Pov Iqbal “Kalau lo mau tahu, ikut gue sekarang! Suami lo terlalu pengecut untuk mengatakan semuanya!” tukas Kenzo dengan senyum merendahkan. Aku terkejut ketika Diva melepas pegangan tangannya dan menatapku dengan sendu. “Mas, aku izin pergi bersama Kenzo. Bukankah kamu juga sudah hendak melepaskanku tanpa menejelaskan apapun. Aku butuh penjelasan, Mas. Aku butuh itu.” Diva bicara dan segera mengejar Kenzo yang sudah berbalik badan dan berjalan meninggalkan kami. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Rasa nyeri di kepala yang semakin menjadi membuatku hilang keseimbangan. Dalam samar kudengar teriakan yang memanggil namaku. *** Aku mengerjap, mataku menyipit menyesuaikan dengan pendar cahaya dari lampu ruangan yang cukup terang. Yang pertama kali kulihat, langit-langit bercat put

