15 tahun kemudian…
Pagi hari di sebuah rumah yang berada di kawasan elit. Sepasang suami istri masih terlelap dibalik selimutnya. Sang suami memeluk erat sang istri dari belakang.
“Kok…kok…kok…” Suara ayam berkokok membangunkan sang istri. Suara ayam berkokok itu bukan berasal dari ayam sungguhan, melainkan suara alarm dari ponselnya.
Sang istri meraih ponselnya dan mematikan suara ayam yang terus berkokok tanpa lelah. Ia hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun sang suami terus mendekapnya dengan erat.
“Sayang… aku harus bangun! Aku harus nyiapin sarapan untuk Kesha.” Keluh sang istri karena sang suami tak mau melepaskan dekapannya.
“Bentar lagi, dong! Aku masih pengen meluk kamu…” Protes sang suami meski matanya masih terpejam.
Sang istri menghela nafas dan membiarkan tubuhnya larut dalam dekapan suaminya. Karena ia tak bisa melepaskan tubuhnya dari dekapan sang suami, sang istri lalu memilih untuk memutar sebuah lantunan suara biola di ponselnya. Suara lantunan biola itu terdengar sangat lembut dan bersahabat di telinganya, sehingga membuat ia memejamkan mata untuk sesaat dan menghayati setiap nada yang terdengar oleh gendang telinganya.
“Sayang… kamu jangan lupa! Besok, aku ikut audisi ajang pencarian bakat. Pokoknya kamu harus lihat aku tampil di acara itu!” Kata Sang istri pada suaminya.
“Iya… bawel… aku kan udah janji, aku bakal datang!” Gumam suaminya.
“Awas ya kalo gak datang!” kata Sang istri mewanti-wanti.
“Iya… istriku sayang…” Kata Sang suami dengan malas karena istrinya selalu mewanti-wanti setiap hari akan acara tersebut.
“Ya udah. Sekarang aku mau bangun, ah! Entar aku terlambat.” Kata Sang istri yang akhirnya bisa meloloskan diri dari dekapan suaminya.
“Kamu juga bangun dong!” protes sang istri yang berdiri disamping tempat tidur.
“Iyaaa… bentar lagi deh! Kasur ini masih terasa nyaman.” Kata sang suami sambil memeluk guling.
Sang istri menghela nafas dan membiarkan suaminya tetap berbaring diatas kasur untuk sejenak. Ia segera keluar kamar meninggalkan sang suami meskipun sebenarnya ia masih ingin berbaring diatas kasur.
“Ehhhh… anak mama udah bangun!” Sapanya saat melihat Kesha sedang digendong oleh pengasuh bayi.
Ia mencubit dengan gemas pipi putrinya yang masih berusia 2 tahun itu. Setelah itu, ia segera menuju dapur untuk memasak sarapan untuk suami dan juga anaknya.
Beberapa saat kemudian, sang suami telah berpakain rapi dan terlihat segar keluar dari kamarnya. Sang suami telah memakai seragam polisinya dengan rapi. Pada seragamnya, bertuliskan nama ‘Raymon’.
“Nah… kalo rapi gini kan jadi terlihat ganteng.” Puji istrinya.
“Masa sih? Tapi kok kamu tetep cantik walau gak mandi?” Kata Raymon gombal sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Ah kamu nih bisa aja!” Kata istrinya tersipu malu.
Raymon tertawa melihat ekspersi istri tercintanya tersipu malu dan membuat wajah istrinya memerah.
“Ya udah. Aku gak usah mandi aja ya?” Tanya sang istri.
“Iiihhh… cantik tapi kalo bau badan, ya percuma!” protes Raymon.
“Wleeeekkk… enak aja! Badanku gak bau tau…” Protes istrinya sambil menempelkan ketiaknya pada Raymon.
“Oh iya… gak bau.” Kata Raymon sambil mencubit gemas hidung istrinya.
“Nah kan… makanya jangan seenaknya kalo ngomong!” protes sang istri sambilmembalas mencubit gemas hidung suaminya.
“Ya tapi tetep aja harus mandi biar makin cantik!” Kata Raymon tidak mau kalah.
“Iyaaa deh iya… pak Polisi tuh suka gak mau ngalah kalo adu argumen!” Kata Sang istri lalu mencium bibir Raymon dan segera melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian setelah istrinya mandi dan kini berpakaian rapi, mereka semua menikmati sarapan pagi diatas meja makan bersama anak dan pengasuhnya. Lalu mereka berdua berpamitan pada anak dan pengasuhnya untuk segera pergi melakukan aktivitas mereka.
Raymon mengemudikan mobil dinasnya menuju sebuah sekolah dasar.
“Sayang, ini sirine mobil mau dinyalain gak?” canda Raymon sambil tertawa.
“Boleh deh biar mobil lain pada minggir terus cepet sampai.” Kata istrinya menimpali.
“Kamu tuh ternyata jahil juga ya!” Kata Raymon sambil tertawa.
Sang istri hanya tertawa dan tak berkomentar atas pujian suaminya itu.
Sesampainya di sekolah, sang istri mencium bibir Raymon dengan lembut lalu segera keluar dari mobil.
“Jangan galak-galak sama murid-murid ya, Bu Guru!” kata Raymon sambil tertawa.
“Kalo galak-galak, nanti di tangkap pak Polisi, ya pak?” canda istrinya.
“Iya dong.” Kata Raymon menimpali.
Istrinya hanya tertawa dan lalu mencium tangan Raymon. Ia lalu berdiri sambil melambaikan tangan menunggu mobil suaminya pergi meninggalkannya. Setelah mobil itu menjauh, barulah ia masuk kedalam sekolah.
“Selamat pagi, Bu Tiara!” kata murid-murid menyapa sambil mencium tangannya.
“Selamat pagi, anak-anak!” jawab Tiara sambil tersenyum ramah kepada murid-muridnya.
Sementara itu di sebuah Rumah Sakit…
Seorang lelaki tua berbaring diatas tempat tidur tak berdaya dengan mata terbuka. Disampingnya, Randy meratapi lelaki tua itu dengan tatapan iba. Randy juga sudah tidak terlihat muda lagi. Beberapa helai rambutnya sudah memutih, dan beberapa kulitnya sudah tampak mengendur.
“Randy, Om sudah mulai sakit-sakitan. Dokter bilang, usia om hanya akan tersisa 1 tahun lagi. Om mau kamu ambil alih bisnis keluarga kita setelah Om pergi.” Kata lelaki tua itu.
Randy terdiam sejenak mendegarkan perkataan Om Rio.
“Apa om benar-benar yakin akan memberikan bisnis keluarga yang om bangun dengan susah payah kepadaku?” Tanya Randy.
“Iya. Om kan tidak punya anak. Diantara keponakan-keponakan om, hanya kamulah yang terlihat berbakat untuk meneruskan bisnis keluarga kita.” Jawab Om Rio dengan lemah.
“Baiklah kalau begitu.” Jawab Randy.
“Om sudah menandatangani surat wasiat di Notaris. Jadi, tahun depan ketika Om telah mati, kau akan meneruskan bisnis keluarga kita.” Kata Om Rio.
Mendengar perkataan om nya, membuat hati Randy tergerak bersamaan dengan langkah kakinya yang kini berjalan menuju pintu kamar.
“Om tahu? Aku telah menunggu momen ini selama 15 tahun. Sahabatku Sadam telah merelakan hidupnya dan menginginkan aku yang membunuhnya agar aku mendapatkan kepercayaan Om, lalu aku dapat mengambil alih bisnis Keluarga Pangestu. Ia ingin aku yang mengakhiri semuanya. Dan selama 15 tahun itu, setiap malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jadi, aku tidak bisa lagi jika harus menunggu 1 tahun sampai om mati. aku berjanji, ini akan menjadi dosaku yang terakhir.” Kata Randy sambil menutup pintu kamar Rumah Sakit tempat Om Rio nya dirawat.
Setelah pintu kamar tertutup rapat, tidak ada yang tahu apa yang sedang dilakukan oleh Randy pada Om nya yang tak berdaya.
Raymon sedang berpatroli mengendarai mobil dinasnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Halo, pah!” Kata Raymon papanya di telepon.
Raymon mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut papanya.
“APA? KAKEK RIO MENINGGAL?” Raymon terkejut mendengar kematian kakeknya.
“Oke. Raymon segera kesana sekarang!” Kata Raymon lalu menancap gas dan segera pergi ke Rumah sakit.
Sesampainya di Rumah sakit, Raymon melihat banyak sekali orang yang mengerubungi kamar kakeknya. Saat ia mendekat, jasad kakeknya telah ditutupi oleh kain berwarna putih. Ia juga bisa melihat bahwa papanya sedang duduk meratapi jasad kakeknya.
“Pah, kenapa Kakek Rio tiba-tiba meninggal?” Tanya Raymon saat menghampiri Randy.
“Kakek Rio memang sudah tua dan sakit-sakitan. Jadi, wajar jika sekarang ia harus menghembuskan nafas terakhirnya.” Jawab Randy sambil terus meratapi jasad Om Rio.
Raymon merangkul pundak papanya yang sedang berkabung.
“Raymon, hari ini papa tidak membawa mobil. Boleh papa menumpang padamu?” Tanya Randy.
“Tentu saja, pah!” Jawab Raymon sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, seorang notaris mengumumkan bahwa hari ini bisnis Keluarga Pangestu yang tersebar di seluruh kota-kota besar di Indonesia akan diambil alih oleh Randy. Sesuai dengan wasiat yang telah di tulis dan ditanda tangani oleh Rio Pangestu selaku pemilik dan pemimpin yang lama. Mereka semua bersorak dan setuju karena memang Randy pantas menjadi pemimpin mereka.
Saat pulang, Randy terus membisu didalam mobil Raymon.
“Pah, semua orang pasti mati. Papa gak usah sedih, harusnya papa senang karena sekarang bisnis Kakek Rio jatuh ke tangan papa.” Kata Raymon mencoba menenangkan papanya yang tampak bersedih.
“Raymon. Apa kau tahu bisnis seperti apa yang papa dan anggota keluarga lain lakukan?” Tanya Randy sambil membuang muka dan menatap keluar jendela.
“Entahlah. Apakah itu bisnis kuliner? Atau bisnis pariwisata?” Tanya Raymon sambil terus menyetir.
“Papa paham jika kau tidak mengetahuinya karena kau baru bergabung dengan kepolisian.” Jawab Papa tersenyum.
“Apa hubungannya bisnis keluarga kita dengan kepolisian?” Tanya Raymon penasaran.
“Setelah mengantarkan papa ke rumah, lekaslah kembali ke kantormu! Dan kau akan segera mengetahuinya. Papa akan menunggumu di Rumah, karena papa yakin kau akan segera mengunjungi papa kembali.” Jawab Randy sambil tersenyum.
Raymon masih tak mengerti dengan apa yang papanya ucapkan.
Setelah mengantarkan papanya ke Rumah, Raymon memilih untuk tidak berpatroli dan segera bergegas kembali ke kantornya karena ia sangat penasaran dengan maksud dari perkataan papanya.
“Apa yang akan aku temukan di kantor?” pikir Raymon dalam hati.
Setelah sampai di Kantor, ia tak menemukan petunjuk apapun tentang bisnis keluarga mereka. Hingga tiba-tiba salah satu rekannya berteriak sangat kencang hingga suaranya terdengar ke seluruh ruangan.
“RIO PANGESTU, SELAKU BOS KELOMPOK MAFIA KELUARGA PANGESTU, TELAH TEWAS!!!” teriak salah seorang rekannya.
“Lalu siapa bos selanjutnya?” Tanya salah seorang rekan lainnya.
“AHLI WARISNYA, BERNAMA RANDY PANGESTU!!!” Jawab orang itu sambil berteriak.
Teriakan yang membuat hati Raymon runtuh seketika.
“Papa? Mafia? Keluarga Pangestu?” gumam Raymon.
Ia lalu berlari menghampiri rekannya itu untuk melempari seribu pertanyaan yang ada dalam kepalanya.
“Siapa itu keluarga pangestu?” Tanya Raymon pada salah seorang rekannya.
“Mereka itu mafia kelas kakap. Mereka melakukan bisnis narkoba, perdagangan wanita, penjualan organ tubuh, perjudian, pasar gelap, dan masih banyak lagi kejahatan lainnya.” Kata rekannya menjelaskan.
“Lantas, kenapa kita dari kepolisian tidak menangkap mereka?” Tanya Raymon dengan penasaran.
“Kami pernah menangkap salah satu anggota dari kelompok mereka, namun uang mereka begitu banyak sehingga mereka bisa menyogok para hakim dan bahkan dari rumor yang beredar, mereka juga menyogok para kepala Polisi.” Kata rekannya itu sambil setengah berbisik.
Perkataan rekannya itu benar-benar membuat Raymon seolah tersambar petir dan membuat hatinya hancur berkeping-keping.
“Selama ini aku tinggal bersama Papa, tanpa tahu apa yang dilakukannya.” Kata Raymon dalam hati.
“Raymon, jangan pernah berusaha menangkap mereka!” Kata rekannya menasehati.
“Memangnya kenapa?” Tanya Raymon penasaran.
“Setiap polisi yang ingin mengusut kasus mereka, selalu menghilang tanpa jejak. Lu baru jadi polisi, jadi gua harap lu jangan melakukan hal yang konyol!” Kata rekannya.
Raymon menarik nafas dengan dalam.
“Baiklah. Gua hanya akan kembali berpatroli.” Jawab Raymon lalu meninggalkan kantornya untuk segera pulang ke Rumah papanya.
Sesampainya di Rumah papanya…
“PAAAHHHH!!!” Panggil Raymon sambil berteriak.
Randy keluar dari kamarnya yang berada di lantai 2. Dari atas sana, ia bisa melihat anaknya yang sedang diselimuti amarah yang membara.
“Selamat siang, Pak Polisi. Apa kau akan menangkapku karena telah membunuh Rio Pangestu?” Tanya Randy pada Raymon.
“Jadi, Papa yang telah membunuh kakek Rio?” Raymon balik bertanya pada Randy.
Randy mengangguk.
“Raymon… Ayo tangkap papa!” kata Randy sambil memberikan kedua tangannya untuk diborgol.
“Percuma! Papa hanya akan menyuap para hakim dan kepala Polisi. Pada akhirnya, papa masih bisa menghirup udara segar dan hidup bebas!” kata Raymon dengan tatapan kebencian.
“Raymon… Kau tau kenapa papa mengakhiri nyawa kakek Rio?” Tanya Randy.
Raymon terdiam membisu.
“Papa tidak bisa tidur dengan nyenyak atas dosa-dosa yang telah papa buat. Termasuk dosa papa pada Om Sadam, yang seharusnya menjadi ayah mertuamu jika ia masih hidup. Papa adalah orang yang membunuh Om Sadam karena keinginannya sendiri. Surat dari Om Sadam membuat Papa sadar dan menjadi muak dengan kelakuan kakekmu beserta semua anggotanya. Makanya untuk mengakhiri semua ini, Papa harus mengambil alih bisnis dan menyerahkan diri kepada Polisi agar mereka bisa menangkap semua anggota Mafia Keluarga Pangestu.” Kata Randy sambil tersenyum dan merangkul pundak Raymon.
Raymon tertunduk tak dapat berkata sepatah katapun.
“Kau tau kenapa papa tidak memberimu nama Raymon Pangestu?” Tanya Randy.
Raymon hany tertunduk karena ia memang tidak tahu jawaban dari pertanyaan papanya.
“Nama Pasngestu hanya akan menjadi aib untukmu. Pada akhirnya, kamu akan terjerumus kedalam lingkaran setan yang ada pada keluarga ini. Itulah sebabnya papa tidak menamaimu dengan nama Pangestu. Karena papa ingin kau hidup bebas tidak seperti anggota keluarga yang lain.”
Raymon benar-benar bungkam atas penjelasan papanya.
“Jadi, tunggu apa lagi Pak Polisi? Ayo segera tangkap saya! Saya hanya ingin hidup dengan tenang dan tidur dengan nyenyak.” Kata Papa.
“Apa papa yakin?” Tanya Raymon menatap papanya.
“Bukankah kau dulu bercita-cita menjadi polisi untuk menumpas semua kejahatan? Itu berarti kau harus sudah siap jika pada kenyataanya papa mu adalah salah satu dari sumber kejahatan tersebut. Kau kan belum pernah menangkap penjahat? Maka itu berarti, kau belum berhasil mewujudkan cita-citamu. Papa akan mewujudkan cita-citamu itu, jadi kau bisa menangkap papa!” Kata Randy sambil tersenyum.
“Tapi… mungkin papa akan dipenjara seumur hidup. Jika hanya untuk mewujudkan cita-citaku, itu benar-benar tidak sebanding.” Kata Raymon.
“Raymon. Jangan pernah kau hentikan seorang ayah yang ingin mewujudkan cita-cita anaknya menjadi nyata! Lagipula, papa memang pantas mendapatkan hukuman itu.” Kata Randy sambil menatap mata Raymon dan mencengkram kedua sisi bahunya.
“Tapi… Pah, hukumannya bisa seumur hidup. Papa akan menderita didalam penjara.” Kata Raymon yang masih terus ragu untuk menangkap Randy.
“Apa kau yakin, papa tidak akan menderita diluar penjara? Penjara seumur hidup itu tidak sebanding jika dibandingkan dengan pengorbanan seorang ayah yang mengorbankan hidupnya demi putri kecilnya.” Kata Randy sambil tersenyum.
Raymon menatap mata Randy dengan berbinar-binar.
“Baiklah. Aku akan menangkap papa. Tapi, aku tidak perlu memborgol papa.” Kata Raymon.
Randy tersenyum dan berjalan mengekori Raymon yang berjalan kembali kedalam mobilnya.
Hari itu, Raymon melaporkan kepada pimpinannya bahwa ia berhasil menangkap Bos Keluarga Pangestu yang baru. Randy membeberkan semua yang telah ia lakukan dan memberi semua daftar nama anggota Keluarga Pangestu. Semua polisi yang tersebar di seluruh kota-kota besar di Indonesia segera mengejar nama-nama anggota kelompok Keluarga Pangestu.
“Aku akan pergi untuk menjemput Tiara. Nanti aku akan kembali bersamanya untuk menemui Papa.” Kata Raymon pada Randy yang berada dibalik jeruji.
“Baiklah. Bawa dia kemari dan papa akan menceritakan semua padanya!” Kata Randy sambil tersenyum.
Raymon pergi meninggalkan Papanya yang berada terkurung di balik jeruji dengan perasaan yang tidak menentu.
Sesampainya di Sekolah tempat Tiara mengajar…
“Dadah, Bu Tiara…” Kata salah seorang murid dan melambaikan tangannya pada Tiara.
“Dadaaaahhh…!” Kata Tiara sambil tersenyum ramah.
Ia lalu memalingkan pandangannya kearah tampat parkir. Tiara lalu melambai ketika ia melihat mobil dinas suaminya telah terparkir dengan rapi di tempat parkir.
“Hey kenapa kau terlihat murung?” Tanya Tiara saat masuk kedalam mobil dan melihat Raymon sedang murung didalam mobil.
“Aku hari ini baru saja menangkap seorang penjahat kelas kakap.” Jawab Raymon dengan wajah murung.
“Terus? Bukankah kau seharusnya senang?” Tanya Tiara bingung.
“Bagaimana aku bisa senang, ketika aku harus menangkap papaku sendiri?” Tanya Raymon.
Tiara menghela nafas sejenak.
“Jadi, akhirnya papamu menyerahkan diri?” Tanya Tiara sambil menatap kosong kedepan.
“Apa? Jadi kau sudah tahu siapa sebenarnya papaku? Kenapa kau tidak memberitahuku?” protes Raymon pada Tiara.
“Aku sudah tahu sejak lama. Aku tidak memberitahumu karena aku ingin papamu lah yang langsung memberitahumu karena aku yakin bahwa papamu adalah orang yang baik yang terjepit keadaan sehingga membuatnya menjadi orang jahat.” Kata Tiara sambil menatap mata Raymon.
“Apa kau juga tahu bahwa papaku lah yang telah membunuh Ayahmu?” Tanya Raymon sambil menatap Tiara dengan penuh keseriusan.
“Ya. Aku tahu!” Jawab Tiara.
“Lantas mengapa kau tetap menikahiku?” Tanya Raymon menatap Tiara
Tiara menempelkan bibirnya pada bibir Raymon.
“Biarkan aku menjelaskannya nanti dihadapan papamu!” kata Tiara setelah mengcupkan bibirnya pada bibir suaminya.
Raymon mulai menyalakan mesin mobil dan kembali melaju ke tempat papanya dikurung dibalik jeruji besi.
Beberapa saat kemudian…
Randy tersenyum ketika ia bisa melihat Tiara dan Raymon yang berjalan beriringan sambil bergandeng tangan.
“Tiara…apa kabar?” Tanya Randy dari balik jeruji ketika Tiara dan Raymon berdiri dihadapannya.
“Tiara baik-baik saja, Pah!” kata Tiara sambil tersenyum ramah.
Tiara, papa ingin bercerita dan meminta maaf atas semua yang telah papa lakukan terhadap ayahmu!” Kata Randy menatap Tiara.
“Tiara sudah tahu jika papa yang membunuh ayahku, dan aku sudah memaafkan papa.” Jawab Tiara dengan tetap tersenyum.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Randy penasaran.
Tiara mulai bercerita.
“Hari itu saat ayah pergi dan tak kembali, ayah dijemput oleh seseorang yang tak kukenal dan pergi menggunakan mobil yang sama dengan mobil yang saat itu menabrakku hingga aku koma beberapa hari di Rumah Sakit. Lalu, pada saat di hari ulang tahun ku yang ke 11, Ayah mengundang semua orang yang menurutnya sangat berarti untukku untuk merayakan ulang tahunku dan menganggap aku sebagai anggota keluarga mereka. Aku bisa melihat Om Ohim, Bu Luna, Om Ucup, Tante Maya, Om Edi dan Tante Dina. Semua orang yang benar-benar sangat berarti dihidupku. Lalu aku melihat seseorang yang bahkan aku tak mengenalinya, yaitu papa. Papa datang dan memberikan sejumlah uang kepada eyangku lalu pergi tanpa menyapaku sedikitpun. Papa berjalan kearah mobil yang sama. Saat itu, aku berpikir bahwa untuk apa ayah mengundang orang yang menabrakku dan membuat ayah pergi dari dunia ini? Lalu, aku menyimpulkan bahwa papa adalah orang yang telah membunuh ayahku.” Kata Tiara.
“Lalu, ketika kau tahu bahwa aku yang membunuh ayahmu. Apakah kau membenciku?” Tanya Randy penasaran.
“Tidak.” Jawab Tiara sambil tersenyum.
“Mengapa?” Tanya Papa penasaran.
“Aku telah lama berada disamping ayahku. Aku tahu bagaimana sifatnya. Ayah adalah seseorang yang selalu akan melakukan apapun demi putri kecilnya. Ia selalu menyembunyikan rasa sakitnya dibalik senyuman agar hatiku selalu merasa tenang, bahkan saat kematian istri tercintanya. Saat itu juga, aku tahu bahwa ayah lah yang meminta Papa untuk membunuhnya atas keinginannya sendiri demi melindungi keselamatanku. Tapi, aku masih berpikir kenapa ayah mengundang papa di hari ulang tahunku? Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ketika aku sadar dari koma, ayah bercerita bahwa salah seorang temannya yang bernama Randy, telah mendonorkan darahnya agar aku tetap hidup. Lalu, Ayah mempercayai papa untuk membunuhnya. Aku percaya bahwa temannya yang bernama ‘Randy’ itu adalah papa. Itu berarti papa adalah orang yang sangat penting untuk ayah dan juga untukku.” Kata Tiara mulai berkaca-kaca mengingat semua yang telah dilakukan oleh ayahnya untuknya.
“Begitu rupanya. Kau benar-benar sangat pintar. Kini aku benar-benar percaya bahwa kau bukan anak kandungnya. Kau benar-benar berbeda dengan ayahmu yang bodoh.” Kata Randy yang juga matanya kini berkaca-kaca mengingat masa kecilnya bersama Sadam.
“Aku juga sudah tahu jika aku bukan anak kandungnya.” Kata Tiara sambil tersenyum meski air matanya kini mulai meleleh.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Randy.
“Oma dan opa telah bercerita padaku.” Kata Tiara sambil mengusap air matanya.
“Hahaha… papa kira kamu menyadarinya sendiri.” Kata papa sambil tertawa.
“Lalu, kau masih belum menjawab. Kenapa kau tetap menikahiku?” Tanya Raymon penasaran.
“Aku bisa melihat sesuatu yang berbeda dari papamu, jauh didalam hatimu. Saat kau melamarku, aku bisa melihat ketulusan itu. Aku mencoba melupakan fakta bahwa papamu bernama Randy Pangestu, yang berarti ia adalah anggota dari kelompok Pangestu.” Kata Tiara sambil membelai pipi Raymon.
“Aku sangat mencintaimu, Tiara!” Kata Raymon sambil mengecup kening Tiara.
“Tiara… terima kasih atas kemurahan hatimu dengan tidak menaruh dendam padaku.” Kata Randy.
“Ya. Sama-sama papa. Papa adalah papa mertuaku, yang harus aku hormati seperti ayahku sendiri.” Jawab Tiara.
“Sadam… Kau mendidik putrimu dengan sangat baik.” Kata Randy dalam hati sambil tersenyum menatap Tiara.
Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang bersama. Tawa yang terlihat di wajah Randy menjadi bukti bahwa kini ia tak lagi harus menopang beban yang sangat berat. Juga, rasa gelisah di hatinya telah sirna. Ketika langit berubah menjadi gelap, Raymon dan Tiara segera pamit untuk segera pulang.
Raymon mengemudikan mobilnya menuju rumah mereka. Tapi, tiba-tiba Tiara meminta untuk mampir disebuah tempat. Tempat yang sangat spesial untuk Ia, ayah, dan Bundanya. Sebuah bukit yang dijuluki ‘Duduk Diantara Bintang-Bintang”.
“Kenapa kau ingin kemari?” Tanya Raymon pada Tiara yang duduk dibangku tempat ayahnya menghembuskan nafas terakhir.
“Ayah pernah berkata. Jika suatu saat aku merindukannya, duduklah diantara bintang-bintang!” Kata Tiara.
Raymon mendaratkan pantatnya persis disebelah Tiara. Mereka berdua menikmati pemandangan kota bagai sedang berada diatas langit. Hembusan angin menerpa wajah sepasang suami istri itu.
“Aku pernah bertemu ayahmu satu kali, ketika kamu sedang koma. Meskipun hanya satu kali, aku bisa tahu bahwa ia adalah seorang ayah yang hebat.” Kata Raymon sambil menatap lurus kedepan kearah pemandangan yang disuguhkan didepan mereka.
“Ya. Ayahku dan Papamu benar-benar seorang ayah yang hebat.” Kata Tiara sambil tersenyum menikmati hembusan angin yang seolah membelai rambutnya.
“Apakah aku juga bisa menjadi ayah yang hebat untuk Kesha?” Tanya Raymon pada Tiara.
“Kau pasti akan menjadi ayah yang jauh luar biasa dibandingkan mereka. Aku pasti bisa menjadi ibu yang hebat untuk Kesha, dan aku akan membantumu menjadi ayah yang hebat juga untuk Kesha!” Kata Tiara sambil menatap penuh keyakinan pada kedua mata suaminya.
“Terima kasih telah mempercayaiku untuk menjadi suamimu dan ayah untuk anak kita.” Kata Raymon sambil mengecup bibir Tiara.
“Raymon. Aku ingin mengatakannya sekali lagi!” kata Tiara ketika bibirnya dikecup mesra.
“Apa itu?” Tanya Raymon.
“Besok kau harus datang menonton pertunjukanku!” Kata Tiara sambil kembali mengecup bibir Raymon.
Raymon melepaskan pagutannya pada bibir Tiara.
“Maaf. Sepertinya aku tak bisa. Aku harus menemani papa selagi aku masih bisa menemuinya.” Kata Raymon sambil membuang wajahnya.
“Begitukah? Kalau begitu, temanilah ia selagi masih ada didekatmu. Aku ikhlas.” Kata Tiara lalu kembali memagut ciumannya pada bibir Raymon.
Keeskokan harinya…
Tiara sedang berada di ruang tunggu dengan jantung yang berderu kencang. Ia terus memgang dadanya yang berdegup dengan cepat. Tiara bisa merasakan gulungan ombak sedang bergejolak didalam dadanya.
“Selanjutnya, Mbak Mutiara!” Panggil seseorang yang menyuruhnya naik keatas panggung.
Dengan kaki yang bergetar, Tiara naik keatas panggung bersama biola peninggalan Bundanya.
“BU TIARAAAA…!!!” Sorak para muridnya dari bangku penonton saat Tiara berdiri diatas panggung.
Dari atas panggung, Tiara bisa melihat orang-orang yang ia kenal sedang menunggu pertunjukan biolanya. Ia bisa melihat para murid yang datang bersama orang tua mereka, lalu anaknya yang digendong oleh pengasuhnya, dan anggota keluarga lain seperti Om Darius, Tante Celia, Om Ohim, Bu Luna, Om Ucup, Tante Maya, Aisyah, Om Edi, dan Tante Dina. Mereka semua datang untuk menikmati pertunjukan biolanya dan juga memberi dukungan mental untuk Tiara.
“Hah? Raymon? Bukannya ia tidak akan datang?” Tanya Tiara dalam hati ketika ia melihat suaminya berdiri diujung bangku penonton.
Sebelum pertunjukan Tiara…
Raymon terlihat murung karena ia tak bisa menonton pertunjukan istrinya.
“Apa yang sedang kau pikirkan Raymon?” Tanya Randy ketika melihat wajah anaknya yang sedang murung.
“Tidak ada apa-apa, Pah!” kata Raymon sambil tersenyum dan berbohong.
“Kau tidak perlu berbohong. Ceritakan semua pada papa!” Kata Randy yang terus membujuk Raymon.
Raymon menghela nafas sejenak.
“Hari ini, Tiara mengikuti audisi pencarian bakat di televisi. Aku sangat ingin menontonnya!” kata Raymon sambil tertunduk
“Lantas, kenapa kau masih disini?” Tanya Randy.
“Karena, aku juga ingin menemani ayah, sebelum ayah dipindahkan ke penjara.” Kata Randy.
“Apa Tiara akan kecewa, jika kamu tidak menontonnya?” Tanya Randy.
“Ia mengizinkanku untuk berada disini. Tapi, aku tahu bahwa sebenarnya ia kecewa karena aku tidak bisa datang.” Kata Raymon.
“Raymon… apakah papa pernah mengajarkanmu untuk membuat hati seorang istri kecewa? Seumur hidup, papa tidak pernah mengecewakan hati istri papa. Lekaslah pergi dan jangan buat papa seolah tak mengajarimu!” Pinta Randy.
“Pah, papa kan emang gak pernah punya istri.” Jawab Raymon sambil tertawa.
Randy langsung gelagapan karena omongan Raymon memang ada benarnya. Ia memang tak pernah membuat kecewa hati seorang istri karena ia memang tidak mempunyai istri.
“Pokoknya… kamu pergi sekarang! Dukunganmu sangat berarti untuknya. Kau masih bisa menemuiku esok hari.” Kata Randy menasehati Raymon.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi.” Kata Raymon.
“Mutiara… profesimu apa?” Tanya salah seorang juri.
“Saya adalah seorang guru musik.” Jawab Tiara dengan ramah.
“Wah… berarti sekarang akan menampilkan pertunjukan musik, dong ya?” Tanya seorang juri.
“Tidak. Saya akan menunjukan sebuah atraksi debus.” Jawab Tiara.
“Hah? Debus?” Tanya juri heran.
“Tapi boong… saya hanya becanda agar tidak gugup. Hari ini saya akan bermusik dengan biola saya.” Jawab Tiara.
“Lagu apa yang ingin kau mainkan?” Tanya juri.
Tiara memejamkan sejenak untuk memikirkan lagu apa yang akan ia mainkan. Ingatannya membawanya kembali ke hari Ulang tahunnya yang ke 10. Dimana ia berduet dengan Bundanya dan ayahnya duduk dihadapannya menikmati setiap nada yang ia mainkan.
“Lagu My Immortal dari Evanescence.” Jawab Tiara.
“Baiklah. Silahkan dimulai!” Kata Juri.
Seorang pengiring piano lalu mulai memainkan nada-nada untuk mengiringi lantunan nada biola Tiara. Tiara memposisikan dirinya, dan nada-nada gesekan dari senarnya mulai terdengar harmoni. Semua penonton terpukau dengan pertunjukan Tiara. Tiara begitu menghayati setiap gesekan pada senarnya sampai ia memejamkan mata. Energi yang ia keluarkan, mempengaruhi setiap orang yang mendengar lantunannya. Setiap nada yang ia mainkan, tergambar momen kebahagiaan masa itu bersama ayah dan bundanya. Tiara tak menyadari bahwa air matanya mulai menetes dari balik kelopak matanya yang tertutup. Nafasnya menjadi semakin berat. Hatinya benar-benar merasakan kerinduan akan kehangatan yang dulu ia terima dari ayah dan bundanya.
Para penonton yang melihat Tiara menangis dengan diiringi permainan biolanya, menjadi terbawa dalam suasana itu. Bahkan para juri pun tak sadar bahwa mereka mulai meneteskan air mata. Mereka seolah mengetahui apa yang telah Tiara lewati semasa hidupnya hanya dengan mendengarkan lantunan lagunya.
Diantara penonton itu, ada seorang penulis pemula yang sedang mencari ide untuk menulis sebuah Novel. Ia mempunyai firasat bahwa hari ini, ia akan mendapatkan ide dengan menonton langsung acara pencarian bakat ini. Instingnya ternyata benar. Penulis itu benar-benar takjub saat menonton pertunjukan Tiara. Semua yang Tiara lantunkan lewat nada-nada seolah tergambar jelas pada imajinasinya. Sebuah momen yang sangat menyayat hati hingga si penulis itu pun meneteskan air matanya secara tidak sadar.
Tiara terus memainkan biolanya hingga kini sudah dibagian reff. Dengan hati yang hancur, air mata yang terus mengalir, serta kerinduan akan kedua orang tuanya, lantunan nada yang ia mainkan benar-benar terdengar lirih.
“Kenapa kau memejamkan matamu dan menangis?” Tanya seorang laki-laki dengan suara yang sangat akrab di telinga Tiara.
Tiara membuka kedua matanya dan benar-benar terkejut ketika ia bisa melihat bayangan ayahnya tersenyum tepat di hadapannya.
“Ayah?” Tanya Tiara dalam hati.
“Tiara… bukankah ayah selalu melarangmu untuk bersedih?” Tanya Sadam sambil tersenyum.
Tangisan Tiara seketika berubah menjadi senyuman indah.
“Lebih baik, kita selesaikan lagu ini agar kamu bisa lolos audisi!” Kata Laras yang juga memainkan biola di samping Tiara.
Tiara menolehkan pandangannya sambil tetap melantunkan nada-nada indah. Ia terkejut melihat bayangan bundanya yang sedang mengiringinya bermain biola.
“Bunda?” Tanya Tiara dalam hati.
“Tiara… ayo kita tunjukan pada mereka. Bagaimana duet maut kita!” ajak Laras sambil memainkan biolanya.
Tiara tersenyum dan semangat dalam dirinya menjadi berkobar. Sadam terus menatap Tiara dan Laras bermain biola denga perasaan bangga. Hingga akhirnya Tiara berhasil menyelesaikan lagu yang ia mainkan. Para penonton langsung berdiri dan bertepuk tangan sambil menghapus air mata di mata mereka. Begitupun dengan para juri.
Sadam dan Laras menatap Tiara sambil tersenyum dengan bangga.
“Tiara… kami bangga padamu!” Kata Sadam dan Laras sambil tersenyum.
“Ayah, bunda, Tiara benar-benar rindu dengan kalian. Rindu ini begitu menyakitkan.” Kata Tiara sambil menatap kedua orang tuanya.
“Rindu memang selalu menyakitkan. Supaya tidak menyakitkan, maka kau harus merelakannya.” Kata Laras lalu bayangannya memudar dan menghilang.
“Ayah harus pergi. Jika hatimu merasa gundah, cobalah untuk menatap bulan purnama di malam hari! Itulah yang diajarkan nenek pada ayah.” Kata Sadam lalu bayangannya memudar dan menghilang.
Tiara tersenyum menahan haru biru pada hatinya ketika bayangan kedua orang tuanya memudar dan menghilang. Tepuk tangan penonton masih riuh memenuhi ruangan. Tiara lalu menyeka air matanya menggungakan lengan kanannya dan mencoba untuk merelakan kepergian kedua orang tuanya. Tiara mencoba untuk mengembalikan senyumannya.
“Mutiara… kamu bagus banget! Kamu bisa bikin saya sampai meneteskan air mata.” Kata salah seorang juri.
“Terima kasih, mbak!” Kata Tiara sambil membungkukan badan.
“Mutiara, apa lagu itu mengingatkanmu sesuatu? Ataukah biola itu yang mengingatkanmu pada seseorang?” Tanya seorang juri laki-laki.
“Biola ini adalah milik mendiang bundaku. Biola ini selalu dimainkannya sejak bundaku masih kecil sampai maut menjemputnya. Lalu hanya biola inilah satu-satunya warisan yang diberikan oleh bunda padaku. Setelah itu, Biola ini menjadi saksi bisu perjalanan panjangku bersama ayah sampai ayah menghembuskan nafas terakhirnya menyusul bunda dan pergi dari Dunia ini. Dan lagu itu, adalah lagu terakhir yang kami nikmati bersama pada saat ulang tahunku yang ke 10. Saat itu, aku bisa melihat senyuman bahagia dari raut wajah ayah yang melihat aku bersama bunda bersama-sama memainkan lagu itu.” Jawab Tiara sambil tersenyum.
“Wow… pantas kami para juri, beserta semua penonton disini ikut meneteskan air mata karena makna dari lagu dan biola yang kamu mainkan rupanya sangat dalam.” Kata juri lelaki itu.
“Mutiara… tanpa membuang-buang waktu lagi, kami para juri telah sepakat bahwa kamu lolos ke babak selanjutnya!” Kata para juri.
“Terima kasih!” kata Tiara sambil beralri untuk bersalaman dengan para juri.
Semua penonton beserta orang-orang yang mengenal Tiara, sangat gembira mendengar Tiara lolos ke babak selanjutnya.
Di belakang panggung, Raymon telah menunggu dan langsung memeluk Tiara dengan bangga karena kesuksesan Tiara.
Tiba-tiba, seorang penulis yang tadi menontonnya datang menghampirinya di belakang panggung.
“Permisi, mbak Mutiara, saya Yogi seorang penulis pemula. Saya sedang mencari ide untuk menulis. Saya berpikir jika kisah perjalanan mbak Mutiara bersama ayahnya, akan menarik jika saya tulis. Apakah mbak Mutiara bersedia menceritakan kisahnya kepada saya?” Tanya Yogi si penulis.
Tiara berpikir sejenak dan tersenyum.
“Aku ingin semua orang tahu tentang betapa hebatnya ayahku. Dan aku harap kisahnya bisa mengispirasi semua ayah di Dunia. Baiklah! Aku akan menceritakannya.” Kata Mutiara.
Sang penulis memperhatikan dengan seksama setiap perkataan yang keluar dari mulut Tiara. Kata demi kata yang membentuk sebuah cerita. Cerita inspirasi yang akan ia tulis dan menyebarkannya keseluruh ayah di penjuru dunia.
“Apakah sekarang Mbak Mutiara ingin bertemu dengan ayah kandung Mbak Mutiara yang bernama Dimas itu?” Tanya Yogi si Penulis.
“Tidak. Bagiku ayah kandung ataupun bukan adalah sama. Yang terpenting adalah ikatan yang menghubungkan antara anak dan ayah. Bagiku, ayahku hanyalah bernama Sadam. Jadi, untuk apa aku mencari ayah yang lain?” Jawab Mutiara sambil tersenyum.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih atas waktunya Mbak Mutiara! Oh iya, apakah Mbak Mutiara ada saran untuk judul novel yang akan saya tulis?” Tanya Yogi.
“Hmmm… bagaimana kalau judulnya ‘Demi Mutiara’?” saran Mutiara.
“Boleh saya tahu mengapa?” Tanya Yogi.
“Ayah, aku telah menceritakan kisahmu. Aku harap semua orang bisa terinspirasi dengan kisahmu. Cerita tentang seorang ayah yang berjuang keras hingga mengorbankan hidupnya hanya demi seorang anak bernama Mutiara.” Kata Mutiara dalam hati.
"Ya... karena semua yang dilakukan ayahku semasa hidupnya, hanya demi Mutiara." Jawab Mutiara pada Yogi si penulis.
-Tamat-