Kesempatan Besar

988 Kata

Sahira membuka mata, mengakhiri mimpinya pagi ini akibat suara jam weker yang berbunyi nyaring terus-menerus. Bosan menunda waktu, Sahira akhirnya terpaksa bangun. Ia meregangkan otot, membuka jendela kamarnya dan bersiap untuk mandi. Hari ini dia ada ulangan, datang pagi bukan lagi suatu pilihan melainkan keharusan. Sebelum Sahira ke kamar mandi, ia mendengar suara Shinta berkata kencang seolah sedang memarahi seseorang. Sahira mengurungkan niatnya untuk mandi, dia keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah untuk melihat apa yang sedang mamanya itu lakukan. "Kamu kalau gak punya niat serius, gak usah ajak tunangan anak saya!" sayup-sayup Sahira mendengar amarah Shinta dari tangga. Dan benar saja, mamanya itu sedang berdiri menghadap Bara dengan raut wajah emosi sekaligus kecewa. Ibrah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN