Pov Adzkya Aku menyimpan rapat-rapat penemuan foto kakak iparku ini sendirian. Ketika makan malam dan sorenya kumpul-kumpul keluarga, aku masih bersikap biasa dan seolah tengah tak memikirkan apa-apa. “Kenz, ajakin Kya jalan-jalanlah … mungkin jenuh seharian di rumah.” Mama Faridah memang berhati lembut dan sangat pengertian. Aku tersenyum mendengar penuturannya. Namun, Mas Kenzo hanya melirik sekilas, wajahnya datar dan tak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Kamu mau jalan?” Dia bertanya padaku rupanya. Aku berpikir sejenak lantas mengangguk. “Boleh.” “Oke, aku tunggu di depan.” Mas Kenzo berdiri dan meninggalkan seperempat porsi makanan di piringnya yang masih tersisa. Dia pun langsung bangkit setelah meneguk air putih dalam gelasnya. Aku yang masih menghadapi nasi dalam piring

