***
Juan menutup telinganya dengan bantal, malam ini cowok itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Juan menghela nafas kesal dan bangkit dari tidurnya dan melesat keluar kamarnya. Lalu dia membuka pintu kamar Aleena yang kebetulan tidak terkunci.
"Woy, bisa nggak lo kecilin tuh volume musik lo yang nggak jelas!" Teriak Juan kesal ketika berada di kamar Aleena.
Aleena membuka potongan timun dari kedua matanya dan menatap Juan malas. Juan langsung mengecilkan volume music tanpa persetujuan pemiliknya.
"Apa-apaan si lo Juan! Gangguin gue ajah!" Seru Aleena bangkit dari tidurannya, Aleena langsung membesarkan volume musiknya kembali, "Lo denger yah Juan, ini kamar gue dan ini rumah nyokap gue jadi lo nggak bisa seenaknya ganggu gue! Lo masih inget kan peraturannya?!"
Juan menatap lekat Aleena, "Tapi gue mau tidur!" serunya dengan penuh penekanan.
"Ya udah tidur, tidur ajah! Lagi itu resiko lo karena lo udah numpang di rumah nyokap gue! Udah sana lo pergi!" usir Aleena sambil mendorong tubuh besar Juan dan mengkunci pintu kamarnya. "Ganggu orang lagi maskeran aja!" keluh Aleena.
Juan masih menggendor pintu Aleena dan berteriak agar mengecilkan Volumenya tapi Aleena tidak peduli dia sengaja melakukan ini supaya Juan tidak betah tinggal dirumahnya.
"Aleena, kalau lo masih nggak mau kecilin music lo itu, lo akan menyesal besok!" ancam Juan penuh dengan amarah.
"Juan..." Panggil Nisya tiba-tiba.
Jual menoleh terkejut saat ibu tirinya memanggil, "Mama belum tidur?" tanya Juan, Nisya hanya menggeleng pelan.
"Kamu pasti nggak bisa tidur ya karena ulah Aleena?" tanya Nisya, Juan hanya mengangguk malas. "Aleena memang begitu sikapnya, anak itu keras kepala. Tapi ada satu cara yang bikin Aleena bisa nurut kalau dia benar-benar keras kepala dan mama sering pakai cara itu kalau Aleena lagi susah di bilangin."
"Gimana caranya ma?" seru Juan antusias, mama langsung membisikan Juan. Sedetik kemudian senyum Juan menyeringai jahat.
***
Keesokannya...
"Aleena, bangun Nak sudah pagi. Nanti kamu kesiangan kuliahnya!" seru Nisya dari luar kamar Aleena sambil mengetuk pintu kamar Aleena.
"Iyah Ma..." seru Aleena malas sambil membuka penutup matanya.
Nisya terus menggedor pintu kamar anaknya tidak sabaran.
"Mama sebentar dong..." Ucap Aleena kesal tidak seperti biasanya mama menggedor pintu kamarnya berkali-kali.
Lalu Aleena bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
"Lo ngepain di depan kamar gue?" seru Aleena terkejut ketika melihat Juan sedang tersenyum di depan kamarnya.
Aleena langsung mencodongkan kepalanya kearah tangga.
"Mama di bawah dan dari tadi gue yang gedor pintu kamar lo ini." Ucap Juan tanpa rasa bersalah, Aleena hanga mendesis kesal.
Aleena langsung mengambil handuk yang di gantung dan berjalan mendekati kamar mandi.
"Cepet mandinya gue tunggu lo disini." Kata Juan sambil bersiul dan duduk ditepi kasur Aleena.
"Gak usah!!" kata Aleena ketus dan langsung membanting pintu kamar mandinya.
Juan memandangi sekeliling kamar Aleena, kamar wanita itu terlihat rapi dan harum. Kemudian Juan berjalan mendekati meja belajar milik Aleena disana dia melihat foto-foto Aleena dengan Rendy.
Juan tersenyum saat melihat wajah Aleena yang terlihat cantik di dalam foto ini walaupun wajahnya sengaja dibuat jelek. Juan tersenyum remeh ketika pandangannya beralih ke wajah Rendy, Juan tidak mengerti apa yang dilihat Aleena dari Rendy.
"Gue sama Rendy masih gantengan gue!" pujinya pada dirinya sendiri.
"Aduh gue mau muntah tau nggak denger omongan lo barusan, lo sama Rendy yah gantengan cowok gue lah!" cibir Aleena yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Juan kontan menatap Aleena yang hanya menggunakan handuk berwarna biru dengan rambut basah. Sepasang matanya melebar melihat Aleena berpenampilan seperti itu.
"Lo jauh banget dari Rendy ibarat langit dan bumi tau nggak! Buktinya aja lo masih Jones, Jomblo ngenes!" hina Aleena membuat Juan kesal.
"Lo bilang gue Jones?" kata Juan tidak terima.
"Iya, lo emang Jones!" Seru Aleena dengan wajah seperti menantang Juan.
"Kalau gitu lo harus jadi pacar gue biar gue nggak jones lagi!" Ujar Juan, Aleena menatap Juan bingung dengan ucapanya. "Iya lo bukan hanya jadi adik gue, tapi lo juga harus jadi pacar gue!" seru Juan.
"Ih Ogah enak ajah lo!" tolak Aleena mati-matian, "Denger yah Juan, lo jadi kaka tiri gue aja gue nggak mau! Apalagi lo jadi pacar gue, ih eww..." seru Aleena mengeryit jiji.
"Kalau lo nggak mau, gue akan letakan binatang peliharaan lucu gue ini di kamar lo!" ancam Juan mengeluarkan sesuatu dari tasnya, lalu nemperlihatkan tikus got berwarna hitam pekat kepada Aleena, Aleena yang melihat tikus itu langsung mual seketika, "dan itu..." seru Juan sambil menunjuk dua cicak gendut di dalam topless yang berada di atas tempat tidur Aleena.
"Juan, cepet lo buang nggak mereka! Gue pengen muntah!" teriak Aleena dan langsung melesat ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya.
"Gimana lo setuju nggak jadi cewek gue, gue nggak apa-apa jadi selingkuhan lo." tanya Juan menyengir.
"Dasar cowok sinting!!" seru Aleena kesal, wajahnya tampak begitu memucat.
"Ya sudah kalau lo nggak mau, gue akan menaruh Jimbo tikus kesayang gue di kamar lo ini." Ucap Juan sambil mendekati tikus bernama Jimbo itu kearah wajah Aleena,
Aleena langsung mengeryitkan dahinya, itu sangat menjijikan.
"Oke gue mau, puas lo!" seru Aleena akhirnya, Aleena tidak ada pilihan lain dia sangat begitu takut dengan tikus yang di perlihatkan oleh Juan. Aleena phobia dengan binatang-binatang menjijikan seperti tikus dan cicak.
"Bagus, sekarang lo gue tunggu yah di bawah cintaku..." kata Juan mengerlingkan matanya membuat Aleena ingin muntah lagi. Juan hanya tertawa melihat Aleena yang menderita.
***
Juan tersenyum penuh arti, akhirnya Aleena adik tirinya sekarang menjadi pacarnya walaupun dengan sedikit pemaksaan. Juan berpikir, berarti statusnya sekarang ini kekasih gelap sang adik tiri atau selingkuhan sang adik tiri.
Juan tertawa kencang memikirkan itu. Juan ingin memberi pelajaran kepada Aleena, karena wanita itu sering membuatnya kesal.
"Rendy, apa yang dilakukan tuh anak disini?" tanya Juan pada dirinya sendiri ketika melihat Rendy sudah berada di ruang tamu bersama Nisya.
"Nah itu Juan." Kata Nisya tertawa, "Aleena mana Juan?" tanya Nisya.
"Aleena masih rapi-rapi ma..." jawab Juan.
"Hai Bro, jemput Aleena?" tanya Juan basa-basi, Rendy mengangguk.
"Lo juga mau kuliah?" tanya Rendy, Juan mengangguk malas. "Gimana kalau lo bareng aja sama gue dan Aleena.?" Ajak Rendy.
"Sayang nggak usah ajak Juan, dia nggak biasa naik mobil! dia kan anak motor!" cegah Aleena yang baru saja tiba.
"Aleena, kamu nggak boleh begitu ah." Ucap Nisya kesal.
Aleena hanya menatap kesal mamanya yang selalu membela Juan.
"Ya udah ma, aku berangkat dulu yah." Pamit Aleena mencium tangan mamanya.
"Tante saya permisi dulu yah." Pamit Rendy kemudian dengan tersenyum.
"Hati-hati yah..." balas Nisya.
"Eh Ren gue bareng lo deh!" Ucap Juan akhirnya.
Aleena menatapnya tak suka. Rendy hanya mengangguk.
***
Didalam mobil milik Rendy, Rendy memakaikan seat belt kepada Aleena. Aleena terseyum sambil memegang pipi Rendy lembut.
"Terima kasih ya sayang..." Ucap Aleena mesra sambil melirik Juan yang sedang menatapnya kesal di kursi belakang mobil.
Rendy langsung mencium kening Aleena lembut, Aleena memeletkan lidahnya kepada Juan saat lelaki itu memandanginya dengan tatapan cemburu.
Juan berdehem kesal melihat kemesraan mereka, Rendy menoleh kearah Juan dengan wajah canggung.
"Sorry Juan gue nggak sadar kalau ada lo." kata Rendy tertawa.
"Santai ajah Bro..." balas Juan menatap sengit Aleena, sepertinya Aleena sengaja bersikap sok mesra dengan Rendy dihadapannya. Juan langsung mengeluarkan Handphonenya.
To : Aleena.
Inget gue cowok lo sekarang!
Ting Tong...
Aleena membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya ketika ada pesan masuk. Aleena langsung membuka pesanya itu, setelah membacanya Aleena menatap Juan sinis.
To : Cowok Freak
Bodo, terserah lo mau anggep apa yang pasti gue terima tawaran lo itu karena terpaksa! cara lo itu licik banget tadi! Itu resiko lo karena pacaran sama orang yang udah punya pacar! Bye!
Aleena memasukan ponselnya ke dalam tasnya dengan kasar, Aleena benar-benar kesal dengan Juan.
Juan memang b******k! Batin Aleena
***