Aydan memperhatikan bagaimana Aksa berlari untuk mencegah Freya pergi. Dia sudah cukup yakin anaknya itu memiliki perasaan terhadap Freya. “Fey, aku mohon, Fey.” Aksa kembali menahan tangan Freya. “Jangan pergi!” Dia yakin Freya belum sepenuhnya membaik, bukankah baru tadi malam Aksa memberinya obat masuk angin. Freya menghela napas. Matanya terpejam sejenak. “Kamu nggak perlu nahan aku.” Freya mendengkus. “Aku hidup untuk diriku sendiri, bukan untuk kamu,” ucapnya. Kalimat yang baru saja ke luar dari mulutnya telah menyakiti dirinya sendiri. Hati Aksa terasa seperti dicubit. Dia pikir demi dirinya Freya bertahan. Nyatanya-- Aksa melepaskan tangannya dari tangan Freya. “Ini pilihan kamu, Fey. Pergilah!” Freya merasa seperti diempaskan hingga ke ujung langit. Bahkan semudah itu Ak

