Freya meluruskan kaki di atas lantai papan yang sejuk. Aksa mengikuti caranya duduk, namun kemudian pria itu merebahkan tubuhnya, dia menyangga kepala dengan kedua tangannya. "Jadi kapan kita pulang?" Sudah Freya katakan dia tidak ingin pulang, kenapa Aksa menanyakan hal yang sama? Freya pun tak menjawab. Dia memilih beranjak dari tempat itu, meninggalkan Aksa sendiri. Aksa segera duduk, menegakkan tubuhnya, kemudian dia menatap kepergian Freya. Ah… wanita itu kenapa sulit dipahami, tiba-tiba tertawa, tapi kemudian marah . Sungguh Aksa tidak ahli dalam hal ambigu seperti itu. Waktu baru menunjukkan pukul sebelas, tapi matahari sudah meninggi, bayangan manusia di permukaan tanah sudah hampir tegak, dan manusia hampir tak dapat melihat bayangannya sendiri. Cuaca memang sedang panas-

