Bagian 3 B : Masih Pengacau

1250 Kata
Malamnya... Malam ini aku sedang menikmati pemandangan langit yang indah bersama Rendy yang sedang memelukku hangat, aku sangat nyaman berada di dekat Rendy. Tidak terasa hubungan kami sudah mau berjalan satu tahun, baru kemarin rasanya Rendy menyatakan cintanya kepadaku di acara kampus di depan semua teman-teman kami. Rendy adalah seniorku, satu angkatan dengan Juan tapi beda jurusan. Rendy sangat penyabar dalam menghadapi sikapku yang terlalu egois, aku sangat menyayangi Rendy dan aku selalu berharap akan selalu bersamanya. "Sayang lihat!" seru Rendy ketika kembang api memancarkan keindahannya di langit malam. "Wow indah banget Ren!" seruku tak mau kalah, tiba-tiba Rendy mengangkat daguku. Wajahku merona memandangi Rendy yang sedang tersenyum memandangku. Wajah kami semakin dekat, "Aduh!" pekikku sambil menghusap keningku yang terjedot dagu Rendy karena tubuhku di dorong dari belakang. Aku langsung berbalik dan melihat Juan di belakangku bersama Gio dan Nindo "Aduh sorry Leen, Ren!" Seru Juan meminta maaf, "ini Nindo dorong-dorong gue, kaya belum pernah liat kembang api ajah." Juan tertawa. Dasar cowok Freak! Padahal sebentar lagi aku dan Rendy akan berciuman, tapi si Juan malah mengacaukanya. "Lo lagi, lo lagi! Lo emang penganggu hidup gue Juan!" seruku sambil meninju lengannya. "Aleena udah, lagian Juan nggak sengaja ini." Kata Rendy sambil berusaha menjauhkanku dari Juan. "Aku tahu dia itu sengaja Ren!" kataku kesal. "Leen, kamu bisa nggak bersikap sopan kepada kakakmu!" bentak Rendy, baru kali ini Rendy membentakku. Aku menatap Juan sinis, Juan memang duri dalam hidupku, semua orang membelanya! Mama dan sekarang Rendy. Aku langsung pergi dari hadapan mereka sambil menangis. "Aleena tunggu!" panggil Rendy mengejarku tapi aku tidak peduli. Aku benci Juan, aku sangat benci Juan! *** Pov's Juan... Baru kali ini gue melihat Aleena menangis, cewek tangguh dan galak itu menangis. Yah ini memang salah gue, gue hanya ingin menggoda Aleena dan Rendy yang sedang bermesra-mesraan tapi akhirnya Rendy malah membentak Aleena. Rendy yang ingin mengejar Aleena tapi gue langsung menahannya, ini salah gue jadi gue yang harus minta maaf kepada Aleena bukan Rendy. "Leen..." panggil gue sambil mengetuk pintu kamar hotelnya. "Leen gue minta maaf." kata gue sambil mencoba membuka pintu knop kamarnya dan lagi-lagi pintunya tidak terkunci, gue masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya kembali. Gue langsung berjalan mendekati Aleena yang sedang menangis. "Leen..." Panggil gue lembut, Aleena menatap tajam, gue tahu dia pasti kesel banget sama gue. "Ngepain lo kesini?!" tanyanya ketus. "Gue mau minta maaf." "Gue benci banget sama lo Juan, lo itu penganggu hidup gue." kata-nya. "Gue nggak pernah ganggu hidup lo, gue Cuma suka ajah godain lo." "Itu sama ajah tau nggak!" "Terus sekarang lo maunya gimana?" tanya gue akhirnya. "Gue mau lo itu gak ganggu hidup gue lagi!" pintanya. "Sorry gue nggak bisa kabulin permintaan lo itu." Tolak gue, tiba-tiba Aleena mendorong tubuh gue hingga gue terjatuh ke lantai. "Gue benci banget sama lo!" serunya memukulku dengan bantal, gila pukulannya dengan bantal membuat badan gue agak sedikit sakit. "Aduh Leen stop, sakit!" teriak gue berusaha menepis serangan bantalnya. Gue langsung menarik tangannya sehingga tubuh Aleena berada di atas tubuh gue. wajahnya begitu dekat, gue bisa melihat matanya yang indah itu, harus gue akui Aleena memang benar-benar cantik apalagi dengan wajah terkejut dan memerah seperti itu. Gue langsung memutar tubuhnya sehingga tubuhnya sekarang berada di bawah gue. "Juan lo apa-apaan sih, lepasin gue nggak!" pekiknya. "Gue nggak mau lepasin lo sampe lo maafin gue." kata gue tersenyum dan semakin mendekatkan wajah gue. "Oke gue maafin lo!" Ucapnya ketika bibir gue ingin menciumnya. Gue tersenyum menang dan bangkit dari atas tubuhnya yang sexy itu. Sebenernya sih gue nggak mau lepasin dia tapi gue kasian juga sama ini anak. "Gue maafin lo, tapi gue tetep benci sama lo!" teriaknya ketika gue keluar dari kamarnya. Gue hanya tersenyum mendengar teriakannya. *** Pov's Aleena... Dua Minggu kemudian... Setelah kepulangan dari Bali, Juan cowok Freak itu tidak pernah menganggu hidupku lagi, Hidupku jauh lebih bahagia tanpa penganggu seperti Juan. Terakhir aku bertemu dengannya di hotel tepatnya di kamarku. Meminta maaf saja harus seperti itu, ingin sekali aku membalas perbuatannya tapi belum saatnya aku membalas dendam kepadanya. Saat ini Aku sedang menari indah di atas tempat tidurku sambil mendengarkan music dengan volume yang lumayan besar. Aku sekarang sangat bahagia, Rendy baru saja memberikanku sebuah cincin, tapi itu bukan sebagai tanda dia ingin bertunangan dengannku. Itu hanya sebuah simbol jika dia benar-benar serius kepadaku. Aku terus melompat bahagia di atas tempat tidurku dengan tertawa. Saat aku sedang sibuk dengan kegiatanku saat ini, aku tidak sengaja melihat seseorang yang baru saja melewati kamarku. Alisku saling bertautan, lalu aku keluar kamarku dan berjalan menuju kamar sebelahku. Aku sangat terkejut ketika melihat Juan berada di kamar tamu di rumahku, dia sedang merapikan barang-barangnya. Sedang apa cowok Freak ini di rumahku, padahal aku baru saja merasakan kehidupan yang damai dan tentram. Kemudian aku turun ke bawah dan mencari mamaku, "Mama... Ma..." panggilku berteriak. "Ada apa sayang?" Tanya mama sambil membuka kardus, aku juga melihat Papa Alex yang sedang sibuk menaruh tas besar yang pasti bukan miliknya. "Ma, apa yang Juan lakukan disini?" tanyaku heran dan tidak suka. "Juan akan tinggal disini." Jawab mama santai. "What?!" seruku kaget. "Nggak bisa ma, aku nggak mau Juan tinggal di rumah kita!" protesku. Mama menatapku kesal. "Aleena bisa nggak kamu bersikap dewasa?" Tanya mama menatapku malas. "Ma, kalau papa Alex yang tinggal disini aku mah terima, tapi kalau Juan No Way!" balasku marah. Tiba-tiba Juan menabrak bahuku dan mengambil kardus yang berada di samping mama. Saat melewatiku Juan mengerlingkan matanya kepadaku, dasar cowok freak. Aku langsung menatap mamaku untuk menuruti permintaanku kali ini, tapi mama hanya menggelengkan kepalanya kepadaku. Kenapa sih mama tega banget sama anaknya sendiri! Kemudian aku langsung berlari menuju kamar Juan. "Eh Juan!" seruku kesal, ku lihat Juan sedang mengeluarkan barang-barangnya dari dalam kardus. "Gue nggak suka lo tinggal disini!" kataku. Juan hanya menatapku sesaat, "Lo denger nggak sih apa yang gue omongin??!" tanyaku kesal. "Males dengerin omongan lo yang gak penting!" Jawabnya membuat aliran darahku naik. Aku yang kesal aku mencubit pipinya kencang, sehingga Juan meringgis kesakitan. "Lo denger yah Juan, kalau bukan anaknya Papa Alex gue udah usir lo dari rumah gue ini!" makiku tanpa melepas cubitanku, "Emang lo berani usir gue?" tantangnya sambil menepis tanganku dan menghusap pipinya yang mulai memerah. Jelas aja aku tidak berani mengusir cowok b******k ini, bisa-bisa mama dan Papa Alex marah besar kepadaku dan mama akan semakin menyayangi Juan daripada aku. Aku tidak ingin itu terjadi "Padahal gue udah seneng banget selama dua minggu ini nggak ketemu lo, tapi lo muncul lagi bikin hidup gue gerah. Kalau bukan karena lo anak Papa Alex, lo gue udah usir dari rumah gue!" teriakku kesal. "Ya... Ya terserah lo aja!" Ucapnya seakan tidak peduli. "Karena lo udah gue izinin tinggal di rumah gue, lo harus ikut peraturan gue! Eh lo denger nggak sih?!" kataku kesal ketika Juan malah sibuk merapikan barangnya dari pada mendengar perkataanku. Aku mengambil buku dari tangan Juan dan membuangnya ke sembarang tempat. Juan menatapku geram, "Ya udah apa peraturan lo,?!" tanyanya gusar. Sepertinya dia sudah tersulut emosi menghadapi tingkahku. "Pertama, gue nggak suka lo main masuk-masuk ajah ke kamar gue tanpa izin gue. kedua gue nggak mau denger suara berisik apapun itu kecuali yang berisik itu gue, yang ketiga lo nggak usah kepo sama urusan gue apalagi sampe mengganggu ketentraman hidup gue! ngerti lo?" tanya ku sinis. "Peraturan lo nggak penting buat gue!" Ucapnya sambil menabrak bahu ku dan pergi dari hadapanku. "Dasar Juan nyebelin, freak!" seru ku kesal. Tuhan kenapa sih harus Juan yang jadi kakak tiriku... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN