Pov Diva “Astaghfirulloh … itu ‘kan?” Lantas aku mengambil gawai dan mengarahkan pada dua orang yang tampak berjalan dengan mesra itu. Sengaja kurekam diam-diam. “Va!” Suara Mas Iqbal membuatku menoleh. Segera kuturunkan gawai yang tadi kuarahkan dari arah samping tubuhku pada mereka. Namun tak hendak aku membahasnya dengan Mas Iqbal. “Apa, Mas?” “Hmmm, tuh!” Mas Iqbal melirik dengan sudut matanya. Aku tersenyum ketika menyadari antrian di depanku sudah habis dan menyisakkan aku yang mematung berjarak beberapa langkah dari kasir. Lekas kuikuti langkah Mas Iqbal yang mendorong troli. Kami berdiri bersisian dan kasir segera menghitung totalan belanja kami. “Yang ini kantungnya dibedakan, ya, Mbak!” Aku mengeluarkan barang-barang yang akan kubawa ke tempat Ibu. “Baik, Mbak.

