Bab 44

1534 Kata

“Baik, Mbak.” “Ikutin Innova hitam itu, ya! Yang terhalang tiga mobil dari sini!” “Baik, Mbak.” Aku duduk dengan tak tenang, entah kenapa perasaan begitu hancur ketika mengetahui Mas Iqbal masih menjalin hubungan dengan perempuan masa lalunya itu. Bukankah dia bilang kalau perempuan itu hanya menjadi masa lalu dan aku adalah masa depannya? Semudah itu janji manis itu terlupa begitu saja. Taxi yang kutumpangi, terus mengekori mobilnya. Rupanya mobil itu menuju sebuah restoran. Jadi, mereka akan makan siang? Kok rasanya makin sakit, ya? Tiba-tiba saja air mataku menetes ketika melihat mobil yang sudah berbelok di parkiran itu berhenti dan mereka berdua keluar. Ya, meskipun kalau dari ekspresi Mas Iqbal tampak dingin dan cuek dengan wanita itu, tetapi, tetap saja sakit melihat mer

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN