Sahira masuk dengan tergesa-gesa. Jantungnya terus berdetak kencang selama perjalanan bahkan sampai ke rumah tujuannya. Ia menyusuri taman, membuka pintu kemudian masuk ke rumah yang keadaannya benar-benar kacau. Jendela pecah, meja berguling, kursi bergeser, kepingan pas bunga yang berserakan di lantai, dan pecahan gelas yang menumpahkan minuman anggur membuat gadis itu memelotot kaget. Sahira menemukan Bi Asih terduduk lemah di dapur, dekat dengan wastafel dalam kondisi ketakutan. Sahira memeluknya, mengusap punggungnya yang bergetar karena menangis tersedu. "Ada apa ini, Bi?" tanya Sahira cemas. "Bara, dia mengamuk, Non. Bibi tidak tahu harus bagaimana," jawab Bi Asih terisak. "Sekarang dia di mana?" "Di kamarnya, dia sedang marah-marah." Sahira membantu Bi Asih berdiri, mendudukka

