang sangat setia dan baik hati.   “Jadi, lu merelakan hidup lu hari ini, untuk anak yang bahkan bukan anak kandung lu?” Tanya Randy penasaran. “Anak kandung, ataupun bukan. Yang membuat itu berarti adalah sebuah ikatan yang terjalin didalamnya. Meski Tiara bukan anak kandung gua, cinta gua untuk dia melebihi cinta ayah kepada anak kandungnya. Bukankah lu juga meraskan hal yang sama pada Raymon?” Sadam balik bertanya pada Randy dengan tatapan serius. Randy terdiam seribu bahasa karena perkataan Sadam memang benar. Randy bahkan pernah merelakan hidupnya untuk dibunuh oleh Dina hanya agar Dina mau mendonorkan ginjalnya pada Raymon yang bukan anak kandungnya. Karena Sadam telah memantapkan hatinya, maka Randy kembali menyalakan mesin mobilnya dan mobil pun melaju menuju sebuah tempat. Sebuah tempat dimana Sadam akan dieksekusi oleh Keluarga Pangestu. Mobil Randy tiba di sebuah bukit yang sudah tak asing untuk Sadam. Karena memang Sadam lah yang meminta pada Randy untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat eksekusinya. Sadam turun dari mobil meninggalkan Randy yang masih terdiam didalam mobil. Randy benar-benar tak percaya dengan keteguhan hati Sadam. Rasa cinta Sadam begitu besar pada istrinya sehingga meskipun ia bukan pelaku yang menghamili Laras, namun ia tetap menikahinya. Dan bahkan kini, Sadam merelakan hidupnya demi anak yang bahkan bukan anak kandungnya. ”Sadam. Lu benar-benar selalu mengalahkan gua.” Gumam Randy. Sadam duduk di bangku diatas bukit yang menghadap langsung kearah kota. Bukit ini adalah bukit tempat Laras dan juga Tiara memainkan lagu ‘Sempurna’ untuknya. Tempat yang bagi Sadam benar-benar sangat berarti. Tempat yang biasa ia sebut dengan ‘Diatas Langit’. Sadam duduk dengan menatap kosong meskipun didepannya disuguhkan pemandangan yang begitu indah. Tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita memanggil namanya dari belakang. “Sadam…” Panggil wanita itu dengan lirih. Sadam langsung berdiri dan benar-benar terkejut karena ia sangat mengenali suara tersebut. Suara itu adalah suara mendiang istrinya, Laras. Sadam lalu membalikan tubuhnya dan betapa bahagianya ia saat kedua matanya bisa menangkap bayangan Laras. Bayangan itu mendekati Sadam yang tersenyum padanya. Bayangan itu lalu duduk di bangku sambil tersenyum manis. “Duduklah disampingku, suamiku!” Panggil Laras dengan lembut. Sadam mendaratkan pantatnya pada bangku itu dan memandang kedepan. “Sudah lama aku rindu padamu. Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu kembali, bahkan aku berharap bahwa aku bisa lagi mendengar suaramu meski tak dapat melihatmu.” Kata Sadam yang mulai beruai air mata namun tetap membuang muka dengan menatap pemandangan kota yang ada didepannya. “Kalau kau memang rindu, mengapa kau tak menolehkan wajahmu padaku? Tataplah wajahku sekarang, sepuas hatimu!” Kata Laras. “Laras, aku benar-benar malu padamu. Aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Tiara. Aku selalu membuatnya menderita dan membahayakannya. Aku… benar-benar malu…” Kata Sadam sambil mengusap air matanya dan tertunduk. “Sadam. Aku selalu memperhatikan kalian dari atas sini. Kau sudah menjaga anakku dengan baik.” Jawab Laras dengan tersenyum. “Anak kita. Tiara bukan hanya anakmu. Meski memang aku bukan ayah kandungnya.” Protes Sadam. Laras terus tersenyum meskipun Sadam memprotes kata-katanya. Laras lalu menyenderkan kepalanya pada bahu Sadam. “Itulah yang membuat aku begitu mencintaimu. Kau selalu menjadi suami dan ayah yang sempurna untukku dan Tiara. Bahkan kau selalu menganggap Tiara adalah anak kandungmu.” Kata Laras sambil memeluk erat tangan Sadam. Sadam tak berkomentar apapun dengan perkataan Laras. “Laras, rambutmu masih wangi seperti dulu. Entah mengapa, bagiku sekujur tubuhmu dari ujung kaki sampai ujung rambut selalu membuatku merasa damai.” Kata Sadam sambil mencium rambut Laras. Laras hanya terdiam dan tersenyum, pelukannya pada lengan suami tercinta bertambah erat. “Laras… kenapa kau begitu cepat meninggalkanku? Menjadi orang tua seorang diri itu sangatlah sulit.” Kata Sadam. Laras mengangkat kepalanya dan membalikan tubuh Sadam sehingga menghadap kearahnya. “Menjadi orang tua seorang diri memanglah sangat sulit. Itulah mengapa kau harus meminta maaf kepada ibumu!” Jawab Laras sambil tersenyum. “Sadam…” tiba-tiba seorang wanita memanggil lagi namanya dari belakang. Sadam segera menolehkan kepalanya dan ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan bersujud pada bayangan ibunya. “Ibu… Maafkan Sadam, Bu! Maafkan Sadam!” Sadam menangis dan bersujud pada kaki Ibunya. “Sadam. Ibu telah memaafkanmu. Ibu tahu jika anak ibu tak mungkin melakukan hal yang tidak semestinya harus dilakukan. Ibu bangga denganmu ketika kamu bertanggung jawab untuk menjadi suami Laras. Namun, kenapa kamu tidak menceritakannya pada Ibu?” Tanya Ibu. “Sadam takut jika Ibu tak akan merestui apa yang Sadam lakukan. Sadam benar-benar mencintai Laras, Bu!” Jawab Sadam dalam isak tangisnya. “Ya sudah… Yang lalu biarlah berlalu. Ibu harus pergi karena waktu ibu tidak banyak. Kita akan segera berkumpul kembali menjadi keluarga yang harmonis.” Kata Ibu lalu perlahan bayangannya memudar. “Sadam…sepertinya waktuku juga tidak banyak dan aku harus pergi.” Kata Laras. “Tunggu…” Sadam beranjak dari sujudnya dan kembali duduk disamping Laras. “Ada apa lagi?” Tanya Laras. “Biarkan aku menciummu!” Pinta Sadam. “Baiklah.” Kata Laras tersenyum. Sadam mendekatkan bibirnya pada bibir Laras. Sadam bisa merasakan kehangatan bibir Laras yang telah lama ia rindukan. Lalu dengan perlahan bayangan Laras pun menghilang. “Laras, Tiara bercita-cita menjadi guru. Kita akan mengawasi bersama-sama anak kita tumbuh menjadi orang yang berguna.” Gumam Sadam setelah bayangan Laras menghilang. Sadam kembali duduk sambil menikmati pemandangan terakhirnya. Telinganya bisa mendengar beberapa mobil mulai berdatangan di tempat ini. Tak lama ia pun bisa mendengar beberapa langkah kaki berjalan mendekat kearahnya. Dari beberapa orang itu, hanya 2 orang yang benar-benar berjalan mendekati Sadam bahkan berdiri di hadapannya. “Sadam… akhirnya aku bisa menangkapmu juga.” Kata Om Rio sambil tertawa. Sadam hanya menatap wajahnya dengan kesal. “Kau sudah membuat Keluarga kami terhina dengan memukuli Jaka. Setelah itu, kau juga mengacak-acak bisnis kami di Pasar sehingga kami harus kehilangan Iwan. Kau juga sampai-sampai membuat kami harus menghabisi Dani yang merupakan salah satu aset Keluarga kami.” Lanjut Om Rio. “Randy, Om benar-benar kagum dengan kerja kamu. Kamu bisa menangkap belut licin ini seorang diri. Kamu berbeda dari sepupu-sepupumu yang lain, yang selalu gagal dari tugasnya. Sepertinya, Om akan benar-benar mewariskan bisnis keluarga ini padamu!” Kata Om memuji Randy. ”Terima kasih, Om!” Kata Randy dengan senyum palsu pada Om nya. Sementara para sepupunya menatap Randy dengan rasa iri. “Sadam, Kuberi kau 2 pilihan. Kau bergabung dan menjadi anggota Keluarga besar kami, atau kau mati?” Tanya Om sambil menodongkan pistol di kepala Sadam. “Terima kasih atas tawarannya! Tapi, aku lebih baik mati daripada harus bergabung dengan kalian.” Kata Sadam dengan angkuh. “Baiklah. Ada permintaan terakhir?” Tanya Om Rio dengan berpura-pura ramah. “Setelah kematianku, tolong jangan lagi ganggu anakku!” kata Sadam menatap tajam. “Ohhh… jadi ini lah contoh ayah yang baik?” Ejek Om Rio. “Aku serius.” Kata Sadam dengan tatapan tajam. “Hmmm… baiklah. Anakmu itu masih polos dan tak tau akan dosa-dosa ayahnya. Aku tidak akan mengganggu anakmu yang gak berharga itu! Jadi, sekarang aku boleh menghabisimu?” Tanya Om. “Ya.” Kata Sadam singkat. Om hampir saja menarik pelatuk pistolnya yang sudah menempel di dahi Sadam. Namun, Randy tiba-tiba mengehentikannya. “Tunggu Om!” Kata Randy menghentikan omnya. “Ada apa?” Tanya Om Rio heran. “Biar aku yang menghabisinya dengan caraku sendiri. Dia adalah sahabatku, jadi aku tidak mau jasadanya mengalami luka sedikitpun.” Kata Randy. Om benar-benar terkejut dengan perkataan Randy. “Wow! Jadi, dia sahabatmu?” Tanya Om. Randy mengangguk. “Baiklah. Om benar-benar bangga padamu! Kau benar-benar professional.” Kata Om membiarkan Randy yang menghabisi Sadam. Randy memerintahkan anak buahnya untuk membawa koper miliknya di mobil. Setelah koper itu sampai ditangannya, ia lalu membuka koper itu. Didalamnya, telah terdapat sebuah alat suntik bersama sebuah serum didalam alat sulintik itu. Serum ini biasa ia lakukan untuk menghabisi para korbannya. Serum yang bisa membuat jantung berhenti berdetak tanpa meninggalkan luka sedikitpun. “Dam, gua bakal menyuntik lu dengan serum ini.” Kata Randy pada Sadam. “Lakukanlah! Dan jangan lupa akan janjimu hari itu!” Kata Sadam. Randy mengangguk. Jarum suntik mulai menembus urat nadi Sadam. Randy menyuntikan serum itu sampai habis. Tubuh Sadam mulai melemah. Tatapannya mulai buram. Sadam merasa tubuhnya mengantuk beriringan dengan detak jantungnya yang semakin melemah. Sadam tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menikmati hembusan angin yang terasa nyaman saat menerpa wajahnya. “Selamat tidur Dunia… Hari ini begitu cerah untuk hati yang pilu…” gumam Sadam sebelum akhirnya detak jantungnya berhenti dan ia menghembuskan nafas terakhirnya di bukit yang ia beri nama ‘Duduk Diantara Bintang-Bintang’. Randy benar-benar tidak menyangka. Sadam, teman kecilnya harus tewas dihadapannya dan ditangannya sendiri. “Selamat jalan, kawan! Kau sudah melakukan yang terbaik. Sisanya, biar aku yang mengurusnya!” Bisik Randy pada jasad Sadam yang sudah tak bernyawa.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN