10 bulan telah berlalu semenjak hari pilu itu…
“Tet…tet…tet…” Suara alarm berbunyi.
Randy masih termenung diatas tempat tidur didalam kamarnya yang gelap. Wajahnya tampak sangat lesu. Lingkaran pada matanya tampak menghitam seperti seekor Panda. Semenjak kematian Sadam, ia benar-benar tak dapat tidur nyenyak. Ia memiliki janji yang harus ia tepati.
Suara alarm dari ponsel Randy tiba-tiba terhenti ketika seseorang mencoba menelponnya. Dengan tubuh lemah, Randy meraih ponselnya lalu mendekatkan ponsel itu pada daun telinga sebelah kirinya.
“Halo…” Kata Randy dengan suara serak.
“Bos, saya sudah didepan Rumah.” Kata seorang wanita di telepon.
“Baik. Saya segera kesana.” Jawab Randy.
Randy beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya. Seketika sinar mentari menyerobot masuk dan menyinari kamarnya yang gelap. Beberapa sinar menerpa wajahnya membuat ia harus menutup sejenak kedua matanya karena silau.
Randy lalu berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga ke lantai 1. Ia menyempatkan diri untuk mencuci mukanya di wastafel Dapur, lalu mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Setiap aliran air yang membasahi tenggorokan seakan menyejukan hatinya.
“Aaahhhh…” ujar Randy.
Langkah kakinya kembali membawanya hingga kedepan pintu rumahnya, kedua tangannya menggenggam erat gagang pintu, dan pintu pun langsung terbuka. Angin segar berhembus dan menerpa wajahnya yang masih mengantuk.
“Papa…Raymon berangkat sekolah dulu!” Kata Raymon yang memanggilnya dari arah belakang.
Randy membalik tubuhnya, dan tangannya langsung dicium oleh Raymon.
“Oke. Belajar yang rajin, ya!” Kata Randy sambil mengelus kepala Raymon.
Randy sempat melemparkan senyuman pada anaknya sesaat sebelum anaknya masuk kedalam mobil dan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh supir. Saat mobil hendak keluar dari rumah, pintu gerbang terbuka secara otomatis. Lalu, seorang wanita masuk kedalam Rumah berpapasan dengan mobil yang baru saja keluar dari Rumah. Wanita itu berjalan masuk sambil membawa 2 buah koper berukuran sedang ditangannya.
“Apa kabar, bos?” Tanya wanita itu.
“Sepertinya, saya sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana kabarmu, Dokter Vivian?” Randy bertanya balik.
“Seperti yang anda lihat, saya selalu tampak sehat.” Jawab Dokter Vivian.
Dokter Vivian lalu memberikan kedua koper yang telah ia bawa sedari tadi. Randy langsung berjongkok dan membuka kedua koper itu. Randy langsung dapat melihat sejumlah uang yang telah tersusun rapi memenuhi masing-masing koper.
“Berapa jumlahnya?” Tanya Randy.
“Setiap koper berisi 1,2 Milyar Rupiah. Jadi, total keseluruhannya mencapai 2,4 Milyar Rupiah. Ini rinciannya.” Kata Vivian sambil memberikan secarik kertas rincian pada Randy.
“Oke. Terima kasih, Dokter Vivian.” Kata Randy sambil menutup kembali koper itu.
“Sama-sama, Bos!” Jawab Vivian lalu pamit untuk pergi.
Randy kembali masuk kedalam rumahnya sambil membawa kedua koper yang berisikan banyak sekali uang. Setelah mandi dan berdandan rapi, Randy lalu membawa kembali koper itu kedalam mobilnya. Kedua koper itu ia taruh diatas jok penumpang tepat disampingnya. Diatas koper, Randy menaruh beberapa tumpukan amplop yang sudah tertera nama penerima dan alamat penerima.
“Saatnya menepati janji.” Gumam Randy sambil menggenggam stir kemudinya dengan erat.
Randy langsung melaju dengan mobilnya meninggalkan Rumah. Tujuan pertamanya adalah Kota Jakarta.
Setelah menerobos kemacetan Ibu Kota, Randy akhirnya sampai disebuah lapang tandus dengan banyak mobil terparkir dan anak-anak yang sedang bermain layangan. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera keluar dan hawa panas langsung terasa menerpa tubuhnya. Siang itu terik matahari benar-benar terasa menyengat ke kulit. Namun, Randy terus berjalan menuju sebuah gang yang letaknya tak jauh dari lapang itu. Randy terus berjalan memasuki gang dengan sepucuk surat ditangannya. Ia terus memperhatikan rumah-rumah sambil sesekali bertanya pada orang sekitar tentang alamat yang tertera pada surat itu. Gang yang berkelak-kelok ini benar-benar membuatnya sangat pusing. Jerih payahnya akhirnya membuahkan hasil. Meskipun cukup lama Randy mencari, namun pada akhirnya ia berhasil menemukan sebuah rumah kecil dengan alamat yang sesuai dengan yang tertera diatas amplop yang ia genggam.
“Tok…tok,,,tok,,,” Randy mengetuk pintu Rumah tersebut.
Tak lama seorang lelaki membuka pintu Rumahnya itu.
“Apa benar ini dengan Rumahnya Ohim?” Tanya Randy pada lelaki itu.
“Iya betul. Saya Ohim. Ada keperluan apa ya?” Tanya Ohim kebingungan karena tidak mengenal Randy.
“Saya kesini untuk menyampaikan kabar berduka atas kematian Sadam. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk Anda!” Kata Randy sambil memberikan surat itu kepada Ohim yang masih terkejut dengan kabar mengenai kematian Sadam.
“Selamat siang!” Kata Randy pamit.
Randy segera meninggalkan Ohim yang masih berdiri mematung didepan pintu rumahnya. Berita kematian Sadam benar-benar membuatnya sangat syok.
Beberapa saat kemudian, Randy sampai disebuah sekolah dasar tempat dulu Tiara mengenyam pendidikan ketika di Jakarta. Randy mengintip dari luar jendela kedalam ruangan yang dipenuhi para guru yang sedang berbincang-bincang sambil menyantap makan siang mereka.
“Eh… Siapa itu?” Tanya seorang guru yang melihat Randy dibalik jendela.
“Gatau…” Semua guru menggelengkan kepalanya.
“Aku Tanya deh. Bentar ya…” Kata Bu Luna sambil beranjak dan meninggalkan bungkusan makan siangnya.
“Selamat siang, pak. Mau cari siapa?” Tanya Bu Luna dengan ramah pada Randy.
“Saya mau bertemu dengan Bu Luna, Wali kelas 4B.” Jawab Randy sambil mengecek nama di amplop surat.
“Saya dengan Bu Luna. Ada yang bisa dibantu, pak?” Kata Bu Luna dengan ramah sambil mengajak Randy berjabat tangan.
Randy menjabat tangan Bu Luna dan lalu memberikan surat untuknya.
“Ini surat dari siapa ya, pak?” Tanya Bu Luna penasaran.
“Ibu ingat seorang murid bernama Mutiara Kusuma Widyodiningrat?” Randy bertanya balik.
Mendengar nama itu, Bu Luna tersenyum.
“Saya akan selalu mengingat nama anak itu. Seorang anak yang sangat berbakat bermain biola.” Jawab Bu Luna.
“Betul sekali. Itu adalah surat dari mendiang ayahnya.” Kata Randy.
“Mendiang? Apa Pak Sadam telah…” Bu Luna sangat terkejut dan tak berani melanjutkan kata-katanya.
“Betul sekali. Selamat siang!” Kata Randy lalu pergi.
Bu Luna masih syok hingga tak dapat menjawab salam dari Randy. Ia terus menggenggam surat yang diberikan oleh Randy dengan tangan yang sedikit bergetar.
Tugas Randy di Jakarta telah selesai. Randy menatap kearah tumpukan surat itu dan rupanya masih tersisa 4 surat yang harus ia kirimkan. Semua surat itu beralamatkan di Bandung. Tanpa membuang waktu, Randy langsung menancap gas untuk segera kembali ke Bandung.
Karena lalu lintas yang sangat padat, baik di Jakarta, di Tol, dan di Bandung, membuat Randy tiba di sebuah kafe bertepatan saat Adzan Maghrib berkumandang. Randy turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam kafe itu.
“Selamat malam, Pak!” Sapa seorang satpam.
“Selamat malam. Saya ingin bertemu dengan pemilik kafe ini. Namanya Yusuf, atau biasa dipanggil Ucup. Apakah dia ada di tempat?” Tanya Randy pada satpam itu.
“Pak Ucup baru saja pergi ke Mesjid untuk shalat Maghrib bersama Bu Maya. Barangkali ada pesan yang mau disampaikan?” Tanya Satpam itu.
“Tidak ada. Saya temannya Ucup. Saya akan menunggu saja didalam.” Jawab Randy.
“Baik. Kalau begitu, silahkan masuk pak!” kata Satpam membukakan pintu untuk Randy.
“Terima kasih.” Kata Randy lalu masuk kedalam café.
Randy baru ingat bahwa hari ini belum ada makanan yang masuk mengisi perutnya sejak pagi tadi. Ia terlalu fokus mengirimkan surat-surat dari Sadam. Sehingga perutnya mulai terdengar berbunyi. Randy memutuskan untuk memesan beberapa makanan ringan dan segelas es kopi sambil menunggu Ucup dan Maya kembali dari Mesjid.
“Slurrrppp…aaahhhh… enak juga nih kopinya.” Gumam Randy setelah menyeruput kopi yang ia pesan.
Cukup lama hingga kedua matanya akhirnya menangkap sepasang suami istri yang tampak sedang berbicara dengan satpam. Lalu satpam itu pun menunjuk kearah ia duduk dan sepasang suami istri itu pun menengok kearahnya. Pintu kafe dibuka, sepasang suami istri itu berjalan masuk dan menghampiri Randy yang duduk di pojok dekat jendela.
“Selamat malam.” Kata Ucup mengajak Randy berjabat tangan.
Randy segera berdiri dan menjabat tangan Ucup. Saat Randy ingin berjabat tangan dengan Maya, Maya tak menjabat tangannya dan hanya tersenyum ramah.
“Boleh kami duduk?” Tanya Ucup pada Randy.
Randy mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
“Mohon maaf! Satpam saya barusan bilang, bahwa anda adalah teman saya. Tapi, saya benar-benar tak dapat mengingat wajah anda. Sebenarnya anda siapa dan ada keperluan apa ingin bertemu dengan saya?” Tanya Ucup dengan ramah.
“Wajar kalo lu gak inget sama gua, karena kita cuma pernah bertemu sekali dalam pertarungan bersama kedua sahabat lu. Yaitu Sadam dan Dimas.” Kata Randy.
“Pertarungan? Wah…! gua, Sadam, sama Dimas dulu sering banget bertarung. Jadi, gua gak bisa inget satu persatu musuh kita.” Kata Ucup sambil tertawa kecil.
“Nama saya Randy Pangestu. Saya adalah musuh Sadam sejak kecil. Waktu itu, saya dan 5 orang teman saya sedang mengeroyok Sadam, lalu lu dan Dimas tiba-tiba datang untuk menolong Sadam.” Kata Randy sambil tersenyum kecil mengingat kejadian itu.
“Oooohhhh…!” Ucup akhirnya dapat mengingat siapa Randy sebenarnya.
“Pertarungan waktu hujan itu ya?” Tanya Ucup memastikan.
“Betul sekali.” Jawab Randy sambil tersenyum.
“Apa kabar lu? Trus ada apa nih tumben kesini?” Tanya Ucup.
“Kabar gua baik. Tapi sahabat anda Sadam, tidak sedang dalam keadaan yang baik. 2 minggu yang lalu, ia tewas di tangan sekelompok mafia. Dan tujuan saya datang kesini, adalah untuk memberi kabar ini, dan juga memberikan surat yang Sadam tinggalkan untuk kalian.” Kata Randy sambil memberikan surat dari Sadam untuk Ucup.
“APA? SADAM MENINGGAL?” Kata Ucup yang begitu terkejut mendengar kabar kematian sahabatnya.
Maya tak kuat menahan tangis dan lalu beranjak dari tempatnya menuju ruang kantor mereka.
“Tugas gua, hanya menyampaikan berita, dan mengirim surat ini kepada orang-orang yang ia tuju. Gua harus cabut karena masih ada beberapa surat yang harus gua kirim. Selamat malam!” Kata Randy meninggalkan Ucup yang masih termenung.
Randy hendak membayar makanan dan minuman yang ia pesan, namun tiba-tiba Ucup menyentuh pundaknya dari belakang dan melarangnya untuk membayar. Setelah Randy pergi, Ucup masuk kedalam kantornya dan menangis dalam pelukan istrinya. Untuk sekali dalam seumur hidup, tangisan Ucup terdengar lebih keras daripada tangisan Maya.
Kini, Randy sampai didepan sebuah minimarket.
“Selamat datang…!” Sapa Dina yang mengira bahwa yang datang adalah salah seorang pembeli.
Dina benar-benar terkejut ketika mengetahui orang yang datang adalah Randy. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan Randy setelah ia mendonorkan ginjalnya untuk Raymon.
“Mau apa lu kesini? Urusan kita kan sudah selesai.” Tanya Dina dengan ketus.
Randy tak menjawab pertanyaan Dina. Ia hanya memberikan amplop berisi surat dari Sadam yang dititipkan padanya untuk Dina.
“Apa ini?” Tanya Dina penasaran sambil menerima amplop dari Randy.
“Sadam sudah tiada. Itu surat terakhir darinya untuk lu.” Kata Randy.
“APA LO BILANG? BUKANNYA LU UDAH JANJI SAMA GUA, KALO LU BAKAL NGELINDUNGIN DIA??!!” Bentak Dina sambil berkaca-kaca.
Randy terdiam membisu. Dina beranjak dari meja belakang kasir dan menghampiri Randy.
“SIAPA YANG BUNUH DIA? APA KELUARGA PANGESTU?” Tanya Dina sambil melotot tajam pada Randy.
Randy juga menatap Dina dengan tajam.
“Gua.” Jawab Randy dengan singkat.
Mendegar perkataan Randy, membuat Dina semakin gusar. Dina melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Randy. Ia terus memukul Randy sebagai pelampiasan atas kekesalannya.
“ANJ*NG LU!!! GUA SURUH LU LINDUNGIN DIA, BUKAN MALAH NGEBUNUH DIA!!!” Kata Dina terus menghajar wajah Randy sakuat tenaganya.
Randy tetap diam menerima semua pukulan di wajahnya.
“HARUSNYA WAKTU ITU, GUA BUNUH LU!!!” Bentak Dina.
“Gak mungkin! Gua tau lu bukan pembunuh. Dan kalo lu bunuh gua waktu itu, mungkin sekarang bukan hanya nyawa Sadam yang melayang, tapi nyawa Tiara juga.” Jawab Randy dengan wajah datar.
Randy mendorong tubuh Dina dengan sekali dorongan membuat tubuh Dina terpental ke belakang. Setelah itu, Randy menyeka darah di mulutnya menggunakan tangan kirinya.
“Gua udah bilang, Gua gak bisa membuat Sadam tetap hidup. Karena itu adalah tugas Tuhan.” Kata Randy sambil pergi meninggalkan Dina yang bersimpuh sambil menangis didalam minimarket tempat ia bekerja.
Kini tiba saatnya ia harus mengunjungi tujuan akhirnya. Setelah itu, semua janjinya pada Sadam telah terpenuhi. Amplop yang tersisa hanya tinggal dua. Randy melihat kearah jam tangannya. Rupanya waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Ia mengurungkan niatnya untuk mengunjungi tempat terakhir. Ia akan mengunjungi tempat itu esok hari.
Setibanya di Rumah, Randy langsung menuju kamar Raymon. Ia mendapati Raymon sedang belajar diatas meja belajarnya.
“Bagus! Anak papa harus rajin belajar.” Kata Randy yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Raymon.
“Eh…Papa udah pulang?” Tanya Raymon yang kaget mendapati papanya tiba-tiba berada di belakangnya.
“Saking semangatnya belajar, kamu sampe gak sadar Papa masuk kamar?” Tanya Randy.
“Iya. Pah” Jawab Raymon sambil tertawa kecil.
“Apa cita-citamu ketika sudah dewasa?” Tanya Randy.
“Raymon mau jadi polisi.” Jawab Raymon dengan polos.
“Polisi? Kenapa Polisi?” Tanya Randy.
“Raymon ingin menangkap semua penjahat, agar orang-orang seperti Om Sadam dan Tiara bisa hidup tenang di Dunia ini.” Jawab Raymon.
“Cita-cita yang sangat bagus. Ya sudah. Dilanjut saja belajarmu!” Kata Randy lalu keluar dari kamar Raymon.
“Apa kau akan menangkap papa, jika kamu tahu kalau sebenarnya papa juga adalah orang jahat?” pikir Randy dalam hati sambil menutup pintu kamar Raymon.
Keesokan harinya, Randy telah siap untuk mengakhiri semua janjinya pada Sadam. Setelah berpakaian Rapi, Randy segera mencium kepala Raymon dan berpamitan untuk pergi. Saat itu Raymon masih menyantap sarapannya karena hari ini adalah hari minggu.
Randy tiba di Rumah kediaman mertua Sadam. Ia mengingat betul hari pilu itu ketika ia harus menjemput Sadam dan mengantarnya untuk dieksekusi. Saat ia membuka pintu untuk turun dari mobil, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan gerbang rumah mertua Sadam. Randy melihat 2 orang yang berboncengan turun dari motor itu. Saat mereka membuka helm, barulah Randy dapat melihat wajah mereka berdua. Mereka adalah Edi dan Dina yang sekarang telah resmi menjadi suami istri.
“Ngapain lu berdua disini?” Tanya Randy heran.
Dina dan Edi menoleh kearah Randy. Mereka menghampiri Randy yang berdiri disamping mobilnya.
“Lu sendiri, ngapain kesini?” Dina balik bertanya.
“Gua mau nganter surat dari Sadam untuk Tiara dan mertuanya.” Jawab Randy.
“Kalo kita, datang kesini karena di surat itu Sadam menyuruh kita kemari di tanggal ini karena hari ini adalah hari ulang tahun Tiara.” Jawab Dina.
Tak lama, sebuah mobil datang dari arah Utara. Mobil itu juga berhenti persis didepan gerbang. Lalu tampak Ucup dan Maya turun dari mobil tersebut. Maya turun dari mobil sambil menggendong Aisyah. Baru saja Ucup dan Maya keluar dari mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil taksi datang dari arah Selatan. Bu Luna dan Ohim yang membawa gitar turun dari taksi setelah membayar argo.
“Apa yang Sadam rencanakan di Hari Ulang tahun Tiara dengan mengumpulkan semua orang-orang ini? Tanya Randy dalam hati sambil tersenyum.
Randy kembali masuk kedalam mobil untuk mengambil 2 buah surat dan 2 buah koper berisikan uang yang akan diberikan untuk Tiara dan juga mertua Sadam. Ia kemudian mengunci pintu mobilnya dan bergabung bersama yang lainnya. Ia tak tahu bahwa hari ini adalah hari Ulang tahun Tiara. Jadi, hanya dia yang tidak mempersiapkan kado hadiah untuk Tiara.
“Teeettt…” Ucup memencet bel Rumah.
Lalu muncul Tiara yang sedang memakai topi ulang tahun keluar dari dalam Rumah. Tiara benar-benar terkejut melihat mereka semua berdiri dibalik pagar. Mereka adalah orang-orang yang sangat berarti bagi hidupnya. Orang-orang yang turut mewarnai hidupnya. Kecuali Randy. Tiara menatap Randy dengan tatapan aneh. Ia benar-benar tak mengenali lelaki yang membawa koper itu.
“SELAMAT ULANG TAHUN TIARA!!!” Kata mereka yang lalu memeluk Tiara saat pintu gerbang dibuka.
Oma dan opa, segera keluar dari rumah karena mendengar kegaduhan yang terjadi. Tiara memeluk satu persatu dengan perasaan gembira. Ia benar-benar merindukan orang-orang ini. Sayangnya, ia tak dapat menemukan ayahnya.
Randy berjalan menghampiri Tiara, lalu memberikan surat untuk Tiara. Karena itu adalah surat dari ayahnya, maka dengan semangat Tiara segera membukanya.
“Tiara… kalau kau baca surat ini, itu artinya ayah sudah tidak lagi hidup di Dunia ini. Tapi meskipun begitu, ayah tetap akan memberikanmu hadiah Ulang tahunmu. Hadiah itu berupa orang-orang yang sekarang berada disekelilingmu. Hadiah itu berupa keluarga. Sekarang, mereka lah keluarga mu! Tiara… bukankah ayah sudah menepati semua janji ayah? Kau bisa hidup bahagia bersama keluarga barumu dan tak harus hidup sendirian tanpa seorang pun yang menyayangimu. Kau juga bisa kembali bersekolah. Ayah juga tidak akan pernah lagi memarahimu. Hiduplah dengan bahagia dan raihlah cita-citamu! Datanglah sesekali dan duduklah diantara bintang-bintang jika kau merindukan ayah dan bunda! Ayah mencintaimu.” Isi surat dari ayah untuk Tiara.
Mata Tiara mulai berkaca-kaca mengetahui ayahnya telah tiada. Namun disisi lain, hadiah dari ayahnya benar-benar sangatlah indah. Tiara tak pernah menyangka bahwa ia akan memeliki ikatan keluarga sebesar ini.
“Ayah…kau benar-benar seorang ayah yang hebat!” Kata Tiara sambil tersenyum menatap wajah-wajah gembira dari orang-orang yang kini bisa ia sebut sebagai keluarga.
Randy menghampiri kedua mertua Sadam. Ia pun memberikan surat terakhir dan juga koper berisikan uang lalu pergi meninggalkan kegembiraan mereka.
“Haaahhh… akhirnya janjiku telah terpenuhi semua. Mungkinkah malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak?” gumam Randy sambil memacu mobilnya meninggalkan kediaman mertua Sadam.
10 Bulan yang lalu saat Randy menemukan Sadam sedang bertelanjang d**a dipinggir trotoar…
“Mau sampai kapan lu bikin hidup dia menderita seperti itu?” Kata Randy dari dalam mobil menatap Tiara yang sedang terbaring di emperan toko yang tertutup.
“Entahlah. Gua pengen banget bikin dia bahagia!” kata Sadam sambil menatap kosong kedepan.
“Serahkanlah dirimu! Jangan lagi libatkan dia!” Kata Randy.
“Gua gak bisa meninggalkan dia!” Kata Sadam.
“Semua terserah sama lu. Lu punya 2 pilihan. Yang pertama, serahkan diri lu dan tinggalkan dia! Yang kedua, lu hidup bersama dengan dia dan terus berharap keajaiban mampu membuat hidupnya akan bahagia. Mana pilihan yang lu ambil?” Tanya Randy dengan serius.
Sadam terdiam dan berpikir.
“Dam, jujur gua pengen banget lindungin lu sama Tiara. Tapi, kayaknya gua gak bisa. Dari kemarin gua terus nyariin lu. Dan sekarang, ketika lu ada di depan gua. Gua gak tau harus ngapain.” Kata Randy berbicara serius.
“Kenapa lu mau ngelindungin gua?” Tanya Sadam penasaran.
“Gua udah janji sama Dina untuk melindungi lu. Dengan syarat dia mau mendonorkan ginjalnya untuk Raymon.” Kata Randy.
“Rupanya Dina gak membenci gua.” Kata Sadam sambil tersenyum kecil.
“Gua bener-bener minta maaf karena gak bisa melindungi lu!” Kata Randy dengan penuh penyesalan.
Sadam tersenyum.
“Randy. Lu gak bisa ngelindungin gua, tapi lu bisa nolongin gua!” Kata Sadam menatap Randy dengan serius.
“Apa yang bisa gua bantu?” Tanya Randy penasaran.
“Gua pengen lu bunuh gua, dan jual semua organ gua lalu biarkan aku tertidur untuk selamanya disamping makam kedua orangtuaku.” Kata Sadam sambil menatap kosong kedepan.
“Lalu bagaimana dengan Tiara?” Tanya Randy.
“Gua akan menitipkan Tiara pada mertua gua, setelah itu besoknya lu jemput gua dan bunuh gua di bukit yang menurut gua sangat spesial. Uang hasil penjualan organ gua, tolong lu berikan kepada mertua gua untuk memenuhi kebutuhan Tiara. Gua pengen Tiara bahagia. Setelah itu, gua akan membuat surat untuk berterima kasih dan meminta maaf kepada semua orang. Tolong lu sampaikan surat itu pada semua orang.” Kata Sadam dengan serius.
Randy menghela nafas.
“Baiklah. Tapi apa benar lu bakal ngorbanin hidup lu?” Tanya Randy.
“Iya. Gua pengen Tiara tetap hidup dan bahagia bersama keluarga yang baru.” Jawab Sadam.
“Baiklah. Buat Tiara bahagia!” Kata Randy sambil memberikan sejumlah uang pada Sadam.
”Uang untuk apa ini?” Tanya Sadam.
“Bahagiakanlah dia sekarang, ketika ia masih bersama lu! Untuk terakhir kalinya, sebelum lu nanti pergi untuk selamanya.” Pinta Randy.
Lalu ketika di Rumah Laras, sambil menangis Sadam menulis surat-surat yang akan ia berikan untuk semua orang. Dibelakangnya, Tiara masih terlelap tanpa tahu bahwa esok ia tak akan pernah lagi berjumpa dengan ayahnya.
Isi surat dari Sadam untuk Ohim…
“Untuk Ohim. Jika kau baca surat ini, itu artinya aku sudah tidak lagi berada di Dunia ini. Pada surat ini, aku ingin berterima kasih karena dahulu kau lah orang pertama yang mengantarkan Laras yang sedang mengandung Tiara ke Rumah Sakit. Jika saat itu kau tidak ada, mungkin Tiara dan Laras tidak akan selamat. Juga, aku ingin kau mengunjungi Tiara pada tanggal 11 Januari pada alamat yang kulampirkan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 11. Datanglah sebagai anggota keluarganya. Kau akan menjadi paman yang baik untuknya. Jangan lupa! Bawalah gitar pemberianku lalu nyanyikanlah sebuah lagu yang merdu untuk Tiara. Terima kasih banyak.” Tulis Sadam di surat itu untuk Ohim.
Isi surat dari Sadam untuk Bu Luna…
“Untuk Bu Luna. Jika Bu Luna membaca surat ini, itu artinya aku sudah tidak lagi berada di Dunia ini. Pada surat ini, aku ingin berterima kasih karena Bu Luna adalah guru yang baik. Mungkin karena kebaikanmu lah yang menginspirasi Tiara untuk bercita-cita menjadi seorang guru. Juga, aku ingin Bu Luna mengunjungi Tiara pada tanggal 11 Januari pada alamat yang kulampirkan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 11. Datanglah sebagai anggota keluarganya. Aku tak ingin ia kesepian di Hari ulang tahunnya. Terimasih banyak.” Tulis Sadam di surat itu untuk Bu Luna.
Isi surat dari Sadam untuk Ucup…
“Untuk Ucup. Jika kau baca surat ini, itu artinya aku sudah tidak lagi berada di Dunia ini. Pada surat ini, aku ingin berterima kasih kau telah menjadi sahabat yang baik. Aku juga benar-benar minta maaf karena aku belum bisa menjadi sahabat yang baik. Aku yakin kau dan Maya mungkin akan menjadi orang tua yang lebih baik dibandingkan aku dan Laras. Oh iya… jika suatu hari kau bertemu dengan Dimas, tolong sampaikanlah padanya bahwa aku telah menjaga anaknya dan bahkan aku menganggap Tiara sebagai anak kandungku sendiri. Terakhir, aku benar-benar memintamu untuk mengunjungi Tiara pada tanggal 11 Januari pada alamat yang kulampirkan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 11. Datanglah sebagai anggota keluarganya. Kalian bisa menganggap Tiara sebagai anak kalian. Terima kasih banyak.” Tulis Sadam di surat itu untuk Ucup.
Isi surat Sadam untuk Dina…
“Untuk Dina. Jika kau baca surat ini, itu artinya aku sudah tidak lagi berada di Dunia ini. Pada surat ini, aku ingin berterima kasih karena kau tetap ingin melindungi aku dan Tiara meski aku telah mengusirmu. Randy telah menceritakan semuanya tentang kau yang mendonorkan ginjalmu. Janganlah kau marah pada Randy, karena aku yang memintanya untuk membunuhku. Oh iya, selamat menikah! Maaf aku tak bisa datang pada pesta pernikahan kalian! Aku telah memberitahumu sebelumnya bahwa jangan pernah mengharapkan aku akan datang pada pesta pernikahan kalian, karena aku mungkin sudah tak bernyawa. Kalian akan menjadi pasangan yang serasi dan terus bersama selamanya. Terakhir, aku ingin kau mengunjungi Tiara pada tanggal 11 Januari pada alamat yang kulampirkan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 11. Datanglah sebagai anggota keluarganya. Jangan khawatir, kau bisa menganggap Tiara sebagai anak kandungmu! Terima kasih banyak.” Tulis Sadam di surat itu untuk Dina.
Isi surat Sadam untuk kedua mertuanya…
“Untuk Papa dan Mama mertuaku. Jika kau baca surat ini, itu artinya aku sudah tidak lagi berada di Dunia ini. Aku mengirimkan sejumlah uang yang mungkin tak seberapa untuk membantu memenuhi semua kebutuhan Tiara. Sebenarnya, Tiara bukanlah anak kandungku dan aku tak pernah menghamili Laras. Tapi aku menyayangi keduanya sehingga aku rela mengorbankan masa depanku dan juga seluruh hidupku. Dan yang terakhir, Tiara sangat menyukai eskrim. Aku sangat menyukai ketika memandang wajah Tiara yang sangat kegirangan ketika ia memakan eskrim. Tapi tolong jangan terlalu sering memberinya eskrim karena nanti ia bisa pilek. Terima kasih karena telah melahirkan Laras ke Dunia ini. Aku benar-benar mencintai anak kalian!” Tulis Sadam sambil menangis.
Setelah menulis semua surat, Sadam kembali merebahkan tubuhnya disamping Tiara sambil terus berlinang air mata.
Randy telah sampai di rumahnya. Ketika ia hendak turun dari mobil, matanya menangkap sebuah amplop yang jatuh dibawah jok mobil. Ia mengambil amplop itu dan rupanya amplop tersebut ditujukan untuknya.
“Ternyata Sadam menulis surat untukku juga.” Gumam Randy lalu menutup pintu mobilnya dan berjalan kedalam Rumah.
Randy berjalan kedalam rumah dengan perasaan gembira karena telah menyelesaikan janjinya pada Sadam. Hari itu ia habiskan bermain bersama Raymon. Malam harinya, Ia merebahkan dirinya diatas kasur.
“Akhirnya aku bisa tidur nyenyak.” Kata Randy.
Tapi entah kenapa saat ia mencoba memejamkan kedua matanya, perasaannya masih terasa gelisah. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, namun ia tetap tak bisa tidur. Kedua matanya menangkap sebuah amplop berisi surat dari Sadam tergeletak diatas meja disamping kasurnya. Karena penasaran, Randy lalu membuka dan membaca apa yang Sadam tulis untuknya.
“Untuk Randy. Jika kau membaca surat ini, itu artinya kau telah berhasil membunuhku. Aku tahu kau selalu ingin menjadi ayah yang baik. Apa yang akan terjadi jika anakmu mengetahui semua kejahatanmu diluar sana? Mungkin ia benar-benar akan merasa kecewa. Akuilah semua kejahatanmu pada polisi! Tebuslah semua dosa-dosamu! Serahkan dirimu kepada polisi, bukan karena telah membunuhku. Tapi atas dosa-dosamu yang sebelumnya. Aku ingin kau menyerahkan diri bukan karena aku, tapi memang hati kecilmu yang berpikir demikian. Jika itu terjadi, aku yakin hidupmu akan lebih tenang. Satu lagi, aku ingin kau mengunjungi Tiara pada tanggal 11 Januari pada alamat yang kulampirkan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 11. Datanglah bersama Raymon! Kalian berdua telah aku anggap sebagai keluarga untuk Tiara.” Kata Sadam pada suratnya untuk Randy.
“Dam, apa lu bener-bener berpikir bahwa gua bakal nyerahin diri ke Polisi? Ada satu hal yang masih aku ingin tanyakan padamu! Kenapa kau ingin aku yang membunuhmu? Aku yakin alasannya bukan hanya karena kau ingin aku menjual organmu. Dam, hidupmu penuh dengan misteri.” gumam Randy.
Randy menarik nafas panjang. Ketika ia menarik nafas, tiba-tiba saja ia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tentang mengapa Sadam ingin dirinya yang membunuhnya. Kini Randy benar-benar mengerti apa yang Sadam inginkan.
“Dam, aku mengerti tentang tujuanmu menginginkan aku yang membunuhmu. Jika itu benar dan itulah yang membuatku tak dapat tidur dengan nyenyak. Maka, aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak untuk waktu yang lama.” Lanjut Randy sambil merenung.