Pov Diva Aku berjalan di samping Mas Iqbal. Sejak tadi, bahkan genggaman jemari ini tak terlepas. Lebih tepatnya, Mas Iqbal yang tak mau melepas genggaman jemarinya. Bu Rinai mempersilakan kami duduk. Tak berapa lama, seorang ART datang dan membawakan air minim di atas nampan. Seorang lelaki yang berpostur tubuh tinggi tegap muncul dari lantai atas. Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang mungkin usianya seumuran denganku berjalan sambil menggelayut manja di lengan lelaki itu. Dia menunduk dan tampak sekali malu-malu. Pak Rafael bangkit lalu menyalami sang empunya rumah. Dia tampak sekali membungkuk hormat pada lelaki yang bahkan di usianya yang sudah matang terlihat masih begitu gagah. “Sehat Pak Wira?” “Baik. Makasih sudah mau menyempatkan diri berkunjung ke sini!” “In

