Bab 46

1783 Kata

“Kapan, Ma? Dengan siapa dia nikah? Kapan pernikahannya akan dilaksanakan?” Mas Iqbal menatap intens wajah Bu Faridah. Sementara itu, aku hanya duduk mematung, diam di sampingnya. “Nikah sama cewek lah, Bang! Pertanyaan lo aneh! Gue baru akan nikah setelah lo sembuh, Bang. Makanya lo cepetan sembuh!” Suara Kenzo terdengar dari arah belakang. Mas Iqbal menoleh padanya. Aku juga, hanya saja ternyata pandangannya tengah menatap lurus ke depan. Tak sedikitpun melirik ke arah kami. “Kenapa harus nunggu Abang sembuh, Kenz?” Mas Iqbal menatapnya. “Yang mau nikah ‘kan gue, Bang. Terserah gue lah mau kapan.” Wajahnya jutek seperti biasa. Emang dia gak pernah berubah. “Ya lebih baik gitu, kamu jangan nikah dulu, kalau Abang gak ada umur, tolong jaga mantan istri Abang ini, Kenz ….” Suarany

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN