Aku mematung di dekat pintu, urung mendorong pintu ruangan di mana Bang Iqbal berada. “Aku gimana Mas Iqbal saja, Ma. Hmmm … gimana, Mas?” Kudengar suara seseorang yang sampai hari ini sosoknya masih memenuhi lubuk hati. Gila memang, masa iya aku tergila-gila seperti ini dengan kakak ipar sendiri, huh. “Oke, Sayang … lebih baik di rumah Mama dulu saja. Mas khawatir kamu akan kerepotan kalau di rumah harus jaga Mas sendirian. Maaf, ya.” Kudorong saja daun pintu itu ketika tak ada lagi pembicaraan tentangku dan tentang perjodohan yang menyebalkan itu. “Ma, mereka ‘kan sudah punya rumah sendiri. Ngapain malah diajak di rumah kita. Kalau mau ikut ke rumah Om Wira, tinggal kita jemput saja pas hari H.” Aku melempar komplen pada Mama. Bisa gila aku kalau tinggal seatap dengan mereka. L

