Bagian 3 : Masih Pengacau

1293 Kata
Pov's Juan Akhirnya pernikahan Bokap selesai juga, badan gue terasa pegal karena banyak yang gue urus selama dua bulan ini untuk pernikahan Papa. Gue sangat bahagia papa sudah menemukan kembali kehidupannya karena mama Nisya. Lima tahun yang lalu papa begitu terpuruk karena mama meninggalkan kami dengan pria selingkuhannya. Semoga saja ini pernikahan papa untuk terakhir kalinya. Aleena, cewek itu sekarang sudah jadi adik tiri gue. Awalnya gue tidak mengira sama sekali kalau Aleena itu anak mama Nisya. Gila, mama Nisya yang orangnya lembut begitu bisa punya anak seperti Aleena yang otaknya tidak beres. Awal pertemuan gue dengan Aleena di kantin kampus, dia adalah junior gue. Itu cewek memang udah gila dan s***p dari pertama kali gue kenal dia, waktu itu dia numpahin minumnya ke baju gue gara-gara dia sibuk main Handphone. Bukannya minta maaf dia malah marah-marah sama gue. Semenjak itu gue jadi sering cari masalah sama dia, itu cewek tidak ada takut-takutnya sama gue padahal gue kan seniornya tuh anak. Setelah mengganti pakaian gue langsung keluar kamar hotel, suntuk banget sendirian di kamar. Ingin ke kamar papa dan mama takut menganggu malam pertama mereka, lebih baik gue ke kamar Aleena saja untuk menganggunya. Ketika berada di depan pintu kamar Aleena gue langsung mencoba membuka pintu kamarnya, "Kok nggak dikunci?" kata gue heran. Gue langsung membuka perlahan pintu kamar Aleena dan masuk sambil menutup pelan pintu. Baru sepuluh langkah, langkahku langsung berhenti ketika melihat Aleena hanya menggunakan Bra dan celana dalam saja. Otak gue langsung tidak bisa berpikir jernih saat melihat tubuh sexy Aleena. Aleena benar-benar sexy! "Juan ngepain lo disini pergi nggak lo!" teriak Aleena ketika menyadari kehadiran gue. Aleena langsung mengambil handuk yang ada di atas kasur dan memakainya. "Pergi nggak lo!" usir Aleena sambil melempar bantal, gue langsung menatapnya dan berjalan menuju kasurnya dan merebahkan diri. "Kok lo malah tiduran? Pergi nggak dari kamar gue!" serunya kesal. "Nggak ah, gue mau disini ajah." Kata gue sambil memeluk guling. "Lo emang bener-bener rese yah Juan!" serunya kesal sambil mencubit betis gue, gila sakit banget cubitannya. "Lo ceroboh banget sih pintu nggak dikunci, untung gue yang masuk. Kalau orang lain yang masuk gimana?" kata gue menatapnya kesal, cewek galak ini sangat ceroboh. "untung gue kakak tercinta lo yang liat isi dibalik handuk itu, kalau orang lain yang liat wah beruntung banget yah tu orang." kata gue tersenyum jahil. "Diem lo!" teriak Aleena dengan wajah memerah. "Mendingan lo pergi dari kamar gue!" usirnya kembali. "Gue nggak mau, bête sendirian. Gue mau disini ajah!" kata gue membuat Aleena semakin kesal. "Dasar cowok Freak! Pergi nggak lo! gue mau bersih-bersih nih!" pintanya dengan nada geram. "Bersih-bersih aja, lagian emang gue tertarik sama lo. Gue nggak tertarik sama lo!" kata gue santai dengan terus menatapnya. "Oh oke kalau itu mau lo!" Ucap Aleena sambil membuka handuknya yang dia tutupi barusan. Gue hanya memandanginya terkejut. Aleena langsung menurunkan kedua tali Bra-nya sehingga isi di balik Bra itu agak menyembul. "Aleena lo gila yah?" pekik gue yang langsung bangkit dari tidur gue. "Kenapa? Kata lo gue nggak menarik?" tanyanya mendekatiku. Jantung gue langsung berhenti berdetak ketika Aleena, cewek gila ini menempelkan payudaranya di d**a gue. Ya Tuhan! Gue langsung menatap wajahnya yang penuh dengan kebencian memandangi gue. "Dasar cewek gila!" seru gue dan langsung pergi dari kamar Aleena. "Makanya jadi cowok jangan sok nantangin!" teriaknya tertawa ketika aku keluar kamarnya. Sial detak jantung gue semakin kenceng berdetaknya! Sialan Aleena! *** Pov's Aleena... Aku baru saja bangun tidur, badanku masih lelah sekali. Mengurusi pernikahan mama dan papa Alex membuat waktu istirahatku berkurang, ditambah pikiranku kacau karena harus menerima kenyataan bahwa Juan akan menjadi kakak tiriku. Baru saja sehari menjadi kakak tiriku Juan bersikap seenaknya kepadaku, malam tadi contohnya bisa-bisanya dia masuk ke kamarku tanpa meminta izin kepadaku, ya walaupun aku tau itu kesalahanku sendiri. Gara-gara kesalahanku itu Juan jadi melihat bagian tubuhku, aku yang tidak terima lantas mengusirnya pergi dari kamarku tapi memang dasar Juan keras kepala dia malah tiduran di tempat tidurku menambah emosiku semakin tinggi. Waktu dia mengatakan aku tidak menarik sama sekali aku benar-benar kesal! Jelas-jelas wajahnya yang freak itu mupeng saat tidak sengaja melihatku hanya mengenakan pakaian dalam, langsung saja aku tantangi dia sekalian. Jujur saja aku merasa takut melakukan itu, tapi aku yakin Juan tidak akan melakukan hal yang lebih kepadaku dan ternyata benar Juan malah pergi dengan sendirinya dari kamarku. Kemudian aku berjalan menuju kamar mandi, hari ini mama dan papa ingin mengajakku menikmati keindahan Bali. Aku harus segara cepat-cepat bersiap. *** Setengah jam kemudian... "Aleena kamu lama sekali sih nak," Kata mama ketika aku baru saja tiba di lobby. "Maaf Ma, aku kesiangan bangun." Ucapku tersenyum sambil mengecup pipi mama dan papa baruku, " wah wajah papa dan mama cerah banget!" ledekku tersenyum membuat wajah mama dan papa Alex memerah. "kamu bisa ajah Leen." Kata Papa Alex tertawa sambil mengacak lembut rambutku. "Ya udah yuk Ma, Pa kita pergi!" seruku sambil menggandeng lengan mama dan Papa. "Tunggu dulu, Juan sedang di toilet." Ucap mama menahanku, aku berdecak kesal saat mama menyebut nama Juan. "Udah lah ma nggak usah nunggu Juan, ntar dia kan bisa nyusul!" kata-ku kesal. Mama hanya menatapku malas. "Lebih baik kita jalan duluan saja, nanti biar papa yang menghubungi Juan." Ucap Papa Alex membuatku tersenyum bahagia. Akhirnya Papa Alex sangat mengerti perasaanku, Papa Alex memang yang terbaik. Mama langsung menganganguk terpaksa, aku tahu mama pasti sangat tidak tega meninggalkan Juan. Tapi aku tidak peduli yang penting hari ini aku harus jauh-jauh dari cowok yang bernama JUAN! *** Wah pemandangan Pantai Jimbaran di Bali ini memang benar-benar indah, cocok banget buat pasangan yang baru menikah dan berbulan madu. Hanya dengan melihat pemandangan ini pikiranku tentang permasalahaku menjadi hilang di tambah lagi udara pagi ini yang begitu segar dengan angin yang bertiup pelan. "Aleena!" seru Brenda dan Hana yang sedang berlari ke arahku. Ya ampun aku hampir lupa kalau kedua sahabatku dan Rendy masih menginap di hotel milik papa Alex. "Lo jahat banget sih Leen, ninggalin kita berdua padahal kan kemarin kita kan udah janjian." Ucap Brenda dengan wajah kesal. "Sorry, gue lupa." Kataku tersenyum. "Ya udah nggak apa-apa. Sekarang waktunya kita main air!" seru Hana menarik tanganku dan Brenda mendekati air pantai. Aku langsung menyipratkan air laut kearah Hana dan Brenda, mereka langsung membalasku dan kami tertawa bersama sambil bermain dengan air laut. "Suit... suit..." Seru seseorang tiba-tiba dengan siulanya, aku langsung menoleh wajahku memanas ketika melihat Juan dan dua pembokatnya mendekati kami. Juan melihatku dari atas hingga bawah membuatku menatapnya heran, Juan langsung berjalan mendekatiku, "gue kira lo bakal pakai bikini, gue lebih suka liat lo kaya tadi malem." Bisiknya membuatku melotot. Hari ini aku memang memakai hot pants dan loose tank top, aku tidak akan pernah sudi memakai bikini selama ada cowok m***m dan freak seperti Juan. "Lo bukan hanya Freak yah tapi m***m juga!" seruku sambil menunjuk wajahnya yang sedang memandangiku usil. "Aleena cewek cantik kaya lo jangan marah-marah mulu." Sahut Gio. "Berisik lo Gendut!" kataku membuat Gio terdiam. Aku sangat tahu Gio tidak suka jika ada yang bilang dia Gendut. Memang kenyataannya dia gendut masa aku harus bilang dia kurus. "Lo bisa nggak jangan ganggu gue Juan!" kataku kepada Juan. Juan tertawa dan mendekatkan wajahnya, "Gue nggak pernah ganggu lo adikku manis" Ucapnya mengacak rambutku, aku langsung menepis tanganya. Tiba-tiba Juan mencium pipi kananku, aku membeku ketika Juan mencium pipiku. Setelah menciumku Juan langsung pergi diikuti ke dua temannya. Ingin rasanya aku marah kepada Juan karena sudah seenaknya menciumku di depan teman-temanku, bukan hanya mencium pipiku Juan juga pernah mencium bibirku di pesta waktu itu. Kurang ajar Juan gue akan balas perbuatan lo itu! Aku menatap kedua temanku dengan wajah terkejut ketika mereka memandangiku. "Gue pengen di cium Juan juga!" rengek Brenda sambil mengoyangkan tubuhku. Aku hanya mencibirnya malas dan pergi meninggalkan Hana dan Brenda. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN