Gelap. Pengap. Hening yang menusuk. Tangan Kalea bergetar, tapi matanya menyala penuh tekad dan amarah. Ia duduk di lantai dingin yang keras, mengatur napasnya. Tali yang semula membelenggu pergelangan tangannya kini terlepas, ujungnya sudah terurai, rusak karena usaha gigihnya menggosokkan ke paku karatan di sudut ruangan. Kalea menggigit bibirnya, menahan seruan lega karena akhirnya bisa melepas kain kumal yang membungkam mulut. Gadis itu merasa pergelangan tangannya yang lecet mulai sakit. Meski begitu, tidak ada waktu untuk sekedar mengkhawatirkan tubuhnya. Ia harus sesegera mungkin keluar dari tempat berbahaya ini. Keadaannya sekarang masih genting, ia tidak punya alat komunikasi, gudang ini juga tidak punya akses keluar lain selain pintu yang dikunci. Tanpa jendela, tanpa ventil

