"Kenapa sih lu jadi cewek b**o-nya kebangetan." Kanza menyimpan kedua tangannya di meja, posisinya berdiri berhadapan dengan Sahira yang duduk termenung di bangku. Dia yang baru saja sehat dan keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu, kembali merasa sakit saat mendengar curhatan sahabatnya tentang Bara. Mungkin kali ini, Kanza bukan sakit asma, tapi sakit pikiran memperhatikan kebodohan Sahira. Kanza memeggang bahu Sahira, menggoyangkannya pelan. "Sadar, Ra, sadar! Lo lagi diperdaya sama cowok berengsek itu. Kalau lo bilang semua yang lo lakuin ini demi cinta dan sayang, kelewat oon-nya lo!" emosi Kanza meluap sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya ia meludahi wajah cowok yang bernama Bara dan memakinya habis-habisan. Cerita Sahira tentang pengusiran Bara beberapa hari yang lalu, berhasil

