Di ruang musik yang kedap suara, Kanza terbatuk-batuk tanpa henti. Kedua tangannya memeggang d**a dengan tubuh berbaring di lantai tak berdaya. Air matanya merembes deras di pipi, mencerminkan keputusasaan yang dalam. Dari luar, suara derap kaki terdengar samar-samar mendekat. Kanza sangat ingin berteriak meminta tolong, namun sesak di dadanya membuat dia tidak berdaya melakukan hal itu. Pintu besar di depannya terbuka lebar, memperlihatkan seseorang datang dengan beberapa buku kesenian yang ia peluk di d**a. Wajahnya seketika tampak panik, menjatuhkan buku paket di tangannya kemudian lari mendekat ke arah Kanza. "Kamu kenapa, Za? Ada apa?" Sahira membantu Kanza duduk, tampak cemas saat gadis itu tidak menjawab dan terus terbatuk. Sahira menyandarkan Kanza ke tembok, melihat ponselnya y

